Surat Untuk Pertiwi “Hibridisasi Ego”

Kontributor : sahabat bakhru thohir

Yang terkasih pertiwi,

Semoga selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan YME.

Sebelumnya maafkan saya yang telah lancang mengirimkan surat kepada engkau, tapi dalam rangka memompa semangat meneladani Kartini, perkenankan saya mengeluarkan unek-unek yang terpendam dalam hati.

Mohon maaf pertiwi, dalam membuat surat ini saja saya masih perlu membuka KBBI dan mencari makna paling cepat apa itu pertiwi, maafkan kebodohan saya. Kabar negeri saat ini tak begitu baik, setelah ada ramalan dari Prabowo “Dilan” Subianto yang menyebutkan bahwa “Saat ini Indonesia memang belum bubar, gak tau kalau 2030” telah berhasil membuat banyak penduduk bertanya-tanya, komentar sampai tegang. Selain itu, pada perayaan Kartini tahun ini juga muncul versi kartini berjilbab dan berjacamata yang tentu sangat ketahuan maksud gambar ini dibuat untuk apa, mana mungkin di era itu ada kaca mata yang modelnya sama persis dengan yang dikenakan Via Vallen. Maafkan kami yang terlalu mudah diadu domba. Entah para pahlawan di sana sedang meratapi nasib tanah tumpah darahnya atau malah tertawa terpingkal-pingkal karena kelucuan perilaku kami.

Kegiatan kami setingkat mahasiswa juga setali tiga uang. Banyak diantara kami yang tidak lagi mengasah nalar kritis tapi ikut-ikutan kakak kami untuk memperebutkan jabatan. Proses belajar kami yang bertujuan untuk ilmu juga hanya ditahapan hayal, praktiknya ya tetap saja kami adalah budak nilai A. Saling sikut dengan sesama juga menjadi sesuatu yang wajar. Buku-buku juga demikian, memang banyak bertebaran, tapi entah untuk mencari substansi atau hanya sebatas eksistensi dari penayanganya di story WA dan IG, biar teman kami yang melihat terkesan “Wah keren sekali bacaanmu, sunguh luar biasa”.

Kami yang terafiliasi dengan pergerakan mahasiswa islam indonesia juga demikian. Sungguh maafkan kami pertiwi. Kami yang menyebut mahasiswa pergerakan, tapi gerakan kami pun masih tak memiliki visi. Kami hanya sebatas meneladani romantisme dari para senior. Bukan kami tidak paham soal berbedaannya medan proses dulu dan sekarang, tapi cerita-cerita gagah saling dorong dengan aparat di jalan begitu heroik saat kita dengar, kan lumayan bisa jadi cerita yang terus kita produksi untuk generasi penerus.

Kami yang menyematkan kata “mahasiswa” setelah kata pergerakan juga jauh dari citra mahasiswa yang benar-benar mahasiswa. Memang citra mahasiswa teladan sangat bias sekali dan tentu sangat subjektif penilaian itu. Tapi nyinyiran bahwa kebanyakan mahasiswa pergerakan pasti kuliahnya hancur memang benar adanya. Kita pun cuma bisa menimpali “hidup tak ditentukan oleh kesuksesan nilai saat kuliah”. Kita hanya sebatas membalas argumen tanpa karya. Nanti saat kami dewasa dan menyadari bahwa birokrasi yang memimpin adalah orang-orang yang bobrok, kita tetap hanya bisa berkomentar “dasar birokrat korup dan menindas”. Sadar terhadap perlunya mahasiswa pergerakan mengisi sudut-sudut birokrasi terlalu lamban disadari. Saat ini yang ada juga hanya mencetak generasi politisi, bukan seorang negarawan.

Lanjutan kata mahasiswa adalah kata “Islam”. Dan ya lumayan lah, sejak ada isu-isu khilafiyah, kita jadi belajar lebih tentang Islam. Ucapan terimakasih perlu kita sampaikan pada pejuang khilafah yang muncul dengan isu-isu membuat negara agama, sehingga membuat kita mempersiapkan diri untuk menghadang rencana itu dengan membaca buku dan berdiskusi tentang substansi Islam. Seperti kapital yang semakin berjaya saat dikritik oleh komunis/sosialis. Selebihnya ya kualitas sariat kami sangat ala kadarnya, solat terbatas, puasa sekuatnya. Ya kembali kita berargumen “buat apa rajin solat tapi tak tahu kabar tetangga”. Padahal kami juga sudah membaca buku “saleh ritual saleh social” gubahan Gus Mus, entah kenapa kita juga tak meneladani beliau, padahal kita juga marah saat Gus Mus dihina-hina.

Dan kata yang terakhir adalah “Indonesia”. Mohon maaf pertiwi, selama ini kami membawa kata sedemikian luas tapi pemikiran kami sangat sempit, seteru kita juga hanya si ijoitem itu. Padahal saat ini sudah tak zamannya berseteru. Menyelamatkan Indonesia juga tak mungkin kalau dilakukan oleh pergerakan ini sendirian, karena sekarang sudah saatnya kolaborasi. Tapi maaf baru sebatas wacana, pertiwi.

Tapi pertiwi jangan terlampau bersedih karena kabar buruk yang barusan saya sampaikan. Kami sebagai saintis memiliki konsep yang setidaknya bisa jadi pijakan awal untuk memperbaiki keadaan ini. Saintis yang memilih fokus bidang kimia tentu sudah sangat akrab dengan konsep ini, yakni “hibridisasi”, bahkan konsep ini sudah diberikan pada mahasiswa tahun pertama.

Hibridisasi adalah penyetaraan energi. Kalau dalam kuliah, kami diajarkan tentang atom karbon untuk bisa berikatan lebih maksimal, dia harus menghibridisasi orbitalnya. Karena saat orbital berjalan sendiri-sendiri dia hanya bisa mengikat 2 atom lain, sementara saat karbon sudah menghibridisasi orbitalnya atau menyetarakan energi antar orbitalnya dia bisa mengikat 4 atom karbon lain. Bahkan ikatan rangkap juga terjadi karena adanya hibridisasi ini.

Tentu yang membedakan adalah apa yang akan dihibridisasi. Kalau dalam konteks atom, yang dihibridisasi adalah tingkat energi orbital, kalau dalam proses hidup kita, sementara yang saya pahami, yang paling pertama perlu dihibridisasi adalah energi EGO!.

Energi ego dari setiap manusia, kelompok, partai, komunitas, ras, suku sampai agama. Sehingga ikatan kita bisa lebih banyak dan menjadikan indonesia yang lebih solid dan tak mudah diadu domba.

Untuk teknis tampaknya tak perlu saya sapaikan di sini pertiwi yang terkasih, daya nalar kritis dan kinerja otak dalam mengkontekskan sesuatu oleh anak-anak saat ini sudah jauh maju. Biar setiap manusia yang mengeksplorasi apa yang ada di dalam otak mereka masing-masing.

sehat -sehat pertiwi, kami akan selalu berdoa untukmu.
Merdeka!

