Pemuda Zaman Now Harus Peduli Lingkungan

PMII Galileo – Pemuda merupakan salah satu tonggak menuju kemerdekaan bangsa indonesia. Dan hari ini tepat nya  hari Sumpah Pemuda tanggal 28 oktober selalu diperingati oleh sebagian besar pemuda. Di era milenial sekarang, pemuda tidak lagi berjuang mengusir penjajah, tidak lagi mengangkat bambu runcing dan senapan. pemuda sekarang atau pemuda zaman now sebagai penerus generasi harus lebih respon terhadap permasalahan sosial di masyarakat.

Marak nya perburuan liar, membuang sampah sembarang tempat, menggunakan kendaraan ugal-ugalan sehingga asap kendaraan menyumbang polusi besar, membuang-buang air dengan percuma, penebangan pohon tanpa mereboisasi. Kegiatan-kegiatan seperti itu menjadi ancaman bagi masyarakat jika dilakukan terus menerus. Ancaman kekeringan, ancaman penyakit, tanah longsor, kepunahan ekosistem, dan pencemaran sehingga berdampak pada masyarakat, mereka kehilangan tempat tinggal bahkan nyawa, ekonomi melemah, kemiskinan meningkat, pendidikan menurun, kaum perempuan terpinggirkan.Hal yang sering dilupakan oleh kaum pemuda saat ini adalah kepedulian nya terhadap lingkungan. Tidak hanya kurang peduli, tapi menyumbang kerusakan lingkungan, ini ditandai dengan cara mereka tidak bijak dalam menjaga dan melestarikan Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan, malah mengeksploitasi dan merusak nya.

Bukti nyata yang terjadi di masyarakat sudah terlihat, di Jawa Timur sendiri banyak peristiwa, contohnya longsor ponorogo akibat penebangan pohon melebihi batas, banjir di Kabupaten Malang, banjir Sampang, kegagalan teknologi di Sidoarjo, kebakaran hutan, pencemaran air sungai akibat penumpukan sampah. Pemuda jaman now harus merubah perilaku tersebut.

Seperti apa upaya-upaya megurangi dampak yang ditimbulkan oleh kejahatan lingkungan?

Salah satu upaya yang harus kita lakukan sebagai pemuda zaman now seperti mengajak masyarakat, komunitas dan lainnya untuk menanam pohon di lahan kritis, tidak membuang sampah atau putung rokok di jalan dan sembarang tempat, menggunakan air degan bijak, menanam tanaman depan rumah, mendorong pemerintah desa untuk merencanakan pembangunan berbasis adaptasi perubahan iklim dan pengurangan resiko kebencanaan.

Maka dari itu, kita sebagai pemuda pergerakan, organisasi pemuda terbesar bangsa ini, PMII harus menjadi garda terdepan melestarikan lingkungan, agar dampak-dampak bisa diminimalisir. Untuk itu saya mengajak kader-kader KOPRI dan kader PMII seluruh nya agar lebih peduli masalah lingkungan. Wujudkan dengan gerakan nyata di masyarakat, menanam pohon bersama, buang sampah di tempatnya, olah sampah jadi bahan kreatif sehingga bisa meningkatkan ekonomi, dan tidak merusak ekosistem hutan, dan lautan. Pemuda Zaman now, pemuda peduli lingkungan.

Penulis: Beni Trimaningsih (Ketua Bidang SDA dan Lingkungan hidup KOPRI PB PMII)

Mengungkap Tabir Saiful Mujani Sang Pengkhianat Intelektual

PMII Galileo – Banyak bahwa yang menyimpulkan pollster di Indonesia berperilaku khianat sudah menjadi pengetahuan publik. Mereka pun menjual integritas intelektual demi memenangkan sebuah kompetisi klien yang dibayar oleh polling mereka yang dilakukannya. SMRC adalah salah satu pollster pertama di masa reformasi, pecahan dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang didirikan oleh Bill Liddle dengan murid-murid Indonesianya di Ohio University. LSI berdiri 2003 dengan menggunakan dana bantuan Jepang, di masa pemerintahan Megawati.

