Mbah Wahab, Perintis Tradisi Jurnalistik di NU

indexSebelum generasi KH Saifuddin Zuhri, Asa Bafaqih hingga Mahbub Djunaidi, tradisi jurnalistik di lingkup Nahdlatul Ulama telah dirintis KH Wahab Hasbullah sejak awal berdirinya organisasi ini di tahun 1930-an.

Melalui media bernama Swara Nahdlatoel Oelama, KH Wahab Hasbullah atau biasa dipanggil Mbah Wahab bersama tokoh lain seperti KH Mahfudz Siddiq dan Abdullah Ubaid ikut mengelola majalah yang diterbitkan tiap tengah bulan ini

Kala itu Mbah Wahab bahkan memimpin perjalanan majalah ini selama tujuh tahun, sebelum akhirnya berganti nama menjadi Berita Nahdlatoel Oelama pada tahun 1934.

KH Abdul Aziz Masyhuri, Pengasuh pondok Pesantren Al-Aziziyyah. Desa Denanyar, Kabupaten Jombang dalam bukunya 99 Kiai Pondok Pesantren Nusantara (2006) menceritakan Mbah Wahab pernah membeli sebuah percetakan beserta gedung sebagai pusat aktivitas NU di Jalan Sasak 23 Surabaya. “Dari sini kemudian dia merintis tradisi jurnalistik modern dalam NU,” terangnya.

Kiai Aziz menambahkan hal tersebut dilakukan Mbah Wahab, dilandaskan pada sebuah pemikiran sederhana. “Yaitu bagaimana menyebarkan gagasan NU secara lebih efektif dan efisien yang selama ini dijalankan melalui dakwah panggung dan pengajaran di pesantren,” tuturnya.

Dari rintisan tradisi jurnalistik inilah, NU kemudian melahirkan beberapa generasi yang telah disebutkan di depan, serta memiliki berbagai media yang masih bertahan hingga sekarang, antara lainDuta Masyarakat, Risalah, dan bahkan merambah ke era digital NU Online.
(dilansir NU Online)

PMII AJARKAN PERSAHABATAN DAN KEKELUARGAAN, GUNA MEMBERANTAS GENERASI PENERUS…

IMG_2694(1)1Untitled-1
Oleh : M. Azwar Afandi

Salam pergerakan !!!  Siapa yang tidak tahu  PMII (Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia)?  Ya, popularitas PMII memang sudah tidak boleh di remehkan selaku organisasi pergerakan yang selalu mengajak kader-kadernya untuk terus bergerak melakukan perubahan yang lebih baik bagi bangsa dan negara, yang tentunya bergerak dengan menggunakan akal fikirnya untuk memberikan inovasi-inovasi dalam memperkaya ilmu pengetahuan berdasarkan kebutuhan.

Penjelasan diatas merupakan deskripsi yang sudah jelas dalam menggambarkan wajah PMII dimata dunia, namun apabila kita benar-benar menelusurinya, ternyata PMII bukan hanya sekedar organisasi pergerakan saja , dalam acara MAKRAB pada tanggal 9 Mei 2015 yang di selanggarakan oleh sahabat/i  kader PMII 2013 Heksa Rayon Komisariat Sunan Ampel  Malang yang mana salah satu sahabat, sebut saja namanya sahabat kentir  mempunyai statement  yang unik dan bermakna “PMII BUKAN SEKEDAR ORGANISASI PERGERAKAN , AKAN TETAPI JUGA ORGANISASI KEKELUARGAAN” Ini Merupakan sebuah statement  yang Menjelaskan Bahwasanya PMII adalah tempat dimana kita menemukan suatu persahabatan yang sangat erat hingga seperti keluarga sendiri .

Bukan hanya agenda makrab saja, dalam serangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh rayon seperti : KAR (KEMAH ANGGOTA RAYON) dan  KKR (KEMAH KADER RAYON) , merupakan sebuah acara dimana seluruh kader-kader pmii melakukan kegiatan yang disebut refleksi/relaksasi bertujuan untuk merefreshkan lahiriyah bathiniyah serta mengakrabkan diri dengan alam (Hablum Minal Alam) dan sekaligus pengakraban seluruh kader-kader PMII, kegiatan tersebut berlangsung dipantai selama 2-3 hari. Dalam larutnya malam dan heningnya malam dengan ditemani api unggun dan  singkong bakar juga cerita sensasional dari sahabat/i yang begitu asyik untuk diperdengar.  Kader-kader PMII saling mengakrabkan Diri dan secara langsung membentuk kekeluargaan yang erat antara satu dengan yang lainnya.
Sebenaranya,  kegiatan-kegiatan seperti  MAKRAB,KAR/KKR DLL , Merupakan suatu kegiatan yang di harapakan adanya perubahan yang  di mulai dari Kader-kader PMII  untuk menjadi contoh di masyarakat  kelak, Dengan menciptakan hubungan sosial yang baik dan humanis di lingkup masyarakat  yang semakin hari semakin berkurang dalam konteks sosialisme.

Multi Level Strategi Gerakan PMII

Untitled-1Sebagai organ pengkaderan, kita terus berupaya mencari konsep pengkaderan terbaik di PMII, baik dalam prespektif lokal (locus at campus) maupun cabang hingga nasional. Untuk itu kita butuh membaca berbagai kondisi objektif saat ini, melakukan otokritik dan adaptasi. Untuk menata ruang konsep kaderisasi tersebut, sebetulnya kita butuh dealektika panjang proses kesejarahan dan perumusan cita dan penyamaan visi. Untuk menguatkan pentingnya menata ruang konsep kaderisasi yang dapat dipahami bersama itu saya mengutip apa yang pernah disampaikan K.H. Hasyim Asy’ari* :
“Siapa yang melihat pada cermin sejarah, membuka lembaran yang tidak sedikit dari ikhwal bangsa-bangsa dan pasang surut zaman, serta apa saja yang terjadi pada mereka hingga pada saat kepunahannya, akan mengetahui bahwa kekayaan yang pernah mereka sandang dan kemuliaan yang pernah menjadi hiasan mereka, tidak lain adalah berkat apa yang secara kukuh mereka pegang, yaitu mereka bersatu dalam cita-cita, seia sekata, searah setujuan, dan pikiran-pikiran mereka seiring”

Dalam buku Multi Level Strategi Gerakan PMII menyebutkan ada lima argument mengapa harus ada pengkaderan. Pertama sebagai pewarisan nilai-nilai (argumentasi idealis), kedua pemberdayaan anggota (argumentasi strategis), ketiga memperbanyak anggota (argumnetasi praktis), keempat persaingan antar kelompok (argumentasi pragmatis) dan yang kelima sebagai mandate organisasi (argumnetasi administrative)**.
Secara filosofis, pengkaderan PMII hendak mencipta manusia merdeka (independent)***. Sementara proses pengkaderan itu menuju pada satu titik, yakni mencipta manusia Ulul Albab. Pengertian sederhananya adalah manusia yang peka terhadap kenyataan, mengambil pelajaran dari pengalaman sejarah, giat membaca tanda-tanda alam yang kesemuanya dilakukan dalam rangka berdzikir kepada Allah SWT, berfikir dari berbagai peristiwa alam, sejarah masyarakat, serta firman-firman-Nya. Pengertian Ulul Albab ini disarikan dalam motto dizkir, fikr, amal sholeh****.
Sejak PMII didirikan pada tahun 1960, proses kaderisasi selalu sejalan dengan dinamika kemahasiswaan yang telah mengalami banyak perubahan. Era pra-1998 (baca: pra reformasi) misalnya mensyaratkan gerakan dalam strategi gerakan eksparlementer. Setelah itu, muncul banyak gagasan, pro dan kontra, masihkah kita tetap menggunakan strategi pada gerakan jalanan, atau kembali ke kampus.Strategi praksiologis pengkaderan dengan optimalisasi gerakan eksparlementer mensuguhkan progresifitas, militansi dan radikalisasi massa yang tinggi. Strategi ini melahirkan kader-kader yang tangguh dalam mental dan kemampuan melakukan mobilisasi massa, mendengungkan propaganda perlawanan dan membangkitkan semangat aksi turun jalan. Tirani kekuasaan sangat absolut, mencengkram semua sektor kehidupan. Satu-satunya jalan: turun jalan!
Sebaliknya, gerakan kembali ke kampus menyuguhkan strategi kaderisasi yang berbeda. Penguasaan materi fakultatif dengan disiplin ilmu sesuai dengan jurusannya menuntut kedisiplinan yang tidak kalah sulit. Apalagi proses sehari-hari mahasiswa akademis fakultatif rawan menyuguhkan dramatologi kontradiktif: terlalu asyik mengejar nilai akademis dan melupakan tanggungjawabnya sebagai agent of change dan agent of control. Tanpa disadari aktifitas akademis tersebut membuat kita lupa diri bahwa keilmuan kita sangat ditunggu rakyat keseluruhan dalam mewujudkan tatanan kehidupan berkeadilan sosial dan kesejahteraan rakyat yang merata.
Tidak mudah memang menempa diri dalam kualitas akademis dengan menjaga semangat progressifitas terhadap kehidupan organisasi. Tuntutan demikian mengacu pada dinamika kehidupan nasional kita disuguhkan pada usaha percepatan kemajuan semua sektor, bukan hanya politik (baca: demokrasi). Jika PMII hanya berkutat pada kaderisasi aktor politik, lantas dimana tanggungjawab pengembangan IPTEK, Kedokteran, Perencanaan Pembangunan dan berbagai kajian keilmuan pada proses pengabdian dan percepatan kesejahteraan sosial rakyat yang merata?
PMII mempunyai tanggungjawab yang belum terjawab terkait kaderisasi dalam ranah profesionalitas ini. Strategi kaderisasi yang masih tunggal dan general pada politik kampus menjadi oto kritik kita. PMII masih terasa sulit beraktualisasi diri dalam organ-organ profesional seperti kelompok akuntan, para tehnokrat, enterpreneur, para tenaga sosial medis, dan lain sebagainya. Karena itu semestinya memang semua aplikasi keilmuan akademis kita diarahkan pada pemenuhan tanggunjawab sosial. Kader PMII tida hanya disiapkan sebagai calon pemimpin dalam ranah politik dan kekuasaan, tetapi juga mampu mengaktualkan manfaat sebesar-besarnya atas keilmuan akademisnya pada kepentingan rakyat. Sejauh ini kajian tentang tanggungjawab mahasiswa pertanian, mahasiswa psikologi atau mahasiswa teknik dan sains (misalnya) pada proses kesejahteraan rakyat masih jarang dibahas.referensi:
http://kompmiistainta.blogspot.com/2013/05/multi-level-strategi-gerakan-pmii.html