Sumber gambar : https://goo.gl/images/NSiU8N

Refleksi Gender yang (agak) Bias

Selamat siang dan selamat beraktivitas dihari Senin, sahabat-sahabat pergerakan. Setidaknya cuaca dihari ini masih menunjukkan keberpihakannya, yang membuat kita semua dapat melanjutkan aktivitas kita masing-masing. Juga disini penulis hendak mengucapkan selamat dan sukses atas diwisudanya (19 Maret 2016) senior saya serta senior kita semua, terima kasih pula atas pemberian cambuk cerita yang membuat kita terus bergerak dalam jalurnya. Pun penulis mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya (19-20 Maret 2016) Sekolah Islam Gender oleh Heksa Rayon PMII Komisariat Sunan Ampel Malang.
Ada sedikit pembahasan menarik menyoal gender hari ini, hanya sebagai hal reflektif saja. Membincangkan soal gender, ada hal hal mendasar yang selalu menjadi ambiguitas bagi penulis, “siapa berbuat apa, siapa memiliki apa, siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan, siapa yang memutuskan; laki-laki atau perempuan ?”. Kesemua itu, bagi penulis mungkin menjadikan pola pikir yang dinamis ketika membincangkan soal gender.
Dalam posisi ini, mungkin kita semua terus menyepakati mengenai konsepsi ‘kesetaraan gender’. Dengan hal itu selalu disuarakan oleh pegiat-pegiatnya, khususnya kaum perempuan. Kemudian yang menjadi dasar mengenai gender adalah artkulasinya sebagai interpretasi mental dan budaya terhadap perbedaan kelamin; yaitu perempuan dan laki-laki. Karena biasanya gender dipergunakan untuk menunjukkan pembagian yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan. Bagi penulis, mengagungkan kesetaraan gender akan memunculkan bias gender yang akut. Hal itu dapat kita lihat dari segi pemposisian laki-laki dan perempuan dalam konteks keseharian.
Dalam Al-Qur’an telah disampaikan pada Surat An-Nisa’: 34 , bahwa “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan mereka(laki-laki) telah memberikan nafkah dari sebagian harta mereka”. Sederhananya, islam klasik menafsirkan ayat tersebut bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Kemudian bagi pegiat gender kekinian, tafsiran tersebut sedikit disanggah untuk (lagi-lagi) menyetarakan posisi antara laki-laki dan perempuan. Mungkin mereka memandang bahwa, jika hal tersebut dikonsumsi mentah akan menimbulkan pandangan perempuan yang termajinalkan. Lalu dari penulis, tentunya arti tekstual itu masih mengandung unsur sosio-historis saat itu. Kemudian ditranslasikan menyesuaikan perkembangan dan kebutuhan zaman.
Jika melihat konteks kesetaraan gender, marjinalisasi perempuan terjadi semenjak zaman kolonial Londo. Kesewenangan gender tersebut sangat nampak pada abad ke-19. Pada waktu itu perempuan-perempuan kelas bawah menjadi korban pelampiasan seksual oleh kaum bangsawan dan alat ekspansi kekuasaan kaum bangsawan. Mereka diangkut ke istana untuk dijadikan ‘istri percobaan’ yang dapat diusir sewaktu-waktu sampai ndoro-ndoro mereka memperoleh istri yang sederajat. Eksplotasi ini nampak hidup dalam tulisan sastra, seperti kisah Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Hingga dieranya, mulailah muncul pergerakan nasional yang menyuarakan keadilan gender, sebut saja R.A Kartini.
Kemudian pergerakan tersebut berlanjut pada masa transisi kolonial ke orde lama, sebut saja Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Mereka terus menyuarakan keadilan gender, khususnya untuk kaum perempuan dan hingga pada perjuangan menjaga keutuhan NKRI. Perjuangan tersebut berdasarkan pada sejarah perempuan sendiri yang dirasa mengalami dehumanisasi pada saat itu.
Hingga sampai orde baru dan reformasi, perjuangan keadilan dan kesetaraan gender telah mengalami proses legitimasi yang kuat, dilihat pada munculnya Badan ke Negaraan yang menaungi tentang masalah gender, perempuan lebih khususnya. Kemudian, hanya tinggal kelanjutan pergerakan daripada gender yang tentu itu berdasarkan pada artikulasinya, mengenai mental dan budaya terhadap perbedaan kelamin. Karena pada dasarnya, muara ketidakadilan gender sebagaimana keadilan lain di muka bumi ini adalah dehumanisasi manusia. Selama penindasan itu ada, perlawanan sebagai ekspresi ketertindasan ataupun kebangkitan kesadaran.
Dengan itu semua, gerakan-gerakan yang mengatasnamakan gender bisa menjadi acuan kita bersama, bahwa adil tak sepenuhnya harus setara dan setarah adalah pondasi awal untuk mewujudkan keadilan.
Kembali disini penulis menyampaikan, bahwa tulisan ini hanya subyektifitas pribadi saja yang mencoba untuk tetap dinamis dalam berpikir. Diakhir, semoga bermanfaat untuk kita semua.
Wallahu a’lam.

 

kontributor : Sahabat Moh. Izzuddin (Ketua Rayon 2015-2916)

