Wanita dan Kepemimpinan

20150802_044951_harianterbit_khofifah
Khofifah Indar P (Menteri Sosial RI)

Selamat Pagi Indonesia, Selamat Pagi Kota Malang. Selamat Pagi Mahasiswi. Ya, mahasiswi, penulis kali ini memang sedikit akan mengulas terkait kepemimpinan mahasiswi, atau dalam konteks global adalah kepemimpinan wanita. Sebelumnya penulis memang sempat lama hilang dari dunia kepenulisan karena terlalu sibuk mengurusi tujuan utama datang ke Malang, apalagi selain duduk manis mendengarkan retorika manusia yang sedang menjalankan kewajibannya sebagai pengajar mahasiswa, Dosen. Intinya, penulis sibuk melakukan gerakan akademik bernama kuliah. Di weekend kali ini sebetulnya ada beberapa tugas perkuliahan yang harus penulis kerjakan, namun karena renungan dan obrolan ringan malam tadi membuat penulis berhasrat dan bersemangat untuk sedikit mengkhayal tentang wanita yang menurut seorang ahli wanita adalah objek bacaan yang tak pernah habis. Namun disini, sesuai dengan ulasan diatas, penulis membatasi bacaan penulis terhadap wanita dalam konteks kepemimpinan saja, tidak sampai kedalam organ-organ intim wanita seperti penjelasan dalam kitab-kitab reproduksi konsumsi mahasiswa biologi, Ups. Meskipun penulis seorang pejantan tangguh, tak elok kiranya ketika penulis tak memperdulikan kaum hawa yang juga bagian dari kehidupan penulis sendiri, hehe. (Sok peduli).

Penulis sering menemukan beberapa fakta yang menurut pribadi penulis memprihatinkan terkait partisipasi mahasiswi dalam organisasi-organisasi yang ada di kampus. Khususnya di UIN Maliki Malang, persentase partisipasi aktif mahasiswi dalam organisasi kemahasiswaan masih terlihat minim dan masih didominasi oleh para pejantan. Padahal, penulis mengamati di kampus-kampus umum seperti di UB, ITS, UNAIR dan beberapa kampus lain, peran mahasiswi dalam organisasi kemahasiswaan cukup tinggi dibandingkan dengan di UIN (baca: UIN Maliki). Terlepas apakah temuan penulis ini komprehensif atau tidak, itulah yang penulis temukan di berbagai event keorganisasian yang pernah penulis ikuti, bahkan organisasi yang penulis geluti didalamnya. Karena penulis sendiri belum pernah meneliti secara statisik terkait partisipasi mahasiswi dalam organisasi kemahasiswaan di UIN, baik dari segi kualitatif (partisipasi aktif) maupun kuantitatif (partisipasi pasif alias numpang nama). Ada apa dengan mahasiswi UIN? Mengapa mahasiswi UIN enggan menunjukkan eksistensinya sebagai mahasiswi yang sebetulnya juga bisa mengeksplor kapasitasnya sebagai mahasiswi yang Ulul Albab (Dzikir, Fikir, Amal Sholeh) dan bersaing dengan mahasiswi-mahasiswi di kampus lain? Apakah terdapat stigma negatif? Apakah terdapat pengaruh dominan dari norma-norma, budaya, maupun agama? Penulis juga tidak mengetahui secara pasti apa yang melatar belakangi realita ini. Namun disini, penulis hanya ingin sedikit sharing atas apa yang penuli ketahui, bahwa pada intinya, mahasiswi atau dalam konteks universalnya wanita, juga mempunyai hak yang sama dalam mengembangkan dirinya, baik dari segi potensi, bakat, maupun jiwa kepemimpinan, yang notabene kesemuanya bisa didapatkan dengan berpartisipasi dalam suatu wadah bernama organisasi. Pada kesempatan kali ini, penulis akan lebih terfokus pada pembahasan kepemimpinan seorang wanita yang merupakan esensi hasil utama dari berorganisasi, khususnya di organisasi kemahasiswaan.

Perspektif Islam dalam Kepemimpinan Wanita

Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin tidak melarang seorang wanita untuk mengembangkan diri dan memimpin. Memang ada beberapa ayat maupun hadits yang menyebutkan bahwa wanita dilarang memimpin. Wacana ini biasanya dikarenakan terdapatnya hadits Rasulullah SAW yang telah menyebar luas di masyarakat kita, yaitu :

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan negara pada wanita”, (HR. Bukhori).

Perlu diketahui, setiap hadits mempunyai sebab musabbab turunnya hadits yang disebut asbabul wurud. Asbabul wurud sendiri adalah salah satu aspek yang juga digunakan sebagai referensi untuk menentukan hukum suatu perkara, selain juga kualitas perawi dari hadits tersebut. Mengenai hadits diatas, hadits tersebut muncul berkenaan dengan suatu peristiwa dimana pada saat itu, Rasulullah mengirimkan utusan ke negeri Persia dan memberikan mereka surat tentang ajakan mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Namun, Pimpinan Persia yang pada saat itu dipimpin oleh seorang wanita bernama Putri Kisro menolak mentah-mentah ajakan tersebut dan merobek-robek surat Rasulullah SAW sehingga Rasulullah SAW bersabda demikian. Dan hal tersebut terbukti terjadi karena selanjutnya Rasulullah SAW berhasil menang berperang melawan Persia yang pada saat itu dipimpin Putri Kisro yang memang dikenal sangat lalim dan khianat terhadap kaumnya.

Jumhur Ulama’ bersepakat bahwa seorang wanita dilarang untuk dijadikan seorang pemimpin, namun para jumhur ulama menyepakati ini dengan berbagai illat dari masing-masing pendapatnya. Misalkan, Syekh Yusuf Qordlowi menjelaskan, bahwa wanita tidak diperbolehkan menjadi pemimpin negara (Khilafah). Namun tidak dalam konteks pemimpin negara dalam era modern saat ini. Karena kepemimpinan pada saat ini tidak seperti kepemimpinan pada era kekhalifahan yang notabene terkesan monarkhy dan dinasty yang mempunyai wewenang penuh terhadap fungsi legislastif, eksekutif dan yudikatif. Kepemimpinan hari ini, misalkan presiden, hanya mempunyai wewenang sebagai eksekutif saja, tidak kemudian memegang kendali legislatif dan yudikatif. Sehingga dalam konteks ini, wanita dan pria mempunyai posisi yang sama di lapangan kepemimpinan. Sama halnya seperti kewajiban wanita dan pria sebagai seorang mukallaf (orang yang diberi beban oleh Allah SWT) untuk tunduk dan patuh dalam beribadah kepada Allah SWT dan amar ma’ruf nahyil munkar.

Lajnah Bahtsul Masail NU pada tahun 1999 pernah bermusyawaroh terkait kebolehan wanita menjadi seorang pemimpin negara. Dalam pertemuan tersebut, para kyai berpendapat bahwa kepemimpinan negara pada era demokrasi tidak bisa disamakan dengan kepemimpinan zaman dulu. Kepemimpinan saat ini bisa disamakan dengan jabatan qadhi untuk memutuskan perkara harta, dimana menurut Imam Abu Hanifah, perempuan diperbolehkan menjadi hakim/qadhi dalam konteks pengurusan harta. Imam Ath-Thabari bahkan membolehkan wanita menjadi hakim dalam segara hal. Kedua alasan ini terdapat dalam kitab Bidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusyd.

Jadi, secara garis besar, hadits diatas tidak boleh kita maknai secara tekstual tanpa kita mengetahui asbabul wurud hadits tersebut, karena akan menyebabkan terjadinya diskriminasi antara fakta psikis wanita dan pria yang sebetulnya sama-sama memiliki hak yang sepadan dalam berbagai hal, terutama dalam konteks kepemimpinan. Mari kita fahami hadits tersebut secara komprehensif sehingga wanita juga mempunyai kesempatan yang sama dalam konteks memegang tampuk kekuasaan negara. Asalkan, wanita tersebut adalah representasi kontekstual mafhum mukholafah dari asbabul wurud hadits diatas. Yakni, wanita yang tidak lalim dan tidak berkhianat kepada rakyatnya. Dalam arti lain, wanita tersebut mempunyai integritas yang dapat dipertanggungjawabkan dan mampu menjadi seorang pemimpin yang dapat menciptakan kesejahteraan rakyat dan rahmatan lil alamin.

