Mengungkap Tabir Saiful Mujani Sang Pengkhianat Intelektual

PMII Galileo – Banyak bahwa yang menyimpulkan pollster di Indonesia berperilaku khianat sudah menjadi pengetahuan publik. Mereka pun menjual integritas intelektual demi memenangkan sebuah kompetisi klien yang dibayar oleh polling mereka yang dilakukannya. SMRC adalah salah satu pollster pertama di masa reformasi, pecahan dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang didirikan oleh Bill Liddle dengan murid-murid Indonesianya di Ohio University. LSI berdiri 2003 dengan menggunakan dana bantuan Jepang, di masa pemerintahan Megawati.

SMRC adalah wujud kongkrit dari penentangan itu. SMRC ingin mewujudkan tujuan LSI yang sesungguhnya. Apa lacur, SMRC ternyata jatuh ke lubang kenistaan yang sama.LSI semula dimaksudkan untuk mengembangkan demokrasi, namun uang trilyunan dalam pemilu telah membuyarkan cita-cita itu. Seorang pendiri melihat mudahnya meraup uang melalui pengarahan opini publik yang percaya kepada integritas peneliti politik (pollster). Public opinion mengarahkan dengan mencetak pola yang berlawanan dengan realitas yang disebut framing adalah pekerjaan khianat yang dilakukan dengan mengundang penentang dari pendiri LSI lainnya.

Pendiri SMRC Saiful Mujani, mengupload dokumen hoax yang menyatakan Anies-Sandi menandatangani dokumen perjanjian akan menjadikan Jakarta sebagai kota syariah. Pemilik dari perusahaan  polling  yang  dikontrak  langsung oleh Ahok, seharusnya Saiful membantu Ahok melalui keahliannya. Saiful menghancurkan kredibilitas intelektualnya dengan meluncurkan hoax itu. Ia pun menjual integritas  ilmiahnya yang melekat pada pollster yang dilakukannya, demi mendapatkan nilai rupiah.

Perilaku ini berlanjut di tahapan kedua pilkada DKI ketika SMRC merelease hasil survei bahwa “Anies hanya unggul kurang dari 1%”. Pada kenyataannya Anies unggul landslide, hampir 20%. Menurut pollster profesional selisih yang demikian besar itu merupakan aib dan tidak memungkinkan terjadi apabila survei dikerjakan dengan memakai prosedur ilmiah. Hasil itu hanya bisa terjadi bila prinsip-prinsip ilmiah sudah tak diginakan lagi dan pollster bekerja menurut standar politik belaka.

Sangat lah cenderung sebuah politik yang sama-sama terjadi dalam dua polling terakhir yang dikerjakan oleh SMRC. Pada tanggal 29 September 2017, SMRC mengumumkan bahwa pendukung Prabowo, PKS dan Gerindra telah memobilisir anak-anak muda untuk percaya bahwa “PKI akan bangkit”. Hasil analisis SMRC dipenuhi  ekstrapolasi , simplifikasi dan interpolasi, yang pada akhirnya membuahkan sulapan kesimpulan jauh dari standar ilmiah. (Saya tidak perlu menguraikan di sini soal itu, mungkin dalam tulisan terpisah). Kemudian pada tanggal 5 Oktober 2017 SMRC merelease lagi hasil surveinya yang mengatakan bahwa elektabilitas Jokowi mencapai 38,9% sementara Prabowo hanya 12%. Terdapat selisih lebih dari 200%, dimana logikanya?

Selama ini dan seperti diketahui Jokowi belum mengukir kinerja apapun, semua proyek-proyeknya sampai saat ini belum ada yang kelar. Sementara itu ia terus dijatuhin oleh kritik dan keluhan publik berkenaan dengan penumpukan utang yang luar biasa, investasi Cina tanpa lapangan kerja, kenaikan harga energi, penghapusan subsidi, ekonomi melambat, penurunan daya beli dst. Di sisi politik, partai yang dipetugasi Jokowi kalah di banyak pilkada yang dulu dikuasainya seperti Jakarta dan Banten. Di Jateng yang selama ini dikenal sebagai kandang banteng, calon-calon PDIP berguguran seperti laron menyerbu api lilin.

Di dalam situasi seperti itu darimana rasionalnya Prabowo yang hanya selisih 4% dari Jokowi pada tahun 2014 kok sekarang ambrol menjadi berselisih lebih dari 200% ?

Alasan apapun diberikan Saiful Mujani tidak akan meyakinkan. Penjelasan paling meyakinkan hanyalah bahwa Saiful Mujani sedang menjalankan lagi pekerjaan khianatnya yaitu menipu rakyat melalui polling. Ia telah dibayar untuk membangun opini publik (framing) bahwa “Prabowo adalah pengusung radikalisme yang telah memobilisasi orang-orang muda dengan isu itu untuk menyerang pemerintah.” Sebaliknya, Jokowi adalah politikus yang dicintai rakyat dengan elektabilitas 3 kali lipat pesaing terdekatnya.