sumber gambar : http://www.iflscience.com/

Membaca sebagai Kesadaran Berbangsa dan Bernegara

Untuk gelap yang melampaui dinginnya embun, selamat malam sahabat. Kurang lebih, begitulah suasana malamnya Malang dan tentu secangkir kopi adalah kekancan yang ideal untuk melalui rangkaian hari ini. Masih dengan suasana hujan yang membawa dingin serta kenangan (#eeh) dan karena itu mari kita hadirkan hangatnya malam melalui aktivitas berpikir yang menghasilkan buah pikir.
Teringat suatu pembahasan diskusi kecil dengan salah seorang Sahabat menyoal budaya yang dikhususkan mengenai kebudayaan baca-membaca. Dengan mengawali pembicaraan mengenai cita-cita Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, yang kemudian semakin hangat membahas tabiat dan budaya para pemuda penerus bangsa hari ini, pun didalam diskusi kecil ini menghadirkan banyak sekali kritik membangun untuk kita sebagai penerus bangsa. Inilah yang kemudian ingin penulis angkat menjadi suatu problematika yang perlu kita bahas pada kesempatan kali ini.
Sering kita mendengar pertanyaan mengenai, “mengapa negara kita susah bersaing dengan negara-negara lain, apa ada yang salah dalam sistem perikehidupan rakyat kita ?” atau “kapan negara kita dapat menandingi negara-negara maju ?”. Lalu hal tersebut selalu dikait-kaitkan dengan strata pendidikan, inovasi dan rekayasa teknologi, serta karya-karya pribumi yang itu untuk dimonumentasikan sebagai bukti perkembangan dan kemajuan negeri. Daripada itu semua, terdapat hal yang mendasar untuk kita kaji bersama, yakni mengenai “apa yang menjadikan mereka lebih maju dari kita”.
Peradaban suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan dihasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang didapat, sedngkan ilmu pengetahuan didapat dari informasi yang diperoleh dari lisan maupun tulisan. Dalam hal ini penulis sangat bersepakat, bahwa untuk memajukan negeri hMembacaarus diawali dengan proses membaca untuk kemudian agar dapat mendapat informasi dan wawasan.
Bahwa berkembangnya dari era orde lama ke era reformasi sudah sangat memberi pengaruh pada hal yang umum hingga spesifik secara signifikan. Pengaruh perkembangan infrastruktur adalah salah satu wujud perkembangan paling kontras untuk kedua proses di era orde lama hingga reformasi. Namun, penulis tidak sedang membahas pengaruh umum yang diberikan oleh perkembangan era tersebut; melainkan penulis mencoba membahas pada pengaruh yang belum kita sadari, yakni perkembangan baca-membaca
Coba kita sedikit berimajinasi mengenai kondisi baca-membaca pada era orde lama, orde baru, dan reformasi. Pada era orde lama atau pada pemerintahan Soekarno, yang pada era ini masih terdapat problematika ketahanan negara. Proses perkembangan pendidikan mengalami step awal, yang dalam hal ini Ki Hajar Dewantara diamanahi sebagai Menteri Pengajaran dan Kebudayaan sebagai generasi awal bidang pendidikan pasca kemerdekaan. Pandangan atau konsepsi politik Soekarno mengenai Nas-A-Kom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) ini juga mempengaruhi dinamika dan stabilitas negara yang terdapat tiga komponen penting; yakni tentara, kelompok-kelmpok islam, dan komunis.
Disisi lain, pada berbagai hal juga terdapat anggapan atau asumsi dari masyarakat bahwa Soekarno adalah penganut hal-hal yang berbau komunisme (lebih khususnya sosialisme); anggapan ini tentu dari keseharian dalam hal pemikiran dan tutur kata Soekarno pada saat itu yang sering menyebut istilah-istilah sosialisme atau (pernah) komunisme. Daripada hal tersebut, mulailah masuk literasi atau wacana komunisme di Indonesia, yang juga melalui salah satu tokoh komunisme atau dapat disebut sebagai salah satu orang kepercayaan Soekarno; yakni Tan Malaka.
Di era orde lama pun, hubungan Soekarno dengan negara-negara berpaham sosialisme dan komunisme bisa dibilang berada pada titik ideal, yang mempunyai pengaruh pada bertambahnya literasi dan wacana komunisme global. Kemudian daripada itu, Soekarno juga mencanangkan misi “pemberantasan buta huruf” yang dalam hal ini bisa kita tafsirkan bersama sebagai membaca-menulis. Misi memberantas buta huruf ini bukan hanya mengajari rakyat untuk bisa baca dan tulis, bukan hanya mengarahkan rakyat dari gelap menuju terang; tapi juga sebagai misi penyempurnaan kewarganegaraan. Untuk hal ini, coba penulis kutip dari tokoh internasional Lenin bahwa, “seorang manusia buta huruf adalah diluar dunia politik.” Maksud dari apa yang disampaikan Lenin; tanpa membaca dan menulis, berarti seseorang tidak bisa menyadari hak dan kewajibannya sebagai warga negara, seorang tersebut akan sulit bertindak atas nama dirinya karena tidak bisa membaca konstitusi dan memahaminya.Indonesia membaca
Bahwa di era orde lama ini penulis menganggap sanggupnya membaca dan menulis adalah suatu kelebihan hebat bagi pribumi yang bisa disebut sebagai kaum terpelajar. Jadi teringat surat Kartini kepada sahabatnya Estelle Zeehendelaar, “duh, sekarang aku mengerti, mengapa orang begitu menentang keterpelajaran orang Jawa. Kalau orang jawa terpelajar, dia tidak akan gampang menjadi pengamin saja, takkan menerima segala macam perintah atasannya lagi.” Juga pada perjuangan beliau untuk kemudian mengajarkan pribumi agar melek huruf, pada saat itu.
Disisi lain, perlu juga kita sadari bahwa kondisi diera orde lama ini tidak terdapat fasilitas tempat ataupun buku yang optimal untuk dikonsumsi rakyat sebagai pengetahuan dan wawasan, yang tentu karena keterbatasan ini dan itu. Dengan melihat modernitas dan perkembangan zaman, diera orde lama sangat jarang menyediakan literasi global yang sudah diterjemahkan dalam bahasa nasional untuk kemudian dapat dibaca dan dipelajari oleh rakyat masa itu.
Pada era orde baru atau pemerintahannya Soeharto, dengan diawalinya supersemar (surat perintah sebelas maret) yang mungkin masih ada hal kontroversial hingga saat ini. Penulis tidak akan membahas bagaimana dinamika pergantian orde lama ke orde baru walaupun hanya sepengetahuan penulis apalagi pengaruh dari orde baru ini yang tidak sesuai. Setidaknya, kita sama-sama berimajinasi mengenai bagaimana pengaruh positif untuk perkembangan Indonesia di beberapa hal, khususnya perkembangan dibaca-membacanya. Mengenai pemerintahan Soeharto, terdapat beberapa hal yang sangat kontras untuk kemudian kita munculkan sebagai pembahasan yang renyah; namun, kita tidak akan mendalami kesemuanya, hanya sebagian saja yang itu relevan untuk kita bahas. Tentu, menjadi sebuah kesadaran bagi para pendahulu yang berkesempatan hidup pada pemerintahan orde baru untuk menyatakan bahwa, hilangnya hak bersuara dan hilangnya hak demokrasi atau bisa dianggap otoritas penuh dari pemerintahan orde baru; hal itu yang kemudian menjadi kontras pada masanya.
Kemudian adanya hal kontras lain terdapat pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat dimasa itu, juga begitu hebatnya perkembangan infrastruktur karena terbukanya ruang untuk korporasi-korporasi dan investor asing yang hari ini masih kita rasakan pengarunya. Anggapan atau asumsi bahwa tidak adanya ruang untuk beraspirasi ini yang kemudian menjadi pelabelan bahwa, dominasi kelompok aparat yang berlebih.
Bahkan, berbagai kabar dari orde baru yang penulis terima adalah mengenai upaya genosida terhadap kelompok penganut komunisme atau bahkan yang terinduga menganut komunisme; yang menurut penulis diorde lama telah menjadi salah satu lokomotif perkembangan pemikiran negeri maupun global. Terkait berbagai upaya genosida yang berbau komunisme (termasuk produk, buku, dan simbol) ini juga berdampak bagi kaum terpelajar, untuk berwawasan mengenai pemikiran Soekarno yang sudah dianggap mempunyai gagasan sosialisme dan komunisme.
Kemudian bagi penulis, hal tersebut sudah sangat mengalami ketimpangan yanghingga saat ini kita masih mencari asumsi yang benar mengenai peristiwa yang berkaitan dengan komunisme diera orde baru. Bahkan penulis menganggap ada hal lain, yakni bukan saja upaya untuk menyingkirkan pemahaman komunisme, melainkan yang tidak pro dan sesuai dengan tindak laku atau kebijakan pemerintahan bisa diancam dan terancam, hingga produk (buku atau literasi sekalipun) ikut terancam; dan semoga itu hanya menjadi anggapan penulis yang kurang benar adanya. Dari hal sebelumnya, bahwa tidak banyaknya atau bahkan tidak adanya literasi dan wacana terkait perkembangan komunisme, sosialisme, dan hal yang menyangkut penyuaraan aspirasi; atau yang biasa kita sebut sebagai literasi dan wacana kekirian yang beredar. Hingga dinamika tersebut berlangsung sampai akhir era orde baru di tahun 98-nan.membaca
Yang berlanjut pada era reformasi atau pemerintahan BJ. Habibie hingga Jokowi (sekarang). Tentu terdapat banyak hasil dari buah proses dan dinamika di dua era sebelumnya. Setidaknya, sebagian besar dari kita yang hidup pada era reformasi ini mempunyai persepsi dan penilaian pribadi, yang tentu subyektif.
Di era reformasi yang menyebut sebagai masa demokrasi dan tersedianya ruang-ruang untuk menyuarakan aspirasi ini, tentu segala hal dapat kita akses dan dapat jika kita berkemauan juga berkesempatan. Pun terkait dengan sarana prasarana yang menunjang kita untuk berwawasan dan berpengetahuan; mulai dari sekolah, perpustakaan umum dan khusus, kios-kios toko buku, hingga yang kita anggap sebagai tempat ideal dan cocok untuk berwacana. Perkembangan zaman pun sudah memberikan distribusi mengenai buku dan terjemahan tentang literasi atau wacana yang dapat kita akses dan peroleh sebagai penambahan wawasan dan pengetahuan diri dan bangsa. Juga buah karya para pemikir dan praktisi di era reformasi ini lebih bisa kita asumsikan sebagai hal yang kompleks; kesemua itu dapat kita peroleh, jika kita menyadarinya dengan benar-benar sadar.
Asumsi penulis bahwa, dari membudayakan diri membaca maka kita akan menapakkan langkah awal kita untuk menyadari kewajiban berbangsa dan bernegara. Dengan kita membaca, maka kita akan membuka keran pengetahuan dan wawasan, dengan terbukanya wawasan dan pengetahuan maka kita akan mengerti dan memahami bagaimana untuk menjawab pertanyaan yang sering kita dengar mengenai “kapan Indonesia dapat menyaingi negara-negara maju ?” sesuai versi kita masing-masing.
Penulis juga mengingatkan, bahwa apa yang ada pada tulisan ini adalah subyektifitas daripada penulis yang mengharapkan atas kritik dan saran dari pembaca. Semoga dapat memberi hikmah dan manfaat, terimakasih.
Wallahu a’lam.

 

Kontributor : Sahabat Mohammad Izzuddin (Ketua Rayon PMII Galileo 2015-2016)

Khalifah (yang) Khilaf

Selamat pagi sobat, sudahkah menyeduh kopi di Minggu pagi yang cerah ini ? Jika belum, maka bersegeralah untuk mengopi dihari ini 🙂 . Jalanan yang lengang akan kendaraan bermotor nampaknya sudah menjadi pemandangan yang identik diakhir pekan. Car Free Day dikawasan Jalan Ijen sudah menjadi destinasi pagi untuk warga dan pemuda Malang disetiap minggunya. Pun dengan suasana identik seperti berkumpul dan berpacaran (yang sangat dilarang oleh agama) disuatu tempat wisata, yang dizaman sekarang itu juga wujud dari silaturahim.

Akhir-akhir ini, ada banyak berita publik yang membicarakan ihwal lingkungan yang memang itu menjadi permasalahan kita bersama. Pasti sebagian dari kita sudah mendengar dan sedikit bertanya-tanya, bahkan menyatakan ketidaksepakatan dengan apa yang terjadi pada lingkungan di Negeri kita. Persoalan kebakaran hutan dan pertambangan yang menjadi trending topik beberapa bulan terakhir sudah menjadi kontroversial saat ini. Bergeser daripada persoalan lingkungan pada lokus Nasional, yakni  untuk wilayah Malang. Penulis ingin mengambil contoh persoalan lingkungan di wilayah Malang, yakni kontroversi persoalan hutan malabar, dibangunnya gedung disisi bantaran sungai besar, sampai pada persoalan pembangunan gedung diatas sumber air.