Kepemimpinan Wanita dalam Sejarah Dunia

Sejarah adalah sesuatu yang bisa kita jadikan cermin atas apa yang harus kita lakukan saat ini. termasuk dalam hal peran wanita dalam organisasi dan kepemimpinan. Fakta sejarah membuktikan bahwa tidak semua wanita mempunyai sifat BAPER dan PMS berlebih sepeti yang sering dijadikan brand oleh para pria terhadap wanita saat ini. kita semua pasti mengenal kepemimpinan wanita yang berhasil membawa negerinya menjadi makmur dan sejahtera, seperti kepemimpinan Cleopatra, Corie Aquino, Margareth Theacher, Benazir Butho, dan yang jauh lebih hebat lagi adalah kepemimpinan Ratu Balqis yang mampu membawa kemakmuran bagi negaranya sehingga hampir menandingi kerajaan Nabi Sulaiman AS yang kemudian termaktub dalam Al-Qur’an sebagai Baldatul Toyyibatul Warabbun Ghofur.

Selain itu, kita pasti mengenal Siti Aisyah RA, istri Rasulullah SAW yang mempunyai intelektualitas yang diakui oleh para Sahabat dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang patut dibanggakan. Beliau juga adalah seorang muslimah yang paling banyak meriwayatkan hadits Rasulullah SAW. Sehingga banyak dari para sahabat yang sering meminta pendapat beliau ketika hendak mencari solusi atas suatu permasalahan.

Di Indonesia saat ini, ada pula banyak tokoh perempuan yang mampu menjadi pemimpin seperti Ibu Tri Rismaharini yang memimpin Kota Surabaya dengan mendapat banyak penghargaan atas kepemimpinannya. Selain itu, Ibu Khofifah Indar Parawansa yang dengan gagah berani menjadi penantang Pak Karwo dalam memperebutkan posisi orang nomor satu di Jawa Timur dan saat ini menjadi Menteri Sosial dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK.

Dari beberapa fakta sejarah yang telah diuraikan, penulis meyakini bahwa wanita bukanlah kaum yang lemah, bukan golongan kelas dua setelah pria, bukan hanya dikodratkan sebagai penghuni dapur dan kasur seperti pandangan yang melekat pada mayoritas masyarakat umum hingga saat ini. Sesuai dengan teori gender, bahwa wanita memang berbeda dengan pria secara biologis, namun tidak berbeda secara psikologis. Wanita sama halnya dengan pria dalam hal keberanian, intelektualitas, dan juga kepemimpinan. Jadi, pantas dan sah-sah saja ketika seorang wanita menjadi seorang pemimpin. Terkait atas apa yang menjadi pandangan umum saat ini, itu dipengaruhi karena adanya budaya patriarki, yaitu suatu budaya yang lebih mengedepankan peran pria diatas wanita. Dan ternyata, banyak wanita yang secara tidak langsung “mengamini” adanya hal tersebut. Ketika kita memahami sejarah dan ajaran islam secara komprehensif, penulis meyakini bahwa hal itu sudah tidak relevan lagi saat ini. Karena sejatinya, islam sangat memulyakan peran wanita dan eksistensi wanita pada era ini juga diperlukan dalam kontribusinya membangun agama, nusa dan bangsa.

Bangkitlah Wahai Wanita Ulul Albab Penerus Bangsa

tri-risma
Tri Rismaharini (Walikota Kota Surabaya)

Paparan diatas adalah apa yang ingin penulis share kepada para wanita pada umumnya, mahasiswi UIN pada khususnya. Dengan harapan, uraian diatas menjadi motivasi dan membakar ghiroh mahasiswi semua dalam mengembangkan diri dan tidak terbatas pada stigma negatif dan pandangan diskriminatif yang membunuh semangat wanita muda dalam pengembangan dirinya dari segi intelektualitas dan kepemimpinan. Jangan ragu untuk kemudian belajar memimpin dan belajar berorganisasi. Warnai organisasi kemahasiswaan di kampus dengan kapabilitas sahabati yang mampu dibuktikan melalui aktualisasi diri di organisasi. Sehingga organisasi kemahasiswaan di UIN Maliki Malang akan lebih terlihat luar biasa karena kemudian dapat mencetak kader-kader wanita pergerakan yang mempunyai integritas dan mampu menjadi pemimpin bangsa ini. Jangan ragu untuk menjadi aktivis mahasiswa karena status biologis, Ibu Khofifah dan Ibu Risma dulunya adalah aktivis mahasiswa yang sangat luar biasa. Beliau terus mengasah kapasitas kepemimpinannya di organisasi sehingga hari ini mampu berpartisipasi aktif dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik lagi.

Penulis juga pernah mempelajari bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang jabatan tinggi saja seperti yang telah diuraikan diatas, kepemimpinan juga berbicara tentang jiwa. Jabatan tidak lebih penting dari jiwa kepemimpinan. Jabatan mempunyai batas waktu, namun jiwa kepemimpinan tak kenal waktu dan akan mengantarkan sahabati menjadi wanita yang luar biasa. Sehingga dalam ruang lingkup kecil seperti rumah tangga, sahabati mampu mendidik generasi kecil sahabati secara tepat dengan jiwa kepemimpinan yang dimiliki sahabati dan menjadikan keturunannya sebagai generasi penerus bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmunya, serta berkomitmen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam ruang lingkup yang lebih luas, kapasitas kepemimpinan sahabati akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan mengantarkan Indonesia menjadi Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghofuur. Semoga. Mari Berorganisasi, wahai Mahasiswi UIN Maliki Malang, buktikan bahwa sahabati adalah generasi muslimah penerus bangsa di garda terdepan. Habis Gelap Terbitlah Terang. Wallahu a’lam.

Malang, 18/10/2015 06:59 WIB

Fawwaz M. Fauzi

KH Wahid Hasyim, dari Pesantren untuk Bangsa

kyai-wahid-hasyim1-160x100KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra kelima dari pasangan KH. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti Kyai Ilyas. Anak lelaki pertama dari 10 bersaudara ini lahir pada hari Jumat legi, Rabiul Awwal 1333 H, bertepatan dengan 1 Juni 1914 M, ketika di rumahnya sedang ramai dengan pengajian.

Wahid Hasyim adalah salah seorang dari sepuluh keturunan langsung KH. Hasyim Asy’ari. Silsilah dari jalur ayah ini bersambung hingga Joko Tingkir, tokoh yang kemudian lebih dikenal dengan Sultan Sutawijaya yang berasal dari kerajaan Demak. Sedangkan dari pihak ibu, silsilah itu betemu pada satu titik, yaitu Sultan Brawijaya V, yang menjadi salah satu raja Kerajaan MAtaram. Sultan Brawijaya V ini juga dikenal dengan sebutan Lembu Peteng.
t;
Kesepuluh putra KH. Hasyim Asy’ari itu adalah Hannah, Khairiyah, Aisyah, Izzah, Abdul Wahid, A. Khaliq, Abdul Karim, Ubaidillah, Masrurah, dan Muhammad Yusuf. Sementara itu, dengan Nyai Masrurah KH. Hasyim Asy’ari dikaruniai empat putera, yakni Abdul Kadir, Fatimah, Khodijah dan Ya’kub.

Mondok Hanya Beberapa Hari
Abdul Wahid mempunyai otak sangat cerdas. Pada usia kanak-kanak ia sudah pandai membaca al-Qur’an, dan bahkan sudah khatam al-Qur’an ketika masih berusia tujuh tahun. Selain mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, Abdul Wahid juga belajar di bangku Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng. Pada usia 12 tahun, setamat dari Madrasah, ia sudah membantu ayahnya mengajar adik-adik dan anak-anak seusianya.

Sebagai anak tokoh, Abdul Wahid tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Pemerintah Hindia Belanda. Ia lebih banyak belajar secara otodidak. Selain belajar di Madrasah, ia juga banyak mempelajari sendiri kitab-kitab dan buku berbahasa Arab. Abdul Wahid mendalami syair-syair berbahasa Arab dan hafal di luar kepala, selain menguasai maknanya dengan baik.

