VALENTIN’S DAY: Dialektika Hukum dalam Perspektif Remaja Era Futuristik

PMII Galileo – Gejolak perbedaan pendapat dalam menanggapi suatu hukum permasalah dalam ranah pemuda di zaman modern saat ini menuai beberapa konflik argumen untuk mendapatkan ke-Maslahatan bersama. Khususnya dalam menanggapi fatwa Majlis Ulama’ Indonesia (MUI) Jawa Timur, yang dinyatakan dalam surat edaran No : Kep.03/SKF.MUI/JTM/I/2017 Tentang HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTIN BAGI ORANG ISLAM, Bahwa “mengikuti dan atau berpartisipasi dalam kegiatan perayaan hari Valentin (valentine’s day) bagi orang Islam hukumnya haram”.

Menanggapi fatwa tersebut, banyak dari kaum muda, anak remaja khususnya, yang kurang atau tidak 100% setuju dengan fatwa yang diputuskan. Diantara mereka ada yang berpendapat dengan menggunakan dalil “Innamal a’malu binniyah (segala sesuatu tergantung pada niyatnya), sehingga tidak bisa MUI langsung memfatwakan valentin’s day itu haram. Karena banyak diantara kaum muda yang pengetahuannya tentang agama masih bersifat awam, sehingga mereka akan merasa terbebani dalam keputusan tersebut. Budaya tersebut sudah berbeda antara yang sekarang dan yang dulu jika kita tinjau melalui sejarah valentin’s day yang telah tersebar luas. Selain itu, tidak bisa kita gunakan dalil “man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum”, Karena kita tahu sendiri banyak diantara kita produk yang berasal dari peradaban orang kafir. Sehingga solusinya adalah seharusnya MUI memberikan himbauan agar kaum muda tidak ikut serta dalam perayaan hari kasih sayang tersebut bukan langsung memfatwakan hukum keharaman valentin. Atau lebih baiknya lagi jika budaya tersebut dirubah menjadi budaya yang bernuansakan Islam sehingga peringatan tersebut menjadi lebih berfaidah.” Tutur Group Pro-Valentin’s Day dalam salah satu FGDM di salah satu Universitas dalam menanggapi Valentine’s day.

Pada dasarnya, menurut Ust. Zainal Arifin Al-Nganjuki, pada seminarnya di Aula Skodam (Rabu, 15 februari 2017, 12.20-14-30 WIB) Malang. Valentin diharamkan Karena :

  1. Ikut meramaikan tradisi yang bertentangan dengan akidah.
  2. Perbuatan sia-sia.
  3. Bukan budaya orang Islam.
  4. Memberikan peluang maksiat adalah

Sehingga menurutnya terdapat beberapa akibat dari perayaan hari tersebut, yakni:

  1. Perzinahan
  • Hamil diluar nikah
  • Bayi tak ber-ayah
  • Hilangnya cahaya iman dari wajah
  • Terasing dari daerah, mengkhianati keluarga
  • Kehilangan kesopanan
  • Minder / merasa bersalah / depresi dll
  1. Aqidah Rusak
  • Jauh dari Alloh S.W.T
  • Meremehkan dosa
  • Lemah keyakinan
  1. Hati Mati
  • Hatinya sering kemasukan barang haram

Suatu hukum tidak bisa diambil berdasarkan hawa nafsu seseorang sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. Al-Mukminun [23] : 71, dan QS. Al-Jatsiyah [45] : 18. Seperti hal-nya Valentin’s day (terlepas dari sejarah yang ada), dalam kegiatannya lebih banyak kearah hawa nafsu remaja, sehingga lebih banyak menmbulkan Mafsadah dari pada Maslahah.

Valentin’s day juga tidak bisa jika dicampur adukkan dengan hal yang bernuansakan islam seperti halnya ber-dzikir dan ber-istighastah bersama, Karena dalam Islam dilarang mencampuri hal yang Bathil dengan hal yang Haq, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah [2] : 42.