Sangat memprihatinkan. Dulu mengaum seperti singa. Ternyata kamu hanya serigala berbulu domba.

Oleh: Radhar Tribaskoro (Citizen Warta Pergerakan)

Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

PMII Galileo – Cara  untuk  meyakinkan dugaan atau hipotetis tentang tingkat keterpilihan Bakal Calon (Balon)/Calon dalam pemilihan seperti Pemilihan Presiden (Pilpres) atau Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dengan melakukan survei opini publik terhadap elektabilitas para Balon/Calon.

Di acara Rapimnas Partai Golkar, Mei 2017 Balikpapan, Kalitim. Menko Maritim Luhut B. Panjaitan  menyatakan tanpa Sumber bahwa elektabilitas Jokowi saat ini masih di atas 50 persen. Lebih besar dibandingkan dengan elektabilitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Prabowo dan Megawati.Untuk kasus Jokowi sebagai Balon pada Pilpres tahun 2019 mendatang, sudah mulai dibicarakan di publik berdasarkan hasil survei opini publik. Sebagai  incumbent/petahana, Jokowi dalam pandangan lembaga survei umumnya  memperlihatkan penurunan elektabilitasnya. Sehingga bisa  disimpulkan bahwa kemungkinan besar Jokowi bisa memenangkan persaingan pada Pilpres 2019 semakin sulit dan harapankecil.

Litbang Kompas adakan survei berkala pada Januari hingga April 2017. Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan elektabilitas Jokowi mencapai  41,6 persen.

Pada 14-20 Mei 2017, bulan sama dengan pernyataan Luhut B. Panjaitan waktu di acara Golkar,  SMRC mengadakan surveipublic opinion. Hasil survei tersebut menperlihatkan elektabilitas Jokowi mencapai hingga 34,1%.

Pada 23-30 Agustus  2017 CSIS lakukan survei. Hasil survei menunjukkan  elektabilitas Jokowi cukup tinggi, yakni  50,9%,

Selanjutnya, Lembaga Media Survei Nasional (Median) merilis hasil survei 14-22  September 2017,  Hasil survei menunjukkan, elektabilitas Jokowi 36,2 persen. Namun di sisi lain dari pihak SMRC mengumumkan angka lebih besar, yaitu elektabilitas Jokowi mencapai 38,9%. Angka ini naik lebih besar dibandingkan hasil survei SMRC sebelumnya elektabilitas Jokowi mencapai 34,1%.

Sejumlah data elektabilitas yang sudah tertera di atas, dapat kita simpulkan bahwa penurunan elektabilitas Jokowi mencapai di bawah 40% dan mendekati di bawah 35% dari tingkat elektabilitas sebelumnya, di atas 50%. Jika ditarik rata-rata dari angka seluruh lembaga survei di atas, tetap mengalami penurunan, yakni rata-rata sekitar 40%. Lembaga survey membandingkan Jokowi sebagai petahana dengan tokoh bukan petahana, bahkan belum secara resmi menyatakan diri akan maju sebagai calon Presiden (Capres) pada Pilpres 2019. Sebagai Petahana elektabilitas Jokowi kini hanya sekitar 40%, jauh di bawah perolehan suara Jokowi pada Pilpres 2014, di atas 50%. Sangat tepat jika ada pendapat, semua calon Presiden seperti Gatot N, Prabowo, bahkan SBY memiliki peluang yang sama dengan Jokowi untuk memenangkan kompetisi pada Pilpres tahun 2019.

Intinya, tidak terdapat indikasi peningkatan elektabilitas Jokowi, bahkan dari bulan ke bulan tahun 2017 ini terus merosot. Waktu tinggal sekitar 1,5 tahun lagi bagi Jokowi untuk hentikan penurunan elektabilitas dirinya.  Kondisi Jokowi ini tanpa kegiatan promosi dan kampanye pesaing atau kompetitor atau Tim Sukses, Relawan dan Partai pendukung. Baru Jokowi seorang telah mendapatkan dukungan resmi dari Partai PKB, Golkar, Hanura, Nasdem, PPP dll. Ternyata dukungan resmi Parpol-parpol tersebut, tak usah meningkatkan elektabilitas Jokowi, mempertahankan agar tidak menurun pun tak sanggup.

 Penurunan elektabilitas Jokowi ini tentu disebabkan berbagai faktor, terutama rakyat umat Islam politik dan kelas menengah perkotaan, bukan tokoh  pesaing individual sebagai Balon.

Angka elektabilitas Jokowi menurun itu semua bermakna semakin berkurang kemungkinan Jokowi akan menang pada Pilpres tahun 2019. Kecenderungan menurunnya elektabilitas Jokowi ini akan terus mengambil tempat sepanjang kebijakan-kebijakan Jokowi tidak mengutamakan aspirasi dan kepentingan terutama Umat Islam politik dan kelas menengah perkotaan.

