Surat Untuk Pertiwi “Hibridisasi Ego”

Kontributor : sahabat bakhru thohir

Yang terkasih pertiwi,

Semoga selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan YME.

Sebelumnya maafkan saya yang telah lancang mengirimkan surat kepada engkau, tapi dalam rangka memompa semangat meneladani Kartini, perkenankan saya mengeluarkan unek-unek yang terpendam dalam hati.

Mohon maaf pertiwi, dalam membuat surat ini saja saya masih perlu membuka KBBI dan mencari makna paling cepat apa itu pertiwi, maafkan kebodohan saya. Kabar negeri saat ini tak begitu baik, setelah ada ramalan dari Prabowo “Dilan” Subianto yang menyebutkan bahwa “Saat ini Indonesia memang belum bubar, gak tau kalau 2030” telah berhasil membuat banyak penduduk bertanya-tanya, komentar sampai tegang. Selain itu, pada perayaan Kartini tahun ini juga muncul versi kartini berjilbab dan berjacamata yang tentu sangat ketahuan maksud gambar ini dibuat untuk apa, mana mungkin di era itu ada kaca mata yang modelnya sama persis dengan yang dikenakan Via Vallen. Maafkan kami yang terlalu mudah diadu domba. Entah para pahlawan di sana sedang meratapi nasib tanah tumpah darahnya atau malah tertawa terpingkal-pingkal karena kelucuan perilaku kami.

Kegiatan kami setingkat mahasiswa juga setali tiga uang. Banyak diantara kami yang tidak lagi mengasah nalar kritis tapi ikut-ikutan kakak kami untuk memperebutkan jabatan. Proses belajar kami yang bertujuan untuk ilmu juga hanya ditahapan hayal, praktiknya ya tetap saja kami adalah budak nilai A. Saling sikut dengan sesama juga menjadi sesuatu yang wajar. Buku-buku juga demikian, memang banyak bertebaran, tapi entah untuk mencari substansi atau hanya sebatas eksistensi dari penayanganya di story WA dan IG, biar teman kami yang melihat terkesan “Wah keren sekali bacaanmu, sunguh luar biasa”.

Kami yang terafiliasi dengan pergerakan mahasiswa islam indonesia juga demikian. Sungguh maafkan kami pertiwi. Kami yang menyebut mahasiswa pergerakan, tapi gerakan kami pun masih tak memiliki visi. Kami hanya sebatas meneladani romantisme dari para senior. Bukan kami tidak paham soal berbedaannya medan proses dulu dan sekarang, tapi cerita-cerita gagah saling dorong dengan aparat di jalan begitu heroik saat kita dengar, kan lumayan bisa jadi cerita yang terus kita produksi untuk generasi penerus.

Kami yang menyematkan kata “mahasiswa” setelah kata pergerakan juga jauh dari citra mahasiswa yang benar-benar mahasiswa. Memang citra mahasiswa teladan sangat bias sekali dan tentu sangat subjektif penilaian itu. Tapi nyinyiran bahwa kebanyakan mahasiswa pergerakan pasti kuliahnya hancur memang benar adanya. Kita pun cuma bisa menimpali “hidup tak ditentukan oleh kesuksesan nilai saat kuliah”. Kita hanya sebatas membalas argumen tanpa karya. Nanti saat kami dewasa dan menyadari bahwa birokrasi yang memimpin adalah orang-orang yang bobrok, kita tetap hanya bisa berkomentar “dasar birokrat korup dan menindas”. Sadar terhadap perlunya mahasiswa pergerakan mengisi sudut-sudut birokrasi terlalu lamban disadari. Saat ini yang ada juga hanya mencetak generasi politisi, bukan seorang negarawan.

Lanjutan kata mahasiswa adalah kata “Islam”. Dan ya lumayan lah, sejak ada isu-isu khilafiyah, kita jadi belajar lebih tentang Islam. Ucapan terimakasih perlu kita sampaikan pada pejuang khilafah yang muncul dengan isu-isu membuat negara agama, sehingga membuat kita mempersiapkan diri untuk menghadang rencana itu dengan membaca buku dan berdiskusi tentang substansi Islam. Seperti kapital yang semakin berjaya saat dikritik oleh komunis/sosialis. Selebihnya ya kualitas sariat kami sangat ala kadarnya, solat terbatas, puasa sekuatnya. Ya kembali kita berargumen “buat apa rajin solat tapi tak tahu kabar tetangga”. Padahal kami juga sudah membaca buku “saleh ritual saleh social” gubahan Gus Mus, entah kenapa kita juga tak meneladani beliau, padahal kita juga marah saat Gus Mus dihina-hina.

Dan kata yang terakhir adalah “Indonesia”. Mohon maaf pertiwi, selama ini kami membawa kata sedemikian luas tapi pemikiran kami sangat sempit, seteru kita juga hanya si ijoitem itu. Padahal saat ini sudah tak zamannya berseteru. Menyelamatkan Indonesia juga tak mungkin kalau dilakukan oleh pergerakan ini sendirian, karena sekarang sudah saatnya kolaborasi. Tapi maaf baru sebatas wacana, pertiwi.

Tapi pertiwi jangan terlampau bersedih karena kabar buruk yang barusan saya sampaikan. Kami sebagai saintis memiliki konsep yang setidaknya bisa jadi pijakan awal untuk memperbaiki keadaan ini. Saintis yang memilih fokus bidang kimia tentu sudah sangat akrab dengan konsep ini, yakni “hibridisasi”, bahkan konsep ini sudah diberikan pada mahasiswa tahun pertama.

Hibridisasi adalah penyetaraan energi. Kalau dalam kuliah, kami diajarkan tentang atom karbon untuk bisa berikatan lebih maksimal, dia harus menghibridisasi orbitalnya. Karena saat orbital berjalan sendiri-sendiri dia hanya bisa mengikat 2 atom lain, sementara saat karbon sudah menghibridisasi orbitalnya atau menyetarakan energi antar orbitalnya dia bisa mengikat 4 atom karbon lain. Bahkan ikatan rangkap juga terjadi karena adanya hibridisasi ini.

Tentu yang membedakan adalah apa yang akan dihibridisasi. Kalau dalam konteks atom, yang dihibridisasi adalah tingkat energi orbital, kalau dalam proses hidup kita, sementara yang saya pahami, yang paling pertama perlu dihibridisasi adalah energi EGO!.

Energi ego dari setiap manusia, kelompok, partai, komunitas, ras, suku sampai agama. Sehingga ikatan kita bisa lebih banyak dan menjadikan indonesia yang lebih solid dan tak mudah diadu domba.

Untuk teknis tampaknya tak perlu saya sapaikan di sini pertiwi yang terkasih, daya nalar kritis dan kinerja otak dalam mengkontekskan sesuatu oleh anak-anak saat ini sudah jauh maju. Biar setiap manusia yang mengeksplorasi apa yang ada di dalam otak mereka masing-masing.

sehat -sehat pertiwi, kami akan selalu berdoa untukmu.
Merdeka!

Sumber gambar : https://goo.gl/images/NSiU8N

Kemah Anggota Rayon (KAR) 2016

Sabtu lalu tepatnya pada tanggal 6 februari 2016, anggota Rayon “Pencerahan” Galilleo telah melaksanakn sebuah agenda yaitu Kemah Anggota Rayon yang biasa kita kenal dengan sebutan KAR. Kegiatan yang dilaksanakan di Pantai Balekambang ini berlangsung selama dua hari, kegiatan yang bertujuan untuk mempererat persahabatan antar sahabat-sahabati SIMPATI ini berjalan dengan sangat lancar.  Berawal dari keberangkatan dari kampus tercinta yakni UIN MALIKI MALANG pada sabtu pagi, antusias dan semangat para sahabat sahabati simpati ini terlihat jelas pada wajah mereka yang menunjukkan ekspresi kegembiraan Karena akan melaksanakan kegiatan KAR yang mereka rancang sendiri guna mempererat persahabatan diantara mereka.