Jika yang disinggung adalah penggunaan dalil “man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum” yang tidak tepat hanya dengan alasan analogi banyaknya produk hasil peradaban orang non-Islam yang digunakan oleh orang Islam. Maka perlu diluruskan bahwa, hadist tersebut sangat tepat digunakan dalam konteks ini. Karena maksud dari hadist tersebut adalah untuk menjaga jati diri agama Islam itu sendiri, sehingga tidak bisa dibandingkan dengan produk hasil peradaban orang non-Islam seperti kalender Masehi, kendaraan bermotor dll. Karena analogi tersebut tidak berpengaruh terhadap jati diri Islam itu sendiri. Alloh S.W.T menjelaskan betapa pentingnya menjaga identitas atau jati diri umat Islam dalam firmannya QS. Ali Imran [3] : 64.

Islam sudah memberikan solusi terkait konflik hari kasih sayang tersebut, sehingga Islam punya acara sendiri untuk berkasih sayang, bukan meniru budaya yang menjadi identitas tersendiri dari non-Islam sebagaimana dalam QS. Al-Mujadilah [58] : 22. Selain itu islam juga tidak hanya membatasi ummatnya untuk berkasih sayang hanya pada tanggal 14 februari itu saja, melainkan setiap hari. Karena Islam merupakan agama Rahmatan Lil-‘Alamin, sehingga dalam perjalannya Islam memang sudah dibekali kasih sayang yang indah.

Jika yang dsindir masalah tolersansi umat beragama. Maka perlu juga diluruskan bahwa, toleransi bukan berarti ikut serta dalam perayaan budaya yang telah menjadi jati diri dari agama lain. Toleransi hanya untuk saling menghormati saja, sehingga menimbulkan kerukunan antar umat beragama. Semisal dalam perayaan hari raya natal, pantaskah jika ummat non-Nasrani ikut merayakan hari raya tersebut, sedangkan hari raya tersebut merupakan jati diri Nashrani?. Tugas toleransi hanyalah menghargai mereka (tidak melarang mereka dalam perayaan hari raya mereka).

Masalah dalil “innamal a’malu binniyah” juga tidak bisa digunakan sebagai alasan diperbolehkannya suatu hukum. Karena hukum dibuat untuk mencari suatu perkara yang Haq, demi kemaslahatan ummat. Sedangkan dalil tersebut hanya berlaku pada perindividu. Karena niat hati seseorang yang tahu dan memahami hanyalah orang tersebut dan dzat Al-Lathif. Sehingga pernyataan tersebut tidak dapat digunakan untuk memutuskan suatu hukum. Selain itu Valentin’s day lebih identik dengan pacaran, yang sudah jelas dalam hatinya tidak ada niat baik, Karena pacarana cenderung kearah hawa nafsu, dan seperti yang telah dikutipkan di atas bahwa tidak bisa hukum diambil berdasakna hawa nafsu. Sehingga sangat tidak Haq ketika dalil “innamal a’malu binniyah” dijadikan keputusa hukum.

Berdasarkan alasan itulah dapat disimpulkan bahwa keputusan MUI Jatim sangatlah tepat dalam memberikan fatwa terhadap umat Islam terkait Perayaan Valentin’s Day Bagi Ummat Islam. Karena masalah ini sudah banyak di bahas oleh para Ulama Salafus sholih (Ibnu Hajar, Al-Ghazali Al-Faks Al-Razi DLL), yang mana dalam ijtihad mereka adalah mengharamkan valentin’s day tersebut. Sehingga perkara ini tidak dapat ditolerin dengan hanya sekedar himbauan tanpa hukum untuk ummat Islam agar tidak ikut serta dalam perayaannya, atau mengganti budaya menjadi budaya yang bernuansakan Islam sebagaimana kaidah fiqhiyah yang berbunyi “darrul mafasid muqaddamu ‘alal jalbil masholih (menolak kerusakan harus didahulukan daripada menarik kemaslahatan)”.

Sikap tegas memang dibutuhkan dalam penentuan suatu hukum oleh Al-‘Alim Al-‘Allamah Al-Mujtahid fi biladina Indonesia walaupun sifatnya kontrofersial. Sehingga Ummat Islam Indonesia dapat berjalan lurus dalam agamanya. Tulisan ini hanyalah suatu tanggapan yang masih jauh dari kesemprnaan, sehingga dari kami pribadi selaku penulis memohon kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga tulisan ini menjadi lebih baik kedepannya.

