Pahlawan Bukan Sekedar Dikenang

PMII Galileo –  “Betapa hatiku takkan pilu telah gugur pahlawanku. Betapa hatiku takkan sedih hamba ditinggal sendiri. Siapakah kini pelipur lara nan setia dan perwira. Siapakah kini pahlawan hati pembela bangsa sejati . . . .

(Ismail Marzuki-Gugur Bunga)”

Sosok yang tangguh, tak gentar membela rakyat Indonesia dan rela bercucuran darah tuk memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Mungkin itulah opini tentang hari pahlawan yang selama ini tertanam dalam benak kita semua. Perjuangan para pahlwan yang gugur saat berperang melawan sang penjajah belanda membuat namanya harum di dalam kenangan masyarakat Indonesisia, sehingga disepakatilah tanggal 10 November sebagai hari pahlawan. Read more “Pahlawan Bukan Sekedar Dikenang”

Pahlawan Untuk Pelajaran

PMII Galileo – sejarah adalah pelajaran bagi masa sekarang dan masa sekarang adalah pelajaran bagi masa depan, waktu tak akan pernah berhenti dan akan terus berjalan dengan begitu cepatnya. tak terasa ternyata umur kemerdekaan indonesia sudah mencapai 72 Tahun. dengan perjuangan yang keras hidup dan mati di taruhkan, banyak pahlawan yang berjuang untuk memperjuangkan kemerdekaan Bangsa ini. tak sedikit rakyat atau pahlawan pada masa penjajahan yang disiksa bahkan dibunuh oleh penjajah karena merasa mereka itu mengganggu. bayangkan seumpama tak ada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan bagi Bangsa ini mungkin Indonesia tak seperti Indonesia yang sekarang, bahkan mungkin sampai saat ini Indonesia masih perang dengan penjajah. Read more “Pahlawan Untuk Pelajaran”

Sholawat Sumpah Pemuda “Zaman Now” Ala Gus Dur

PMII Galileo- Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, hampir seluruh kalangan pemuda merayakannya, tanpa terkecuali yang masih kanak-kanak, remaja, sudah agak lebih tua, ataupun lansia. Tapi maaf. Hari ini, saya tidak ikut merayakan hari sumpah pemuda. Bukan hanya karena sekarang akhir pekan, hingga aku sedemikian sibuknya, tidak! Merayakan saja tidak, apalagi aku harus bersumpah layaknya pemuda “Zaman Old” sama sekali tidak.

Sudah cukup saya saja yang demikian, kalian tidak perlu ikut-ikutan, Kalau perlu kalian yang belum sempat diminta diajak ataupun dipaksa untuk bersumpah, segera lah bersumpah pada waktu yang lalu, baik tahun lalu, dua tahun yang lalu ataupun beberapa tahun yang silam.

Diajak, diminta ataupun dipaksa? Saya masih yakin, kalian tidak akan bersumpah, jika tidak diajak ataupun tidak tidak dipaksa. Untuk itu saya memberi saran untuk berhenti lah, tidak perlu melanjutkan langkah kaki kalian ke tempat-tempat persumpahan, jika memang berat rasanya.

Saya saat ini yang sedang terasuki oleh sukma R.M Djoko Marsaid, Mohammad Yamin pun pada waktu lampau, sekitar 89 tahun yang lalu, sudah komitmen untuk tidak akan meminta para pemuda “zaman now” bersumpah sesuai naskah Sumpah Pemuda. Meminta saja tidak, apalagi memaksa kalian.

Saat ini, saya sedang berkumpul dengan para pemuda-pemudi di Surabaya. Saya tahu yang membedakan kalian dengan Yamin hanya terletak pada kata “now” dan “old”. Kamu dan teman-temanya adalah “zaman now”, sedangkan Yamin dan kawan-kawan, terhitung “Zaman Old”. Jadi, sumpahnya pun hanya oleh, dari dan untuk “zaman old”.

Tapi, tunggu sebentar.

Pada perayaan sumpah pemuda kali ini, sudahkah kalian mengirim ataupun melantunkan hadiah surat al-Fatihah kepada Yamin dan kawan-kawan, termasuk Djoko Marsaid? Jika belum, Segera Anda mengirim hadiah tersebut. Hitung-hitung menjaga ingatan kalian pada tokoh-tokoh yang sudah mengabdikan diri pada agama, bangsa dan negara.