Bahkan perjalanan yang cukup melelahkan pun tidak mematahkan semangat sahabat sahabati simpati, setelah tiba di tempat mereka dengan semangatnya mendirikan tenda dan menyiapkan segala kebutuhan untuk kemah. Ketika hari menjelang sore, sahabat sahabati simpati tidak ingin membuang kesempatan untuk belajar, bahkan dalam keadaan mereka sedang kemah pun mereka tetap ingin belajar. Yaaa, belajar tentang tumbuhan laut yang ada di pantai balekambang. Walaupun dengan basic jurusan yang berbeda-beda tetapi tidak memutuskan semangat mereka untuk bersama-sama mempelajari tentang biota laut tersebut.

Tanpa terasa haripun menjelang malam, setelah ishoma, tibalah saat dimana kegiatan tersebut selalu ada disetiap kegiatan kemah, yaitu api unggun. Yaahh walaupun api tidak dapat bertahan hidup dengan lama, tapi setidaknya cukup untuk menghangatkan tubuh sahabat sahabati yang mengikuti kemah tersebut. Malam itu berlalu dengan sangat menyenangkan dengan gelak tawa yang selalu terhias di wajah sahabat sahabati, dengan segala jenis permainan yang mereka mainkan, membuat kedekatan diantaranya semakin dan semakin akrab.  Keakraban tersebut tidak hanya terjalin antar anggota Rayon, tetapi antar anggota Rayon dengan pengurus Rayon pun semakin terjalin keakraban. Kenapa begitu? ya, walaupun ini namanya KAR yakni Kemah Anggota Rayon tetapi bukan berarti para pengurus Rayon membiarkan para anggota kemah dengan sendirinya tanpa dampingan dari pengurus. Pengurus pun masih tetap mendampingi dan turut memeriahkan kegiatan tersebut bahkan tidak sedikit dari pasca yang mengikuti kegiatan tersebut.

Satu per satu dari peserta KAR mendapatkan pertanyaan “ Mengapa hingga saat ini mereka masih bertahan di PMII? “ dengan berbagai macam tipe dan versi mereka menjawabnya. Walaupun terdapat banyak perbedaan dalam jawaban mereka, tetapi kita dapat memahaminya, memahami bahwa satu-satu nya alasan kenapa mereka bertahan yaitu karena jiwa mereka, hati mereka, bahkan tubuh mereka telah melebur menjadi satu, yakni menjadi SAHABAT RPG (Rayon Pencerahan Galileo). Disini kita tidak hanya menemukan sahabat tetapi dapat menemukan keluarga, menemukan guru, bahkan kita bisa mendapatkan banyak sekali ilmu. Sahabat sahabat pasca pun turut mengisi kegiatan pengakraban tersebut dengan sedikit sharing pengalamannya dalam berPMII, seperti halnya sahabat Syaiful Bahri dari angkatan Abbasyiah.

Bukan hal yang wajar jika memiliki kegiatan di pantai tetapi tidak menikmati bagaimana indahnya deburan ombak yang silih berganti membawa tubuh ini untuk mengikuti gelombangnya.Yaaah, seperti sudah tradisi bermain dipantai, walaupun pada akhirnya akan menikmati air laut bersama-sama, tetapi kurang afdhol jika tubuh ini terhempas kedalam dengan sendirinya tanpa bantuan dari sahabat sahabati tersayang. Seperti itulah yang terjadi, satu persatu dari sahabat sahabati simpati, sahabat sahabati pengurus, bahkan sahabat sahabati pasca hingga ketua Rayon tercinta kita pun menjadi korban, tubuh ini bagaikan seonggok kayu yang dengan enaknya diangkat dan di hempas kan ke laut. Tetapi, melalui hal tersebut lah dapat terlihat dengan sangat jelas bagaimana keakraban yang tercipta antar kita sahabat sahabati keluarga besar Rayon”Pencerahan”Galilleo.

“Kelemahanku adalah kelebihan dari sahabatku, kelebihanku adalah bagian dari kehebatan sahabatku. Terimakasih untuk setiap butir kehidupan yang kau berikan kepadaku sahabat, Karena tanpa sahabat aku hanyalah seonggok manusia yang tak tau arah hidup, Karena tanpa sahabat aku hanyalah jasad tanpa nyawa, Karena tanpa sahabat aku tak memiliki duniaku. Bunga mawar bisa menjadi tamanku, dan sahabat dapat menjadi duniaku.”

“selamat berproses, semoga selalu tangan terkepal dan maju kemuka”.

 

Kontributor : Sahabati Mahdiyatul (Kader Jurnalistik RPG)

Wanita dan Kepemimpinan

20150802_044951_harianterbit_khofifah
Khofifah Indar P (Menteri Sosial RI)

Selamat Pagi Indonesia, Selamat Pagi Kota Malang. Selamat Pagi Mahasiswi. Ya, mahasiswi, penulis kali ini memang sedikit akan mengulas terkait kepemimpinan mahasiswi, atau dalam konteks global adalah kepemimpinan wanita. Sebelumnya penulis memang sempat lama hilang dari dunia kepenulisan karena terlalu sibuk mengurusi tujuan utama datang ke Malang, apalagi selain duduk manis mendengarkan retorika manusia yang sedang menjalankan kewajibannya sebagai pengajar mahasiswa, Dosen. Intinya, penulis sibuk melakukan gerakan akademik bernama kuliah. Di weekend kali ini sebetulnya ada beberapa tugas perkuliahan yang harus penulis kerjakan, namun karena renungan dan obrolan ringan malam tadi membuat penulis berhasrat dan bersemangat untuk sedikit mengkhayal tentang wanita yang menurut seorang ahli wanita adalah objek bacaan yang tak pernah habis. Namun disini, sesuai dengan ulasan diatas, penulis membatasi bacaan penulis terhadap wanita dalam konteks kepemimpinan saja, tidak sampai kedalam organ-organ intim wanita seperti penjelasan dalam kitab-kitab reproduksi konsumsi mahasiswa biologi, Ups. Meskipun penulis seorang pejantan tangguh, tak elok kiranya ketika penulis tak memperdulikan kaum hawa yang juga bagian dari kehidupan penulis sendiri, hehe. (Sok peduli).