Pada usia 13 tahun ia dikirim ke Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. Ternyata di sana ia hanya bertahan sebulan. Dari Siwalan ia pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Lagi-lagi ia di pesantren ini mondok dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa hari saja. Dengan berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu, seolah-olah yang diperlukan Abdul Wahid hanyalah keberkatan dari sang guru, bukan ilmunya. Soal ilmu, demikian mungkin ia berpikir, bisa dipelajari di mana saja dan dengan cara apa saja. Tapi soal memperoleh berkah, adalah masalah lain, harus berhubungan dengan kyai. Inilah yang sepertinya menjadi pertimbangan utama dari Abdul Wahid ketika itu.

Sepulang dari Lirboyo, Abdul Wahid tidak meneruskan belajarnya di pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah. Oleh ayahnya pilihan tinggal di rumah dibiarkan saja, toh Abdul Wahid bisa menentukan sendiri bagaimana harus belajar. Benar juga, selama berada di rumah semangat belajarnya tidak pernah padam, terutama belajar secara otodidak. Meskipun tidak sekolah di lembaga pendidikan umum milik pemerintah Hindia Belanda, pada usia 15 tahun ia sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris dan Belanda. Kedua bahasa asing itu dipelajari dengan membaca majalah yang diperoleh dari dalam negeri atau kiriman dari luar negeri.

Menerapkan Sistem Madrasah ke Dalam Sistem Pesantren
Pada 1916, KH. Ma’sum, menantu KH. Hasyim Asy’ari, dengan dukungan Wahid Hasyim, memasukkan sistem Madrasah ke dalam sistem pendidikan pesantren. Ada tujuh jenjang kelas dan dibagi menjadi dua tingkatan. Tahun pertama dan kedua dinamakan siffir awwal dan siffir tsani, yaitu masa persiapan untuk memasuki masa lima tahun jenjang berikutnya. Pada siffir awwal dan siffir tsani diajarkan khusus bahasa Arab sebagai landasan penting pembedah khazanah ilmu pengetahuan Islam. Pada tahun 1919, kurikulum madrasah tersebut ditambah dengan pendidikan umum, seperti bahasa Indonesia (Melayu), berhitung dan Ilmu Bumi. Pada 1926, KH. Mauhammad Ilyas memasukkan pelajaran bahasa Belanda dan sejarah ke dalam kurikulum madrasah atas persetujuan KH. Hasyim Asy’ari.

Pembaharuan pendidikan Pesantren Tebuireng yang dilakukan KH. Hasyim Asy’ari, berikut murid dan puteranya, bukan tanpa halangan. Pembaharuan pendidikan yang digagasnya menimbulkan reaksi yang cukup hebat dari masyarakat dan kalangan pesantren, sehingga banyak juga orang tua santri memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain, karena dengan pembaharuan tersebut Pesantren Tebuireng dipandang sudah terlalu modern. Reaksi tersebut tidak menyurutkan proses pembaharuan Pesantren Tebuireng. Hal tersebut terus berlangsung dan dilanjutkan oleh Wahid Hasyim dengan mendirikan madrasah modern di lingkungan pesantren.

Berangkat ke Mekkah
Pada tahun 1932, ketika menginjak usia 18 tahun, ia dikirim ke Mekkah, di samping untuk menunaikan rukun Islam kelima juga untuk memperdalam berbagai cabang ilmu agama. Kepergiannya ke Mekkah ditemani oleh saudara sepupunya, Muhammad Ilyas, yang kelak menjadi Menteri Agama. Muhammad Ilyas memiliki jasa yang besar dalam membimbing Abdul Wahid sehingga tumbuh menjadi remaja yang cerdas. Muhammad Ilyas dikenal fasih dalam bahasa Arab, dan dialah yang mengajari Abdul Wahid bahasa Arab. Di tanah suci ia belajar selama dua tahun.

Dengan pengalaman pendidikan tersebut, tampak ia sebagai sosok yang memiliki bakat intelektual yang matang. Ia menguasai tiga bahasa asing, yaitu bahasa Arab, Inggris dan Belanda. Dengan bekal kemampuan tiga bahasa tersebut, Wahid Hasyim dapat mempelajari berbagai buku dari tiga bahasa tersebut. Otodidak yang dilakukan Wahid Hasyim memberikan pengaruh signifikan bagi praktik dan kiprahnya dalam pendidikan dan pengajaran, khususnya di pondok pesantren termasuk juga dalam politik.

Setelah kembali dari Mekkah, Wahid Hasyim merasa perlu mengamalkan ilmunya dengan melakukan pembaharuan, baik di bidang sosial, keagamaan, pendidikan dan politik. Pada usia 24 tahun (1938), Wahid Hasyim mulai terjun ke dunia politik. Bersama kawan-kawannya, ia gencar dalam memberikan pendidikan politik, pembaharuan pemikiran dan pengarahan tentang perlunya melawan penjajah. Baginya pembaharuan hanya mungkin efektif apabila bangsa Indonesia terbebas dari penjajah.

Menikah
Pada usia 25 tahun, Abdul Wahid mempersunting gadis bernama Solichah, putri KH. Bisri Syansuri, yang pada waktu itu baru berusia 15 tahun. Pasangan ini dikarunai enam anak putra, yaitu Abdurrahman ad-Dakhil (mantan Presiden RI), Aisyah (Ketua Umum PP Muslimat NU, 1995-2000), Shalahudin al-Ayyubi (Insinyur lulusan ITB/Pengasuh PP. Tebuireng Jombang, sesudah KH. Yusuf Hasyim), Umar (dokter lulusan UI), Khadijah dan Hasyim.

Empat Tahun Sebelum Masuk Organisasi
Jangan ada orang yang memasuki suatu organisasi atau perhimpunan atas dasar kesadaran kritisnya. Pada umumnya orang yang aktif dalam sebuah organisasi atas dasar tradisi mengikuti jejak kakek, ayah, atau keluarga lain, karena ikut-ikutan atau karena semangat primordial. Tidak terkecuali bagi kebanyakan warga NU. Sudah lazim orang masuk NU karena keturunan; ayahnya aktif di NU, maka secara otomatis pula anaknya masuk dan menjadi aktivis NU. Kelaziman seperti itu agaknya tidak berlaku bagi Wahid Hasyim. Proses ke-NU-an Abdul Wahid Hasyim berlangsung dalam waktu yang cukup lama, setelah melakukan perenungan mendalam. Ia menggunakan kesadaran kritis untuk menentukan pilihan organisasi mana yang akan dimasuki.

Waktu itu April 1934, sepulang dari Mekkah, banyak permintaan dari kawan-kawannya agar Abdul Wahid Hasyim aktif dihimpunan atau organisasi yang dipimpinnya. Tawaran juga datang dari Nahdlatul Ulama (NU). Pada tahun-tahun itu di tanah air banyak berkembang perkumpulan atau organisasi pergerakan. Baik yang bercorak keagamaan maupun nasionalis. Setiap perkumpulan berusaha memperkuat basis organisasinya dengan merekrut sebanyak mungkin anggota dari tokoh-tokoh berpengaruh. Wajar saja jika kedatangan Wahid Hasyim ke tanah air disambut penuh antusias para pemimpin perhimpunan dan diajak bergabung dalam perhimpunannya. Ternyata tidak satupun tawaran itu yang diterima, termasuk tawaran dari NU.

Apa yang terjadi dalam pergulatan pemikiran Abdul Wahid Hasyim, sehingga ia tidak kenal secara cepat menentukan pilihan untuk bergabung di dalam satu perkumpulan itu? Waktu itu memang ada dua alternatif di benak Abdul Wahid Hasyim. Kemungkinan pertama, ia menerima tawaran dan masuk dalam salah satu perkumpulan atau partai yang ada. Dan kemungkinan kedua, mendirikan perhimpunan atau partai sendiri.

Di mata Abdul Wahid Hasyim perhimpunan atau partai yang berkembang waktu itu tidak ada yang memuaskan. Itulah yang menyebabkan ia ragu kalau harus masuk dan aktif di partai. Ada saja kekurangan yang melekat pada setiap perhimpunan. Menurut penilaian Abdul Wahid Hasyim, partai A kurang radikal, partai B kurang berpengaruh, partai C kurang memiliki kaum terpelajar, dan partai D pimpinannya dinilai tidak jujur.