Saya tahu, pada momen yang maha spesial ini, hari sumpah pemuda yang sekaligus weekend, pasti kalian sedang nongkrong ataupun bermajelis, sambil membicarakan tentang sumpah pemuda. Gosipin orang-orang Belanda, menjungjung-junjung Yamin dan kawan-kawannya lah, yang akan berujung pada kegelisahan kalian para pemuda “zaman now”. Ya, jika dugaanku salah, maka bersedih dan menangislah, sebab kalian (mungkin) telah lupa pada seluruh unsur-unsur yang ada pada sumpah pemuda, baik tanggalnya, tokohnya, peristiwanya atau bahkan isinya.

Bagi kalian yang sedang nongkrong dan membicarakan sumpah pemuda. Nanti, dipengujung nongkrong ataupun majelis, kalian boleh sendiri ataupun berkelompok untuk ber-tawassul, itupun jika kalian bisa ilahadratin-blablabla. Jika tidak bisa, ya no problem.

Apalagi jika tak mampu bersumpah, maka bershalawat lah dengan mengenang karya ataupun isi naskah sumpah pemuda. Dan jika kalian, masih sulit untuk mencari nada (tempo) yang enak dan gurih. Maka, saya sarankan memakai nada ala-syiir tanpo waton (Gus Dur). Jika masih sulit menyatukan isi sumpah pemuda dengan nada Gus Dur, maka kalian bisa menggunakan nada apapun, yang biasanya kalian gunakan saat bershalawat, yang terpenting ada lirik khas sumpah pemuda.

Saya tahu, pemuda “zaman now” suka yang instan (tidak mau ribet). Dan saya pun tahu, bersumpah ini menegangkan, secara formal pun berat untuk diamalkan. Maka dari itu, jika berat untuk bersumpah, maka bershalawatlah, toh masih sama-sama mengeluarkan kalimat-kalimat sumpah pemuda. Cuman bedanya terletak media atau caranya saja, isinya sama.

Terus jika bersumpah berkesan simbolik kalau kalian gagah dan berani di hadapan manusia lainnya, namun jika bersholawat tidak hanya disaksikan oleh manusia, diperuntukkan kepada manusia tetapi juga disaksikan dan diperuntukkan kepada Allah SWT, ataupun Tuhan kalian masing-masing. Bagaimana? Lebih keren kan tidak! Minimal, pemuda “zaman now” juga bisa berkarya.

Loh, betulkah?

Menurut kalian Sumpah Pemuda yang dicetuskan oleh Yamin seperjuangan adalah karya (produk), hasil dari “zaman old”?

Saya tidak yakin dan tidak setuju ya. Sebelum menjawab itu, saya mau memberikan analogi untuk menjawabnya sebab mendasar dari seseorang sakit maag adalah tidak makan. Dan sebab tidak makan karena tidak punya uang ataupun miskin. Tapi apakah penyakiat maag juga berlaku bagi orang kaya?

Sekelumit analogi itu, menjadi pengantar untuk menjawab bahwa saya tidak setuju. Awalnya memang, saya kira setiap karya adalah hasil. Tapi, kalau diselami lebih dalam lagi, ternyata karya adalah sebab. Ya menjadi sebab bagi pemuda zaman now untuk tetap berkarya kebaikan, kemajuan dan kemuliaan agama, bangsa dan negara.

Ah sudahlah!

Kurang begitu penting juga kita memperdebatkan soal karya adalah hasih ataupun sebab. Apalagi sampai debat kusir. Sangatlah tidak penting, meskipun itu tetap manusiawi.

Dan saya pun masih tetap yakin, bahwa Yamin dan seperjuangan juga memikirkan kehidupan-kehidupan pemuda di masa yang akan datang, kirakira seperti kehidupan generasi muda Indonesia zaman now yang sangat susah, sulit dan beratnya minta ampun, jika diminta diajak atau bahkan dipaksa untuk berkarya. Berkarya sajalah, tanpa perlu membingungkan diri, mau karyanya bersifat sebab ataupun bersifat hasil.