Oleh : Sahabat Galileo

Sholawat Sumpah Pemuda “Zaman Now” Ala Gus Dur

PMII Galileo- Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, hampir seluruh kalangan pemuda merayakannya, tanpa terkecuali yang masih kanak-kanak, remaja, sudah agak lebih tua, ataupun lansia. Tapi maaf. Hari ini, saya tidak ikut merayakan hari sumpah pemuda. Bukan hanya karena sekarang akhir pekan, hingga aku sedemikian sibuknya, tidak! Merayakan saja tidak, apalagi aku harus bersumpah layaknya pemuda “Zaman Old” sama sekali tidak.

Sudah cukup saya saja yang demikian, kalian tidak perlu ikut-ikutan, Kalau perlu kalian yang belum sempat diminta diajak ataupun dipaksa untuk bersumpah, segera lah bersumpah pada waktu yang lalu, baik tahun lalu, dua tahun yang lalu ataupun beberapa tahun yang silam.

Diajak, diminta ataupun dipaksa? Saya masih yakin, kalian tidak akan bersumpah, jika tidak diajak ataupun tidak tidak dipaksa. Untuk itu saya memberi saran untuk berhenti lah, tidak perlu melanjutkan langkah kaki kalian ke tempat-tempat persumpahan, jika memang berat rasanya.

Saya saat ini yang sedang terasuki oleh sukma R.M Djoko Marsaid, Mohammad Yamin pun pada waktu lampau, sekitar 89 tahun yang lalu, sudah komitmen untuk tidak akan meminta para pemuda “zaman now” bersumpah sesuai naskah Sumpah Pemuda. Meminta saja tidak, apalagi memaksa kalian.

Saat ini, saya sedang berkumpul dengan para pemuda-pemudi di Surabaya. Saya tahu yang membedakan kalian dengan Yamin hanya terletak pada kata “now” dan “old”. Kamu dan teman-temanya adalah “zaman now”, sedangkan Yamin dan kawan-kawan, terhitung “Zaman Old”. Jadi, sumpahnya pun hanya oleh, dari dan untuk “zaman old”.

Tapi, tunggu sebentar.

Pada perayaan sumpah pemuda kali ini, sudahkah kalian mengirim ataupun melantunkan hadiah surat al-Fatihah kepada Yamin dan kawan-kawan, termasuk Djoko Marsaid? Jika belum, Segera Anda mengirim hadiah tersebut. Hitung-hitung menjaga ingatan kalian pada tokoh-tokoh yang sudah mengabdikan diri pada agama, bangsa dan negara.

Saya tahu, pada momen yang maha spesial ini, hari sumpah pemuda yang sekaligus weekend, pasti kalian sedang nongkrong ataupun bermajelis, sambil membicarakan tentang sumpah pemuda. Gosipin orang-orang Belanda, menjungjung-junjung Yamin dan kawan-kawannya lah, yang akan berujung pada kegelisahan kalian para pemuda “zaman now”. Ya, jika dugaanku salah, maka bersedih dan menangislah, sebab kalian (mungkin) telah lupa pada seluruh unsur-unsur yang ada pada sumpah pemuda, baik tanggalnya, tokohnya, peristiwanya atau bahkan isinya.

Bagi kalian yang sedang nongkrong dan membicarakan sumpah pemuda. Nanti, dipengujung nongkrong ataupun majelis, kalian boleh sendiri ataupun berkelompok untuk ber-tawassul, itupun jika kalian bisa ilahadratin-blablabla. Jika tidak bisa, ya no problem.

Apalagi jika tak mampu bersumpah, maka bershalawat lah dengan mengenang karya ataupun isi naskah sumpah pemuda. Dan jika kalian, masih sulit untuk mencari nada (tempo) yang enak dan gurih. Maka, saya sarankan memakai nada ala-syiir tanpo waton (Gus Dur). Jika masih sulit menyatukan isi sumpah pemuda dengan nada Gus Dur, maka kalian bisa menggunakan nada apapun, yang biasanya kalian gunakan saat bershalawat, yang terpenting ada lirik khas sumpah pemuda.

