Mengungkap Tabir Saiful Mujani Sang Pengkhianat Intelektual

PMII Galileo – Banyak bahwa yang menyimpulkan pollster di Indonesia berperilaku khianat sudah menjadi pengetahuan publik. Mereka pun menjual integritas intelektual demi memenangkan sebuah kompetisi klien yang dibayar oleh polling mereka yang dilakukannya. SMRC adalah salah satu pollster pertama di masa reformasi, pecahan dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang didirikan oleh Bill Liddle dengan murid-murid Indonesianya di Ohio University. LSI berdiri 2003 dengan menggunakan dana bantuan Jepang, di masa pemerintahan Megawati.

SMRC adalah wujud kongkrit dari penentangan itu. SMRC ingin mewujudkan tujuan LSI yang sesungguhnya. Apa lacur, SMRC ternyata jatuh ke lubang kenistaan yang sama.LSI semula dimaksudkan untuk mengembangkan demokrasi, namun uang trilyunan dalam pemilu telah membuyarkan cita-cita itu. Seorang pendiri melihat mudahnya meraup uang melalui pengarahan opini publik yang percaya kepada integritas peneliti politik (pollster). Public opinion mengarahkan dengan mencetak pola yang berlawanan dengan realitas yang disebut framing adalah pekerjaan khianat yang dilakukan dengan mengundang penentang dari pendiri LSI lainnya.

Pendiri SMRC Saiful Mujani, mengupload dokumen hoax yang menyatakan Anies-Sandi menandatangani dokumen perjanjian akan menjadikan Jakarta sebagai kota syariah. Pemilik dari perusahaan  polling  yang  dikontrak  langsung oleh Ahok, seharusnya Saiful membantu Ahok melalui keahliannya. Saiful menghancurkan kredibilitas intelektualnya dengan meluncurkan hoax itu. Ia pun menjual integritas  ilmiahnya yang melekat pada pollster yang dilakukannya, demi mendapatkan nilai rupiah.

Perilaku ini berlanjut di tahapan kedua pilkada DKI ketika SMRC merelease hasil survei bahwa “Anies hanya unggul kurang dari 1%”. Pada kenyataannya Anies unggul landslide, hampir 20%. Menurut pollster profesional selisih yang demikian besar itu merupakan aib dan tidak memungkinkan terjadi apabila survei dikerjakan dengan memakai prosedur ilmiah. Hasil itu hanya bisa terjadi bila prinsip-prinsip ilmiah sudah tak diginakan lagi dan pollster bekerja menurut standar politik belaka.

Sangat lah cenderung sebuah politik yang sama-sama terjadi dalam dua polling terakhir yang dikerjakan oleh SMRC. Pada tanggal 29 September 2017, SMRC mengumumkan bahwa pendukung Prabowo, PKS dan Gerindra telah memobilisir anak-anak muda untuk percaya bahwa “PKI akan bangkit”. Hasil analisis SMRC dipenuhi  ekstrapolasi , simplifikasi dan interpolasi, yang pada akhirnya membuahkan sulapan kesimpulan jauh dari standar ilmiah. (Saya tidak perlu menguraikan di sini soal itu, mungkin dalam tulisan terpisah). Kemudian pada tanggal 5 Oktober 2017 SMRC merelease lagi hasil surveinya yang mengatakan bahwa elektabilitas Jokowi mencapai 38,9% sementara Prabowo hanya 12%. Terdapat selisih lebih dari 200%, dimana logikanya?

Selama ini dan seperti diketahui Jokowi belum mengukir kinerja apapun, semua proyek-proyeknya sampai saat ini belum ada yang kelar. Sementara itu ia terus dijatuhin oleh kritik dan keluhan publik berkenaan dengan penumpukan utang yang luar biasa, investasi Cina tanpa lapangan kerja, kenaikan harga energi, penghapusan subsidi, ekonomi melambat, penurunan daya beli dst. Di sisi politik, partai yang dipetugasi Jokowi kalah di banyak pilkada yang dulu dikuasainya seperti Jakarta dan Banten. Di Jateng yang selama ini dikenal sebagai kandang banteng, calon-calon PDIP berguguran seperti laron menyerbu api lilin.

Di dalam situasi seperti itu darimana rasionalnya Prabowo yang hanya selisih 4% dari Jokowi pada tahun 2014 kok sekarang ambrol menjadi berselisih lebih dari 200% ?

Alasan apapun diberikan Saiful Mujani tidak akan meyakinkan. Penjelasan paling meyakinkan hanyalah bahwa Saiful Mujani sedang menjalankan lagi pekerjaan khianatnya yaitu menipu rakyat melalui polling. Ia telah dibayar untuk membangun opini publik (framing) bahwa “Prabowo adalah pengusung radikalisme yang telah memobilisasi orang-orang muda dengan isu itu untuk menyerang pemerintah.” Sebaliknya, Jokowi adalah politikus yang dicintai rakyat dengan elektabilitas 3 kali lipat pesaing terdekatnya.

Sangat memprihatinkan. Dulu mengaum seperti singa. Ternyata kamu hanya serigala berbulu domba.

