Sambutan Ketua Rayon “Pencerahan” Galileo 2017-2018 (Ahmad Qomaruddin) 

 

Assalamualaikum warahmatullahi  wabarakatuh

Salam Pergerakan!!!

Yang terhormat  PB pergerakan mahasiswa islam Indonesia

Yang terhormat  PKC pergerakan mahasiswa islam Indonesia

Yang terhormat  PC pergerakan mahasiswa islam Indonesia

Yang terhormat  Pengurus Komisariat sunan ampel  malang

Yang  terhormat segenap  keluarga besar PMII rayon pencerahan Galileo fakultas sains dan teknologi  UIN maulana malik Ibrahim malang.
Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad saw. Sang revolusioner pergerakan ummat,sang putra penyantun Abdullah yang  memprakarsai  dinamika dan perubahan besar di muka bumi ini, sehingga kita bisa  berhijrah dari zaman kedunguan moral jahiliyah menuju  kesantunan dan kesempurnaan panji agama islam.

Mahasiswa adalah salah satu garda terdepan dalam menentukan arah perubahan  suatu bangsa,oleh karena itu marilah kita menyingsingkan lengan,merapatkan barisan dalam mensukseskan visi dan misi para leluhur kita yang  telah mengorbankan jiwa dan raganya demi kemerdekaan kita, mustahil perubahan itu kita raih,jika kita hanya diam.maka bergeraklah sahabat, saya malu ketika entah kapan di pertemukan dengan para pejuang kemerdekaan dan melihat kaum muda pada hari ini hanya jadi pendiam.

Pergerakan mahasiswa islam indonesia adalah organisasi yang menjadi  wadah bagi kaum muda ber label  mahasiswa untuk berproses menjadi orang-orang pejuang ,pembela dan pengabdi masyarakat.mulai dari di dirikanya tahun 1960 PMII telah menjadi salah satu organisasi mahasiswa islam ber haluan ahlusunnah wal jamaah  terbesar dan di perhitungkan, akan tetapi  kita jangan hanya terlena sahabat , lebih dari itu kita harus  tetap menjadi pembela banga penegak agama .

Sahabat-sahabati yang kami banggakan, setiap pertemuan pastilah berakhir dengan perpisahan,setiap perpisahan pastilah meninggalkan kenangan, setiap kenangan pastilah memunculkan kerinduan, maka karena kerinduanlah  timbul hasyrat mengulang kisah satu tahun silam,dimana sahabat-sahabati ang katan 2014 memberi kami bimbingan-bimbingan hingga  tibalah  saatnya masa kami memegang tongkat estafet kepemimpinan.

Sahabat sahabati angkatan 2016 juga 2017 yang kami banggakan,jika memang keberhasilan itu bisa di tukar dengan perhiasan,maka akan kami tukar dengan intan dan berlian,akan tetapi semua itu hanya angan-angan,usaha keraslah yang bisa kami berikan,menjadi suri tauladan yang bisa kami contohkan,dedikasi tinggi yang bisa kami beri,dan bermunajat kepada sang kholik agar kalian menjadi baik dan lebih baik.

Tetaplah berdzikir,berfikir  dan beramal sholeh melalui media taqwa intelektual dan professional guna terciptanya kebenaran ,kejujuran dan keadilan.

“Jadilah kamu orang yang  saat dilahirkan semua orang  tersenyum sedangkan kamu sendiri menangis dan di saat ajal menjemput semua orang menangis dan kamu sendiri tersenyum

Salam pergerakan,,,,,,,!!!

Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thoriq

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
Ketua PMII rayon pencerahan Galileo periode 2017-2018
Ahmad Qomaruddin

Open House PMII Rayon “Pencerahan” Galileo

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

*Bersemilah bersemilah kader PMII. Tumbuh subur tumbuh subuh kader PMII*

Kepengurusan terus berjalan, langkah demi langkah dijalankan hingga akhirnya saatnya mencari penerus perjuangan masa depan galileo.