Saya tahu, pemuda “zaman now” suka yang instan (tidak mau ribet). Dan saya pun tahu, bersumpah ini menegangkan, secara formal pun berat untuk diamalkan. Maka dari itu, jika berat untuk bersumpah, maka bershalawatlah, toh masih sama-sama mengeluarkan kalimat-kalimat sumpah pemuda. Cuman bedanya terletak media atau caranya saja, isinya sama.

Terus jika bersumpah berkesan simbolik kalau kalian gagah dan berani di hadapan manusia lainnya, namun jika bersholawat tidak hanya disaksikan oleh manusia, diperuntukkan kepada manusia tetapi juga disaksikan dan diperuntukkan kepada Allah SWT, ataupun Tuhan kalian masing-masing. Bagaimana? Lebih keren kan tidak! Minimal, pemuda “zaman now” juga bisa berkarya.

Loh, betulkah?

Menurut kalian Sumpah Pemuda yang dicetuskan oleh Yamin seperjuangan adalah karya (produk), hasil dari “zaman old”?

Saya tidak yakin dan tidak setuju ya. Sebelum menjawab itu, saya mau memberikan analogi untuk menjawabnya sebab mendasar dari seseorang sakit maag adalah tidak makan. Dan sebab tidak makan karena tidak punya uang ataupun miskin. Tapi apakah penyakiat maag juga berlaku bagi orang kaya?

Sekelumit analogi itu, menjadi pengantar untuk menjawab bahwa saya tidak setuju. Awalnya memang, saya kira setiap karya adalah hasil. Tapi, kalau diselami lebih dalam lagi, ternyata karya adalah sebab. Ya menjadi sebab bagi pemuda zaman now untuk tetap berkarya kebaikan, kemajuan dan kemuliaan agama, bangsa dan negara.

Ah sudahlah!

Kurang begitu penting juga kita memperdebatkan soal karya adalah hasih ataupun sebab. Apalagi sampai debat kusir. Sangatlah tidak penting, meskipun itu tetap manusiawi.

Dan saya pun masih tetap yakin, bahwa Yamin dan seperjuangan juga memikirkan kehidupan-kehidupan pemuda di masa yang akan datang, kirakira seperti kehidupan generasi muda Indonesia zaman now yang sangat susah, sulit dan beratnya minta ampun, jika diminta diajak atau bahkan dipaksa untuk berkarya. Berkarya sajalah, tanpa perlu membingungkan diri, mau karyanya bersifat sebab ataupun bersifat hasil.

Ah sudahlah,

Zaman now, zaman now

Lebih baik aku berseru kepada Djoko Marsaid, untuk segera kembali ke alamnya masing-masing, dan melanjutkan bersholawat sumpah pemuda dengan nada ala-syiir tanpo waton.

Tumpah darah satu,

Tanah air Indonesia.

Bangsa yang satu,

Bangsa Indonesia.

Bahasa persatuan,

Bahasa Indonesia

(Itulah naskah, dari Sumpah Pemuda) 2x

Surabaya, 28 Oktober 2017

Bung Sokran

Penulis: Bung Sokran (Citizen Warta Pergerakan)

Mengungkap Tabir Saiful Mujani Sang Pengkhianat Intelektual

PMII Galileo – Banyak bahwa yang menyimpulkan pollster di Indonesia berperilaku khianat sudah menjadi pengetahuan publik. Mereka pun menjual integritas intelektual demi memenangkan sebuah kompetisi klien yang dibayar oleh polling mereka yang dilakukannya. SMRC adalah salah satu pollster pertama di masa reformasi, pecahan dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang didirikan oleh Bill Liddle dengan murid-murid Indonesianya di Ohio University. LSI berdiri 2003 dengan menggunakan dana bantuan Jepang, di masa pemerintahan Megawati.