Pada semua persoalan tersebut, tentu terdapat keterlibatan manusia didalamnya. Memang disadari atau tidak, dari persoalan-persoalan tersebut terdapat hal negatif dan positif. Dalam  hal ini penulis tidak sedang ingin menilai persoalan-persoalan tersebut dari segi hukum, ekonomi, sosial, budaya, ataupun bidang keilmuan lainnya. Namun, keterlibatan manusia itu berdampak pada munculnya persoalan tersebut yang kemudian menjadi permasalahan kita bersama. Bukan hanya keterlibatan secara tindak dan laku, namun juga keterlibatan pemikiran juga berbuah hal besar yang berujung pada tindak dan laku itu sendiri.

Mengapa manusia sanggup berperilaku demikian (merusak lingkungan), padahal itu sudah sangat jelas dilarang dan tidak diperbolehkan ? Jawaban yang paling sederhana adalah karena manusia mampu untuk berbuat demikian. Hal tersebut terlepas dari kesadaran atau tidak. Namun, ketika membicarakan tentang mampu secara tindak dan laku, pasti tidak lepas dari buah pikir manusia itu sendiri. Semisal, mengapa aku (sebagai manusia) melakukan hal tersebut ? atau, mengapa aku (sebagai manusia) berkeinginan melakukan hal tersebut ? tentu pada kedua pertanyaan tersebut menjadi suatu hal yang dialektis bagi seorang manusia sebelum melakukan sesuatu. Itulah mengapa penulis mengistilahkan bahwa, buah pikir dapat dipastikan akan menghasilkan tindak dan laku (dalam konteks ini).

Membicarakan tentang manusia, pada kalam Allah SWT sudah dijelaskan dan disebutkan  bahwa manusia adalah seorang pemimpin dimuka bumi (Khalifah fil Ardh). Kemudian pada kalam tersebut penulis coba tafsirkan, bahwa istilah pemimpin dimuka bumi tersebut adalah suatu tanggung jawab bagi seluruh manusia untuk kemudian menjaga keutuhan dan stabilitas bumi dan seisinya. Sederhananya, “kalau itu adalah kalam Allah, berarti itu sebuah perintah dari Allah kepada manusia yang harus ditaati.”

Namun bagi penulis, seolah-olah terdapat suatu pergeseran pada penafsiran dan pengaplikasian Khalifah fil Ardh itu sendiri secara disadari ataupun tidak sadar, dan hal ini berdampak pada konstruk pemikiran yang kemudian berlanjut pada tindak dan laku manusia secara tidak sadar sebelumnya. Bahwa, pemimpin itu penguasa, pemimpin itu berkuasa, dan pemimpin adalah pemilik, maka pemimpin ‘berhak’ atas apa yang dikuasai dan dimiliki. Jika kita bayangkan pemimpin adalah istilah lain daripada seorang penguasa, tentu seluruh bumi ini adalah hak kepemilikan daripada pemimpin itu sendiri. Maka, itu adalah suatu konstruk atau penafsiran atau pengertian yang tidak dapat dibenarkan dan harus kita sadari.

Sederhananya, penulis mengasumsikan bahwa pemaknaan atau penafsiran kata pemimpin sebagai penguasa adalah suatu kekhilafan atau bahkan suatu kesengajaan daripada manusia itu sendiri. Khilaf karena memang benar-benar tidak sadar dan lupa dari sejak berpikir bahwa tindak dan lakunya sebagai perusakan atau pengeksploitasian lingkungan dan alam adalah suatu hal yang tidak benar walaupun pelaku merasa ada hal positif dari tindakan tersebut, yang kemudian itu berdampak pada kestabilan alam dan lingkungan.

Lalu, pada hal kesengajaan sejak dalam berpikir dan menimbang inilah yang membuat manusia semakin menjadi-jadi kepenguasaannya, yang seolah-olah mengambil alih penuh kepemilikan alam dan lingkungan ini untuk diolah atas kemauan, keinginan, dan kehendak daripada manusia itu sendiri; dan bagi penulis ini adalah suatu hal yang sangat tidak benar. Jika dilihat dari manusia itu sendiri, bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa. Entah hal tersebut sebagai suatu kebenaran dari tindakan yang salah atau sebagai suatu dalih dari tindakan yang salah untuk tidak disalahkan. Silahkan dipersepsikan sendiri, sobat.

Setidaknya, dari pembahasan-pembahasan tersebut ada suatu hikmah yang dapat kita ambil sebagai pelajaran untuk kebaikan dikemudian hari. Pada akhirnya, penulis mengingatkan kembali bahwa tulisan ini hanya bersifat subyektif dari penulis. Juga penulis memohon maaf apabila terdapat sesuatu yang kurang berkenan pada tulisan ini.

Wallahu a’lam.

 

  • Kontributor = Sahabat Mohammad Izzuddin (Ketua Rayon PMII Galileo 2015-2016)

Kri-tikus (yang) Kekinian

Selamat malam para pecandu kopi, selamat bermanja ria dengan cangkir kopimu dan semoga kemesraan itu selalu ada. Malam yang dingin untuk wilayah Malang, pun dengan bersandang tebal khas pakaian musim dingin. Kembali penulis ingatkan, segerakan me-ngopi-mu untuk bisa menikmati hal-hal yang dialektis nan cerdik.

Ingatkah kita dengan polemik-polemik persepakbolaan, lingkungan, akademik, dan kesejahteraan rakyat di Negeri ini ? Baiklah, penulis akan menspesifikkan lagi. Ingatkah kita dengan polemik PSSI, pembakaran hutan, akademisi yang ter-dropout, dan hal yang menimpa rakyat pada sisi kesejahteraannya ? Tentu hal tersebut menjadi sebuah refleksi bagi kita akan polarisasi hidup di Tanah Air ini.

shutterstock_98504012

Kali ini penulis akan sedikit bersubyektifitas tentang hal yang mendasar mengenai tabiat kita, yakni kritik-mengkritik. Bukan mengenai tinjauan dari perspektif ini – itu, namun hanya dari subyektifitas penulis yang berupaya untuk obyektif. Pada dasarnya, tentu kita mengetahui apa yang dimaksud daripada kritik itu sendiri, entah dalam segi pemaknaan pribadi atau segi teoritisnya.

Mengenai kritik-mengkritik, tentu sebagian manusia di Negeri ini sudah pernah melakukannya disadari atau tidak. Entah mengkritisi pribadi atau karakter seseorang, mengkritisi keputusan dan tindak laku seseorang, atau bahkan mengkritisi organ kommunal. Lagi-lagi itu semua berdasarkan pandangan subyektif dari sudut pengkritisi saja. Karena sebelumnya sama-sama kita sadari, bahwa dizaman (yang katanya) demokrasi ini semua pihak berhak menyuarakan aspirasi atau argumennya asalkan tetap memenuhi standart etika publik. Tidak dapat dipungkiri pula, mengkritik itu tidak harus memiliki syarat kecerdasan atau bidang tertentu.

Adalah sebuah media yang menjadi penunjang utama sarana kritik pada era kekinian. Karena, hampir semua elemen masyarakat sudah mahir untuk menggunakan gadget dan mengaplikasikan media yang ada. Pun juga kecerdasan masyarakat sudah mengalami peningkatan dalam segi kritik mengkritik. Bahkan pada saat ini, hampir susah membedakan antara kritikan dan hujatan. Lalu, yang menjadi kritikan kekinian itu seperti apa ?

Diera saat ini, kritikan yang bernada hujatan, kritikan yang mengandung hujatan, hujatan yang sejatinya mengkritik, kritikan yang murni untuk menghujat, dan kritikan yang benar untuk mengkritik, semuanya menjadi hal yang kekinian. Padahal, tentunya kita sadar tujuan dari mengkritik itu sendiri adalah sebagai pengingat dan evaluasi bagi si dia atau kita yang menerima kritik agar dapat menjadi yang lebih baik. Namun, realita yang penulis tangkap adalah dua hal yang penulis anggap sebagai substansi daripada mengkritik saat ini, yaitu :

Pertama, pengkritik yang hanya menilai atau mengkritisi saja tanpa dibarengi dengan solusi dan tindak nyata bagi dirinya sendiri. Mengapa demikan ? Tentunya kita harus sadar bahwa mengkritik yang secara tidak langsung adalah bertujuan agar kita juga berkaca / berintrospeksi diri, yang kemudian hal penting daripada mengkritik adalah memunculkan solusi atau rekomendasi atau saran bagi seseorang yang kita kritik agar dia dapat menilai sejauh mana pribadi atau tindak lakunya sampai bisa menimbulkan kritik dan penilaian bagi dirinya.