Ah sudahlah,

Zaman now, zaman now

Lebih baik aku berseru kepada Djoko Marsaid, untuk segera kembali ke alamnya masing-masing, dan melanjutkan bersholawat sumpah pemuda dengan nada ala-syiir tanpo waton.

Tumpah darah satu,

Tanah air Indonesia.

Bangsa yang satu,

Bangsa Indonesia.

Bahasa persatuan,

Bahasa Indonesia

(Itulah naskah, dari Sumpah Pemuda) 2x

Surabaya, 28 Oktober 2017

Bung Sokran

Penulis: Bung Sokran (Citizen Warta Pergerakan)

Pemuda Zaman Now Harus Peduli Lingkungan

PMII Galileo – Pemuda merupakan salah satu tonggak menuju kemerdekaan bangsa indonesia. Dan hari ini tepat nya  hari Sumpah Pemuda tanggal 28 oktober selalu diperingati oleh sebagian besar pemuda. Di era milenial sekarang, pemuda tidak lagi berjuang mengusir penjajah, tidak lagi mengangkat bambu runcing dan senapan. pemuda sekarang atau pemuda zaman now sebagai penerus generasi harus lebih respon terhadap permasalahan sosial di masyarakat.

Marak nya perburuan liar, membuang sampah sembarang tempat, menggunakan kendaraan ugal-ugalan sehingga asap kendaraan menyumbang polusi besar, membuang-buang air dengan percuma, penebangan pohon tanpa mereboisasi. Kegiatan-kegiatan seperti itu menjadi ancaman bagi masyarakat jika dilakukan terus menerus. Ancaman kekeringan, ancaman penyakit, tanah longsor, kepunahan ekosistem, dan pencemaran sehingga berdampak pada masyarakat, mereka kehilangan tempat tinggal bahkan nyawa, ekonomi melemah, kemiskinan meningkat, pendidikan menurun, kaum perempuan terpinggirkan.Hal yang sering dilupakan oleh kaum pemuda saat ini adalah kepedulian nya terhadap lingkungan. Tidak hanya kurang peduli, tapi menyumbang kerusakan lingkungan, ini ditandai dengan cara mereka tidak bijak dalam menjaga dan melestarikan Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan, malah mengeksploitasi dan merusak nya.

Bukti nyata yang terjadi di masyarakat sudah terlihat, di Jawa Timur sendiri banyak peristiwa, contohnya longsor ponorogo akibat penebangan pohon melebihi batas, banjir di Kabupaten Malang, banjir Sampang, kegagalan teknologi di Sidoarjo, kebakaran hutan, pencemaran air sungai akibat penumpukan sampah. Pemuda jaman now harus merubah perilaku tersebut.

Seperti apa upaya-upaya megurangi dampak yang ditimbulkan oleh kejahatan lingkungan?

Salah satu upaya yang harus kita lakukan sebagai pemuda zaman now seperti mengajak masyarakat, komunitas dan lainnya untuk menanam pohon di lahan kritis, tidak membuang sampah atau putung rokok di jalan dan sembarang tempat, menggunakan air degan bijak, menanam tanaman depan rumah, mendorong pemerintah desa untuk merencanakan pembangunan berbasis adaptasi perubahan iklim dan pengurangan resiko kebencanaan.

Maka dari itu, kita sebagai pemuda pergerakan, organisasi pemuda terbesar bangsa ini, PMII harus menjadi garda terdepan melestarikan lingkungan, agar dampak-dampak bisa diminimalisir. Untuk itu saya mengajak kader-kader KOPRI dan kader PMII seluruh nya agar lebih peduli masalah lingkungan. Wujudkan dengan gerakan nyata di masyarakat, menanam pohon bersama, buang sampah di tempatnya, olah sampah jadi bahan kreatif sehingga bisa meningkatkan ekonomi, dan tidak merusak ekosistem hutan, dan lautan. Pemuda Zaman now, pemuda peduli lingkungan.

