Berproseslah Dengan Caramu Sendiri

Kamu tidak dapat mengajari seseorang apa pun, kamu hanya bisa membantunya menemukan apa yang ada dalam dirinya sendiri- Galileo Galilei

Kalimat di atas yang kemudian memantik kita para kader PMII, khususnya PMII Rayon “Pencerahan” Galileo untuk dapat mengaktualisasikan peranan kader dalam mengembangkan berbagai hal yang nantinya dapat berdampak positif baik bagi rayon maupun lingkungan sekitar.

PMII merupakan salah satu dari sekian banyak OMEK yang berkembang di kampus. Setiap OMEK tentu memiliki tujuan mulia untuk mencetak kader-kader yang mampu mengembangkan bakat dan minat yang mereka miliki. Selain itu keberadaan PMII sebagai wadah pergerakan mahasiswa berbasis Islam tentunya memiliki tujuan utama untuk tetap menjaga khazanah dan tradisi Islam yang sesuai dengan Islam Ahlussunnah wal Jamaa’ah. Sehingga, nantinya diharapkan kemanapun kader-kader PMII didistribusikan akan tetap berpegang teguh dengan Tujuan PMII yang tertuang dalam Pasal 4 AD PMII, yang berbunyi

Terbentuknya Pribadi Muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta berkomitmen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Menurut, Sahabat Fitrah pada saat Follow Up PKD, beberapa pekan lalu, disampaikan bahwa salah satu konsep yang dapat diterapkan untuk mengaktualisasikan peranan kader secara optimal adalah dengan konsep Bunga Matahari. Konsep ini yang seharusnya dapat dijadikan oleh setiap kader PMII sebagai landasan selama berproses di PMII. Dimana kelopak pada bunga matahari melambangkan di ranah mana kita sebagai kader akan mengembangkan diri. Mulai dari organisasi intra, komunitas, akademisi, maupun di ranah ma’had sebagai musyrif/ah. Dimanapun kita akan berproses pada muaranya setiap kelopak akan kembali pada lingkaran tengah bunga yakni sebagai interpretasi Rayon. Dimanapun berada setiap kader tidak dapat mengelak identitasnya sebagai kader pergerakan. Untuk begitu tinggal bagaimana kita sebagai kader dapat menempatkan diri sesuai dengan profesionalitas yang kita miliki.

Rayon adlah benda mati, yang menjadi wadah bagi setiap kadernya. rayon membutuhkan peran aktif setiap kader untuk menghidupinnya. Karena, rayon tak akan memberikan apa-apa kepada kita jika kita enggan tuk mencarinya. Begitulah jika kita telaah kembali kalimat Galileo di atas. Karena melalui berproses di PMII kita akan digiring untuk menemukan diri kita sendiri, tergantung bagaimana kita mau memaksimalkan waktu untuk berproses. Dan cara terbaik untuk berproses adalah, berproses dengan cara kita sendiri.

 

.Nrl

Mainstream Kaderisasi Kita, Saat Dan Pasca Tahun Politik

PMII Galileo – Opini – Di tengah banyak kritik dan pandangan sinis terhadap fenomena baru-baru ini terkait kaderisasi PMII Jawa Timur, yang kebetulan bersamaan dengan tahun-tahun yang paling subur untuk masa depan para aktifis yang beruntung, menjadi catatan penting untuk kita renungkan bersama. Siapapun kita, baik alumni terlebih yang masih aktif di berbagai jenjang struktural yang ada.

Tidak perlu saya sebutkan fenomena itu apa, setidaknya secara pribadi baru kali ini saya tidak bisa beralibi baik ilmiah empiris maupun diplomatis politis, jika ada pertanyaan tentang PMII. Ada seorang teman yang tiba-tiba mengirimi saya foto dua biduan idola saya, Vallen Kharisma dengan membubuhkan caption “Bat, mohon di-mapaba-kan, mereka potensial, untuk meng-kuningbiru-kan Vianisty dan Nella Lovers”. Kira-kira jika itu pertanyaan untuk anda, apa jawaban anda?

Sudah bukan lagi menjadi rahasia khusus, kalau adanya keterlibatan semua organisasi kemahasiswaan terhadap “pesta” dukung mendukung dalam kepentingan politk praktis, baik secara langsung maupun sembunyi-sembunyi. Dengan berbagai alasan dan latar belakang pengambilan keputusannya untuk memihak (dukung-mendukung).

Saya yakin anda bisa berimajinasi sendiri untuk itu saya tidak akan bicara, (karena saya menulis, heuheuheu) untuk mendudukan, memojokkan ataupun mencari kesalahan siapa sebenarnya menodai kaderisasi kita. Memang ini bukan hal baru, akan tetapi jika tidak segera disikapi dengan rasa cinta pada PMII (khususnya adik-adik yang masih berproses di akar rumput), bukan tidak mungkin PMII akan menjadi macan ompong di masa yang akan datang.

Mari kita sedikit menoleh pada awal-awal Gus Dur memimpin NU pada periode pertama, beliau merasakan bahwa NU sebagai kendaraan politik, tidak lebih hanya digunakan sebagai kendaraan umum bagi siapapun. Yang mana kaderisasi NU masa itu dinilai masih mengandalkan proses alamiah, sehingga siapapun yang dinilai “baik” maka dialah yang mendapatkan rekom dari NU. Tidak peduli dia mengenal NU secara “kaffah” atau tidak.