Oleh: Radhar Tribaskoro (Citizen Warta Pergerakan)

Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

PMII Galileo – Cara  untuk  meyakinkan dugaan atau hipotetis tentang tingkat keterpilihan Bakal Calon (Balon)/Calon dalam pemilihan seperti Pemilihan Presiden (Pilpres) atau Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dengan melakukan survei opini publik terhadap elektabilitas para Balon/Calon.

Di acara Rapimnas Partai Golkar, Mei 2017 Balikpapan, Kalitim. Menko Maritim Luhut B. Panjaitan  menyatakan tanpa Sumber bahwa elektabilitas Jokowi saat ini masih di atas 50 persen. Lebih besar dibandingkan dengan elektabilitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Prabowo dan Megawati.Untuk kasus Jokowi sebagai Balon pada Pilpres tahun 2019 mendatang, sudah mulai dibicarakan di publik berdasarkan hasil survei opini publik. Sebagai  incumbent/petahana, Jokowi dalam pandangan lembaga survei umumnya  memperlihatkan penurunan elektabilitasnya. Sehingga bisa  disimpulkan bahwa kemungkinan besar Jokowi bisa memenangkan persaingan pada Pilpres 2019 semakin sulit dan harapankecil.

Litbang Kompas adakan survei berkala pada Januari hingga April 2017. Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan elektabilitas Jokowi mencapai  41,6 persen.

Pada 14-20 Mei 2017, bulan sama dengan pernyataan Luhut B. Panjaitan waktu di acara Golkar,  SMRC mengadakan surveipublic opinion. Hasil survei tersebut menperlihatkan elektabilitas Jokowi mencapai hingga 34,1%.

Pada 23-30 Agustus  2017 CSIS lakukan survei. Hasil survei menunjukkan  elektabilitas Jokowi cukup tinggi, yakni  50,9%,

Selanjutnya, Lembaga Media Survei Nasional (Median) merilis hasil survei 14-22  September 2017,  Hasil survei menunjukkan, elektabilitas Jokowi 36,2 persen. Namun di sisi lain dari pihak SMRC mengumumkan angka lebih besar, yaitu elektabilitas Jokowi mencapai 38,9%. Angka ini naik lebih besar dibandingkan hasil survei SMRC sebelumnya elektabilitas Jokowi mencapai 34,1%.

Sejumlah data elektabilitas yang sudah tertera di atas, dapat kita simpulkan bahwa penurunan elektabilitas Jokowi mencapai di bawah 40% dan mendekati di bawah 35% dari tingkat elektabilitas sebelumnya, di atas 50%. Jika ditarik rata-rata dari angka seluruh lembaga survei di atas, tetap mengalami penurunan, yakni rata-rata sekitar 40%. Lembaga survey membandingkan Jokowi sebagai petahana dengan tokoh bukan petahana, bahkan belum secara resmi menyatakan diri akan maju sebagai calon Presiden (Capres) pada Pilpres 2019. Sebagai Petahana elektabilitas Jokowi kini hanya sekitar 40%, jauh di bawah perolehan suara Jokowi pada Pilpres 2014, di atas 50%. Sangat tepat jika ada pendapat, semua calon Presiden seperti Gatot N, Prabowo, bahkan SBY memiliki peluang yang sama dengan Jokowi untuk memenangkan kompetisi pada Pilpres tahun 2019.

Intinya, tidak terdapat indikasi peningkatan elektabilitas Jokowi, bahkan dari bulan ke bulan tahun 2017 ini terus merosot. Waktu tinggal sekitar 1,5 tahun lagi bagi Jokowi untuk hentikan penurunan elektabilitas dirinya.  Kondisi Jokowi ini tanpa kegiatan promosi dan kampanye pesaing atau kompetitor atau Tim Sukses, Relawan dan Partai pendukung. Baru Jokowi seorang telah mendapatkan dukungan resmi dari Partai PKB, Golkar, Hanura, Nasdem, PPP dll. Ternyata dukungan resmi Parpol-parpol tersebut, tak usah meningkatkan elektabilitas Jokowi, mempertahankan agar tidak menurun pun tak sanggup.

 Penurunan elektabilitas Jokowi ini tentu disebabkan berbagai faktor, terutama rakyat umat Islam politik dan kelas menengah perkotaan, bukan tokoh  pesaing individual sebagai Balon.

Angka elektabilitas Jokowi menurun itu semua bermakna semakin berkurang kemungkinan Jokowi akan menang pada Pilpres tahun 2019. Kecenderungan menurunnya elektabilitas Jokowi ini akan terus mengambil tempat sepanjang kebijakan-kebijakan Jokowi tidak mengutamakan aspirasi dan kepentingan terutama Umat Islam politik dan kelas menengah perkotaan.