Kalimat tanya berpadu tanda seru seakan mewarnai jiwa para maba saintek 2016 tentang pmii galileo yang eksak. Rasa penasaran akan PMII dan karya dari kader Galileo terutama yang masih bimbang gabung pmii.

Dengan adanya rasa bimbang, penasaran serta keingin tahuan mahasiswa baru saintek 2016 terhadap PMII Rayon Pencerahan Galileo melatar belakangi acara *open house PMII Galileo dan launching buku “PMII Dalam Bingkai Eksakta* yang dilaksanakan di tangga besar Uin Malang yang dihadiri para kader dan Mahasiswa Baru, sahabat pasca rayon di malang serta sahabat heksa turut memeriahkan acara perdana rayon tersebut. Acara ini diawali dengan pembacaan Sholawat al-Banjari, kemudian dilanjut dengan sambutan pak ketapel, lalu sambutan Sahabat Junaidi selaku Ketua Rayon masa khidmat 2016-2017, dan ketua komisariat membuka acara open house dan launching buku ini. Setelah itu, di lanjutkan dengan acara open house yaitu calon sahabat/i diperkenalkan dengan ke-PMII-an, pengenalan setiap Biro, Badan Otonom dan LSO serta apa yang ada di dalamnya yang dimana bukan sekedar menawarkan organisasi namun terdapat saintis, agamis, bakat minat, softskill serta apalah yang dibutuhkan calon sahabat/i galileo tersebut.

Setelah masing Biro, Lso, Badan Otonom memperkenalkan, dilanjutkan dengan launching buku pmii dalam bingkai eksakta yang menjadi nilai jual tersendiri bagi kader PMII yang bukan hanya sekedar retorika tak berujung namun hasil karya pasti yang dihasilkan para kader PMII Galileo. Dimulai dari pelepasan balon di lanjut dengan talkshow bersama penulis mengenai isi dari dalam buku tersebut. Sampai tiba akhir acara dengan penutupan dilanjut foto bareng peserta, penulis dan pengurus dengan disertai alunan lagu rindu sahabat menandai berakhirnya acara perjumpaan kita kali ini.

Jangan pernah ragu gabung PMII. See you in Mapaba !!! Kusambut kalian sebagai sahabat

Sekian dan terimakasih

Wallahu muafiq ila aqwamith thoriq

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhh

 

 


Kontributor: Sahabat Hubaib (Teropong 2016)

Kri-tikus (yang) Kekinian

Selamat malam para pecandu kopi, selamat bermanja ria dengan cangkir kopimu dan semoga kemesraan itu selalu ada. Malam yang dingin untuk wilayah Malang, pun dengan bersandang tebal khas pakaian musim dingin. Kembali penulis ingatkan, segerakan me-ngopi-mu untuk bisa menikmati hal-hal yang dialektis nan cerdik.

Ingatkah kita dengan polemik-polemik persepakbolaan, lingkungan, akademik, dan kesejahteraan rakyat di Negeri ini ? Baiklah, penulis akan menspesifikkan lagi. Ingatkah kita dengan polemik PSSI, pembakaran hutan, akademisi yang ter-dropout, dan hal yang menimpa rakyat pada sisi kesejahteraannya ? Tentu hal tersebut menjadi sebuah refleksi bagi kita akan polarisasi hidup di Tanah Air ini.

shutterstock_98504012

Kali ini penulis akan sedikit bersubyektifitas tentang hal yang mendasar mengenai tabiat kita, yakni kritik-mengkritik. Bukan mengenai tinjauan dari perspektif ini – itu, namun hanya dari subyektifitas penulis yang berupaya untuk obyektif. Pada dasarnya, tentu kita mengetahui apa yang dimaksud daripada kritik itu sendiri, entah dalam segi pemaknaan pribadi atau segi teoritisnya.

