Refleksi Gender yang (agak) Bias

Selamat siang dan selamat beraktivitas dihari Senin, sahabat-sahabat pergerakan. Setidaknya cuaca dihari ini masih menunjukkan keberpihakannya, yang membuat kita semua dapat melanjutkan aktivitas kita masing-masing. Juga disini penulis hendak mengucapkan selamat dan sukses atas diwisudanya (19 Maret 2016) senior saya serta senior kita semua, terima kasih pula atas pemberian cambuk cerita yang membuat kita terus bergerak dalam jalurnya. Pun penulis mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya (19-20 Maret 2016) Sekolah Islam Gender oleh Heksa Rayon PMII Komisariat Sunan Ampel Malang.
Ada sedikit pembahasan menarik menyoal gender hari ini, hanya sebagai hal reflektif saja. Membincangkan soal gender, ada hal hal mendasar yang selalu menjadi ambiguitas bagi penulis, “siapa berbuat apa, siapa memiliki apa, siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan, siapa yang memutuskan; laki-laki atau perempuan ?”. Kesemua itu, bagi penulis mungkin menjadikan pola pikir yang dinamis ketika membincangkan soal gender.
Dalam posisi ini, mungkin kita semua terus menyepakati mengenai konsepsi ‘kesetaraan gender’. Dengan hal itu selalu disuarakan oleh pegiat-pegiatnya, khususnya kaum perempuan. Kemudian yang menjadi dasar mengenai gender adalah artkulasinya sebagai interpretasi mental dan budaya terhadap perbedaan kelamin; yaitu perempuan dan laki-laki. Karena biasanya gender dipergunakan untuk menunjukkan pembagian yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan. Bagi penulis, mengagungkan kesetaraan gender akan memunculkan bias gender yang akut. Hal itu dapat kita lihat dari segi pemposisian laki-laki dan perempuan dalam konteks keseharian.
Dalam Al-Qur’an telah disampaikan pada Surat An-Nisa’: 34 , bahwa “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan mereka(laki-laki) telah memberikan nafkah dari sebagian harta mereka”. Sederhananya, islam klasik menafsirkan ayat tersebut bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Kemudian bagi pegiat gender kekinian, tafsiran tersebut sedikit disanggah untuk (lagi-lagi) menyetarakan posisi antara laki-laki dan perempuan. Mungkin mereka memandang bahwa, jika hal tersebut dikonsumsi mentah akan menimbulkan pandangan perempuan yang termajinalkan. Lalu dari penulis, tentunya arti tekstual itu masih mengandung unsur sosio-historis saat itu. Kemudian ditranslasikan menyesuaikan perkembangan dan kebutuhan zaman.
Jika melihat konteks kesetaraan gender, marjinalisasi perempuan terjadi semenjak zaman kolonial Londo. Kesewenangan gender tersebut sangat nampak pada abad ke-19. Pada waktu itu perempuan-perempuan kelas bawah menjadi korban pelampiasan seksual oleh kaum bangsawan dan alat ekspansi kekuasaan kaum bangsawan. Mereka diangkut ke istana untuk dijadikan ‘istri percobaan’ yang dapat diusir sewaktu-waktu sampai ndoro-ndoro mereka memperoleh istri yang sederajat. Eksplotasi ini nampak hidup dalam tulisan sastra, seperti kisah Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Hingga dieranya, mulailah muncul pergerakan nasional yang menyuarakan keadilan gender, sebut saja R.A Kartini.
Kemudian pergerakan tersebut berlanjut pada masa transisi kolonial ke orde lama, sebut saja Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Mereka terus menyuarakan keadilan gender, khususnya untuk kaum perempuan dan hingga pada perjuangan menjaga keutuhan NKRI. Perjuangan tersebut berdasarkan pada sejarah perempuan sendiri yang dirasa mengalami dehumanisasi pada saat itu.
Hingga sampai orde baru dan reformasi, perjuangan keadilan dan kesetaraan gender telah mengalami proses legitimasi yang kuat, dilihat pada munculnya Badan ke Negaraan yang menaungi tentang masalah gender, perempuan lebih khususnya. Kemudian, hanya tinggal kelanjutan pergerakan daripada gender yang tentu itu berdasarkan pada artikulasinya, mengenai mental dan budaya terhadap perbedaan kelamin. Karena pada dasarnya, muara ketidakadilan gender sebagaimana keadilan lain di muka bumi ini adalah dehumanisasi manusia. Selama penindasan itu ada, perlawanan sebagai ekspresi ketertindasan ataupun kebangkitan kesadaran.
Dengan itu semua, gerakan-gerakan yang mengatasnamakan gender bisa menjadi acuan kita bersama, bahwa adil tak sepenuhnya harus setara dan setarah adalah pondasi awal untuk mewujudkan keadilan.
Kembali disini penulis menyampaikan, bahwa tulisan ini hanya subyektifitas pribadi saja yang mencoba untuk tetap dinamis dalam berpikir. Diakhir, semoga bermanfaat untuk kita semua.
Wallahu a’lam.

 

kontributor : Sahabat Moh. Izzuddin (Ketua Rayon 2015-2916)

sumber gambar : http://www.iflscience.com/

Peingatan Hari Ibu Oleh PMII Rayon “ Pencerahan” Galilleo

 

Acara perigatan hari ibu yang dilakukan oleh PMII Rayon Pencerahan Galileo (RPG) ini dilaksanakan pada hari kamis, 24 Desember 2015. Serangkaian acara telah dilaksanakan untuk memperingati hari ibu, diawali dengan DISKUSI tentang “ Peran Wanita di Era Digital “ pada siang hari yang bertempat di gedung B lantai 2 dengan pemateri Miftakhul Jannah, yang merupakan perwakilan korpri dari kantor cabang. Diskusi berlangsung dengan sangat baik, antusiasme kader-kader PMII RPG sangat terlihat dengan banyaknya pertanyaan yang muncul dari mereka, dengan pemateri yang hebat dan peserta diskusi yang berjumlah sekitar 40 orang ini membuat acara diskusi ini berjalan dengan lancar.IMG-20160101-WA0004

Setelah diskusi berakhir pada siang hari, dilanjutkan dengan acara FASHION AND TALLENT dengan tema “All About We and Mom” yang dilaksanakan pada malam hari dan bertempat di tangga besar ini dihadiri oleh kurang lebih 70 orang yang terdiri dari 50 kader PMII galilleo dan undangan-undangan, acara pada malam ini berlangsung sangat meriah. Di awali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars PMII, lalu dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari ketua pelaksana Annida Rahmawati, direktur KORPRI Nuril Istiqomah, dan ketua Rayon “Pencerahan” Galilleo Mohammad Izzudin.