SMRC adalah wujud kongkrit dari penentangan itu. SMRC ingin mewujudkan tujuan LSI yang sesungguhnya. Apa lacur, SMRC ternyata jatuh ke lubang kenistaan yang sama.LSI semula dimaksudkan untuk mengembangkan demokrasi, namun uang trilyunan dalam pemilu telah membuyarkan cita-cita itu. Seorang pendiri melihat mudahnya meraup uang melalui pengarahan opini publik yang percaya kepada integritas peneliti politik (pollster). Public opinion mengarahkan dengan mencetak pola yang berlawanan dengan realitas yang disebut framing adalah pekerjaan khianat yang dilakukan dengan mengundang penentang dari pendiri LSI lainnya.

Pendiri SMRC Saiful Mujani, mengupload dokumen hoax yang menyatakan Anies-Sandi menandatangani dokumen perjanjian akan menjadikan Jakarta sebagai kota syariah. Pemilik dari perusahaan  polling  yang  dikontrak  langsung oleh Ahok, seharusnya Saiful membantu Ahok melalui keahliannya. Saiful menghancurkan kredibilitas intelektualnya dengan meluncurkan hoax itu. Ia pun menjual integritas  ilmiahnya yang melekat pada pollster yang dilakukannya, demi mendapatkan nilai rupiah.

Perilaku ini berlanjut di tahapan kedua pilkada DKI ketika SMRC merelease hasil survei bahwa “Anies hanya unggul kurang dari 1%”. Pada kenyataannya Anies unggul landslide, hampir 20%. Menurut pollster profesional selisih yang demikian besar itu merupakan aib dan tidak memungkinkan terjadi apabila survei dikerjakan dengan memakai prosedur ilmiah. Hasil itu hanya bisa terjadi bila prinsip-prinsip ilmiah sudah tak diginakan lagi dan pollster bekerja menurut standar politik belaka.

Sangat lah cenderung sebuah politik yang sama-sama terjadi dalam dua polling terakhir yang dikerjakan oleh SMRC. Pada tanggal 29 September 2017, SMRC mengumumkan bahwa pendukung Prabowo, PKS dan Gerindra telah memobilisir anak-anak muda untuk percaya bahwa “PKI akan bangkit”. Hasil analisis SMRC dipenuhi  ekstrapolasi , simplifikasi dan interpolasi, yang pada akhirnya membuahkan sulapan kesimpulan jauh dari standar ilmiah. (Saya tidak perlu menguraikan di sini soal itu, mungkin dalam tulisan terpisah). Kemudian pada tanggal 5 Oktober 2017 SMRC merelease lagi hasil surveinya yang mengatakan bahwa elektabilitas Jokowi mencapai 38,9% sementara Prabowo hanya 12%. Terdapat selisih lebih dari 200%, dimana logikanya?

Selama ini dan seperti diketahui Jokowi belum mengukir kinerja apapun, semua proyek-proyeknya sampai saat ini belum ada yang kelar. Sementara itu ia terus dijatuhin oleh kritik dan keluhan publik berkenaan dengan penumpukan utang yang luar biasa, investasi Cina tanpa lapangan kerja, kenaikan harga energi, penghapusan subsidi, ekonomi melambat, penurunan daya beli dst. Di sisi politik, partai yang dipetugasi Jokowi kalah di banyak pilkada yang dulu dikuasainya seperti Jakarta dan Banten. Di Jateng yang selama ini dikenal sebagai kandang banteng, calon-calon PDIP berguguran seperti laron menyerbu api lilin.

Di dalam situasi seperti itu darimana rasionalnya Prabowo yang hanya selisih 4% dari Jokowi pada tahun 2014 kok sekarang ambrol menjadi berselisih lebih dari 200% ?

Alasan apapun diberikan Saiful Mujani tidak akan meyakinkan. Penjelasan paling meyakinkan hanyalah bahwa Saiful Mujani sedang menjalankan lagi pekerjaan khianatnya yaitu menipu rakyat melalui polling. Ia telah dibayar untuk membangun opini publik (framing) bahwa “Prabowo adalah pengusung radikalisme yang telah memobilisasi orang-orang muda dengan isu itu untuk menyerang pemerintah.” Sebaliknya, Jokowi adalah politikus yang dicintai rakyat dengan elektabilitas 3 kali lipat pesaing terdekatnya.

