Hari Pahlawan

Dunia Rasa Maya

Nadi kaki kiri berdiri
Lima meter ranah merah darah

Delapan santapan senapan

Kau korban kedalaman kesatuan 

Kau korban kedalaman kekuatan

Kau korban kedalaman pertahanan

Tahan abdi kapanpun dinanti

Tahan gigi kapanpun jerit hati

Tahan kasih kapanpun menitih

Engkau belum disini…

Dor…dor dor dor dor…

Masamu tak lagi ini, bukan tidak seperti ini

Masamu lebih dari ini, tidak harus seperti ini

Pertahanan tak sekedar dunia, nyata bersama maya

Kekuatanmu tak sekedar dunia, merona bersama maya

Dunia maya tak sekedar dunia, dunia maya bukan sandaran pahlawan

Dunia maya tak sekedar batas pena, dunia maya bukan sekedar gerakan

Gerakan menawan  meski tanganmu dan  batuanmu dihantam

Gerkan ketahanan meski hatimu dan kakimu berlawanan
Oleh : Sahabat Devi Kartika R

Kota tak dingin lagi, 08 Nopember 2017

Artikel

INTERPRETASI PAHLAWAN DALAM ORIENTASI PMII MASA KINI

PMII Galileo –  Setiap tanggal 10 November, Bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, sebagai momen reflektif untuk memberi makna atas pengorbanan para pahlawan bangsa, dengan menyalakan jiwa kepahlawanan dalam perjuangan mengisi kemerdekaan.
Peringatan tersebut didasarkan pada peristiwa “Pertempuran 10 November 1945” di Surabaya, sebagai pertempuran pertama dan terbesar antara pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus L945, dengan memakan korban jiwa yang sangat besar.

Sudah 71 tahun dari sejarah pertempuran mempertahankan kemerdekaan di Surabaya. 10 november 1945  merupakan sejarah hari pahlawan yang tidak boleh hilang dari ingatan kita sebagai penerus-penerus perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus1945 yang lampau.

Satu fakta sejarah dalam momentum ini adalah peran para ulama dan kiai NU dalam proses peristiwa 10 November 1945 dengan Resolusi Jihadnya dan hendak diabadikan agar tidak dilupakan begitu saja oleh generasi ke depan. Resolusi Jihad Fii Sabilillah PBNU di Surabaya mempunyai peranan penting untuk membakar semangat arek-arek suroboyo dalam pertempuran 10 November 1945, tidak peduli warga NU ataupun masyarakat islam yang lainnya. Sementara itu, warga NU, khususnya pemuda dan santri pondok telah bergabung dengan tentara Hizbullah untuk dilatih sebagai pasukan perang.

”Dan perjuangan kemerdekaan bangsa ini, telah sampailah pada saat yang membahagiakan. Dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat serta adil dan makmur”.

Bunyi pembukaan Undang-undang Dasar 1945 itu mengingatkan kepada kita semua, bahwa perjuangan kemerdekaan adalah sebuah pintu gerbang untuk memasuki sebuah negara yang merdeka, bersatu, berdaulat dan juga adil dan makmur.

Kemerdekaan telah diraih,kesatuan sebagai bangsa masih kita pegang, meskipun keteguhannya mulai terlihat mengendur dengan pandangan-pandangan kelompok yang sempit. apakah kedaulatan bangsa ini telah ditegakkan?! Dan tujuan kemerdekaan untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur ini telah tercapai 100 persen ?.

Saya rasa belum. Untuk itulah perjuangan dengan semangat serta keberanian yang sama dengan para pahlawan pendahulu menjadi penting sekali diterapkan sekarang ini.

Pengalaman merebut dan mempertahankan kemerdekaan juga menunjukkan betapa spirit perjuangan dan mental – karakter kepahlawanan memiliki daya hidup yang luar biasa dalam menghadapi berbagai rintangan dan penderitaan.

Pahlawan: orang yang dihormati karena keberanian (pribadi yang mulia dan sebagainya); pahlawan; atau orang yang dikagumi karena kecakapan, prestasi, atau karena sebagai idola. [Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)]

Lantas siapakah pahlawan itu? Apakah 70,000 orang yang gugur dalam pertempuran Surabaya antara tanggal 10 – 20 November 1945 ? Apakah mereka yang terbaring di Taman Makam Pahlawan ? Apakah mereka yang diresmikan menjadi pahlawan oleh pemerintah berdasarkan SK?. 

Memang ada kesan bahwa menjadi pahlawan itu harus resmi, karena kentalnya fungsi pemerintah dalam benak kita.  Karena itu tak terhindarkan bahwa sebagian besar pahlawan resmi adalah anggota TNI.  Padahal dalam pertempuran Surabaya yang ikut terlibat bukan saja BKR (Badan Keamanan Rakyat) tetapi juga pelajar SMP/SMA, guru, kyai dan santri mereka, pangreh praja, tukang becak, pokoknya hampir seluruh penduduk Surabaya dari seluruh etnis plus orang asing — rupanya mereka terbakar oleh semangat kemerdekaan yang diproklamasikan 3 bulan sebelumnya.