Fashion and tallent ini diikuti oleh dua angkatan yaitu angkatan Cangkarok yang merupakan angkatan tahun 2013 dan angkatan Simpati yang merupakan angkatan tahun 2015, sebelum penampilan fashion and tallent dari para IMG-20160101-WA0003peserta terlebih dahulu ada penampilan dari orang-orang penting dalam acara tersebut, yaitu ketua Rayon tercinta kita beserta direktur korpri dan koordinator acara fashion and tallent. Penampilan ketiganya disambut dengan sangat meriah oleh semua yang hadir dalam acara tersebut, karena merupakan sesuatu hal yang langka ketua Rayon kita berjalan di red carpet untuk fashion show.

Acara yang inti pada malam hari itu pun di mulai, contest fashion and tallent. Angkatan cangkarok telah diwakili oleh sahabat Fitrah dan sahabati Zizi sedangkan angkatan Simpati telah diwakili oleh sahabat Iqbal dan sahabati Azim. Setelah mereka saling menunjukkan keahliannya di catwalk dan menunjukkan tallentnya, tibalah pada saat yang dinantikan, yaitu penilaian. Penilaian ini dilakukan oleh kedua juri terbaik kita yang biasa dikenal dengan panggilan sahabat Gepeng dan sahabati Gembul.

Penjurian telah dilakukan dan pengumuman pemenang telah dinantikan, tapi sebelum pengumuman pemenang masih ada hiburan hiburan dari TEGAL. Pastinya sudah tau kan apa itu tegal ? yaa, TEGAL adalah Teater Galilleo. Penampilan monolog yang di tampilkan oleh sahabati Fatin membuat seluruh undangan dan penonton pada malam itu terpukau, dan kagum pada penampilannya.

Juara pertama pada acara fashion and tallent ini adalah angakatan Cangkarok yaitu sahabat Fitrah dan sahabati Zizi, dan sudah pasti juara keduanya adalah angkatan simpati sahabat Iqbal dan sahabati Azim. Dengan diumumkannya juara pada contest fashion and tallent malam itu, berakhirlah pula serangkaian acara peringatan hari ibu yang dilakukan oleh Rayon “Pencerahan” Galilleo.

Alhamdulillah, serangkaian acara dapat berjalan dengan lancar mulai dari acara diskusi pada siang hari, hingga pada acara fashion and tallent pada malam harinya berjalan lancar tanpa halangan yang berarti.

Terimakasih bagi seluruh pihak yang telah membantu jalannya acara Peringatan Hari Ibu PMII Rayon Pencerahan Galileo. Semoga menjadikan kader-kader RPG menjadi generasi yang berbakti kepada orang tua, terutama ibu.IMG-20160101-WA0002

Tetap Acungkan Tangan, Maju Kedepan.

 

“Shollu ‘alaa Sayyidinaa Muhammad…!”

 

Kontributor : Mahdiyatul (Kader PMII Galileo Angkatan Palapa, Bagian Jurnalistik).

Editor : Ardan7779.

LAGI-LAGI MENUMPAHKAN DARAH DEMI SEPAK BOLA

Meme_Jadi_Suporter_Bola_-Jangan_Gampang_Baper_Lucu

OLEH SAHABAT : M. AZWAR AFANDI

2 Hari yang lalu terdengar berita menghebohkan di kanca sepak bola Indonesia. Keributan antar suporter sepakbola di Indonesia kembali terjadi. Kali ini suporter Bonek Persebaya dengan suporter Arema Malang (Aremania) bentrok di Sragen, Jawa Tengah. Akibat kejadian ini dua orang meninggal dunia.

Menurut anggota Polres Sragen, Aiptu Kasiman, bentrok antara Bonek dengan Aremania tersebut terjadi di dua tempat terpisah. Kejadian pertama terjadi sekitar pukul 04.30 WIB di dekat SPBU Jatisumo, Sragen. Saat itu satu rombongan suporter Malang menuju Sleman dengan bus pariwisata, berisi 34 orang diserang rombongan Bonek. Bonek yang menyerang berjumlah sekitar empat truk.

Ratusan Bonek tersebut menyerang dengan melempari batu bus berisi rombongan Aremania. Dalam kejadian penyerangan tersebut seorang Aremania tewas mengenaskan karena tidak bisa menyelamatkan diri.

“Satu meninggal dunia di lokasi yang dekat SPBU itu. Korban atas nama Eko,” ujar Kasiman , Sabtu (19/12).

Kejadian ke dua terjadi di Kampung Macan, Nglorok, Sragen. Saat itu sebuah mobil Carry berisi 7 orang Aremania sedang menambal ban.

“Terus mereka diserang juga sama Bonekmania. Satu orang meninggal dunia di RSUD Sragen. Yang meninggal dari Aremania semua,” ujarnya.( wartapriangan.com)

Kejadian seperti ini bukan pertama kali nya di indonesia , kejadian semacam ini merupakan bukti bahwa nilai-nilai kemanusiaan mulai merosot tajam terutama di kalangan pecinta sepakbola Rasisme terhadap suatu club sepak bola menjadi satu-satu nya hal yang harus di hilangkan apalagi kalo sudah menajadi suatu alasan untuk mengambil hak hidup orang lain .

Tidak heran kalo sekarang kegiatan tawuran di kalangan anak-anak sekolah atau pun suporter sepakabola sudah menjadi hal yang di pandang biasa. semua ini terjadi dikarenakan ego dan rasisme manusia terhadap suatu golongan tertentu.

Bukan kah bila kita mempunyai pandangan bahwasanya ada nya suatu club sepakbola merupakan suatu hal yang seharus nya menjadi kekuatan bersama untuk membangun kualitas dan kuantitas timnas sepak bola indonesia, bukan malah jadi sebuah ajang untuk menjatuh kan apalagi sampai menjadi sebuah unsur utama terjadinya suatu perseteruan antar suporter .

Boleh lah kita mencintai club sepak bola di kota kita masing masing namun hanya sebatas menjadi pendukung dan mencintai permainan sepak bola, bukan malah untuk menjadi ajang untuk mencari musuh apalagi sampai jadi ajang menumpah kan darah. Ingat lah satu hal bahwasanya indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan yang adil dan beradab dan menjunjung tinggi persatuan .

