Agenda

Teruntuk ibu kartini

Duhai ibu bangsa, bagaimana kabar Engkau hari ini?

Semoga Engkau selalu dalam keadaan baik selamanya.
Ibu ku, Panutan ku. Aku ingin bernostalgia dengan mu.
Ku ingin merefresh kembali segala seluk beluk tentang engkau
Dulu engkau lah penyelamat kami hingga kami mampu berdiri diatas negara ini.
Dulu engkau adalah obor kami yang selalu menyala, membara tak kunjung padam.
Dulu engkau adalah teladan kami, guru kami.
Tanpa kehadiran engkau, mungkin kami hanyalah sebuah cangkang belaka.
Engkau bagaikan pelita untuk kami kaum wanita.
Andai aku bisa berada dalam satu ruang dengan engkau
Ingin ku abadikan selalu dalam benak setiap gerak gerik mu
Namun, apa lah daya diri ini yang ditakdirkan di masa ini.
Meskipun begitu, aku masih bersyukur bisa mengenalmu melalui angan.
Bagiku, kehadiran mu dulu ataupun sekarang tidak ada bedanya.
Karena engkau telah melekat pada jiwa kami, wanita Indonesia.
Dan di Hari Kartini ini, aku telah melihat begitu banyak wanita Indonesia yang telah merapatkan barisan untuk melangkah ke depan menuju alam yang lebih luas nan benderang tak terkecuali aku.
Terimakasih ibu ku yang telah mewariskan segudang impian dan bara api untuk kami wanita Indonesia.

Salam
Wanita Kartini

Malang, 27 april 2018

Kontributor : sahabati luailik madaniyah

Sumber gambar : https://goo.gl/images/W4D2Gd

Artikel

Haruskah ‘Gender’ ?

Sebelumnya, mari kita coba merenungi sejenak apa itu hakekat gender sebetulnya? bagaimana kita memaknai antara kesetaraan gender atau ketimpangan gender? Dan betulkah gender diposisikan hanya sebagai pro terhadap golongan feminis tanpa mementingkan golongan maskulin ataupun sebaliknya?.

Sejauh mana sebetulnya emansipasi diterapkan? Dalam realita kehidupan sering kita sendiri melihat kata gender sebagai penyelamat maupun penguat bagi kaum wanita yang menuntut untuk mendapatkan hak tanpa mengkondisikan seberapa besar kita memberikan sebuah kewajiban terhadap suatu permasalahan, sehingga munculah istilah “ladies first” yang istilah itu barang tentu mengatakan bahwa wanita itu segalanya. Segalanya tentang kebutuhan maupun hak selalu harus diutamakan. Hal tersebut menyudutkan golongan pria yang dimana secara kondrati, mayoritasnya tentu kontra terhadap gender terhadap istilah “ladies first” maupun emansipasi yang notabene dianggap sebagai propaganda penguat posisi wanita dalam mendapat hak dengan pemahaman yang cenderung kurang bisa dibenarkan.

Pada prinsipnya, gender merupakan suatu hal yang dapat mempengaruhi kehidupan sosial dimana peran gender bukan hanya didominasi oleh kaum wanita. Namun, selama ini gender selalu dipandang oleh masyarakat hanya sebagai perwujudan istilah dari hal-hal yang bersifat sangat biologis (seksualitas), sehingga pahaman selalu diinisialkan pada feminitas tentunya. Sejatinya gender memberikan hak maupun kewajiban baik dari golongan feminim maupun maskulin, yang tentu harusnya dapat memposisikan mereka sederajat dan bukan satu tingkat pada segala permasalahan.

Tiap pihak mempunyai andil dalam menyampaikan pendapat, saling memberi masukan, serta bebas berkepentingan pula untuk memperoleh suatu tujuan sesuai dengan apa dilakukan, namun terdapat hal yang membatasi tentunya, yang tidak menjamin kaum feminis dalam memahami persamaan gender dimana saat perempuan tersebut mempunyai kepentingan sama dengan apa yang dilakukan pria, seperti halnya dengan wanita karier yang bekerja pada ruang-ruang publik. Barang tentu, hal itu pula juga lebih banyak yang dikorbankan, seperti halnya kebutuhan akan mengurus seorang anak yang kehilangan kelembutan seorang ibu maupun segala kebutuhan rumah tangga lainnya. Kasus serupa sama halnya jika perempuan menjadi imam jama’ah yang disitu terdapat kaum adam dimana wanita punya waktu untuk datang bulan yang sewaktu-waktu bisa terjadi apalagi saat beribadah.