SMRC adalah wujud kongkrit dari penentangan itu. SMRC ingin mewujudkan tujuan LSI yang sesungguhnya. Apa lacur, SMRC ternyata jatuh ke lubang kenistaan yang sama.LSI semula dimaksudkan untuk mengembangkan demokrasi, namun uang trilyunan dalam pemilu telah membuyarkan cita-cita itu. Seorang pendiri melihat mudahnya meraup uang melalui pengarahan opini publik yang percaya kepada integritas peneliti politik (pollster). Public opinion mengarahkan dengan mencetak pola yang berlawanan dengan realitas yang disebut framing adalah pekerjaan khianat yang dilakukan dengan mengundang penentang dari pendiri LSI lainnya.

Pendiri SMRC Saiful Mujani, mengupload dokumen hoax yang menyatakan Anies-Sandi menandatangani dokumen perjanjian akan menjadikan Jakarta sebagai kota syariah. Pemilik dari perusahaan  polling  yang  dikontrak  langsung oleh Ahok, seharusnya Saiful membantu Ahok melalui keahliannya. Saiful menghancurkan kredibilitas intelektualnya dengan meluncurkan hoax itu. Ia pun menjual integritas  ilmiahnya yang melekat pada pollster yang dilakukannya, demi mendapatkan nilai rupiah.

Perilaku ini berlanjut di tahapan kedua pilkada DKI ketika SMRC merelease hasil survei bahwa “Anies hanya unggul kurang dari 1%”. Pada kenyataannya Anies unggul landslide, hampir 20%. Menurut pollster profesional selisih yang demikian besar itu merupakan aib dan tidak memungkinkan terjadi apabila survei dikerjakan dengan memakai prosedur ilmiah. Hasil itu hanya bisa terjadi bila prinsip-prinsip ilmiah sudah tak diginakan lagi dan pollster bekerja menurut standar politik belaka.

Sangat lah cenderung sebuah politik yang sama-sama terjadi dalam dua polling terakhir yang dikerjakan oleh SMRC. Pada tanggal 29 September 2017, SMRC mengumumkan bahwa pendukung Prabowo, PKS dan Gerindra telah memobilisir anak-anak muda untuk percaya bahwa “PKI akan bangkit”. Hasil analisis SMRC dipenuhi  ekstrapolasi , simplifikasi dan interpolasi, yang pada akhirnya membuahkan sulapan kesimpulan jauh dari standar ilmiah. (Saya tidak perlu menguraikan di sini soal itu, mungkin dalam tulisan terpisah). Kemudian pada tanggal 5 Oktober 2017 SMRC merelease lagi hasil surveinya yang mengatakan bahwa elektabilitas Jokowi mencapai 38,9% sementara Prabowo hanya 12%. Terdapat selisih lebih dari 200%, dimana logikanya?

Selama ini dan seperti diketahui Jokowi belum mengukir kinerja apapun, semua proyek-proyeknya sampai saat ini belum ada yang kelar. Sementara itu ia terus dijatuhin oleh kritik dan keluhan publik berkenaan dengan penumpukan utang yang luar biasa, investasi Cina tanpa lapangan kerja, kenaikan harga energi, penghapusan subsidi, ekonomi melambat, penurunan daya beli dst. Di sisi politik, partai yang dipetugasi Jokowi kalah di banyak pilkada yang dulu dikuasainya seperti Jakarta dan Banten. Di Jateng yang selama ini dikenal sebagai kandang banteng, calon-calon PDIP berguguran seperti laron menyerbu api lilin.

Di dalam situasi seperti itu darimana rasionalnya Prabowo yang hanya selisih 4% dari Jokowi pada tahun 2014 kok sekarang ambrol menjadi berselisih lebih dari 200% ?