Penulis: Beni Trimaningsih (Ketua Bidang SDA dan Lingkungan hidup KOPRI PB PMII)

Mengungkap Tabir Saiful Mujani Sang Pengkhianat Intelektual

PMII Galileo – Banyak bahwa yang menyimpulkan pollster di Indonesia berperilaku khianat sudah menjadi pengetahuan publik. Mereka pun menjual integritas intelektual demi memenangkan sebuah kompetisi klien yang dibayar oleh polling mereka yang dilakukannya. SMRC adalah salah satu pollster pertama di masa reformasi, pecahan dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang didirikan oleh Bill Liddle dengan murid-murid Indonesianya di Ohio University. LSI berdiri 2003 dengan menggunakan dana bantuan Jepang, di masa pemerintahan Megawati.

SMRC adalah wujud kongkrit dari penentangan itu. SMRC ingin mewujudkan tujuan LSI yang sesungguhnya. Apa lacur, SMRC ternyata jatuh ke lubang kenistaan yang sama.LSI semula dimaksudkan untuk mengembangkan demokrasi, namun uang trilyunan dalam pemilu telah membuyarkan cita-cita itu. Seorang pendiri melihat mudahnya meraup uang melalui pengarahan opini publik yang percaya kepada integritas peneliti politik (pollster). Public opinion mengarahkan dengan mencetak pola yang berlawanan dengan realitas yang disebut framing adalah pekerjaan khianat yang dilakukan dengan mengundang penentang dari pendiri LSI lainnya.

Pendiri SMRC Saiful Mujani, mengupload dokumen hoax yang menyatakan Anies-Sandi menandatangani dokumen perjanjian akan menjadikan Jakarta sebagai kota syariah. Pemilik dari perusahaan  polling  yang  dikontrak  langsung oleh Ahok, seharusnya Saiful membantu Ahok melalui keahliannya. Saiful menghancurkan kredibilitas intelektualnya dengan meluncurkan hoax itu. Ia pun menjual integritas  ilmiahnya yang melekat pada pollster yang dilakukannya, demi mendapatkan nilai rupiah.

Perilaku ini berlanjut di tahapan kedua pilkada DKI ketika SMRC merelease hasil survei bahwa “Anies hanya unggul kurang dari 1%”. Pada kenyataannya Anies unggul landslide, hampir 20%. Menurut pollster profesional selisih yang demikian besar itu merupakan aib dan tidak memungkinkan terjadi apabila survei dikerjakan dengan memakai prosedur ilmiah. Hasil itu hanya bisa terjadi bila prinsip-prinsip ilmiah sudah tak diginakan lagi dan pollster bekerja menurut standar politik belaka.

Sangat lah cenderung sebuah politik yang sama-sama terjadi dalam dua polling terakhir yang dikerjakan oleh SMRC. Pada tanggal 29 September 2017, SMRC mengumumkan bahwa pendukung Prabowo, PKS dan Gerindra telah memobilisir anak-anak muda untuk percaya bahwa “PKI akan bangkit”. Hasil analisis SMRC dipenuhi  ekstrapolasi , simplifikasi dan interpolasi, yang pada akhirnya membuahkan sulapan kesimpulan jauh dari standar ilmiah. (Saya tidak perlu menguraikan di sini soal itu, mungkin dalam tulisan terpisah). Kemudian pada tanggal 5 Oktober 2017 SMRC merelease lagi hasil surveinya yang mengatakan bahwa elektabilitas Jokowi mencapai 38,9% sementara Prabowo hanya 12%. Terdapat selisih lebih dari 200%, dimana logikanya?

Selama ini dan seperti diketahui Jokowi belum mengukir kinerja apapun, semua proyek-proyeknya sampai saat ini belum ada yang kelar. Sementara itu ia terus dijatuhin oleh kritik dan keluhan publik berkenaan dengan penumpukan utang yang luar biasa, investasi Cina tanpa lapangan kerja, kenaikan harga energi, penghapusan subsidi, ekonomi melambat, penurunan daya beli dst. Di sisi politik, partai yang dipetugasi Jokowi kalah di banyak pilkada yang dulu dikuasainya seperti Jakarta dan Banten. Di Jateng yang selama ini dikenal sebagai kandang banteng, calon-calon PDIP berguguran seperti laron menyerbu api lilin.

Di dalam situasi seperti itu darimana rasionalnya Prabowo yang hanya selisih 4% dari Jokowi pada tahun 2014 kok sekarang ambrol menjadi berselisih lebih dari 200% ?