Sangat memprihatinkan. Dulu mengaum seperti singa. Ternyata kamu hanya serigala berbulu domba.

Oleh: Radhar Tribaskoro (Citizen Warta Pergerakan)

Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

PMII Galileo – Cara  untuk  meyakinkan dugaan atau hipotetis tentang tingkat keterpilihan Bakal Calon (Balon)/Calon dalam pemilihan seperti Pemilihan Presiden (Pilpres) atau Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dengan melakukan survei opini publik terhadap elektabilitas para Balon/Calon.

Di acara Rapimnas Partai Golkar, Mei 2017 Balikpapan, Kalitim. Menko Maritim Luhut B. Panjaitan  menyatakan tanpa Sumber bahwa elektabilitas Jokowi saat ini masih di atas 50 persen. Lebih besar dibandingkan dengan elektabilitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Prabowo dan Megawati.Untuk kasus Jokowi sebagai Balon pada Pilpres tahun 2019 mendatang, sudah mulai dibicarakan di publik berdasarkan hasil survei opini publik. Sebagai  incumbent/petahana, Jokowi dalam pandangan lembaga survei umumnya  memperlihatkan penurunan elektabilitasnya. Sehingga bisa  disimpulkan bahwa kemungkinan besar Jokowi bisa memenangkan persaingan pada Pilpres 2019 semakin sulit dan harapankecil.

Litbang Kompas adakan survei berkala pada Januari hingga April 2017. Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan elektabilitas Jokowi mencapai  41,6 persen.

Pada 14-20 Mei 2017, bulan sama dengan pernyataan Luhut B. Panjaitan waktu di acara Golkar,  SMRC mengadakan surveipublic opinion. Hasil survei tersebut menperlihatkan elektabilitas Jokowi mencapai hingga 34,1%.

Pada 23-30 Agustus  2017 CSIS lakukan survei. Hasil survei menunjukkan  elektabilitas Jokowi cukup tinggi, yakni  50,9%,

Selanjutnya, Lembaga Media Survei Nasional (Median) merilis hasil survei 14-22  September 2017,  Hasil survei menunjukkan, elektabilitas Jokowi 36,2 persen. Namun di sisi lain dari pihak SMRC mengumumkan angka lebih besar, yaitu elektabilitas Jokowi mencapai 38,9%. Angka ini naik lebih besar dibandingkan hasil survei SMRC sebelumnya elektabilitas Jokowi mencapai 34,1%.

Sejumlah data elektabilitas yang sudah tertera di atas, dapat kita simpulkan bahwa penurunan elektabilitas Jokowi mencapai di bawah 40% dan mendekati di bawah 35% dari tingkat elektabilitas sebelumnya, di atas 50%. Jika ditarik rata-rata dari angka seluruh lembaga survei di atas, tetap mengalami penurunan, yakni rata-rata sekitar 40%. Lembaga survey membandingkan Jokowi sebagai petahana dengan tokoh bukan petahana, bahkan belum secara resmi menyatakan diri akan maju sebagai calon Presiden (Capres) pada Pilpres 2019. Sebagai Petahana elektabilitas Jokowi kini hanya sekitar 40%, jauh di bawah perolehan suara Jokowi pada Pilpres 2014, di atas 50%. Sangat tepat jika ada pendapat, semua calon Presiden seperti Gatot N, Prabowo, bahkan SBY memiliki peluang yang sama dengan Jokowi untuk memenangkan kompetisi pada Pilpres tahun 2019.

Intinya, tidak terdapat indikasi peningkatan elektabilitas Jokowi, bahkan dari bulan ke bulan tahun 2017 ini terus merosot. Waktu tinggal sekitar 1,5 tahun lagi bagi Jokowi untuk hentikan penurunan elektabilitas dirinya.  Kondisi Jokowi ini tanpa kegiatan promosi dan kampanye pesaing atau kompetitor atau Tim Sukses, Relawan dan Partai pendukung. Baru Jokowi seorang telah mendapatkan dukungan resmi dari Partai PKB, Golkar, Hanura, Nasdem, PPP dll. Ternyata dukungan resmi Parpol-parpol tersebut, tak usah meningkatkan elektabilitas Jokowi, mempertahankan agar tidak menurun pun tak sanggup.