Ada asumsi bahwa elektabilitas calon incumbent atau petahana harus di atas  60%. Jokowi harus memiliki tingkat elektabilitas di atas 60%. Sebab, dalam berbagai pertarungan pemilu ketat, perolehan  suara calon petahana berada di bawah tingkat elektabilitas hasil survei. Dalam Pilpres 2009, SBY-Boediono meraup 60,8% suara. Perolehan  ini jauh di bawah hasil survei opini publik  menempatkan SBY-Boediono sebagai pemenang pemilu dengan tingkat elektabilitas 71%. Hal ini juga berlaku pada  Pilkada  DKI Jakarta 2017. Pasangan Incumbent Ahok-Djarot menurut sejumlah rilis survei opini publik, tingkat elektabilitas mereka  hingga 56%,  hanya mampu meraih 42,99% suara dalam putaran pertama dan 42,04% suara pada putaran kedua.

Angka elektabilitas Jokowi cenderung kemungkinan besar bisa menurun dan menjauh dari zona amannya dengan angka elektabilitas mencapai 60%.

Jika asumsi dasar ini diterima, adalah sangat sukar  bagi Jokowi untuk memenangkan pertarungan perebutan kekuasaan negara pada  Pilpres 2019 mendatang.

apa cara pemecahan masalah (solusi) trend penurunan elektabilitas Jokowi ini agar bisa menaik dan mencapai batas aman untuk memenangkan Pilpres 2019?

Cara pemecahan utama, sangat menentukan, menggunakan  level analisis Parpol sebagai aktor mempengaruhi perilaku pemilih. PDIP sebagai Parpol peserta pemilu  harus segera menyatakan secara resmi  dukungan terhadap Jokowi untuk maju lagi sebagai Capres  pada Pilpres 2019. PDIP harus mengambil posisi di mata publik  sebagai “Lead Party“, Parpol Pemimpin, jangan beri ke Parpol lain yang tidak memiliki akar sosiologis dengan Jokowi seperti Golkar. Setelah adakan  pernyataan resmi, lalu PDIP lakukan konsolidasi internal penguatan mesin Parpol untuk mempromosikan dan mengkampanyekan Jokowi di tengah-tengah masyarakat pemilih. Tentu saja, mesin Parpol ini akan terkendala dengan kepentingan Pemilu legislatif yang waktu  bersamaan dengan Pilpres 2019.

Untuk mendapatkan dukungan sebagian umat Islam politik, Jokowi sudah mulai memberi tanda kepada publik, Calon Wapres dirinya dari Tokoh atau Ulama umat Islam seperti Jusuf Kalla saat Pilpres 2014. Siapa Tokoh atau Ulama dimaksud, satu kriteria Tokoh itu memiliki basis massa atau organisasi masyarakat umat Islam atau didukung berat para Parpol Islam. Dari segi momentum memang terlambat, tapi Jokowi harus coba untuk pemenan Pilpres 2019. Sudah saatnya Jokowi berpikir rasional untuk perolehan suara pemilih sebanyak mungkin. Semua kebijakan pemerintah membuat umat Islam dan kelas menengah perkotaan antipati dan penurunan elektabilitas harus diminimalkan. Jangan terus lakukan politik pembiaran yang membuat persepsi masyarakat negatif meningkat dan meluas. Waktu hanya sekitar 1,5 tahun lagi!

Oleh: Muchtar Effendi Harahap (Peneliti NSEAS)

Salahkah Aku (berOrganisasi)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh⁠⁠⁠⁠

Selamat malam warga dunia maya!

Persaingan zaman globalisasi yg makin kompetitif, yang tidak hanya mengandalkan gelar akademik dalam proses akademik, namun soft skill yang menunjang dalam karir ke depan.

Tulisan ini terinspirasi ketika konsultasi akademik dengan dosen wali selama berjam-jam sampai akhirnya membahas mahasiswa akademisi terkait nilai yang kurang memuaskan. Itu yang diutarakan dosen wali kepadaku yang hanya terdiam sambil mengiayakan suara dan nasihat sang dosen.

Satu demi satu, kata demi kata, nasehat demi nasehat timbul dari kekecewaannya terhadap IPK roller coster (naik – turun). Sebetulnya siapa yang salah dan yang patut untuk disalahkan?  Mengapa bisa terjadi? Alasan mana lagi yang kamu dustakan?

Saat itu, saya hanya bergumam dalam hati “Saya begini karena harus mengatur antara akademik dan organisasi. Dan tidak disamakan dengan anak kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang)”. Setelah saya berfikir, mengapa orang yang ngakunya aktivis cenderung IPKnya kurang maksimal? Apakah karena menerapkan kesederhanaan dirinya yaa. Apakah tidak bisa disatukan antara aktivis-akademis atau saintis aktivislah biar kekinian atau aktivis-fakultatif, sehingga menjadi mahasiswa keren.

Seperti mengutip tulisanku sebelumnya, “maka jadilah aktivis yang akademis. Ketika kita memberi penilaian akan suatu masalah, kita selesaikan dengan pandangan jelas, beretorika dengan pandangan dinamis dan berwawasan secara ilmiah. Jangan jadi mahasiswa cuma numpang gelar, kuliah lulus dan selesai pulang tanpa esensi mari warnai akan kemahasiswaan kita” yapp benar. Waktunya organisasi yaa organisasi waktunya kuliah yaa kuliah begitu kayaknya.