Ada asumsi bahwa elektabilitas calon incumbent atau petahana harus di atas  60%. Jokowi harus memiliki tingkat elektabilitas di atas 60%. Sebab, dalam berbagai pertarungan pemilu ketat, perolehan  suara calon petahana berada di bawah tingkat elektabilitas hasil survei. Dalam Pilpres 2009, SBY-Boediono meraup 60,8% suara. Perolehan  ini jauh di bawah hasil survei opini publik  menempatkan SBY-Boediono sebagai pemenang pemilu dengan tingkat elektabilitas 71%. Hal ini juga berlaku pada  Pilkada  DKI Jakarta 2017. Pasangan Incumbent Ahok-Djarot menurut sejumlah rilis survei opini publik, tingkat elektabilitas mereka  hingga 56%,  hanya mampu meraih 42,99% suara dalam putaran pertama dan 42,04% suara pada putaran kedua.

Angka elektabilitas Jokowi cenderung kemungkinan besar bisa menurun dan menjauh dari zona amannya dengan angka elektabilitas mencapai 60%.

Jika asumsi dasar ini diterima, adalah sangat sukar  bagi Jokowi untuk memenangkan pertarungan perebutan kekuasaan negara pada  Pilpres 2019 mendatang.

apa cara pemecahan masalah (solusi) trend penurunan elektabilitas Jokowi ini agar bisa menaik dan mencapai batas aman untuk memenangkan Pilpres 2019?

Cara pemecahan utama, sangat menentukan, menggunakan  level analisis Parpol sebagai aktor mempengaruhi perilaku pemilih. PDIP sebagai Parpol peserta pemilu  harus segera menyatakan secara resmi  dukungan terhadap Jokowi untuk maju lagi sebagai Capres  pada Pilpres 2019. PDIP harus mengambil posisi di mata publik  sebagai “Lead Party“, Parpol Pemimpin, jangan beri ke Parpol lain yang tidak memiliki akar sosiologis dengan Jokowi seperti Golkar. Setelah adakan  pernyataan resmi, lalu PDIP lakukan konsolidasi internal penguatan mesin Parpol untuk mempromosikan dan mengkampanyekan Jokowi di tengah-tengah masyarakat pemilih. Tentu saja, mesin Parpol ini akan terkendala dengan kepentingan Pemilu legislatif yang waktu  bersamaan dengan Pilpres 2019.

Untuk mendapatkan dukungan sebagian umat Islam politik, Jokowi sudah mulai memberi tanda kepada publik, Calon Wapres dirinya dari Tokoh atau Ulama umat Islam seperti Jusuf Kalla saat Pilpres 2014. Siapa Tokoh atau Ulama dimaksud, satu kriteria Tokoh itu memiliki basis massa atau organisasi masyarakat umat Islam atau didukung berat para Parpol Islam. Dari segi momentum memang terlambat, tapi Jokowi harus coba untuk pemenan Pilpres 2019. Sudah saatnya Jokowi berpikir rasional untuk perolehan suara pemilih sebanyak mungkin. Semua kebijakan pemerintah membuat umat Islam dan kelas menengah perkotaan antipati dan penurunan elektabilitas harus diminimalkan. Jangan terus lakukan politik pembiaran yang membuat persepsi masyarakat negatif meningkat dan meluas. Waktu hanya sekitar 1,5 tahun lagi!

Oleh: Muchtar Effendi Harahap (Peneliti NSEAS)

GERAKAN AKSI MENULIS

Tanggal 10 November, merupakan hari dimana sejarah tidak bisa di lupakan, hari dimana para pahlawan Indonesia berjuang untuk merebut kembali Indonesia dari tangan Belanda yang kembali membrontak. 10 November merupakan aplikasi nyata dari resolusi jihad NU yang keudian sahabat kenal dengan Hari Santri Nasional. sehingga sejarak heroik tersebut sangat pantas untuk sahabat banggakan.

sebagai seorang kader pemikir Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, harusnya menjadikan peristiwa tersebut sebagai refleksi dan mengaplikasikannya di keseharian sahabat.

untuk memperingati sejarah heroik, hari pahlawan 10 November, maka kami pengurus  PMII Rayon Pencerahan Galileo bermaksud untuk mengadakan GERAKAN AKSI MENULIS  dalam rangka memperingati hari pahlawan. dengan tema “Reflaksi Hari Pahlawan bagi Kaum Pergerakan”. Mari, bersama beraksi dan berkontribusi melalui media Literasi. Tunjukkan bahwa semangan 10 November masih melekat di hati sahabat selaku kaum pergerakan.

Karya dapat berupa Esay, artikel, opini, cerpen, dan puisi, dengan dikirimkan ke e-mail kami di : sahabatgalileo@gmail.com dengan naskah berupa file Docx. Gerakan ini bersifat wajib bagi seluruh sahabat pengurus Rayon “Pencerahan” Galileo dan Terbuka untuk anggota, Pasca dan Alumni Rayon.

Gerakan Aksi Menulis ini gratis tanpa dipungut biaya, dan mendapatkan E-sertifikat, dan karya akan diposting di web rayon di : http://pmiigalileo.com

NB : Batas pengumpulan naskah pada Hari Kamis 09 November 2017 jam 23.59 WIB.