Dari kenyataan seperti itu, seperti yang diungkapkan oleh Mbah Said Aqil Siraj, dalam memimpin NU beberapa periode Gus Dur selalu mengedepankan kaderisasi-kaderisasi yang utuh untuk pemuda-pemudi generasi NU, sampai-sampai kala itu, kaderisasi ulama juga didengungkan.

Sependek jangkauan padangan saya, Gus Dur menerapkan prinsip “kaderisasi” seperti itu, bukanlah Gus Dur sengaja untuk melepas santri dengan Kiainya dan Pesantren, akan tetapi hal itu adalah untuk kita hari ini, yakni generasi meneruskan NU sebagai organisai yang modern.

Salah satu anggota di Lembaga Pengembangan Kaderisasi PKC Jawa Timur, sempat bertanya atau lebih tepatnya menegur dengan bahasa khas Sumenep-Nya yang halus “Mas gimana ini, apa pendapat pean?” Jujur saja saya hanya menyatakan sikap personalitas sebagai kader PMII, dengan mencoba melepas identitas struktural di PKC, saya mengatakan sederhananya “semua pasti ada hikmahnya mas”.

Inikah Masa Depan Kaderisasi Kita
Begini sahabat-sahabat, ini adalah otokritik untuk kita, dan ketika sudah terbit di media yang artinya adalah dapat menjadi konsumsi umum, biarlah, karena ‘sebab’ ini terjadi juga di depan umum, maka akibatnya harus juga dirasakan oleh umum juga. Meskipun terkesan horror begini, saya sangat percaya dan meyakini bahwa tidak ada yang tidak baik di antara sesama organisasi kemahasiswaan. Karena saya pun juga bisa, jika harus mengungkap semua kemunafikan gerakan mahasiswa era pasca reformasi ini.

Maka dari itu, mari kita blejeti satu persatu; Pertama; kemenangan Joko Widodo dari Prabowo di Pilpres 2014 yang lalu, yang tahun depan akan kita ulangi lagi, telah mengantarkan PMII pada mainstream baru dalam gerak-gerak doktrinasi pada anggota baru. Mainstream itu adalah rela menunjukkan kebanggaan, banyaknya jumlah orang  yang berasal dari PMII untuk menjadi pembantunya Presiden Jokowi, saking senangnya, sampai kita lupa, kalau Jokowi adalah mahasiswa pecinta Alam, dan Wakilnya adalah Himpunan Mahasiswa Islam.

Dalam hal ini kita sudah bunuh diri karakter, karakter siapa? Yang jelas bukan karakter senior-senior kita yang sudah nyaman di atas sana atau yang sedang “menjilat”, melainkan karakter adik-adik kita dan karakter PMII di masa depanlah yang terancam. Dan perlu diingat, kalau karakter sudah terbunuh, maka kemudian adalah identitas kita terbunuh, alhasil kita semua telah melakukan bunuh diri “kelas”, itu lah kondisi kita hari ini menuju “the slow death of the our movement”.

Kedua; prespektif saya dalam melihat bahwa Gerindra, PKS dan PAN tidak sanggup mengangkat calon gubernurnya sendiri di Pilkada Jawa Timur tahun ini, merupakan sebuah malapetaka tersendiri, ingat DKI Jakarta. Memang sudah bisa dipastikan, permainan politik senista di Pilkada DKI Jakarta tahun lalu itu, tidak bisa diterapkan di Jawa Timur, tapi dengan melihat ketidakdewasaan Tim Sukses yang notabene diisi oleh para pemuda dengan ambisinya yang khas menggebu-gebu, adalah sebuah celah untuk benar-benar massa suara NU Jawa Timur. Termasuk adalah “mencampuradukkan dapur organisasi dengan pelaku langsung politik praktis”.

Apakah jika memang begitu nyatanya, patutkah disebut bahaya? Tidak! Lantas, apakah hal itu tidak berbahaya? Yaa, sangat berbahaya! Dipastikan tidak berbahaya jika itu pendapat keluar di antara kita yang telah memiliki nalar politik sejak oroknya, bahkan urusan kaderisasi yang seharunya suci dari politik masih diikutcampurkan. Akan menjadi bahaya jika yang berpendapat seperti itu adalah antara kita-kita yang alam fikirnya dipenuhi hanya tentang kaderisasi, pendidikan kader dan distribusi kader.

Saya merasa tulisan ini tidak layak untuk terbit, tapi minimal sebelum tulisan ini terbit telah saya tashih-kan pada salah satu sahabat, yang artinya adalah terbit tidak terbit tulisan ini minimal telah dibaca oleh salah seorang sahabat kita. Oleh karena itu, sekali lagi saya ingatkan, saya tidak mendudukkan siapapun, jika memang dirasa mendudukkan, ya memang pahit rasanya.

Tentang ketidakdewasaan-ketidakdewasaan itu bukan hanya terjadi pada diri kita yang masih aktif, nyatanya jika anda bertemu dengan akun facebook yang mengatasnamakan anak muda NU, isinya hanya kampanye-kampanye politik dan pernah ada satu unggahan yang membuat saya meringis “kok begitu yaa” akun itu menuliskan “yang dilihat itu prestasinya bukan nasabnya”. Dua hal yang perlu kita catat sebagai bahan evaluasi berfikir dan bergerak, adalah tidak semua anak muda NU itu politisi, dan wajah anak muda NU adalah bukan mereka. Persis seperti ketika, ada yang bilang wajah Islam Indonesia adalah, HTI-FPI-PKS-Wahabi, jelas kita tidak akan terima.