Jadi, jangan karena alasan kuliah organisasi di tinggalkan atau karena karena organisasi kuliah jadi alasan. Maka, jadilah dirimu sebagai sosok ahli beretorika dengan idealisme kalian dalam forum dan juga menjadi sosok terdepan pula meraih masa depan sesuai dengan bidang keahlian yang ditekuni sekarang ini, karna kuliah tanggungjawab kita terhadap orang tua serta persaingan zaman yang sangat global zaman ini.

Terus jangan lupa sholat guys. 🙂

Keep strong. Semangat organisatoris yang berakademis

wallahu muafiq ila aqwamith thoriq
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh⁠⁠⁠⁠

 

===================================

Kontributor : Rifki Hubaibi (Sahabat Simpati 2015)

Pictures : tribunnews.com + smubr.com

Text & picture editor : ardan7779

(sudahkah) kita merdeka

Hiduplah Indonesia Raya,,,

Hampir 71 tahun sudah, bendera Sang Saka berkibar dengan beratasnamakan NKRI disertai lagu kebangsaan yang menjadi simbol kedigdayaan negeri yang katanya surga dunia ini. Entah ini curhat atau baper, namun apakah benar Indonesia pantas disebut surga dunia dengan segala realita yang ada sekarang ini..?

Apakah menjadi warga negara itu hanya menetap dan berkepentingan atas negara tanah air tampa memberi pengaruh pada lingkungan? Kenapa harus orang asing yang mengeksplore kekayaan hasil bumi kita? Terus kita ngaps, hanya tinggal diam kalo gitu? Sebetulnya kita disini sebagai pengelola ataukah hanya sebatas penikmat negeri?

71 berlalu, sudahkah kita berevolusi mental? KERJA NYATA bro.
Masihkah kita bangga akan kebesaran para leluhur dengan kata pahlawan kekuatan bersenjata dimedan perang? Sudahkah kita memikirkan bagaimana menjadi pemuda pahlawan masa depan yang akan mengguncangkan dunia seperti diucapkan bung karno? Ayo kibarkan sayap!

Hempaskan benalu, kita buktikan 71 tahun yang tidak sia-sia.

MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!!!

 

 


Kontribusi dari sahabat Hubaib. (Kader Simpati Galileo 2015)

Haruskah ‘Gender’ ?

Sebelumnya, mari kita coba merenungi sejenak apa itu hakekat gender sebetulnya? bagaimana kita memaknai antara kesetaraan gender atau ketimpangan gender? Dan betulkah gender diposisikan hanya sebagai pro terhadap golongan feminis tanpa mementingkan golongan maskulin ataupun sebaliknya?.

Sejauh mana sebetulnya emansipasi diterapkan? Dalam realita kehidupan sering kita sendiri melihat kata gender sebagai penyelamat maupun penguat bagi kaum wanita yang menuntut untuk mendapatkan hak tanpa mengkondisikan seberapa besar kita memberikan sebuah kewajiban terhadap suatu permasalahan, sehingga munculah istilah “ladies first” yang istilah itu barang tentu mengatakan bahwa wanita itu segalanya. Segalanya tentang kebutuhan maupun hak selalu harus diutamakan. Hal tersebut menyudutkan golongan pria yang dimana secara kondrati, mayoritasnya tentu kontra terhadap gender terhadap istilah “ladies first” maupun emansipasi yang notabene dianggap sebagai propaganda penguat posisi wanita dalam mendapat hak dengan pemahaman yang cenderung kurang bisa dibenarkan.

Pada prinsipnya, gender merupakan suatu hal yang dapat mempengaruhi kehidupan sosial dimana peran gender bukan hanya didominasi oleh kaum wanita. Namun, selama ini gender selalu dipandang oleh masyarakat hanya sebagai perwujudan istilah dari hal-hal yang bersifat sangat biologis (seksualitas), sehingga pahaman selalu diinisialkan pada feminitas tentunya. Sejatinya gender memberikan hak maupun kewajiban baik dari golongan feminim maupun maskulin, yang tentu harusnya dapat memposisikan mereka sederajat dan bukan satu tingkat pada segala permasalahan.

Tiap pihak mempunyai andil dalam menyampaikan pendapat, saling memberi masukan, serta bebas berkepentingan pula untuk memperoleh suatu tujuan sesuai dengan apa dilakukan, namun terdapat hal yang membatasi tentunya, yang tidak menjamin kaum feminis dalam memahami persamaan gender dimana saat perempuan tersebut mempunyai kepentingan sama dengan apa yang dilakukan pria, seperti halnya dengan wanita karier yang bekerja pada ruang-ruang publik. Barang tentu, hal itu pula juga lebih banyak yang dikorbankan, seperti halnya kebutuhan akan mengurus seorang anak yang kehilangan kelembutan seorang ibu maupun segala kebutuhan rumah tangga lainnya. Kasus serupa sama halnya jika perempuan menjadi imam jama’ah yang disitu terdapat kaum adam dimana wanita punya waktu untuk datang bulan yang sewaktu-waktu bisa terjadi apalagi saat beribadah.