Kedua, pengkritik yang menilai atau mengkritisi dengan dibarengi solusi dan tindak nyata bagi dirinya sendiri. Ini adalah hal kedua yang penulis anggap sebagai substansi dari mengkritisi saat ini. Bahwa setidaknya perlu kita ketahui bersama bahwa tidak hanya mengkritik, namun juga memberi solusi. Itulah esensinya. Banyak daripada kita yang panjang lebar mengkritisi ini – itu dan sana – sini, namun kita melupakan unsur solusi yang kemudian itu kita berlakukan bagi diri kita sendiri. Kesemua itu kemudian harus ditarik lagi pada diri pribadi agar esensi dari kritik-mengkritisi dapat berlaku bagi si pengkritik, atau bahasa sederhananya “kita mengkritik, maka sejatinya kita juga dikritisi”.

Setidaknya, dari kedua hal tersebut kita semua dapat menyadari bahwa kritik-mengkritisi juga terdapat nilai tanggung jawab bagi diri. Negara kita tidak akan maju, tanpa ada sebuah dan banyak kritik daripada pengamatnya (masyarakat). Tentu penulis sepakat, bahwa tiada manusia yang menyempurnakan diri tanpa suatu kritikan. Pun dengan Baginda Rasulullah SAW, bahwa Beliau pernah dikritisi oleh Allah SWT. Dan satu hal lagi, bahwa penulis sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Walikota Bandung;

Negeri ini butuh banyak pemuda pencari solusi, bukan pemuda pemaki-maki.”

Dari hal tersebut, penulis harap kita semua dapat mengambil suatu pelajaran dan hikmah dari apa yang kita sebut sebagai kritik-mengkritisi. Juga sekali lagi penulis mengingatkan, bahwa tulisan ini hanya suatu subyektifitas penulis saja. Maka apabila terdapat suatu hal yang kurang sesuai, mohon kritik dan sarannya.

Wallahu a’lam

——————-

Kontributor : Sahabat Izzuddin (Ketua Rayon PMII Galileo 2015-2016)

Islam Nusantara Tiga Dimensi

oleh: Anas Ahimsa

Jika menengok sedikit kebelakang, perbincangan tentang Islam Nusantara sungguh terlihat begitu deras saat pra menjelang, muktamar NU, dan beberapa hari (saja) paska momentum di “kota wali” jombang itu terlaksana.

Lantas, bagaimanakah gelombang diskursus tentang Islam Nusantara itu, hari ini dan kedepan?

Dan ketika “Sang Sastrawan” sekaligus tokoh yang kita kagumi, KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam sambutan (tulisan) nya menanyakan; Islam Nusantara, Makhluk Apa Itu? Sungguhlah sulit memberi jawaban secara ringkas akan pertanyaan semacam itu. Hanya saja bagi penulis yang masih terbelakang (awam) tentang pemikiran keislaman dalam kaitannya dengan nilai-nilai budaya di nusantara. Cukup akan menempatkan spirit-nilai “Islam Nusantara” disini sebagai salah satu ciri khas aktualisasi yang tak berkesudahan (proses) dalam keberagaman laku keseharian, sehingga tidak gampang “kagetan” setiap melihat perbedaan.

Oretan ini hanya bagian “refleksi kecil” penulis, tentang manifestasi dari tiga dimensi penting yakni Kearifan Lokal, Pribumisasi Islam, dan Dialog-Toleransi Lintas Keyakinan yang termaktub dalam khasanah (buku) Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan, Mizan.

Kearifan Lokal               

Kearifan lokal (budaya) menjadi nafas penting yang tak terpisahkan dalam kerangka Islam Nusantara. Karena islam nusantara tak lebih adalah upaya penyesuaian (adaptasi) secara ramah dengan nilai-nilai budaya atau kearifan lokal yang ada.

Bahwa “Paham dan praktek keislaman di bumi nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realitas dan budaya setempat”. Sebagaimana disebut oleh Akhmad Sahal dalam mengutip tulisan KH. Afifuddin Muhajir, dalam Prolog buku Islam Nusantara ini.

Sejatinya Islam dan budaya mempunyai posisi independensinya masing-masing, yang saling berkaitan satu sama lain. Islam sebagai agama yang cenderung “garang” dalam (sifat) normatif-nya, menjadi lebih santun menyejukkan dan bisa berkembang secara dimanis ketika mampu berjalan setapak-demi-setapak melalui jembatan, bernama budaya.

Kearifan lokal bisa berwujud prinsip Bhinneka Tunggal Ika, dan berbagai tata nilai kebudayaan Nusantara lain yang beradab, tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap peradaban yang berkembang.

Proses pendekatan agama (islam) melalui budaya berlangsung terus-menerus, menambah kedamaian berupa kelenturan yang ter-asyik, bukan ketegangan yang ter-usik. Sehingga ketika bersentuhan dengan konteks lokalitas masing-masing, penerapan dan bentuk (model) nya bisa berubah-ubah, tetapi prinsip-nilai (islam) nya tetap.

Sehingga karakter Islam Nusantara disini bisa ditunjukkan dengan adanya kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama (islam), namun justru saling bersinergi antara islam di satu sisi, dengan kearifan budaya lokal disisi yang lain.

Dalam epilog di buku ini, Lukman Hakim Saifuddin sang menteri “semua” agama Indonesia kita, kembali mengingat tegaskan. Bahwa media penyebaran Islam di Nusantara salah satu nya adalah melalui perangkat budaya.

Pribumisasi Islam

Sebagai buah “perjumpaan” yang cukup panjang antara agama (islam) dengan budaya sebagai kearifan lokal, hingga mampu membangun “titik temu kultural”.  Pribumisasi Islam merupakan gagasan pembaharuan yang unik dari Gus Dur.

Agar tidak cenderung memikirkan manifestasi simbolik dari islam dalam kehidupan, akan tetapi lebih mementingkan esensinya.  Pribumisasi Islam bukanlah upaya perlawanan secara mutlak dari budaya setempat (nusantara) terhadap budaya timur tengah (arabisasi). Sehingga budaya lokal yang “arif”, sekaligus esensi dari Islam yang universal tidak hilang.

Melakukan pribumisasi islam berarti adalah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan masyarakat muslim disetiap kondisi lokalitas nya.

Tanda adanya proses pribumisasi, dalam salah satu contoh riil di masyarakat kita (Nusantara) menurut pemikiran Gus Dur disini, ketika dalam sebuah stadion juga terdapat/difasilitasi adanya musholla, karena melihat kenyataan yang sering terjadi dalam pertandingan sepak bola digelar berbarengan dengan waktu sholat masuk.

Harus disadari, bahwa  penyesesuaian  ajaran islam dengan kenyataan hidup hanya diperkenankan sepanjang menyangkut (ranah) sisi budaya. Sehingga menjadikan agama (Islam) yang mampu mewadahi/akomodir kebutuhan-kebutuhan budaya lokal, pun sebaliknya.

Yang tidak boleh terjadi adalah pembauran islam dengan budaya, sebab berbaur berarti hilangnya sifat-sifat asli.

“Walaupun atas nama agama (termasuk islam), setiap kegiatan yang menyebabkan kegiatan kemanusiaan mengalami kemunduran, haruslah dihilangkan”. Dengan kata lain menurut Gus Dur, bahwa semua kelompok masyarakat bertanggung jawab terhadap proses Pribumisasi Islam. Dalam arti mengokohkan kembali akar budaya kita, dengan tetap berusaha menciptakan masyarakat yang taat beragama.

Dan, prinsip-prinsip yang keras dalam hukum islam (Nas) harus mampu dipahami, lantas dikaitkan dengan masalah-masalah kearifan lokal (budaya) di negeri kita Indonesia, dengan cakupan yang luas dan argumentasi yang lebih matang. Kalau hal itu bisa berjalan/terlaksana dengan baik, maka inilah yang oleh Gus Dur dimaksud dengan, Pribumisasi Islam.