Jangan Korbankan Kepolosan Dan Kesucian Adik-Adik Kita
Bahwa tantangan terbesar gerakan mahasiswa Indonesia yang massif seantero negeri, sudah dapat dipastikan tidak akan pernah terjadi di era kita sekarang. Tak perlu saya jelaskan, anda bisa berimajinasi sendiri untuk menemukan sebab-sebab untuk persambungan itu, dan bahkan kita pun tidak bisa menentukan kapan gerakan mahasiswa yang seperti 1966 dan 1998 itu terjadi lagi. Saya masih teringat dengan salah satu senior gets yang dimiliki kader-kader PMII Jawa Timur, beliau mengatakan pada saya:

“Kamu jangan goblok melihat fenomena, kamu ini ada di zaman apa, pastikan semua doktrin-doktrin sisa pergerakan reformasi itu perlahan sesuaikanlah dengan zaman. Kamu ada di sebuah zaman yang lebih populernya disebut sebagai masa elan vital, yaitu sebuah masa-masa ‘di antara’ dua momentum besar, dan kamu harus merasa berdosa mulai hari, jika kelak generasimu tidak siap dan tidak memiliki persiapan militansi ketika dihadapkan pada momentum gerakan itu. Jelas, yang salah adalah kamu di hari ini, mengapa kamu hanya memikirkan habis ini ikut siapa, habis ini masuk partai siapa”, begitu lah kurang lebih nasihat beliau, ia adalah Sahabat Syakban Rosidi.

Kita tau, kalau proses kita secara struktural di cabang ke bawah hanya satu tahun, dan itu adalah masa yang sangat cepat, untuk menyelesaikan masalah pasca konfercab. Sedangkan kaderisasi kita juga sering terganggu akibat itu, ditambah dengan realitas yang ada bahwa organisasi ideologis yang berbeda dengan kita juga sudah masuk dan nyata di depan mata. Lantas masihkah tega, kita menyimpangsiurkan pandangan mereka pada langkah-langkah politik kekanakan ini. Kalau memang yang menjadi semangat-semangat kampanyenya adalah kuning melawan hijau, atau biru melawan hitam, ya tegaskan lah, jangan sampai karena menjaga hati, kita justru mengambil langkah-langkah konyol.

Mari kita membuka mata adik-adik kita, agar melek pada tahun-tahun politik yang membahayakan ini. Sedangkan mereka yang di luar sana, sambil ngopi dan menghisap rokok tetap berfikir kalem, dengan sedikit-sedikit menertawai kita. Terakhir! Sebagai pagar bahwa tulisan ini tidak hanya untuk PMII saja, yang kemudian hanya menambah keruh keadaan, perlu kita ketahui bersama, bahwa musibah ini sedang menimpa PMII, sedangkan pada organisasi lain juga sudah ada yang pernah merasakan, dan atau akan merasakannya di masa depan.

NB: Opini ini adalah curahan hati tidak ada yang saya ajak diskusi dan tidak mewakili lembaga. Salah benarnya, kurang lebihnya, adalah saya sendiri yang bertanggung jawab. Tapi saya tidak akan meladeni perdebatan, sebagai gantinya baik mendukung, menambahi, mengurangi dan membantah penuh, silakan menulis sendiri dan terbitkan sendiri.

Penulis : Aris Indra F.

Sumber : http://pmiinews.com

Teruntuk ibu kartini

Duhai ibu bangsa, bagaimana kabar Engkau hari ini?

Semoga Engkau selalu dalam keadaan baik selamanya.
Ibu ku, Panutan ku. Aku ingin bernostalgia dengan mu.
Ku ingin merefresh kembali segala seluk beluk tentang engkau
Dulu engkau lah penyelamat kami hingga kami mampu berdiri diatas negara ini.
Dulu engkau adalah obor kami yang selalu menyala, membara tak kunjung padam.
Dulu engkau adalah teladan kami, guru kami.
Tanpa kehadiran engkau, mungkin kami hanyalah sebuah cangkang belaka.
Engkau bagaikan pelita untuk kami kaum wanita.
Andai aku bisa berada dalam satu ruang dengan engkau
Read more “Teruntuk ibu kartini”

Surat Untuk Pertiwi “Hibridisasi Ego”

Kontributor : sahabat bakhru thohir

Yang terkasih pertiwi,

Semoga selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan YME.

Sebelumnya maafkan saya yang telah lancang mengirimkan surat kepada engkau, tapi dalam rangka memompa semangat meneladani Kartini, perkenankan saya mengeluarkan unek-unek yang terpendam dalam hati.