Lantas apa yang kita lakukan sebagai bagian dari pelaku gender? Maka, jadilah pelaku gender yang menghargai dari suatu persamaan maupun batasan yang dimana bukan lagi memikirkan egoisitas masing-masing. Jadilah pelaku gender yang toleran tanpa memandang kelamin, suku, ras, agama, maupun golongan dan pikirkan bagaimana untuk memperoleh suatu tujuan tanpa adanya diskriminasi dengan perlu ada batasan jika hal tersebut sesuai dengan nilai maupun aturan yang berlaku dan paling penting menjadi pelaku gender yang memperhitungkan keadilan bukan diskriminan.

Jadilah gender kontektual bukan hanya tekstual
Jadilah gender toleran bukan radikal
Jadilah gender berkeadilan bukan diskriminan

Wallahu muafieq ila aqwamith thorieq
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Kontributor : Sahabat Rifqi Hubaibi (Simpati – 2015)

Ladzat Kaum Berdarah Segar

Mempelajari hal yang terkecil itu perlu, merasa bisa dan mengerti  merupakan sifat yang gak bisa lepas dari seseorang. Kadang tanpa kita sadari dari sifat yang merasa bisa dan mengerti menimbulkan sifat yang lain, begitu juga dengan semangat yang semakin maju untuk megaplikasikan hal yang merasa dia bisa.

Dari hal yang demikian akan terjadi sebuah akibat dari sebab-sebab tersebut dan memunculkan sebuah action yang hadir dengan dasar keirian terhadap kenyataan yang dihadapi.  Ketika yang ditanyakan adalah masalah alur hidup yang bersangkutan dengan hal tersebut tentu suara dari kaum hawa akan lebih mewarnai, karena berjalannya perkembangan zaman membangunkan sifat yang tersimpan dari kaum hawa. Dengan pembangunan tersebut mereka mempunyai banyak kubu dan juga action untuk membangun strategi dari problematika perkembangan zaman ini. Hal yang menjadi topik dalam barisan kalimat sebelumnya, mempunyai arti dari sifat ingin mendapatkan keseimbangan atau kesetaraan dalam menjalani alur kehidupan yang kian hari kian berkembang, karena setiap individu tentunya ingin mendapatkan hak yang sama dan setara dengan lainnya.

Sebuah nama sebagai sebutan yang sering disebut oleh masyarakat adalah Gender. Kaum hawa sebagai subjek yang mendemonstrasi adanya kesetaraan gender juga dapat ditemukan bahwa, Problematika yang menjadi trending topik mengenai kesetaraan gender adalah dimana kaum hawa mendapatkan hak dan kemauan yang sama dengan kaum adam.

Zaman yang dulunya mempunyai adat bahwa, kaum hawa mempunyai tugas yang disebut denga 3M, macak, masak, manak, dan mematuhi aturan yang diberikan pasangan hidupnya sangat jauh berbalik dengan zaman sekarang yang mana kaum hawa tidak lagi hanya mengampu tugas 3M itu. Banyak pendapat dikatakan bahwa kaum hawa itu lemah, tingkat kecerdasannya dibawah kaum adam, akan tetapi pendapat-pendapat yang seperti itu tidak langsung mempunyai nilai kebenaran dan kesalahan. Individu baik dari kalangan kaum adam maupun kaum hawa tentunya mereka mempunyai tingkat kekuatan, kelemahan, kecerdasan berbeda-beda, hanya saja yang mendominasi kekuatan itu dimilki kaum adam. Kodrat yang seperti itu tidak apat dijadikan sebuah takaran dalam mengambil kesetaraan antara kaum adam dan kaum hawa, karena kodrat itu dari kehendakNya.

Kaum hawa atau dikatakan seorang wanita yang mengikuti jalannya problematika zaman sekarang, mereka tidak segan berkobar membakar semangat untuk memiliki kesataraan dengan kaum seberangnya. Katakanlah move on dari peradatan kaum hawa  zaman dahulu kala, keseimbangan yang dicari oleh kaum hawa bukanlah untuk mendapatkan semua yang dimilki oleh kaum adam. Mereka move on dari peradatan yang terdahulu karena mereka tentunya mempunyai alasan yang logis bagi individunya terutama. Dalam Fiqih Sunnah maupun Tafsir Al Quran, banyak pedoman untuk pengajaran bagaimana keseimbangan, kesetaraan antara kaum adam dan kaum hawa. Dapat diambil contoh seperti dalam Al Quran surat An nisa ayat 34, ayat ini mempunyai tafsiran yang berbeda-beda menurut keahlian masing-masing. Salah satu pendapat mengatakan bahwa, “al” dalam kata al-rijal, yakni mengandung arti sebagian, yang mana dalam hal ini bisa dikatakan bahwa tidak seluruhnya kaum adam mampu memimpin kaum hawa dan tidak semua hal bisa dipimpin oleh kaum adam.