Lantas apa yang kita lakukan sebagai bagian dari pelaku gender? Maka, jadilah pelaku gender yang menghargai dari suatu persamaan maupun batasan yang dimana bukan lagi memikirkan egoisitas masing-masing. Jadilah pelaku gender yang toleran tanpa memandang kelamin, suku, ras, agama, maupun golongan dan pikirkan bagaimana untuk memperoleh suatu tujuan tanpa adanya diskriminasi dengan perlu ada batasan jika hal tersebut sesuai dengan nilai maupun aturan yang berlaku dan paling penting menjadi pelaku gender yang memperhitungkan keadilan bukan diskriminan.

Jadilah gender kontektual bukan hanya tekstual
Jadilah gender toleran bukan radikal
Jadilah gender berkeadilan bukan diskriminan

Wallahu muafieq ila aqwamith thorieq
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Kontributor : Sahabat Rifqi Hubaibi (Simpati – 2015)

Kopri

Ladzat Kaum Berdarah Segar

Mempelajari hal yang terkecil itu perlu, merasa bisa dan mengerti  merupakan sifat yang gak bisa lepas dari seseorang. Kadang tanpa kita sadari dari sifat yang merasa bisa dan mengerti menimbulkan sifat yang lain, begitu juga dengan semangat yang semakin maju untuk megaplikasikan hal yang merasa dia bisa.

Dari hal yang demikian akan terjadi sebuah akibat dari sebab-sebab tersebut dan memunculkan sebuah action yang hadir dengan dasar keirian terhadap kenyataan yang dihadapi.  Ketika yang ditanyakan adalah masalah alur hidup yang bersangkutan dengan hal tersebut tentu suara dari kaum hawa akan lebih mewarnai, karena berjalannya perkembangan zaman membangunkan sifat yang tersimpan dari kaum hawa. Dengan pembangunan tersebut mereka mempunyai banyak kubu dan juga action untuk membangun strategi dari problematika perkembangan zaman ini. Hal yang menjadi topik dalam barisan kalimat sebelumnya, mempunyai arti dari sifat ingin mendapatkan keseimbangan atau kesetaraan dalam menjalani alur kehidupan yang kian hari kian berkembang, karena setiap individu tentunya ingin mendapatkan hak yang sama dan setara dengan lainnya.

Sebuah nama sebagai sebutan yang sering disebut oleh masyarakat adalah Gender. Kaum hawa sebagai subjek yang mendemonstrasi adanya kesetaraan gender juga dapat ditemukan bahwa, Problematika yang menjadi trending topik mengenai kesetaraan gender adalah dimana kaum hawa mendapatkan hak dan kemauan yang sama dengan kaum adam.

Zaman yang dulunya mempunyai adat bahwa, kaum hawa mempunyai tugas yang disebut denga 3M, macak, masak, manak, dan mematuhi aturan yang diberikan pasangan hidupnya sangat jauh berbalik dengan zaman sekarang yang mana kaum hawa tidak lagi hanya mengampu tugas 3M itu. Banyak pendapat dikatakan bahwa kaum hawa itu lemah, tingkat kecerdasannya dibawah kaum adam, akan tetapi pendapat-pendapat yang seperti itu tidak langsung mempunyai nilai kebenaran dan kesalahan. Individu baik dari kalangan kaum adam maupun kaum hawa tentunya mereka mempunyai tingkat kekuatan, kelemahan, kecerdasan berbeda-beda, hanya saja yang mendominasi kekuatan itu dimilki kaum adam. Kodrat yang seperti itu tidak apat dijadikan sebuah takaran dalam mengambil kesetaraan antara kaum adam dan kaum hawa, karena kodrat itu dari kehendakNya.