Penulis sering menemukan beberapa fakta yang menurut pribadi penulis memprihatinkan terkait partisipasi mahasiswi dalam organisasi-organisasi yang ada di kampus. Khususnya di UIN Maliki Malang, persentase partisipasi aktif mahasiswi dalam organisasi kemahasiswaan masih terlihat minim dan masih didominasi oleh para pejantan. Padahal, penulis mengamati di kampus-kampus umum seperti di UB, ITS, UNAIR dan beberapa kampus lain, peran mahasiswi dalam organisasi kemahasiswaan cukup tinggi dibandingkan dengan di UIN (baca: UIN Maliki). Terlepas apakah temuan penulis ini komprehensif atau tidak, itulah yang penulis temukan di berbagai event keorganisasian yang pernah penulis ikuti, bahkan organisasi yang penulis geluti didalamnya. Karena penulis sendiri belum pernah meneliti secara statisik terkait partisipasi mahasiswi dalam organisasi kemahasiswaan di UIN, baik dari segi kualitatif (partisipasi aktif) maupun kuantitatif (partisipasi pasif alias numpang nama). Ada apa dengan mahasiswi UIN? Mengapa mahasiswi UIN enggan menunjukkan eksistensinya sebagai mahasiswi yang sebetulnya juga bisa mengeksplor kapasitasnya sebagai mahasiswi yang Ulul Albab (Dzikir, Fikir, Amal Sholeh) dan bersaing dengan mahasiswi-mahasiswi di kampus lain? Apakah terdapat stigma negatif? Apakah terdapat pengaruh dominan dari norma-norma, budaya, maupun agama? Penulis juga tidak mengetahui secara pasti apa yang melatar belakangi realita ini. Namun disini, penulis hanya ingin sedikit sharing atas apa yang penuli ketahui, bahwa pada intinya, mahasiswi atau dalam konteks universalnya wanita, juga mempunyai hak yang sama dalam mengembangkan dirinya, baik dari segi potensi, bakat, maupun jiwa kepemimpinan, yang notabene kesemuanya bisa didapatkan dengan berpartisipasi dalam suatu wadah bernama organisasi. Pada kesempatan kali ini, penulis akan lebih terfokus pada pembahasan kepemimpinan seorang wanita yang merupakan esensi hasil utama dari berorganisasi, khususnya di organisasi kemahasiswaan.

Perspektif Islam dalam Kepemimpinan Wanita

Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin tidak melarang seorang wanita untuk mengembangkan diri dan memimpin. Memang ada beberapa ayat maupun hadits yang menyebutkan bahwa wanita dilarang memimpin. Wacana ini biasanya dikarenakan terdapatnya hadits Rasulullah SAW yang telah menyebar luas di masyarakat kita, yaitu :

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan negara pada wanita”, (HR. Bukhori).

Perlu diketahui, setiap hadits mempunyai sebab musabbab turunnya hadits yang disebut asbabul wurud. Asbabul wurud sendiri adalah salah satu aspek yang juga digunakan sebagai referensi untuk menentukan hukum suatu perkara, selain juga kualitas perawi dari hadits tersebut. Mengenai hadits diatas, hadits tersebut muncul berkenaan dengan suatu peristiwa dimana pada saat itu, Rasulullah mengirimkan utusan ke negeri Persia dan memberikan mereka surat tentang ajakan mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Namun, Pimpinan Persia yang pada saat itu dipimpin oleh seorang wanita bernama Putri Kisro menolak mentah-mentah ajakan tersebut dan merobek-robek surat Rasulullah SAW sehingga Rasulullah SAW bersabda demikian. Dan hal tersebut terbukti terjadi karena selanjutnya Rasulullah SAW berhasil menang berperang melawan Persia yang pada saat itu dipimpin Putri Kisro yang memang dikenal sangat lalim dan khianat terhadap kaumnya.

Jumhur Ulama’ bersepakat bahwa seorang wanita dilarang untuk dijadikan seorang pemimpin, namun para jumhur ulama menyepakati ini dengan berbagai illat dari masing-masing pendapatnya. Misalkan, Syekh Yusuf Qordlowi menjelaskan, bahwa wanita tidak diperbolehkan menjadi pemimpin negara (Khilafah). Namun tidak dalam konteks pemimpin negara dalam era modern saat ini. Karena kepemimpinan pada saat ini tidak seperti kepemimpinan pada era kekhalifahan yang notabene terkesan monarkhy dan dinasty yang mempunyai wewenang penuh terhadap fungsi legislastif, eksekutif dan yudikatif. Kepemimpinan hari ini, misalkan presiden, hanya mempunyai wewenang sebagai eksekutif saja, tidak kemudian memegang kendali legislatif dan yudikatif. Sehingga dalam konteks ini, wanita dan pria mempunyai posisi yang sama di lapangan kepemimpinan. Sama halnya seperti kewajiban wanita dan pria sebagai seorang mukallaf (orang yang diberi beban oleh Allah SWT) untuk tunduk dan patuh dalam beribadah kepada Allah SWT dan amar ma’ruf nahyil munkar.

Lajnah Bahtsul Masail NU pada tahun 1999 pernah bermusyawaroh terkait kebolehan wanita menjadi seorang pemimpin negara. Dalam pertemuan tersebut, para kyai berpendapat bahwa kepemimpinan negara pada era demokrasi tidak bisa disamakan dengan kepemimpinan zaman dulu. Kepemimpinan saat ini bisa disamakan dengan jabatan qadhi untuk memutuskan perkara harta, dimana menurut Imam Abu Hanifah, perempuan diperbolehkan menjadi hakim/qadhi dalam konteks pengurusan harta. Imam Ath-Thabari bahkan membolehkan wanita menjadi hakim dalam segara hal. Kedua alasan ini terdapat dalam kitab Bidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusyd.

Jadi, secara garis besar, hadits diatas tidak boleh kita maknai secara tekstual tanpa kita mengetahui asbabul wurud hadits tersebut, karena akan menyebabkan terjadinya diskriminasi antara fakta psikis wanita dan pria yang sebetulnya sama-sama memiliki hak yang sepadan dalam berbagai hal, terutama dalam konteks kepemimpinan. Mari kita fahami hadits tersebut secara komprehensif sehingga wanita juga mempunyai kesempatan yang sama dalam konteks memegang tampuk kekuasaan negara. Asalkan, wanita tersebut adalah representasi kontekstual mafhum mukholafah dari asbabul wurud hadits diatas. Yakni, wanita yang tidak lalim dan tidak berkhianat kepada rakyatnya. Dalam arti lain, wanita tersebut mempunyai integritas yang dapat dipertanggungjawabkan dan mampu menjadi seorang pemimpin yang dapat menciptakan kesejahteraan rakyat dan rahmatan lil alamin.

Kepemimpinan Wanita dalam Sejarah Dunia

Sejarah adalah sesuatu yang bisa kita jadikan cermin atas apa yang harus kita lakukan saat ini. termasuk dalam hal peran wanita dalam organisasi dan kepemimpinan. Fakta sejarah membuktikan bahwa tidak semua wanita mempunyai sifat BAPER dan PMS berlebih sepeti yang sering dijadikan brand oleh para pria terhadap wanita saat ini. kita semua pasti mengenal kepemimpinan wanita yang berhasil membawa negerinya menjadi makmur dan sejahtera, seperti kepemimpinan Cleopatra, Corie Aquino, Margareth Theacher, Benazir Butho, dan yang jauh lebih hebat lagi adalah kepemimpinan Ratu Balqis yang mampu membawa kemakmuran bagi negaranya sehingga hampir menandingi kerajaan Nabi Sulaiman AS yang kemudian termaktub dalam Al-Qur’an sebagai Baldatul Toyyibatul Warabbun Ghofur.

Selain itu, kita pasti mengenal Siti Aisyah RA, istri Rasulullah SAW yang mempunyai intelektualitas yang diakui oleh para Sahabat dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang patut dibanggakan. Beliau juga adalah seorang muslimah yang paling banyak meriwayatkan hadits Rasulullah SAW. Sehingga banyak dari para sahabat yang sering meminta pendapat beliau ketika hendak mencari solusi atas suatu permasalahan.

Di Indonesia saat ini, ada pula banyak tokoh perempuan yang mampu menjadi pemimpin seperti Ibu Tri Rismaharini yang memimpin Kota Surabaya dengan mendapat banyak penghargaan atas kepemimpinannya. Selain itu, Ibu Khofifah Indar Parawansa yang dengan gagah berani menjadi penantang Pak Karwo dalam memperebutkan posisi orang nomor satu di Jawa Timur dan saat ini menjadi Menteri Sosial dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK.