Mengenai kritik-mengkritik, tentu sebagian manusia di Negeri ini sudah pernah melakukannya disadari atau tidak. Entah mengkritisi pribadi atau karakter seseorang, mengkritisi keputusan dan tindak laku seseorang, atau bahkan mengkritisi organ kommunal. Lagi-lagi itu semua berdasarkan pandangan subyektif dari sudut pengkritisi saja. Karena sebelumnya sama-sama kita sadari, bahwa dizaman (yang katanya) demokrasi ini semua pihak berhak menyuarakan aspirasi atau argumennya asalkan tetap memenuhi standart etika publik. Tidak dapat dipungkiri pula, mengkritik itu tidak harus memiliki syarat kecerdasan atau bidang tertentu.

Adalah sebuah media yang menjadi penunjang utama sarana kritik pada era kekinian. Karena, hampir semua elemen masyarakat sudah mahir untuk menggunakan gadget dan mengaplikasikan media yang ada. Pun juga kecerdasan masyarakat sudah mengalami peningkatan dalam segi kritik mengkritik. Bahkan pada saat ini, hampir susah membedakan antara kritikan dan hujatan. Lalu, yang menjadi kritikan kekinian itu seperti apa ?

Diera saat ini, kritikan yang bernada hujatan, kritikan yang mengandung hujatan, hujatan yang sejatinya mengkritik, kritikan yang murni untuk menghujat, dan kritikan yang benar untuk mengkritik, semuanya menjadi hal yang kekinian. Padahal, tentunya kita sadar tujuan dari mengkritik itu sendiri adalah sebagai pengingat dan evaluasi bagi si dia atau kita yang menerima kritik agar dapat menjadi yang lebih baik. Namun, realita yang penulis tangkap adalah dua hal yang penulis anggap sebagai substansi daripada mengkritik saat ini, yaitu :

Pertama, pengkritik yang hanya menilai atau mengkritisi saja tanpa dibarengi dengan solusi dan tindak nyata bagi dirinya sendiri. Mengapa demikan ? Tentunya kita harus sadar bahwa mengkritik yang secara tidak langsung adalah bertujuan agar kita juga berkaca / berintrospeksi diri, yang kemudian hal penting daripada mengkritik adalah memunculkan solusi atau rekomendasi atau saran bagi seseorang yang kita kritik agar dia dapat menilai sejauh mana pribadi atau tindak lakunya sampai bisa menimbulkan kritik dan penilaian bagi dirinya.

Kedua, pengkritik yang menilai atau mengkritisi dengan dibarengi solusi dan tindak nyata bagi dirinya sendiri. Ini adalah hal kedua yang penulis anggap sebagai substansi dari mengkritisi saat ini. Bahwa setidaknya perlu kita ketahui bersama bahwa tidak hanya mengkritik, namun juga memberi solusi. Itulah esensinya. Banyak daripada kita yang panjang lebar mengkritisi ini – itu dan sana – sini, namun kita melupakan unsur solusi yang kemudian itu kita berlakukan bagi diri kita sendiri. Kesemua itu kemudian harus ditarik lagi pada diri pribadi agar esensi dari kritik-mengkritisi dapat berlaku bagi si pengkritik, atau bahasa sederhananya “kita mengkritik, maka sejatinya kita juga dikritisi”.

Setidaknya, dari kedua hal tersebut kita semua dapat menyadari bahwa kritik-mengkritisi juga terdapat nilai tanggung jawab bagi diri. Negara kita tidak akan maju, tanpa ada sebuah dan banyak kritik daripada pengamatnya (masyarakat). Tentu penulis sepakat, bahwa tiada manusia yang menyempurnakan diri tanpa suatu kritikan. Pun dengan Baginda Rasulullah SAW, bahwa Beliau pernah dikritisi oleh Allah SWT. Dan satu hal lagi, bahwa penulis sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Walikota Bandung;

Negeri ini butuh banyak pemuda pencari solusi, bukan pemuda pemaki-maki.”

Dari hal tersebut, penulis harap kita semua dapat mengambil suatu pelajaran dan hikmah dari apa yang kita sebut sebagai kritik-mengkritisi. Juga sekali lagi penulis mengingatkan, bahwa tulisan ini hanya suatu subyektifitas penulis saja. Maka apabila terdapat suatu hal yang kurang sesuai, mohon kritik dan sarannya.

