Agenda

Teruntuk ibu kartini

Duhai ibu bangsa, bagaimana kabar Engkau hari ini?

Semoga Engkau selalu dalam keadaan baik selamanya.
Ibu ku, Panutan ku. Aku ingin bernostalgia dengan mu.
Ku ingin merefresh kembali segala seluk beluk tentang engkau
Dulu engkau lah penyelamat kami hingga kami mampu berdiri diatas negara ini.
Dulu engkau adalah obor kami yang selalu menyala, membara tak kunjung padam.
Dulu engkau adalah teladan kami, guru kami.
Tanpa kehadiran engkau, mungkin kami hanyalah sebuah cangkang belaka.
Engkau bagaikan pelita untuk kami kaum wanita.
Andai aku bisa berada dalam satu ruang dengan engkau
Ingin ku abadikan selalu dalam benak setiap gerak gerik mu
Namun, apa lah daya diri ini yang ditakdirkan di masa ini.
Meskipun begitu, aku masih bersyukur bisa mengenalmu melalui angan.
Bagiku, kehadiran mu dulu ataupun sekarang tidak ada bedanya.
Karena engkau telah melekat pada jiwa kami, wanita Indonesia.
Dan di Hari Kartini ini, aku telah melihat begitu banyak wanita Indonesia yang telah merapatkan barisan untuk melangkah ke depan menuju alam yang lebih luas nan benderang tak terkecuali aku.
Terimakasih ibu ku yang telah mewariskan segudang impian dan bara api untuk kami wanita Indonesia.

Salam
Wanita Kartini

Malang, 27 april 2018

Kontributor : sahabati luailik madaniyah

Sumber gambar : https://goo.gl/images/W4D2Gd

Kopri

PEREMPUAN

Perempuan ada bukan tanpa alasan

Jasa mereka tak hanya ‘tuk dikenang

Yang mereka perjuangkan adalah cahaya masa depan

Tangan mereka lahirkan peradaban

Dengan mereka dunia ‘kan alami perubahan

Namun sayang,

Terlalu rapuh perempuan seakan pesuruh

Perlahan tangan halus itu kian  melepuh

Tak lagi bisa tegas bersikap

Apalagi memaksakan pendapat

Perempuan seakan hilang dari peradaban

Bungkam,

Diam yang tak beralasan

Enggan berjuang,

Enggan bergerak, seakan terkekang,

Kemanakah hakikat ketangguhan perempuan?

Mengapa kini harus dipertanyakan?

Tidakkah peradaban rindu sosok kartini lahir kembali,

atau paling tidak,

Mahatma Gandhi bangkit, dalam pribadi perempan masa kini

Kemanakah perempuan masa kini?

Haruskah diam menjadi pilihan?

Lantas, masih adakah esensi pergerakan dalam diri perempuan masa kini?

Tanyakan itu!

Dan berikan jawaban terbaik bagi bangsa,

Karena perempuan penentu masa depan bangsa kelak.

 

Nb: Spesial teruntuk Harlah KOPRI ke-50, ^^

Malang, 05 Desember 2017

23:40

Sahabati Nuril Q.

Hari Pahlawan

Dunia Rasa Maya

Nadi kaki kiri berdiri
Lima meter ranah merah darah

Delapan santapan senapan

Kau korban kedalaman kesatuan 

Kau korban kedalaman kekuatan

Kau korban kedalaman pertahanan

Tahan abdi kapanpun dinanti

Tahan gigi kapanpun jerit hati

Tahan kasih kapanpun menitih

Engkau belum disini…

Dor…dor dor dor dor…

Masamu tak lagi ini, bukan tidak seperti ini

Masamu lebih dari ini, tidak harus seperti ini

Pertahanan tak sekedar dunia, nyata bersama maya

Kekuatanmu tak sekedar dunia, merona bersama maya

Dunia maya tak sekedar dunia, dunia maya bukan sandaran pahlawan

Dunia maya tak sekedar batas pena, dunia maya bukan sekedar gerakan

Gerakan menawan  meski tanganmu dan  batuanmu dihantam

Gerkan ketahanan meski hatimu dan kakimu berlawanan
Oleh : Sahabat Devi Kartika R

Kota tak dingin lagi, 08 Nopember 2017

Hari Pahlawan

Apa Kabar Negeriku, Hari Ini?