Dari beberapa fakta sejarah yang telah diuraikan, penulis meyakini bahwa wanita bukanlah kaum yang lemah, bukan golongan kelas dua setelah pria, bukan hanya dikodratkan sebagai penghuni dapur dan kasur seperti pandangan yang melekat pada mayoritas masyarakat umum hingga saat ini. Sesuai dengan teori gender, bahwa wanita memang berbeda dengan pria secara biologis, namun tidak berbeda secara psikologis. Wanita sama halnya dengan pria dalam hal keberanian, intelektualitas, dan juga kepemimpinan. Jadi, pantas dan sah-sah saja ketika seorang wanita menjadi seorang pemimpin. Terkait atas apa yang menjadi pandangan umum saat ini, itu dipengaruhi karena adanya budaya patriarki, yaitu suatu budaya yang lebih mengedepankan peran pria diatas wanita. Dan ternyata, banyak wanita yang secara tidak langsung “mengamini” adanya hal tersebut. Ketika kita memahami sejarah dan ajaran islam secara komprehensif, penulis meyakini bahwa hal itu sudah tidak relevan lagi saat ini. Karena sejatinya, islam sangat memulyakan peran wanita dan eksistensi wanita pada era ini juga diperlukan dalam kontribusinya membangun agama, nusa dan bangsa.

Bangkitlah Wahai Wanita Ulul Albab Penerus Bangsa

tri-risma
Tri Rismaharini (Walikota Kota Surabaya)

Paparan diatas adalah apa yang ingin penulis share kepada para wanita pada umumnya, mahasiswi UIN pada khususnya. Dengan harapan, uraian diatas menjadi motivasi dan membakar ghiroh mahasiswi semua dalam mengembangkan diri dan tidak terbatas pada stigma negatif dan pandangan diskriminatif yang membunuh semangat wanita muda dalam pengembangan dirinya dari segi intelektualitas dan kepemimpinan. Jangan ragu untuk kemudian belajar memimpin dan belajar berorganisasi. Warnai organisasi kemahasiswaan di kampus dengan kapabilitas sahabati yang mampu dibuktikan melalui aktualisasi diri di organisasi. Sehingga organisasi kemahasiswaan di UIN Maliki Malang akan lebih terlihat luar biasa karena kemudian dapat mencetak kader-kader wanita pergerakan yang mempunyai integritas dan mampu menjadi pemimpin bangsa ini. Jangan ragu untuk menjadi aktivis mahasiswa karena status biologis, Ibu Khofifah dan Ibu Risma dulunya adalah aktivis mahasiswa yang sangat luar biasa. Beliau terus mengasah kapasitas kepemimpinannya di organisasi sehingga hari ini mampu berpartisipasi aktif dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik lagi.

Penulis juga pernah mempelajari bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang jabatan tinggi saja seperti yang telah diuraikan diatas, kepemimpinan juga berbicara tentang jiwa. Jabatan tidak lebih penting dari jiwa kepemimpinan. Jabatan mempunyai batas waktu, namun jiwa kepemimpinan tak kenal waktu dan akan mengantarkan sahabati menjadi wanita yang luar biasa. Sehingga dalam ruang lingkup kecil seperti rumah tangga, sahabati mampu mendidik generasi kecil sahabati secara tepat dengan jiwa kepemimpinan yang dimiliki sahabati dan menjadikan keturunannya sebagai generasi penerus bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmunya, serta berkomitmen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam ruang lingkup yang lebih luas, kapasitas kepemimpinan sahabati akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan mengantarkan Indonesia menjadi Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghofuur. Semoga. Mari Berorganisasi, wahai Mahasiswi UIN Maliki Malang, buktikan bahwa sahabati adalah generasi muslimah penerus bangsa di garda terdepan. Habis Gelap Terbitlah Terang. Wallahu a’lam.

Malang, 18/10/2015 06:59 WIB

Fawwaz M. Fauzi

Cocokologi Al-Qur’an Sains, ataukan Kesadaran Filosofis?

Oleh : Syaiful Bahri**)

Bismillahirrahmanirrahim,,,,

Big Bang Theory
Big Bang Theory

Di Era yang sarat dengan Sains dan Teknologi ini, hampir semua lini kehidupan ini tidak ada yang tak bersentuhan dengannya. Bahkan soal agama. Ada semacam tuntutan tak termaktub, bahwa kebenaran agama tidak boleh bertantangan dengan sains. Karena, jika informasi agama bertentangan dengan sains, sudah bisa dipastikan yang dituding salah adalah informasi agama.

Kenapa demikian? Karena, informasi agama adalah kebenaran filosofis yang lentur dan subyektif. Sedangkan sains adalah kebenaran emperis yang obyektif. Sehingga ketika dibandingkan secara langsung, seakan-akan informasi agama seringkali dipaksa dicocok-cocokkan belaka dengan kebenaran sains.

Karenanya, lantas muncul sindiran kepada para penganut agama, bahwa umat beragama suka melakukan cocokologi alias mencocok-cocokkan informasi kitab sucinya dengan data-data saintifik. Tentunya sindiran itu tidak sepenuhnya benar dan harus diklarifikasi.

Oleh karena itu pemahaman dan implementasi integrasi Al-Qur’an dan sains haruslah komprehensif dan holistic. Bukan hanya menerjemahkan dan menafsirkan secara verbalistik saja. Nah itu yang terjadi hari ini, membicarakan penciptaan alam semesta tidak serta-merta kita bisa mengambil semua teori yang beredar di dunia ini terkait penciptaan alam semesta, kita pilihlah teori Big Bang, maka membicarakan Big Bang bukanla sekedar kita menerima berbagai cocokologi populer di kalangan masyarakat, namun kita harus memahami benar-benar bagaimana kerja Big Bang; toeri dasar, cara kerja, hal-hal yang mempengaruhi Big Bang dan lain sebagainya harus kita pahami benar-benar secara saintifik dan mampu dipertanggung jawabkan. Baru kemudian kita menoleh pada apa yang ungkapkan Al-Qur’an.

Saya termasuk salah satu yang tidak langsung percaya pada berbagai cocokologi populer yang mengaitkan teori Big Bang dengan apa yang dikatakan al-Qur’an. apa yang ditulis oleh Harun Yahya ataupun Achmad Baiquni mungkin ia sesuai dengan ungkapan al-Qur’an, namun saya melihat hal ini akan memicu persoalan tambahan; kalau memang sesuai dan kemudian dianggap itu adalah teori yang diungkap al-Qur’an, maka –dengan asumsi dasar Al-Qur’an mengandung kebenaran mutlak- teori ini pun akan membawa sifat mutlak Al-Qur’an, ini tentunya berbenturan dengan sifat Ilmu pengetahuan yang –harusnya- bersifat tidak mutlak, ia harus terus diuji. Nah, sebuah persoalan yang tidak asing bukan?. Persoalan selanjutnya adalah what’s next? Kalau memang teori Big Bang sesuai dengan ungkapan Al-Qur’an, lalu memangnya kenapa? Apa yang bisa kita sumbangkan terhadap teori ini dengan kesesuaian dalam Al-Qur’an? saya malah merasa bahwasanya Al-Qur’an terlalu banyak kita intervensi dengan Ilmu Pengetahuan. Bisakah kita melakukan hal sebaliknya, kita intervensi teori Big Bang atau apa pun dengan menggali kekayaan Al-Qur’an? saya sangat menyukai cara kerja Al-Razi yang memilih untuk tetap menyatakan keterpaduan langit dan bumi (meskipun tidak sesuai dengan alam sains pada saat itu, namun secara bahasa Al-Qur’an menyatakan demikian). Dengan kerangka kerja yang sama mungkin kita bisa terpakan dalam mengejawantahkan ungkapan-ungkapan Al-Qur’an dalam berbagai bidang. Sehingga kita tidak hanya mampu terkagum dengan berbagai hasil kerja ilmiah yang –kebetulan– sesuai dengan Al-Qur’an, kemudian kita tidak berbuat apa-apa.

