Ladzat Kaum Berdarah Segar

Mempelajari hal yang terkecil itu perlu, merasa bisa dan mengerti  merupakan sifat yang gak bisa lepas dari seseorang. Kadang tanpa kita sadari dari sifat yang merasa bisa dan mengerti menimbulkan sifat yang lain, begitu juga dengan semangat yang semakin maju untuk megaplikasikan hal yang merasa dia bisa.

Dari hal yang demikian akan terjadi sebuah akibat dari sebab-sebab tersebut dan memunculkan sebuah action yang hadir dengan dasar keirian terhadap kenyataan yang dihadapi.  Ketika yang ditanyakan adalah masalah alur hidup yang bersangkutan dengan hal tersebut tentu suara dari kaum hawa akan lebih mewarnai, karena berjalannya perkembangan zaman membangunkan sifat yang tersimpan dari kaum hawa. Dengan pembangunan tersebut mereka mempunyai banyak kubu dan juga action untuk membangun strategi dari problematika perkembangan zaman ini. Hal yang menjadi topik dalam barisan kalimat sebelumnya, mempunyai arti dari sifat ingin mendapatkan keseimbangan atau kesetaraan dalam menjalani alur kehidupan yang kian hari kian berkembang, karena setiap individu tentunya ingin mendapatkan hak yang sama dan setara dengan lainnya.

Sebuah nama sebagai sebutan yang sering disebut oleh masyarakat adalah Gender. Kaum hawa sebagai subjek yang mendemonstrasi adanya kesetaraan gender juga dapat ditemukan bahwa, Problematika yang menjadi trending topik mengenai kesetaraan gender adalah dimana kaum hawa mendapatkan hak dan kemauan yang sama dengan kaum adam.

Zaman yang dulunya mempunyai adat bahwa, kaum hawa mempunyai tugas yang disebut denga 3M, macak, masak, manak, dan mematuhi aturan yang diberikan pasangan hidupnya sangat jauh berbalik dengan zaman sekarang yang mana kaum hawa tidak lagi hanya mengampu tugas 3M itu. Banyak pendapat dikatakan bahwa kaum hawa itu lemah, tingkat kecerdasannya dibawah kaum adam, akan tetapi pendapat-pendapat yang seperti itu tidak langsung mempunyai nilai kebenaran dan kesalahan. Individu baik dari kalangan kaum adam maupun kaum hawa tentunya mereka mempunyai tingkat kekuatan, kelemahan, kecerdasan berbeda-beda, hanya saja yang mendominasi kekuatan itu dimilki kaum adam. Kodrat yang seperti itu tidak apat dijadikan sebuah takaran dalam mengambil kesetaraan antara kaum adam dan kaum hawa, karena kodrat itu dari kehendakNya.

Kaum hawa atau dikatakan seorang wanita yang mengikuti jalannya problematika zaman sekarang, mereka tidak segan berkobar membakar semangat untuk memiliki kesataraan dengan kaum seberangnya. Katakanlah move on dari peradatan kaum hawa  zaman dahulu kala, keseimbangan yang dicari oleh kaum hawa bukanlah untuk mendapatkan semua yang dimilki oleh kaum adam. Mereka move on dari peradatan yang terdahulu karena mereka tentunya mempunyai alasan yang logis bagi individunya terutama. Dalam Fiqih Sunnah maupun Tafsir Al Quran, banyak pedoman untuk pengajaran bagaimana keseimbangan, kesetaraan antara kaum adam dan kaum hawa. Dapat diambil contoh seperti dalam Al Quran surat An nisa ayat 34, ayat ini mempunyai tafsiran yang berbeda-beda menurut keahlian masing-masing. Salah satu pendapat mengatakan bahwa, “al” dalam kata al-rijal, yakni mengandung arti sebagian, yang mana dalam hal ini bisa dikatakan bahwa tidak seluruhnya kaum adam mampu memimpin kaum hawa dan tidak semua hal bisa dipimpin oleh kaum adam.

Konteks yang terjadi dalam barisan kalimat tersebut bisa diartikan bahwa kaum hawa mempunyai kesempatan untuk memimpin dan berjalan untuk memberi arahan kepada kaum adam. Berkarir, menjadi sorotan utama dalam gender, akan tetapi cara untuk penyeimbangan tersebut tidak harus dengan memimpin dan berkarir. Kaum hawa bisa merubah kata karir yang menjadi perbincangan kaum adam itu dengan kata Karya, karena untuk menjadi seimbang dan setara itu tidak harus berpacu dalam satu cara.

Analisa diri dari kaum hawa akan lebih membantu untuk menemukan strategi dalam gender. Karena dengan menganalisa, menyusun strategi, menemukan kisaran resiko itu yang dibutuhkan ketika kaum hawa itu menginginkan keseimbangan dalam gender. Oleh karena itu, jika memiliki kemauan dalam action gender, sebagai kaum hawa yang tidak ingin dijatuhkan atau diabaikan, berpikir luas, simple akan lebih memberi ide-ide birliant untuk menjadi kaum hawa yang berkompetisi dalam berkarya dan hidup damai dalam gender.

 

 

——-

Kontributor : Qothrunnada (Sahabati Simpati 2015 PMII Rayon Galileo)