KISAH LUCU DI KAMPUS KU YANG MULAI INDAH DAN…

IMG_20151118_2131231

Oleh: M. Azwar Afandi

Sahabat mari ku ceritakan sebuah kisah .Ini adalah sebuah kisah ketika seorang raja dan teman teman nya datang di kampus ini. Seperti hari hari sebelum nya ku berjalan ke dalam kampusku untuk menciduk sedikit ilmu saat itu masih terlihat biasa seperti tahun pertama aku berjalan.

Sahabat setelah itu ku teruskan perjalanan ku .setiap ku berjalan ku selalu melihat gedung gedung bertingkat yang cat nya kusam tak terawat,kaca nya pun ada yang pecah, dan jalanan yang rusuh akibat sampah yang tidak di buang secar teratur oleh penhuni kampus setelah itu ku mulai berjalan di ruang kelas ku seperti biasa terlihat di dalam kelas atap-atap kelas terlihat seperti atap tua tak terawat ,tembok tembok yang kusam ada juga lampu yang terlihat mau jatuh ,namun ntah mengapa pemandangan ini terlihat biasa sejak dulu  .

Sahabat tau kah engkau bagaimana ku memulai pelajaran di kelas ku?,baiklah kan ku lanjutkan supaya engkau tahu . setelah itu ku mulai duduk di salah satu bangku yang termasuk dalam bangku yang dapat di gunakan di kelas ku , setiap hari ku menunggu kedatangan dosen yang terkadang tepat waktu , juga terkadang terlambat ,dan terkdang juga tak datang . setelah beberapa menit kemudian pak dosen pun datang , setelah itu duduk lah beliau di kursi dosen untuk segera memulai pelajaran dan beliau mulai berkata “tolong nyalakan lcd nya” setelah itu se-isi kelas mulai melihat ke arah orang  yang paling tinggi di kelasku, lalu orang itu mulai berjalan dan memanjat cendela di kelasku dan menyalakan lcd yang letak nya berada tergantung di atap lalu dosen pun mulai mengajar di kelasku. jangan kaget sahabat ku ini sudah biasa di kampus ku enah mengapa ini sudah terlihat biasa sejak dulu.

Sahabat ku tahukah engkau apa yang kurasakan ketika tadi pagi mentari mulai bersinar ? dan ku pun bangkit  dari ranjang ku untuk sejenak beribadah lalu pergi ke kampus ?. satu minggu sebelum nya  ku dengar kabar yang berbunyi “sang raja akan segera datang ke kampus ini “., kabar itu bagi ku sudah biasa, yang tidak biasa adalah ketika diriku mulai berjalan ke dalam kampus, semuanya mulai berubah dari mulai gedung gedung mulai di renovasi indah ,lapangan parkir steril dari  kendaraan semacam seperti ujian praktikum, sungguh tak seperti kampus ku sebelum nya.

Sahabat ku di kepala ku berputar-putar sebuah pertanyaan apakah ini kampusku?, kenapa  pembenahan pembenahan itu hanya terjadi ketika kedatangan seorang raja ,apakah selama ini sekantung penuh kertas-kertas bernilai dari keringat basah yang di berikan untuk menfalitasi anak nya itu tidak lah cukup untuk meberikan fasiltas yang baik kepada anak anak ini . perntanyaan pertanyaan ini berputar putar terus dari otak ku . namun apalah daya ku sahabat aku hanyalah seorang yang mencari ilmu aku malu ,aku bingung, aku tak berdaya .

Sahabat salam kan pesan ku ini untuk ibu ku dan ayah ku disana supaya mereka tahu.

 

KISAH DI NEGRI INI ”Kau Gemuk Semakin Rakus, Ku…

Untitled-1

Oleh: M. Azwar Afandi

Di negeri ini (Indonesia) kekayaan alam yang melimpah, budaya yang beragam, perusahaan industri berkembang pesat, teknologi semakin berkembang, gedung gedung bertingkat mulai berdiri. Disitulah awal sebuah perubahan yang dikatakan oleh banyak pemuda negeri ini sudah mulai membaik.

Di negeri ini pula diciptakan selembar rupiah mulai dari nominal terkecil 100 rupiah hingga nominal terbesar 100.000 rupiah. Semua orang tergila-gila pada nya bagi mereka kehidupan tak berjalan tanpa rupiah, mereka memandang rupiah bagaikan penentu hidup dan mati dirinya ataupun orang lain.

Di negri ini pula semua orang lupa akan tujuan hidup mereka. Aku tidak menyalah kan rupiah, tidak menyalah kan tanah yang menumbuhkan tanaman, aku tidak menyalahkan tuhan yang menciptakan negri ini. Aku hanya ingin berteriak lantang pada para penjahat di negeriku , “Percuma Tuhan menciptakan alam yang kaya raya ini, percuma industri kau bangun dimana mana yang kau bilang untuk perkembangan ekonomi, percuma teknologi semakin berkembang jika hanya untuk membuat orang menjadi autis, percuma karya anak negri semakin banyak jika hanya untuk kau jual demi kenikmatan dirimu sendiri, ribuan sarjana kau ciptakan tapi apa yang kau lakukan pada mereka?, banyak sarjana yang kau buang ke negeri orang lain., kau berdusta wahai penjahat”. Mungkin demikian nyanyian marahku yang aku lantunkan untuk para penjahat di negeri ini.

Di negri ini ku pernah mendengar segrumbulan pembuat aturan mulai merancang sebuah aturan baru yang membingungkan, di sana tertera semua yang berada di posisi atas harus mendapatkan kenikmatan dan boleh memperbesar perut nya dan semua yang di posisi bawah harus merangkak melihat mereka sambil mengeluarkan air liur. Tersontak kaget para penghuni bawah tanah melihat aturan itu mereka mulai berpikir apakah negri ini diciptakan untuk membuat kami berkata kepada penguasa, “Kau gemuk semakin rakus, ku kurus semakin rapuh”.