DARI PREMIUM MENUJU PERTALITE : Polemik Bilangan Oktan dan…

Oleh : Fawwaz M. Fauzi*)

2196863
Sumber : inilah.com

Waktu liburan dalam rangka memperingati may day dan HARDIKNAS penulis gunakan untuk sekedar refreshing otak dari refreshing lain (ngurusi kuliah, rayon, dan laporan praktikum). Penulis memacu sepeda MX menuju Unyil untuk sedikit merasakan pahitnya kopi. Di lokasi, penulis mencoba membuka buku “MENGGUGAT PENDIDIKAN INDONESIA” karya sahabat Moh Yamin yang tadi sore penulis pinjam. Tak sampai penulis membaca hingga 10 halaman, sahabat encok datang ke Unyil Coffee dengan jaket lusuh dipundaknya. “Selesai cari baju buat PDH”, ujarnya memberi keterangan. Karena kedatangan seorang sahabat, mood saya untuk meneruskan bacaan sedikit terkalahkan. Kopi yang sudah mendingin saya seruput sembari membuka laptop kesayangan, connect wi-fi, facebook.com pertama terbuka dalam browser penulis. Beginilah memang suasana ngopi ditempat ber-wifi, bukan malah ngobrol pintar, malah ngonline pintar. Yah, selagi bermanfaat, it’s OK.

Dari tautan facebook, saya melihat ada sebuah wacana besar yang mungkin penulis sangat telat ndelok, yaitu wacana penggantian Bensin RON 88 ke Pertalite yang mempunyai kisaran nilai Oktan 90-91. Berita tersebut menyebutkan bahwa pertalite akan lauching pada bulan ini (Mei 2015). Hal tersebut membuat penulis penasaran untuk terus menggali informasi mengenai topik terkait yang kemudian penulis menemukan banyak tanggapan baik positif maupun negatif dari berbagai pihak dan menuai semacam kontroversi di beberapa kalangan.

Apa sih pertalite? Apa itu RON 88, RON 91, RON 92 dan beberapa istilah yang terkadang membingungkan sahabat-sahabat pembaca dalam memahami isu BBM? Penulis kira, istilah-istilah ini perlu difahami agar kita sebagai mahasiswa tidak terjebak dalam framing media maupun isu-isu yang diputar balik oleh para oknum media dan pemiliknya yang tidak bertanggungjawab karena ketidaktahuan kita akan hal tersebut. Karena penulis setidaknya menemukan beberapa kejanggalan pada beberapa kebijakan yang berkaitan dengan bahan bakar minyak alias BBM.

 

BILANGAN OKTAN

Bilangan Oktan merupakan pernyataan berupa persentase volume iso-oktana dalam suatu fraksi bensin hasil proses destilasi fraksional minyak bumi (destilasi = salah satu metode pemisahan kimia berdasarkan perbedaan titik didih). Biasanya, bilangan oktan dari bensin hasil destilasi adalah ~70. Sebelumnya, mungkin harus difahami terlebih dahulu terkait iso-oktana dan n-heptana yang merupakan komponen utama dalam fraksi bensin.

Iso-oktana (2,2,4-trimetilpentana) merupakan senyawa hidrokarbon dengan rantai bercabang. Singkatnya, Iso-oktana apabila diberi tekanan tinggi dalam suatu kompleks mesin motor tidak akan terbakar dengan cepat dan akan terbakar menghasilkan energy ketika mendapatkan percikan api dari busi. Sedangkan n-heptana merupakan senyawa hidrokarbon tak bercabang (lurus) dan apabila diberi tekanan tinggi akan terbakar lebih cepat sebelum terbakar oleh percikan dari busi (Pembakaran Spontan). Pembakaran spontan tersebut akan menimbulkan knocking (ketukan) dalam mesin dan meninggalkan sisa pembakaran tidak sempurna dan kerak dalam mesin sehingga mesin akan cepat rusak atau overhaul.

Untuk menentukan bilangan oktan dari suatu fraksi bensin, dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

Mis, suatu fraksi bensin mengandung 10% n-heptana dan 90% iso-oktana, maka bilangan oktannya adalah :

= (10/100) x 0 + (90/100) x 100

Dengan :

Nilai 0 ditetapkan untuk n-heptana, sedangkan 100 untuk iso-oktana

Dari perhitungan tersebut, dihasilkan bahwa fraksi bensin yang mengandung 10% n-heptan dan 90% iso-oktan mempunyai nilai oktan 90%.

Sedikit tambahan referensi terkait nilai oktan, bahwa nilai oktan dapat ditingkatkan dengan beberapa cara, yaitu (SitusKimiaIndonesia, 2009) :

  • Isomerisasi (Reforming) dengan penambahan katalis. Dari rantai lurus hidrokarbon diubah menjadi rantai bercabang. Contoh :
oktane
  • Menambahkan hidrokarbonalisiklik/aromatic kedalam fraksi bensin
  • Menambah Zat Aditif, seperti Tetraetil-Lead (Pb(C2H5)4), MTEB (CH2OC4H9), etanol dan lain-lain

Seperti penjelasan diatas, kenaikan nilai oktan akan berpengaruh pada proses pembakaran dalam mesin. Semakin tinggi nilai oktan, semakin baik terhadap mesin (namun masih dalam batas tertentu, tergantung kemampuan suatu mesin). Selain itu, semakin tinggi bilangan oktan, emisi berbahaya (mis CO, CO2, dll) semakin sedikit.

Sering kita mendengar kata RON didepan angka oktan, missal RON 88 yang merupakan ungkapan angka oktan dari premium atau RON 92 untuk Pertamax. RON merupakan singkatan dari Research Octane Number. RON adalah sebuah metode angka oktan dengan menguji mesin untuk berjalan pada kecepatan 600 rpm. Jadi, RON adalah proses pengujian nilai oktan berdasarkan jarak tempuh suatu motor, karena jarak tempuh berbanding lurus terhadap nilai oktannya. Nilai lainnya adalah MON (Motor Octane Number) yang perbedaannya dengan RON hanya terletak pada kecepatan yang digunakan, yaitu 900 rpm. Namun, istilah yang sering digunakan memang RON.

SEDIKIT MENGKRITISI POLEMIK BBM

mafia-migasBahan Bakar Minyak (BBM) merupakan kebutuhan pokok untuk berbagai kalangan untuk menjalankan aktivitas di berbagai sektor, terutama di sektor perekonomian. Industri yang menggunakan mesin sebagai alat produksinya sangat bergantung terhadap keberadaan BBM untuk kelangsungan produksinya. Tanpa BBM, industri tersebut akan gulung tikar dengan sendirinya. Begitu pentingnya BBM sehingga pemerintah pun ikut andil dalam mengelolanya dalam konteks kebijakannya.