Mohon maaf pertiwi, dalam membuat surat ini saja saya masih perlu membuka KBBI dan mencari makna paling cepat apa itu pertiwi, maafkan kebodohan saya. Kabar negeri saat ini tak begitu baik, setelah ada ramalan dari Prabowo “Dilan” Subianto yang menyebutkan bahwa “Saat ini Indonesia memang belum bubar, gak tau kalau 2030” telah berhasil membuat banyak penduduk bertanya-tanya, komentar sampai tegang. Selain itu, pada perayaan Kartini tahun ini juga muncul versi kartini berjilbab dan berjacamata yang tentu sangat ketahuan maksud gambar ini dibuat untuk apa, mana mungkin di era itu ada kaca mata yang modelnya sama persis dengan yang dikenakan Via Vallen. Maafkan kami yang terlalu mudah diadu domba. Entah para pahlawan di sana sedang meratapi nasib tanah tumpah darahnya atau malah tertawa terpingkal-pingkal karena kelucuan perilaku kami.

Kegiatan kami setingkat mahasiswa juga setali tiga uang. Banyak diantara kami yang tidak lagi mengasah nalar kritis tapi ikut-ikutan kakak kami untuk memperebutkan jabatan. Proses belajar kami yang bertujuan untuk ilmu juga hanya ditahapan hayal, praktiknya ya tetap saja kami adalah budak nilai A. Saling sikut dengan sesama juga menjadi sesuatu yang wajar. Buku-buku juga demikian, memang banyak bertebaran, tapi entah untuk mencari substansi atau hanya sebatas eksistensi dari penayanganya di story WA dan IG, biar teman kami yang melihat terkesan “Wah keren sekali bacaanmu, sunguh luar biasa”.

Kami yang terafiliasi dengan pergerakan mahasiswa islam indonesia juga demikian. Sungguh maafkan kami pertiwi. Kami yang menyebut mahasiswa pergerakan, tapi gerakan kami pun masih tak memiliki visi. Kami hanya sebatas meneladani romantisme dari para senior. Bukan kami tidak paham soal berbedaannya medan proses dulu dan sekarang, tapi cerita-cerita gagah saling dorong dengan aparat di jalan begitu heroik saat kita dengar, kan lumayan bisa jadi cerita yang terus kita produksi untuk generasi penerus.

Kami yang menyematkan kata “mahasiswa” setelah kata pergerakan juga jauh dari citra mahasiswa yang benar-benar mahasiswa. Memang citra mahasiswa teladan sangat bias sekali dan tentu sangat subjektif penilaian itu. Tapi nyinyiran bahwa kebanyakan mahasiswa pergerakan pasti kuliahnya hancur memang benar adanya. Kita pun cuma bisa menimpali “hidup tak ditentukan oleh kesuksesan nilai saat kuliah”. Kita hanya sebatas membalas argumen tanpa karya. Nanti saat kami dewasa dan menyadari bahwa birokrasi yang memimpin adalah orang-orang yang bobrok, kita tetap hanya bisa berkomentar “dasar birokrat korup dan menindas”. Sadar terhadap perlunya mahasiswa pergerakan mengisi sudut-sudut birokrasi terlalu lamban disadari. Saat ini yang ada juga hanya mencetak generasi politisi, bukan seorang negarawan.

Lanjutan kata mahasiswa adalah kata “Islam”. Dan ya lumayan lah, sejak ada isu-isu khilafiyah, kita jadi belajar lebih tentang Islam. Ucapan terimakasih perlu kita sampaikan pada pejuang khilafah yang muncul dengan isu-isu membuat negara agama, sehingga membuat kita mempersiapkan diri untuk menghadang rencana itu dengan membaca buku dan berdiskusi tentang substansi Islam. Seperti kapital yang semakin berjaya saat dikritik oleh komunis/sosialis. Selebihnya ya kualitas sariat kami sangat ala kadarnya, solat terbatas, puasa sekuatnya. Ya kembali kita berargumen “buat apa rajin solat tapi tak tahu kabar tetangga”. Padahal kami juga sudah membaca buku “saleh ritual saleh social” gubahan Gus Mus, entah kenapa kita juga tak meneladani beliau, padahal kita juga marah saat Gus Mus dihina-hina.

Dan kata yang terakhir adalah “Indonesia”. Mohon maaf pertiwi, selama ini kami membawa kata sedemikian luas tapi pemikiran kami sangat sempit, seteru kita juga hanya si ijoitem itu. Padahal saat ini sudah tak zamannya berseteru. Menyelamatkan Indonesia juga tak mungkin kalau dilakukan oleh pergerakan ini sendirian, karena sekarang sudah saatnya kolaborasi. Tapi maaf baru sebatas wacana, pertiwi.

Tapi pertiwi jangan terlampau bersedih karena kabar buruk yang barusan saya sampaikan. Kami sebagai saintis memiliki konsep yang setidaknya bisa jadi pijakan awal untuk memperbaiki keadaan ini. Saintis yang memilih fokus bidang kimia tentu sudah sangat akrab dengan konsep ini, yakni “hibridisasi”, bahkan konsep ini sudah diberikan pada mahasiswa tahun pertama.

Hibridisasi adalah penyetaraan energi. Kalau dalam kuliah, kami diajarkan tentang atom karbon untuk bisa berikatan lebih maksimal, dia harus menghibridisasi orbitalnya. Karena saat orbital berjalan sendiri-sendiri dia hanya bisa mengikat 2 atom lain, sementara saat karbon sudah menghibridisasi orbitalnya atau menyetarakan energi antar orbitalnya dia bisa mengikat 4 atom karbon lain. Bahkan ikatan rangkap juga terjadi karena adanya hibridisasi ini.