Kaum hawa atau dikatakan seorang wanita yang mengikuti jalannya problematika zaman sekarang, mereka tidak segan berkobar membakar semangat untuk memiliki kesataraan dengan kaum seberangnya. Katakanlah move on dari peradatan kaum hawa  zaman dahulu kala, keseimbangan yang dicari oleh kaum hawa bukanlah untuk mendapatkan semua yang dimilki oleh kaum adam. Mereka move on dari peradatan yang terdahulu karena mereka tentunya mempunyai alasan yang logis bagi individunya terutama. Dalam Fiqih Sunnah maupun Tafsir Al Quran, banyak pedoman untuk pengajaran bagaimana keseimbangan, kesetaraan antara kaum adam dan kaum hawa. Dapat diambil contoh seperti dalam Al Quran surat An nisa ayat 34, ayat ini mempunyai tafsiran yang berbeda-beda menurut keahlian masing-masing. Salah satu pendapat mengatakan bahwa, “al” dalam kata al-rijal, yakni mengandung arti sebagian, yang mana dalam hal ini bisa dikatakan bahwa tidak seluruhnya kaum adam mampu memimpin kaum hawa dan tidak semua hal bisa dipimpin oleh kaum adam.

Konteks yang terjadi dalam barisan kalimat tersebut bisa diartikan bahwa kaum hawa mempunyai kesempatan untuk memimpin dan berjalan untuk memberi arahan kepada kaum adam. Berkarir, menjadi sorotan utama dalam gender, akan tetapi cara untuk penyeimbangan tersebut tidak harus dengan memimpin dan berkarir. Kaum hawa bisa merubah kata karir yang menjadi perbincangan kaum adam itu dengan kata Karya, karena untuk menjadi seimbang dan setara itu tidak harus berpacu dalam satu cara.

Analisa diri dari kaum hawa akan lebih membantu untuk menemukan strategi dalam gender. Karena dengan menganalisa, menyusun strategi, menemukan kisaran resiko itu yang dibutuhkan ketika kaum hawa itu menginginkan keseimbangan dalam gender. Oleh karena itu, jika memiliki kemauan dalam action gender, sebagai kaum hawa yang tidak ingin dijatuhkan atau diabaikan, berpikir luas, simple akan lebih memberi ide-ide birliant untuk menjadi kaum hawa yang berkompetisi dalam berkarya dan hidup damai dalam gender.

 

 

——-

Kontributor : Qothrunnada (Sahabati Simpati 2015 PMII Rayon Galileo)

Sumber Gambar : http://intisari-online.com

Kopri

GENDER BUKANLAH PEMBATASAN JENIS KELAMIN BIOLOGIS

Permasalahan kesetaraan gender merupakan masalah yang tidak ada habisnya. Banyak isu-isu yang muncul kemudian tertuju pada kesetaraan gender yang dialami antara laki-laki dan perempuan. Padahal sebetulnya kesetaraan gender ini bukan melulu pada perempuan dan laki-laki namun, kesetaraan gender ini juga sebenarnya terjadi pada kelompok-kelompok rentan atau kelompok minoritas. Gender akan tetap menjadi persoalan sebab hal ini terkait dengan ketidakadilan antara peran laki-laki dan perempuan. Seperti contoh ketika seorang perempuan bergabung atau memutuskan untuk menggeluti di ranah politik maka kesetaraan perempuan dengan laki-laki akan berbeda. Perempuan akan berada pada level dibawah, hal inilah yang kemudian muncul.
Persoalan gender akan menjadi isu yang sangat sensitif bila dikaitkan pesoalan agama. Perlu adanya kebijakan dalam memikirkan isu gender ini, sebenarnya isu gender ini hanya terkait dengan kesetaraan yang dialami oleh laki-laki dan perempuan. “Kesetaraan itu, adanya kemudahan dalam mengakses ilmu dan pengetahuan tanpa membedakan jenis kelamin biologis secara untuk memajukan dirinya. Hal ini penting karena dengan diberikan akses yang mudah maka perempuan memiliki tempat yang sama untuk bisa meningkatkan potensi yang ada pada dirinya. Ini menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki ruang yang sama untuk bisa berpartisipasi
Isu pembedaan gender ini, akan berubah seiring dengan waktu dan budaya yang berkembang di masyarakat. Karena itu, tentunya perlu adanya perubahan mindset yang dilakukan oleh masyarakat sekitar, yang masih mengganggap perempuan itu sangat lemah dan hanya mengurus domestik sedangkan laki-laki berurusan pada publik. Masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa kodrat seorang perempuan itu adalah memasak, mencuci, dan mengurus anak. Padahal secara pengertian, kodrat adalah sesuatu hal yang muncul dari Tuhan dan tidak bisa diubah misalnya mengandung dan melahirkan. Perlu ditekankan bahwa memasak dan mengurus anak itu bukan kodrat tetapi keterampilan. Namun bukan berarti kita bisa melupakan tugas kita sebagai ibu adalah mengurus dan menghormati suami. Dalam urusan rumah tangga sebenarnya antara suami dan istri itu bisa saling membantu satu sama lain