 

 

Biografi Agus Herlambang, Ketua Umum PB PMII Masa Khidmat…

PMII Galileo – Akrab dipanggil dengan Mr. Agus atau Sahabat Agus, lengkapnya adalah Agus Mulyono Herlambang atau terkenalnya oleh kader PMII adalah Agus Herlambang, Lahir pada tanggal 17 Juni 1988 di sebuah daerah yang terkenal dengan sebutan kota Mangga, Indramayu. Putra pertama dari pasangan Guru Agama di kampung sehingga sedikit banyak Sahabat Agus sejak dini tumbuh dengan berinteraksi secara langsung dalam dunia pendidikan agama.

Aktif MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) PMII 2006.Setelah lulus SD, Sahabat Agus melanjutkan pendidikannya di pesantren Raudlatut Thalibin Lengkong Kuningan sembari menempuh pendidikan formalnya di MTS Yaspika Kuningan. Lulus MTS kemudian meneruskan proses pembelajaran formalnya pada MAN Cigugur Kuningan dan pendidikan pesantrennya di Pondok Pesantren Al-Ma’mur Cipondok Kadugede.

Kecerdasannya yang memang sudah terlihat sejak usia dini, membawa sahabat Agus menjadi siswa berprestasi yang tak pernah lepas dari posisi tiga (3) besar rangking teratas di semua level pendidikannya. Sehingga sahabat Agus mendapatkan undangan PMDK di Institute Teknologi Bandung (ITB), jurusan Seni rupa dari jalur Beasiswa Santri Berprestasi pada tahun 2006 dikarenakan memperoleh nilai UAN yang tinggi.

Namun, kedua orang tua sahabat Agus memiliki program berbeda dan memintanya untuk mengikuti tes masuk Al-Azhar Kairo Mesir. Sebagaimana kandungan surat al an’am ayat 59

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuudh)” [QS. Al-An’aam : 59].

Itulah yang tepat untuk mendeskripsikan perjalanan hidup sahabat Agus selanjutnya,

Setelah gagal atas harapan untuk mengenyam pendidikan di Al-Azhar mesir, yang kemudian waktu diberitakan di banyak media bahwa banyak pelajar Indonesia yang terpaksa dipulangkan meski belum selesai atas konflik politik yang semakin memanas di Negri Al Azhar tersebut.

Sahabat Agus memilih melanjutkan studi S1nya di Sastra Inggris Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, satu-satunya Perguruan Tinggi di Indonesia yang menggunakan nama Pesantren. Di tahun 2010 Sahabat Agus lulus tepat waktu dengan uji thesis berjudul Afro-American Struggle for Spelling Bee Competition, berisi tentang kisah perjuangan seorang anak afro-amerika  diatas mimbar bergengsi orang-orang kulit putih. Minatnya terhadap sastra, kemudian membuatnya melanjutkan studi S2 Di Jurusan Magister Ilmu Susastra Universitas Indonesia (UI)  dan diterima pada tahun 2012.

Pada tahun yang sama (2012) sahabat Agus mulai terlibat dalam program Community Empowerment of People Againts Tuberculosis, sebuah pilot project pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan, yang disponsori oleh USAID dengan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama dan Kementrian kesehatan RI, berperan sebagai koordinator Program di Jakarta Utara hingga awal 2017 dalam pengentasan TBC di Indonesia. Setelah bersentuhan langsung melakukan advokasi masyarakat di Jakarta Utara, pada tahun 2016  Sahabat Agus memutuskan fokus menggeluti bidang komunikasi publik dengan mengambil studi S2 di Universitas Mercubuana, di Jurusan Magister Komunikasi  yang fokus pada Public Relation, Mass media dan Komunikasi Politik karena ketertarikannya dalam keterlibatan publik dalam menentukan kebijakan pemerintah yang dia dapat ketika melakukan empowering di masyarakat urban di Jakarta Utara.

Biografi Singkat Agus Herlambang

Sahabat Agus Mulyono Herlambang atau biasa dipanggil Agus Herlambang adalah seorang aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sejati, dimana tumbuh kembangnya selalu mengenyam pendidikan pesantren, dan berkecimpung di berbagai organisasi, baik yang nota bene organisasi PMII maupun lembaga lainnya sebagai rekam jejak kembang karakter ke PMII-annya, berikut tambahan aktivitas organisasi yang pernah di geluti :