 Penurunan elektabilitas Jokowi ini tentu disebabkan berbagai faktor, terutama rakyat umat Islam politik dan kelas menengah perkotaan, bukan tokoh  pesaing individual sebagai Balon.

Angka elektabilitas Jokowi menurun itu semua bermakna semakin berkurang kemungkinan Jokowi akan menang pada Pilpres tahun 2019. Kecenderungan menurunnya elektabilitas Jokowi ini akan terus mengambil tempat sepanjang kebijakan-kebijakan Jokowi tidak mengutamakan aspirasi dan kepentingan terutama Umat Islam politik dan kelas menengah perkotaan.

Ada asumsi bahwa elektabilitas calon incumbent atau petahana harus di atas  60%. Jokowi harus memiliki tingkat elektabilitas di atas 60%. Sebab, dalam berbagai pertarungan pemilu ketat, perolehan  suara calon petahana berada di bawah tingkat elektabilitas hasil survei. Dalam Pilpres 2009, SBY-Boediono meraup 60,8% suara. Perolehan  ini jauh di bawah hasil survei opini publik  menempatkan SBY-Boediono sebagai pemenang pemilu dengan tingkat elektabilitas 71%. Hal ini juga berlaku pada  Pilkada  DKI Jakarta 2017. Pasangan Incumbent Ahok-Djarot menurut sejumlah rilis survei opini publik, tingkat elektabilitas mereka  hingga 56%,  hanya mampu meraih 42,99% suara dalam putaran pertama dan 42,04% suara pada putaran kedua.

Angka elektabilitas Jokowi cenderung kemungkinan besar bisa menurun dan menjauh dari zona amannya dengan angka elektabilitas mencapai 60%.

Jika asumsi dasar ini diterima, adalah sangat sukar  bagi Jokowi untuk memenangkan pertarungan perebutan kekuasaan negara pada  Pilpres 2019 mendatang.

apa cara pemecahan masalah (solusi) trend penurunan elektabilitas Jokowi ini agar bisa menaik dan mencapai batas aman untuk memenangkan Pilpres 2019?

Cara pemecahan utama, sangat menentukan, menggunakan  level analisis Parpol sebagai aktor mempengaruhi perilaku pemilih. PDIP sebagai Parpol peserta pemilu  harus segera menyatakan secara resmi  dukungan terhadap Jokowi untuk maju lagi sebagai Capres  pada Pilpres 2019. PDIP harus mengambil posisi di mata publik  sebagai “Lead Party“, Parpol Pemimpin, jangan beri ke Parpol lain yang tidak memiliki akar sosiologis dengan Jokowi seperti Golkar. Setelah adakan  pernyataan resmi, lalu PDIP lakukan konsolidasi internal penguatan mesin Parpol untuk mempromosikan dan mengkampanyekan Jokowi di tengah-tengah masyarakat pemilih. Tentu saja, mesin Parpol ini akan terkendala dengan kepentingan Pemilu legislatif yang waktu  bersamaan dengan Pilpres 2019.

Untuk mendapatkan dukungan sebagian umat Islam politik, Jokowi sudah mulai memberi tanda kepada publik, Calon Wapres dirinya dari Tokoh atau Ulama umat Islam seperti Jusuf Kalla saat Pilpres 2014. Siapa Tokoh atau Ulama dimaksud, satu kriteria Tokoh itu memiliki basis massa atau organisasi masyarakat umat Islam atau didukung berat para Parpol Islam. Dari segi momentum memang terlambat, tapi Jokowi harus coba untuk pemenan Pilpres 2019. Sudah saatnya Jokowi berpikir rasional untuk perolehan suara pemilih sebanyak mungkin. Semua kebijakan pemerintah membuat umat Islam dan kelas menengah perkotaan antipati dan penurunan elektabilitas harus diminimalkan. Jangan terus lakukan politik pembiaran yang membuat persepsi masyarakat negatif meningkat dan meluas. Waktu hanya sekitar 1,5 tahun lagi!

Oleh: Muchtar Effendi Harahap (Peneliti NSEAS)