Lalu seperti apa kemudian keterlibatan insan Ulul Albab disini ?, lagi-lagi kita dihadapkan pada suatu kondisi dimana citra diri PMII (Ulul Albab) dituntut menjadi akselerator atas problem cocokologi pupopuler. Ulul Albab secara umum didefinisikan sebagai seseorang yang selalu haus akan ilmu pengetahuan (olah pikir) dan iapun tak lupa mengayun dzikir. Ulul Albab-citra diri seorang kader PMII, dengan sangat jelas disarikan dalam motto PMII dzikir, fikir dan amal sholeh. Maka beruntung dan berbanggalah kita yang hari ini menjadi kader pergerakan, karena sesungguhnya kita sebagai individu-individu telah dipersatukan oleh kontruksi ideal seorang manusia yaitu Ulul Albab.

Didalam beberapa panduan buku PMII, disebutkan bahwa kader Ulul Albab sesungguhnya banyak digambarkan dalam Al-qur’an. yang kemudian dari elaborasi ayat-ayat Al-qur’an tersebut dapat dicirikan bahwa kader Ulul Albab : 1) Berkesadaran histories-primordial atas relasi Tuhan-Manusia-Alam. 2) Berjiwa optimis-transendental atas kemampuan mengatasi masalah kehidupan. 3) Berfikir secara dialektis. 4) Bersikap kritis. 5) Bertindak transpormatif. Lima ciri Ulul Albab tersebut adalah jawaban atas problem cocokologi yang lagi mewabah dikampus integrasi ini dan harus menjadi kesadaran filosofis bagi penganutnya. Amien…

Mungkin saya tidak perlu panjang lebar mengejawabtahkan ciri Ulul Albab di atas, tapi sebagai kader PMII patutlah bila rumusan kader Ulul Albab (manusia seutuhnya) ini dijadikan spirit untuk kita dalam mengaktualisasikan segala kemampuan yang dimiliki oleh setiap kader PMII. Apabila kader PMII tidak menyadari kesenjangan-kesenjangan tersebut diatas, maka Ulul Albab tak pantas disandang sebagai citra diri kader PMII.

Wallahu A’lam,,,,,

Wallahul Muwaffieq Ilaa Aqwamitthoriq….

 

**) Kader PMII Pencerahan Galileo

Ketua HMJ “Astrolab” Fisika 2014

Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi 2015

Menteri Kaderisasi IHAMAFI 2015

Gerakan, Galileo dan Gereja

Oleh : Barokat Anas Ahimsa

image

     Sikap keksatriaan untuk memperjuangkan sebuah pemikiran (tepatnya penemuan-penemuan) atas apa yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran, seorang ilmuwan alias profesor matematika dan fisika bernama Galileo Galilei yang terlahir di Negeri Pisa Italia, harus ber-urusan dengan pihak gereja (katolik roma) dengan tuduhan yang serat aroma negatif terhadap nya.

    Namun lain arus cerita, dari sebuah jejak langkah positif yang ditapaki sekelompok mahasiswa, tepatnya para aktifis dari baground Mipa di kampus Islam Negeri Malang , justru menjadikan akar pemikiran dan buah penemuan “ilmiah” dari Galileo sebagai inspirasi sebuah nama organisasi di akar dari seluruh tingkatan level nasional. Bernafaskan Keislaman dan Keindonesiaan, yang biasa dikenal dengan sebutan Districk Of Indonesian Moslem Student Movement.

    Bagaimana catatan kiprah perjuangannya? Saya menulis ini sebagai oretan refleksi personal dan harapan, atas pergulatan organisasi ini.

Akar Yang Tumbuh Itu Bernama PMII Rayon Galileo

   Suatu hal yang wajar ketika mengalir sebuah dinamika pada aras kepemudaan di sebuah komunitas. Dengan munculnya geliat kegelisahan, berupa semangat baru untuk mengawal kemandirian, ke-maujud-an (eksistensi) serta upaya untuk menjahit lebih rapi “tenun” anggotanya yang berserakan tak terurus dalam budaya ber-organisasi.

   Ketika aspek manfaat lebih terlihat dominan, “Tasharruful imam ‘ala ar-ra’iyyah manuthun bil al-mashlahah,” maka langkah-langkah baru segera bisa untuk dilakukan…

    Awal langkah itu, dengan dipelopori barisan mahasiswa-mahasiswi kader dari matematika dan biologi (Tadris di bawah Fak.Tarbiyah-Menjadi MIPA-Sekarang Saintek) yang keberadaannya, karena persoalan fungsional dan organisatoris masih berada dibawah “kungkungan” Rayon Condrodimuko. Terlahir ide dan gagasan besar dengan ikhtiar untuk memisahkan diri secara kelembagaan, guna membentuk struktur organisasi tersendiri yang lebih mapan di setiap aktifitas gerakan dan kaderisasinya.

   Sebuah nilai pembebasan serta kemandirian untuk menghidupkan cahaya bergerak dan berfikir, yang patut di apresiasi secerah-cerah nya.

   Dengan semakin bulatnya tekad dan kemantapan niat. Dipersiapkanlah semua kebutuhan sebagai persyaratan, yang akan di usung dalam perhelatan Rapat Tahunan Komisariat (RTK) sebagai forum musyawarah tinggi di tingkat universitas yang mengatur dan memutuskan adanya dinamisasi organisasi.

    Dan, Tepatnya pada tanggal 7 Robbi’ul Awwal 1421 H (Sabtu, 10 Juni 2000) di tabuhlah Gong secara resmi lahirnya Rayon PMII Galileo. Yang secara legalitas produk hukum organisasi tidak bertentangan.  Merdeeeeeeeeeekaaa…!!!

     Sedangkan labelisasi kata “Pencerahan” yang sarat bermuatan hikmah penyemangat, atau ciri khas ditengah nama Rayon PMII Galileo ini. Jika di singgungkan, ada kaitannya dengan istilah dalam filsafat barat abad delapan belas, yakni Aufklarung. Dimana pada periode ini manusia sedang dalam pencarian akan cahaya baru dalam aktifitas nalarnya. Jadi periode sebelum ini bisa di umpamakan dengan keadaan belum akil baligh. Dengan Immanuel Kant sebagai tokoh kunci.

 

Galileo dan Gereja

     Meski secara garis besar tulisan ini tidak secara detail dan mendalam menyinggung tentang persoalan agama dari latar belakang sang Filsuf Galileo Galilei. Namun ketika membaca “lembaran hitam” perjalanan hidup Seorang Galileo ini, terutama saat masa perjuanganya mengawal dasar pemikiran diertai pembuktian spekatakulernya tentang teori Heliosentris, yang dicetuskan awal oleh Copernicus. Galileo begitu deras mendapat tekanan bahkan ancaman dari pihak gereja roma (pusat agama katolik sedunia) di italia.

    Oleh para agamawan katolik, fatwa-fatwa Galileo yang berasal dari hasil pengamatan, penelitian, dan eksperimen nya di anggap paling bertentangan dengan Al-Kitab sebagai rujukan kitab suci tertinggi lembaga tersebut. Galileo telah menjadi ancaman serius Gereja dengan Al-Kitabnya. Bahkan, Galileo dituduh pula sebagai pelaku bidat(dalam islam dikenal dengan bid’ah) yakni suatu perilaku yang di anggap menyimpang dari tuntunan agama atau syariat.