Alasan apapun diberikan Saiful Mujani tidak akan meyakinkan. Penjelasan paling meyakinkan hanyalah bahwa Saiful Mujani sedang menjalankan lagi pekerjaan khianatnya yaitu menipu rakyat melalui polling. Ia telah dibayar untuk membangun opini publik (framing) bahwa “Prabowo adalah pengusung radikalisme yang telah memobilisasi orang-orang muda dengan isu itu untuk menyerang pemerintah.” Sebaliknya, Jokowi adalah politikus yang dicintai rakyat dengan elektabilitas 3 kali lipat pesaing terdekatnya.

Sangat memprihatinkan. Dulu mengaum seperti singa. Ternyata kamu hanya serigala berbulu domba.

Oleh: Radhar Tribaskoro (Citizen Warta Pergerakan)

Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

PMII Galileo – Cara  untuk  meyakinkan dugaan atau hipotetis tentang tingkat keterpilihan Bakal Calon (Balon)/Calon dalam pemilihan seperti Pemilihan Presiden (Pilpres) atau Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dengan melakukan survei opini publik terhadap elektabilitas para Balon/Calon.

Di acara Rapimnas Partai Golkar, Mei 2017 Balikpapan, Kalitim. Menko Maritim Luhut B. Panjaitan  menyatakan tanpa Sumber bahwa elektabilitas Jokowi saat ini masih di atas 50 persen. Lebih besar dibandingkan dengan elektabilitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Prabowo dan Megawati.Untuk kasus Jokowi sebagai Balon pada Pilpres tahun 2019 mendatang, sudah mulai dibicarakan di publik berdasarkan hasil survei opini publik. Sebagai  incumbent/petahana, Jokowi dalam pandangan lembaga survei umumnya  memperlihatkan penurunan elektabilitasnya. Sehingga bisa  disimpulkan bahwa kemungkinan besar Jokowi bisa memenangkan persaingan pada Pilpres 2019 semakin sulit dan harapankecil.

Litbang Kompas adakan survei berkala pada Januari hingga April 2017. Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan elektabilitas Jokowi mencapai  41,6 persen.

Pada 14-20 Mei 2017, bulan sama dengan pernyataan Luhut B. Panjaitan waktu di acara Golkar,  SMRC mengadakan surveipublic opinion. Hasil survei tersebut menperlihatkan elektabilitas Jokowi mencapai hingga 34,1%.

Pada 23-30 Agustus  2017 CSIS lakukan survei. Hasil survei menunjukkan  elektabilitas Jokowi cukup tinggi, yakni  50,9%,

Selanjutnya, Lembaga Media Survei Nasional (Median) merilis hasil survei 14-22  September 2017,  Hasil survei menunjukkan, elektabilitas Jokowi 36,2 persen. Namun di sisi lain dari pihak SMRC mengumumkan angka lebih besar, yaitu elektabilitas Jokowi mencapai 38,9%. Angka ini naik lebih besar dibandingkan hasil survei SMRC sebelumnya elektabilitas Jokowi mencapai 34,1%.

Sejumlah data elektabilitas yang sudah tertera di atas, dapat kita simpulkan bahwa penurunan elektabilitas Jokowi mencapai di bawah 40% dan mendekati di bawah 35% dari tingkat elektabilitas sebelumnya, di atas 50%. Jika ditarik rata-rata dari angka seluruh lembaga survei di atas, tetap mengalami penurunan, yakni rata-rata sekitar 40%. Lembaga survey membandingkan Jokowi sebagai petahana dengan tokoh bukan petahana, bahkan belum secara resmi menyatakan diri akan maju sebagai calon Presiden (Capres) pada Pilpres 2019. Sebagai Petahana elektabilitas Jokowi kini hanya sekitar 40%, jauh di bawah perolehan suara Jokowi pada Pilpres 2014, di atas 50%. Sangat tepat jika ada pendapat, semua calon Presiden seperti Gatot N, Prabowo, bahkan SBY memiliki peluang yang sama dengan Jokowi untuk memenangkan kompetisi pada Pilpres tahun 2019.