Tentu yang membedakan adalah apa yang akan dihibridisasi. Kalau dalam konteks atom, yang dihibridisasi adalah tingkat energi orbital, kalau dalam proses hidup kita, sementara yang saya pahami, yang paling pertama perlu dihibridisasi adalah energi EGO!.

Energi ego dari setiap manusia, kelompok, partai, komunitas, ras, suku sampai agama. Sehingga ikatan kita bisa lebih banyak dan menjadikan indonesia yang lebih solid dan tak mudah diadu domba.

Untuk teknis tampaknya tak perlu saya sapaikan di sini pertiwi yang terkasih, daya nalar kritis dan kinerja otak dalam mengkontekskan sesuatu oleh anak-anak saat ini sudah jauh maju. Biar setiap manusia yang mengeksplorasi apa yang ada di dalam otak mereka masing-masing.

sehat -sehat pertiwi, kami akan selalu berdoa untukmu.
Merdeka!

Sumber gambar : https://goo.gl/images/NSiU8N

Kau Anggap Aku Ahlul Bid’ah. Kamu?

PMII Galileo – Berbicara masalah Bid’ah pasti sudah tidak asing lagi dibenak sahabat Galileo. Utamanya golongan ahlussunnah wal jama’ah, rasanya tuduhan bid’ah sangat akrab. Suatu prilaku yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Merupakan devinisi singkat dari kata yang sangat viral tersebut.

Saya kira, ketika kita membahas istilah Bid’ah, sudah bukan hal yang menarik lagi untuk sahabat diskusikan. Karena hal tersebut merupakan perdebatan lama antar kelompok dalam Islam. Namun, tulisan ini tidak terfokuskan kepada perdebadan-perdebatan tersebut. Pada dasarnya tulisan ini hanyalah sekedar dagelan waktu saya bersilaturrahim ke senior sahabat PMII yang sangat menarik menurut saya.

Kita awali dari kata Bid’ah. Sesuai yang saya sampaikan di awal, Bid’ah merupakan perbuatan yang tidak dilakukan oleh Rosululloh S.A.W. Yap, sahabat pasti sepakat Bid’ah itu ada dua macam yang pertama adalah Bid’ah Dholalah (Bid’ah yang jelek), dan yang kedua adalah Bid’ah Hasanah yang (Bid’ah yang Baik). Dalam syari’ah segala perbuatan baik buruknya diukur berdasarkan Mafsadah dan Maslahah-nya. Segala perbuatan yang lebih besar Mafsadah-nya (keburukan/kerugian) maka hukumnya tidak diperbolehkan. Sementara perbuatan yang lebih besar Maslahah-nya (kebaikan/manfaat) maka hukumnya diperbolehkan. Begitu pula dengan hukum pada Bid’ah, karena Bid’ah juga merupakan perbuatan.

Pemahaman tersebut sudah mulai sedikit demi sedikit diterima oleh golongan-golongan di luar ahlussunnah wal jama’ah. Namun, terdapat golongan yang membuat saya geleng-gelang kepala. Golongan tersebut mengatakan bahwa Al-qur’an (mushaf) yang ada saat ini adalah bid’ah dan tidak boleh dibacakan, karena Al-qur’an yang asli ada di Lauhil Mahfudz. pendapat tersebut memang betul, bahwa Alqur’an yang sekarang (mushaf) itu adalah bid’ah, tapi ekstrimnya mereka adalah mengatakan Al-qur’an yang sekarang tidak boleh dibacakan, tapi mereka tetap menggunakan Al-qur’an tersebut dengan alasan “selama Al-qur’an yang asli belum ada, ya ini saja dijadikan alternatif”, lucu bukan.

Dari pemikiran tersebut membuat saya berfikir, kalau memanh demikian, apakah saya membaca Al-qur’an saat ini tidak diperbolehkan, karena Nabi saja baru membaca Al-quran sejak usia 40 tahun. Dan apakah sholat saya saat ini tidak diprbolehkan karena Nabi saja baru sholat sejak usia 53 tahun (peristiwa Isro’-Mi’raj),sementara usia saya masih usia Mahasiswa dengan alasan Bid’ah. Jika melihat Bid’ah dipatokkan kepada dhohiriyah saja lalu siapan sebenarnya yang ahlul bid’ah. Lebih-lebih ketika ahlul-bid’ah dianggap Kafir, lalu siapa yang sebenarnya kafir, apa semua umat Islam itu kafir?

Yah kira-kira begitulah dagelan kami saat bersilaturrahim ke senior kami. Tulisan ini bukan sebagai pengkerdilan beberapa golongan, juga bukan untuk menambah wawasan sahabat, karena saya yakin, wawasan sahabat tentang Bid’ah sudah sangat luas.

Pahlawan Bukan Sekedar Dikenang

PMII Galileo –  “Betapa hatiku takkan pilu telah gugur pahlawanku. Betapa hatiku takkan sedih hamba ditinggal sendiri. Siapakah kini pelipur lara nan setia dan perwira. Siapakah kini pahlawan hati pembela bangsa sejati . . . .

(Ismail Marzuki-Gugur Bunga)”

Sosok yang tangguh, tak gentar membela rakyat Indonesia dan rela bercucuran darah tuk memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Mungkin itulah opini tentang hari pahlawan yang selama ini tertanam dalam benak kita semua. Perjuangan para pahlwan yang gugur saat berperang melawan sang penjajah belanda membuat namanya harum di dalam kenangan masyarakat Indonesisia, sehingga disepakatilah tanggal 10 November sebagai hari pahlawan.