Pahlawan sejati tidak mempedulikan pengakuan apalagi imbalan uang. Syukurlah,setelah proklamasi banyak bermunculan pahlawan sejati,baik pahlawan resmi maupun tidak. Pahlawan besar atau pahlawan kecil. Banyak dari mereka berjuang dibidangnya dengan atau tanpa bantuan pemerintah. Pahlawan jenis ini besar jumlahnya. 

Mereka adalah pedagang kecil yang tanpa mereka ekonomi Indonesia koleps betulan ketika krisis moneter 1997 datang melanda. Mereka adalah dokter muda yang rela ditempatkan ditempat terpencil di luar Jawa. Mereka adalah TKI/TKW yang memecahkan masalah pengangguran dalam negeri yang terpaksa hidup irit di Virginia seperti si Minah agar dapat mengirim uang kepada keluarganya di Sragen. Mereka adalah pemuka agama yang berani menjalankan tugas menyebar kebaikan tanpa ikut arus menebar hasutan. Mereka adalah kecil/menengah yang tetap tangguh tidak berhenti berusaha dan menciptakan lebih banyak pengangguran sekalipun dihadang berbagai peraturan yang tidak masuk akal,tanpa mereka tidak mungkin negara ini mencapai pertumbuhan 5.8%.

Negara harus malu karena tidak mampu melindungi pahlawan biasa itu. Pedagang dan sopir truk dihadang oleh pamong praja, polisi dan jaksa dengan berbagai bentuk pungutan liar. Depnekertrans hendaknya mencontoh Filipina memperlakukan TKI/TKW sebagai “pahlawan deviza” dan tidak meperlakukan mereka sebagai sasaran pemerasan.
IMPOSISI NILAI DASAR PERGERAKAN DALAM AGENDA REVOLUSIOR PMII

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang kelahirannya diharapkan menjadi salahsatu komponen bangsa untuk melunasi cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia harus mulai membenahi agenda gerakannya, kalau tidak demikian lambat laun gerakan PMII akan menjadi basi dan tak ada fungsi sosial.

PMII haruslah mampu mereparasi teoritik terhadap basis ontologism dan epistemic DNP. Gerakan PMII bertolak dari Nilai Dasar Pergerakan. NDP merupakan ikhtiar PMII untuk mensublimasi nilai-nilai Keislaman bagi tujuan pergerakan. Di dalamnya terkandung muatan Tauhid, Hubungan Manusia dengan Allah, Manusia dengan Manusia, dan Manusia dengan Alam. Tauhid merupakan prinsip dasar dari gerakan PMII. Dengan Tauhid, yaitu keyakinan bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah, kader PMII menyerahkan ketundukkan, ketakutan dan pengharapan mutlaknya hanya kepada Allah. Sehingga kader PMII tidak pernah takut dengan kenyataan dunia, dan selalu siap menghadapi apapun kenyataan yang dihadapi. 

Tauhid, Hubungan Manusia dengan Allah, Manusia dengan Manusia, dan Manusia dengan Alam adalah bangunan dasar yang satu sama lain bersifat koinsidensi, Koopreasi, Resiprokal. Koinsidensi artinya antara satu sama lain satu kesatuan, kooperasi artinya satusama lainnya saling kerjasama, dan resiprokal artinya saling mengandaikan. Kita mencintai alam tapi lupa tidak mencintai manusia juga keliru, kita berhubungan dengan tuhan dan manusia maka juga dengan alam.

PMII harus menjembatani antara yang imanen dan transenden, di dalam yang ardhi ada yang ukhrawi dan  didalam yang ukhrawi ada yang ardhi. Kalau bahasa etis filosofisnya Emmanuel Levinas mengatakan: “Dari wajah yang lain dari gelandangan-gelandangan ada tuhan , dari wajah-wajah ibu yang ditindas tanah-tanah yang dirampas ada tuhan yang sedang menjerit memanggil-manggil kita untuk bertindak etis”.

Kader PMII harus menjaga kedaulatan bangsa, kedaulatan pangan, kedaulatan lingkungan, kedaulatan energy dan lain-lainnya. Dengan memberikan imajinasi baru terhadap agenda gerakan revolusioner di Indonesia. Akibat dari rezim deflopmentalis orde baru telah mensedimentasi gerakan pemuda/mahasiswa yang satu menjadi agenda politik pragmatis yakni para akademis tulen dan satunya agenda politik konservatif yang setiap hari sibuk berdebat tentang perbedaan cara pandang dan perbedaan ajaran, sehingga terjadi disparitas antara Mahasiswa dan kaum lumpenproletariat. 