Intinya, tidak terdapat indikasi peningkatan elektabilitas Jokowi, bahkan dari bulan ke bulan tahun 2017 ini terus merosot. Waktu tinggal sekitar 1,5 tahun lagi bagi Jokowi untuk hentikan penurunan elektabilitas dirinya.  Kondisi Jokowi ini tanpa kegiatan promosi dan kampanye pesaing atau kompetitor atau Tim Sukses, Relawan dan Partai pendukung. Baru Jokowi seorang telah mendapatkan dukungan resmi dari Partai PKB, Golkar, Hanura, Nasdem, PPP dll. Ternyata dukungan resmi Parpol-parpol tersebut, tak usah meningkatkan elektabilitas Jokowi, mempertahankan agar tidak menurun pun tak sanggup.

 Penurunan elektabilitas Jokowi ini tentu disebabkan berbagai faktor, terutama rakyat umat Islam politik dan kelas menengah perkotaan, bukan tokoh  pesaing individual sebagai Balon.

Angka elektabilitas Jokowi menurun itu semua bermakna semakin berkurang kemungkinan Jokowi akan menang pada Pilpres tahun 2019. Kecenderungan menurunnya elektabilitas Jokowi ini akan terus mengambil tempat sepanjang kebijakan-kebijakan Jokowi tidak mengutamakan aspirasi dan kepentingan terutama Umat Islam politik dan kelas menengah perkotaan.

Ada asumsi bahwa elektabilitas calon incumbent atau petahana harus di atas  60%. Jokowi harus memiliki tingkat elektabilitas di atas 60%. Sebab, dalam berbagai pertarungan pemilu ketat, perolehan  suara calon petahana berada di bawah tingkat elektabilitas hasil survei. Dalam Pilpres 2009, SBY-Boediono meraup 60,8% suara. Perolehan  ini jauh di bawah hasil survei opini publik  menempatkan SBY-Boediono sebagai pemenang pemilu dengan tingkat elektabilitas 71%. Hal ini juga berlaku pada  Pilkada  DKI Jakarta 2017. Pasangan Incumbent Ahok-Djarot menurut sejumlah rilis survei opini publik, tingkat elektabilitas mereka  hingga 56%,  hanya mampu meraih 42,99% suara dalam putaran pertama dan 42,04% suara pada putaran kedua.

Angka elektabilitas Jokowi cenderung kemungkinan besar bisa menurun dan menjauh dari zona amannya dengan angka elektabilitas mencapai 60%.

Jika asumsi dasar ini diterima, adalah sangat sukar  bagi Jokowi untuk memenangkan pertarungan perebutan kekuasaan negara pada  Pilpres 2019 mendatang.

apa cara pemecahan masalah (solusi) trend penurunan elektabilitas Jokowi ini agar bisa menaik dan mencapai batas aman untuk memenangkan Pilpres 2019?

Cara pemecahan utama, sangat menentukan, menggunakan  level analisis Parpol sebagai aktor mempengaruhi perilaku pemilih. PDIP sebagai Parpol peserta pemilu  harus segera menyatakan secara resmi  dukungan terhadap Jokowi untuk maju lagi sebagai Capres  pada Pilpres 2019. PDIP harus mengambil posisi di mata publik  sebagai “Lead Party“, Parpol Pemimpin, jangan beri ke Parpol lain yang tidak memiliki akar sosiologis dengan Jokowi seperti Golkar. Setelah adakan  pernyataan resmi, lalu PDIP lakukan konsolidasi internal penguatan mesin Parpol untuk mempromosikan dan mengkampanyekan Jokowi di tengah-tengah masyarakat pemilih. Tentu saja, mesin Parpol ini akan terkendala dengan kepentingan Pemilu legislatif yang waktu  bersamaan dengan Pilpres 2019.