Sumber Gambar : http://intisari-online.com

GENDER BUKANLAH PEMBATASAN JENIS KELAMIN BIOLOGIS

Permasalahan kesetaraan gender merupakan masalah yang tidak ada habisnya. Banyak isu-isu yang muncul kemudian tertuju pada kesetaraan gender yang dialami antara laki-laki dan perempuan. Padahal sebetulnya kesetaraan gender ini bukan melulu pada perempuan dan laki-laki namun, kesetaraan gender ini juga sebenarnya terjadi pada kelompok-kelompok rentan atau kelompok minoritas. Gender akan tetap menjadi persoalan sebab hal ini terkait dengan ketidakadilan antara peran laki-laki dan perempuan. Seperti contoh ketika seorang perempuan bergabung atau memutuskan untuk menggeluti di ranah politik maka kesetaraan perempuan dengan laki-laki akan berbeda. Perempuan akan berada pada level dibawah, hal inilah yang kemudian muncul.
Persoalan gender akan menjadi isu yang sangat sensitif bila dikaitkan pesoalan agama. Perlu adanya kebijakan dalam memikirkan isu gender ini, sebenarnya isu gender ini hanya terkait dengan kesetaraan yang dialami oleh laki-laki dan perempuan. “Kesetaraan itu, adanya kemudahan dalam mengakses ilmu dan pengetahuan tanpa membedakan jenis kelamin biologis secara untuk memajukan dirinya. Hal ini penting karena dengan diberikan akses yang mudah maka perempuan memiliki tempat yang sama untuk bisa meningkatkan potensi yang ada pada dirinya. Ini menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki ruang yang sama untuk bisa berpartisipasi
Isu pembedaan gender ini, akan berubah seiring dengan waktu dan budaya yang berkembang di masyarakat. Karena itu, tentunya perlu adanya perubahan mindset yang dilakukan oleh masyarakat sekitar, yang masih mengganggap perempuan itu sangat lemah dan hanya mengurus domestik sedangkan laki-laki berurusan pada publik. Masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa kodrat seorang perempuan itu adalah memasak, mencuci, dan mengurus anak. Padahal secara pengertian, kodrat adalah sesuatu hal yang muncul dari Tuhan dan tidak bisa diubah misalnya mengandung dan melahirkan. Perlu ditekankan bahwa memasak dan mengurus anak itu bukan kodrat tetapi keterampilan. Namun bukan berarti kita bisa melupakan tugas kita sebagai ibu adalah mengurus dan menghormati suami. Dalam urusan rumah tangga sebenarnya antara suami dan istri itu bisa saling membantu satu sama lain

tetapi bukan berarti kaum laki-laki dan wanita menjadi sama dan setara dalam segala hal. Menyetarakan keduanya dalam semua peran, kedudukan, status sosial, pekerjaan, jenis kewajiban dan hak sama dengan melanggar kodrat. Karena, kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa antara laki-laki dan wanita terdapat perbedaan-perbedaan mendasar, hingga jika kita melihat keduanya dengan kasat mata sekalipun. Secara biologis dan kemampuan fisik, laki-laki dan perempuan jelas berbeda. Apalagi wanita dengan tabiatnya melakukan proses reproduksi, mengandung, melahirkan, menyusui, menstruasi, sementara laki-laki tidak. Adalah tidak adil jika kita kemudian memaksakan suatu peran yang tidak sesuai dengan kecenderungan dasar dari masing-masing jenis tersebut.
Dalam konsep kesetaraan gender bukanlah hanya milik perempuan tetapi juga milik laki-laki. Feminis bukan milik perempuan semata, tetapi laki-laki juga. Masalahnya adanya pematenan tunggal dari lingkungan sosial bahwa perempuan itu feminis dan laki-laki itu maskulinitas, sehingga muncullah pelabelan yang terjadi di lingkungan sosial. Untuk itu harus ada yang dikendarai oleh perempuan untuk bisa menunjukkan kualitasnya. Misalnya ketika ada kebijakan bahwa 70% beasiswa akan diberikan kepada perempuan, kebijakan itu yang bisa diambil untuk menyetarakan antara perempuan dan laki-laki dalam bidang akademis, dengan begitu ini tidak akan menyalahkan kodrat yang ada.perlu adanya keterbukaanaan antara dogma agama dan juga konteks sosial, karena dalam kesetaraan gender ini tidak ada yang dirugikan. Inti dari kesetaraan adalah tidak ada yang mendominasi dan tidak ada yang didominasi. Keduanya harus saling memberi. Intinya keadilan gender itu sesuai dengan kebutuhan yang dimiliki oleh keduanya. Jadi ketika seorang istri memutuskan untuk berhenti bekerja atas kemauannya, ya itu bukan permasalahn gender lagi, tetapi ketika itu ada paksaan inilah yang kemudian menjadi tidak ada keadilan. Yang terpenting saat ini perlu adanya pengetahuan yang baik karena pengetahuan merupakan kunci dari segala hal.
Quote 1:kesetaraan gender dalam organisasi adalah laki-laki maupun perempuan memiliki kesadaran tinggi sama dalam berproses di organisasi
Qoete 2:kesetaraan gender merupakan jenis kelamin dalam kehidupan social, dimana perempuan maupun laki-laki memiliki hak sama untuk aktif dalam lingkungan social
Qoute3:dalam kesetaraan gender harus memiliki strategi dalam kehidupan bermsyarakat agar masyarakat tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan salah satu contohnya dalam pekerjaan
Quote 4:kesetaraan gender dalam alquran dalam perspektif al-quran adalah kewajiban menjadi khalifah bumi tanpa membedakan jenis kelamin wanita maupun perempuan
Quote 5:kesetaraan gender adalah derajat social antara laki-laki dan perempuan dengan memikirkan kemashalatan bersama antara laki-laki dan perempuan itu sendiri .
Quote 6: kesetaraan gender adalah keadilan tanpa memikirkan jenis kelamin biologi dalam kehidupan sosialnya