Alasan apapun diberikan Saiful Mujani tidak akan meyakinkan. Penjelasan paling meyakinkan hanyalah bahwa Saiful Mujani sedang menjalankan lagi pekerjaan khianatnya yaitu menipu rakyat melalui polling. Ia telah dibayar untuk membangun opini publik (framing) bahwa “Prabowo adalah pengusung radikalisme yang telah memobilisasi orang-orang muda dengan isu itu untuk menyerang pemerintah.” Sebaliknya, Jokowi adalah politikus yang dicintai rakyat dengan elektabilitas 3 kali lipat pesaing terdekatnya.

Sangat memprihatinkan. Dulu mengaum seperti singa. Ternyata kamu hanya serigala berbulu domba.

Oleh: Radhar Tribaskoro (Citizen Warta Pergerakan)

Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

PMII Galileo – Cara  untuk  meyakinkan dugaan atau hipotetis tentang tingkat keterpilihan Bakal Calon (Balon)/Calon dalam pemilihan seperti Pemilihan Presiden (Pilpres) atau Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dengan melakukan survei opini publik terhadap elektabilitas para Balon/Calon.

Di acara Rapimnas Partai Golkar, Mei 2017 Balikpapan, Kalitim. Menko Maritim Luhut B. Panjaitan  menyatakan tanpa Sumber bahwa elektabilitas Jokowi saat ini masih di atas 50 persen. Lebih besar dibandingkan dengan elektabilitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Prabowo dan Megawati.Untuk kasus Jokowi sebagai Balon pada Pilpres tahun 2019 mendatang, sudah mulai dibicarakan di publik berdasarkan hasil survei opini publik. Sebagai  incumbent/petahana, Jokowi dalam pandangan lembaga survei umumnya  memperlihatkan penurunan elektabilitasnya. Sehingga bisa  disimpulkan bahwa kemungkinan besar Jokowi bisa memenangkan persaingan pada Pilpres 2019 semakin sulit dan harapankecil.

Litbang Kompas adakan survei berkala pada Januari hingga April 2017. Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan elektabilitas Jokowi mencapai  41,6 persen.

Pada 14-20 Mei 2017, bulan sama dengan pernyataan Luhut B. Panjaitan waktu di acara Golkar,  SMRC mengadakan surveipublic opinion. Hasil survei tersebut menperlihatkan elektabilitas Jokowi mencapai hingga 34,1%.

Pada 23-30 Agustus  2017 CSIS lakukan survei. Hasil survei menunjukkan  elektabilitas Jokowi cukup tinggi, yakni  50,9%,

Selanjutnya, Lembaga Media Survei Nasional (Median) merilis hasil survei 14-22  September 2017,  Hasil survei menunjukkan, elektabilitas Jokowi 36,2 persen. Namun di sisi lain dari pihak SMRC mengumumkan angka lebih besar, yaitu elektabilitas Jokowi mencapai 38,9%. Angka ini naik lebih besar dibandingkan hasil survei SMRC sebelumnya elektabilitas Jokowi mencapai 34,1%.

Sejumlah data elektabilitas yang sudah tertera di atas, dapat kita simpulkan bahwa penurunan elektabilitas Jokowi mencapai di bawah 40% dan mendekati di bawah 35% dari tingkat elektabilitas sebelumnya, di atas 50%. Jika ditarik rata-rata dari angka seluruh lembaga survei di atas, tetap mengalami penurunan, yakni rata-rata sekitar 40%. Lembaga survey membandingkan Jokowi sebagai petahana dengan tokoh bukan petahana, bahkan belum secara resmi menyatakan diri akan maju sebagai calon Presiden (Capres) pada Pilpres 2019. Sebagai Petahana elektabilitas Jokowi kini hanya sekitar 40%, jauh di bawah perolehan suara Jokowi pada Pilpres 2014, di atas 50%. Sangat tepat jika ada pendapat, semua calon Presiden seperti Gatot N, Prabowo, bahkan SBY memiliki peluang yang sama dengan Jokowi untuk memenangkan kompetisi pada Pilpres tahun 2019.