Konteks yang terjadi dalam barisan kalimat tersebut bisa diartikan bahwa kaum hawa mempunyai kesempatan untuk memimpin dan berjalan untuk memberi arahan kepada kaum adam. Berkarir, menjadi sorotan utama dalam gender, akan tetapi cara untuk penyeimbangan tersebut tidak harus dengan memimpin dan berkarir. Kaum hawa bisa merubah kata karir yang menjadi perbincangan kaum adam itu dengan kata Karya, karena untuk menjadi seimbang dan setara itu tidak harus berpacu dalam satu cara.

Analisa diri dari kaum hawa akan lebih membantu untuk menemukan strategi dalam gender. Karena dengan menganalisa, menyusun strategi, menemukan kisaran resiko itu yang dibutuhkan ketika kaum hawa itu menginginkan keseimbangan dalam gender. Oleh karena itu, jika memiliki kemauan dalam action gender, sebagai kaum hawa yang tidak ingin dijatuhkan atau diabaikan, berpikir luas, simple akan lebih memberi ide-ide birliant untuk menjadi kaum hawa yang berkompetisi dalam berkarya dan hidup damai dalam gender.

 

 

——-

Kontributor : Qothrunnada (Sahabati Simpati 2015 PMII Rayon Galileo)

Sumber Gambar : http://intisari-online.com

GENDER BUKANLAH PEMBATASAN JENIS KELAMIN BIOLOGIS

Permasalahan kesetaraan gender merupakan masalah yang tidak ada habisnya. Banyak isu-isu yang muncul kemudian tertuju pada kesetaraan gender yang dialami antara laki-laki dan perempuan. Padahal sebetulnya kesetaraan gender ini bukan melulu pada perempuan dan laki-laki namun, kesetaraan gender ini juga sebenarnya terjadi pada kelompok-kelompok rentan atau kelompok minoritas. Gender akan tetap menjadi persoalan sebab hal ini terkait dengan ketidakadilan antara peran laki-laki dan perempuan. Seperti contoh ketika seorang perempuan bergabung atau memutuskan untuk menggeluti di ranah politik maka kesetaraan perempuan dengan laki-laki akan berbeda. Perempuan akan berada pada level dibawah, hal inilah yang kemudian muncul.
Persoalan gender akan menjadi isu yang sangat sensitif bila dikaitkan pesoalan agama. Perlu adanya kebijakan dalam memikirkan isu gender ini, sebenarnya isu gender ini hanya terkait dengan kesetaraan yang dialami oleh laki-laki dan perempuan. “Kesetaraan itu, adanya kemudahan dalam mengakses ilmu dan pengetahuan tanpa membedakan jenis kelamin biologis secara untuk memajukan dirinya. Hal ini penting karena dengan diberikan akses yang mudah maka perempuan memiliki tempat yang sama untuk bisa meningkatkan potensi yang ada pada dirinya. Ini menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki ruang yang sama untuk bisa berpartisipasi
Isu pembedaan gender ini, akan berubah seiring dengan waktu dan budaya yang berkembang di masyarakat. Karena itu, tentunya perlu adanya perubahan mindset yang dilakukan oleh masyarakat sekitar, yang masih mengganggap perempuan itu sangat lemah dan hanya mengurus domestik sedangkan laki-laki berurusan pada publik. Masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa kodrat seorang perempuan itu adalah memasak, mencuci, dan mengurus anak. Padahal secara pengertian, kodrat adalah sesuatu hal yang muncul dari Tuhan dan tidak bisa diubah misalnya mengandung dan melahirkan. Perlu ditekankan bahwa memasak dan mengurus anak itu bukan kodrat tetapi keterampilan. Namun bukan berarti kita bisa melupakan tugas kita sebagai ibu adalah mengurus dan menghormati suami. Dalam urusan rumah tangga sebenarnya antara suami dan istri itu bisa saling membantu satu sama lain