Dialog-Toleransi (Al-hiwar-tasamuh)       

Dialog sebagai jembatan untuk mencari dan menemukan titik-titik (pemahaman) bersama, akan sebuah permaslahan sosial, kemanusiaan dan lainnya yang sedang terjadi di kehidupan kita. Serta didasari pula dengan spirit toleransi. Toleransi bisa diarahkan dengan adanya sebuah sikap terbuka, dan mengakui adanya berbagai macam perbedaan.

Ciri utama dalam metode berfikir (manhaj al-fikr) ala aswaja yang menjadi prinsip atau pegangan Nahdatul Ulama salah satunya ialah, toleransi (tasamuh). toleransi yang meliputi berbagai aspek universalitas kehidupan. Seperti sosial, politik, dan yang lainnya.

Sebagaimana dalam kenyataan budaya khas nusantara kita, islam dihayati oleh muslim (mayoritas) di negeri ini dengan tidak lepas diantaranya dari spirit-nilai toleransi (tasamuh).

Dan dialog sendiri bukanlah dalam maksud untuk saling “barter” keyakinan (keimanan) dari masing-masing peserta dialog, hingga akan muncul perasaan menang atau kalah.

Setidaknya ada tiga hal (permasalahan) yang bisa di-dialog-kan bersama, seperti apa yang ditulis oleh Prof. Dr. M. Amin Abdullah dalam Fikih dan Kalam Sosial Era Kontemporer di buku Islam Nusantara ini. pertama: menyangkut permasalahan kemanusiaan universal. Seperti pendidikan, kesehatan, kemiskinan, kekerasan atas nama agama, dll-nya. Kedua: menyangkut permaslahan kebudayaan. Seperti adat-istiadat, bahasa, kebiasaan, gaya hidup, dll-nya. Ketiga: menyangkut permasalahan hak asasi manusia. Seperti kemerdekaan, kesejahteraan, kebebasan, dll-nya.

Ketika sebuah dialog dipahami tidak dalam maksud mencari pemenang antar kelompok, keyakinan, organisasi, atau komunitas tertentu. Sehingga tujuan (esensi) dari dialog seperti untuk saling mengenal, saling mengerti, saling mengasihi, membangun solidaritas, serta hidup bersama secara damai dan toleran . akan bisa tercapai.

Terakhir

Teringat salah satu pesan (dakwah) yang pernah disampaikan oleh “Sang filsuf” asal rembang, Gus Mus. Yang coba penulis sampaikan dengan perumpamaan dalam konteks tulisan ini, bahwa; penyesuaian dengan Kearifan Lokal (Budaya), Pribumisasi Islam (Gagasan Gus Dur), serta Dialog dan Toleransi. Sejatinya harus dipahamai sebagai perantara/jalan (wasilah). Untuk mencapai satu tujuan utama (ghayah) yakni Allah SWT, atau seringkali juga kita menyebutnya, Tuhan.

Semoga islam yang ramah, dan arif dalam lokalitas budaya nusantara yang beragam ini, senantiasa menjadi ajaran yang Shalih Li Kulli Zaman Wa Makan (Cocok untuk seluruh masa dan tempat). Wallahu a’lam bish shawab

* Tulisan ini sekedar apresiasi untuk sahabat-sahabat PMII Komisariat Sunan Ampel Uin Malang, yang menggelar hajatan Seminar Bedah Buku Islam Nusantara, akhir oktober 2015.

(Penulis adalah pelayan di Waroeng Gus Dur Ngalam, bisa dijumpai via twitter @anas_ahimsa)

HARGA MANUSIA LEBIH RENDAH DARI RUPIAH DI NEGRIKU

kabut asapSejumlah peristiwa bencana, pembunuhan, hingga kepentingan demi sejumlah uang telah terjadi di negri ini. Mulai dari peristiwa pembunuhan Salim Kancil di daerah Lumajang yang merupakan korban dari kebiadaban para manusia pengeruk pasir tambang ilegal, dan juga bencana asap yang timbul dari pembakaran hutan oleh sejumlah perusahaan yang beraksi anar
kis tanpa mempertimbangkan dampak yang akan terjadi  seinngga mengakibatkan kepulan asap di Sumatra – Kalimantan.

Read more “HARGA MANUSIA LEBIH RENDAH DARI RUPIAH DI NEGRIKU”

Wanita dan Kepemimpinan

20150802_044951_harianterbit_khofifah
Khofifah Indar P (Menteri Sosial RI)

Selamat Pagi Indonesia, Selamat Pagi Kota Malang. Selamat Pagi Mahasiswi. Ya, mahasiswi, penulis kali ini memang sedikit akan mengulas terkait kepemimpinan mahasiswi, atau dalam konteks global adalah kepemimpinan wanita. Sebelumnya penulis memang sempat lama hilang dari dunia kepenulisan karena terlalu sibuk mengurusi tujuan utama datang ke Malang, apalagi selain duduk manis mendengarkan retorika manusia yang sedang menjalankan kewajibannya sebagai pengajar mahasiswa, Dosen. Intinya, penulis sibuk melakukan gerakan akademik bernama kuliah. Di weekend kali ini sebetulnya ada beberapa tugas perkuliahan yang harus penulis kerjakan, namun karena renungan dan obrolan ringan malam tadi membuat penulis berhasrat dan bersemangat untuk sedikit mengkhayal tentang wanita yang menurut seorang ahli wanita adalah objek bacaan yang tak pernah habis. Namun disini, sesuai dengan ulasan diatas, penulis membatasi bacaan penulis terhadap wanita dalam konteks kepemimpinan saja, tidak sampai kedalam organ-organ intim wanita seperti penjelasan dalam kitab-kitab reproduksi konsumsi mahasiswa biologi, Ups. Meskipun penulis seorang pejantan tangguh, tak elok kiranya ketika penulis tak memperdulikan kaum hawa yang juga bagian dari kehidupan penulis sendiri, hehe. (Sok peduli).

Penulis sering menemukan beberapa fakta yang menurut pribadi penulis memprihatinkan terkait partisipasi mahasiswi dalam organisasi-organisasi yang ada di kampus. Khususnya di UIN Maliki Malang, persentase partisipasi aktif mahasiswi dalam organisasi kemahasiswaan masih terlihat minim dan masih didominasi oleh para pejantan. Padahal, penulis mengamati di kampus-kampus umum seperti di UB, ITS, UNAIR dan beberapa kampus lain, peran mahasiswi dalam organisasi kemahasiswaan cukup tinggi dibandingkan dengan di UIN (baca: UIN Maliki). Terlepas apakah temuan penulis ini komprehensif atau tidak, itulah yang penulis temukan di berbagai event keorganisasian yang pernah penulis ikuti, bahkan organisasi yang penulis geluti didalamnya. Karena penulis sendiri belum pernah meneliti secara statisik terkait partisipasi mahasiswi dalam organisasi kemahasiswaan di UIN, baik dari segi kualitatif (partisipasi aktif) maupun kuantitatif (partisipasi pasif alias numpang nama). Ada apa dengan mahasiswi UIN? Mengapa mahasiswi UIN enggan menunjukkan eksistensinya sebagai mahasiswi yang sebetulnya juga bisa mengeksplor kapasitasnya sebagai mahasiswi yang Ulul Albab (Dzikir, Fikir, Amal Sholeh) dan bersaing dengan mahasiswi-mahasiswi di kampus lain? Apakah terdapat stigma negatif? Apakah terdapat pengaruh dominan dari norma-norma, budaya, maupun agama? Penulis juga tidak mengetahui secara pasti apa yang melatar belakangi realita ini. Namun disini, penulis hanya ingin sedikit sharing atas apa yang penuli ketahui, bahwa pada intinya, mahasiswi atau dalam konteks universalnya wanita, juga mempunyai hak yang sama dalam mengembangkan dirinya, baik dari segi potensi, bakat, maupun jiwa kepemimpinan, yang notabene kesemuanya bisa didapatkan dengan berpartisipasi dalam suatu wadah bernama organisasi. Pada kesempatan kali ini, penulis akan lebih terfokus pada pembahasan kepemimpinan seorang wanita yang merupakan esensi hasil utama dari berorganisasi, khususnya di organisasi kemahasiswaan.