Refleksi Gender yang (agak) Bias

Selamat siang dan selamat beraktivitas dihari Senin, sahabat-sahabat pergerakan. Setidaknya cuaca dihari ini masih menunjukkan keberpihakannya, yang membuat kita semua dapat melanjutkan aktivitas kita masing-masing. Juga disini penulis hendak mengucapkan selamat dan sukses atas diwisudanya (19 Maret 2016) senior saya serta senior kita semua, terima kasih pula atas pemberian cambuk cerita yang membuat kita terus bergerak dalam jalurnya. Pun penulis mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya (19-20 Maret 2016) Sekolah Islam Gender oleh Heksa Rayon PMII Komisariat Sunan Ampel Malang.
Ada sedikit pembahasan menarik menyoal gender hari ini, hanya sebagai hal reflektif saja. Membincangkan soal gender, ada hal hal mendasar yang selalu menjadi ambiguitas bagi penulis, “siapa berbuat apa, siapa memiliki apa, siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan, siapa yang memutuskan; laki-laki atau perempuan ?”. Kesemua itu, bagi penulis mungkin menjadikan pola pikir yang dinamis ketika membincangkan soal gender.
Dalam posisi ini, mungkin kita semua terus menyepakati mengenai konsepsi ‘kesetaraan gender’. Dengan hal itu selalu disuarakan oleh pegiat-pegiatnya, khususnya kaum perempuan. Kemudian yang menjadi dasar mengenai gender adalah artkulasinya sebagai interpretasi mental dan budaya terhadap perbedaan kelamin; yaitu perempuan dan laki-laki. Karena biasanya gender dipergunakan untuk menunjukkan pembagian yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan. Bagi penulis, mengagungkan kesetaraan gender akan memunculkan bias gender yang akut. Hal itu dapat kita lihat dari segi pemposisian laki-laki dan perempuan dalam konteks keseharian.
Dalam Al-Qur’an telah disampaikan pada Surat An-Nisa’: 34 , bahwa “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan mereka(laki-laki) telah memberikan nafkah dari sebagian harta mereka”. Sederhananya, islam klasik menafsirkan ayat tersebut bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Kemudian bagi pegiat gender kekinian, tafsiran tersebut sedikit disanggah untuk (lagi-lagi) menyetarakan posisi antara laki-laki dan perempuan. Mungkin mereka memandang bahwa, jika hal tersebut dikonsumsi mentah akan menimbulkan pandangan perempuan yang termajinalkan. Lalu dari penulis, tentunya arti tekstual itu masih mengandung unsur sosio-historis saat itu. Kemudian ditranslasikan menyesuaikan perkembangan dan kebutuhan zaman.
Jika melihat konteks kesetaraan gender, marjinalisasi perempuan terjadi semenjak zaman kolonial Londo. Kesewenangan gender tersebut sangat nampak pada abad ke-19. Pada waktu itu perempuan-perempuan kelas bawah menjadi korban pelampiasan seksual oleh kaum bangsawan dan alat ekspansi kekuasaan kaum bangsawan. Mereka diangkut ke istana untuk dijadikan ‘istri percobaan’ yang dapat diusir sewaktu-waktu sampai ndoro-ndoro mereka memperoleh istri yang sederajat. Eksplotasi ini nampak hidup dalam tulisan sastra, seperti kisah Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Hingga dieranya, mulailah muncul pergerakan nasional yang menyuarakan keadilan gender, sebut saja R.A Kartini.
Kemudian pergerakan tersebut berlanjut pada masa transisi kolonial ke orde lama, sebut saja Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Mereka terus menyuarakan keadilan gender, khususnya untuk kaum perempuan dan hingga pada perjuangan menjaga keutuhan NKRI. Perjuangan tersebut berdasarkan pada sejarah perempuan sendiri yang dirasa mengalami dehumanisasi pada saat itu.
Hingga sampai orde baru dan reformasi, perjuangan keadilan dan kesetaraan gender telah mengalami proses legitimasi yang kuat, dilihat pada munculnya Badan ke Negaraan yang menaungi tentang masalah gender, perempuan lebih khususnya. Kemudian, hanya tinggal kelanjutan pergerakan daripada gender yang tentu itu berdasarkan pada artikulasinya, mengenai mental dan budaya terhadap perbedaan kelamin. Karena pada dasarnya, muara ketidakadilan gender sebagaimana keadilan lain di muka bumi ini adalah dehumanisasi manusia. Selama penindasan itu ada, perlawanan sebagai ekspresi ketertindasan ataupun kebangkitan kesadaran.
Dengan itu semua, gerakan-gerakan yang mengatasnamakan gender bisa menjadi acuan kita bersama, bahwa adil tak sepenuhnya harus setara dan setarah adalah pondasi awal untuk mewujudkan keadilan.
Kembali disini penulis menyampaikan, bahwa tulisan ini hanya subyektifitas pribadi saja yang mencoba untuk tetap dinamis dalam berpikir. Diakhir, semoga bermanfaat untuk kita semua.
Wallahu a’lam.

 

kontributor : Sahabat Moh. Izzuddin (Ketua Rayon 2015-2916)

sumber gambar : http://www.iflscience.com/

Polemik Perayaan Hari Valentine

Awal bulan februari yang hampir setiap hari didampingi dengan derasnya hujan, membuat sebagian orang merasa kedinginan atau bahkan ada yang sampai mager (Males Gerak) dan memilih untuk hanya sekedar tidur mlungker di atas kasur. Semalas-malasnya sahabat, Saya harap tulisan ini dibaca hingga akhir.

Terlepas dari dinginnya suasana, ada pembahasan hangat mengenai hari di pertengahan februari yang dianggap sakral bagi segelintir orang. Ya, itulah hari Valentine yang jatuh tepat pada tanggal 14 februari setiap tahunnya.

Hari Valentine, yang muncul ketika bangsa romawi merayakan hari besar yang mereka anggap sebagai upacara pensucian yang bernama lupercalia pada tanggal 13-18 Februari. Namun, setelah agama Kristen dan katolik menjadi agama di Negara Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor.

Dari penjelasan diatas, kita dapatkan bahwasanya Hari Valentine tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan agama Islam. Bahkan merupakan ritual yang lahir dari upacara bangsa romawi yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.

Sudah begitu banyak artikel yang memaparkan bahwasanya ummat islam tidak sepantasnya ikut merayakan Valentine. Setidaknya ada beberapa alasan, diantaranya :

Allah SWT Berfirman :
[3:85] Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Sabda Nabi Muhammad SAW :
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031).

Dari Wahyu dan Hadis diatas, jelas bahwasanya ummat islam sangat tidak dianjurkan untuk meniru budaya kaum kafir, apalagi seperti perayaan hari valentine yang notabenya berasal dari kegiatan upacara kekufuran.

Sudah banyak beredar artikel bahkan quotes yang menerangkan haramnya perayaan valentine bagi ummat islam, seperti “Saya Muslim, katakana tidak pada Valentine” atau sering dijupai dalam bahasa inggris “I’m Muslim, No Valentine Day”.

Dalam islam memang sangat menjunjung tinggi nilai toleransi dalam hidup beragama. Namun, perlu ditegaskan bahwa toleransi yang dimaksud adalah dalam hal berinteraksi dan bermuamalah, BUKAN dalam hal ikut merayakan perayaan agama lain, ataupun ikut campur dalam peribadatan mereka.

Oleh karena itu, kita sebagai ummat Islam harus bersikap cerdas dalam menanggapi hari valentine tersebut. Bersikap cedas dengan tidak ikut merayakannya, namun juga bersikap cerdas dengan tidak menebar kebencian dengan quotes kontroversi yang justru merendahkan Ummat Islam itu sendiri dimata agama lain.

Salam hangat, ardan7779.