   Bahkan tidak berhenti disitu, pihak agamawan gereja mencari seribu alasan untuk meredam dan menghukum Galileo, atau jika perlu seorang Galileo harus dilenyapkan. Yang pada akhirnya Galileo diadili pengadilan Gereja, di anggap sebagai penentang ajaran agama. Di paksa mengakui kesalahan dan menghabiskan seluruh sisa hidupnya, menjadi tahanan rumah (pengucilan), hingga akhir kehidupannya.

   Sebuah contoh awal konflik antara otoritas agama dengan kebebasan berpikir (terutama dalam sains) pada masyarakat barat, sebagaimana persinggungan antara Galileo dengan Gereja ini.
Bisa dikatakan kisah tentang eksekusi terhadap Galileo serat dengan kejanggalan, ketika mencoba menggulirkan satu pertanyaan sederhana: Apakah ada larangan di dalam al-kitab (katolik) untuk setiap jemaat nya dalam upaya melakukan eksperimen pemikiran-intelektual nya?  disini akan kita temukan pembuktian paska Galileo wafat, dan upaya-upaya kebohongan yang dimunculkan para agamawan gereja katolik roma kala itu. Dan bahwa, oase kerinduan para filosof dan khalayak terhadap sosok Galileo Galilei terus bergulir hingga detik ini.

     Jadi, Sebagai sosok yang dijadikan nama organisasi (Rayon) kita sampai hari ini. Filsof  yang bernama lengkap Galileo di Vincenzo Bonaiuti de’ Galilei, lahir di pisa wilayah toscana Italia tanggal 15 Februari 1564, dan meninggal 8 Januari 1642 (77 tahun). Sebuah peristiwa yang mungkin layak kedepannya kita peringati dengan memberikan do’a (hablum mina-nas) sebagai wujud penghormatan atas pemikiran-perjuangan mendiang Galileo.

Tantangan dan Harapan

    Dalam rytme sejarah nya, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon “Pencerahan” Galileo lahir sebagai suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman. Dengan tetap berpegang erat pada istilah dalam diktum (Qoidah Fiqhiyah) seperti “Al-muhafazatu ‘alal qadimi ash-shalih wal-ahdzu bil jadid al-ashlah” untuk sekedar dijadikan petunjuk dalam mendorong, mengawal, dan sekaligus mengevaluasi setiap gerak langkah pergerakan ini.
   

    Kun Ibna Zamaanika. Jadilah “Generasi Emas” Zamanmu, tidak perlu kiranya terlampau jauh menengok pada spion retak yang dilakukan periodeisasi sebelummu. Cukuplah berfikir serta ikhtiar dalam proses dinamisasi, hari ini dan esok nanti. Dengan model kanvas organisasi yang di landaskan pada karakteristik di setiap zamannya. Semoga manfaat…

Wallahu a’alam wa galileo bish shawab

Manifestasi Trilogi PMII Sebagai Pola Gerak Kader Pergerakan

Oleh: Mohammad Izzuddin

pmii-ASLI144x144Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia mempunya beberapa pedoman dalam kesehariannya sebagai Organisasi. Diantaranya produk yang sering dirujuk oleh kebanyakan kader PMII adalah Buku Konstitusi (AD/ART dan PO), Buku Kaderisasi, Manhajul Fikr, Nilai Dasar Pergerakan (NDP), dll. Bahkan di usia PMII yang saat ini menginjak 55 tahun, perkembangan produk-produk PMII pun bisa dikatakan sudah menjamah ke tiap-tiap basis Komisariat dan Rayon. Hal itu yang kemudian bisa menjadi representasi kemandirian Kader untuk terus menghasilkan karyanya sebagai konsumsi khalayak banyak.

Namun, ada beberapa hal yang saat ini perlu adanya kesepahaman dan rekontruksi ulang pola pikir serta pola gerak Kader PMII. Yakni, peninjauan kembali atau yang bisa disebut dengan menengok kembali produk terdahulu PMII. Dalam hal ini, saya mengambil contoh Trilogi PMII.

Di kedewasaan PMII saat ini, juga mempengaruhi kedewasaan pemikiran dan gerak Kadernya. Dalam arti, semakin menua PMII maka akan semakin banyak Kader yang tak ingat akan sejarah atau hal-hal terdahulu PMII. Adanya Trilogi PMII terinspirasi dari sifat-sifat PMII (keagamaan, kemahasiswaaan, kebangsaan, kemasyarakatan independen dan professional) dan memiliki tujuan terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya, serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Dengan isi daripada Trilogi PMII itu sendiri adalah Tri Khidmat, Tri Komitmen, Tri Motto yang dari masing-masing itu masih terbagi atas tiga inti daripada kesemuanya.

Tri Motto yang memiliki klasifikasi Dzikir, Fikir, Amal Sholeh adalah hal pertama yang harus ditancapkan betul-betul pada tiap Kader. Sebagaimana Dzikir memiliki esensi bahwa setiap insan harus dan selalu mengingat akan keberadaan Allah SWT sebagai Sang Khaliq. Fikir adalah sebuah istilah dimana setiap insan dikatakan ada apabila bisa dan mampu untuk berfikir sebagai esensi dari keberadaan manusia itu sendiri. Amal Sholeh merupakan titik dimana kebanyakan Kader mengasumsikannya sebagai sebuah hasil  maksimal dari tiap proses yang dilalui.

Tri Komitmen juga diklafisikasikan menjadi Kejujuran, Kebenaran, Keadilan yang ketiganya memiliki kesinambungan satu sama lain secara berurutan. Kejujuran disini merupakan suatu nilai mutlak yang harus dijadikan pedoman untuk tiap-tiap Kader dalam berkehidupan, yang kemudian akan tercapainya kepada suatu Kebenaran mutlak untuk menjadi pola pikir yang haru di implementasikan masing-masing Kader. Keadilan adalah suatu wujud akhir dari Tri Komitmen yang kemudian menjadi pemahaman bersama bahwa sebuah Keadilan harus benar-benar ditegakkan oleh tiap-tiap Kader PMII.

Tri Khidmat yang menjadi kesempurnaan Trilogi PMII ini juga diklasifikasikan menjadi Taqwa, Intelektual, Profesional adalah sebuah perwujudan dimana di Tri Khidmat ini tiap Kader PMII harus benar-benar paham siapa, apa, dan bagaimana diri mereka dengan melihat kondisi kekinian yang ada. Taqwa ini merupakan suatu hal yang sudah sangat jelas dipahami oleh tiap-tiap Kader PMII yang mana hal ini telah termaktub dalam tujuan PMII itu sendiri, untuk kemudian Kader memahami akan nilai kataqwaan pada masing-masing individu. Intelektual adalah sebuah istilah dimana keharusan akan kapasitas dan kompetensi intelektual Kader harus berdaya dan benar-benar difungsikan, baik sesuai disiplin ilmu yang dibidangi atau yang lainnya untuk kemudian dapat menjawab dinamika organisasi dan hal kemasyarakatan. Profesional juga suatu hal yang harus dipahami oleh tiap Kader PMII, dalam arti profesionalitas lah yang nantinya akan membangun konstruk sosial yang baik untuk lokus sektoral maupun global.

Dalam kesemua poin Trilogi PMII tersebut sudah sangat jelas bahwa, hal tersebut merupakan sesuatu yang fundamental bagi pola gerak dan pemikiran yang mana pada saat ini telah terindikasi adanya pereduksian pola pikir dan gerak Kader secara substansial maupun esensial.