”di mata saya, ada seribu satu macam kekurangan yang ada pada setiap partai,” tegas Abdul Wahid Hasyim ketika berceramah di depan pemuda yang bergabung dalam organisasi Gerakan Pendidikan Politik Muslim Indonesia.

Setelah beberapa lama melakukan pergulatan pemikiran Wahid Hasyim akhirnya menjatuhkan pilihannya ke NU. Meskipun belum sesuai dengan keinginannya, tapi dianggap NU memiliki kelebihan dibanding yang lain. Selama ini organisasi-organisasi dalam waktu yang pendek tidak mampu untuk menyebar keseluruh daerah. Berbeda dengan NU dalam waktu yang cukup singkat sudah menyebar hingga 60% di seluruh wilayah di Indonesia. Inilah yang dianggap oleh Wahid Hasyim kelebihan yang dimiliki oleh NU.

Pokok Pemikirannya
Sebagai seorang santri pendidik agama, fokus utama pemikiran Wahid Hasyim adalah peningkatan kualitas sumberdaya umat Islam. Upaya peningkatan kualitas tersebut menurut Wahid Hasyim, dilakukan melalui pendidikan khususnya pesantren. Dari sini dapat dipahami, bahwa kualitas manusia muslim sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya kualitas jasmani, rohani dan akal. Kesehatan jasmani dibuktikan dengan tiadanya gangguan fisik ketika berkatifitas. Sedangkan kesehatan rohani dibuktikan dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah yang kemudian diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Disamping sehat jasmani dan rohani, manusia muslim harus memiliki kualitas nalar (akal) yang senantiasa diasah sedemikian rupa sehingga mampu memberikan solusi yang tepat, adil dan sesuai dengan ajaran Islam.

Mendudukkan para santri dalam posisi yang sejajar, atau bahkan bila mungkin lebih tinggi, dengan kelompok lain agaknya menjadi obsesi yang tumbuh sejak usia muda. Ia tidak ingin melihat santri berkedudukan rendah dalam pergaulan masyarakat. Karena itu, sepulangnya dari menimba ilmu pengetahuan, dia berkiprah secara langsung membina pondok pesantren asuhannya ayahnya.

Pertama-tama ia mencoba menerapkan model pendidikan klasikal dengan memadukan unsur ilmu agama dan ilmu-ilmu umum di pesantrennya. Ternyata uji coba tersebut dinilai berhasil. Karena itu ia kenal sebagai perintis pendidikan klasikal dan pendidikan modern di dunia pesantren.

Untuk pendidikan pondok pesantren Wahid Hasyim memberikan sumbangsih pemikirannya untuk melakukan perubahan. Banyak perubahan di dunia pesantren yang harus dilakukan. Mulai dari tujuan hingga metode pengajarannya.

Dalam mengadakan perubahan terhadap sistem pendidikan pesantren, ia membuat perencanaan yang matang. Ia tidak ingin gerakan ini gagal di tengah jalan. Untuk itu, ia mengadakan langkah-langkah sebagai berikut:

* Menggambarkan tujuan dengan sejelas-jelasnya
* Menggambarkan cara mencapai tujuan itu
* Memberikan keyakinan dan cara, bahwa dengan sungguh-sungguh tujuan dapat dicapai.

Pada awalnya, tujuan pendidikan Islam khususnya di lingkungan pesantren lebih berkosentrasi pada urusan ukhrawiyah (akhirat), nyaris terlepas dari urusan duniawiyah (dunia). Dengan seperti itu, pesantren didominasi oleh mata ajaran yang berkaitan dengan fiqh, tasawuf, ritual-ritual sakral dan sebagainya.

Meski tidak pernah mengenyam pedidikan modern, wawasan berfikir Wahid Hasyim dikenal cukup luas. Wawasan ini kemudian diaplikasikan dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan pendidikan. Berkembangnya pendidikan madrasah di Indonesia di awal abad ke-20, merupakan wujud dari upaya yang dilakukan oleh cendikiawan muslim, termasuk Wahid Hasyim, yang melihat bahwa lembaga pendidikan Islam (pesantren) dalam beberapa hal tidak lagi sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

Apa yang dilakukan oleh Wahid Hasyim adalah merupakan inovasi baru bagi kalangan pesantren. Pada saat itu, pelajaran umum masih dianggap tabu bagi kalangan pesantren karena identik dengan penjajah. Kebencian pesantren terhadap penjajah membuat pesantren mengharamkan semua yang berkaitan dengannya, seperti halnya memakai pantolan, dasi dan topi, dan dalam konteks luas pengetahuan umum.

Dalam metode pengajaran, sekembalinya dari Mekkah untuk belajar, Wahid Hasyim mengusulkan perubahan metode pengajaran kepada ayahnya. Usulan itu antara lain agar sistem bandongan diganti dengan sistem tutorial yang sistematis, dengan tujuan untuk mengembangkan dalam kelas yang menggunakan metode tersebut santri datang hanya mendengar, menulis catatan, dan menghafal mata pelajaran yang telah diberikan, tidak ada kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau berdikusi. Secara singkat, menurut Wahid Hasyim, metode bandongan akan menciptakan kepastian dalam diri santri.

Perubahan metode pengajaran diimbangi pula dengan mendirikan perpustakaan. Hal ini merupakan kemajuan luar biasa yang terjadi pada pesantren ketika itu. Dengan hal tersebut Wahid Hasyim mengharapkan terjadinya proses belajar mengajar yang dialogis. Dimana posisi guru ditempatkan bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar. Pendapat guru bukanlah suatu kebenaran mutlak sehingga pendapatnya bisa dipertanyakan bahkan dibantah oleh santri (murid). Proses belajar mengajar berorientasi pada murid, sehingga potensi yang dimiliki akan terwujud dan ia akan menjadi dirinya sendiri.

Kiprah Sosial Kemasyarakatan dan Kenegaraan
Selain melakukan perubahan-perubahan tersebut Wahid Hasyim juga menganjurkan kepada para santri untuk belajar dan aktif dalam berorganisasi. Pada 1936 ia mendirikan IKPI (Ikatan Pelajar Islam). Pendirian organisasi ini bertujuan untuk mengorganisasi para pemuda yang secara langsung ia sendiri menjadi pemimpinnya. Usaha ikatan ini antara lain mendirikan taman baca.

Pada tahun 1938 Wahid Hasyim banyak mencurahkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan NU. Pada tahun ini Wahid Hasyim ditunjuk sebagai sekretaris pengurus Ranting Tebuireng, lalu menjadi anggota pengurus Cabang Jombang. Kemmudian untuk selanjutnya Wahid Hasyim dipilih sebagai anggota Pengurus Besar NU di wilayah Surabaya. Dari sini karirnya terus meningkat sampai Ma’arif NU pada tahun 1938. Setelah NU berubah menjadi partai politik, ia pun dipilih sebagai ketua Biro Politik NU tahun 1950.

Di kalangan pesantren, Nahdlatul Ulama mencoba ikut memasuki trace baru bersama-sama organisasi sosial modern lainnya, sepeti Muhammadiyah, NU juga membentuk sebuah federasi politik bernama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) lebih banyak di dorong oleh rasa bersalah umat Islam setelah melihat konsolidasi politik kaum nasionalis begitu kuat. Pada tahun 1939, ketika MIAI mengadakan konferensi, Wahid Hasyim terpilih sebagai ketua. Setahun kemudian ia mengundurkan diri.

Wahid Hasyim juga mempelopori berdirinya Badan Propaganda Islam (BPI) yang anggota-anggotanya dikader untuk terampil dan mahir berpidato di hadapan umum. Selain itu, Wahid Hasyim juga mengembangkan pendidikan di kalangan umat Islam. Tahun 1944 ia mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang pengasuhnya ditangani oleh KH. A Kahar Mudzakir. Tahun berikutnya, 1945, Wahid Hasyim aktif dalam dunia politik dan memulai karir sebagai ketua II Majelis Syura (Dewan Partai Masyumi). Ketua umumnya adalah ayahnya sendiri. Sedangkan ketua I dan ketua II masing-masing Ki Bagus Hadikusumo dan Mr. Kasman Singodimejo.