  • Ketua rayon pertama fakultas bahasa dan sastra inggris Unipdu Jombang 2007.
  • Salah satu penggagas Teater SATU FBS tahun 2007.
  • Wakil ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas 2007-2008.
  • Pengurus Komisariat PMII Umar Tamin Unipdu Koordinator Penerbitan dan penelitian dengan melahirkan buletin Change 2008-2009.
  • Sekjend BEM Unive Unipdu Jombang 2010-2011.
  • Penggagas FGD (Focus Group Discussion) Surau Sahabat di Komisariat PMII Umar Tamim Unipdu Jombang 2010-2011.
  • Pengurus Cabang PMII Jombang di koordinator Penerbitan dan Penelitian dengan menerbitkan Buletin MOVE 2010-2011.
  • Penggagas FIKRAH INSTITUE 2010-2011.
  • Pengajar aktif bahasa inggris di forum Pengurus Besar (PB) PMII 2011-2013.
  • Koordinator Program Community Empowerment of People Againts Tuberculosis wilayah Jakarta Utara 2012.
  • Ketua Bidang Hubungan Internasional dan Jaringan Luar Negeri PB PMII 2014/2016.
  • Terpilih menjadi Ketua Umum PB PMII 2017-2019 saat Kongres di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Di Sisi lain, karena Sahabagt Agus terbiasa dididik mandiri secara ekonomi oleh orang tuanya, Agus bersama sahabat-sahabatnya menghidupkan rayon dari hasil penjualan tiket pementasan Teater SATU, menghidupkan komisariat dengan berjualan buku di kampus, menghidupkan forum diskusi Cabang juga dengan jualan buku dan jualan kopi. Saat ini, selain aktif di kegiatan kemasyarakatan, kuliah dan organisasi, Agus juga memiliki usaha mandiri yang bergerak di bidang limbah besi tua yang dia rintis bersama Istrinya sejak 2014 di CV Karunia Baja. Prinsip yang slalu dipegangnya hingga saat ini adalah hidupkan organisasi, bukan hidup dari organisasi.

Biografi Ahmad Hifni, Penulis Buku Menjadi Kader PMII

PMII Galileo –  Ahmad Hifni kelahiran di Jember, Jawa Timur pada tanggal 11 Agustus 1993. Ia aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), menekuni dalam bidang tulis menulis dan peneliti pada Moderate Muslim Society (MMS). Ia menyelesaikan studi sarjananya di jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini ia sedamh menempuh studi megister di Sekolah Pasca-sarjana UIN Jakarta.

Sejak kecil Ahmad Hifni telah akrab dengan dunia Islam, khususnya pesantren. Ia terlahir dari keluarga yang memiliki basis ke-Islam-an Nahdlatul Ulama (NU) yang kuat. Kehidupannya tidak lepas dari dunia pesantren yang kemudia memengaruhi perkemb1ng1n intelektualitasnya. Kemudian ia melanjutkan masa belajarnya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Jember sambil menjadi santri di Ma’had El-Dzikr (2008-2011). Dari dunia pesantren dan jurusan Agama yang ia geluti di Madrasah Aliyah, Ahmad Hifni banyak mengenal dasar-dasar keilmuan Islam seperti Al-Qur’an, tafsir, ilmu tafsir, fiqih, ushul fikih, hadits, ilmu hadits, filsafat, tasawuf, ilmu kalam, bahasa dan sastra.

Sejak di MAN dan Ma’had, ia telah aktif di bidang tulis menulis dan berbagai organisasi kesiswaan dan kesantrian. Ia pernah menjadi wakil ketua umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Komisariat MAN 1 Jember periode (2009-2011). Ia juga pernah menjadi ketua Umum Ma’had El-Dzikr periode (2019-2011).

Selama menjadi mahasiswa, kemampuan analisanya terus diasah tentang dunia Islam, sastra dan linguistik, kemudia ia kembangkan. Ia aktif dalam tulis menulis. Ia aktif menulis di berbagai koran nasional dan majalah lokal. Di samping itu juga, ia pernah menkadi penyunting (editor) buku Sosiolinguistik, Psikolinguistik, Ilmu Kalam dan Stilistika. Ia juga menjadi anggota penyusunan Iran di Mata Indonesia dan buku 70 Tahun Indonesia Merdeka.

Sedangkan di dunia aktivis, Ahmad Hifni aktif di PMII Komisariat Fakultas Adab dan Humaniora, pernah menjadi Kordnator Kaderisasi (2012-2013), Ketua I Bidang Kaderisasi (2013-2014 dan 2014-2015), hingga menulis buku dengan judul; Menjadi Kader PMII. Ia juga aktif dalam Arabic Language and Literature (ALIF), Ittihadu Thulabah al-Lughah al-‘Arobiyah (Ithla’) Persatuan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab se Indonesia dan Madrasah al-Qahwah (Ciputat Cultural Studies). Ia juga menjadi pengurus dalam Keluarga Alumni Bahasa dan Sastra Arab (KASAB) Periode (2014-2018).

Sejak 2014 ia aktif dan menjadi peneliti pada Moderate Muslim Society Jakarta. Lembaga ini merupakan sebuah lembaga riset yang bertujuan untuk menyampaikan pendekatan moderasi dalam pembangunan Indonesia terutama dalam hal toleransi keagamaan dan keadilan sosial di dalam masyarakat yang plural (beragam) dan demokratis. Kemudia pada 2015, ia bersama aktifis PMII adab dan Humaniora mendirikan Madrasah al-Qahwah (Ciputat Cultural Studies) sebuah lembaga kajian dan diskusi yang fokus pada bidang budaya, bahasa, sastra dan filsafat
.

Biografi Ibnu Taimiyyah

PMII Galileo – Syaikhul Islam Al Imam Abul Abbas namanya adalah Ahmad bin Abdul Halim Abdus Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Khidir bin Muhammad bin Khidir bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al-Harani Ad-Dimsyqi.