Setelah itu di negeri ini ku melihat segrumbulan pemuda yang di bilang preman dan bodoh meneriakan suara hati mereka tentang negri ini  berjalan di panas nya jalanan sebuah kota . mereka berteriak keras kepada orang orang di atas gedung bertingkat, “Apakah ini yang kau sebut aturan?, apakah ini yang kau sebut sebuah kesejahteraan dan kemakmuran yang engkau janjikan?, pengguna jalanan bermotor melihat dan berkata mereka ini sedang apa?, mereka ini buat apa susah susah begini?, mereka ini bikin macet jalan saja, mereka ini sampah pembuat ricuh”. Setelah aku mendengar dan melihatnya, aku berpikir, pemuda ini meneriakkan suara hati rakyat kaum bawah tanah yang mulai semakin rapuh tertindas tapi kenapa malah di bilang preman., mereka tidak berbuat anarki, mereka tidak mabuk mabukan, mereka tidak memperkosa. Tapi mereka di bilang pembuat ricuh ada yang aneh di negeri ini. Tapi aku yakin, bahwa pemuda adalah generasi yang ideal untuk memperjuangkan hak- hak rakyatnya, dan memperjuangkan cita- cita kemerdekaan Republik Indonesia. Wallahul Muwafiq.

Penulis adalah kader PMII “Pencerahan” Galileo Komisariat Sunan Ampel Malang, sekaligus Co. Gerakan PMII “Pencerahan” Galileo 

Islam Nusantara Tiga Dimensi

oleh: Anas Ahimsa

Jika menengok sedikit kebelakang, perbincangan tentang Islam Nusantara sungguh terlihat begitu deras saat pra menjelang, muktamar NU, dan beberapa hari (saja) paska momentum di “kota wali” jombang itu terlaksana.

Lantas, bagaimanakah gelombang diskursus tentang Islam Nusantara itu, hari ini dan kedepan?

Dan ketika “Sang Sastrawan” sekaligus tokoh yang kita kagumi, KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam sambutan (tulisan) nya menanyakan; Islam Nusantara, Makhluk Apa Itu? Sungguhlah sulit memberi jawaban secara ringkas akan pertanyaan semacam itu. Hanya saja bagi penulis yang masih terbelakang (awam) tentang pemikiran keislaman dalam kaitannya dengan nilai-nilai budaya di nusantara. Cukup akan menempatkan spirit-nilai “Islam Nusantara” disini sebagai salah satu ciri khas aktualisasi yang tak berkesudahan (proses) dalam keberagaman laku keseharian, sehingga tidak gampang “kagetan” setiap melihat perbedaan.

Oretan ini hanya bagian “refleksi kecil” penulis, tentang manifestasi dari tiga dimensi penting yakni Kearifan Lokal, Pribumisasi Islam, dan Dialog-Toleransi Lintas Keyakinan yang termaktub dalam khasanah (buku) Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan, Mizan.

Kearifan Lokal               

Kearifan lokal (budaya) menjadi nafas penting yang tak terpisahkan dalam kerangka Islam Nusantara. Karena islam nusantara tak lebih adalah upaya penyesuaian (adaptasi) secara ramah dengan nilai-nilai budaya atau kearifan lokal yang ada.

Bahwa “Paham dan praktek keislaman di bumi nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realitas dan budaya setempat”. Sebagaimana disebut oleh Akhmad Sahal dalam mengutip tulisan KH. Afifuddin Muhajir, dalam Prolog buku Islam Nusantara ini.

Sejatinya Islam dan budaya mempunyai posisi independensinya masing-masing, yang saling berkaitan satu sama lain. Islam sebagai agama yang cenderung “garang” dalam (sifat) normatif-nya, menjadi lebih santun menyejukkan dan bisa berkembang secara dimanis ketika mampu berjalan setapak-demi-setapak melalui jembatan, bernama budaya.

Kearifan lokal bisa berwujud prinsip Bhinneka Tunggal Ika, dan berbagai tata nilai kebudayaan Nusantara lain yang beradab, tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap peradaban yang berkembang.

Proses pendekatan agama (islam) melalui budaya berlangsung terus-menerus, menambah kedamaian berupa kelenturan yang ter-asyik, bukan ketegangan yang ter-usik. Sehingga ketika bersentuhan dengan konteks lokalitas masing-masing, penerapan dan bentuk (model) nya bisa berubah-ubah, tetapi prinsip-nilai (islam) nya tetap.

Sehingga karakter Islam Nusantara disini bisa ditunjukkan dengan adanya kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama (islam), namun justru saling bersinergi antara islam di satu sisi, dengan kearifan budaya lokal disisi yang lain.

Dalam epilog di buku ini, Lukman Hakim Saifuddin sang menteri “semua” agama Indonesia kita, kembali mengingat tegaskan. Bahwa media penyebaran Islam di Nusantara salah satu nya adalah melalui perangkat budaya.

Pribumisasi Islam

Sebagai buah “perjumpaan” yang cukup panjang antara agama (islam) dengan budaya sebagai kearifan lokal, hingga mampu membangun “titik temu kultural”.  Pribumisasi Islam merupakan gagasan pembaharuan yang unik dari Gus Dur.

Agar tidak cenderung memikirkan manifestasi simbolik dari islam dalam kehidupan, akan tetapi lebih mementingkan esensinya.  Pribumisasi Islam bukanlah upaya perlawanan secara mutlak dari budaya setempat (nusantara) terhadap budaya timur tengah (arabisasi). Sehingga budaya lokal yang “arif”, sekaligus esensi dari Islam yang universal tidak hilang.

Melakukan pribumisasi islam berarti adalah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan masyarakat muslim disetiap kondisi lokalitas nya.

Tanda adanya proses pribumisasi, dalam salah satu contoh riil di masyarakat kita (Nusantara) menurut pemikiran Gus Dur disini, ketika dalam sebuah stadion juga terdapat/difasilitasi adanya musholla, karena melihat kenyataan yang sering terjadi dalam pertandingan sepak bola digelar berbarengan dengan waktu sholat masuk.

Harus disadari, bahwa  penyesesuaian  ajaran islam dengan kenyataan hidup hanya diperkenankan sepanjang menyangkut (ranah) sisi budaya. Sehingga menjadikan agama (Islam) yang mampu mewadahi/akomodir kebutuhan-kebutuhan budaya lokal, pun sebaliknya.

Yang tidak boleh terjadi adalah pembauran islam dengan budaya, sebab berbaur berarti hilangnya sifat-sifat asli.

“Walaupun atas nama agama (termasuk islam), setiap kegiatan yang menyebabkan kegiatan kemanusiaan mengalami kemunduran, haruslah dihilangkan”. Dengan kata lain menurut Gus Dur, bahwa semua kelompok masyarakat bertanggung jawab terhadap proses Pribumisasi Islam. Dalam arti mengokohkan kembali akar budaya kita, dengan tetap berusaha menciptakan masyarakat yang taat beragama.