Pada tanggal 20 Desember 1949 KH. Abdul Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama dalam kabinet Hatta. Sebelumnya, yaitu sebelum penyerahan kedaulatan, ia menjadi Menteri Negara. Pada periode kabinet Natsir dan Kabinet Sukiman, Wahid Hasyim tetap memegang jabatan Menteri Agama.

Dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Soekarno pada September 1945, Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Syahrir pada tahun 1946. Pada tahun ini juga, ketika KNIP dibentuk, KH. A Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP.

Selama menjadi Menteri Agama, usahanya antara lain: [1] Mendirikan Jam’iyah al-Qurra’ wa al-Huffazh (Organisasi Qari dan Penghafal al-Qur’an) di Jakarta; [2] Menetapkan tugas kewajiban Kementerian Agama melalui Peraturan Pemerintah no. 8 tahun 1950; [3] Merumuskan dasar-dasar peraturan Perjalanan Haji Indonesia; dan [4] Menyetujui berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dalam kementerian agama.

Pada tahun 1952 KH. Abdul Wahid Hasyim memprakarsai berdirinya Liga Muslimin Indonesia, suatu badan federasi yang anggotanya terdiri atas wakil-wakil NU, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Darul Dakwah wa al-Irsyad. Susunan pengurusnya adalah KH. A Wahid Hasyim sebagai ketua, Abikusno Cokrosuyoso sebagai wakil ketua I, dan H. Sirajuddin Abbas sebagai wakil ketua II.

Sebagai Ketua Umum PBNU
Ketika Muktamar ke 19 di Palembang mencalonkannya sebagai Ketua Umum, ia menolaknya, dan mengusulkan agar KH. Masykur menempati jabatan sebagai Ketua Umum. Kemudian atas penolakan KH. A Wahid Hasyim untuk menduduki jabatan Ketua Umum, maka terpilihlah KH. Masykur menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Namun berhubung KH. Masykur diangkat menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Ali Arifin, maka NU menonaktifkan KH. Masykur selaku ketua umum, dan dengan demikian maka Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Ketua Umum.

Disamping sebagai Ketua Umum PBNU, KH. A Wahid Hasyim menjabat Shumubucho (Kepala Jawatan Agama Pusat) yang merupakan kompensasi Jepang yang waktu itu merasa kedudukannya makin terdesak dan merasa salah langkah menghadapi umat Islam. Awalnya Shumubucho adalah merupakan kompensasi yang diberikan kepada KH. Hasyim Asy’ari, mengingat usianya yang sudah uzur dan ia harus mengasuh pesanten sehingga tidak mungkin jika harus bolak-balik Jakarta-Jombang. Karena kondisi ini, ia mengusulkan agar tugas sebagai Shumubucho diserahkan kepada KH. Abdul Wahid Hasyim, puteranya.

Tokoh Muda BPUPKI
Karir KH. Abdul Wahid Hasyim dalam pentas politik nasional terus melejit. Dalam usianya yang masih muda, beberapa jabatan ia sandang. Diantaranya ketika Jepang membentuk badan yang bertugas menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan atau dikenal dengan BPUPKI. Wahid Hasyim merupakan salah satu anggota termuda setelah BPH. Bintoro dari 62 orang yang ada. Waktu itu Wahid Hasyim berusia 33 tahun, sementara Bintoro 27 tahun.

Sebagai anggota BPKI yang berpengaruh, ia terpilih sebagai seorang dari sembilan anggota sub-komite BPKI yang bertugas merumuskan rancangan preambule UUD negara Republik Indonesia yang akan segera diproklamasikan.

Musibah di Cimindi
Tanggal 19 April 1953 merupakan hari berkabung. Waktu itu hari Sabtu tanggal 18 April, KH. Abdul Wahhid Hasyim bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Berkendaraan mobil Chevrolet miliknya, dengan ditemani seorang sopir dari harian pemandangan, Argo Sutjipto, tata usaha majalah Gema Muslim, dan putra sulungnya, Abdurrahman ad-Dakhil. KH. Abdul Wahid Hasyim duduk di jok belakang bersama Argo Sutjipto.

Daerah sekitar Cimahi dan Bandung waktu itu diguyur hujan dan jalan menjadi licin. Pada waktu itu lalu lintas di jalan Cimindi, sebuah daerah antara Cimahi-Bandung, cukup ramai. Sekitar pukul 13.00, ketika memasuki Cimindi, mobil yang ditumpangi KH. Abdul Wahid Hasyim selip dan sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakang Chevrolet nahas itu banyak iring-iringan mobil. Sedangkan dari arah depan sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil zig-zag karena selip dari arah berlawanan. Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan keras. Saat terjadi benturan, KH. A Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk yang sudah berhenti itu. Keduanya luka parah. KH. Abdul Wahid Hasyim terluka bagian kening, mata serta pipi dan bagian lehernya. Sementara sang sopir dan Abdurrahman tidak cidera sedikit pun. Mobilnya hanya rusak bagian belakang dan masih bisa berjalan seperti semula.

Lokasi kejadian kecelakaan itu memang agak jauh dari kota. Karena itu usaha pertolongan datang sangat terlambat. Baru pukul 16.00 datang mobil ambulan untuk mengangkut korban ke Rumah Sakit Boromeus di Bandung. Sejak mengalami kecelakaan, kedua korban terus tidak sadarkan diri. Pada pukul 10.30 hari Ahad, 19 April 1953, KH. Abdul Wahid Hasyim dipanggil ke hadirat Allah Swt dalam usia 39 tahun. Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 18.00, Argo Sutjipto menyusul menghadap Sang Khalik.

Ditetapkan Sebagai Pahlawan
Berdasarkan Surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 206 tahun 1964 tertanggal 24 Agustus 1964, KH. Abdul Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, mengingat jasa-jasanya sebagai pemimpin Indonesia yang semasa hidupnya terdorong oleh taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan rasa cinta tanah air dan bangsa, telah memimpin suatu kegiatan yang teratur guna mencapai kemerdekaan nusa dan bangsa.

Biografi singkat KH. Abdul Wahid Hasyim disarikan dari buku ”99 Kiai Kharismatik Indonesia” di tulis oleh KH. A. Aziz Masyhuri, terbitan Kutub, Yogyakarta.
dari : pmii.or.id

Gerakan, Galileo dan Gereja

Oleh : Barokat Anas Ahimsa

image

     Sikap keksatriaan untuk memperjuangkan sebuah pemikiran (tepatnya penemuan-penemuan) atas apa yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran, seorang ilmuwan alias profesor matematika dan fisika bernama Galileo Galilei yang terlahir di Negeri Pisa Italia, harus ber-urusan dengan pihak gereja (katolik roma) dengan tuduhan yang serat aroma negatif terhadap nya.

    Namun lain arus cerita, dari sebuah jejak langkah positif yang ditapaki sekelompok mahasiswa, tepatnya para aktifis dari baground Mipa di kampus Islam Negeri Malang , justru menjadikan akar pemikiran dan buah penemuan “ilmiah” dari Galileo sebagai inspirasi sebuah nama organisasi di akar dari seluruh tingkatan level nasional. Bernafaskan Keislaman dan Keindonesiaan, yang biasa dikenal dengan sebutan Districk Of Indonesian Moslem Student Movement.

    Bagaimana catatan kiprah perjuangannya? Saya menulis ini sebagai oretan refleksi personal dan harapan, atas pergulatan organisasi ini.

Akar Yang Tumbuh Itu Bernama PMII Rayon Galileo

   Suatu hal yang wajar ketika mengalir sebuah dinamika pada aras kepemudaan di sebuah komunitas. Dengan munculnya geliat kegelisahan, berupa semangat baru untuk mengawal kemandirian, ke-maujud-an (eksistensi) serta upaya untuk menjahit lebih rapi “tenun” anggotanya yang berserakan tak terurus dalam budaya ber-organisasi.