Ia lahir pada hari Senin 10 Rabi’ul Awal di Haran tahun 661 Hijriyah. Ketika usia 7 tahun dia bersama ayahnya pindah ke Damsyik karena melarikan diri dari sebuah tentara Tartar.

Ia pun tumbuh besar di lingkunan ilmu fiqh dan ilmu agama. Ayah, kakek dan saudaranya serta sebagian besar pamannya adalah ulama-ulama tersohor. Dalam lingkungan keluarga ilmiah yang shalih inilah Ibnu Taimiyyah tumbuh dan berkembang dan mulai menuntut ilmu dari ayahnya dan ulama-ulama Damsyik. Ia juga menghafalkan Al-Qur’’an saat masih kecl, mempelajari Hadits, fuh, ushul (aqidah) dan tafsir.

Sejak kecil ia dikenal cerdas, kuat hafalannya dan cepat menerima ilmu. Kemudian ia memperlua pemahamannya dengan mempelajari berbagai ilmu, mendalaminya dan menguasainya sehingga ia memiliki syarat-syarat untuk mujtahid.

Sejak mudanya ia selalu menjadi imam. Ia dikenal mempunyai keluasan ilmu, akhlak terpuji dan kepemimpinan sebelum ia mencapai usia 30 tahun.

Dalam bidang penulisan dan karya ilmiah, Ibnu Taimiyyah telah meninggalkan warisan yang sangat banyak dan berharga bagi umat Islam. Para ulama dan peneliti senantiasa menimba air yang bersih dari beliau. [Download Kaidah Ahlussunnah Wal Jama’ah ‘ASWAJA’ Karya Ibnu Taimiyyah]

Di tengah umat Islam sekarang sangat banyak bertebaran karya-karya beliau berupa buku, risalah, fatwa, berbgai buletin yang masih tetap tak dikenal dan tersimpan dalam manuscript masih sangat banyak.

Di samping keilmuan dankedalaman pengetahuan agamanya, beiau dikenal sebagai orang yang suka melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Allah mengaruniai beliau dengan sifat-sifat terpuji yang sangat dermawan sehingga lebih mendahulukan kepentingan orang yang mengalami kekurangan makan, pakaian dan sebagainya dari pada dirinya sendiri.

Beliau sangat tekun beribadah, berdzikir dan membaca Al-Qur’an. Beliau hidup jauh dari kemewahan dan kesenangan dan hampir tidak mempunyai simpanan harta selain yang dibutuhkan. Sifat-sifat seperti ini telah dikenal oleh orang-orang pada zamannya. Beliau sangat rendah hati dalam penampilan, pakaian dan pergaulan dengan orang lain. Beliau tidak pernah mengenakan pakaian bagus atau pakaian yang sangat jelek dan beliau tidak pernah memberatkan orang-orang yang ditemuinya.

Beliau terkenal beribawa dan kuat dalam menegakkan kebenaran. Beliau sangat disegani oleh kewibawaannya dan menghormatinya, kecuali orang-orang yang dengki dari kalangan pendukung hawa nafsu. Ia dikenal sangat sabar, tambah memikul kesulitan dalam memperjuangkan agma Allah. Ia sangat terbuka, suka mendatangi undangan dan mempunyai keistimewaan atau karamah yang dapat disaksikan orang banyak. Semoga Allah memberinya rahmat dan melapangkan tempatnya di alam kubur dan juga ditempaknan di surganya Allah. Amiiin…!!!

Syaikh Ibnu Taimiyyah wafat dalam penjara sebagai orang tahanan di penjara Qal’ah di Damsyik. Beliau wafat pada malam Senin tanggal 20 Dzulqa’dah tahun 728 Hijriyah. Penduduk Damsyik keluar meluber dan begitu pula dari kota-kota di sekitarnya untuk menshalatkannya dan mengantarkan jenazahnya ke kuburan. Berbagai sumber menyebutkan bahwa ketika wafat, jenazahnya diantarkan oleh khalayak yang berjumlah sangat besar hingga memenuhi kota. Semoga Allah memberinya rahmat dan memberikan balasan sebaik-baiknya atas pengabdiannya kepada Islam dan kaum muslim.

Biografi Sahabat Mahbub Junaidi

PMII Galileo –  Mahbub Djunaidi sosok kelahiran Jakarta 27 juli 1933 ini memang begitu gemar menulis, bahkan ia pernah berstatemen.

“Saya akan menulis dan terus menulis hingga saya tak mampu lagi menulis”.

 

Ia adalah anak pertama dari 13 saudara kandungnya. Ayahandanya Haji Djunaidi adalah tokoh NU (Nahdlatul Ulama) dan pernah menjadi anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) hasil Pemilu 1955.

Meskipun bukan kelahiran Solo, namun di Kota Bengawan tersebut awal bakatnya di dunia literasi mulai tampak. Ia mulai karier menulisnya ketika Ia duduk di bangku sekolah, sebagai redaktur majalah Sekolah Dasar (SD) di Solo.