Indonesia Butuh EDINPRO (Edukasi, Inovasi, dan Promosi) Jajanan Tradisional

Indonesia Butuh EDINPRO (Edukasi, Inovasi, dan Promosi) Jajanan Tradisional Guna Mewujudkan Masyarakat Sehat dan Mandiri

Oleh: A.Z.M. Hilmy*, A.M. Hikmah*, N.R. Sari*

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak hal baru yang ditemukan oleh manusia guna menyejahterakan dan mempermudah kehidupan. Terlebih pada apa yang dimakan oleh manusia. Makanan merupakan kebutuhan mutlak setiap individu yang tanpa itu, mereka tidak dapat hidup. Di samping kebutuhan akan makanan utama, banyak orang yang membutuhkan makanan ringan atau jajanan sebagai pelengkap makanan utama bahkan sekedar pengganjal perut saat lapar tak tertahankan dan kesibukan yang seakan tidak mau berkompromi dengan kondisi perut. Lain halnya dengan anak-anak, bagi mereka saat ini lebih baik tidak makan nasi daripada tidak makan camilan (ngemil). Hal ini sebenarnya bukan salah anak-anak, akan tetapi karena pengaruh globalisasi yang tidak bersahabat dengan mereka.

“Seluruh kepentingan dunia harus mengacu pada kesejahteraan bangsa Indonesia. Jika globalisasi tidak menyejahterakan bangsa Indonesia, harus kita tolak!”, tegas Gus Dur dalam acara “One Day Globalization, Indonesian and You” yang diselenggarakan Institut Pengembangan Sumber Daya Manusia (IPSDM) Mayagita di Jakarta. Ucapan Presiden Indonesia ke-IV ini secara tidak langsung seharusnya membuat masyarakat berpikir bahwa tujuan globalisasi adalah untuk kesejahteraan rakyat, bukannya menyengsarakan. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, derasnya arus globalisasi membuat para penikmat jajanan tradisional Indonesia berangsur-angsur mulai beralih ke jajanan buatan pabrik yang cenderung menawarkan berbagai rasa dan warna yang menggiurkan.

Selain itu, jajanan pabrik juga lebih mudah didapat saat ini. Jajanan seperti sosis, snack, nugget dijual murah meriah di pelataran sekolah. Belum lagi dengan bentuknya yang beraneka ragam disertai kemasan yang unik tentunya banyak menarik minat anak-anak untuk membelinya. Padahal, dibalik itu tersimpan berbagai macam racun yang bisa merusak tubuh secara perlahan. Menurut BPOM RI (2009), sebanyak 45 % jajanan yang dijual di halaman sekolah mengandung beragam zat pengawet ataupun pewarna seperti formalin,

boraks, rhodamin dan methanil yellow yang bisa membahayakan bagi tubuh jika dikonsumsi secara terus-menerus.

Coba bayangkan apabila anak-anak mengkonsumsi zat-zat tersebut setiap harinya, berapa ribu penyakit yang nantinya akan menggerogoti tubuh mereka. Sebanyak 99 % anak-anak mengkonsumsi jajanan di sekolah dalam sehari untuk memenuhi energinya saat bersekolah. Bandingkan dengan jajanan tradisional Indonesia yang kaya akan nutrisi dan tanpa campuran bahan pengawet, akan tetapi justru malah ditinggalkan. Ironi bukan! apa yang salah dengan onde-onde, cenil, serabi, kelpon dll? mungkin jajanan seperti itu sudah jarang ditemui di zaman yang modern ini. Padahal jajanan tersebut dibuat dengan bahan alami yang mengandung banyak nutrisi bagi tubuh. Koswara (2006), menjelaskan dalam 4 buah klepon /50 gr, mengandung kalori 50 kal; protein 0,6 g; lemak 2,7 g; hidrat arang 20,1 g; dan air 26, g. Pertanyannya, masih perlukah kita mempertahankan jajanan Indonesia agar tidak punah ditelan zaman?

Jawabannya tentu tidak perlu dibahas lebih lanjut karena telah dipaparkan sebelumnya terkait kekurangan dan kelebihan jajanan tradisional Indonesia dan jajanan luar. Saat ini yang dibutuhkan adalah cara untuk mempopulerkan jajanan tradisional Indonesia agar bisa kembali memikat hati masyarakat. Hal ini tentunya bukan tanpa sebab, dengan mengkonsumsi jajanan tradisional Indonesia akan merubah gaya hidup masyarakat yang tidak sehat sekaligus akan menjunjung nilai Indonesia di mata dunia. Lalu harus diapakan jajanan tradisional Indonesia ini? Pasti akan timbul pertanyaan semacam ini di kalangan masyarakat.
IDE CEMERLANG

Sebagai pemuda yang peduli terhadap nasib bangsanya kedepan, maka sudah selayaknya turut serta aktif dalam menyelesaikan masalah yang sedang terjadi. Dalam hal ini pemuda mempunyai tugas untuk mengangkat dan megembalikan citra jajanan tradisional menjadi jajanan yang dapat bersaing bahkan dapat menandingi jajalan luar. Seorang pemuda harapan bangsa harus berani terjun langsung dalam mengatasi setiap permasalahan yang ada. “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”, kata Bung Karno dalam salah satu pidatonya. Ungkapan tersebut menyiratkan akan pentingnya peranan pemuda dalam membangun bangsanya, karena diatas pundak merekalah masa depan bangsa dipertaruhkan.

EDUKASI

Untuk mengawali langkah dalam memperbaiki citra jajanan tradisional dapat dilakukan dengan jalan edukasi. Edukasi disebut sebagai pendidikan merupakan hal penting yang perlu ditekankan dalam memulai suatu tujuan. Pengarahan pendidikan terkait dengan bagaimana mengangkat citra jajanan tradisional dalam masyarakat dimulai dengan penyuluhan kepada pembuat jajanan itu sendiri.

Penyuluhan dilakukan dengan mengumpulkan produsen jajanan tradisional yang dibentuk dalam sebuah komunitas untuk diberi pengarahan, mulai dari pembuatan produk hingga uji kualiatas hasil olahan jajan. Lain halnya dengan anak-anak yang berperan sebagai konsumen terbanyak untuk jajanan. Pembelajaran kepada anak-anak dapat dilakukan dengan mengajak mereka untuk ikut serta dalam proses pembuatan jajanan tradisional. Selain itu, anak – anak dapat mempelajari jajanan Indonesia lewat buku, kuis, ataupun game disela-sela proses pembuatan jajanan agar kegiatan pembelajaran tidak menjenuhkan.