Ada yang hilang dari negeriku
Perkara se-abad lalu

Ada yang hilang dari negeriku

Pasal suara di masa lalu

Yang bergejolak hanya cuap belaka 

Tanpa aksi dan gerakan nyata

Berderap namun tak melangkah

Bergerak namun tanpa arah

Yang terkenang hanya jasa

JASMERAH,

Sebatas akronim tak bernyawa

Tak ada lagi pemikir perkasa 

Pembawa pencerahan bagi bangsa

Ada yang hilang dari negeriku

Perkara se-abad lalu

Semangat juang yang membara

Meredup, tertiup angin senja

Apa kabar negeriku, hari ini?

Akankah yang hilang kan kembali?

Atau hanya menjadi imaji

Pelengkap dongeng tentang negeriku ini
Oleh : Sahabat Nuril Qomariyah

Hari Pahlawan

Jangan panggil aku pahlawan!! 

Darahku tumpah tanpa celah
Badanku remuk tak peduli bentuk

Hidupku hancur mengucur lebur

Kepingan ketiganya hilang ditelan tanah
Dahulu kala,  aku berjuang

Tinggalkan senyuman yang biasa mengembang

Lupakan keluarga,  lupakan sanak saudara

Hingga tak ingat apa itu hidup bahagia 
Dan kini,  kalian malah sibuk dengan benda kotak itu

Memerdekaan apa saja yang katanya harus merdeka

Dengan dua jari jempolmu yang terus saja berlomba 

Menjadi siapa yang paling banyak di suka
Aku sampai bingung apa mau kalian?

Yang terus saja bermanja dengan berita-berita bohong yang meraja lela

Yang terus saja tidur disamping kemalasan yang membahana

Yang terus saja bersujud kepada ia yang tak tau siapa namanya
Wahai anak muda!! 

Jangan kenang aku jika hanya untuk bernyanyi merdu

Jangan sebut namaku,  bila untuk disematkan digedung besarmu itu

Jangan fikirkan aku,  bila hanya kau kutip ucapanku

Dan jangan panggil aku lagi,  jika negaramu tak lagi merdeka!! 
Malam tak lagi dingin 

10 November 2017

Oleh : Sahabat WNA.red

Hari Pahlawan

Pahlawan (Puisi Normatif)

Maafkan kami ibu pertiwi

Maafkan jika kau tak lagi berseri

Karena hari ini kami masih disini

Tak kunjung beranjak menggapai mimpi

Dulu kau tersakiti dan terdholimi

Oleh penjajah yang menduduki

Meronta-ronta bersimbah darah

Tetes air mata yang teramat perih

Kau lahirkan generasi gagah berani

Dengan semangat juang berapi-api

Untuk menumpas, mengusir penjajahan

Menggapai Makmur dengan kemerdekaan

Mereka lahir dengan tangisan

Mereka berjuang dengan rintihan

Jiwa dan raga mereka kobarkan

Maka mati dengan senyuman

Generasi kami menyebutnya pahlawan

Karena jasa yang tak ternilai harganya

Untaian doa yang kami haturkan

Tak mampu membalas semua jasanya

 

Kami sadar kami generasi yang kuat

Karena terlahir dari moyang yang hebat

Walaupun ibu pertiwi sudah terlepas jerat

Namun, langkahnya masih tersendat-sendat

Kami lalai dan kami angkuh

Seringkali terlena dengan budaya baru

Sampai kami tak lagi mengenal siapa kamu

Karena, sejarah pun banyak yang acuh

Sudah saatnya generasi muda untuk berkarya

Memperkuat bangsa mencapai cita-cita

Bukan sekedar mengikuti globalisasi yang melanda

Mari kita bangkit menjadi pelopor dunia

Terlalu naif kita bersuara

Suara lantang yang tak ada guna

Karena semua sudah tak nyata

Gerakan normatif hastag belaka

Izinkan kami berbenah diri

Menapaki dunia percaya diri

Bukannya murka untuk menguasai bumi

Tapi kami mampu dengan kaki sendiri

Bangkitlah sahabat

Rangkul semua golongan

Menuju Indonesia hebat

Lanjutkan perjuangan para pahlawan

 

Oleh : Sahabat Masyhadil aini