tetapi bukan berarti kaum laki-laki dan wanita menjadi sama dan setara dalam segala hal. Menyetarakan keduanya dalam semua peran, kedudukan, status sosial, pekerjaan, jenis kewajiban dan hak sama dengan melanggar kodrat. Karena, kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa antara laki-laki dan wanita terdapat perbedaan-perbedaan mendasar, hingga jika kita melihat keduanya dengan kasat mata sekalipun. Secara biologis dan kemampuan fisik, laki-laki dan perempuan jelas berbeda. Apalagi wanita dengan tabiatnya melakukan proses reproduksi, mengandung, melahirkan, menyusui, menstruasi, sementara laki-laki tidak. Adalah tidak adil jika kita kemudian memaksakan suatu peran yang tidak sesuai dengan kecenderungan dasar dari masing-masing jenis tersebut.
Dalam konsep kesetaraan gender bukanlah hanya milik perempuan tetapi juga milik laki-laki. Feminis bukan milik perempuan semata, tetapi laki-laki juga. Masalahnya adanya pematenan tunggal dari lingkungan sosial bahwa perempuan itu feminis dan laki-laki itu maskulinitas, sehingga muncullah pelabelan yang terjadi di lingkungan sosial. Untuk itu harus ada yang dikendarai oleh perempuan untuk bisa menunjukkan kualitasnya. Misalnya ketika ada kebijakan bahwa 70% beasiswa akan diberikan kepada perempuan, kebijakan itu yang bisa diambil untuk menyetarakan antara perempuan dan laki-laki dalam bidang akademis, dengan begitu ini tidak akan menyalahkan kodrat yang ada.perlu adanya keterbukaanaan antara dogma agama dan juga konteks sosial, karena dalam kesetaraan gender ini tidak ada yang dirugikan. Inti dari kesetaraan adalah tidak ada yang mendominasi dan tidak ada yang didominasi. Keduanya harus saling memberi. Intinya keadilan gender itu sesuai dengan kebutuhan yang dimiliki oleh keduanya. Jadi ketika seorang istri memutuskan untuk berhenti bekerja atas kemauannya, ya itu bukan permasalahn gender lagi, tetapi ketika itu ada paksaan inilah yang kemudian menjadi tidak ada keadilan. Yang terpenting saat ini perlu adanya pengetahuan yang baik karena pengetahuan merupakan kunci dari segala hal.
Quote 1:kesetaraan gender dalam organisasi adalah laki-laki maupun perempuan memiliki kesadaran tinggi sama dalam berproses di organisasi
Qoete 2:kesetaraan gender merupakan jenis kelamin dalam kehidupan social, dimana perempuan maupun laki-laki memiliki hak sama untuk aktif dalam lingkungan social
Qoute3:dalam kesetaraan gender harus memiliki strategi dalam kehidupan bermsyarakat agar masyarakat tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan salah satu contohnya dalam pekerjaan
Quote 4:kesetaraan gender dalam alquran dalam perspektif al-quran adalah kewajiban menjadi khalifah bumi tanpa membedakan jenis kelamin wanita maupun perempuan
Quote 5:kesetaraan gender adalah derajat social antara laki-laki dan perempuan dengan memikirkan kemashalatan bersama antara laki-laki dan perempuan itu sendiri .
Quote 6: kesetaraan gender adalah keadilan tanpa memikirkan jenis kelamin biologi dalam kehidupan sosialnya