Mahasiswa tidak punya persenyawaan dengan masyarakat, pun PMII hadir sebagai kelas tertentu yang seakan-akan mau menyelamatkan masyarakat. Ini yang agak bermasalah dalam agenda mahasiswa di Indonesia, oleh karena itu disparitas tersebut harus kita jembatani. Kebanyakan gerakan pemuda di Indonesia menjadi alat oligarki dan alat represi ekonomi dan politik. Maka, PMII harus mengimposisikan Nilai Dasar Pergerakan sebagai sebagai aksi nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Pada akhirnya, Peringatan Hari Pahlawan PMII harus mampu menggali apinya, bukan abunya.Dengan meminjam ungkapan Bung Karno, semangat kepahlawanan itu adalah semangat rela berjuang, berjuang mati-matian dengan penuh idealisme dengan mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

Setelah Indonesia merebut kemerdekaannya, Semangat Kepahlawanan tidak cukup hanya dengan mempertahankan patriotisme defensif, kita butuh patriotisme yang lebih positif dan progresif. Patriotisme sejati bukan sekedar mempertahankan melainkan juga memperbaiki keadaan negeri. Untuk keluar dari berbagai persoalan bangsa hari ini, patriotisme progresif dituntut menghadirkan kedaulatan multidimensional bangsa tanpa terperosok pada sikap anti-asing. 

Pada dasarnya manusia memiliki panggilan hati  kemana mereka dan memberikan kontribusi terbesar mereka di berbagai bidang yang berbeda. Setiap orang adalah bagian dari umat manusia, dan sejatinya adalah para pahlawan untuk memberikan kekuatan satu sama lain.

Menjadi pahlawan bermakna siap menyumbangkan waktu, tenaga maupun materi untuk berkontribusi. Tidak perlu besar, seorang orang tua yang memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya pun dapat dikatakan sebagai seorang pahlawan.

Pada akhirnya, apa yang dibutuhkan dunia saat ini bukan lagi sosok pahlawan seperti di dalam animasi dan film, namun sosok yang berkontribusi secara nyata yang dimulai dari diri sendiri.

Artikel

Rangers Galileo

PMII Galileo – Pengamatanku yang sudah berjalan hampir 15 tahun pada Power Rangers, meskipun tidak sistematis dan komprehensif, agaknya sedikit sudah cukup untuk membuat aku berani bercerita tentang kisah-kisah yang tergambar dari serial action untuk anak-anak yang jaya pada pertelevisian Indonesia di awal era 2000an ini.

Pengamatan yang saya maksud antara lain adalah pada latar cerita, plot sampai twice-twice menarik dalam setiap serialnya. Kalau soal siapa aktor, sutradara, produser sampai konspirasi dibelakangnya, aku tak dapat menceritakan. Dan untuk tulisan ini, yang ingin aku bicarakan adalah soal plot yang ada dalam setiap kisah power rangers. 

Dalam kisah power rangers, selalu diawali dengan memberikan gambaran pada manusia-manusia korban bullying, si lemah, proletar sosial atau mustadh’afin kalau kata anak-anak pergerakan. Si korban ini memiliki perbedaan dari manusia pada umumnya, yang sering tergambar adalah mereka yang lemah fisiknya, kutu buku dan orang-orang intovert yang tak punya kawan. -kalau ada yang gusar aku memilih redaksi kawan dan tidak sahabat, lebih baik MAPABA lagi,, heeee- .

Selanjutnya, sang mustadh’afin ini akan segera perang batin, hari-harinya akan semakin risau, mereka berfikir kenapa dirinya berbeda dan kenapa dibully oleh teman-temannya, sampai pada satu titik kulminasi dimana mereka akan menerima semacam wahyu dari langit yang memberitahu pada sukma mereka, bahwa mereka bukanlah orang biasa, lalu mereka mendapat bisikan langit, bahwa sejatinya mereka adalah seorang power ranger, selanjutnya mereka dibaiat, dan setelahnya secara siknifikan mereka menjadi orang-orang yang sangat pede pun juga memiliki kekuatan kanuragan yang maha hebat. Selanjutnya mereka akan segera bertugas menjadi power rangers dengan jobdis utama adalah menjaga keamanan dan perdamaian umat manusia dari serangan monster-monster jahat. Tak pernah diceitakan soal gaji sebagai power rangers dan kapan mereka anak mengambil cuti haid atau hamil, padahal saat rangers pink mau berserikat, harusnya mereka mendapatkan hak itu. 

Hari-hari power rangers diisi dengan kegiatan berupa bangun pagi, sarapan, tapi tak sampai habis sudah dipangil kantor karena ada mosnter mengacau, lalu mereka turba mencari lokasi monster, bertarung, awalnya mereka kalah, lalu menang, lalu moster menjadi besar, kemudian power rangers memangil robot besar, robot dan moster besar berperang, awalnya robot kalah, lalu dapat comeback diakhir-akhir laga seperti Manchaster United era Alex Fergie dan diakhiri dengan kemenangan manis robot power rangers.