Dan, prinsip-prinsip yang keras dalam hukum islam (Nas) harus mampu dipahami, lantas dikaitkan dengan masalah-masalah kearifan lokal (budaya) di negeri kita Indonesia, dengan cakupan yang luas dan argumentasi yang lebih matang. Kalau hal itu bisa berjalan/terlaksana dengan baik, maka inilah yang oleh Gus Dur dimaksud dengan, Pribumisasi Islam.

Dialog-Toleransi (Al-hiwar-tasamuh)       

Dialog sebagai jembatan untuk mencari dan menemukan titik-titik (pemahaman) bersama, akan sebuah permaslahan sosial, kemanusiaan dan lainnya yang sedang terjadi di kehidupan kita. Serta didasari pula dengan spirit toleransi. Toleransi bisa diarahkan dengan adanya sebuah sikap terbuka, dan mengakui adanya berbagai macam perbedaan.

Ciri utama dalam metode berfikir (manhaj al-fikr) ala aswaja yang menjadi prinsip atau pegangan Nahdatul Ulama salah satunya ialah, toleransi (tasamuh). toleransi yang meliputi berbagai aspek universalitas kehidupan. Seperti sosial, politik, dan yang lainnya.

Sebagaimana dalam kenyataan budaya khas nusantara kita, islam dihayati oleh muslim (mayoritas) di negeri ini dengan tidak lepas diantaranya dari spirit-nilai toleransi (tasamuh).

Dan dialog sendiri bukanlah dalam maksud untuk saling “barter” keyakinan (keimanan) dari masing-masing peserta dialog, hingga akan muncul perasaan menang atau kalah.

Setidaknya ada tiga hal (permasalahan) yang bisa di-dialog-kan bersama, seperti apa yang ditulis oleh Prof. Dr. M. Amin Abdullah dalam Fikih dan Kalam Sosial Era Kontemporer di buku Islam Nusantara ini. pertama: menyangkut permasalahan kemanusiaan universal. Seperti pendidikan, kesehatan, kemiskinan, kekerasan atas nama agama, dll-nya. Kedua: menyangkut permaslahan kebudayaan. Seperti adat-istiadat, bahasa, kebiasaan, gaya hidup, dll-nya. Ketiga: menyangkut permasalahan hak asasi manusia. Seperti kemerdekaan, kesejahteraan, kebebasan, dll-nya.

Ketika sebuah dialog dipahami tidak dalam maksud mencari pemenang antar kelompok, keyakinan, organisasi, atau komunitas tertentu. Sehingga tujuan (esensi) dari dialog seperti untuk saling mengenal, saling mengerti, saling mengasihi, membangun solidaritas, serta hidup bersama secara damai dan toleran . akan bisa tercapai.

Terakhir

Teringat salah satu pesan (dakwah) yang pernah disampaikan oleh “Sang filsuf” asal rembang, Gus Mus. Yang coba penulis sampaikan dengan perumpamaan dalam konteks tulisan ini, bahwa; penyesuaian dengan Kearifan Lokal (Budaya), Pribumisasi Islam (Gagasan Gus Dur), serta Dialog dan Toleransi. Sejatinya harus dipahamai sebagai perantara/jalan (wasilah). Untuk mencapai satu tujuan utama (ghayah) yakni Allah SWT, atau seringkali juga kita menyebutnya, Tuhan.

Semoga islam yang ramah, dan arif dalam lokalitas budaya nusantara yang beragam ini, senantiasa menjadi ajaran yang Shalih Li Kulli Zaman Wa Makan (Cocok untuk seluruh masa dan tempat). Wallahu a’lam bish shawab

* Tulisan ini sekedar apresiasi untuk sahabat-sahabat PMII Komisariat Sunan Ampel Uin Malang, yang menggelar hajatan Seminar Bedah Buku Islam Nusantara, akhir oktober 2015.

(Penulis adalah pelayan di Waroeng Gus Dur Ngalam, bisa dijumpai via twitter @anas_ahimsa)

HARGA MANUSIA LEBIH RENDAH DARI RUPIAH DI NEGRIKU

kabut asapSejumlah peristiwa bencana, pembunuhan, hingga kepentingan demi sejumlah uang telah terjadi di negri ini. Mulai dari peristiwa pembunuhan Salim Kancil di daerah Lumajang yang merupakan korban dari kebiadaban para manusia pengeruk pasir tambang ilegal, dan juga bencana asap yang timbul dari pembakaran hutan oleh sejumlah perusahaan yang beraksi anar
kis tanpa mempertimbangkan dampak yang akan terjadi  seinngga mengakibatkan kepulan asap di Sumatra – Kalimantan.

Read more “HARGA MANUSIA LEBIH RENDAH DARI RUPIAH DI NEGRIKU”

Wanita dan Kepemimpinan

20150802_044951_harianterbit_khofifah
Khofifah Indar P (Menteri Sosial RI)

Selamat Pagi Indonesia, Selamat Pagi Kota Malang. Selamat Pagi Mahasiswi. Ya, mahasiswi, penulis kali ini memang sedikit akan mengulas terkait kepemimpinan mahasiswi, atau dalam konteks global adalah kepemimpinan wanita. Sebelumnya penulis memang sempat lama hilang dari dunia kepenulisan karena terlalu sibuk mengurusi tujuan utama datang ke Malang, apalagi selain duduk manis mendengarkan retorika manusia yang sedang menjalankan kewajibannya sebagai pengajar mahasiswa, Dosen. Intinya, penulis sibuk melakukan gerakan akademik bernama kuliah. Di weekend kali ini sebetulnya ada beberapa tugas perkuliahan yang harus penulis kerjakan, namun karena renungan dan obrolan ringan malam tadi membuat penulis berhasrat dan bersemangat untuk sedikit mengkhayal tentang wanita yang menurut seorang ahli wanita adalah objek bacaan yang tak pernah habis. Namun disini, sesuai dengan ulasan diatas, penulis membatasi bacaan penulis terhadap wanita dalam konteks kepemimpinan saja, tidak sampai kedalam organ-organ intim wanita seperti penjelasan dalam kitab-kitab reproduksi konsumsi mahasiswa biologi, Ups. Meskipun penulis seorang pejantan tangguh, tak elok kiranya ketika penulis tak memperdulikan kaum hawa yang juga bagian dari kehidupan penulis sendiri, hehe. (Sok peduli).