INOVASI

Jajanan tradisional yang dulunya pernah eksis dikancah nasional lambat laun mulai terkikis kepopulerannya dengan jajanan luar, untuk itu masyarakat harus mencoba membuat jajanan tradisional menjadi primadona dikalangan anak-anak seperti pada era 80-an. Tentu saja hal ini sulit untuk dilakukan, tetapi bukan berarti mustahil dilakukan sebagai bentuk kecintaan terhadap produk – produk tanah air. Hal ini bisa dimulai dengan merubah tampilan kemasan jajanan tradisional yang dulunya dikemas hanya dengan daun pisang, plastik, kertas minyak bahkan hanya ditusuk menggunakan bambu menjadi tampak lebih menarik dan mengesankan.

Mata penikmat jajanan pertama kali tentunya akan melihat pada kemasan jajanan sebelum melihat isi jajanan tersebut sebagai bentuk kualitas kelayakan untuk dimakan. Menanggapi hal tersebut, tampilan kemasan haruslah diubah menjadi bungkus yang berwarna – warni, bergambar, atau dibungkus dalam bentuk-bentuk yang unik, seperti bentuk kartun animasi (doraemon, sinchan, dragonball) atau gambar–gambar tokoh pahlawan dalam perfileman layaknya spiderman, batman, power ranger, ultramen, dan sebagainnya. Dengan tetap memperhatikan kualitas isi dan rasa jajanan tersebut.

PROMOSI

Media informasi dan komunikasi mempunyai peranan penting dalam menyebarkan informasi dan kondisi yang sedang terjadi, mulai dari media cetak, media audio, maupun media audiovisual. Berbagai jenis media ini biasa dipergunakan sebagai lahan promosi mulai dari pakaian, tempat tinggal, hingga makanan. Salah satu media yang akrab di masyarakat adalah televisi, hampir setiap keluarga mempunyai minimal satu buah televisi. Iklan (promosi produk dan jasa) mau tidak mau akan kita jumpai di televisi. Hal ini dikarenakan iklan biasanya dijadikan pengisi di sela-sela acara telivisi dan bahkan sekarang mulai dimasukkan ke dalam acara tersebut.

Produk makanan maupun minuman yang diiklankan di televisi saat ini masih berupa produk yang instan dan berpengawet serta kebanyakan terpengaruh produk buatan luar negeri. Makanan tradisional Indonesia masih jarang dipromosikan lewat pengiklanan ini. Hal ini bukan semata-mata karena biaya promosi lewat televisi yang selangit, akan tetapi juga dikarenakan minimnya pengetahuan produsen jajanan tradisional terkait cara mempromosikan produknya. Menaggapi hal tersebut maka perlu dilakukan pembimbingan langsung yang dapat berupa sosialisasi serta pemaparan mengenai tata cara pengajuan iklan ke televisi kepada produsen jajanan tradisional.

Media cetak berupa majalah, koran, dan katalog dapat dijadikan sebagai agen kedua untuk mememasarkan produk jajanan tradisional selain melalui media audiovisual. Media cetak dapat diterbitkan setiap bulan dengan edidsi – edisi terbaru yang dapat memberikan kreativitas produsen jajanan tradisonal dalam mengembangkan produknya. Semakin beranekaragam tampilan produk, tentunya penikmat jajanan semakin terpikat untuk membeli. Seperti katalog, dapat menyediakan pemesanan secara grosir dari produsen yang dapat dikirim secara cepat. Ini menjadikan produsen jajanan lebih mudah dalam mempromosikannya tanpa harus menjualnya ke pasar setiap hari dan membutuhkan tempat khusus untuk berjualan.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Pengaruh globalisasi menyebar di segala bidang, mulai dari cara berpakaian, hingga makanan yang dikonsumsi. Hal ini membuat perubahan gaya hidup di berbagai negara, termasuk Indonesia. Negara yang dijuluki sebagai paru-paru dunia ini sekarang mulai kehilangan jati dirinya karena arus globalisasi yang menggerus kekayaan alam Indonesia, salah satunya dibidang makanan. Makanan tradisional mulai kurang diminati, bahkan seakan menghilang dari jiwa bangsa Indonesia. Tentunya hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja karena semua warga NKRI seharusnya turut merubah kebiasaan buruk ini, terutama pemuda. Masa pertengahan antara anak-anak dan dewasa ini membuat jiwa seorang pemuda lebih aktif dan kreatif dibandingkan dengan yang lain.

Langkah pertama yang harus dilakukan guna mengubah gaya hidup ini adalah dengan EDUKASI. Edukasi disini merupakan pembelajaran terkait pengolahan makanan tradisional secara benar dan berbagai macam manfaat yang bisa didapatkan dari mengkonsumsi jajanan tradisional, khususnya bagi tubuh. Edukasi ini ditujukan kepada pihak produsen maupun konsumen, terlebih pada anak-anak yang sangat menggemari jajanan. Langkah kedua yakni dengan INOVASI. Inovasi sendiri terkait perubahan ke arah yang lebih baik yang bisa diterapkan kepada jajanan tradisional, mulai dari pengemasan hingga sampai kepada konsumen.

PROMOSI, merupakan langkah terakhir dalam mengangkat citra jajanan Indonesia. Dalam mengenalkan jajanan ini saat ini tidak harus dengan berjualan keliling mengitari desa, akan tetapi bisa dengan memanfaatkan media informasi mulai dari visual hingga audiovisual. Agar promosi ini berjalan optimal bisa dengan menambahkan hal-hal yang kreatif dan unik seperti warna dan desain yang beragam pada majalah kuliner. Tiga jenis solusi ini lambat laun akan mendongkrak jajanan tradisional Indonesia yang mulai tenggelam ditelan zaman. Tentunya pemuda juga berperan penting dalam pelaksanaan beberapa solusi ini. Mereka sebagai media penyambung antara orang dewasa yang mayoritas menjadi produsen dan anak-anak menjadi konsumen. Pemuda bukan hanya pemuda, tapi pemuda adalah penyemangat bangsa.