Intinya, tidak terdapat indikasi peningkatan elektabilitas Jokowi, bahkan dari bulan ke bulan tahun 2017 ini terus merosot. Waktu tinggal sekitar 1,5 tahun lagi bagi Jokowi untuk hentikan penurunan elektabilitas dirinya.  Kondisi Jokowi ini tanpa kegiatan promosi dan kampanye pesaing atau kompetitor atau Tim Sukses, Relawan dan Partai pendukung. Baru Jokowi seorang telah mendapatkan dukungan resmi dari Partai PKB, Golkar, Hanura, Nasdem, PPP dll. Ternyata dukungan resmi Parpol-parpol tersebut, tak usah meningkatkan elektabilitas Jokowi, mempertahankan agar tidak menurun pun tak sanggup.

 Penurunan elektabilitas Jokowi ini tentu disebabkan berbagai faktor, terutama rakyat umat Islam politik dan kelas menengah perkotaan, bukan tokoh  pesaing individual sebagai Balon.

Angka elektabilitas Jokowi menurun itu semua bermakna semakin berkurang kemungkinan Jokowi akan menang pada Pilpres tahun 2019. Kecenderungan menurunnya elektabilitas Jokowi ini akan terus mengambil tempat sepanjang kebijakan-kebijakan Jokowi tidak mengutamakan aspirasi dan kepentingan terutama Umat Islam politik dan kelas menengah perkotaan.

Ada asumsi bahwa elektabilitas calon incumbent atau petahana harus di atas  60%. Jokowi harus memiliki tingkat elektabilitas di atas 60%. Sebab, dalam berbagai pertarungan pemilu ketat, perolehan  suara calon petahana berada di bawah tingkat elektabilitas hasil survei. Dalam Pilpres 2009, SBY-Boediono meraup 60,8% suara. Perolehan  ini jauh di bawah hasil survei opini publik  menempatkan SBY-Boediono sebagai pemenang pemilu dengan tingkat elektabilitas 71%. Hal ini juga berlaku pada  Pilkada  DKI Jakarta 2017. Pasangan Incumbent Ahok-Djarot menurut sejumlah rilis survei opini publik, tingkat elektabilitas mereka  hingga 56%,  hanya mampu meraih 42,99% suara dalam putaran pertama dan 42,04% suara pada putaran kedua.

Angka elektabilitas Jokowi cenderung kemungkinan besar bisa menurun dan menjauh dari zona amannya dengan angka elektabilitas mencapai 60%.

Jika asumsi dasar ini diterima, adalah sangat sukar  bagi Jokowi untuk memenangkan pertarungan perebutan kekuasaan negara pada  Pilpres 2019 mendatang.

apa cara pemecahan masalah (solusi) trend penurunan elektabilitas Jokowi ini agar bisa menaik dan mencapai batas aman untuk memenangkan Pilpres 2019?

Cara pemecahan utama, sangat menentukan, menggunakan  level analisis Parpol sebagai aktor mempengaruhi perilaku pemilih. PDIP sebagai Parpol peserta pemilu  harus segera menyatakan secara resmi  dukungan terhadap Jokowi untuk maju lagi sebagai Capres  pada Pilpres 2019. PDIP harus mengambil posisi di mata publik  sebagai “Lead Party“, Parpol Pemimpin, jangan beri ke Parpol lain yang tidak memiliki akar sosiologis dengan Jokowi seperti Golkar. Setelah adakan  pernyataan resmi, lalu PDIP lakukan konsolidasi internal penguatan mesin Parpol untuk mempromosikan dan mengkampanyekan Jokowi di tengah-tengah masyarakat pemilih. Tentu saja, mesin Parpol ini akan terkendala dengan kepentingan Pemilu legislatif yang waktu  bersamaan dengan Pilpres 2019.

Untuk mendapatkan dukungan sebagian umat Islam politik, Jokowi sudah mulai memberi tanda kepada publik, Calon Wapres dirinya dari Tokoh atau Ulama umat Islam seperti Jusuf Kalla saat Pilpres 2014. Siapa Tokoh atau Ulama dimaksud, satu kriteria Tokoh itu memiliki basis massa atau organisasi masyarakat umat Islam atau didukung berat para Parpol Islam. Dari segi momentum memang terlambat, tapi Jokowi harus coba untuk pemenan Pilpres 2019. Sudah saatnya Jokowi berpikir rasional untuk perolehan suara pemilih sebanyak mungkin. Semua kebijakan pemerintah membuat umat Islam dan kelas menengah perkotaan antipati dan penurunan elektabilitas harus diminimalkan. Jangan terus lakukan politik pembiaran yang membuat persepsi masyarakat negatif meningkat dan meluas. Waktu hanya sekitar 1,5 tahun lagi!