Siapa bangsa yang tak bangga didalam negaranya terdapat sosok pahlawan yang luar biasa, hingga rela mati-matian dalam berjuang membela tanah air hanya untuk masa depan Negara yang penuh dengan cahaya kemerdekaan?. Saya rasa tidak ada, karena dengan adanya pahlawanlah bangsa dalam suatu Negara dapat merasakan kenyamanan kemerdekaan tanpa adanya penindasan.

Lalu, apakah hanya seseorang yang mau bercucuran darah di medan perang yang pantas kita sebut pahlawan ?

Tentu saja tidak bukan?. Seorang Kiyai/Ustadz/Guru/Dosen, mereka juga pantas dikatakan sebagai sosok pahlawan pendidikan. Saat kita sakit ada Dokter  yang menjadi pahlawan dalam bidang kesehatan. Yang harus kita ingat adalah seorang pahlawan tidak harus bersenjatakan perang, dan tidak harus bercucuran darah. Siapapun dapat disebut pahlawan jika ia merupakan sosok pemberani yang rela mengorbankan sesuatu bukan sekedar untuk diri sendiri, tetapi untuk keluarga, masyarakat atau negeri.

Sepintas kita pasti akan berfikir, pantaskan sosok mahasiswa kaum pergerakan hanya sekedar mengenang pahlawan pejuang kemerdekaan tanpa ada rasa ingin meneruskan perjuangan mereka yang telah mati-matian membela Negara sehingga kita merasakan kenyamanan seperti saat ini?. Kita semua pasti sepakat akan mengatakan “tentu saja tidak”.

Mari kita berfikir kembali!. Semua orang memang tidak akan pernah merasa mau saat dikatakan demikian, pasti jawabannya tidak, itu merupakan hal yang lumrah dalam diri manusia. Namun, kita sebagai mahasiswa kaum pergerakan sangatlah tidak pantas mengatakan tidak tanpa adanya bukti nyata.

Berfikirlah!. Masih pantaskah kaum muda, mahasiswa, kaum pergerakan, masih santai duduk manis di bangku kuliah dengan bangganya mengatakan dirinya sebagai anti aktivis. Berfikirlah, keegoisan apalagi yang akan engkau berikan?. Berfikirlah, setega itukah engkau merasakan nikmatnya kemerdekaan hanya untuk kepuasan pribadi, yang tantinya tak kau pergunakan untuk masyarakat dan bangsa, sementara pahlawan yang engkau kenang setiap tahunnya merelakan darahnya berceceran di jalan, menjadikan tubuhnya sebagai sarang timah tumpul?. Sekejam itukah kaum muda, yang menamakan dirinya sebagai mahasiswa, sebagai kaum pergerakan.

Berfikirlah!, kita ada bukan untuk diri kita sendiri. Berdzikirlah!, pasrahkan kepada-Nya apa yang engkau fikirkan sejenak. Beramal Sholeh-lah!, sebagai tindakan nyata, kita kaum pergerakan adalah kader penerus bangsa. Karena kita telah sadar, tangan bangsa dimasa depan ada di tangan kita, kaum pergerakan, kita pahlawan sejati Negara. Memang tanpa senjata, memang tanpa cucuran darah, tapi dengan dzikir, fikir, dan amal sholeh kita meneruskan perjuangan.

 

Hidup Kaum Pegerakan !!!!

Hidup PMII !!!!

 

Oleh : Muhammad Fathoni

Pahlawan Untuk Pelajaran

PMII Galileo – sejarah adalah pelajaran bagi masa sekarang dan masa sekarang adalah pelajaran bagi masa depan, waktu tak akan pernah berhenti dan akan terus berjalan dengan begitu cepatnya. tak terasa ternyata umur kemerdekaan indonesia sudah mencapai 72 Tahun. dengan perjuangan yang keras hidup dan mati di taruhkan, banyak pahlawan yang berjuang untuk memperjuangkan kemerdekaan Bangsa ini. tak sedikit rakyat atau pahlawan pada masa penjajahan yang disiksa bahkan dibunuh oleh penjajah karena merasa mereka itu mengganggu. bayangkan seumpama tak ada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan bagi Bangsa ini mungkin Indonesia tak seperti Indonesia yang sekarang, bahkan mungkin sampai saat ini Indonesia masih perang dengan penjajah.

Pahlawan hanya ingin bangsa ini merdeka, anak cucunya bisa hidup dengan aman dan tentram tak seperti pada zaman mereka, kita sebagai insan mahasiswa sayogyanya menghargai perjuangan-perjuangan tersebut. setidaknya mendoakan mereka denga latunan do’a. jangan sampai lupa akan mereka karena tanpa mereka mungkin bisa saja bangsa ini bukan Indonesia yang kita kenal saat ini. pahlawan aku tak tau harus berbuat apa bahkan harus berkata apa,  mungkin jasad mu sudah tiada tapi ruh mu akan selalu hidup di fikiran dan jiwa kami. semoga *mereka kidz jaman now* tak lupa akan pahlawan pahlawan mereka, tak lupa akan perjuangan para pahlawan.