 

DAFTAR PUSTAKA
Aimah, S., dan Ulvie, Y.N.S. 2015. Peran Orang Tua Terhadap Optimalisasi Jajanan Sehat pada Tumbuh Kembang Anak. The 2nd University Research Coloquium. ISSN 2407 – 9189

Hamida, K., Zulaekhah, S., Mutalazimah. 2012. Pemyuluhan Gizi dengan Media Komik untuk Meningkatkan Pengetahuan tentang Keamanan Makanan Jajanan. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol. 8. No. 1. Hal. 67-73

http://www.gusdur.net/id/berita/tolak-globalisasi-jika-menyengsarakan-rakyat, diakses pada tanggal 18 Desember 2015, pukul 15.27 WIB, Malang

http://www.kompasiana.com/edisembiring/warisan-bung-karno 55004b56a333115973510416, diakses pada tanggal 17 Desember 2015, pukul 16.12 WIB, Malang

Koswara. 2006. Isoflavon, Senyawa Multi Manfaat dalam Kedelai. (http://www.e-bookpangan.com). Diakses tanggal 15 Desember 2015

Membaca sebagai Kesadaran Berbangsa dan Bernegara

Untuk gelap yang melampaui dinginnya embun, selamat malam sahabat. Kurang lebih, begitulah suasana malamnya Malang dan tentu secangkir kopi adalah kekancan yang ideal untuk melalui rangkaian hari ini. Masih dengan suasana hujan yang membawa dingin serta kenangan (#eeh) dan karena itu mari kita hadirkan hangatnya malam melalui aktivitas berpikir yang menghasilkan buah pikir.
Teringat suatu pembahasan diskusi kecil dengan salah seorang Sahabat menyoal budaya yang dikhususkan mengenai kebudayaan baca-membaca. Dengan mengawali pembicaraan mengenai cita-cita Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, yang kemudian semakin hangat membahas tabiat dan budaya para pemuda penerus bangsa hari ini, pun didalam diskusi kecil ini menghadirkan banyak sekali kritik membangun untuk kita sebagai penerus bangsa. Inilah yang kemudian ingin penulis angkat menjadi suatu problematika yang perlu kita bahas pada kesempatan kali ini.
Sering kita mendengar pertanyaan mengenai, “mengapa negara kita susah bersaing dengan negara-negara lain, apa ada yang salah dalam sistem perikehidupan rakyat kita ?” atau “kapan negara kita dapat menandingi negara-negara maju ?”. Lalu hal tersebut selalu dikait-kaitkan dengan strata pendidikan, inovasi dan rekayasa teknologi, serta karya-karya pribumi yang itu untuk dimonumentasikan sebagai bukti perkembangan dan kemajuan negeri. Daripada itu semua, terdapat hal yang mendasar untuk kita kaji bersama, yakni mengenai “apa yang menjadikan mereka lebih maju dari kita”.
Peradaban suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan dihasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang didapat, sedngkan ilmu pengetahuan didapat dari informasi yang diperoleh dari lisan maupun tulisan. Dalam hal ini penulis sangat bersepakat, bahwa untuk memajukan negeri hMembacaarus diawali dengan proses membaca untuk kemudian agar dapat mendapat informasi dan wawasan.
Bahwa berkembangnya dari era orde lama ke era reformasi sudah sangat memberi pengaruh pada hal yang umum hingga spesifik secara signifikan. Pengaruh perkembangan infrastruktur adalah salah satu wujud perkembangan paling kontras untuk kedua proses di era orde lama hingga reformasi. Namun, penulis tidak sedang membahas pengaruh umum yang diberikan oleh perkembangan era tersebut; melainkan penulis mencoba membahas pada pengaruh yang belum kita sadari, yakni perkembangan baca-membaca
Coba kita sedikit berimajinasi mengenai kondisi baca-membaca pada era orde lama, orde baru, dan reformasi. Pada era orde lama atau pada pemerintahan Soekarno, yang pada era ini masih terdapat problematika ketahanan negara. Proses perkembangan pendidikan mengalami step awal, yang dalam hal ini Ki Hajar Dewantara diamanahi sebagai Menteri Pengajaran dan Kebudayaan sebagai generasi awal bidang pendidikan pasca kemerdekaan. Pandangan atau konsepsi politik Soekarno mengenai Nas-A-Kom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) ini juga mempengaruhi dinamika dan stabilitas negara yang terdapat tiga komponen penting; yakni tentara, kelompok-kelmpok islam, dan komunis.
Disisi lain, pada berbagai hal juga terdapat anggapan atau asumsi dari masyarakat bahwa Soekarno adalah penganut hal-hal yang berbau komunisme (lebih khususnya sosialisme); anggapan ini tentu dari keseharian dalam hal pemikiran dan tutur kata Soekarno pada saat itu yang sering menyebut istilah-istilah sosialisme atau (pernah) komunisme. Daripada hal tersebut, mulailah masuk literasi atau wacana komunisme di Indonesia, yang juga melalui salah satu tokoh komunisme atau dapat disebut sebagai salah satu orang kepercayaan Soekarno; yakni Tan Malaka.
Di era orde lama pun, hubungan Soekarno dengan negara-negara berpaham sosialisme dan komunisme bisa dibilang berada pada titik ideal, yang mempunyai pengaruh pada bertambahnya literasi dan wacana komunisme global. Kemudian daripada itu, Soekarno juga mencanangkan misi “pemberantasan buta huruf” yang dalam hal ini bisa kita tafsirkan bersama sebagai membaca-menulis. Misi memberantas buta huruf ini bukan hanya mengajari rakyat untuk bisa baca dan tulis, bukan hanya mengarahkan rakyat dari gelap menuju terang; tapi juga sebagai misi penyempurnaan kewarganegaraan. Untuk hal ini, coba penulis kutip dari tokoh internasional Lenin bahwa, “seorang manusia buta huruf adalah diluar dunia politik.” Maksud dari apa yang disampaikan Lenin; tanpa membaca dan menulis, berarti seseorang tidak bisa menyadari hak dan kewajibannya sebagai warga negara, seorang tersebut akan sulit bertindak atas nama dirinya karena tidak bisa membaca konstitusi dan memahaminya.Indonesia membaca