Belakangan ini, muncul berbagai isu yang menyebutkan bahwa stok minyak bumi akan habis beberapa tahun lagi yang menyebabkan harga minyak dunia melonjak. Hal ini menyebabkan pemerintah dan instansi yang menangani terkait Minyak Bumi dan Gas (baca:migas) kelimpungan, terutama dalam menentukan harga untuk BBM (Keterangan ini menampik beberapa temuan bahwa isu ini sengaja diangkat untuk kepentingan Barat dalam memonopoli MIGAS). Penentuan harga ini berlaku untuk seluruh jenis BBM, baik RON 88, 92 maupun RON 94.

Langsung menuju fokus utama, hal yang kemudian perlu digarisbawahi adalah PENENTUAN HARGA BBM, terutama untuk BBM jenis RON 88 (Premium) yang merupakan jenis BBM yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia. Penulis memang akan mengkerucutkan pembahasan ke arah Penetuan Harga RON 88 yang sering naik turun meskipun (dulu) disubsidi pemerintah.

Premium adalah jenis BBM yang mempunyai harga yang paling labil, harganya mengalami naik-turun, entah dalih pengurangan atau penaikan subsidi ataupun penyesuaian harga minyak dunia. Karena faktanya, naik-turunnya premium ternyata jarang diikuti oleh naik-turunnya BBM jenis lain, seperti pertamax dan pertamax plus. Hal ini menurut penulis patut dicurigai dari berbagai sisi, karena banyak dalam prosesnya banyak memberikan peluang bahkan terus memberikan peluang bagi para penikmat kotoran bumi, alias Mafia MIGAS.

Dalam beberapa media, Indonesia diberitakan sebagai Negara yang BBM-nya masih termasuk yang termurah di ASIA. Wianda (Vice President Corp Comm Pertamina) menyebutkan bahwa harga BBM di Indonesia masih yang termurah, beriku adalah data yang diberikan Wianda (detikfinance, 28/03/2014) :

  • Kamboja, harga gasoline (premium) Rp 17.254/liter, sedangkan gasoil (solar) Rp 15.937/liter
  • Laos, harga gasoline Rp 16.727/liter, sedangkan gasoil Rp 14.752/liter
  • China, harga gasoline Rp 14.225/liter, sedangkan gasoil Rp 12.644/liter
  • Thailand, harga gasoline Rp 14.093/liter, sedangkan gasoil Rp 10.800/liter
  • India, harga gasoline Rp 13.698/liter, sedangkan gasoil Rp 11.327/liter
  • Filipina, harga gasoline Rp 12.644/liter, sedangkan gasoil Rp 8.825/liter
  • Vietnam, harga gasoline Rp 11.195/liter, sedangkan gasoil Rp 9.747/liter
  • Malaysia, harga gasoline Rp 6.849/liter, sedangkan gasoil Rp 6.981/liter
  • Indonesia, harga gasoline Rp 6.800/liter, sedangkan gasoil Rp 6.400/liter (sebelum naik menjadi 7.400/liter)

Situs Global Petrol Price menyebutkan pula bahwa Indonesia masih termasuk kedalam Negara yang menjual BBM dengan harga murah. Beriku adalah data yang disajikan otosia.com (19/11/2014) yang berasal dari situs Global Petrol Price :

statistik
Sumber : Global Petrol Price

Penulis tidak menyangkal kebenaran data tersebut, karena data tersebut memang benar adanya. Namun apabila kita menelisik lebih jauh, ada beberapa kejanggalan terkait klaim TERMURAH yang dimiliki Indonesia. Faisal Basri (Komite Reformasi Tata Kelola Migas) yang mencanangkan penghapusan RON 88 di Indonesia menyatakan bahwa (Tajuk Bisnis Indonesia, 23/12/2014):

  • RON 88 atau Premium sudah jarang diproduksi pasar dunia, sedangkan stok premium di Indonesia adalah hasil impor.
  • Penentuan Harga BBM berdasarkan Harga Indeks Pasar (HIP) BBM. HIP ini mengacu pada harga transaksi di bursa Singapura (Means of Platts Singapore/MoPS). Padahal, bursa Singapura tidak menyediakan patokan harga transaksi untuk jenis bensin Premium RON 88. (Singapura merupakan kilang tempat pengolahan BBM hasil impor Indonesia (BisnisTempo.co, 24/03/2015))
  • Pertamina sendiri mengklaim bahwa selama ini mereka mengimpor bahan bakar dengan jenis RON 92, yang kemudian dicampur dengan nafta agar menjadi premium dengan RON 88. Mereka beralasan kebanyakan kilang milik Pertamina sudah tua dan kemampuan untuk mem produksi bensin beroktan tinggi terbatas, sehingga lebih pas untuk memproduksi bahan bakar RON 88.

Selain itu, temuan di kompasiana (data akan diperbaiki) menyebutkan bahwa harga Pertamax Plus (RON 94) di Malaysia adalah RM 1.90 atau 5.800 dalam Rupiah sedangkan RON 88 sudah jarang digunakan di Malaysia.

Dari data yang dipaparkan diatas, ada beberapa hal yang janggal dalam Penentuan harga BBM di Indonesia, baik Premium mapun BBM jenis lain, diantaranya; Logiskah ketika harga barang yang langka dipasaran (dalam hal ini adalah premium) dijual dengan harga murah? Logiskah ketika barang yang perlu proses tambahan lebih murah daripada barang yang sudah siap pakai? (Logiskah ketika BBM impor berupa RON 92 yang harus diubah ke RON 88 di Singapura “YANG PASTINYA MEMERLUKAN ONGKOS” lebih murah daripada RON 92 itu sendiri?) Ketika logika sahabat-sahabati digunakan, jawaban pastinya adalah TIDAK LOGIS!

Dari kesadaran tersebut, pembaca akan bertanya-tanya, kenapa hal itu bisa terjadi? Benarkah ada sekelompok orang yang diuntungkan? Siapakah gerangan? Ketika sudah berbicara siapa yang diuntungkan, kita memang hanya bisa mencari data dan kemudian menyampaikan aspirasi kita melalui demonstrasi, audiensi dan sejenisnya. Biarlah proses hukum yang mudah-mudahan masih berjalan dengan baik ditangani oleh yang berwenang. Dari kacamata penulis, sepertinya mafia migas sengaja bermain-main mengalihkan perhatian masyarakat terkait kelangkaan RON 88 dipasaran dengan memberikan harga murah. Hal ini dinilai efektif karena sejak tahun 1974, Indonesia telah menggunakan RON 88 sebagai BBM utama dalam berbagai aktivitasnya. Selain itu. bilangan oktannya lebih rendah daripada RON 92. Kemudian, kerugian dari peMURAHan harga premium dialihkan dengan memberikan harga mahal terhadap RON 92 dan 94 serta produk BBM yang lainnya. Buktinya pada saat ini digalakkan kampanye bertajuk “LEBIH BAIK PERTAMAX” serta kewajiban bagi kendaraan pemerintah untuk menggunakan pertamax. Dari aksi tersebut, mereka dapat mengambil keuntungan dari penjualan BBM selain RON 88. Wallahu alam.

Ketika memang RON 88 sangat langka dipasaran, seharusnya pemerintah maupun instansi yang berwenang mencari solusi yang bahkan sebetulnya sudah ada di depan mata. Pertamax dan Pertamax Plus adalah sebagai contoh jenis BBM yang di negeri-negeri tetangga sudah menjadi BBM utama pilihan masyarakat dan dijual dengan harga murah, bahkan lebih murah dari premium di Indonesia. Faktanya, Indonesia ternyata mengimpor BBM jenis RON 92 (Pertamax), bukan RON 88 (Premium).

WACANA PRODUK BARU ‘PERTALITE’ : Solutif dan (tapi) Kontroversial

Penulis menyebutkan diawal tulisan bahwa bulan ini (Mei 2015) Pertamina akan memunculkan produk baru BBM bernama Pertalite sebagai tandingan Premium yang sedikit demi sedikit akan ditarik dari pasar Indonesia. Premium yang diyakini memang sudah tidak banyak diproduksi dan kurang baik bagi lingkungan karena emisinya akan digantikan Pertalite yang lebih ramah lingkungan karena mempunyai nilai oktan 90-91. Dalam hal ini, Menko Perekonomian, Sofyan Djalil mendukung keputusan Pertamina. Bahkan menurutnya, kebijakan untuk menarik premium tidak usah mengajukan izin ke pemerintahan maupun DPR karena premium sudah tidak lagi di subsidi pemerintah.