Plot kisah ini akan diulang setiap hari dan yang berubah hanya jenis monster dan bagaimana ansos serta reksos yang dilakukan para power rengers dalam menghadapi musuh. Analisa mereka selalu benar, aku curiga power rangers adalah alumni PKD. Heee-

Sekarang mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, “siapa itu power rangers?” saya yakin sahabat-sahabat semua akan menjawab “pahlawan pembela kebenaran”. Kecuali yang sudah baca buku filsafat, dan pandai berretoris, pasti akan  memaparkan makna power rangers dari konsep ontologis, epistemologis sampai aksiologis, dan akan lebih panjang jawabannya dari keseluruhan tulisan ini. Heee-

Lalu, kalau power rangers adalah pahlawan, apa persamaan power rangers dengan Soekarno, Hatta, Bung Tomo dan pahlawan-pahlawan lain yang kita kenal dari buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL)?

Kira-kira persamaannya kurang lebih adalah berikut:

Mereka semua sama-sama siap mati untuk perdamaian

Baik power rangers dan pahlawan nasional sejatinya dalam setiap gerakannya penuh dengan ancaman kematian. Lihat saja betapa gagahnya power rangers adu tembak dan pedang laser, salah pukul atau telat menghindar, kematian sudah jadi konsekuensinya. Pun demikian dengan pahlawan nasional kita, perjuangan mereka tak jauh dari ujung bedil kompeni, seakan-akan kawan terdekat pahlawan nasional adalah kematian, kapanpun dia bisa ditikam kompeni kalau salah gerak.

Tidak memikirkan dirinya sendiri, yang mereka lakukan adalah untuk kepentingan mensejahterakan umat

Power rangers siap dipanggil padahal sedang enak-enak makan adalah bukti kongkrit betapa hidup mereka sejatinya sudah tidak untuk kepentingan mereka sendiri. Hidup mereka sudah dihibahkan pada umat yang mereka sayangi. Sama halnya dengan pahlawan nasional, yang ada di hidup para pahlawan bukan memikirkan dirinya sendiri, visi besar pahlawan adalah memerdekaan bumi Indonesia dan mensejahterakan umat.

Siap ditawan musuh dan diasingkan

Sering kita lihat dalam kisah power rangers, salah satu diantara mereka ditawan musuh dan diasingkan, mereka dibuang karena mengganggu jalannya misi menguasai dunia. Dan ini pun sudah menjadi hal yang lumrah diterima pahawan nasional kita, bisa dibaca berbagai risalah yang mengisahkan pahlawan-pahlawan kita, pasti ada kisah tentang mereka diasingkan.

Standby 24 jam dalam menjaga perdamaian

Power tangers dan pahlawan nasional kapanpun dan dimanapun mereka sedang berada, saat ada bahaya mengancam, mereka akan siap bertempur. Tak perduli panas,hujan, petir, badai sampai kenangan mantan. Mereka akan tersus terjang tiran penghalan untuk mengalahkan musuh.

Jumlahnya tak banyak, alias orang-orang pilihan dan menonjol dari yang lain

Dan ya, ini sudah tentu. Pejuang kemerdekaan memang banyak, tapi yang kita kenal hanya beberapa. Power rangers juga demikian, pasti hanya diisi 3, 5 atau 6 orang saja dalam setiap serialnya. Ini semua karena mereka menonjol dari yang lain.

Hee mas, kalo sarat-saratnya cumak gitu, anak pergerakan juga pahlawan dong? Lihat saja pola hidup anak pergeraakan. Merani mati? Tentu! Demo musuh pentung satpam sampek bedil polisi gak membuat mundur dari barisan. Tidak memikirkan diri sendiri? Jelas, wong yang diperjuangkan itu kesejahteraan mustadh’afin, gak pernah to dengan anak pergerakan demo untuk mintak uang bayar kontrakan rayon yang sering telat tiap tahun. Siap ditawan? Wahh,, ojok ditanyak mas, berapa jumlah anak pergerakan yang jadi tawanan kampus dan di blacklist karena perjuangannya? Jari kita sampek tak cukup menghitungnya. Standby 24 jam? Ehhee mas, kita pembacaan buat demo itu biasa lo sampek subuh dan pagi sudah siap demo. Kalo ada rapat-rapat dan kajian, kita juga selalu siap sedia kapanpun. Dan jumlahnya tak banyak? Wahh jelas mas. Rasio mahasiswa pegerakan dengan seluruh mahasiswa disuatu kampus bisa dihitung sendiri lah.