   Ketika aspek manfaat lebih terlihat dominan, “Tasharruful imam ‘ala ar-ra’iyyah manuthun bil al-mashlahah,” maka langkah-langkah baru segera bisa untuk dilakukan…

    Awal langkah itu, dengan dipelopori barisan mahasiswa-mahasiswi kader dari matematika dan biologi (Tadris di bawah Fak.Tarbiyah-Menjadi MIPA-Sekarang Saintek) yang keberadaannya, karena persoalan fungsional dan organisatoris masih berada dibawah “kungkungan” Rayon Condrodimuko. Terlahir ide dan gagasan besar dengan ikhtiar untuk memisahkan diri secara kelembagaan, guna membentuk struktur organisasi tersendiri yang lebih mapan di setiap aktifitas gerakan dan kaderisasinya.

   Sebuah nilai pembebasan serta kemandirian untuk menghidupkan cahaya bergerak dan berfikir, yang patut di apresiasi secerah-cerah nya.

   Dengan semakin bulatnya tekad dan kemantapan niat. Dipersiapkanlah semua kebutuhan sebagai persyaratan, yang akan di usung dalam perhelatan Rapat Tahunan Komisariat (RTK) sebagai forum musyawarah tinggi di tingkat universitas yang mengatur dan memutuskan adanya dinamisasi organisasi.

    Dan, Tepatnya pada tanggal 7 Robbi’ul Awwal 1421 H (Sabtu, 10 Juni 2000) di tabuhlah Gong secara resmi lahirnya Rayon PMII Galileo. Yang secara legalitas produk hukum organisasi tidak bertentangan.  Merdeeeeeeeeeekaaa…!!!

     Sedangkan labelisasi kata “Pencerahan” yang sarat bermuatan hikmah penyemangat, atau ciri khas ditengah nama Rayon PMII Galileo ini. Jika di singgungkan, ada kaitannya dengan istilah dalam filsafat barat abad delapan belas, yakni Aufklarung. Dimana pada periode ini manusia sedang dalam pencarian akan cahaya baru dalam aktifitas nalarnya. Jadi periode sebelum ini bisa di umpamakan dengan keadaan belum akil baligh. Dengan Immanuel Kant sebagai tokoh kunci.

 

Galileo dan Gereja

     Meski secara garis besar tulisan ini tidak secara detail dan mendalam menyinggung tentang persoalan agama dari latar belakang sang Filsuf Galileo Galilei. Namun ketika membaca “lembaran hitam” perjalanan hidup Seorang Galileo ini, terutama saat masa perjuanganya mengawal dasar pemikiran diertai pembuktian spekatakulernya tentang teori Heliosentris, yang dicetuskan awal oleh Copernicus. Galileo begitu deras mendapat tekanan bahkan ancaman dari pihak gereja roma (pusat agama katolik sedunia) di italia.

    Oleh para agamawan katolik, fatwa-fatwa Galileo yang berasal dari hasil pengamatan, penelitian, dan eksperimen nya di anggap paling bertentangan dengan Al-Kitab sebagai rujukan kitab suci tertinggi lembaga tersebut. Galileo telah menjadi ancaman serius Gereja dengan Al-Kitabnya. Bahkan, Galileo dituduh pula sebagai pelaku bidat(dalam islam dikenal dengan bid’ah) yakni suatu perilaku yang di anggap menyimpang dari tuntunan agama atau syariat.

   Bahkan tidak berhenti disitu, pihak agamawan gereja mencari seribu alasan untuk meredam dan menghukum Galileo, atau jika perlu seorang Galileo harus dilenyapkan. Yang pada akhirnya Galileo diadili pengadilan Gereja, di anggap sebagai penentang ajaran agama. Di paksa mengakui kesalahan dan menghabiskan seluruh sisa hidupnya, menjadi tahanan rumah (pengucilan), hingga akhir kehidupannya.

   Sebuah contoh awal konflik antara otoritas agama dengan kebebasan berpikir (terutama dalam sains) pada masyarakat barat, sebagaimana persinggungan antara Galileo dengan Gereja ini.
Bisa dikatakan kisah tentang eksekusi terhadap Galileo serat dengan kejanggalan, ketika mencoba menggulirkan satu pertanyaan sederhana: Apakah ada larangan di dalam al-kitab (katolik) untuk setiap jemaat nya dalam upaya melakukan eksperimen pemikiran-intelektual nya?  disini akan kita temukan pembuktian paska Galileo wafat, dan upaya-upaya kebohongan yang dimunculkan para agamawan gereja katolik roma kala itu. Dan bahwa, oase kerinduan para filosof dan khalayak terhadap sosok Galileo Galilei terus bergulir hingga detik ini.

     Jadi, Sebagai sosok yang dijadikan nama organisasi (Rayon) kita sampai hari ini. Filsof  yang bernama lengkap Galileo di Vincenzo Bonaiuti de’ Galilei, lahir di pisa wilayah toscana Italia tanggal 15 Februari 1564, dan meninggal 8 Januari 1642 (77 tahun). Sebuah peristiwa yang mungkin layak kedepannya kita peringati dengan memberikan do’a (hablum mina-nas) sebagai wujud penghormatan atas pemikiran-perjuangan mendiang Galileo.

Tantangan dan Harapan

    Dalam rytme sejarah nya, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon “Pencerahan” Galileo lahir sebagai suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman. Dengan tetap berpegang erat pada istilah dalam diktum (Qoidah Fiqhiyah) seperti “Al-muhafazatu ‘alal qadimi ash-shalih wal-ahdzu bil jadid al-ashlah” untuk sekedar dijadikan petunjuk dalam mendorong, mengawal, dan sekaligus mengevaluasi setiap gerak langkah pergerakan ini.
   

    Kun Ibna Zamaanika. Jadilah “Generasi Emas” Zamanmu, tidak perlu kiranya terlampau jauh menengok pada spion retak yang dilakukan periodeisasi sebelummu. Cukuplah berfikir serta ikhtiar dalam proses dinamisasi, hari ini dan esok nanti. Dengan model kanvas organisasi yang di landaskan pada karakteristik di setiap zamannya. Semoga manfaat…

Wallahu a’alam wa galileo bish shawab

Manifestasi Trilogi PMII Sebagai Pola Gerak Kader Pergerakan

Oleh: Mohammad Izzuddin

pmii-ASLI144x144Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia mempunya beberapa pedoman dalam kesehariannya sebagai Organisasi. Diantaranya produk yang sering dirujuk oleh kebanyakan kader PMII adalah Buku Konstitusi (AD/ART dan PO), Buku Kaderisasi, Manhajul Fikr, Nilai Dasar Pergerakan (NDP), dll. Bahkan di usia PMII yang saat ini menginjak 55 tahun, perkembangan produk-produk PMII pun bisa dikatakan sudah menjamah ke tiap-tiap basis Komisariat dan Rayon. Hal itu yang kemudian bisa menjadi representasi kemandirian Kader untuk terus menghasilkan karyanya sebagai konsumsi khalayak banyak.

Namun, ada beberapa hal yang saat ini perlu adanya kesepahaman dan rekontruksi ulang pola pikir serta pola gerak Kader PMII. Yakni, peninjauan kembali atau yang bisa disebut dengan menengok kembali produk terdahulu PMII. Dalam hal ini, saya mengambil contoh Trilogi PMII.

Di kedewasaan PMII saat ini, juga mempengaruhi kedewasaan pemikiran dan gerak Kadernya. Dalam arti, semakin menua PMII maka akan semakin banyak Kader yang tak ingat akan sejarah atau hal-hal terdahulu PMII. Adanya Trilogi PMII terinspirasi dari sifat-sifat PMII (keagamaan, kemahasiswaaan, kebangsaan, kemasyarakatan independen dan professional) dan memiliki tujuan terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya, serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Dengan isi daripada Trilogi PMII itu sendiri adalah Tri Khidmat, Tri Komitmen, Tri Motto yang dari masing-masing itu masih terbagi atas tiga inti daripada kesemuanya.

Tri Motto yang memiliki klasifikasi Dzikir, Fikir, Amal Sholeh adalah hal pertama yang harus ditancapkan betul-betul pada tiap Kader. Sebagaimana Dzikir memiliki esensi bahwa setiap insan harus dan selalu mengingat akan keberadaan Allah SWT sebagai Sang Khaliq. Fikir adalah sebuah istilah dimana setiap insan dikatakan ada apabila bisa dan mampu untuk berfikir sebagai esensi dari keberadaan manusia itu sendiri. Amal Sholeh merupakan titik dimana kebanyakan Kader mengasumsikannya sebagai sebuah hasil  maksimal dari tiap proses yang dilalui.