Untuk mendapatkan dukungan sebagian umat Islam politik, Jokowi sudah mulai memberi tanda kepada publik, Calon Wapres dirinya dari Tokoh atau Ulama umat Islam seperti Jusuf Kalla saat Pilpres 2014. Siapa Tokoh atau Ulama dimaksud, satu kriteria Tokoh itu memiliki basis massa atau organisasi masyarakat umat Islam atau didukung berat para Parpol Islam. Dari segi momentum memang terlambat, tapi Jokowi harus coba untuk pemenan Pilpres 2019. Sudah saatnya Jokowi berpikir rasional untuk perolehan suara pemilih sebanyak mungkin. Semua kebijakan pemerintah membuat umat Islam dan kelas menengah perkotaan antipati dan penurunan elektabilitas harus diminimalkan. Jangan terus lakukan politik pembiaran yang membuat persepsi masyarakat negatif meningkat dan meluas. Waktu hanya sekitar 1,5 tahun lagi!

Oleh: Muchtar Effendi Harahap (Peneliti NSEAS)

Biografi Agus Herlambang, Ketua Umum PB PMII Masa Khidmat…

PMII Galileo – Akrab dipanggil dengan Mr. Agus atau Sahabat Agus, lengkapnya adalah Agus Mulyono Herlambang atau terkenalnya oleh kader PMII adalah Agus Herlambang, Lahir pada tanggal 17 Juni 1988 di sebuah daerah yang terkenal dengan sebutan kota Mangga, Indramayu. Putra pertama dari pasangan Guru Agama di kampung sehingga sedikit banyak Sahabat Agus sejak dini tumbuh dengan berinteraksi secara langsung dalam dunia pendidikan agama.

Aktif MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) PMII 2006.Setelah lulus SD, Sahabat Agus melanjutkan pendidikannya di pesantren Raudlatut Thalibin Lengkong Kuningan sembari menempuh pendidikan formalnya di MTS Yaspika Kuningan. Lulus MTS kemudian meneruskan proses pembelajaran formalnya pada MAN Cigugur Kuningan dan pendidikan pesantrennya di Pondok Pesantren Al-Ma’mur Cipondok Kadugede.

Kecerdasannya yang memang sudah terlihat sejak usia dini, membawa sahabat Agus menjadi siswa berprestasi yang tak pernah lepas dari posisi tiga (3) besar rangking teratas di semua level pendidikannya. Sehingga sahabat Agus mendapatkan undangan PMDK di Institute Teknologi Bandung (ITB), jurusan Seni rupa dari jalur Beasiswa Santri Berprestasi pada tahun 2006 dikarenakan memperoleh nilai UAN yang tinggi.

Namun, kedua orang tua sahabat Agus memiliki program berbeda dan memintanya untuk mengikuti tes masuk Al-Azhar Kairo Mesir. Sebagaimana kandungan surat al an’am ayat 59

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuudh)” [QS. Al-An’aam : 59].

Itulah yang tepat untuk mendeskripsikan perjalanan hidup sahabat Agus selanjutnya,

Setelah gagal atas harapan untuk mengenyam pendidikan di Al-Azhar mesir, yang kemudian waktu diberitakan di banyak media bahwa banyak pelajar Indonesia yang terpaksa dipulangkan meski belum selesai atas konflik politik yang semakin memanas di Negri Al Azhar tersebut.

Sahabat Agus memilih melanjutkan studi S1nya di Sastra Inggris Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, satu-satunya Perguruan Tinggi di Indonesia yang menggunakan nama Pesantren. Di tahun 2010 Sahabat Agus lulus tepat waktu dengan uji thesis berjudul Afro-American Struggle for Spelling Bee Competition, berisi tentang kisah perjuangan seorang anak afro-amerika  diatas mimbar bergengsi orang-orang kulit putih. Minatnya terhadap sastra, kemudian membuatnya melanjutkan studi S2 Di Jurusan Magister Ilmu Susastra Universitas Indonesia (UI)  dan diterima pada tahun 2012.