Bagi penulis, terserah apakah pertamina meminta izin maupun tidak dalam hal pemasaran pertalite. Namun yang harus digarisbawahi pertamina adalah (seperti biasanya) terkait PENETUAN HARGA. Seperti yang diuraikan diatas, tidak logis ketika pertamax lebih mahal daripada premium yang notabene langka dipasaran dan perlu proses tambahan. Seharusnya pertamax yang banyak beredar dipasaran lebih murah dari premium. Begitupula dengan pertalite, sepatutnya pertalite lebih murah daripada premium yang notabene punya ongkos lebih dalam produksinya meskipun mempunyai bilangan oktan dibawahnya. Pertamina memang belum memutuskan harga pasti pertalite dipasaran, namun isu beredar, pertalite akan dijual dengan harga 8.000-8.200,-/liternya (okezone, 24/5/2015). Jika isu ini benar adanya, lagi-lagi pemerintah dan pertamina semakin mendzolimi masyarakat. Masyarakat akan semakin terjepit secara ekonomi. Sembako, listrik, sandang, dan kebutuhan lainnya akan naik. Nasib UKM dan pedagang-pedagang pasar semakin tidak karuan. Daya beli masyarakan berkurang, dan lain-lain.

Menurut Enny Sri Hartati (Direktur INDEF), Premium menyebabkan ketidakefisienan dalam tubuh pertamina. Pasalnya, untuk membuat RON 88, minyak impor yang semula memiliki RON 90 atau 92 harus diturunkan menjadi RON 88. Hal tersebut jelas membutuhkan biaya. Jadi, jika Indonesia ingin menjual RON 90 seharusnya harganya di bawah Premium, karena harganya lebih kompetitif karena dapat dipasok dari banyak negara seperti negara di Timur Tengah atau Afrika dan juga tidak membutuhkan dana untuk menurunkan RON-nya (BisnisTempo.co, 24/03/15).

spbu_8Berdasarkan hal tersebut, maka ketika pertalite dibandrol dengan harga yang lebih mahal daripada premium, berarti masih ada mafia migas! Pernyataan ini jelas senada apabila dianalogikan dengan penjelasan diatas terkait premium pertamax dalam konteks penentuan harga dari kedua jenis BBM tersebut. Lagi-lagi mafia migas menggunakan dalih linieritas bilangan oktan terhadap harga untuk menutupi kebusukannya dalam mengambil hak-hak masyarakat. Padahal, jelas sekali bahwa pengaruh ketersediaan produk lebih berpengaruh terhadap harga (Kualitas vs Ketersediaan).

Apabila memang pemerintah dan pertamina benar-benar ingin menarik premium dari pasaran, maka sudah sepatutnya pertalite dipasarkan dengan bandrol dibawah harga premium saat ini. Karena jika pertamina masih keukeuh mematok harga pertalite diatas harga premium, masyarakat akan tetap memilih premium sebagai pilihan utama, tetap dengan alasan harga. Menurut hemat penulis, sejatinya masyarakat akan terbuka menerima kehadiran pertalite sebagai pengganti premium. Toh, pertalite memiliki RON 90-91 dan lebih ramah lingkungan, namun dengan catatan, pertalite dipasarkan dengan harga yang solutif dan tidak kontroversial. Karena yang terpenting bagi masyarakat adalah terjangkaunya kebutuhan oleh daya beli masyarakat , termasuk kebutuhan akan BBM. Wallahu Alam

 

*) Koordinator FKE PMII Rayon Pencerahan Galileo 2014-2015

     e-mail : fawwaz2406@gmail.com

SIAC (Simple Action): Upaya Optimalisasi Potensi Diri Bersama PMII…

Oleh : Hidayatullah *)

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, Maka apabila engkau telah selesai dari sesuatu urusan, tetaplah bekerja keras (untuk urusan lain). dan hanya kepada tuhanmulah engkau berharap” (SQ. al-Insyirah: 6-8).

bisa
Sahabat BISA!

Percaya diri dan Optimis. Dua kata singkat ini yang mengantarkan penulis untuk menyampaikan gagasan sederhana dalam kajian analisa diri bersama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Pemahaman akan pentingnya mengetahui dan mengenal diri sendiri sudah pasti diketahui melalui berbagai media informasi baik yang bersifat formal maupun non formal. Penulis juga meyakini bahwa banyak sekali keragaman pengetahuan yang sudah mengisi setiap masing-masing personel sehingga tidak sedikit pula orang yang merumuskan sendiri bagaimana tatacara memahami diri sesuai kemampuan ilmu yang dimilikinya. Namun, tidak bisa dipungkiri masih terlalu banyak dari sebagian orang yang belum bisa memahami diri sendiri apalagi pengaktualisasian dirinya. Fenomena ini dapat kita analisis pada negara Indonesia yang besar ini, Pasalnya Indonesia seringkali mengalami krisis kepercayaan akan bangsanya, hal ini terbukti dari banyaknya torehan sejarah yang mengatakan bahwa Indonesia masih kurang percaya diri akan para kaum intelektualnya yang mampu bersaing bahkan mengungguli Negara lainnya. Seperti yang kita ketahui bersama, Sikap apatis pemerintah kepada Seorang Bj. Habibi yang sangat luar biasa dengan karyanya yang berupa kontruksi pesawat Terbang, Kemudian Ir. Surono Danu dengan Karyanya Bibit Unggul Lokal Sertani (Pernah di datangkan oleh PMII Rayon Pencerahan Galileo pada 31 Mei 2014), Sampai berita yang baru kemarin menggetarkan bangsa Indonesia ini adalah Ricy Elson: Sang putra petir Indonesia Pembuat Mobil Listrik serta masih banyak ilmuan lainnya yang tidak bisa disebutkan semuanya.

Bila kita cermati statement diatas, persoalan yang sangat fundamental adalah khazanah ketidakpercayaan para pemimpin kita pada kaum intelektual bangsa ini. hal ini menjadi salah satu bahan acuan kita untuk dapat mengalisis diri kita sebagai kader PMII yang berbasiskan eksakta, sehingga motivasi besar kita adalah kepercayaan pada diri kita saat ini dan organisasi yang kita cintai. Sangat tidak patut bilamana kita mengaku menjadi seorang kader dalam sebuah organisasi tapi tidak ada pembuktian konkrit yang berupa pengabadian padanya, dalam konteks ini sudah tentu banyak jalan yang akan kita jumpai, namun setiap jalan itu ada batas-batas tertentu yang perlu kita garis bawahi sebagai landasan berfikir dan bertindak. Batas yang dimaksudkan adalah kembali pada khittoh yaitu jalan lurus PMII itu sendiri. Selain hal tersebut, setidaknya kita sendiri meranjak untuk senantiasa mengawali indahnya pesona kebaikan kepada orang lain terlebih untuk diri kita sendiri. Maka, Jika kita ingin menjadi kader yang progresif tentunya harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.

Memahami Diri Bersama PMII

Who am I? Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban pasti, karena setiap kepala akan menjawab sesuai kapasitasnya masing-masing. Tetapi, Melirik tentang kajian konsep diri maka banyak pula beragamnya teori yang bermunculan, salah satunya seperti yang dituturkan oleh Hurlock dalam Avin Fadilla Helmi (2005) mengatakan bahwa konsep diri adalah gambaran seseorang mengenai diri sendiri yang merupakan gabungan dari keyakinan fisik, psikologis, social, emosional, aspiratif, dan prestasi yang mereka capai. Pencarian identitas diri itu menjadi sangat penting karena menjadi jalan yang perlu dilaluinya nanti. artinya kebutuhan dasar menjadi prasyarat untuk mendapatkan kebutuhan berikutnya.

Sejatinya bagian salah satu referensi yang paling berharga bagi kita semua untuk mengetahui kualitas diri bisa dilihat dari style hidup dalam memimpin baik itu memimpin diri sendiri maupun orang lain, Hal ini bisa menjadi indikator keberhasilan masing-masing individu dalam memeneg dirinya, sebab tidak sedikit orang yang mampu mengatur dirinya apalagi mengatur orang lain. Itulah sebabnya Rasulullah SAW mengingatkan kepada umatnya bahwa setiap kepala itu adalah pemimpin dan setiap pemimpin itu pasti akan dimintai pertanggung jawabannya.