Oleh: Muchtar Effendi Harahap (Peneliti NSEAS)

Salahkah Aku (berOrganisasi)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh⁠⁠⁠⁠

Selamat malam warga dunia maya!

Persaingan zaman globalisasi yg makin kompetitif, yang tidak hanya mengandalkan gelar akademik dalam proses akademik, namun soft skill yang menunjang dalam karir ke depan.

Tulisan ini terinspirasi ketika konsultasi akademik dengan dosen wali selama berjam-jam sampai akhirnya membahas mahasiswa akademisi terkait nilai yang kurang memuaskan. Itu yang diutarakan dosen wali kepadaku yang hanya terdiam sambil mengiayakan suara dan nasihat sang dosen.

Satu demi satu, kata demi kata, nasehat demi nasehat timbul dari kekecewaannya terhadap IPK roller coster (naik – turun). Sebetulnya siapa yang salah dan yang patut untuk disalahkan?  Mengapa bisa terjadi? Alasan mana lagi yang kamu dustakan?

Saat itu, saya hanya bergumam dalam hati “Saya begini karena harus mengatur antara akademik dan organisasi. Dan tidak disamakan dengan anak kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang)”. Setelah saya berfikir, mengapa orang yang ngakunya aktivis cenderung IPKnya kurang maksimal? Apakah karena menerapkan kesederhanaan dirinya yaa. Apakah tidak bisa disatukan antara aktivis-akademis atau saintis aktivislah biar kekinian atau aktivis-fakultatif, sehingga menjadi mahasiswa keren.

Seperti mengutip tulisanku sebelumnya, “maka jadilah aktivis yang akademis. Ketika kita memberi penilaian akan suatu masalah, kita selesaikan dengan pandangan jelas, beretorika dengan pandangan dinamis dan berwawasan secara ilmiah. Jangan jadi mahasiswa cuma numpang gelar, kuliah lulus dan selesai pulang tanpa esensi mari warnai akan kemahasiswaan kita” yapp benar. Waktunya organisasi yaa organisasi waktunya kuliah yaa kuliah begitu kayaknya.

Jadi, jangan karena alasan kuliah organisasi di tinggalkan atau karena karena organisasi kuliah jadi alasan. Maka, jadilah dirimu sebagai sosok ahli beretorika dengan idealisme kalian dalam forum dan juga menjadi sosok terdepan pula meraih masa depan sesuai dengan bidang keahlian yang ditekuni sekarang ini, karna kuliah tanggungjawab kita terhadap orang tua serta persaingan zaman yang sangat global zaman ini.

Terus jangan lupa sholat guys. 🙂

Keep strong. Semangat organisatoris yang berakademis

wallahu muafiq ila aqwamith thoriq
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh⁠⁠⁠⁠

 

===================================

Kontributor : Rifki Hubaibi (Sahabat Simpati 2015)

Pictures : tribunnews.com + smubr.com

Text & picture editor : ardan7779

(sudahkah) kita merdeka

Hiduplah Indonesia Raya,,,

Hampir 71 tahun sudah, bendera Sang Saka berkibar dengan beratasnamakan NKRI disertai lagu kebangsaan yang menjadi simbol kedigdayaan negeri yang katanya surga dunia ini. Entah ini curhat atau baper, namun apakah benar Indonesia pantas disebut surga dunia dengan segala realita yang ada sekarang ini..?

Apakah menjadi warga negara itu hanya menetap dan berkepentingan atas negara tanah air tampa memberi pengaruh pada lingkungan? Kenapa harus orang asing yang mengeksplore kekayaan hasil bumi kita? Terus kita ngaps, hanya tinggal diam kalo gitu? Sebetulnya kita disini sebagai pengelola ataukah hanya sebatas penikmat negeri?