Bahwa di era orde lama ini penulis menganggap sanggupnya membaca dan menulis adalah suatu kelebihan hebat bagi pribumi yang bisa disebut sebagai kaum terpelajar. Jadi teringat surat Kartini kepada sahabatnya Estelle Zeehendelaar, “duh, sekarang aku mengerti, mengapa orang begitu menentang keterpelajaran orang Jawa. Kalau orang jawa terpelajar, dia tidak akan gampang menjadi pengamin saja, takkan menerima segala macam perintah atasannya lagi.” Juga pada perjuangan beliau untuk kemudian mengajarkan pribumi agar melek huruf, pada saat itu.
Disisi lain, perlu juga kita sadari bahwa kondisi diera orde lama ini tidak terdapat fasilitas tempat ataupun buku yang optimal untuk dikonsumsi rakyat sebagai pengetahuan dan wawasan, yang tentu karena keterbatasan ini dan itu. Dengan melihat modernitas dan perkembangan zaman, diera orde lama sangat jarang menyediakan literasi global yang sudah diterjemahkan dalam bahasa nasional untuk kemudian dapat dibaca dan dipelajari oleh rakyat masa itu.
Pada era orde baru atau pemerintahannya Soeharto, dengan diawalinya supersemar (surat perintah sebelas maret) yang mungkin masih ada hal kontroversial hingga saat ini. Penulis tidak akan membahas bagaimana dinamika pergantian orde lama ke orde baru walaupun hanya sepengetahuan penulis apalagi pengaruh dari orde baru ini yang tidak sesuai. Setidaknya, kita sama-sama berimajinasi mengenai bagaimana pengaruh positif untuk perkembangan Indonesia di beberapa hal, khususnya perkembangan dibaca-membacanya. Mengenai pemerintahan Soeharto, terdapat beberapa hal yang sangat kontras untuk kemudian kita munculkan sebagai pembahasan yang renyah; namun, kita tidak akan mendalami kesemuanya, hanya sebagian saja yang itu relevan untuk kita bahas. Tentu, menjadi sebuah kesadaran bagi para pendahulu yang berkesempatan hidup pada pemerintahan orde baru untuk menyatakan bahwa, hilangnya hak bersuara dan hilangnya hak demokrasi atau bisa dianggap otoritas penuh dari pemerintahan orde baru; hal itu yang kemudian menjadi kontras pada masanya.
Kemudian adanya hal kontras lain terdapat pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat dimasa itu, juga begitu hebatnya perkembangan infrastruktur karena terbukanya ruang untuk korporasi-korporasi dan investor asing yang hari ini masih kita rasakan pengarunya. Anggapan atau asumsi bahwa tidak adanya ruang untuk beraspirasi ini yang kemudian menjadi pelabelan bahwa, dominasi kelompok aparat yang berlebih.
Bahkan, berbagai kabar dari orde baru yang penulis terima adalah mengenai upaya genosida terhadap kelompok penganut komunisme atau bahkan yang terinduga menganut komunisme; yang menurut penulis diorde lama telah menjadi salah satu lokomotif perkembangan pemikiran negeri maupun global. Terkait berbagai upaya genosida yang berbau komunisme (termasuk produk, buku, dan simbol) ini juga berdampak bagi kaum terpelajar, untuk berwawasan mengenai pemikiran Soekarno yang sudah dianggap mempunyai gagasan sosialisme dan komunisme.
Kemudian bagi penulis, hal tersebut sudah sangat mengalami ketimpangan yanghingga saat ini kita masih mencari asumsi yang benar mengenai peristiwa yang berkaitan dengan komunisme diera orde baru. Bahkan penulis menganggap ada hal lain, yakni bukan saja upaya untuk menyingkirkan pemahaman komunisme, melainkan yang tidak pro dan sesuai dengan tindak laku atau kebijakan pemerintahan bisa diancam dan terancam, hingga produk (buku atau literasi sekalipun) ikut terancam; dan semoga itu hanya menjadi anggapan penulis yang kurang benar adanya. Dari hal sebelumnya, bahwa tidak banyaknya atau bahkan tidak adanya literasi dan wacana terkait perkembangan komunisme, sosialisme, dan hal yang menyangkut penyuaraan aspirasi; atau yang biasa kita sebut sebagai literasi dan wacana kekirian yang beredar. Hingga dinamika tersebut berlangsung sampai akhir era orde baru di tahun 98-nan.membaca
Yang berlanjut pada era reformasi atau pemerintahan BJ. Habibie hingga Jokowi (sekarang). Tentu terdapat banyak hasil dari buah proses dan dinamika di dua era sebelumnya. Setidaknya, sebagian besar dari kita yang hidup pada era reformasi ini mempunyai persepsi dan penilaian pribadi, yang tentu subyektif.
Di era reformasi yang menyebut sebagai masa demokrasi dan tersedianya ruang-ruang untuk menyuarakan aspirasi ini, tentu segala hal dapat kita akses dan dapat jika kita berkemauan juga berkesempatan. Pun terkait dengan sarana prasarana yang menunjang kita untuk berwawasan dan berpengetahuan; mulai dari sekolah, perpustakaan umum dan khusus, kios-kios toko buku, hingga yang kita anggap sebagai tempat ideal dan cocok untuk berwacana. Perkembangan zaman pun sudah memberikan distribusi mengenai buku dan terjemahan tentang literasi atau wacana yang dapat kita akses dan peroleh sebagai penambahan wawasan dan pengetahuan diri dan bangsa. Juga buah karya para pemikir dan praktisi di era reformasi ini lebih bisa kita asumsikan sebagai hal yang kompleks; kesemua itu dapat kita peroleh, jika kita menyadarinya dengan benar-benar sadar.
Asumsi penulis bahwa, dari membudayakan diri membaca maka kita akan menapakkan langkah awal kita untuk menyadari kewajiban berbangsa dan bernegara. Dengan kita membaca, maka kita akan membuka keran pengetahuan dan wawasan, dengan terbukanya wawasan dan pengetahuan maka kita akan mengerti dan memahami bagaimana untuk menjawab pertanyaan yang sering kita dengar mengenai “kapan Indonesia dapat menyaingi negara-negara maju ?” sesuai versi kita masing-masing.
Penulis juga mengingatkan, bahwa apa yang ada pada tulisan ini adalah subyektifitas daripada penulis yang mengharapkan atas kritik dan saran dari pembaca. Semoga dapat memberi hikmah dan manfaat, terimakasih.
Wallahu a’lam.