Dari hadist diatas terdapat banyak ibroh yang bisa kita peroleh, pertama kita diwajibkan untuk mampu memahami diri agar nantinya bisa memimpin dan mengatur diri sendiri. kedua, kita dituntut untuk bisa menjadi pemimpin yang bijaksana dan menjadi contoh untuk yang lainnya. dan ketiga, kita diajarkan untuk senantiasa melakukan muhasabah diri baik untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan orang lain. Dalam al-qur’an surat Al Hasyr: 18 disebutkan bahwa: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah tiap-tiap diri memperhatikan apa yang dipersiapkan untuk esok (akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Kemudian suatu ketika kholifah Umar bin Khattab r.a berkata: Hisablah (hitung) dirimu sendiri sebelum kamu di hisab, timbanglah dirimu terlebih dahulu sebelum kamu ditimbang dan persiapkanlah untuk menghadapi alam terbuka yang besar (padang mahsyar). Secara garis besar dalam memahami diri sendiri bisa kita ukur dengan dua pusaka yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW yaitu berupa Al-qur’an dan Al-hadist, sehingga kita tidak akan pernah tersesat dalam perjalan kita.

Dasar-dasar yang disebutkan diatas merupakan pijakan murni yang harus dijadikan sebagai pedoman dalam setiap langkah dekil kita dalam mengontrol dan mengendalikan diri kita. Bagaimana sebenarnya cara kita memperoleh predikat manusia yang mengetaui dan memahami dirinya? Maka, penulis ingin memberikan gagasan dengan istilah SIAC (Simple Action). SIAC merupakan konsep prilaku sederhana disetiap kondisi yang dijalani dan mengoptimalkan peluang yang ada serta mengeksekusinya dengan baik dan sistematis. Gagasan ini didasarkan pada berbagai pengalaman, data dan referensi yang ditemukan oleh penulis sehingga gagasan ini pula tidak dipaksakan untuk diikuti dan tidak pula dilarang untuk diikuti.

SIAC bisa dikaitkan dengan diri kita melalui banyaknya kegagalan yang pernah kita alami, ukuran dan kualitas diri kita serta ilmu yang kita dapatkan baik itu ilmu tentang fisik, psikis, individu, social dan prestasi yang pernah kita capai. SIAC juga sangat berhubungan dengan kebiasaan yang kita lakukan, bila seseorang sudah merasa nyaman dengan kebiasaannya maka orang itu pula sangat sulit untuk melakukan suatu perubahan dalam dirinya. inilah seorang ulama’ dalam sebuah maqolahnya mengatakan bahwa Al Insanu Ibnul ‘Awa’idi yang artinya manusia adalah anak dari kebiasaanya.

Aksi sederhana yang dimaksudkan ini tentunya berkonotasi pada aspek kebaikan bukan pada keburukan, artinya kebaikan yang wajib kita terapkan itu tidak memerlukan konsep yang begitu muluk tapi tak berbukti melainkan aksi sederhana ini dilakoni berdasarkan kualitas diri kita. So, Berbuatlah kalian maka kalian akan mengetahui siapa diri kalian sebenarnya. Seorang guru besar bangsa pun pernah mengatakan bahwa ‘Yang terpenting dalam hidup ini adalah Perbuatan’.

Menuju Multipotensi Diri Bersama PMII Galileo

Mungkin kita akan bertanya-tanya sesama kader, Bagaimana ingin mengoptimalkan potensi diri kita potensi-diri-harus-tertingkatbilamana kita tidak mengetahui apa sebenarnya potensi kita apalagi multipotensi? Nah, Pertanyaan yang timbul tersebut merupakan salah satu respons aktif dalam menanggapi statemen yang dianggap tidak begitu masuk akal. Sebetulnya apa yang dimaksud dengan potensi? apakah sama antara potensi dengan profesi? keberhasilan mengenal potensi diri kita masing-masing dapat dilihat dari seberapa banyak pertanyaan yang muncul dalam diri kita sendiri. Apakah anda seorang penulis? apakah anda seorang reporter? apakah anda seorang orator? apakah anda seorang peneliti? dan lain sebagainya. Pertanyaan yang dimunculkan penulis dalam kalimat ini dapat disadari sebagai bagian cara untuk mengetahui perbedaan antara potensi dan profesi.

Potensi diri adalah kemampuan dan kekuatan diri seseorang baik secara fisik maupun psikis serta lebih dominan daripada yang lain kemudian berpotensi untuk ditumbuh kembangkan melalui berbagai cara dan sarana yang mencukupi. Potensi dapat dirasakan dari kemampuan dasar, etos kerja dan kepribadian. Sedangkan profesi adalah pekerjaan atau bidang ahli yang diperoleh dari kerja keras melalui penguasaan keilmuan khusus. Dari rangkuman pengertian ini dapat kita simpulkan bahwa potensi menjadi langkah pertama untuk menggapai suatu profesi. Namun tidak semua profesi yang akan kita peroleh nantinya tidak membutuhkan potensi yang kita miliki sesungguhnya. kenapa hal demikian bisa terjadi, maka akar problemnya karena kita sendiri belum bisa menguak potensi dominan yang kita miliki.

Selanjutnya bagaimana PMII Galileo tercinta ini mengantarkan kita untuk menguasai berbagai potensi yang kita miliki. Pertama yang harus dijadikan modal adalah kesadaran yang didasari oleh pengetahuan dan pengabdian. Saat ini yang perlu kita lakukan adalah menyadari diri kita yang sebenarnya. Sadar yang dimaksudkan harus dibarengi dengan perbuatan atau tindakan yang memiliki nilai positif dan berdaya guna untuk orang lain. Sejak awal kita mencatatkan nama dipangkuan bendera PMII Galileo ini tentunya pada saat itu pula harus ada rasa percaya dan komitmen untuk mengembangkan lembaga tercinta ini sehingga menjadi lembaga percontohan dikelasnya. Inilah yang disebut sebagai tanggung jawab berorganisasi, berorganisasi itu pula sudah membuka pintu-pintu potensi kita apalagi kita mampu berkontribusi besar untuk organisasi ini maka sudah pasti kita melakukan hal terpenting dalam hidup yaitu Ibadah, karena ber-PMII itu adalah bagian dari ibadah pada sang pencipta.

Kedua, pengoptimalan potensi menjadi multipotensi senantiasa dilakukan dengan kebiasaan yang baik, tata cara yang benar serta dilakukan secara perlahan dan penuh hati-hati. Yang terakhir, mulailah berbuat dan bertindak, aktualisasikan diri kita masing-masing pada porsi yang kita ketahui, berkumpulah dengan orang-orang mulya, orang yang kita anggap dapat mengasah dan mengasuh kita untuk mengembangkan potensi yang kita miliki agar nantinya dapat terkondisikan dengan baik pula. Bila kalian adalah seorang penulis maka tuliskanlah ide-ide cemerlang kalian. Bila kalian seorang peneliti, maka segeralah lakukan penelitian. Bila kalian seorang da’i maka jangan pernah berhenti untuk selalu berdakwah dan bila kalian ingin menjadi seorang pemimpin yang bijaksana baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain tanpa harus menggugurkan potensi yang kalian miliki, maka Berproseslah di PMII Galileo tercinta dengan baik dan benar.

DAFTAR RUJUKAN

AD/ART Hasil Kongres Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) XVII 2011. Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Alfas, Fauzan. (2004). PMII Dalam Simpul-Simpul Sejarah Perjuangan. Jakarta: PB PMII.

Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Alwisol. (2004). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press

Avin Fadilla Helmi. (2005). Studi Meta-Analisis Gaya Kelekatan dan Model Mental Diri. Tugas Metode Penelitian Kuantitatif: Meta-Analisis. Program Pra S3 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

Koirom. (2010). Penerapan fungsi Menejemen dalam pelatihan kader dasar (PKD) di Organisasi pergerakan mahasiswa islam Indonesia (PMII) cabang Yogyakarta tahun 2008-2009. Skripsi tidak diterbitkan. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Pelatihan Kader Dasar (PKD). (2014). PMII Rayon Pencerahan Galileo UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Modul Pelatihan Kader Dasar (PKD). (2014). PMII Rayon Pencerahan Galileo UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Muharram Ibnu. (2013). Pembentukan Kepribadian untuk aktualisasi (studi Tentang pelatihan kader dasar PMII rayon fakultas dakwah dan komunikasi UIN sunan kalijaga tahun 2012 sebagai bimbingan dan konseling kelompok). Skripsi tidak diterbitkan. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

*) Kader PMII Pencerahan Galileo, Kordinator Biro Pengembangan Wacana PMII Rayon Pencerahan Galileo 2013-2014

Undangan : PELATIHAN KADER DASAR (PKD) XV PMII RAYON…


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Turut mengundang Sahabat-Sahabati Keluarga Besar (Alumni, Pasca) Rayon PMII Pencerahan Galileo pada :

Hari , Tanggal     : Jum’at- Minggu, 24- 26 april 2015

Acara                     :PKD XV

Tempat                 : Gedung MWC NU Poncokusumo,Malang

 

Info selengkapnya hubungi:

CP : 085745500467 (Ketua Pelaksana PKD XV)

 