Perspektif Islam dalam Kepemimpinan Wanita

Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin tidak melarang seorang wanita untuk mengembangkan diri dan memimpin. Memang ada beberapa ayat maupun hadits yang menyebutkan bahwa wanita dilarang memimpin. Wacana ini biasanya dikarenakan terdapatnya hadits Rasulullah SAW yang telah menyebar luas di masyarakat kita, yaitu :

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan negara pada wanita”, (HR. Bukhori).

Perlu diketahui, setiap hadits mempunyai sebab musabbab turunnya hadits yang disebut asbabul wurud. Asbabul wurud sendiri adalah salah satu aspek yang juga digunakan sebagai referensi untuk menentukan hukum suatu perkara, selain juga kualitas perawi dari hadits tersebut. Mengenai hadits diatas, hadits tersebut muncul berkenaan dengan suatu peristiwa dimana pada saat itu, Rasulullah mengirimkan utusan ke negeri Persia dan memberikan mereka surat tentang ajakan mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Namun, Pimpinan Persia yang pada saat itu dipimpin oleh seorang wanita bernama Putri Kisro menolak mentah-mentah ajakan tersebut dan merobek-robek surat Rasulullah SAW sehingga Rasulullah SAW bersabda demikian. Dan hal tersebut terbukti terjadi karena selanjutnya Rasulullah SAW berhasil menang berperang melawan Persia yang pada saat itu dipimpin Putri Kisro yang memang dikenal sangat lalim dan khianat terhadap kaumnya.

Jumhur Ulama’ bersepakat bahwa seorang wanita dilarang untuk dijadikan seorang pemimpin, namun para jumhur ulama menyepakati ini dengan berbagai illat dari masing-masing pendapatnya. Misalkan, Syekh Yusuf Qordlowi menjelaskan, bahwa wanita tidak diperbolehkan menjadi pemimpin negara (Khilafah). Namun tidak dalam konteks pemimpin negara dalam era modern saat ini. Karena kepemimpinan pada saat ini tidak seperti kepemimpinan pada era kekhalifahan yang notabene terkesan monarkhy dan dinasty yang mempunyai wewenang penuh terhadap fungsi legislastif, eksekutif dan yudikatif. Kepemimpinan hari ini, misalkan presiden, hanya mempunyai wewenang sebagai eksekutif saja, tidak kemudian memegang kendali legislatif dan yudikatif. Sehingga dalam konteks ini, wanita dan pria mempunyai posisi yang sama di lapangan kepemimpinan. Sama halnya seperti kewajiban wanita dan pria sebagai seorang mukallaf (orang yang diberi beban oleh Allah SWT) untuk tunduk dan patuh dalam beribadah kepada Allah SWT dan amar ma’ruf nahyil munkar.

Lajnah Bahtsul Masail NU pada tahun 1999 pernah bermusyawaroh terkait kebolehan wanita menjadi seorang pemimpin negara. Dalam pertemuan tersebut, para kyai berpendapat bahwa kepemimpinan negara pada era demokrasi tidak bisa disamakan dengan kepemimpinan zaman dulu. Kepemimpinan saat ini bisa disamakan dengan jabatan qadhi untuk memutuskan perkara harta, dimana menurut Imam Abu Hanifah, perempuan diperbolehkan menjadi hakim/qadhi dalam konteks pengurusan harta. Imam Ath-Thabari bahkan membolehkan wanita menjadi hakim dalam segara hal. Kedua alasan ini terdapat dalam kitab Bidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusyd.

Jadi, secara garis besar, hadits diatas tidak boleh kita maknai secara tekstual tanpa kita mengetahui asbabul wurud hadits tersebut, karena akan menyebabkan terjadinya diskriminasi antara fakta psikis wanita dan pria yang sebetulnya sama-sama memiliki hak yang sepadan dalam berbagai hal, terutama dalam konteks kepemimpinan. Mari kita fahami hadits tersebut secara komprehensif sehingga wanita juga mempunyai kesempatan yang sama dalam konteks memegang tampuk kekuasaan negara. Asalkan, wanita tersebut adalah representasi kontekstual mafhum mukholafah dari asbabul wurud hadits diatas. Yakni, wanita yang tidak lalim dan tidak berkhianat kepada rakyatnya. Dalam arti lain, wanita tersebut mempunyai integritas yang dapat dipertanggungjawabkan dan mampu menjadi seorang pemimpin yang dapat menciptakan kesejahteraan rakyat dan rahmatan lil alamin.

Kepemimpinan Wanita dalam Sejarah Dunia

Sejarah adalah sesuatu yang bisa kita jadikan cermin atas apa yang harus kita lakukan saat ini. termasuk dalam hal peran wanita dalam organisasi dan kepemimpinan. Fakta sejarah membuktikan bahwa tidak semua wanita mempunyai sifat BAPER dan PMS berlebih sepeti yang sering dijadikan brand oleh para pria terhadap wanita saat ini. kita semua pasti mengenal kepemimpinan wanita yang berhasil membawa negerinya menjadi makmur dan sejahtera, seperti kepemimpinan Cleopatra, Corie Aquino, Margareth Theacher, Benazir Butho, dan yang jauh lebih hebat lagi adalah kepemimpinan Ratu Balqis yang mampu membawa kemakmuran bagi negaranya sehingga hampir menandingi kerajaan Nabi Sulaiman AS yang kemudian termaktub dalam Al-Qur’an sebagai Baldatul Toyyibatul Warabbun Ghofur.

Selain itu, kita pasti mengenal Siti Aisyah RA, istri Rasulullah SAW yang mempunyai intelektualitas yang diakui oleh para Sahabat dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang patut dibanggakan. Beliau juga adalah seorang muslimah yang paling banyak meriwayatkan hadits Rasulullah SAW. Sehingga banyak dari para sahabat yang sering meminta pendapat beliau ketika hendak mencari solusi atas suatu permasalahan.

Di Indonesia saat ini, ada pula banyak tokoh perempuan yang mampu menjadi pemimpin seperti Ibu Tri Rismaharini yang memimpin Kota Surabaya dengan mendapat banyak penghargaan atas kepemimpinannya. Selain itu, Ibu Khofifah Indar Parawansa yang dengan gagah berani menjadi penantang Pak Karwo dalam memperebutkan posisi orang nomor satu di Jawa Timur dan saat ini menjadi Menteri Sosial dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK.

Dari beberapa fakta sejarah yang telah diuraikan, penulis meyakini bahwa wanita bukanlah kaum yang lemah, bukan golongan kelas dua setelah pria, bukan hanya dikodratkan sebagai penghuni dapur dan kasur seperti pandangan yang melekat pada mayoritas masyarakat umum hingga saat ini. Sesuai dengan teori gender, bahwa wanita memang berbeda dengan pria secara biologis, namun tidak berbeda secara psikologis. Wanita sama halnya dengan pria dalam hal keberanian, intelektualitas, dan juga kepemimpinan. Jadi, pantas dan sah-sah saja ketika seorang wanita menjadi seorang pemimpin. Terkait atas apa yang menjadi pandangan umum saat ini, itu dipengaruhi karena adanya budaya patriarki, yaitu suatu budaya yang lebih mengedepankan peran pria diatas wanita. Dan ternyata, banyak wanita yang secara tidak langsung “mengamini” adanya hal tersebut. Ketika kita memahami sejarah dan ajaran islam secara komprehensif, penulis meyakini bahwa hal itu sudah tidak relevan lagi saat ini. Karena sejatinya, islam sangat memulyakan peran wanita dan eksistensi wanita pada era ini juga diperlukan dalam kontribusinya membangun agama, nusa dan bangsa.

Bangkitlah Wahai Wanita Ulul Albab Penerus Bangsa

tri-risma
Tri Rismaharini (Walikota Kota Surabaya)

Paparan diatas adalah apa yang ingin penulis share kepada para wanita pada umumnya, mahasiswi UIN pada khususnya. Dengan harapan, uraian diatas menjadi motivasi dan membakar ghiroh mahasiswi semua dalam mengembangkan diri dan tidak terbatas pada stigma negatif dan pandangan diskriminatif yang membunuh semangat wanita muda dalam pengembangan dirinya dari segi intelektualitas dan kepemimpinan. Jangan ragu untuk kemudian belajar memimpin dan belajar berorganisasi. Warnai organisasi kemahasiswaan di kampus dengan kapabilitas sahabati yang mampu dibuktikan melalui aktualisasi diri di organisasi. Sehingga organisasi kemahasiswaan di UIN Maliki Malang akan lebih terlihat luar biasa karena kemudian dapat mencetak kader-kader wanita pergerakan yang mempunyai integritas dan mampu menjadi pemimpin bangsa ini. Jangan ragu untuk menjadi aktivis mahasiswa karena status biologis, Ibu Khofifah dan Ibu Risma dulunya adalah aktivis mahasiswa yang sangat luar biasa. Beliau terus mengasah kapasitas kepemimpinannya di organisasi sehingga hari ini mampu berpartisipasi aktif dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik lagi.