Dan tepat sekali, aku juga sepakat kalau menyebut mahasiswa pergerakan sudah punya bekal menjadi pahlawan. Dari seluruh anak pergerakan, hanya ada beberapa saja kan yang sangat dikenal publik. Seperti ratusan pahlawan kita, pikiran kita pasti tak jauh-jauh dari nama soekarno, hatta, yamin, bung tomo. Dan tentu, itu karena pahlawan-pahlawan yang lebih dikenal ini lebih menonjol, unik serta otentik.

Mari kita seret pengandaian ini pada Rayon ‘pencerahan’ Galieo. Siapa yang tidak kenal anak galileo yang ikut demo bela kendeng tolak semen melawan Ganjar Pranowo di Semarang?. Siapa yang tak kenal anak galileo yang menjadi pejuang literasi dengan membat komunitas literasi gubuk tulis?. Siapa yang tak kenal anak galileo yang menjual bubur untuk dana kuliah dan sekarang sudah hatam menjadi master kimia?. Siapa yang tidak kenal anak galileo yang menjadi aktivis media sosial dengan mengembangkan akun info positif berupa kutipan-kutipan tokoh publik?. Siapa yang tak kenal anak galileo yang menjadi inisiator Gerakan GUSDURian Muda Kota Malang dan sekarang sedang menjadi koordinator GUSDURian Probolinggo?. Siapa yang kan kenal anak galileo yang menjadi inisiator dibentuknya rayon galileo?

Sejatinya dalam memahami pahlawan dan kepahlawanan, tak perlu jauh-jauh, karena disektar kita ada pahlawan-pahlawan baru dibidangnya masing-masing. Yang perlu dilakukan bukanlah mengalahkan orang lain atau mengusahakan diri lebih baik dari orang lain agar kita terlihat lebih ngaktifis dan lebih pahlawan. 

Sahabat semua tek perlu menjadi aktivis yang lebih aktivis soal agraria agak bisa mengalahkan Encok, Ihya dan Izzudin. Sahabat semua tak perlu membuat gubuk tulis lain untuk mengalahkan Muiz. Sahabat semua tak perlu jualan bubur dan menjadi master kimia untuk mengalahkan Erwanto. Sahabat semua tak perlu membuat sabda perubahan baru untuk mengalahkan Yasin Arif. Sahabat semua tak perlu menginisiaasi GUSDURian lain untuk mengalahkan Anas Ahimsa dan sahabat semua tak perlu membuat rayon-rayon baru untuk mengalahkan Ahmad ‘Buset’ Busaidi. 

Yang perlu dilakukan adalah mengalahkan diri sendiri. Perjalanan lebih jauh dan lebih dalam untuk mengenal diri sendiri. Karena dengan bergabung di PMII, kita sudah punya bekal-bekal menjadi pahlawan (baca makna pahlawan di KBBI), tinggal mengalahkan musuh terbesar kita, diri sendiri!. 
Yogyakarta, 9 November 2017

Bakhru Thohir (Pernah MAPABA dan PKD di Rayon “pencerahan” Galileo ke-XII dan sampai sekarang belum hafal tujuan, tri hikmat, tri motto apalagi NDP PMII)

Hari Pahlawan

Apa Kabar Negeriku, Hari Ini?

Ada yang hilang dari negeriku
Perkara se-abad lalu

Ada yang hilang dari negeriku

Pasal suara di masa lalu

Yang bergejolak hanya cuap belaka 

Tanpa aksi dan gerakan nyata

Berderap namun tak melangkah

Bergerak namun tanpa arah

Yang terkenang hanya jasa

JASMERAH,

Sebatas akronim tak bernyawa

Tak ada lagi pemikir perkasa 

Pembawa pencerahan bagi bangsa

Ada yang hilang dari negeriku

Perkara se-abad lalu

Semangat juang yang membara

Meredup, tertiup angin senja

Apa kabar negeriku, hari ini?

Akankah yang hilang kan kembali?

Atau hanya menjadi imaji

Pelengkap dongeng tentang negeriku ini
Oleh : Sahabat Nuril Qomariyah

Hari Pahlawan

Jangan panggil aku pahlawan!! 

Darahku tumpah tanpa celah
Badanku remuk tak peduli bentuk

Hidupku hancur mengucur lebur

Kepingan ketiganya hilang ditelan tanah
Dahulu kala,  aku berjuang

Tinggalkan senyuman yang biasa mengembang

Lupakan keluarga,  lupakan sanak saudara

Hingga tak ingat apa itu hidup bahagia 
Dan kini,  kalian malah sibuk dengan benda kotak itu

Memerdekaan apa saja yang katanya harus merdeka

Dengan dua jari jempolmu yang terus saja berlomba 

Menjadi siapa yang paling banyak di suka
Aku sampai bingung apa mau kalian?