Penulis sering menemukan beberapa fakta yang menurut pribadi penulis memprihatinkan terkait partisipasi mahasiswi dalam organisasi-organisasi yang ada di kampus. Khususnya di UIN Maliki Malang, persentase partisipasi aktif mahasiswi dalam organisasi kemahasiswaan masih terlihat minim dan masih didominasi oleh para pejantan. Padahal, penulis mengamati di kampus-kampus umum seperti di UB, ITS, UNAIR dan beberapa kampus lain, peran mahasiswi dalam organisasi kemahasiswaan cukup tinggi dibandingkan dengan di UIN (baca: UIN Maliki). Terlepas apakah temuan penulis ini komprehensif atau tidak, itulah yang penulis temukan di berbagai event keorganisasian yang pernah penulis ikuti, bahkan organisasi yang penulis geluti didalamnya. Karena penulis sendiri belum pernah meneliti secara statisik terkait partisipasi mahasiswi dalam organisasi kemahasiswaan di UIN, baik dari segi kualitatif (partisipasi aktif) maupun kuantitatif (partisipasi pasif alias numpang nama). Ada apa dengan mahasiswi UIN? Mengapa mahasiswi UIN enggan menunjukkan eksistensinya sebagai mahasiswi yang sebetulnya juga bisa mengeksplor kapasitasnya sebagai mahasiswi yang Ulul Albab (Dzikir, Fikir, Amal Sholeh) dan bersaing dengan mahasiswi-mahasiswi di kampus lain? Apakah terdapat stigma negatif? Apakah terdapat pengaruh dominan dari norma-norma, budaya, maupun agama? Penulis juga tidak mengetahui secara pasti apa yang melatar belakangi realita ini. Namun disini, penulis hanya ingin sedikit sharing atas apa yang penuli ketahui, bahwa pada intinya, mahasiswi atau dalam konteks universalnya wanita, juga mempunyai hak yang sama dalam mengembangkan dirinya, baik dari segi potensi, bakat, maupun jiwa kepemimpinan, yang notabene kesemuanya bisa didapatkan dengan berpartisipasi dalam suatu wadah bernama organisasi. Pada kesempatan kali ini, penulis akan lebih terfokus pada pembahasan kepemimpinan seorang wanita yang merupakan esensi hasil utama dari berorganisasi, khususnya di organisasi kemahasiswaan.

Perspektif Islam dalam Kepemimpinan Wanita

Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin tidak melarang seorang wanita untuk mengembangkan diri dan memimpin. Memang ada beberapa ayat maupun hadits yang menyebutkan bahwa wanita dilarang memimpin. Wacana ini biasanya dikarenakan terdapatnya hadits Rasulullah SAW yang telah menyebar luas di masyarakat kita, yaitu :

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan negara pada wanita”, (HR. Bukhori).

Perlu diketahui, setiap hadits mempunyai sebab musabbab turunnya hadits yang disebut asbabul wurud. Asbabul wurud sendiri adalah salah satu aspek yang juga digunakan sebagai referensi untuk menentukan hukum suatu perkara, selain juga kualitas perawi dari hadits tersebut. Mengenai hadits diatas, hadits tersebut muncul berkenaan dengan suatu peristiwa dimana pada saat itu, Rasulullah mengirimkan utusan ke negeri Persia dan memberikan mereka surat tentang ajakan mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Namun, Pimpinan Persia yang pada saat itu dipimpin oleh seorang wanita bernama Putri Kisro menolak mentah-mentah ajakan tersebut dan merobek-robek surat Rasulullah SAW sehingga Rasulullah SAW bersabda demikian. Dan hal tersebut terbukti terjadi karena selanjutnya Rasulullah SAW berhasil menang berperang melawan Persia yang pada saat itu dipimpin Putri Kisro yang memang dikenal sangat lalim dan khianat terhadap kaumnya.

Jumhur Ulama’ bersepakat bahwa seorang wanita dilarang untuk dijadikan seorang pemimpin, namun para jumhur ulama menyepakati ini dengan berbagai illat dari masing-masing pendapatnya. Misalkan, Syekh Yusuf Qordlowi menjelaskan, bahwa wanita tidak diperbolehkan menjadi pemimpin negara (Khilafah). Namun tidak dalam konteks pemimpin negara dalam era modern saat ini. Karena kepemimpinan pada saat ini tidak seperti kepemimpinan pada era kekhalifahan yang notabene terkesan monarkhy dan dinasty yang mempunyai wewenang penuh terhadap fungsi legislastif, eksekutif dan yudikatif. Kepemimpinan hari ini, misalkan presiden, hanya mempunyai wewenang sebagai eksekutif saja, tidak kemudian memegang kendali legislatif dan yudikatif. Sehingga dalam konteks ini, wanita dan pria mempunyai posisi yang sama di lapangan kepemimpinan. Sama halnya seperti kewajiban wanita dan pria sebagai seorang mukallaf (orang yang diberi beban oleh Allah SWT) untuk tunduk dan patuh dalam beribadah kepada Allah SWT dan amar ma’ruf nahyil munkar.

Lajnah Bahtsul Masail NU pada tahun 1999 pernah bermusyawaroh terkait kebolehan wanita menjadi seorang pemimpin negara. Dalam pertemuan tersebut, para kyai berpendapat bahwa kepemimpinan negara pada era demokrasi tidak bisa disamakan dengan kepemimpinan zaman dulu. Kepemimpinan saat ini bisa disamakan dengan jabatan qadhi untuk memutuskan perkara harta, dimana menurut Imam Abu Hanifah, perempuan diperbolehkan menjadi hakim/qadhi dalam konteks pengurusan harta. Imam Ath-Thabari bahkan membolehkan wanita menjadi hakim dalam segara hal. Kedua alasan ini terdapat dalam kitab Bidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusyd.

Jadi, secara garis besar, hadits diatas tidak boleh kita maknai secara tekstual tanpa kita mengetahui asbabul wurud hadits tersebut, karena akan menyebabkan terjadinya diskriminasi antara fakta psikis wanita dan pria yang sebetulnya sama-sama memiliki hak yang sepadan dalam berbagai hal, terutama dalam konteks kepemimpinan. Mari kita fahami hadits tersebut secara komprehensif sehingga wanita juga mempunyai kesempatan yang sama dalam konteks memegang tampuk kekuasaan negara. Asalkan, wanita tersebut adalah representasi kontekstual mafhum mukholafah dari asbabul wurud hadits diatas. Yakni, wanita yang tidak lalim dan tidak berkhianat kepada rakyatnya. Dalam arti lain, wanita tersebut mempunyai integritas yang dapat dipertanggungjawabkan dan mampu menjadi seorang pemimpin yang dapat menciptakan kesejahteraan rakyat dan rahmatan lil alamin.