Penulis juga pernah mempelajari bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang jabatan tinggi saja seperti yang telah diuraikan diatas, kepemimpinan juga berbicara tentang jiwa. Jabatan tidak lebih penting dari jiwa kepemimpinan. Jabatan mempunyai batas waktu, namun jiwa kepemimpinan tak kenal waktu dan akan mengantarkan sahabati menjadi wanita yang luar biasa. Sehingga dalam ruang lingkup kecil seperti rumah tangga, sahabati mampu mendidik generasi kecil sahabati secara tepat dengan jiwa kepemimpinan yang dimiliki sahabati dan menjadikan keturunannya sebagai generasi penerus bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmunya, serta berkomitmen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam ruang lingkup yang lebih luas, kapasitas kepemimpinan sahabati akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan mengantarkan Indonesia menjadi Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghofuur. Semoga. Mari Berorganisasi, wahai Mahasiswi UIN Maliki Malang, buktikan bahwa sahabati adalah generasi muslimah penerus bangsa di garda terdepan. Habis Gelap Terbitlah Terang. Wallahu a’lam.

Malang, 18/10/2015 06:59 WIB

Fawwaz M. Fauzi

Cocokologi Al-Qur’an Sains, ataukan Kesadaran Filosofis?

Oleh : Syaiful Bahri**)

Bismillahirrahmanirrahim,,,,

Big Bang Theory
Big Bang Theory

Di Era yang sarat dengan Sains dan Teknologi ini, hampir semua lini kehidupan ini tidak ada yang tak bersentuhan dengannya. Bahkan soal agama. Ada semacam tuntutan tak termaktub, bahwa kebenaran agama tidak boleh bertantangan dengan sains. Karena, jika informasi agama bertentangan dengan sains, sudah bisa dipastikan yang dituding salah adalah informasi agama.

Kenapa demikian? Karena, informasi agama adalah kebenaran filosofis yang lentur dan subyektif. Sedangkan sains adalah kebenaran emperis yang obyektif. Sehingga ketika dibandingkan secara langsung, seakan-akan informasi agama seringkali dipaksa dicocok-cocokkan belaka dengan kebenaran sains.

Karenanya, lantas muncul sindiran kepada para penganut agama, bahwa umat beragama suka melakukan cocokologi alias mencocok-cocokkan informasi kitab sucinya dengan data-data saintifik. Tentunya sindiran itu tidak sepenuhnya benar dan harus diklarifikasi.

Oleh karena itu pemahaman dan implementasi integrasi Al-Qur’an dan sains haruslah komprehensif dan holistic. Bukan hanya menerjemahkan dan menafsirkan secara verbalistik saja. Nah itu yang terjadi hari ini, membicarakan penciptaan alam semesta tidak serta-merta kita bisa mengambil semua teori yang beredar di dunia ini terkait penciptaan alam semesta, kita pilihlah teori Big Bang, maka membicarakan Big Bang bukanla sekedar kita menerima berbagai cocokologi populer di kalangan masyarakat, namun kita harus memahami benar-benar bagaimana kerja Big Bang; toeri dasar, cara kerja, hal-hal yang mempengaruhi Big Bang dan lain sebagainya harus kita pahami benar-benar secara saintifik dan mampu dipertanggung jawabkan. Baru kemudian kita menoleh pada apa yang ungkapkan Al-Qur’an.

Saya termasuk salah satu yang tidak langsung percaya pada berbagai cocokologi populer yang mengaitkan teori Big Bang dengan apa yang dikatakan al-Qur’an. apa yang ditulis oleh Harun Yahya ataupun Achmad Baiquni mungkin ia sesuai dengan ungkapan al-Qur’an, namun saya melihat hal ini akan memicu persoalan tambahan; kalau memang sesuai dan kemudian dianggap itu adalah teori yang diungkap al-Qur’an, maka –dengan asumsi dasar Al-Qur’an mengandung kebenaran mutlak- teori ini pun akan membawa sifat mutlak Al-Qur’an, ini tentunya berbenturan dengan sifat Ilmu pengetahuan yang –harusnya- bersifat tidak mutlak, ia harus terus diuji. Nah, sebuah persoalan yang tidak asing bukan?. Persoalan selanjutnya adalah what’s next? Kalau memang teori Big Bang sesuai dengan ungkapan Al-Qur’an, lalu memangnya kenapa? Apa yang bisa kita sumbangkan terhadap teori ini dengan kesesuaian dalam Al-Qur’an? saya malah merasa bahwasanya Al-Qur’an terlalu banyak kita intervensi dengan Ilmu Pengetahuan. Bisakah kita melakukan hal sebaliknya, kita intervensi teori Big Bang atau apa pun dengan menggali kekayaan Al-Qur’an? saya sangat menyukai cara kerja Al-Razi yang memilih untuk tetap menyatakan keterpaduan langit dan bumi (meskipun tidak sesuai dengan alam sains pada saat itu, namun secara bahasa Al-Qur’an menyatakan demikian). Dengan kerangka kerja yang sama mungkin kita bisa terpakan dalam mengejawantahkan ungkapan-ungkapan Al-Qur’an dalam berbagai bidang. Sehingga kita tidak hanya mampu terkagum dengan berbagai hasil kerja ilmiah yang –kebetulan– sesuai dengan Al-Qur’an, kemudian kita tidak berbuat apa-apa.

Lalu seperti apa kemudian keterlibatan insan Ulul Albab disini ?, lagi-lagi kita dihadapkan pada suatu kondisi dimana citra diri PMII (Ulul Albab) dituntut menjadi akselerator atas problem cocokologi pupopuler. Ulul Albab secara umum didefinisikan sebagai seseorang yang selalu haus akan ilmu pengetahuan (olah pikir) dan iapun tak lupa mengayun dzikir. Ulul Albab-citra diri seorang kader PMII, dengan sangat jelas disarikan dalam motto PMII dzikir, fikir dan amal sholeh. Maka beruntung dan berbanggalah kita yang hari ini menjadi kader pergerakan, karena sesungguhnya kita sebagai individu-individu telah dipersatukan oleh kontruksi ideal seorang manusia yaitu Ulul Albab.

Didalam beberapa panduan buku PMII, disebutkan bahwa kader Ulul Albab sesungguhnya banyak digambarkan dalam Al-qur’an. yang kemudian dari elaborasi ayat-ayat Al-qur’an tersebut dapat dicirikan bahwa kader Ulul Albab : 1) Berkesadaran histories-primordial atas relasi Tuhan-Manusia-Alam. 2) Berjiwa optimis-transendental atas kemampuan mengatasi masalah kehidupan. 3) Berfikir secara dialektis. 4) Bersikap kritis. 5) Bertindak transpormatif. Lima ciri Ulul Albab tersebut adalah jawaban atas problem cocokologi yang lagi mewabah dikampus integrasi ini dan harus menjadi kesadaran filosofis bagi penganutnya. Amien…

Mungkin saya tidak perlu panjang lebar mengejawabtahkan ciri Ulul Albab di atas, tapi sebagai kader PMII patutlah bila rumusan kader Ulul Albab (manusia seutuhnya) ini dijadikan spirit untuk kita dalam mengaktualisasikan segala kemampuan yang dimiliki oleh setiap kader PMII. Apabila kader PMII tidak menyadari kesenjangan-kesenjangan tersebut diatas, maka Ulul Albab tak pantas disandang sebagai citra diri kader PMII.

Wallahu A’lam,,,,,

Wallahul Muwaffieq Ilaa Aqwamitthoriq….

 

**) Kader PMII Pencerahan Galileo

Ketua HMJ “Astrolab” Fisika 2014

Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi 2015

Menteri Kaderisasi IHAMAFI 2015