Keluarganya harus mengungsi ke Solo karena kondisi yang belum aman pada saat awal kemerdekaan. Di Solo, Ia menempuh pendidikan di Madrasah Mambaul Ulum. Di tempat itu Mahbub diperkenalkan tulisan-tulisan Mark Twain, Karl May, Sutan Takdir Alisjahbana, dan lain-lain. “Masa-masa itulah yang sangat mempengaruhi perkembangan hidup saya”, cerita Mahbub Djunaidi. (Download Gratis – Aplikasi Android Sejarah PMII Lengkap)

Saat Belanda menduduki Solo tahun 1948, Mahbub Djunaidi dan keluarganya kembali ke Jakarta.  Ketika di Jakarta Ia kemudian melanjutkan pendidikannya masuk ke SMA Budi Utomo. Di sekolah barunya Ia bakat menulis yang dimilikinya semakin terasah. Ia sering menulis sajak, cerpen, dan esai.

Tulisan-tulisannya banyak dimuat dalam majalah Siasat, Mimbar Indonesia, Kisah, Roman dan Star Weekly. Bakatnya ini terus berlanjut hingga ia menjadi mahasiswa, organisatoris, kolumnis, sastrawan, jurnalis, agamawan, poltisi dan sebagainya. Selain sebagai seorang penulis, sosok yang satu ini juga dikenal sebagai tokoh yang multitalenta.

Hal tulis-menulis Mahbub temasuk sangat piawai pada masanya, misalnya beliau yang menerjemahkan buku 100 tokoh yang berpengaruh di dunia karangan Michael H. Hart. Pun, dalam menulis kolom, Mahbub sangat terkenal dengan bahasa satire dan bahasanya yang humoris.  (Download Gratis – Aplikasi Android PMII Orid (Portal Informasi PB PMII)

Bahkan, Bung Karno samapai terkesan dengan tulisan beliau, karena Mahbub mengatakan Pancasila lebih agung dari Declaration of Independence, sehingga Bung Karno sempat mengundang Mahbub ke Istana Bogor, dari situlah Mahbub Djunaidi menjadi sangat dekat dengan Bung Karno dan Mahbub sangat kagum dengan “sang penyambung lidah rakyat tersebut”.

Bung Karno memang cukup mempengaruhi nasionalisme Mahbub Djunaidi. Pada sebuah pertemuan wartawan di Vietnam, Mahbub Djunaidi menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi kendati Ia cukup fasih berbahasa Inggris atau Prancis. Inilah sikap nasionalismenya tampak.

“Bahasa Prancis bukan bahasa elu, dan bahasa Inggris juga bukan bahasa gua”.

Salah satu ciri dari tulisan Mahbub adalah kepandaiannya dalam memasukkan unsur humor adalah cara dari Mahbub untuk mengajak seseorang masuk kedalam suatu masalah, karena salah satu kebiasaan dari orang Indonesia adalah suka tertawa, maka untuk mengkritik dengan cara yang enak adalah lewat humor. Sebagaimana yang pernah dikatakan Gus Dur,

“Dengan humor kita dapat sejenak melupakan kesulitan hidup”.

Sumber: NU Online

Buletin Teropong Edisi September 2016

Karena dengan menulis, hidup kita terasa manis.

Salam Jurnalistik..!!
Puji Syukur, Alhamdulillah.. Buletin Teropong Episode September 2016 bisa terbit.
Terimakasih bagi semua pihak yang telah membantu penerbitan episode ini.

 

Buletin Teropong, hasil karya sastra kader galileo edisi September 2016 telah terbit. Walau mungkin ini sudah memasuki minggu ketiga, tapi isinya insyaAllah selalu bermakna.

Barokallah..

Silahkan dibaca2, sahabat.. 😉😉

https://drive.google.com/file/d/0BwTNg4gIANV6ZmJzWm8tWXBRTUE/view?usp=docslist_api

 

ASEP PEMUDA YANG KEKINIAN

PhotoGrid_1464173720978


 

By:m.azwar afandi

Kisah pemuda bernama Asep, sang pemuda yang kekinian. Kehidupan Asep sehari hari sebagai mahasiswa yang serba kekinian mulai dari baju celana sampai kolor nya pun serba kekinian.

Asep berkuliah di Universitas ternama yang megah hanya disatu gedung saja, yaitu gedung rektorat. Di universitas ini, mahasiswa di kenai biaya pendidikan sebesar 5 juta rupiah + UKT sebesar 2,5 juta rupiah. Di universitas ini jumlah seperti itu merupakan jumlah yang wajar karena bagi mahasiswa disini selagi masih bisa foto cekrek sana cekrek sini, selfie sana selfie sini, upload sana upload sini itu sudah cukup.

Suatu hari di kantin fakultas, si Ucang dan si Ulil sedang santai mengopi di sana. Ucang dan Ulil adalah mahasiswa dengan kepribadian berbeda dari mahasiswa pada umumnya. Diuniversitas itu, Ucang merupakan mahasiswa yang suka ngopi dan nongkrong sambil membaca buku, si ulil adalah aktivis kampus yang juga suka ngopi dan membaca buku serta bediskusi. Konon mereka berdua suka dengan buku-buku berbau kiri yang sedang banyak disweeping oleh kepolisian karena terdapat asumsi bahwa didalamnya mengandung pembahasan atau doktrin komunis.