 

Oleh : Sahabat Insya Azhari

Sholawat Sumpah Pemuda “Zaman Now” Ala Gus Dur

PMII Galileo- Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, hampir seluruh kalangan pemuda merayakannya, tanpa terkecuali yang masih kanak-kanak, remaja, sudah agak lebih tua, ataupun lansia. Tapi maaf. Hari ini, saya tidak ikut merayakan hari sumpah pemuda. Bukan hanya karena sekarang akhir pekan, hingga aku sedemikian sibuknya, tidak! Merayakan saja tidak, apalagi aku harus bersumpah layaknya pemuda “Zaman Old” sama sekali tidak.

Sudah cukup saya saja yang demikian, kalian tidak perlu ikut-ikutan, Kalau perlu kalian yang belum sempat diminta diajak ataupun dipaksa untuk bersumpah, segera lah bersumpah pada waktu yang lalu, baik tahun lalu, dua tahun yang lalu ataupun beberapa tahun yang silam.

Diajak, diminta ataupun dipaksa? Saya masih yakin, kalian tidak akan bersumpah, jika tidak diajak ataupun tidak tidak dipaksa. Untuk itu saya memberi saran untuk berhenti lah, tidak perlu melanjutkan langkah kaki kalian ke tempat-tempat persumpahan, jika memang berat rasanya.

Saya saat ini yang sedang terasuki oleh sukma R.M Djoko Marsaid, Mohammad Yamin pun pada waktu lampau, sekitar 89 tahun yang lalu, sudah komitmen untuk tidak akan meminta para pemuda “zaman now” bersumpah sesuai naskah Sumpah Pemuda. Meminta saja tidak, apalagi memaksa kalian.

Saat ini, saya sedang berkumpul dengan para pemuda-pemudi di Surabaya. Saya tahu yang membedakan kalian dengan Yamin hanya terletak pada kata “now” dan “old”. Kamu dan teman-temanya adalah “zaman now”, sedangkan Yamin dan kawan-kawan, terhitung “Zaman Old”. Jadi, sumpahnya pun hanya oleh, dari dan untuk “zaman old”.

Tapi, tunggu sebentar.

Pada perayaan sumpah pemuda kali ini, sudahkah kalian mengirim ataupun melantunkan hadiah surat al-Fatihah kepada Yamin dan kawan-kawan, termasuk Djoko Marsaid? Jika belum, Segera Anda mengirim hadiah tersebut. Hitung-hitung menjaga ingatan kalian pada tokoh-tokoh yang sudah mengabdikan diri pada agama, bangsa dan negara.

Saya tahu, pada momen yang maha spesial ini, hari sumpah pemuda yang sekaligus weekend, pasti kalian sedang nongkrong ataupun bermajelis, sambil membicarakan tentang sumpah pemuda. Gosipin orang-orang Belanda, menjungjung-junjung Yamin dan kawan-kawannya lah, yang akan berujung pada kegelisahan kalian para pemuda “zaman now”. Ya, jika dugaanku salah, maka bersedih dan menangislah, sebab kalian (mungkin) telah lupa pada seluruh unsur-unsur yang ada pada sumpah pemuda, baik tanggalnya, tokohnya, peristiwanya atau bahkan isinya.

Bagi kalian yang sedang nongkrong dan membicarakan sumpah pemuda. Nanti, dipengujung nongkrong ataupun majelis, kalian boleh sendiri ataupun berkelompok untuk ber-tawassul, itupun jika kalian bisa ilahadratin-blablabla. Jika tidak bisa, ya no problem.

Apalagi jika tak mampu bersumpah, maka bershalawat lah dengan mengenang karya ataupun isi naskah sumpah pemuda. Dan jika kalian, masih sulit untuk mencari nada (tempo) yang enak dan gurih. Maka, saya sarankan memakai nada ala-syiir tanpo waton (Gus Dur). Jika masih sulit menyatukan isi sumpah pemuda dengan nada Gus Dur, maka kalian bisa menggunakan nada apapun, yang biasanya kalian gunakan saat bershalawat, yang terpenting ada lirik khas sumpah pemuda.

Saya tahu, pemuda “zaman now” suka yang instan (tidak mau ribet). Dan saya pun tahu, bersumpah ini menegangkan, secara formal pun berat untuk diamalkan. Maka dari itu, jika berat untuk bersumpah, maka bershalawatlah, toh masih sama-sama mengeluarkan kalimat-kalimat sumpah pemuda. Cuman bedanya terletak media atau caranya saja, isinya sama.

Terus jika bersumpah berkesan simbolik kalau kalian gagah dan berani di hadapan manusia lainnya, namun jika bersholawat tidak hanya disaksikan oleh manusia, diperuntukkan kepada manusia tetapi juga disaksikan dan diperuntukkan kepada Allah SWT, ataupun Tuhan kalian masing-masing. Bagaimana? Lebih keren kan tidak! Minimal, pemuda “zaman now” juga bisa berkarya.

Loh, betulkah?

Menurut kalian Sumpah Pemuda yang dicetuskan oleh Yamin seperjuangan adalah karya (produk), hasil dari “zaman old”?

Saya tidak yakin dan tidak setuju ya. Sebelum menjawab itu, saya mau memberikan analogi untuk menjawabnya sebab mendasar dari seseorang sakit maag adalah tidak makan. Dan sebab tidak makan karena tidak punya uang ataupun miskin. Tapi apakah penyakiat maag juga berlaku bagi orang kaya?