Tri Komitmen juga diklafisikasikan menjadi Kejujuran, Kebenaran, Keadilan yang ketiganya memiliki kesinambungan satu sama lain secara berurutan. Kejujuran disini merupakan suatu nilai mutlak yang harus dijadikan pedoman untuk tiap-tiap Kader dalam berkehidupan, yang kemudian akan tercapainya kepada suatu Kebenaran mutlak untuk menjadi pola pikir yang haru di implementasikan masing-masing Kader. Keadilan adalah suatu wujud akhir dari Tri Komitmen yang kemudian menjadi pemahaman bersama bahwa sebuah Keadilan harus benar-benar ditegakkan oleh tiap-tiap Kader PMII.

Tri Khidmat yang menjadi kesempurnaan Trilogi PMII ini juga diklasifikasikan menjadi Taqwa, Intelektual, Profesional adalah sebuah perwujudan dimana di Tri Khidmat ini tiap Kader PMII harus benar-benar paham siapa, apa, dan bagaimana diri mereka dengan melihat kondisi kekinian yang ada. Taqwa ini merupakan suatu hal yang sudah sangat jelas dipahami oleh tiap-tiap Kader PMII yang mana hal ini telah termaktub dalam tujuan PMII itu sendiri, untuk kemudian Kader memahami akan nilai kataqwaan pada masing-masing individu. Intelektual adalah sebuah istilah dimana keharusan akan kapasitas dan kompetensi intelektual Kader harus berdaya dan benar-benar difungsikan, baik sesuai disiplin ilmu yang dibidangi atau yang lainnya untuk kemudian dapat menjawab dinamika organisasi dan hal kemasyarakatan. Profesional juga suatu hal yang harus dipahami oleh tiap Kader PMII, dalam arti profesionalitas lah yang nantinya akan membangun konstruk sosial yang baik untuk lokus sektoral maupun global.

Dalam kesemua poin Trilogi PMII tersebut sudah sangat jelas bahwa, hal tersebut merupakan sesuatu yang fundamental bagi pola gerak dan pemikiran yang mana pada saat ini telah terindikasi adanya pereduksian pola pikir dan gerak Kader secara substansial maupun esensial.

SALAM PERGERAKAN !!!!!

 64bendera pmii

Titik Penting Perkembangan Sains dan Teknologi Indonesia menuju Republik…

Oleh : Fawwaz Muhammad Fauzi

_timthumb-project-code.php
Indonesia berdaulat!

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia dan hal ini, berdasarkan Protokol Nagoya, akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Protokol Nagoya sendiri merumuskan tentang pemberian akses dan pembagian keuntungan secara adil dan merata antara pihak pengelola dengan negara pemilik sumber daya alam hayati, serta memuat penjelasan mengenai mekanisme pemanfaatan kekayaan sumber daya alam tersebut.

Tingginya tingkat biodiversitas Indonesia ditunjukkan dengan adanya 10% dari tanaman berbunga yang dikenal di dunia dapat ditemukan di Indonesia, 12% dari mamalia, 16% dari hewan reptil, 17% dari burung, 18% dari jenis terumbu karang, dan 25% dari hewan laut. Di bidang agrikultur, Indonesia juga terkenal atas kekayaan tanaman perkebunannya, seperti biji coklat, karet, kelapa sawit, cengkeh, dan bahkan kayu yang banyak diantaranya menempati urutan atas dari segi produksinya di dunia.

Sumber daya alam di Indonesia tidak terbatas pada kekayaan hayatinya saja. Berbagai daerah di Indonesia juga dikenal sebagai penghasil berbagai jenis bahan tambang, seperti petroleum, timah, gas alam, nikel, tembaga, bauksit, timah, batu bara, emas, dan perak. Di samping itu, Indonesia juga memiliki tanah yang subur dan baik digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Wilayah perairan yang mencapai 7,9 juta km2 juga menyediakan potensi alam yang sangat besar.

Data dan fakta yang telah diurai ternyata tidak kemudian menjadikan Indonesia sebagai Negara dengan tingkat kesejahteraan penduduk yang tinggi. Kemiskinan merajalela, pemulung, pengemis, pengamen berserakan hampir diseluruh pelosok kota di Indonesia yang mengindikasikan tingginya tingkat pengangguran di Indonesia. Bahkan dari beberapa sektor, Indonesia masih mengandalkan produk impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, seperti, beras, minyak bumi, minielektronik, mobil motor, mainan anak-anak, dan lain-lain. Fakta yang tidak kalah untuk disimak dan direnungi adalah bahwa hutang Republik Indonesia yang mencapai 2,600 Triliun Rupiah.

555ee3ba0423bdc37d8b4567
Mobil Listrik ala Ricky Elson

Realita yang terjadi ini jelas memukul telak harga diri kita sebagai bangsa Indonesia dan harus kita analisa terkait apa yang menyebabkan kasus Dutch Disease ini terjadi terhadap Republik kita tercinta. Dalam kacamata seorang saintis, sekurang-kurangnya, ada dua hal yang harus kemudian dibenahi bersama, yaitu Pertama, Lemahnya sistem dan realisasi sistem pemerintahan dan demokrasi Indonesia. Carut marutnya perpolitikan di Indonesia menyebabkan dampak yang sangat signifikan terhadap perkembangan Negara ini. Banyaknya tragedi money politic, korupsi, dan kongkalikong pemodal-pejabat. Hal ini berdampak pada proses pengambilan kebijakan diberbagai sektor, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, teknologi, sains, lingkungan, dan lain-lain. Kedua, Pemberdayaan ilmuwan dan praktisi sains dan teknologi terapan yang sangat minim. Masih kita ingat terkait sikap apatis pemerintah kepada Seorang Bj. Habibi yang sangat luar biasa dengan karyanya yang berupa kontruksi pesawat Terbang, Kemudian Ir. Surono Danu dengan Karyanya Bibit Unggul Lokal Sertani, sampai berita yang baru kemarin menggetarkan bangsa Indonesia ini adalah Ricky Elson: Sang putra petir Indonesia Pembuat Mobil Listrik serta masih banyak ilmuan lainnya yang tidak bisa disebutkan semuanya. Kesemuanya tidaklah bodoh, mereka bahkan telah diakui kehebatannya di dunia internasional. Namun apa yang dilakukan pemerintah kita yang lagi-lagi selalu berpihak pada kepentingan pemodal untuk kesejahteraan pribadi semata dan mengesampingkan apa yang diharapkan oleh putra emas bangsa.

Berdasarkan beberapa statement yang telah disampaikan, bahwa generasi penerus bangsa yang tak lain adalah mahasiswa harus mempunyai semangat juang yang tinggi untuk memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia melalui rekonstruksi besar-besaran atas segala hal yang mengganggu kemajuan Indonesia menuju Negara yang berdaulat dan berdikari. Dalam konteks mahasiswa sains dan teknologi, sudah sepatutunya memperjuangkan kebijakan yang pro-aktif terhadap kemajuan sains dan teknologi Indonesia yang berbasis pemberdayaan putra bangsa, bukan kemudian terus menerus kita menjadi bangsa yang konsumtif dan menjadi anak manja bangsa lain dengan sikap pemerintah yang sangat hijau dengan kepentingan pemodal dan apatis terhadap kepentingan bangsanya. Hal tersebut menjadi harga mati, karena tanpa dukungan kebijakan yang pro-aktif dari pemerintah, apapun yang diupayakan oleh ilmuwan kita tidak akan bisa terealisasi dengan sempurna, seperti apa yang sering terjadi dalam beberapa dekade ini. Selain itu, mahasiswa sains dan teknologi juga tetap harus kontributif terhadap perkembangan sains dan teknologi internasional seperti yang telah dilakukan oleh para ilmuwan pendahulu kita.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Pencerahan Galileo hadir di lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maliki Malang sebagai organisasi yang siap bergerak di garda terdepan untuk sama-sama mendukung dan berpartisipasi dalam menyokong kemajuan Indonesia menuju Negara yang benar-benar berdaulat secara komprehensif melalui semangat yang membara dibawa titik api matahari pagi demi memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia, terfokus pada Kedaulatan di bidang sains dan teknologi. Sehingga kita sebagai bangsa Indonesia dapat berdaulat atas apa yang dikehendakinya dan berdikari atas apa yang dimilikinya. Hal tersebut diatas memang tidak mudah untuk dicapai dan perlu melalui proses yang panjang dan istiqomah. Namun melalui semangat idealisme dan gerakan moral yang dimiliki PMII disokong dengan citra diri Ulul Albab sebagai identitas PMII melalui Triloginya, (dzikir, fikir, amal sholeh – taqwa, intelektual, professional – kebenaran kejujuran, keadilan) hal tersebut tidak menjadi hal yang mustahil untuk kita capai. Mari bergerak bersama PMII Pencerahan Galileo menuju Kedaulatan Sains dan Teknologi Indonesia.