Wallahu a’lam

——————-

Kontributor : Sahabat Izzuddin (Ketua Rayon PMII Galileo 2015-2016)

Sambutan Ketua Rayon PMII Galileo

Ketua Rayon PMII GalileoAssalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Yang terhormat, pengurus PB PMII, PKC PMII, PC PMII, dan PR PMII seluruh Indonesia serta kader PMII di seluruh pelosok nusantara

Yang terhormat, seluruh warga negara Negara Kesatuan Republik Indonesia

Hamdan Wasyukron Lillah, Wasshalatu wassalamu ‘alaa Rosulillah. Waba’d

Indonesia telah mengalami perjalanan panjang sebagai sebuah Negara dengan cita-cita yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945. Indonesia adalah Negara dengan Sumber Daya Alam (SDA) Terkaya di Dunia, sehingga potensi-potensi pembangunan menuju Negara yang Adil dan Makmur seharusnya menjadi suatu hal yang mudah. Namun faktanya, perjalanan Indonesia menuju terealisasinya nilai-nilai Pancasila sangat sulit dilalui. Bahkan, catatan sejarah menyebutkan bahwa sejatinya hanya sebagian kecil perubahan-perubahan yang dilakukan Rakyat Indonesia menuju Kedaulatan Republik ini seutuhnya, yang sebagian kecilnyapun nyatanya ditunggangi kepentingan politik dari golongan lain atau bahkan Negara lain, sebut saja peristiwa G30S, lengsernya Soekarno, Soeharto bahkan Gusdur. Dinamika perpolitikan pada dekade ini tidak menutup kemungkinan adanya campur tangan kepentingan suatu golongan sehingga tidak ada langkah yang mendinamisasi secara cepat dan terarah. Hal itu menyebar ke seluruh elemen pemerintahan, elemen pengusaha, awak media dan elemen-elemen lainya. Bahkan institusi yang seharusnya suci dari prakter kepentingan politik, digunakan para elit untuk adu eksistensi dan meraup kepentingan pribadi, termasuk di wilayah Pendidikan Perguruan Tinggi.

Carut marutnya negeri ini menyebabkan Indonesia selalu tetap dengan sebutan Negara berkembang, padahal 70 tahun lalu Proklamasi Kemerdekaan negeri ini sudah diproklamirkan. Apakah hingga yaumul hisab nanti Indonesia akan selalu eksis dengan sebutan Negara berkembang? Jika tidak, apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang terdahulu terhadap negeri ini? Apa yang sudah dan akan kita lakukan untuk negeri ini? Berapa ratus ribu lulusan Perguruan Tinggi yang diwisuda setiap tahunnya, baik dari S-1, S-2, dan S-3? Berapa ratus Sarjana, Magister, atau bahkan Doktor bidang Sains yang diluluskan setiap tahunnya? Adakah penemuan para akademisi kita yang begitu berguna bagi kelangsungan perkembangan negeri nan kaya ini? Saya rasa pertanyaan ini tidak perlu jawaban ketika hanya berupa ‘DIAM’ yang anda lakukan setelah menjawabnya.

Mahasiswa adalah manusia pilihan yang seharusnya mempunyai peranan penting sebagai penggerak bangsa ini menuju progresivitas massif perkembangannya. Mahasiswa sebenarnya bukan mahasiswa yang bangga dengan IPK yang tinggi. Mahasiswa seharusnya lebih peka terhadap realitas sosial kebangsaan. Ironisnya, posisi ini tidak disadari atau bahkan sengaja untuk tidak disadari oleh mahasiswa saat ini, bahkan ditataran kampus yang menurut hemat saya sangat massif sekali terkait penggunaan isu-isu kebanggaan simbolitas yang realitanya bertentangan. Sungguh merupakan degradasi nilai-nilai nasionalisme yang sangat disayangkan.