SALAM PERGERAKAN !!!!!

 64bendera pmii

SIAC (Simple Action): Upaya Optimalisasi Potensi Diri Bersama PMII…

Oleh : Hidayatullah *)

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, Maka apabila engkau telah selesai dari sesuatu urusan, tetaplah bekerja keras (untuk urusan lain). dan hanya kepada tuhanmulah engkau berharap” (SQ. al-Insyirah: 6-8).

bisa
Sahabat BISA!

Percaya diri dan Optimis. Dua kata singkat ini yang mengantarkan penulis untuk menyampaikan gagasan sederhana dalam kajian analisa diri bersama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Pemahaman akan pentingnya mengetahui dan mengenal diri sendiri sudah pasti diketahui melalui berbagai media informasi baik yang bersifat formal maupun non formal. Penulis juga meyakini bahwa banyak sekali keragaman pengetahuan yang sudah mengisi setiap masing-masing personel sehingga tidak sedikit pula orang yang merumuskan sendiri bagaimana tatacara memahami diri sesuai kemampuan ilmu yang dimilikinya. Namun, tidak bisa dipungkiri masih terlalu banyak dari sebagian orang yang belum bisa memahami diri sendiri apalagi pengaktualisasian dirinya. Fenomena ini dapat kita analisis pada negara Indonesia yang besar ini, Pasalnya Indonesia seringkali mengalami krisis kepercayaan akan bangsanya, hal ini terbukti dari banyaknya torehan sejarah yang mengatakan bahwa Indonesia masih kurang percaya diri akan para kaum intelektualnya yang mampu bersaing bahkan mengungguli Negara lainnya. Seperti yang kita ketahui bersama, Sikap apatis pemerintah kepada Seorang Bj. Habibi yang sangat luar biasa dengan karyanya yang berupa kontruksi pesawat Terbang, Kemudian Ir. Surono Danu dengan Karyanya Bibit Unggul Lokal Sertani (Pernah di datangkan oleh PMII Rayon Pencerahan Galileo pada 31 Mei 2014), Sampai berita yang baru kemarin menggetarkan bangsa Indonesia ini adalah Ricy Elson: Sang putra petir Indonesia Pembuat Mobil Listrik serta masih banyak ilmuan lainnya yang tidak bisa disebutkan semuanya.

Bila kita cermati statement diatas, persoalan yang sangat fundamental adalah khazanah ketidakpercayaan para pemimpin kita pada kaum intelektual bangsa ini. hal ini menjadi salah satu bahan acuan kita untuk dapat mengalisis diri kita sebagai kader PMII yang berbasiskan eksakta, sehingga motivasi besar kita adalah kepercayaan pada diri kita saat ini dan organisasi yang kita cintai. Sangat tidak patut bilamana kita mengaku menjadi seorang kader dalam sebuah organisasi tapi tidak ada pembuktian konkrit yang berupa pengabadian padanya, dalam konteks ini sudah tentu banyak jalan yang akan kita jumpai, namun setiap jalan itu ada batas-batas tertentu yang perlu kita garis bawahi sebagai landasan berfikir dan bertindak. Batas yang dimaksudkan adalah kembali pada khittoh yaitu jalan lurus PMII itu sendiri. Selain hal tersebut, setidaknya kita sendiri meranjak untuk senantiasa mengawali indahnya pesona kebaikan kepada orang lain terlebih untuk diri kita sendiri. Maka, Jika kita ingin menjadi kader yang progresif tentunya harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.

Memahami Diri Bersama PMII

Who am I? Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban pasti, karena setiap kepala akan menjawab sesuai kapasitasnya masing-masing. Tetapi, Melirik tentang kajian konsep diri maka banyak pula beragamnya teori yang bermunculan, salah satunya seperti yang dituturkan oleh Hurlock dalam Avin Fadilla Helmi (2005) mengatakan bahwa konsep diri adalah gambaran seseorang mengenai diri sendiri yang merupakan gabungan dari keyakinan fisik, psikologis, social, emosional, aspiratif, dan prestasi yang mereka capai. Pencarian identitas diri itu menjadi sangat penting karena menjadi jalan yang perlu dilaluinya nanti. artinya kebutuhan dasar menjadi prasyarat untuk mendapatkan kebutuhan berikutnya.

Sejatinya bagian salah satu referensi yang paling berharga bagi kita semua untuk mengetahui kualitas diri bisa dilihat dari style hidup dalam memimpin baik itu memimpin diri sendiri maupun orang lain, Hal ini bisa menjadi indikator keberhasilan masing-masing individu dalam memeneg dirinya, sebab tidak sedikit orang yang mampu mengatur dirinya apalagi mengatur orang lain. Itulah sebabnya Rasulullah SAW mengingatkan kepada umatnya bahwa setiap kepala itu adalah pemimpin dan setiap pemimpin itu pasti akan dimintai pertanggung jawabannya.

Dari hadist diatas terdapat banyak ibroh yang bisa kita peroleh, pertama kita diwajibkan untuk mampu memahami diri agar nantinya bisa memimpin dan mengatur diri sendiri. kedua, kita dituntut untuk bisa menjadi pemimpin yang bijaksana dan menjadi contoh untuk yang lainnya. dan ketiga, kita diajarkan untuk senantiasa melakukan muhasabah diri baik untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan orang lain. Dalam al-qur’an surat Al Hasyr: 18 disebutkan bahwa: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah tiap-tiap diri memperhatikan apa yang dipersiapkan untuk esok (akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Kemudian suatu ketika kholifah Umar bin Khattab r.a berkata: Hisablah (hitung) dirimu sendiri sebelum kamu di hisab, timbanglah dirimu terlebih dahulu sebelum kamu ditimbang dan persiapkanlah untuk menghadapi alam terbuka yang besar (padang mahsyar). Secara garis besar dalam memahami diri sendiri bisa kita ukur dengan dua pusaka yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW yaitu berupa Al-qur’an dan Al-hadist, sehingga kita tidak akan pernah tersesat dalam perjalan kita.

Dasar-dasar yang disebutkan diatas merupakan pijakan murni yang harus dijadikan sebagai pedoman dalam setiap langkah dekil kita dalam mengontrol dan mengendalikan diri kita. Bagaimana sebenarnya cara kita memperoleh predikat manusia yang mengetaui dan memahami dirinya? Maka, penulis ingin memberikan gagasan dengan istilah SIAC (Simple Action). SIAC merupakan konsep prilaku sederhana disetiap kondisi yang dijalani dan mengoptimalkan peluang yang ada serta mengeksekusinya dengan baik dan sistematis. Gagasan ini didasarkan pada berbagai pengalaman, data dan referensi yang ditemukan oleh penulis sehingga gagasan ini pula tidak dipaksakan untuk diikuti dan tidak pula dilarang untuk diikuti.

SIAC bisa dikaitkan dengan diri kita melalui banyaknya kegagalan yang pernah kita alami, ukuran dan kualitas diri kita serta ilmu yang kita dapatkan baik itu ilmu tentang fisik, psikis, individu, social dan prestasi yang pernah kita capai. SIAC juga sangat berhubungan dengan kebiasaan yang kita lakukan, bila seseorang sudah merasa nyaman dengan kebiasaannya maka orang itu pula sangat sulit untuk melakukan suatu perubahan dalam dirinya. inilah seorang ulama’ dalam sebuah maqolahnya mengatakan bahwa Al Insanu Ibnul ‘Awa’idi yang artinya manusia adalah anak dari kebiasaanya.