Kepemimpinan Wanita dalam Sejarah Dunia

Sejarah adalah sesuatu yang bisa kita jadikan cermin atas apa yang harus kita lakukan saat ini. termasuk dalam hal peran wanita dalam organisasi dan kepemimpinan. Fakta sejarah membuktikan bahwa tidak semua wanita mempunyai sifat BAPER dan PMS berlebih sepeti yang sering dijadikan brand oleh para pria terhadap wanita saat ini. kita semua pasti mengenal kepemimpinan wanita yang berhasil membawa negerinya menjadi makmur dan sejahtera, seperti kepemimpinan Cleopatra, Corie Aquino, Margareth Theacher, Benazir Butho, dan yang jauh lebih hebat lagi adalah kepemimpinan Ratu Balqis yang mampu membawa kemakmuran bagi negaranya sehingga hampir menandingi kerajaan Nabi Sulaiman AS yang kemudian termaktub dalam Al-Qur’an sebagai Baldatul Toyyibatul Warabbun Ghofur.

Selain itu, kita pasti mengenal Siti Aisyah RA, istri Rasulullah SAW yang mempunyai intelektualitas yang diakui oleh para Sahabat dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang patut dibanggakan. Beliau juga adalah seorang muslimah yang paling banyak meriwayatkan hadits Rasulullah SAW. Sehingga banyak dari para sahabat yang sering meminta pendapat beliau ketika hendak mencari solusi atas suatu permasalahan.

Di Indonesia saat ini, ada pula banyak tokoh perempuan yang mampu menjadi pemimpin seperti Ibu Tri Rismaharini yang memimpin Kota Surabaya dengan mendapat banyak penghargaan atas kepemimpinannya. Selain itu, Ibu Khofifah Indar Parawansa yang dengan gagah berani menjadi penantang Pak Karwo dalam memperebutkan posisi orang nomor satu di Jawa Timur dan saat ini menjadi Menteri Sosial dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK.

Dari beberapa fakta sejarah yang telah diuraikan, penulis meyakini bahwa wanita bukanlah kaum yang lemah, bukan golongan kelas dua setelah pria, bukan hanya dikodratkan sebagai penghuni dapur dan kasur seperti pandangan yang melekat pada mayoritas masyarakat umum hingga saat ini. Sesuai dengan teori gender, bahwa wanita memang berbeda dengan pria secara biologis, namun tidak berbeda secara psikologis. Wanita sama halnya dengan pria dalam hal keberanian, intelektualitas, dan juga kepemimpinan. Jadi, pantas dan sah-sah saja ketika seorang wanita menjadi seorang pemimpin. Terkait atas apa yang menjadi pandangan umum saat ini, itu dipengaruhi karena adanya budaya patriarki, yaitu suatu budaya yang lebih mengedepankan peran pria diatas wanita. Dan ternyata, banyak wanita yang secara tidak langsung “mengamini” adanya hal tersebut. Ketika kita memahami sejarah dan ajaran islam secara komprehensif, penulis meyakini bahwa hal itu sudah tidak relevan lagi saat ini. Karena sejatinya, islam sangat memulyakan peran wanita dan eksistensi wanita pada era ini juga diperlukan dalam kontribusinya membangun agama, nusa dan bangsa.

Bangkitlah Wahai Wanita Ulul Albab Penerus Bangsa

tri-risma
Tri Rismaharini (Walikota Kota Surabaya)

Paparan diatas adalah apa yang ingin penulis share kepada para wanita pada umumnya, mahasiswi UIN pada khususnya. Dengan harapan, uraian diatas menjadi motivasi dan membakar ghiroh mahasiswi semua dalam mengembangkan diri dan tidak terbatas pada stigma negatif dan pandangan diskriminatif yang membunuh semangat wanita muda dalam pengembangan dirinya dari segi intelektualitas dan kepemimpinan. Jangan ragu untuk kemudian belajar memimpin dan belajar berorganisasi. Warnai organisasi kemahasiswaan di kampus dengan kapabilitas sahabati yang mampu dibuktikan melalui aktualisasi diri di organisasi. Sehingga organisasi kemahasiswaan di UIN Maliki Malang akan lebih terlihat luar biasa karena kemudian dapat mencetak kader-kader wanita pergerakan yang mempunyai integritas dan mampu menjadi pemimpin bangsa ini. Jangan ragu untuk menjadi aktivis mahasiswa karena status biologis, Ibu Khofifah dan Ibu Risma dulunya adalah aktivis mahasiswa yang sangat luar biasa. Beliau terus mengasah kapasitas kepemimpinannya di organisasi sehingga hari ini mampu berpartisipasi aktif dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik lagi.

Penulis juga pernah mempelajari bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang jabatan tinggi saja seperti yang telah diuraikan diatas, kepemimpinan juga berbicara tentang jiwa. Jabatan tidak lebih penting dari jiwa kepemimpinan. Jabatan mempunyai batas waktu, namun jiwa kepemimpinan tak kenal waktu dan akan mengantarkan sahabati menjadi wanita yang luar biasa. Sehingga dalam ruang lingkup kecil seperti rumah tangga, sahabati mampu mendidik generasi kecil sahabati secara tepat dengan jiwa kepemimpinan yang dimiliki sahabati dan menjadikan keturunannya sebagai generasi penerus bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmunya, serta berkomitmen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam ruang lingkup yang lebih luas, kapasitas kepemimpinan sahabati akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan mengantarkan Indonesia menjadi Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghofuur. Semoga. Mari Berorganisasi, wahai Mahasiswi UIN Maliki Malang, buktikan bahwa sahabati adalah generasi muslimah penerus bangsa di garda terdepan. Habis Gelap Terbitlah Terang. Wallahu a’lam.

Malang, 18/10/2015 06:59 WIB

Fawwaz M. Fauzi

Cocokologi Al-Qur’an Sains, ataukan Kesadaran Filosofis?