tetapi bukan berarti kaum laki-laki dan wanita menjadi sama dan setara dalam segala hal. Menyetarakan keduanya dalam semua peran, kedudukan, status sosial, pekerjaan, jenis kewajiban dan hak sama dengan melanggar kodrat. Karena, kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa antara laki-laki dan wanita terdapat perbedaan-perbedaan mendasar, hingga jika kita melihat keduanya dengan kasat mata sekalipun. Secara biologis dan kemampuan fisik, laki-laki dan perempuan jelas berbeda. Apalagi wanita dengan tabiatnya melakukan proses reproduksi, mengandung, melahirkan, menyusui, menstruasi, sementara laki-laki tidak. Adalah tidak adil jika kita kemudian memaksakan suatu peran yang tidak sesuai dengan kecenderungan dasar dari masing-masing jenis tersebut.
Dalam konsep kesetaraan gender bukanlah hanya milik perempuan tetapi juga milik laki-laki. Feminis bukan milik perempuan semata, tetapi laki-laki juga. Masalahnya adanya pematenan tunggal dari lingkungan sosial bahwa perempuan itu feminis dan laki-laki itu maskulinitas, sehingga muncullah pelabelan yang terjadi di lingkungan sosial. Untuk itu harus ada yang dikendarai oleh perempuan untuk bisa menunjukkan kualitasnya. Misalnya ketika ada kebijakan bahwa 70% beasiswa akan diberikan kepada perempuan, kebijakan itu yang bisa diambil untuk menyetarakan antara perempuan dan laki-laki dalam bidang akademis, dengan begitu ini tidak akan menyalahkan kodrat yang ada.perlu adanya keterbukaanaan antara dogma agama dan juga konteks sosial, karena dalam kesetaraan gender ini tidak ada yang dirugikan. Inti dari kesetaraan adalah tidak ada yang mendominasi dan tidak ada yang didominasi. Keduanya harus saling memberi. Intinya keadilan gender itu sesuai dengan kebutuhan yang dimiliki oleh keduanya. Jadi ketika seorang istri memutuskan untuk berhenti bekerja atas kemauannya, ya itu bukan permasalahn gender lagi, tetapi ketika itu ada paksaan inilah yang kemudian menjadi tidak ada keadilan. Yang terpenting saat ini perlu adanya pengetahuan yang baik karena pengetahuan merupakan kunci dari segala hal.
Quote 1:kesetaraan gender dalam organisasi adalah laki-laki maupun perempuan memiliki kesadaran tinggi sama dalam berproses di organisasi
Qoete 2:kesetaraan gender merupakan jenis kelamin dalam kehidupan social, dimana perempuan maupun laki-laki memiliki hak sama untuk aktif dalam lingkungan social
Qoute3:dalam kesetaraan gender harus memiliki strategi dalam kehidupan bermsyarakat agar masyarakat tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan salah satu contohnya dalam pekerjaan
Quote 4:kesetaraan gender dalam alquran dalam perspektif al-quran adalah kewajiban menjadi khalifah bumi tanpa membedakan jenis kelamin wanita maupun perempuan
Quote 5:kesetaraan gender adalah derajat social antara laki-laki dan perempuan dengan memikirkan kemashalatan bersama antara laki-laki dan perempuan itu sendiri .
Quote 6: kesetaraan gender adalah keadilan tanpa memikirkan jenis kelamin biologi dalam kehidupan sosialnya

Refleksi Gender yang (agak) Bias

Selamat siang dan selamat beraktivitas dihari Senin, sahabat-sahabat pergerakan. Setidaknya cuaca dihari ini masih menunjukkan keberpihakannya, yang membuat kita semua dapat melanjutkan aktivitas kita masing-masing. Juga disini penulis hendak mengucapkan selamat dan sukses atas diwisudanya (19 Maret 2016) senior saya serta senior kita semua, terima kasih pula atas pemberian cambuk cerita yang membuat kita terus bergerak dalam jalurnya. Pun penulis mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya (19-20 Maret 2016) Sekolah Islam Gender oleh Heksa Rayon PMII Komisariat Sunan Ampel Malang.
Ada sedikit pembahasan menarik menyoal gender hari ini, hanya sebagai hal reflektif saja. Membincangkan soal gender, ada hal hal mendasar yang selalu menjadi ambiguitas bagi penulis, “siapa berbuat apa, siapa memiliki apa, siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan, siapa yang memutuskan; laki-laki atau perempuan ?”. Kesemua itu, bagi penulis mungkin menjadikan pola pikir yang dinamis ketika membincangkan soal gender.
Dalam posisi ini, mungkin kita semua terus menyepakati mengenai konsepsi ‘kesetaraan gender’. Dengan hal itu selalu disuarakan oleh pegiat-pegiatnya, khususnya kaum perempuan. Kemudian yang menjadi dasar mengenai gender adalah artkulasinya sebagai interpretasi mental dan budaya terhadap perbedaan kelamin; yaitu perempuan dan laki-laki. Karena biasanya gender dipergunakan untuk menunjukkan pembagian yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan. Bagi penulis, mengagungkan kesetaraan gender akan memunculkan bias gender yang akut. Hal itu dapat kita lihat dari segi pemposisian laki-laki dan perempuan dalam konteks keseharian.
Dalam Al-Qur’an telah disampaikan pada Surat An-Nisa’: 34 , bahwa “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan mereka(laki-laki) telah memberikan nafkah dari sebagian harta mereka”. Sederhananya, islam klasik menafsirkan ayat tersebut bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Kemudian bagi pegiat gender kekinian, tafsiran tersebut sedikit disanggah untuk (lagi-lagi) menyetarakan posisi antara laki-laki dan perempuan. Mungkin mereka memandang bahwa, jika hal tersebut dikonsumsi mentah akan menimbulkan pandangan perempuan yang termajinalkan. Lalu dari penulis, tentunya arti tekstual itu masih mengandung unsur sosio-historis saat itu. Kemudian ditranslasikan menyesuaikan perkembangan dan kebutuhan zaman.
Jika melihat konteks kesetaraan gender, marjinalisasi perempuan terjadi semenjak zaman kolonial Londo. Kesewenangan gender tersebut sangat nampak pada abad ke-19. Pada waktu itu perempuan-perempuan kelas bawah menjadi korban pelampiasan seksual oleh kaum bangsawan dan alat ekspansi kekuasaan kaum bangsawan. Mereka diangkut ke istana untuk dijadikan ‘istri percobaan’ yang dapat diusir sewaktu-waktu sampai ndoro-ndoro mereka memperoleh istri yang sederajat. Eksplotasi ini nampak hidup dalam tulisan sastra, seperti kisah Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Hingga dieranya, mulailah muncul pergerakan nasional yang menyuarakan keadilan gender, sebut saja R.A Kartini.
Kemudian pergerakan tersebut berlanjut pada masa transisi kolonial ke orde lama, sebut saja Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Mereka terus menyuarakan keadilan gender, khususnya untuk kaum perempuan dan hingga pada perjuangan menjaga keutuhan NKRI. Perjuangan tersebut berdasarkan pada sejarah perempuan sendiri yang dirasa mengalami dehumanisasi pada saat itu.
Hingga sampai orde baru dan reformasi, perjuangan keadilan dan kesetaraan gender telah mengalami proses legitimasi yang kuat, dilihat pada munculnya Badan ke Negaraan yang menaungi tentang masalah gender, perempuan lebih khususnya. Kemudian, hanya tinggal kelanjutan pergerakan daripada gender yang tentu itu berdasarkan pada artikulasinya, mengenai mental dan budaya terhadap perbedaan kelamin. Karena pada dasarnya, muara ketidakadilan gender sebagaimana keadilan lain di muka bumi ini adalah dehumanisasi manusia. Selama penindasan itu ada, perlawanan sebagai ekspresi ketertindasan ataupun kebangkitan kesadaran.
Dengan itu semua, gerakan-gerakan yang mengatasnamakan gender bisa menjadi acuan kita bersama, bahwa adil tak sepenuhnya harus setara dan setarah adalah pondasi awal untuk mewujudkan keadilan.
Kembali disini penulis menyampaikan, bahwa tulisan ini hanya subyektifitas pribadi saja yang mencoba untuk tetap dinamis dalam berpikir. Diakhir, semoga bermanfaat untuk kita semua.
Wallahu a’lam.