Yang terus saja bermanja dengan berita-berita bohong yang meraja lela

Yang terus saja tidur disamping kemalasan yang membahana

Yang terus saja bersujud kepada ia yang tak tau siapa namanya
Wahai anak muda!! 

Jangan kenang aku jika hanya untuk bernyanyi merdu

Jangan sebut namaku,  bila untuk disematkan digedung besarmu itu

Jangan fikirkan aku,  bila hanya kau kutip ucapanku

Dan jangan panggil aku lagi,  jika negaramu tak lagi merdeka!! 
Malam tak lagi dingin 

10 November 2017

Oleh : Sahabat WNA.red

Artikel

PAHLAWAN GENERASI MILLENIAL

Kemerdekaan bangsa Indonesia adalah sebuah contoh adanya pahlawan dalam perjalanan bangsa ini, tanpa mereka kita tidak akan pernah merasakan perkembangan zaman dan kemajuan dimasa ini, Maka kita sebagai anak bangsa tidak semudah itu melupakan jasa mereka semua. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa-jasa pahlawannya” Bung karno atau salah satu kata beliau adalah Jas merah.

Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara rakyat Indonesia dan pasukan Britania raya. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 november 1945 dikota Surabaya, Jawa Timur pertempuran ini adalah pertempuran pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol Nasional, perlawanan anak bangsa Indonesia melawan kolonialisme.

Fakta sejarah lampau yang pernah terjadi pada Indonesia ini mengalami kemunduran nilai semangatnya, dengan perkembangan zaman anak bangsa terlihat lemah dalam membaca sejarah kemerdekaan, perjuangan para pahlawa, para syuhada dan founding father kita itu seakan lenyap begitu saja. Abad -21 ini zaman sudah berisi para pemuda generasi millenial yang tentunya semangat masa lalu dari peperangan melawan kolonial belanda yang sangat menindas dan mengeksploitasi. tapi zaman peradaban ini sudah beralih baru yaitu zaman teknologi yang dimana secara global manusia kekinian mengalami perubahan secara signifikan salah satunya dalam media sosial.

Peran mahasiswa eksakta untuk merefleksikan hari pahlawan hari ini sangat strategis terutama dalam wilayah kesejahteraan masyarakat beserta pengembangan sumber daya manusia dan sumber daya alam. jika saya menarik sejarah pahlawan pada masa lalu kita bisa melihat bagaimana perjuangan para pahlawan melawan kolonialisme yang sangat brutal dalam menindas anak bangsa ini. tapi hari ini kita bisa menarik sebuah kontekstual dalam cara pandang berfikir kita. Bahwa masa kini dengan pandangan kritis kita bisa melihat bahwa kemerdekaan yang sesungguhnya masih belum terlaksankan dengan sepenuhnya.

kolonial berwajah baru ini menyerang para pemuda dengan menghancurkan karakter, kebodohan dan memihak kepentingan pribadi, jika dahulu senjata tapi dimasa pemuda generasi millenial ini kita diperlihatkan sesuatu kecanggihan teknologi yang salah satunya berupa media social, dari media sosial para pemuda diperlihakan sebuah realitas  yang membentuk karakter lemah, perkembangan teknologi memang menciptakan atmosfer distraksi sehingga membuat pemuda tidak focus, hanya suka senang-senang dan malas.

Teknologi menciptakan media digital yang akhirnya membuat kultur kelompok , karakter masyarakat Indonesia kini bergeser. Maka dari itu dari merefleksikan hari pahlawa , khususnya pemuda kini menjadi agen perubahan dimasanya kita ubah pola pikir kita yang semula menjadi konsumsi media sosial menjadi tempat membuat inovasi yang baru dalam menunjang perekonomian dan kesejahteraan bersama.

Dalam esai ini saya memberi tema dalam merefleksikan hari pahlawan yaitu pahlawan generasi millenial karena saya belajar membaca sebuah realitas baru dalam perjalalan waktu pada abad ini, sekiranya para pemuda menjadi terdepan dalam masalah pengembangan sosial masyarakat beserta kesejahterannya, bukan Cuma menjadi penonton serta mengikuti arus perkembangan zaman saja, proses inovasi haruslah membuahkan hasil dalam memenuhi jawaban tersebut.

 

Artikel

HARI PAHLAWAN MENURUT SANTRI ZAMAN NOW

Indonesia sekarang sudah berumur 72 tahun dari sejarah pertempuran mempertahankan kemerdekaan di Surabaya pada tanggal 10 november 1945, sejarah hari pahlawan yang tidak boleh hilang dari ingatan kita selaku penerus perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan proklamasi kemerdekaan 17  agustus 1945 lalu.

Yang melatarbelakangi peristiwa 10 november yang diperingati sebagai hari pahlawan ialah peristiwa pertempuran hebat yang terjadi di Wilayah Surabaya antara arek-arek Suroboyo dengan serdadu NICA yang diboncengi Belanda.

Untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, para kiai dari berbagai pesantren di jawa dan Madura mengadakan musyawarah pada 22 Oktober 1945 untuk menerapkan jargon dari KH. Hasyim Asyari yaitu “Hubbul wathan minal iman”, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Dari hasil musyawarah tersebut KH. Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa fardlu ain bagi umat Islam untuk memerangi orang kafir yang menghalangi kemerdekaan Indonesia.

Sejarah mencatat, pertempuran 10 November 1945 itu tidak akan pernah ada tanpa ada Fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945 yang sekarang diperingati sebagai hari santri nasional. Mendengar fatwa tersebut sontak membuat umat islam tidak terkecuali para santri yang juga mengangkat senjata untuk melawan para penjajah,

 

Penyebab Pertempuran 10 November 1945

 

Latar belakang terjadinya peperangan ini disebabkan adanya insiden hotel Yamato surabaya. Dimana ketika itu orang-orang belanda di bawah pimpinan Mr. Ploegman mengibarkan bendera Merah Putih Biru yaitu bendera Belanda di atas hotel Yamato di Surabaya. Perihal ini pastinya membikin kemarahan di hati masyarakat Surabaya tatkala tersebut. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya aksi perobekan warna biru pada bendera Belanda dan menyisahkan warna merah dan putih yang melambangkan bendera Indonesia.

Mennurut khairul Anam dalam tulisannya yang berjudul Berebut Jihad (2013) salah satu orang yang merobek warna biru dari bendera Belanda tersebut adalah salah satu anggota GP Ansor yaitu Cak Asy’ari

 

Kematian Jenderal Mallaby

 

Sesudah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan juga pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Bulan oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan juga tentara Inggris di Surabaya.

Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada tanggal 30 oktober 1945.

Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol satu orang pemuda Indonesia yang hingga kini tidak diketahui identitasnya, sedangkan menurut Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam kunjungan dalam acara ziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan makam KH Hasyim Asy’ari di pondok pesantren Tebuireng Jombang, beliau mengakatan bahwa “yang membunuh Jenderal Mallaby bukan TNI. Yang membunuh (Mallaby) itu santri. Yang menurunkan bendera (Belanda) di Hotel Orange juga santri, bukan TNI”.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Aqil Siroj, Pertempuran 10 November 1945 yang akhirnya diperingati sebagai Hari Pahlawan itu merupakan perlawanan tanpa komando.

“Komandonya adalah fatwa Jihad fi-Sabilillah, tapi di lapangan dipimpin secara teknis oleh KH Wahab Chasbullah sebagai pelaksana yang bermarkas di Waru (Sidoarjo) dengan dukungan KH Masykur (Laskar Sabilillah) dari Malang dan KH Abbas (Laskar Hizbullah) dari Cirebon”. Yang hasilnya, rakyat menang, bahkan pimpinan tentara Sekutu Brigjen Mallaby pun tewas.

 

 

 

Makna Hari Pahlawan

 

Adapun makna untuk Hari Pahlawan adalah, semangat kebangsaan dan nonsektarianisme harus didorong lebih kuat untuk melampaui gejala primordialisme yang bisa kapan saja mengancam bangunan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan Indonesia. Setidaknya, sejarah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 itu mengajarkan NKRI yang bukan negara kapitalis, bukan negara komunis, dan bukan negara sosialis, melainkan negara yang melindungi agama, suku, dan golongan melalui Pancasila dan UUD 1945.

Hari Pahlawan

Pahlawan (Puisi Normatif)

Maafkan kami ibu pertiwi

Maafkan jika kau tak lagi berseri

Karena hari ini kami masih disini

Tak kunjung beranjak menggapai mimpi

Dulu kau tersakiti dan terdholimi

Oleh penjajah yang menduduki

Meronta-ronta bersimbah darah

Tetes air mata yang teramat perih

Kau lahirkan generasi gagah berani

Dengan semangat juang berapi-api

Untuk menumpas, mengusir penjajahan

Menggapai Makmur dengan kemerdekaan

Mereka lahir dengan tangisan

Mereka berjuang dengan rintihan

Jiwa dan raga mereka kobarkan

Maka mati dengan senyuman

Generasi kami menyebutnya pahlawan

Karena jasa yang tak ternilai harganya

Untaian doa yang kami haturkan

Tak mampu membalas semua jasanya

 

Kami sadar kami generasi yang kuat

Karena terlahir dari moyang yang hebat

Walaupun ibu pertiwi sudah terlepas jerat

Namun, langkahnya masih tersendat-sendat

Kami lalai dan kami angkuh

Seringkali terlena dengan budaya baru

Sampai kami tak lagi mengenal siapa kamu

Karena, sejarah pun banyak yang acuh

Sudah saatnya generasi muda untuk berkarya

Memperkuat bangsa mencapai cita-cita

Bukan sekedar mengikuti globalisasi yang melanda

Mari kita bangkit menjadi pelopor dunia

Terlalu naif kita bersuara

Suara lantang yang tak ada guna

Karena semua sudah tak nyata

Gerakan normatif hastag belaka

Izinkan kami berbenah diri

Menapaki dunia percaya diri

Bukannya murka untuk menguasai bumi

Tapi kami mampu dengan kaki sendiri

Bangkitlah sahabat

Rangkul semua golongan

Menuju Indonesia hebat

Lanjutkan perjuangan para pahlawan

 