Sebagai mahasiswa Saintek yang memang berbasis pengembangan ilmu eksakta, bukan hal yang tabu bagi kita untuk belajar dan lebih memahami arti dari sebuah nasionalisme dengan peduli terhadap kondisi bangsa ini. Dengan disiplin ilmu yang kita miliki, kita rubah paradigma berbangsa, gerakan bernegara, dan refleksi keindonesiaan. Semua itu dirasa memerlukan suatu wadah yang menampung kepedulian-kepedulian terhadap negeri ini melalui sebuah organisasi pergerakan. Dengan berangkat dari ideologi Ahlussunnah Wal Jamaah sebagai manhajul fikr dan manhajul harakah, Pergerakan Mahasiswa Indonesia hadir sebagai tameng NKRI dalam mengawal seluruh aspek dalam konteks berbangsa dan bernegara. Dalam perjalanannya sebagai organisasi pergerakan, PMII mampu memposisikan diri sebagai agent of change and agent of social control, baik di lingkup kampus maupun di lingkup luar kampus.

Rayon PMII Pencerahan Galileo Fakultas Sains dan Teknologi Komisariat Sunan Ampel Malang hari ini hadir sebagai pemerkokoh nilai-nilai kemahasiswaan, keislaman, dan keindonesiaan untuk kemudian bersama kita aplikasikan sebagai landasan bergerak kita. Dengan slogan Saintis Aktivis yang hari ini kita junjung bersama, kita berharap dan berupaya untuk kembali memposisikan sebagai mahasiswa yang akademisi yang kemudian terus berupaya meraih prestasi dan terus berkarya sebagai step awal kita untuk memajukan negeri ini; juga dengan tidak melupakan tanggung jawab kita sebagai agent of change dan agent of social control yang kemudian menjadi penyadaran bagi kita kala bergerak dan beraktivitas.

Selaku mandataris Pengurus Rayon PMII Pencerahan Galileo sebelumnya, kami mengajak sahabat-sahabati saintis dalam berkhidmat dan berkomitmen bersama kami untuk terus berdzikir, berfikir, dan beramal sholeh dengan media taqwa, intelektualitas dan professinalitas guna terciptanya kejujuram, kebenaran, dan keadilan. Dalam kaidah ushul fiqh disebutkan, “kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir”.

KEJAHATAN YANG MERAJALELA BUKAN DISEBABKAN KARENA SEDIKITNYA ORANG BAIK DAN BANYAKNYA ORANG JAHAT, NAMUN DIKARENAKAN BANYAKNYA ORAANG BAIK YANG MEMILIH ‘DIAM!’ Pantaskan kita masih diam?

 

Tetap dengan tangan terkepal dan maju kemuka !!!

 

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Tharieq

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Sambutan Ketua Rayon PMII Pencerahan Galileo

603034_305598286228278_698754000_nAssalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Yang terhormat, pengurus PB PMII, PKC PMII, PC PMII, dan PR PMII seluruh Indonesia serta kader PMII di seluruh pelosok nusantara

Yang terhormat, seluruh warga negara Negara Kesatuan Republik Indonesia

Hamdan Wasyukron Lillah, Wasshalatu wassalamu ‘alaa Rosulillah. Waba’d

Indonesia telah mengalami perjalanan panjang sebagai sebuah Negara dengan cita-cita yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945. Indonesia adalah Negara dengan Sumber Daya Alam (SDA) Terkaya di Dunia, sehingga potensi-potensi pembangunan menuju Negara yang Adil dan Makmur seharusnya menjadi suatu hal yang mudah. Namun faktanya, perjalanan Indonesia menuju terealisasinya nilai-nilai Pancasila sangat sulit dilalui. Bahkan, catatan sejarah menyebutkan bahwa sejatinya hanya sebagian kecil perubahan-perubahan yang dilakukan Rakyat Indonesia menuju Kedaulatan Republik ini seutuhnya, yang sebagian kecilnyapun nyatanya ditunggangi kepentingan politik dari golongan lain atau bahkan Negara lain, sebut saja peristiwa G30S, lengsernya Soekarno, Soeharto bahkan Gusdur. Dinamika perpolitikan pada dekade ini tidak menutup kemungkinan adanya campur tangan kepentingan suatu golongan sehingga tidak ada langkah yang mendinamisasi secara cepat dan terarah. Hal itu menyebar ke seluruh elemen pemerintahan, elemen pengusaha, awak media dan elemen-elemen lainya. Bahkan institusi yang seharusnya suci dari prakter kepentingan politik, digunakan para elit untuk adu eksistensi dan meraup kepentingan pribadi, termasuk di wilayah Pendidikan Perguruan Tinggi.