Oleh : Syaiful Bahri**)

Bismillahirrahmanirrahim,,,,

Big Bang Theory
Big Bang Theory

Di Era yang sarat dengan Sains dan Teknologi ini, hampir semua lini kehidupan ini tidak ada yang tak bersentuhan dengannya. Bahkan soal agama. Ada semacam tuntutan tak termaktub, bahwa kebenaran agama tidak boleh bertantangan dengan sains. Karena, jika informasi agama bertentangan dengan sains, sudah bisa dipastikan yang dituding salah adalah informasi agama.

Kenapa demikian? Karena, informasi agama adalah kebenaran filosofis yang lentur dan subyektif. Sedangkan sains adalah kebenaran emperis yang obyektif. Sehingga ketika dibandingkan secara langsung, seakan-akan informasi agama seringkali dipaksa dicocok-cocokkan belaka dengan kebenaran sains.

Karenanya, lantas muncul sindiran kepada para penganut agama, bahwa umat beragama suka melakukan cocokologi alias mencocok-cocokkan informasi kitab sucinya dengan data-data saintifik. Tentunya sindiran itu tidak sepenuhnya benar dan harus diklarifikasi.

Oleh karena itu pemahaman dan implementasi integrasi Al-Qur’an dan sains haruslah komprehensif dan holistic. Bukan hanya menerjemahkan dan menafsirkan secara verbalistik saja. Nah itu yang terjadi hari ini, membicarakan penciptaan alam semesta tidak serta-merta kita bisa mengambil semua teori yang beredar di dunia ini terkait penciptaan alam semesta, kita pilihlah teori Big Bang, maka membicarakan Big Bang bukanla sekedar kita menerima berbagai cocokologi populer di kalangan masyarakat, namun kita harus memahami benar-benar bagaimana kerja Big Bang; toeri dasar, cara kerja, hal-hal yang mempengaruhi Big Bang dan lain sebagainya harus kita pahami benar-benar secara saintifik dan mampu dipertanggung jawabkan. Baru kemudian kita menoleh pada apa yang ungkapkan Al-Qur’an.

Saya termasuk salah satu yang tidak langsung percaya pada berbagai cocokologi populer yang mengaitkan teori Big Bang dengan apa yang dikatakan al-Qur’an. apa yang ditulis oleh Harun Yahya ataupun Achmad Baiquni mungkin ia sesuai dengan ungkapan al-Qur’an, namun saya melihat hal ini akan memicu persoalan tambahan; kalau memang sesuai dan kemudian dianggap itu adalah teori yang diungkap al-Qur’an, maka –dengan asumsi dasar Al-Qur’an mengandung kebenaran mutlak- teori ini pun akan membawa sifat mutlak Al-Qur’an, ini tentunya berbenturan dengan sifat Ilmu pengetahuan yang –harusnya- bersifat tidak mutlak, ia harus terus diuji. Nah, sebuah persoalan yang tidak asing bukan?. Persoalan selanjutnya adalah what’s next? Kalau memang teori Big Bang sesuai dengan ungkapan Al-Qur’an, lalu memangnya kenapa? Apa yang bisa kita sumbangkan terhadap teori ini dengan kesesuaian dalam Al-Qur’an? saya malah merasa bahwasanya Al-Qur’an terlalu banyak kita intervensi dengan Ilmu Pengetahuan. Bisakah kita melakukan hal sebaliknya, kita intervensi teori Big Bang atau apa pun dengan menggali kekayaan Al-Qur’an? saya sangat menyukai cara kerja Al-Razi yang memilih untuk tetap menyatakan keterpaduan langit dan bumi (meskipun tidak sesuai dengan alam sains pada saat itu, namun secara bahasa Al-Qur’an menyatakan demikian). Dengan kerangka kerja yang sama mungkin kita bisa terpakan dalam mengejawantahkan ungkapan-ungkapan Al-Qur’an dalam berbagai bidang. Sehingga kita tidak hanya mampu terkagum dengan berbagai hasil kerja ilmiah yang –kebetulan– sesuai dengan Al-Qur’an, kemudian kita tidak berbuat apa-apa.

Lalu seperti apa kemudian keterlibatan insan Ulul Albab disini ?, lagi-lagi kita dihadapkan pada suatu kondisi dimana citra diri PMII (Ulul Albab) dituntut menjadi akselerator atas problem cocokologi pupopuler. Ulul Albab secara umum didefinisikan sebagai seseorang yang selalu haus akan ilmu pengetahuan (olah pikir) dan iapun tak lupa mengayun dzikir. Ulul Albab-citra diri seorang kader PMII, dengan sangat jelas disarikan dalam motto PMII dzikir, fikir dan amal sholeh. Maka beruntung dan berbanggalah kita yang hari ini menjadi kader pergerakan, karena sesungguhnya kita sebagai individu-individu telah dipersatukan oleh kontruksi ideal seorang manusia yaitu Ulul Albab.

Didalam beberapa panduan buku PMII, disebutkan bahwa kader Ulul Albab sesungguhnya banyak digambarkan dalam Al-qur’an. yang kemudian dari elaborasi ayat-ayat Al-qur’an tersebut dapat dicirikan bahwa kader Ulul Albab : 1) Berkesadaran histories-primordial atas relasi Tuhan-Manusia-Alam. 2) Berjiwa optimis-transendental atas kemampuan mengatasi masalah kehidupan. 3) Berfikir secara dialektis. 4) Bersikap kritis. 5) Bertindak transpormatif. Lima ciri Ulul Albab tersebut adalah jawaban atas problem cocokologi yang lagi mewabah dikampus integrasi ini dan harus menjadi kesadaran filosofis bagi penganutnya. Amien…

Mungkin saya tidak perlu panjang lebar mengejawabtahkan ciri Ulul Albab di atas, tapi sebagai kader PMII patutlah bila rumusan kader Ulul Albab (manusia seutuhnya) ini dijadikan spirit untuk kita dalam mengaktualisasikan segala kemampuan yang dimiliki oleh setiap kader PMII. Apabila kader PMII tidak menyadari kesenjangan-kesenjangan tersebut diatas, maka Ulul Albab tak pantas disandang sebagai citra diri kader PMII.

Wallahu A’lam,,,,,

Wallahul Muwaffieq Ilaa Aqwamitthoriq….

 

**) Kader PMII Pencerahan Galileo

Ketua HMJ “Astrolab” Fisika 2014

Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi 2015

Menteri Kaderisasi IHAMAFI 2015