Pada tahun yang sama (2012) sahabat Agus mulai terlibat dalam program Community Empowerment of People Againts Tuberculosis, sebuah pilot project pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan, yang disponsori oleh USAID dengan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama dan Kementrian kesehatan RI, berperan sebagai koordinator Program di Jakarta Utara hingga awal 2017 dalam pengentasan TBC di Indonesia. Setelah bersentuhan langsung melakukan advokasi masyarakat di Jakarta Utara, pada tahun 2016  Sahabat Agus memutuskan fokus menggeluti bidang komunikasi publik dengan mengambil studi S2 di Universitas Mercubuana, di Jurusan Magister Komunikasi  yang fokus pada Public Relation, Mass media dan Komunikasi Politik karena ketertarikannya dalam keterlibatan publik dalam menentukan kebijakan pemerintah yang dia dapat ketika melakukan empowering di masyarakat urban di Jakarta Utara.

Biografi Singkat Agus Herlambang

Sahabat Agus Mulyono Herlambang atau biasa dipanggil Agus Herlambang adalah seorang aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sejati, dimana tumbuh kembangnya selalu mengenyam pendidikan pesantren, dan berkecimpung di berbagai organisasi, baik yang nota bene organisasi PMII maupun lembaga lainnya sebagai rekam jejak kembang karakter ke PMII-annya, berikut tambahan aktivitas organisasi yang pernah di geluti :

  • Ketua rayon pertama fakultas bahasa dan sastra inggris Unipdu Jombang 2007.
  • Salah satu penggagas Teater SATU FBS tahun 2007.
  • Wakil ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas 2007-2008.
  • Pengurus Komisariat PMII Umar Tamin Unipdu Koordinator Penerbitan dan penelitian dengan melahirkan buletin Change 2008-2009.
  • Sekjend BEM Unive Unipdu Jombang 2010-2011.
  • Penggagas FGD (Focus Group Discussion) Surau Sahabat di Komisariat PMII Umar Tamim Unipdu Jombang 2010-2011.
  • Pengurus Cabang PMII Jombang di koordinator Penerbitan dan Penelitian dengan menerbitkan Buletin MOVE 2010-2011.
  • Penggagas FIKRAH INSTITUE 2010-2011.
  • Pengajar aktif bahasa inggris di forum Pengurus Besar (PB) PMII 2011-2013.
  • Koordinator Program Community Empowerment of People Againts Tuberculosis wilayah Jakarta Utara 2012.
  • Ketua Bidang Hubungan Internasional dan Jaringan Luar Negeri PB PMII 2014/2016.
  • Terpilih menjadi Ketua Umum PB PMII 2017-2019 saat Kongres di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Di Sisi lain, karena Sahabagt Agus terbiasa dididik mandiri secara ekonomi oleh orang tuanya, Agus bersama sahabat-sahabatnya menghidupkan rayon dari hasil penjualan tiket pementasan Teater SATU, menghidupkan komisariat dengan berjualan buku di kampus, menghidupkan forum diskusi Cabang juga dengan jualan buku dan jualan kopi. Saat ini, selain aktif di kegiatan kemasyarakatan, kuliah dan organisasi, Agus juga memiliki usaha mandiri yang bergerak di bidang limbah besi tua yang dia rintis bersama Istrinya sejak 2014 di CV Karunia Baja. Prinsip yang slalu dipegangnya hingga saat ini adalah hidupkan organisasi, bukan hidup dari organisasi.

Biografi Septi Rahmawati, Ketua PB KOPRI 2017-2019

PMII Galileo – Septi Rahmawati akrab disapa Septi merupakan Putri ke empat  dari Lima bersaudara. Ayahanda Helmi (alm) dan Ibunda Tri Atmini.  Lahir di Karangtani, 01 September 1990 berasal dari Kampung Tanjung Jaya, Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah Provinsi Lampung. Sejak lahir hingga menyelesaikan studi  Sekolah Menengah Pertama di Lampung Tengah. SD Negeri 1 Tanjung Jaya, SMP Negeri 2 Bangun Rejo dan melanjutkan  Madrasah Aliyah Negeri 1 Metro hingga perguruan tinggi STAIN Jurai Siwo di Metro. Saat ini sedang menyelesaikan studi pasca sarjana di Universitas Negeri Jakarta.