Carut marutnya negeri ini menyebabkan Indonesia selalu tetap dengan sebutan Negara berkembang, padahal 69 tahun lalu Proklamasi Kemerdekaan Negeri ini sudah dikumandangkan. Apakah hingga yaumul hisab Indonesia akan selalu eksis dengan sebutan Negara berkembang? Jika tidak, apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang terdahulu terhadap negeri ini? Apa yang sudah dan akan kita lakukan untuk negeri ini? Berapa ratus ribu lulusan PT yang di wisuda setiap tahunnya, baik dari S-1, S-2, dan S-3? Berapa ratus Sarjana, Magister, atau bahkan Doktor bidang Sains yang diluluskan setiap tahunnya? Adakah penemuan para akademisi kita yang begitu berguna bagi kelangsungan perkembangan negeri kaya ini? Saya rasa pertanyaan ini tidak perlu jawaban ketika hanya berupa ‘DIAM’ yang anda lakukan setelah menjawabnya.

Mahasiswa adalah manusia pilihan yang seharusnya mempunyai peranan penting sebagai penggerak bangsa ini menuju progresivitas massif perkembangannya. Mahasiswa sebenarnya bukan mahasiswa yang bangga dengan IPK yang tinggi. Mahasiswa seharusnya lebih peka terhadap realitas social kebangsaan. Ironisnya, posisi ini tidak disadari atau bahkan sengaja untuk tidak disadari oleh mahasiswa saat ini, bahkan ditataran kampus yang menurut hemat saya sangat massif sekali terkait penggunaan isu-isu kebanggaan simbolitas yang realitanya bertentangan. Sungguh merupakan degradasi nilai-nilai nasionalisme yang sangat disayangkan.

Sebagai mahasiswa saintek yang memang berbasis pengembangan ilmu eksakta, bukan hal yang tabu bagi kita untuk belajar dan lebih memahami arti dari sebuah nasionalisme dengan peduli terhadap kondisi bangsa ini. Dengan disiplin ilmu yang kita miliki, kita rubah paradigma berbangsa, gerakan bernegara, dan refleksi keindonesiaan. Semua itu dirasa memerlukan suatu wadah yang menampung kepedulian-kepedulian terhadap negeri ini melalui sebuah organisasi pergerakan. Dengan berangkat dari ideology Ahlussunnah Wal Jamaah sebagai manhajul fikr dan manhajul harakah, Pergerakan Mahasiswa Indonesia hadir sebagai tameng NKRI dalam mengawal seluruh aspek dalam konteks berbangsa dan bernegara. Dalam perjalanannya sebagai organisasi pergerakan, PMII mampu memposisikan diri sebagai agent of change and agend of social control, baik di lingkup kampus maupun di lingkup luar kampus.

Selaku mandataris Pengurus Rayon PMII Pencerahan Galileo sebelumnya, kami mengajak sahabat-sahabati saintis dalam berkhidmat dan berkomitmen bersama kami dengan taqwa, intelektualitas dan professinalitas demi terciptanya kebenaran kejujuran dan keadilan. Dalam kaidah ushul fiqh disebutkan, “kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir”.

KEJAHATAN YANG MERAJALELA BUKAN DISEBABKAN KARENA SEDIKITNYA ORANG BAIK DAN BANYAKNYA ORANG JAHAT, NAMUN DIKARENAKAN BANYAKNYA ORAANG BAIK YANG MEMILIH ‘DIAM!’ Pantaskan kita masih diam?

 

Tetap dengan tangan terkepal dan maju kemuka!!!

 

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Tharieq

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

 

Tri Angga Deni Istianto

Ketua Rayon PMII Pencerahan Galileo

Masa Khidmat 2014-2015