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thoriq

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

 

ttd

KELUARGA BESAR

PMII PENCERAHAN GALILEO

Undangan : Temu Alumni PMII “Pencerahan” Galileo

silaturahmi alumni

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Turut mengundang Sahabat-Sahabati Alumni, Pasca dan Pengurus Rayon PMII Pencerahan Galileo pada :

Hari      : Sabtu, 11 April 2015

Pukul    : 15.00 WIB – selesai

Tempat : Rumah Sahabat Jamhuri (Jl. Abdillah Gg. I No. 6 Tirtomoyo Pakis Malang

 

Info selengkapnya hubungi Contact Person (081555992233)  -Ketua Alumni Galileo-

 

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thoriq

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

 

KELUARGA BESAR PMII PENCERAHAN GALILEO

Menumbuhkan Kembali Semangat Aktivisme dalam Konteks Gerakan Membaca dan…

Oleh : Fawwaz Muhammad Fauzi *)

Iqro’ biamirobbikalladzi kholaq. Kholaqol insana min ‘alaq. Iqro’ warobbukal akrom. Alladzi allama bil qolam. Allamal insana ma lam ya’lam (QS. AL-Alaq 1-5)

pramudya-menulis-quoteSebagai umat muslim, kita pasti mengetahui bahwa ayat-ayat yang pertama diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW adalah membaca dan menulis. Hal itu tertera dari kata Iqro’ dan Alladzi ‘allama bil qolam. Dalam beberapa tafsirnya, jumhur ulama menafsirkan bahwa membaca dan menulis adalah sebuah kewajiban. Membaca membuka Jendela Dunia. Apapun teori maupun teknik membaca yang digunakan, luasnya pengetahuan yang kita miliki adalah konsekuensi logis yang akan kita raih.

Membaca yang penulis maksud disini bukan hanya melalui buku-buku, koran-koran, atau bahkan novel, cerpen, komik dan media-media cetak lainnya yang bersifat informatif faktual maupun informatif non-faktual (opini). Arti dari membaca yang penulis maksud tidak sesempit itu. Membaca adalah kegiatan meresepsi, menganalisa, dan menginterpretasi yang dilakukan terhadap suatu hal yang nampak, terdengar, terasa, teraba, dan tercium oleh seseorang. Dalam artian, membaca disini adalah proses kita untuk memahami hal yang kita hadapi. Gray and Rogers (1995) dalam bukunya menyatakan bahwa dengan membaca, kita dapat mengembangkan diri, memenuhi tuntutan inteletual, mengetahui hal-hal yang penting dan aktual.

Siapa yang tak kenal Almaghfurlah Gusdur (KH. Abdurrahman Wahid)? Presiden Indonesia ke-4 yang sangat disegani di mata dunia adalah seorang penggiat membaca. Teringat sewaktu penulis masih tholabul ilmi di suatu Pondok Pesantren, guru ngaji penulis menuturkan bahwa saking rajinnya membaca, beliau sampai mengalami gangguan mata hingga beliau tidak dapat melihat. Terlepas dari perkataan itu benar atau tidak, beliau telah membuktikan bahwa dengan membaca, beliau dapat menjadi orang nomor wahid di Indonesia, bahkan disegani di lintas agama, lintas ideologi, lintas Negara, bahkan lintas kehidupan (semacam guyonan).

Tak afdol rasanya ketika pembahasan membaca tak dikaitkan dengan pembahasan pentingnya menulis. Menulis memang erat kaitannya dengan membaca. Menulis adalah sebuah langkah aplikatif dari hasil membaca. Dari hasil kita membaca dari berbagai sumber, referensi, realita dan dinamika yang ada, secara tidak langsung, baik secara terstruktur maupun tidak, kita akan menganalisis dari apa yang kita baca. Dan langkah aplikatif yang efektif untuk mengungkapkan analisa yang didapatkan dari apa yang kita baca adalah menulis. Begitulah kiranya penulis memahami relasi dari membaca dan menulis.

Seperti yang kita ketahui, pentingnya menulis juga sering diungkapkan oleh para uswah kita. Shahabat Ali Ra pernah berkata, “Ilmu adalah buruan, dan menulis bagaikan pengikatnya, maka ikatlah ilmumu dengan menulis”. Imam Al-Ghazali yang terkenal dengan tulisannya yang berbau tasawwuf pun adalah penggiat menulis, beliau mengingatkan kita dalam sebuah karyanya, “Kalau kamu bukan anak raja atau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Zaman peralihan pun berperan dalam melahirkan sastrawan fenomenal, Pramoedya dengan Karya sastra Manusia Bumi-nya menuturkan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Tak perlu jauh-jauh kita ber-uswah, sebagai warga pergerakan, kita pasti mengenal sosok-sosok seperti Soe-Hok Gie, Mahbub Junaidi (Pendiri PMII), Lafran Pane (Pendiri HMI) dan Prof. Dr. Sri Soemantri (Pendiri GMNI) adalah sosok penggiat menulis yang patut kita contoh. Dengan menulis, sampai saat ini, ideologi dan pemikiran yang berasal dari tulisan-tulisannya dianut, dikaji dan difahami sampai saat ini.

Menulis yang dimaksud penulis bukan sebatas menulis laporan praktikum, skripsi, menulis status facebook dan twitter yang terkesan tidak penting (karena jarang sekali orang yang memanfaatkan medsos sebagai wadah menulis yang produktif). Namun lebih kepada menulis dari apa yang kita baca, kita lihat dan kita dengar dalam konteks kepekaan wacana sosial dan kemasyarakatan. Hal yang disebut diatas memang terkelompokkan dalam aktivitas menulis. Namun sebagai kaum terpelajar, kita harus menulis yang lebih “GO AHEAD” dari itu. Menulis yang lebih kontributif terhadap perkembangan politik, sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan atau hal apapun di negeri sehingga kita menjadi penulis yang penulis, bukan penulis yang hanya menulis karena tekanan akademik, tuntutan pergaulan medsos atau berdasarkan nada-nada pencitraan yang membosankan.

 

Membaca dan Menulis sebagai Budaya Insan Pergerakan

Sangat disayangkan, beberapa survey menyatakan bahwa minat membaca dan menulis sangat rendah. Bahkan, data UNESCO pada tahun 133423667912710182362011 menyebutkan bahwa indeks baca masyarakat Indonesia hanya 0,001, yang berarti dari 1000 orang, hanya 1 orang yang memiliki minat baca. Sementara itu, dalam ranah tulis menulis, dapat kita lihat dari jurnal ilmiah yang dimiliki oleh Negara kita yang menurut survey Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Sementara Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar.

Terlepas dari survey-survey yang ada, valid atau tidak, faktanya memang harus diakui bahwa kita sebagai insan pergerakan dekade ini telah memberikan sumbangsih besar dalam rendahnya hasil survey tersebut. Sebagai mahasiswa aktivis, hal ini adalah sebuah degradasi yang tidak boleh dibiarkan. Sangat jelas terlihat saat ini, di Indonesia lebih banyak tokoh politik daripada tokoh penulis. Dari banyaknya tokoh politikpun, hanya sedikit tokoh politik yang melek baca tulis, sehingga akhirnya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan para politisi di Parlemen maupun di Istana sangat tidak Pro-Aktif terhadap pengembangan minat baca tulis, termasuk Kurikulum 2013 yang dicanangkan Mendikbud pada akhir rezim SBY.

Indonesia memang sedang dihantam oleh globalisasi yang menggila. Neo-kapitalisme, konsumerisme dan hedonisme menyisihkan idealisme, humanisme dan local wisdom masyarakat Indonesia termasuk kalangan muda seperti mahasiswa. Mahasiswa dengan segala idealismenya dibunuh habis-habisan melalui jalan apapun. Wilayah geraknya dibatasi secara tidak langsung melalui kebijakan-kebijakan yang penuh intervensi dan ancaman, bahkan melalui praktik suap menyuap. Menurut analisa pribadi penulis, jarang sekali kampus yang menggerakkan minat membaca dan menulis untuk mahasiswanya secara masif dan terorganisir. Paling hanya sebatas seminar-seminar yang masuk dari kuping kanan, keluar dari kuping kiri, pelatihan-pelatihan yang dijadikan ajang adu eksistensi, dan workshop-workshop penulisan yang hanya sebatas kebutuhan skripsi. Memang tidak ada habisnya jika kita menganalisa bobroknya birokrasi negeri dan carut marutnya sistem pendidikan di negeri ini. Bagaimana tidak carut marut? Ganti menteri ganti program, ganti kurikulum, ganti kepentingan. Revisi teknis, revisi anggaran, revisi pejabat. Kacau! Sudahlah! Mari kita analisa melalui instropeksi diri sendiri saja.