 

Kontributor : Sahabat Mohammad Izzuddin (Ketua Rayon PMII Galileo 2015-2016)

Khalifah (yang) Khilaf

Selamat pagi sobat, sudahkah menyeduh kopi di Minggu pagi yang cerah ini ? Jika belum, maka bersegeralah untuk mengopi dihari ini 🙂 . Jalanan yang lengang akan kendaraan bermotor nampaknya sudah menjadi pemandangan yang identik diakhir pekan. Car Free Day dikawasan Jalan Ijen sudah menjadi destinasi pagi untuk warga dan pemuda Malang disetiap minggunya. Pun dengan suasana identik seperti berkumpul dan berpacaran (yang sangat dilarang oleh agama) disuatu tempat wisata, yang dizaman sekarang itu juga wujud dari silaturahim.

Akhir-akhir ini, ada banyak berita publik yang membicarakan ihwal lingkungan yang memang itu menjadi permasalahan kita bersama. Pasti sebagian dari kita sudah mendengar dan sedikit bertanya-tanya, bahkan menyatakan ketidaksepakatan dengan apa yang terjadi pada lingkungan di Negeri kita. Persoalan kebakaran hutan dan pertambangan yang menjadi trending topik beberapa bulan terakhir sudah menjadi kontroversial saat ini. Bergeser daripada persoalan lingkungan pada lokus Nasional, yakni  untuk wilayah Malang. Penulis ingin mengambil contoh persoalan lingkungan di wilayah Malang, yakni kontroversi persoalan hutan malabar, dibangunnya gedung disisi bantaran sungai besar, sampai pada persoalan pembangunan gedung diatas sumber air.

Pada semua persoalan tersebut, tentu terdapat keterlibatan manusia didalamnya. Memang disadari atau tidak, dari persoalan-persoalan tersebut terdapat hal negatif dan positif. Dalam  hal ini penulis tidak sedang ingin menilai persoalan-persoalan tersebut dari segi hukum, ekonomi, sosial, budaya, ataupun bidang keilmuan lainnya. Namun, keterlibatan manusia itu berdampak pada munculnya persoalan tersebut yang kemudian menjadi permasalahan kita bersama. Bukan hanya keterlibatan secara tindak dan laku, namun juga keterlibatan pemikiran juga berbuah hal besar yang berujung pada tindak dan laku itu sendiri.

Mengapa manusia sanggup berperilaku demikian (merusak lingkungan), padahal itu sudah sangat jelas dilarang dan tidak diperbolehkan ? Jawaban yang paling sederhana adalah karena manusia mampu untuk berbuat demikian. Hal tersebut terlepas dari kesadaran atau tidak. Namun, ketika membicarakan tentang mampu secara tindak dan laku, pasti tidak lepas dari buah pikir manusia itu sendiri. Semisal, mengapa aku (sebagai manusia) melakukan hal tersebut ? atau, mengapa aku (sebagai manusia) berkeinginan melakukan hal tersebut ? tentu pada kedua pertanyaan tersebut menjadi suatu hal yang dialektis bagi seorang manusia sebelum melakukan sesuatu. Itulah mengapa penulis mengistilahkan bahwa, buah pikir dapat dipastikan akan menghasilkan tindak dan laku (dalam konteks ini).

Membicarakan tentang manusia, pada kalam Allah SWT sudah dijelaskan dan disebutkan  bahwa manusia adalah seorang pemimpin dimuka bumi (Khalifah fil Ardh). Kemudian pada kalam tersebut penulis coba tafsirkan, bahwa istilah pemimpin dimuka bumi tersebut adalah suatu tanggung jawab bagi seluruh manusia untuk kemudian menjaga keutuhan dan stabilitas bumi dan seisinya. Sederhananya, “kalau itu adalah kalam Allah, berarti itu sebuah perintah dari Allah kepada manusia yang harus ditaati.”

Namun bagi penulis, seolah-olah terdapat suatu pergeseran pada penafsiran dan pengaplikasian Khalifah fil Ardh itu sendiri secara disadari ataupun tidak sadar, dan hal ini berdampak pada konstruk pemikiran yang kemudian berlanjut pada tindak dan laku manusia secara tidak sadar sebelumnya. Bahwa, pemimpin itu penguasa, pemimpin itu berkuasa, dan pemimpin adalah pemilik, maka pemimpin ‘berhak’ atas apa yang dikuasai dan dimiliki. Jika kita bayangkan pemimpin adalah istilah lain daripada seorang penguasa, tentu seluruh bumi ini adalah hak kepemilikan daripada pemimpin itu sendiri. Maka, itu adalah suatu konstruk atau penafsiran atau pengertian yang tidak dapat dibenarkan dan harus kita sadari.

Sederhananya, penulis mengasumsikan bahwa pemaknaan atau penafsiran kata pemimpin sebagai penguasa adalah suatu kekhilafan atau bahkan suatu kesengajaan daripada manusia itu sendiri. Khilaf karena memang benar-benar tidak sadar dan lupa dari sejak berpikir bahwa tindak dan lakunya sebagai perusakan atau pengeksploitasian lingkungan dan alam adalah suatu hal yang tidak benar walaupun pelaku merasa ada hal positif dari tindakan tersebut, yang kemudian itu berdampak pada kestabilan alam dan lingkungan.

Lalu, pada hal kesengajaan sejak dalam berpikir dan menimbang inilah yang membuat manusia semakin menjadi-jadi kepenguasaannya, yang seolah-olah mengambil alih penuh kepemilikan alam dan lingkungan ini untuk diolah atas kemauan, keinginan, dan kehendak daripada manusia itu sendiri; dan bagi penulis ini adalah suatu hal yang sangat tidak benar. Jika dilihat dari manusia itu sendiri, bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa. Entah hal tersebut sebagai suatu kebenaran dari tindakan yang salah atau sebagai suatu dalih dari tindakan yang salah untuk tidak disalahkan. Silahkan dipersepsikan sendiri, sobat.

Setidaknya, dari pembahasan-pembahasan tersebut ada suatu hikmah yang dapat kita ambil sebagai pelajaran untuk kebaikan dikemudian hari. Pada akhirnya, penulis mengingatkan kembali bahwa tulisan ini hanya bersifat subyektif dari penulis. Juga penulis memohon maaf apabila terdapat sesuatu yang kurang berkenan pada tulisan ini.

Wallahu a’lam.

 

  • Kontributor = Sahabat Mohammad Izzuddin (Ketua Rayon PMII Galileo 2015-2016)