Sekelumit analogi itu, menjadi pengantar untuk menjawab bahwa saya tidak setuju. Awalnya memang, saya kira setiap karya adalah hasil. Tapi, kalau diselami lebih dalam lagi, ternyata karya adalah sebab. Ya menjadi sebab bagi pemuda zaman now untuk tetap berkarya kebaikan, kemajuan dan kemuliaan agama, bangsa dan negara.

Ah sudahlah!

Kurang begitu penting juga kita memperdebatkan soal karya adalah hasih ataupun sebab. Apalagi sampai debat kusir. Sangatlah tidak penting, meskipun itu tetap manusiawi.

Dan saya pun masih tetap yakin, bahwa Yamin dan seperjuangan juga memikirkan kehidupan-kehidupan pemuda di masa yang akan datang, kirakira seperti kehidupan generasi muda Indonesia zaman now yang sangat susah, sulit dan beratnya minta ampun, jika diminta diajak atau bahkan dipaksa untuk berkarya. Berkarya sajalah, tanpa perlu membingungkan diri, mau karyanya bersifat sebab ataupun bersifat hasil.

Ah sudahlah,

Zaman now, zaman now

Lebih baik aku berseru kepada Djoko Marsaid, untuk segera kembali ke alamnya masing-masing, dan melanjutkan bersholawat sumpah pemuda dengan nada ala-syiir tanpo waton.

Tumpah darah satu,

Tanah air Indonesia.

Bangsa yang satu,

Bangsa Indonesia.

Bahasa persatuan,

Bahasa Indonesia

(Itulah naskah, dari Sumpah Pemuda) 2x

Surabaya, 28 Oktober 2017

Bung Sokran

Penulis: Bung Sokran (Citizen Warta Pergerakan)

Pemuda Zaman Now Harus Peduli Lingkungan

PMII Galileo – Pemuda merupakan salah satu tonggak menuju kemerdekaan bangsa indonesia. Dan hari ini tepat nya  hari Sumpah Pemuda tanggal 28 oktober selalu diperingati oleh sebagian besar pemuda. Di era milenial sekarang, pemuda tidak lagi berjuang mengusir penjajah, tidak lagi mengangkat bambu runcing dan senapan. pemuda sekarang atau pemuda zaman now sebagai penerus generasi harus lebih respon terhadap permasalahan sosial di masyarakat.

Marak nya perburuan liar, membuang sampah sembarang tempat, menggunakan kendaraan ugal-ugalan sehingga asap kendaraan menyumbang polusi besar, membuang-buang air dengan percuma, penebangan pohon tanpa mereboisasi. Kegiatan-kegiatan seperti itu menjadi ancaman bagi masyarakat jika dilakukan terus menerus. Ancaman kekeringan, ancaman penyakit, tanah longsor, kepunahan ekosistem, dan pencemaran sehingga berdampak pada masyarakat, mereka kehilangan tempat tinggal bahkan nyawa, ekonomi melemah, kemiskinan meningkat, pendidikan menurun, kaum perempuan terpinggirkan.Hal yang sering dilupakan oleh kaum pemuda saat ini adalah kepedulian nya terhadap lingkungan. Tidak hanya kurang peduli, tapi menyumbang kerusakan lingkungan, ini ditandai dengan cara mereka tidak bijak dalam menjaga dan melestarikan Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan, malah mengeksploitasi dan merusak nya.

Bukti nyata yang terjadi di masyarakat sudah terlihat, di Jawa Timur sendiri banyak peristiwa, contohnya longsor ponorogo akibat penebangan pohon melebihi batas, banjir di Kabupaten Malang, banjir Sampang, kegagalan teknologi di Sidoarjo, kebakaran hutan, pencemaran air sungai akibat penumpukan sampah. Pemuda jaman now harus merubah perilaku tersebut.

Seperti apa upaya-upaya megurangi dampak yang ditimbulkan oleh kejahatan lingkungan?

Salah satu upaya yang harus kita lakukan sebagai pemuda zaman now seperti mengajak masyarakat, komunitas dan lainnya untuk menanam pohon di lahan kritis, tidak membuang sampah atau putung rokok di jalan dan sembarang tempat, menggunakan air degan bijak, menanam tanaman depan rumah, mendorong pemerintah desa untuk merencanakan pembangunan berbasis adaptasi perubahan iklim dan pengurangan resiko kebencanaan.

Maka dari itu, kita sebagai pemuda pergerakan, organisasi pemuda terbesar bangsa ini, PMII harus menjadi garda terdepan melestarikan lingkungan, agar dampak-dampak bisa diminimalisir. Untuk itu saya mengajak kader-kader KOPRI dan kader PMII seluruh nya agar lebih peduli masalah lingkungan. Wujudkan dengan gerakan nyata di masyarakat, menanam pohon bersama, buang sampah di tempatnya, olah sampah jadi bahan kreatif sehingga bisa meningkatkan ekonomi, dan tidak merusak ekosistem hutan, dan lautan. Pemuda Zaman now, pemuda peduli lingkungan.

Penulis: Beni Trimaningsih (Ketua Bidang SDA dan Lingkungan hidup KOPRI PB PMII)