Jika dilihat secara periodisasi, beberapa dekade yang lalu kita mempunyai aktivis-aktivis hebat yang dikenal karena tulisannya seperti Soe-Hok Gie, Pramoedya, Emha Ainun Najib, Mahbub Junaidi, Lafran Pane, dan lain-lain. Saat ini, sangat sedikit sekali aktivis pergerakan yang melek literasi (membaca dan menulis). Penulis tidak menyatakan bahwa penulis juga melek akan membaca dan menulis. Tulisan ini sekedar merefleksi diri kita masing-masing akan pentingnya menulis dan membaca sebagai insan pergerakan, agar kemudian aktivis-aktivis disini tidak hanya meneriakkan kebenaran melalui aksi bertajuk parlemen jalanan, melainkan mempunyai gerakan alternatif dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Penulis kira, gerakan ini lebih santun dan efektif dalam menggugah kesadaran nurani masyarakat untuk ikut serta bergerak bersama mahasiswa melawan kebathilan, meski sejatinya turun ke jalan adalah konsekuensi logis yang harus dilakukan aktivis pergerakan dalam membela bangsa dan menegakkan agama.

Membaca dan menulis dalam aplikasinya memang tidak mudah. Membaca yang berkualitas dengan benar-benar memahami isi suatu buku atau realita (fakta) memang perlu pembiasaan sehingga kita dapat memahami untuk kemudian menganalisa tulisan tersebut dengan tajam, baik secara wacana yang diangkat maupun framing yang dibentuk. Pun demikian dalam proses menulis. Untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas tidaklah mudah, perlu pembendaharaan kosakata, pengetahuan kebahasaan dan kekayaan pustaka yang dimilik karena memang menulis bisa dibilang langkah follow-up dari proses membaca. Berangkat dari hal tersebut, menulis dan membaca perlu dibudayakan hingga warga pergerakan menjadikan menulis dan membaca sebagai kebutuhan primer dalam prosesnya sebagai seorang aktivis. Jika sebelumnya gadget yang dimiliki mahasiswa hanya sebatas berisi Lets Get Rich, Clash of Clans dan permainan lainnya, sekarang mari kita isi gadget kita dengan wikipedia.com, kompas.com, detik.com, dan online book untuk memperluas wawasan kita. Jika sebelumnya membuka facebook dan medsos lainnya hanya untuk upload foto selfie atau untuk memberitahu apa yang sedang kita lakukan dengan sahabat-sahabat kita, mari kita lengkapi dengan mem-posting artikel-artikel ilmiah maupun non-ilmiah hasil karya kita

Sekedar kata-kata untuk warga pergerakan. Membaca merupakan dzikir dan fikir sebagai usaha mencari kebenaran, kejujuran dan keadilan. Sedangkan menulis merupakan langkah amal sholeh dalam upayanya meningkatkan ketaqwaan, nilai-nilai professionalisme dan kapasitas intelektual. Maka tulislah seluruh hasil dzikir dan fikirmu melalui amal sholeh yang direpresentasikan melalui tulisan yang menggugah semangat pergerakan melawan kedzoliman. Semoga kedepannya, generasi Indonesia terutama pemudanya adalah generasi yang tidak miskin membaca dan menulis, sehingga mempunyai kapabilitas yang mumpuni dalam pergaulan internasional. Amiiin.

5/4/15, 02.49 AM

*) Kordinator Forum Komunikasi Eksakta (FKE) PMII Rayon Pencerahan Galileo 2014-2015.

Kata-kata Haji Mahbub

13662546081 Oktober 1995, H Mahbub Djunaidi menghembuskan nafas terakhir. Enam belas tahun Mahbub meninggalkan kita, batang hidungnya tak akan pernah muncul kembali. Tapi kata-katanya masih hidup. Siapa yang hendak belajar bahasa? Mahbub salah satu rujukannya.

BAGI saya H. Mahbub Djunaidi adalah jawaranya esais. Misal ada kategori lima orang esais terbaik dalam sejarah Indonesia, saya ngotot menominasikannya sebagai salah satu. Kalau definisi mutakhir teks mengatakan sia-sia membuat pembedaan antara gaya dengan isi tulisan, Mahbub adalah contoh sempurna.

Gagasan dan kejutan yang diajukan dalam esai-esainya sulit dibayangkan bisa di tulis dalam gaya penulisan lain. Pendek kata, bagi saya Mahbub adalah penyihir kata-kata.

Sebutan penyihir boleh jadi terlalu mistik, tapi biarlah. Lalu bagaimana menjelaskan sesuatu yang mistik? Meski tentu banyak sisi positifnya, gara-gara birokrasi logika modern, sebentar-sebentar orang menuduh hal-hal tak terjelaskan secara rasional sebagai mistik. Toh, sihir punya mantra seperti pesawat terbang punya karcis. Kalau demikian adanya, macam apa mantranya Mahbub itu? Apakah hal-hal yang jadi kekuatan dalam esai-esainya?

Cara pandang terhadap realitas
Orang tentu mafhum Mahbub adalah kolumnis politik. Hampir di tiap kolom dia menulis perkara tersebut beserta aspek-aspeknya. Sekurang-kurangnya membahas dampak kebijakan pemerintah pada orang banyak. Penulis yang model begini amat banyak jumlahnya. Namun yang membedakan dengan penulis lain adalah cara Mahbub memandang persoalan politik, terutama berkaitan posisi rakyat berhadapan dengan negara.

Ia hampir selalu memulai tulisan dengan memosisikan rakyat dan negara di atas kertas, menggunakan kerangka teoretik ideal. Teorinya, negara merupakan organisasi yang dibangun demi kemaslahatan rakyatnya. Namun dalam struktur tata negara yang bagaimanapun macamnya, termasuk demokrasi, mustahil pendapat rakyat yang banyak itu diaplikasikan secara keseluruhan orang per orang. Maksimal, negara hanya bisa meratakan kesejahteraan dan menjamin kebebasan berpendapat. Karenanya, rakyat dalam beberapa hal harus mengerti jika negara yang tugasnya masya Allah banyak itu, kadang belum sanggup memuaskan mereka.

Namun posisi teoretik Mahbub ini boleh dibilang unik. Ia tak pernah mengungkapkannya dengan bahasa yang teknis. Untuk kepentingan ini digunakanlah cerita, anggapan umum, peristiwa populer, humor, atau macam-macam perabot lainnya, yang dalam hal ini perlengkapan Mahbub amat lengkap. Sama sekali tak berpretensi ilmiah.

Silakan cek esai Dinamisasi via Binatang yang ditulisnya menyambut ide Menteri Agama Mukti Ali untuk memodernisasi pesantren lewat pemberian binatang ternak. Pada awalnya Mahbub seperti mengikuti jalan pikiran Mukti Ali, bahkan terkesan menjelaskannya. Namun belakangan, ia justru bertanya, kenapa cuma pesantren yang dituding sekadar konsumen? Bukankah perilaku institusi pendidikan lainnya juga kurang-lebih demikian adanya?

Sekarang silakan teliti juga esai berjudul Demokrasi: Martabat dan Ongkosnya. Dalam esai ini akan terjelaskan bagaimana Mahbub bisa memiliki cara pandang demikian. Sumbernya tak lain keluguan. Dia menceritakan perihal rancangan kenaikan anggaran buat anggota DPR sambil menceritakan betapa logisnya alasan mereka mengusulkan hal tersebut, persis orang awam yang hanya paham perkara teknis tanpa menangkap motif lainnya. Mendadak di paragraf akhir, setelah kita diajak tamasya sambil tertawa-tawa, lewat pergeseran perspektif yang sublime, ia meledek dengan lembut, bahwa tuah hak Budget legislatif tiada gigi.

Dalam esai, aku-esai yang mewakili pengarang bercerita lewat medium bahasa, terwujud dalam cara pandang, cara mengajukan gagasan, cara ajukan pertanyaan, cara menyimpulkan, dan hal-hal lain yang bersifat unik. Sebagaimana dimaklumi dalam filsafat bahasa mutakhir, tak ada realitas di luar bahasa. Secara umum boleh dikatakan bahwa kemampuan seseorang untuk berpikir logis dan jernih, akan terefleksi dalam tulisannya, dalam bahasanya. Hal yang demikian bias kita lihat pada Mahbub.

Mahbub pernah bilang, dirinya lebih senang digantungi merk sebagai sastrawan. Kenyataannya memang demikian. Tapi perkara ini di luar fakta bahwa ia pernah menulis beberapa novel. Perspektif keluguan membuatnya bisa mengeker kenyataan dengan perspektif unik, sebagaimana umumnya dipraktikkan para sastrawan. Bertebaranlah di esai-esainya, pameran hasil pengamatan yang sering bikin kita terlonjak keheranan. Ada dikatakan orang yang selalu membicarakan cuaca tak ubahnya orang Inggris. Dia menyebut perihal berisiknya orang Cina, karena empat orang yang berkumpul sanggup berbicara bersama-sama. Di lain waktu, ia menceritakan anak-anak di bulan puasa yang mulai siang tidur menelungkup menekan perut keras-keras ke ubin langgar hingga hampir maghrib. Satu dua ada juga yang diam-diam menggigit mangga muda di belakang kakus.