71 berlalu, sudahkah kita berevolusi mental? KERJA NYATA bro.
Masihkah kita bangga akan kebesaran para leluhur dengan kata pahlawan kekuatan bersenjata dimedan perang? Sudahkah kita memikirkan bagaimana menjadi pemuda pahlawan masa depan yang akan mengguncangkan dunia seperti diucapkan bung karno? Ayo kibarkan sayap!

Hempaskan benalu, kita buktikan 71 tahun yang tidak sia-sia.

MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!!!

 

 


Kontribusi dari sahabat Hubaib. (Kader Simpati Galileo 2015)

Haruskah ‘Gender’ ?

Sebelumnya, mari kita coba merenungi sejenak apa itu hakekat gender sebetulnya? bagaimana kita memaknai antara kesetaraan gender atau ketimpangan gender? Dan betulkah gender diposisikan hanya sebagai pro terhadap golongan feminis tanpa mementingkan golongan maskulin ataupun sebaliknya?.

Sejauh mana sebetulnya emansipasi diterapkan? Dalam realita kehidupan sering kita sendiri melihat kata gender sebagai penyelamat maupun penguat bagi kaum wanita yang menuntut untuk mendapatkan hak tanpa mengkondisikan seberapa besar kita memberikan sebuah kewajiban terhadap suatu permasalahan, sehingga munculah istilah “ladies first” yang istilah itu barang tentu mengatakan bahwa wanita itu segalanya. Segalanya tentang kebutuhan maupun hak selalu harus diutamakan. Hal tersebut menyudutkan golongan pria yang dimana secara kondrati, mayoritasnya tentu kontra terhadap gender terhadap istilah “ladies first” maupun emansipasi yang notabene dianggap sebagai propaganda penguat posisi wanita dalam mendapat hak dengan pemahaman yang cenderung kurang bisa dibenarkan.

Pada prinsipnya, gender merupakan suatu hal yang dapat mempengaruhi kehidupan sosial dimana peran gender bukan hanya didominasi oleh kaum wanita. Namun, selama ini gender selalu dipandang oleh masyarakat hanya sebagai perwujudan istilah dari hal-hal yang bersifat sangat biologis (seksualitas), sehingga pahaman selalu diinisialkan pada feminitas tentunya. Sejatinya gender memberikan hak maupun kewajiban baik dari golongan feminim maupun maskulin, yang tentu harusnya dapat memposisikan mereka sederajat dan bukan satu tingkat pada segala permasalahan.

Tiap pihak mempunyai andil dalam menyampaikan pendapat, saling memberi masukan, serta bebas berkepentingan pula untuk memperoleh suatu tujuan sesuai dengan apa dilakukan, namun terdapat hal yang membatasi tentunya, yang tidak menjamin kaum feminis dalam memahami persamaan gender dimana saat perempuan tersebut mempunyai kepentingan sama dengan apa yang dilakukan pria, seperti halnya dengan wanita karier yang bekerja pada ruang-ruang publik. Barang tentu, hal itu pula juga lebih banyak yang dikorbankan, seperti halnya kebutuhan akan mengurus seorang anak yang kehilangan kelembutan seorang ibu maupun segala kebutuhan rumah tangga lainnya. Kasus serupa sama halnya jika perempuan menjadi imam jama’ah yang disitu terdapat kaum adam dimana wanita punya waktu untuk datang bulan yang sewaktu-waktu bisa terjadi apalagi saat beribadah.

Lantas apa yang kita lakukan sebagai bagian dari pelaku gender? Maka, jadilah pelaku gender yang menghargai dari suatu persamaan maupun batasan yang dimana bukan lagi memikirkan egoisitas masing-masing. Jadilah pelaku gender yang toleran tanpa memandang kelamin, suku, ras, agama, maupun golongan dan pikirkan bagaimana untuk memperoleh suatu tujuan tanpa adanya diskriminasi dengan perlu ada batasan jika hal tersebut sesuai dengan nilai maupun aturan yang berlaku dan paling penting menjadi pelaku gender yang memperhitungkan keadilan bukan diskriminan.

Jadilah gender kontektual bukan hanya tekstual
Jadilah gender toleran bukan radikal
Jadilah gender berkeadilan bukan diskriminan

Wallahu muafieq ila aqwamith thorieq
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Kontributor : Sahabat Rifqi Hubaibi (Simpati – 2015)