 

kontributor : Sahabat Moh. Izzuddin (Ketua Rayon 2015-2916)

sumber gambar : http://www.iflscience.com/

Polemik Perayaan Hari Valentine

Awal bulan februari yang hampir setiap hari didampingi dengan derasnya hujan, membuat sebagian orang merasa kedinginan atau bahkan ada yang sampai mager (Males Gerak) dan memilih untuk hanya sekedar tidur mlungker di atas kasur. Semalas-malasnya sahabat, Saya harap tulisan ini dibaca hingga akhir.

Terlepas dari dinginnya suasana, ada pembahasan hangat mengenai hari di pertengahan februari yang dianggap sakral bagi segelintir orang. Ya, itulah hari Valentine yang jatuh tepat pada tanggal 14 februari setiap tahunnya.

Hari Valentine, yang muncul ketika bangsa romawi merayakan hari besar yang mereka anggap sebagai upacara pensucian yang bernama lupercalia pada tanggal 13-18 Februari. Namun, setelah agama Kristen dan katolik menjadi agama di Negara Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor.

Dari penjelasan diatas, kita dapatkan bahwasanya Hari Valentine tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan agama Islam. Bahkan merupakan ritual yang lahir dari upacara bangsa romawi yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.

Sudah begitu banyak artikel yang memaparkan bahwasanya ummat islam tidak sepantasnya ikut merayakan Valentine. Setidaknya ada beberapa alasan, diantaranya :

Allah SWT Berfirman :
[3:85] Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Sabda Nabi Muhammad SAW :
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031).

Dari Wahyu dan Hadis diatas, jelas bahwasanya ummat islam sangat tidak dianjurkan untuk meniru budaya kaum kafir, apalagi seperti perayaan hari valentine yang notabenya berasal dari kegiatan upacara kekufuran.

Sudah banyak beredar artikel bahkan quotes yang menerangkan haramnya perayaan valentine bagi ummat islam, seperti “Saya Muslim, katakana tidak pada Valentine” atau sering dijupai dalam bahasa inggris “I’m Muslim, No Valentine Day”.

Dalam islam memang sangat menjunjung tinggi nilai toleransi dalam hidup beragama. Namun, perlu ditegaskan bahwa toleransi yang dimaksud adalah dalam hal berinteraksi dan bermuamalah, BUKAN dalam hal ikut merayakan perayaan agama lain, ataupun ikut campur dalam peribadatan mereka.

Oleh karena itu, kita sebagai ummat Islam harus bersikap cerdas dalam menanggapi hari valentine tersebut. Bersikap cedas dengan tidak ikut merayakannya, namun juga bersikap cerdas dengan tidak menebar kebencian dengan quotes kontroversi yang justru merendahkan Ummat Islam itu sendiri dimata agama lain.

Salam hangat, ardan7779.