Ketua OSIS SMP Negeri 2 Bangun Rejo Lampung Tengah, tahun 2003-2004.Sejak mengenal bangku sekolah dasar septi telah aktif mengikuti berbagai kegiatan. Organisasi pertama yang ia kenal adalah Pramuka yang dimulai sejak Sekolah Dasar. Setelah itu berorganisasi menjadi kebutuhannya, yang mengantarkannya dengan berbagai pengalaman bergorganisasi yaitu :

  • Juru Adat Putri Pramukan MA Negeri 1 Meto, Lampung, tahun 2006-2007.
  • Ketua Paskibra Sekolah MA Negeri 1 Metro, Lampung, tahun 2006-2007.
  • Pendiri Teater Batu MAN 1 Metro
  • Sekretaris Umum Unit Kegiatan Mahasiswa Ikatan Mahasiswa Pecinta Seni STAIN Jurai Siwo Metro tahun 2010-2011.
  • Ketua bidang pengkaderan Unit Kegiatan Mahasiswa Ikatan Mahasiswa Pecinta Seni STAIN Jurai Siwo Metro tahun 2011-2012
  • Komite Sastra Dewan Kesenian Metro tahun 2013-2016.
  • Ketua Rayon PBI PMII Jurai Siwo Metro 2009-2010.
  • Ketua IV bidang gender Komisariat PMII Jurai Siwo Metro 2011-2012.
  • Ketua Korps PMII Puteri (KOPRI) Pengurus Cabang (PC) PMII Metro 2012-2013.
  • Ketua Umum PC PMII Metro 2013-2014.
  • Wakil Bendahara Umum Pengurus Besar (PB) PMII 2014-2016.
  • Ketua Umum PB Kopri 2017-Sekarang

Selain aktif di PergerakanMahasiswa Islam Indonesia (PMII), ia juga aktif dalam dunia seni pertunjukan. Berbagai karya teater sudah ia pentaskan sejak di sekolah hingga masuk di dunia kampus.

Prestasi yang pernah ia raih

  • Juara 1 Pidato Bahasa Indonesia dalam Olympiade Al-Qur’an tingkat SLTA sederajat se Lampung
  • Juara 1 Puitisasi se Kwartir Daerah Lampung.
  • Juara 3 Tari Kreasi Bedana se Kabupaten Lamung Tengah.
  • Juara 1 Baca Puisi STAIN Jurai Siwo Metro.
  • Juara 3 Baca Puisi se Kota Metro.
  • Juara 3 Karya Tulis ilmiah se Kabupaten Lampung Tengah.

Pernah Menggeluti Seni Pertunjukan
Selain itu, Septi juga aktif dalam dunia seni, khusus nya seni pertunjukan. Karya yang pernah ia tampilkan diantaranya:

  • Aktor Teater “ Barabah”, naskah Barabah karya Motinggo Busye, dalam kontes Liga Teater Pelajar se Lampung (mewakili SMA se Kota Metro) di Taman Budaya Provinsi Lampung.
  • Aktor Teater Ijah, naskah Rajapatih dalam pementasan Seni STAIN Jurai Siwo Metro.
  • Aktor dalam naskah “Kala” karya Hryo Yudho Negoro.-Aktor Monolog, naskah “Bara Di Hamparan Salju” kaeya Osman Saadi, dalam Parade Monolog Provinsi Lampung (mewakili kota Metro) di Taman Budaya Provinsi Lampung.
  • Sutradara teater naskah “Dokter Asbun” dalam pementasan tunggal teater Batu MAN 1 Metro.
  • Pimipinan Produksi Pementasan Teater “Hujan Pukul Lima” dalam Temu Teater Mahasiswa Nusantara di Purwokerto (mewakili Provinsi Lampung).

 

 “Jadilah Kader KOPRI Pelopor Gerakan Perempuan-perempuan Intelektual Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyah” – Septi Rahmawati.