Saat berada kantin Fakultas, si Ucang dan si Ulil berdiskusi asik tentang keadaan kampus hari ini, mereka berdiskusi tentang penarikan biaya praktikum yang sedang terjadi baru-baru ini di Fakultasnya. Begini kira-kira dialognya :

Ucang: “Hai sob, Tau ngak bulan bulan ini banyak penarikan biaya praktikum looo”,

Ulil : “Ah masak sih bro, emang kenapa kalo biaya praktikum di tariki ? kan bukan masalah?”.

Lalu si Asep datang dengan membawa ponsel yang biasa di buat ngeksis di social media. Si Asep datang ke kantin Fakultas clingak-clinguk sembari melihat tempat yang biasa dia ngobrol bersama teman-temannya, karena bangku untuk nongkrong habis dan tinggal bangku di tempat-temennya Ulil dan Asep yang sedang asyik berdiskusi. Akhirnya, dia duduk disana sambil memainkan ponselnya dengan diselingi mendengar diskusi ucang dan si ulil yang sedang panas

Ucang : “Loh ya masalah bro, kita lihat nih di koran WR2 berbicara bahwa biaya kuliah naik pada tahun ini di karenakan biaya bahan dan alat untuk praktikum di fakultas eksakta itu banyak dan mahal, berarti biaya praktikum mulai bahan dan alat udah masuk UKT kita broo.” .

Ulil : “Loh, masak iya bro coba lihat koran nya (sambil merokok dan mengambil koran di tangan ucang)”.

Asep: *Sedang asyik mengupload foto foto hasil jepretan tadi pagi di gerbang kuliah :v

Ucang : “Gimana?, bener kan beneran apa gue bilang?”

Ulil : “Bentar gua belum selesai baca”.

Ucang : (Sambil minum kopi lalu dan membaca buku berjudul “ cebok dengan tangan kiri ” ) “OKE”.

Asep: (Sambil melihat hape eksis nya) “ hemmm….. Belum ada yang ngelike foto gua , mungkin harus di #hasteg ke tempat instagram hits di kampus deh hihihihihi 😀 ”.

Beberapa menit kemudian .

Ucang : “ BUSYEET BABI ANJRIT (dengan nada keras).beneran ui ternyata biaya praktikum udah masuk di biaya kampus ” (dengan nada 1/6 note keras 😀 juga).

Sontak ulil yang sedang memegang cangkir kopi pun hampir mengguyur kantin bagaikan ladang gandum yang di guyur coklat dan jadilah koko crunch, dan seluruh mahasiswa di kantin pun sempat melek dan melihat ke arah meja tempat ucang berteriak keras namun itu hanya sebentar lalu mereka kembali memegang hape eksis nya masing-masing buat memeriksa apakah foto nya sudah banyak likees nya.

Asep: “ Sssstttt… berisik lu cang lihat nih foto gue kehapus nih kepencet delete gara-gara lu teriak “( Dengan muka cemberut dan agak metot ).

Ulil : “ hahahahahahah gua udah nebak bakal teriak teriak dah lu lihat nya terus kita harus gimana jir kita udah di tipu-tipu nih ”.

Asep : “ Alah kalian berdua aja yang ketipu kita mah kagak lagian mbayar segitu aja .pokok bisa foto ama tikus yang udah di oprasi aja cukup udah buat gue (Dengan nada cuek )”

Ucang : “ Yah mau gimana lagi lil kita mah bisa apa?. Mau ngajak temen temen juga percuma kan hobi eksis sedang meraja lela biar kekinian,masak  kita cuman berdua ? “.

Ulil : “ iya ya, Mungkin satu satu nya jalan kita cepetin kuliah kita aja deh. biar kita bisa bangun kampus yang murah dan terjangkau kasian gua liat anak jalanan semakin banyak gak bisa mengenyam pendidikan “.

Asep : “Udah lah gua pindah aja. Loe berdua gak asik dan kurang kekinian (Dengan nada ngece)”.

Ulil dan ucang pun melanjutkan diskusi nya .Setahun kemudian setelah kejadian di fakultas itu universitas tempat ulil asep dan ucang mulai pemberitahuan penting bahwa biaya naik sebesar 7 juta 500 + 4 juta 500 ., si ulil dan si ucang mulai menggarap skripsi dan membayangkan cita cita mereka untuk cepat lulus . sedangkan si asep karna keluarganya tertimpa musibah Perusahaan ayah nya yang bernotabe perusahaan yang sederhana bangkrut dan  keluahga asep sudah ngak kuat bayar biaya kuliah si asep . asep akhir nya kebingungan dan hape nya yang biasa di buat untuk eksis pun di jual buat bayar biaya kuliah dan ternyata masih kurang 100 ribu rupiah akhir nya si asep berjalan kesana kemari buat cari pinjeman uang ,namun karna temen nya pada sibuk hape an akhir nya asep bolak balik di cuekin sama temen temen nya.