Dengan pengamatan sekuat ini, tak heran Mahbub seperti tukang dongeng yang bisa menggubah peristiwa apa saja menjadi cerita yang mengesankan. Saya menduga kemampuan mendongeng ini diwariskan Mahbub dari khazanah tradisi Betawi yang melahirkan beberapa tukang cerite yang legendaris, seperti Zahid bin Muhammad.

Dalam khazanah sastra Indonesia, tradisi menulis dengan gaya kocak dan lugu ini bisa dilacak dalam karya-karya Idrus, sebagaimana terlihat dalam kumpulan cerita terbaiknya, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Saat ini kemampuan Mahbub mendongeng barangkali hanya bisa disejajarkan dengan sastrawan Putu Wijaya. Dengan kemampuan mendongeng ini, Pak Haji Mahbub mampu menyajikan persoalan dengan ringan. Pembaca paham duduk persoalan tanpa melewati penjelasan konseptual yang bikin kepala serasa berlipat.

Pemberontakan literer
Menurut para ahli, kaum sastrawan, terutama penyair, punya kedudukan istimewa terhadap bahasa, yang dipresentasikan dalam licentia poetica. Singkatnya, dengan istilah yang konon pertama kali diajukan oleh Aristoteles ini, dimaksudkan bahwa demi mencapai tingkat estetika tertentu sastrawan boleh mengutak-atik bahasa sedemikian rupa layaknya montir mesin. Dalam hemat saya ini merupakan mantra Mahbub selanjutnya.

Mahbub sepertinya tak pernah ambil pusing apakah istilah dan kata-kata yang digunakannya masuk hitungan kebakuan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Makanya kita bisa capek sendiri menghitung pelanggaran EYD yang dilakukan dalam esai-esainya. Biasanya ia memakai istilah dan struktur bahasa Betawi yang di Indonesia sering dipakai dalam bahasa percakapan. Beberapa kali ia juga memakai istilah dari bahasa Jawa. Alih-alih ditegur karena kebandelannya, Goenawan Mohamad yang dikenal apik berbahasa malah memujinya sebagai penerobos bahasa. Ya, boleh jadi dalam hal ini Mahbub memang keblinger, tapi justru dari sinilah esai-esainya mencerminkan karakter yang khas. Dia menemukan sendiri capaian estetikanya.

Kebandelan Mahbub dalam berbahasa bukanlah sembarang pelanggaran. Jika ukurannya adalah pencapaian estetik, ia sanggup memenuhi tagihan sertifikat licentia poetica dengan impas, barangkali berikut bunganya. Barangkali sifat sastrawi dalam karya-karya Mahbub bukanlah yang melankolis, sensitif, mendayu-dayu sifatnya. Tapi, toh, John Steinbeck yang menulis cerita-cerita yang menyanyikan humor dan kesintingan pun akhirnya harus datang ke Stockholm, Swedia, buat menerima Nobel Sastra sambil ditepuktangani banyak orang.

Humor
Barangkali tak ada segi paling digandrungi dari esai Mahbub ketimbang humornya. Konon ada orang yang sampai kebelet kencing lantaran membaca tulisan-tulisannya. Saya sih tak ekstrem begitu. Paling-paling hanya menyebabkan durasi membaca jadi lebih lama lantaran sering diselingi cekikikan dan cekakakan. Celakanya, humor-humor Mahbub sering terbawa ingatan saat saya melakukan aktivitas lain. Boleh jadi orang yang kurang paham duduk persoalannya menganggap saya sinting atau semacamnya.

Mahbub sering menyajikan humor satir. Hal ini bisa kita simak antara lain pada Sepatu, di mana ia mengejek banyaknya koleksi sepatu Imelda Marcos. Kadang ia bercerita yang baik-baik saja perihal lembaga negara atau individu dengan demikian sempurnanya, sampai-sampai pembaca akhirnya sadar bahwa Mahbub nyata-nyata tengah mengejek dengan menyebut nilai-nilai yang justru tak dimiliki pihak bersangkutan. Hal yang demikian, misalnya muncul pada Kota.
Teknik humor Mahbub yang paling umum adalah metafora dan celetukan yang bukan alang-kepalang mengejutkannya. Silakan disimak sendiri sebagian kecil contoh berikut:

–    Futurolog itu…semacam dukun juga, tapi keluaran sekolahan
–    Anak-anak saya…patuh sepatuh-patuhnya bagaikan anak anjing ras
–    Sedangkan masuk kamar mandi saja ada risiko terpelanting, apalagi jadi bendaharawan
–    Tidak sedikit orang beli koran dan langsung membaca iklan-iklan kematian, mencari tahu umur berapakah orang yang meninggal itu, sekadar membanding-bandingkan dengan umurnya sendiri
–    Maka dari itu, nyonya sehat bagaikan ikan bandeng
–    Yoga, melipat badan berlama-lama seperti kelelawar
–    Pemerintah mana saja tidak suka penduduknya cerewet seperti sekandang burung parkit
–    Abdurrahman Wahid…bertubuh gempal, ibarat jambu kelutuk yang ranum…punya kebolehan humor yang mengejutkan, seakan-akan dia jambret begitu saja dari laci

Penemuan metafora-metafora yang begitu orisinal dan sublim semacam inilah yang menurut hemat saya menjadi kekuatan utama dari esai-esai Mahbub. Teknik metafor ini dipadukan dengan mantra-mantra sihir yang disebut sebelumnya, membuat esai-esainya lincah. Sering kita temukan beberapa asosiasi ditumpuk sekaligus dalam satu pernyataan.

Tak jarang demi memberi tempat buat dorongan humornya, Mahbub harus melenceng barang sebentar dari persoalan utama. Sering juga berlama-lama. Tapi memang kerapkali pada karya-karya bermutu tinggi, irisan-irisan “ketidaksempurnaan” semacam inilah yang justru membumbui estetika. Coba Saudara simak musikus-musikus hebat yang secara teoretik bakal lebih bagus lagunya didengarkan di hasil rekaman, karena celah-celahnya telah disempurnakan lewat bantuan teknologi. Tapi pendengar musik yang paham duduk persoalan bakal lebih memilih mendengarkan suara live-nya di panggung, meski lewat medium perantara.

MAHBUB, seperti yang diakui sendiri dalam sebuah esainya, adalah seorang generalis. Ia mencomot sembarang persoalan yang menarik perhatiannya buat dibahas, tanpa peduli batas-batas spesialisasi keilmuan. Bagaimana Mahbub mau bicara spesialisasi, wong sarjana saja bukan?

Ia memang unggul dalam hal menyajikan persoalan dengan sederhana melalui generalisasi yang cerdas. Tapi untuk itu kadang ia tak sempat menengok ke celah-celah persoalan, menakar barang sebentar, barangkali ada satu hal atau dua yang tak masuk dalam kategori generalisasinya. Ia juga sering membahas masalah hanya dari aspek spesifik tertentu. Dengan begini, ia tak pernah membahasnya untuk menyajikan solusi dengan tuntas, mulai ujung kepala sampai jempol kaki.

Tapi kelihatannya memang bukan pembahasan lengkap model demikian yang diinginkan Mahbub. Ia ikut berbaur dengan berbagai macam manusia, lengkap bersama pluralitas persoalannya, tanpa bermaksud menarik sebuah rumus deduktif buat setiap masalah. Tapi jangan sekali-kali menganggap Mahbub tak bisa menulis dengan gaya konvensional, artinya nirbumbu-bumbu humor di sembarang tempat, tanpa hilang kejernihan. Kalau tak percaya, sila dibaca, “Soal Pilihan”.

Konon, beberapa orang berpendapat, Mahbub memilih teknik menulis demikian lantaran kondisi sosial-politik Orde Baru yang tidak memungkinkan orang mengkritik dengan keras. Maka humor jadi siasatnya untuk menyelubungi perbedaan-perbedaan pandangannya dengan pihak otoritas. Barangkali anggapan ini ada benarnya.

Tapi bagi saya sih, peduli setan! Dengan atau tanpa Orde Baru, Mahbub tetaplah Mahbub yang menyihir kita lewat kata-kata. Dan kata-kata Mahbub, masih hidup. (Ahmad Makki, Kontributor Majalah Historia Online]

dikutip dari: nu.or.id