Aksi sederhana yang dimaksudkan ini tentunya berkonotasi pada aspek kebaikan bukan pada keburukan, artinya kebaikan yang wajib kita terapkan itu tidak memerlukan konsep yang begitu muluk tapi tak berbukti melainkan aksi sederhana ini dilakoni berdasarkan kualitas diri kita. So, Berbuatlah kalian maka kalian akan mengetahui siapa diri kalian sebenarnya. Seorang guru besar bangsa pun pernah mengatakan bahwa ‘Yang terpenting dalam hidup ini adalah Perbuatan’.

Menuju Multipotensi Diri Bersama PMII Galileo

Mungkin kita akan bertanya-tanya sesama kader, Bagaimana ingin mengoptimalkan potensi diri kita potensi-diri-harus-tertingkatbilamana kita tidak mengetahui apa sebenarnya potensi kita apalagi multipotensi? Nah, Pertanyaan yang timbul tersebut merupakan salah satu respons aktif dalam menanggapi statemen yang dianggap tidak begitu masuk akal. Sebetulnya apa yang dimaksud dengan potensi? apakah sama antara potensi dengan profesi? keberhasilan mengenal potensi diri kita masing-masing dapat dilihat dari seberapa banyak pertanyaan yang muncul dalam diri kita sendiri. Apakah anda seorang penulis? apakah anda seorang reporter? apakah anda seorang orator? apakah anda seorang peneliti? dan lain sebagainya. Pertanyaan yang dimunculkan penulis dalam kalimat ini dapat disadari sebagai bagian cara untuk mengetahui perbedaan antara potensi dan profesi.

Potensi diri adalah kemampuan dan kekuatan diri seseorang baik secara fisik maupun psikis serta lebih dominan daripada yang lain kemudian berpotensi untuk ditumbuh kembangkan melalui berbagai cara dan sarana yang mencukupi. Potensi dapat dirasakan dari kemampuan dasar, etos kerja dan kepribadian. Sedangkan profesi adalah pekerjaan atau bidang ahli yang diperoleh dari kerja keras melalui penguasaan keilmuan khusus. Dari rangkuman pengertian ini dapat kita simpulkan bahwa potensi menjadi langkah pertama untuk menggapai suatu profesi. Namun tidak semua profesi yang akan kita peroleh nantinya tidak membutuhkan potensi yang kita miliki sesungguhnya. kenapa hal demikian bisa terjadi, maka akar problemnya karena kita sendiri belum bisa menguak potensi dominan yang kita miliki.

Selanjutnya bagaimana PMII Galileo tercinta ini mengantarkan kita untuk menguasai berbagai potensi yang kita miliki. Pertama yang harus dijadikan modal adalah kesadaran yang didasari oleh pengetahuan dan pengabdian. Saat ini yang perlu kita lakukan adalah menyadari diri kita yang sebenarnya. Sadar yang dimaksudkan harus dibarengi dengan perbuatan atau tindakan yang memiliki nilai positif dan berdaya guna untuk orang lain. Sejak awal kita mencatatkan nama dipangkuan bendera PMII Galileo ini tentunya pada saat itu pula harus ada rasa percaya dan komitmen untuk mengembangkan lembaga tercinta ini sehingga menjadi lembaga percontohan dikelasnya. Inilah yang disebut sebagai tanggung jawab berorganisasi, berorganisasi itu pula sudah membuka pintu-pintu potensi kita apalagi kita mampu berkontribusi besar untuk organisasi ini maka sudah pasti kita melakukan hal terpenting dalam hidup yaitu Ibadah, karena ber-PMII itu adalah bagian dari ibadah pada sang pencipta.

Kedua, pengoptimalan potensi menjadi multipotensi senantiasa dilakukan dengan kebiasaan yang baik, tata cara yang benar serta dilakukan secara perlahan dan penuh hati-hati. Yang terakhir, mulailah berbuat dan bertindak, aktualisasikan diri kita masing-masing pada porsi yang kita ketahui, berkumpulah dengan orang-orang mulya, orang yang kita anggap dapat mengasah dan mengasuh kita untuk mengembangkan potensi yang kita miliki agar nantinya dapat terkondisikan dengan baik pula. Bila kalian adalah seorang penulis maka tuliskanlah ide-ide cemerlang kalian. Bila kalian seorang peneliti, maka segeralah lakukan penelitian. Bila kalian seorang da’i maka jangan pernah berhenti untuk selalu berdakwah dan bila kalian ingin menjadi seorang pemimpin yang bijaksana baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain tanpa harus menggugurkan potensi yang kalian miliki, maka Berproseslah di PMII Galileo tercinta dengan baik dan benar.

DAFTAR RUJUKAN

AD/ART Hasil Kongres Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) XVII 2011. Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Alfas, Fauzan. (2004). PMII Dalam Simpul-Simpul Sejarah Perjuangan. Jakarta: PB PMII.

Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Alwisol. (2004). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press

Avin Fadilla Helmi. (2005). Studi Meta-Analisis Gaya Kelekatan dan Model Mental Diri. Tugas Metode Penelitian Kuantitatif: Meta-Analisis. Program Pra S3 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

Koirom. (2010). Penerapan fungsi Menejemen dalam pelatihan kader dasar (PKD) di Organisasi pergerakan mahasiswa islam Indonesia (PMII) cabang Yogyakarta tahun 2008-2009. Skripsi tidak diterbitkan. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Pelatihan Kader Dasar (PKD). (2014). PMII Rayon Pencerahan Galileo UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Modul Pelatihan Kader Dasar (PKD). (2014). PMII Rayon Pencerahan Galileo UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Muharram Ibnu. (2013). Pembentukan Kepribadian untuk aktualisasi (studi Tentang pelatihan kader dasar PMII rayon fakultas dakwah dan komunikasi UIN sunan kalijaga tahun 2012 sebagai bimbingan dan konseling kelompok). Skripsi tidak diterbitkan. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

*) Kader PMII Pencerahan Galileo, Kordinator Biro Pengembangan Wacana PMII Rayon Pencerahan Galileo 2013-2014

Undangan : PELATIHAN KADER DASAR (PKD) XV PMII RAYON…


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Turut mengundang Sahabat-Sahabati Keluarga Besar (Alumni, Pasca) Rayon PMII Pencerahan Galileo pada :

Hari , Tanggal     : Jum’at- Minggu, 24- 26 april 2015

Acara                     :PKD XV

Tempat                 : Gedung MWC NU Poncokusumo,Malang

 

Info selengkapnya hubungi:

CP : 085745500467 (Ketua Pelaksana PKD XV)

 

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thoriq

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

 

ttd

KELUARGA BESAR

PMII PENCERAHAN GALILEO

Dana Abadi Rayon Galileo

Donasi dana abadi Rayon Galileo PMII digunakan untuk pembuatan Markas Besar Rayon Galileo. Dana ini dikumpulkan kepada ketua Alumni Galileo PMII sahabati Wiwin Maisyaroh. Dana ini bisa diberikan langsung kepada sahabati Wiwin Maisyaroh atau bisa di kirim melalui Nomer Rekening BRI 1771-01-000239-53-0 (atas nama Wiwin Maisyaroh),

Sedangkan bagi alumni yang ingin mensuport kegiatan Rayon Galileo bisa dikirimkan langsung kepada ketua Rayon Galileo atau bisa dikirim melalui rekening 7549-01-000686-532 Atas nama TRI ANGGA DENI ISTIANTO (Ketua Rayon). Tri Angga Deni Istianto, Ketua Rayon PMII Pencerahan Galileo, Masa Khidmat 2014-2015.