Oleh : Sahabat Masyhadil aini

Artikel

Pahlawan Bukan Sekedar Dikenang

PMII Galileo –  “Betapa hatiku takkan pilu telah gugur pahlawanku. Betapa hatiku takkan sedih hamba ditinggal sendiri. Siapakah kini pelipur lara nan setia dan perwira. Siapakah kini pahlawan hati pembela bangsa sejati . . . .

(Ismail Marzuki-Gugur Bunga)”

Sosok yang tangguh, tak gentar membela rakyat Indonesia dan rela bercucuran darah tuk memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Mungkin itulah opini tentang hari pahlawan yang selama ini tertanam dalam benak kita semua. Perjuangan para pahlwan yang gugur saat berperang melawan sang penjajah belanda membuat namanya harum di dalam kenangan masyarakat Indonesisia, sehingga disepakatilah tanggal 10 November sebagai hari pahlawan.

Siapa bangsa yang tak bangga didalam negaranya terdapat sosok pahlawan yang luar biasa, hingga rela mati-matian dalam berjuang membela tanah air hanya untuk masa depan Negara yang penuh dengan cahaya kemerdekaan?. Saya rasa tidak ada, karena dengan adanya pahlawanlah bangsa dalam suatu Negara dapat merasakan kenyamanan kemerdekaan tanpa adanya penindasan.

Lalu, apakah hanya seseorang yang mau bercucuran darah di medan perang yang pantas kita sebut pahlawan ?

Tentu saja tidak bukan?. Seorang Kiyai/Ustadz/Guru/Dosen, mereka juga pantas dikatakan sebagai sosok pahlawan pendidikan. Saat kita sakit ada Dokter  yang menjadi pahlawan dalam bidang kesehatan. Yang harus kita ingat adalah seorang pahlawan tidak harus bersenjatakan perang, dan tidak harus bercucuran darah. Siapapun dapat disebut pahlawan jika ia merupakan sosok pemberani yang rela mengorbankan sesuatu bukan sekedar untuk diri sendiri, tetapi untuk keluarga, masyarakat atau negeri.

Sepintas kita pasti akan berfikir, pantaskan sosok mahasiswa kaum pergerakan hanya sekedar mengenang pahlawan pejuang kemerdekaan tanpa ada rasa ingin meneruskan perjuangan mereka yang telah mati-matian membela Negara sehingga kita merasakan kenyamanan seperti saat ini?. Kita semua pasti sepakat akan mengatakan “tentu saja tidak”.

Mari kita berfikir kembali!. Semua orang memang tidak akan pernah merasa mau saat dikatakan demikian, pasti jawabannya tidak, itu merupakan hal yang lumrah dalam diri manusia. Namun, kita sebagai mahasiswa kaum pergerakan sangatlah tidak pantas mengatakan tidak tanpa adanya bukti nyata.

Berfikirlah!. Masih pantaskah kaum muda, mahasiswa, kaum pergerakan, masih santai duduk manis di bangku kuliah dengan bangganya mengatakan dirinya sebagai anti aktivis. Berfikirlah, keegoisan apalagi yang akan engkau berikan?. Berfikirlah, setega itukah engkau merasakan nikmatnya kemerdekaan hanya untuk kepuasan pribadi, yang tantinya tak kau pergunakan untuk masyarakat dan bangsa, sementara pahlawan yang engkau kenang setiap tahunnya merelakan darahnya berceceran di jalan, menjadikan tubuhnya sebagai sarang timah tumpul?. Sekejam itukah kaum muda, yang menamakan dirinya sebagai mahasiswa, sebagai kaum pergerakan.

Berfikirlah!, kita ada bukan untuk diri kita sendiri. Berdzikirlah!, pasrahkan kepada-Nya apa yang engkau fikirkan sejenak. Beramal Sholeh-lah!, sebagai tindakan nyata, kita kaum pergerakan adalah kader penerus bangsa. Karena kita telah sadar, tangan bangsa dimasa depan ada di tangan kita, kaum pergerakan, kita pahlawan sejati Negara. Memang tanpa senjata, memang tanpa cucuran darah, tapi dengan dzikir, fikir, dan amal sholeh kita meneruskan perjuangan.

 

Hidup Kaum Pegerakan !!!!

Hidup PMII !!!!

 

Oleh : Muhammad Fathoni