 

KEDAULATAN ADALAH HARGA MATI!!!

Pola Kaderisasi Melalui 3 Pilar PMII

jjjjjjjjjjj
I’m PMII

Kaderisasi merupakan hal yang sangat vital bagi organisasi PMII. Karena memang dari proses awal hingga akhir pada kaderisasi ini akan melahirkan atau mencetak istilah yang disebut kader. Kader adalah orang yang mampu menjalankan amanat, memiliki kapasitas pengetahuan dan keahlian, pemegang tongkat estafet sekaligus membingkai keberadaan dan kelangsungan organisasi. Karena pada dasarnya, kader adalah ujung tombak bagi tiap organisasi yang nantinya akan meneruskan kontinyuitas roda organisasi. Sedangkan pengkaderan berarti proses bertahap dan terus-menerus sesuai tingkatan, capaian, situasi, dan kebutuhan tertentu, yang memungkinkan seorang kader dapat mengembangkan potensi akal, kemampuan fisik, moral, dan sosialnya. Sehingga kader dapat membantu orang lain dan dirinya sendiri untuk memperbaiki keadaan sekarang demi mewujudkan masa depan yang lebih baik sesuai dengan cita – cita yang diidealkan, nilai – nilai yang diyakini serta misi perjuangan yang diemban. Sistem pengkaderan PMII sendiri adalah totalitas pembelajaran yang dilakukan secara terarah, terencana, sistematik, terpadu, berjenjang, dan berkelanjutan untuk mengembangkan potensi, mengasah kepakaan, melatih sikap, memperkuat karakter, mempertinggi harkat dan martabat, memperluas wawasan, dan meningkatkan kecakapan insan – insan pergerakan agar menjadi manusia yang muttaqin, beradap, berani,santun, cendik – cendikia, berkarakter, terampil, loyal, peka, dan gigih menjalankan roda organisasi dalam upaya pencapaian cita – cita dan perjuangannya (Multi Level Strategi Gerakan PMII, PB PMII; 2006).

Meskipun tiap orang memiliki pola kaderisasi / pendampingan yang berbeda, namun harus tetap terarah pada pola pengkaderan PMII yang terus mengupayakan untuk terwujudnya prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang digali serta dikembangan dari 3 pilar pengkaderan PMII yakni: pertama semangat gerakan ketrampilan dan daya intelektualitasnya sebagai (ke)MAHASISWA(an); kedua keyakinan, pemahaman, pelaksanaan, dan penghayatannya atas ajaran (ke)ISLAM(an); serta ketiga pengetahuan, wawasan, komitmen dan pembelaannya atas kelangsungan negara-bangsa (ke)INDONESIA(an). Karena model gerakan kaderisasi apapun yang diperjuangkan PMII harus diupayakan untuk merujuk sekaligus bermuara pada penegasan tiga pilar diatas, yakni Kemahasiswaan, Keislaman, dan KeIndonesiaan. Oleh karena itu, apapun orientasi dari tiap-tiap kader sebaiknya tetap dan terus diarahkan sesuai dengan kapasitas dan karakter tiap kader tanpa menafikkan tiga pilar pengkaderan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Ikuti Survei Ini ‘Pola Hubungan PMII dan NU’

survey-160x100Menyongsong Mukhtamar Nahdlatul Ulama (NU) yang akan dilaksanakan di Jombang Jawa Timur pada awal Agustus mendatang, Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Bidang Pendidikan, riset dan Teknologi, mengadakan survei terkait pola hubungan PMII dan NU. Survei bisa diikuti oleh seluruh anggota, kader maupun alumni PMII di seluruh Indonesia.

Adapun tujuan diselenggarakannya survei ini adalah untuk menggalang seluruh aspirasi Keluarga Besar PMII, yang tetap menginginkan PMII berada pada posisi independen, atau justru menginginkan PMII kembali menjadi Badan Otonom (Banom) NU.

Hasil survei akan dijadikan sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi PB PMII, dalam mengambil kebijakan terkait pola hubungan PMII dan NU. Untuk berpartisipasi dalam survei ini, pastikan sahabat/i memiliki akun gmail. Jika sahabat/I telah memiliki akun gmail, klik Survei Pola Hubungan PMII dan NU untuk mengisi form dan kuisioner yang disediakan.

Penggalangan aspirasi akan dikumpulkan, dan ditutup hingga 31 Mei 2015. Agar survei ini berjalan dengan efektif, diharapkan kepada sahabat/I untuk berpartisipasi aktif menyebarluaskan informasi terkait diselenggarakannya survei ini kepada anggota, kader maupun alumni PMII.

FROM: PMII.OR.ID

Teknik dan Mekanisme Persidangan

Apa itu persidangan ?

mk-sidang
Persidangan di Mahkamah Konstitusi RI

Secara substantif, persidangan adalah tempat berkumpulnya ide-ide dan gagasan dalam sebuah forum, untuk mencapai keputusan bersama dan di rangkum dalam regulasi formal yang berasaskan musyawarah mufakat (demokrasi).

Berkumpulnya ide dan gagasan disini diartikan sebagai bentuk penyatuan gagasan-gagasan pro kontra yang sebenarnya mempunyai orientasi sama. Di pimpin oleh presidium sidang yang independen, dijalankan dan diawasi oleh peserta sidang yang mengerti regulasi, dan di implementasikan – apa-apa yang dihasilkan – dalam persidangan membuat proses pengambilan keputusan mengandung validitas dan hasil yang optimal.

Meskipun dalam persidangan keputusan yang mayoritas bukanlah selalu keputusan yang paling benar, namun, dalam implementasinya kelemahan tersebut menjadi parameter bahwa untuk menghasilkan keputusan mayoritas dibutuhkan rasionalisasi rasional untuk meyakinkan forum mengikuti pokok fikiran yang akan ditawarkan.

Walaupun berasaskan pada musyawarah mufakat, prinsip-prinsip demokrasi seperti Votting dan Lobying juga menjadi ciri tersendiri dalam persidangan. Vottingdan Lobying – secara berturut turut – dilakukan setelah terjadi deadlock pada musyawarah mufakat dalam pengambilan keputusan.

 

Macam-macam persidangan (organisasi)

 

  1. Sidang pleno :

Sidang yang dihadiri oleh seluruh peserta sidang. Termasuk kedalam kategori  sidang ini adalah; Sidang pendahuluan yang biasanya untuk menetapkan jadwal tata tertib dan pemilihan presidium sidang. Sidang pleno juga ada di tengah persidangan untuk mengesahkan laporan pertanggungjawaban yang dipimpin oleh presidium sidang.

  1. Sidang paripurna :

Persidangan lengkap yang dihadiri oleh unsur-unsur representatif yang memiliki kekuatan yang lebih besar dan kuat, baik dari segi masalah ataupun peserta persidangan, biasanya berisi tentang pengesahan hasil-hasil sidang.

  1. Sidang komisi :

Sidang yang diikuti oleh peserta terbatas (anggota komisi), sidang ini diadakan untuk pematangan materi sebelum diplenokan, dipimpin oleh pimpinan komisi.

  1. Sidang sub komisi :

Sidang ini lebih terbatas dalam sidang komisi guna mematangkan materi lanjut.

  1. Sidang istimewa :

Sidang Istimewa merupakan persidangan yang dilakukan oleh suatu organisasi dalam kerangka pengambilan keputusan yang bersifat mendesak dan berada dalam keadaan genting. Misalnya dalam negara kita, sidang istimewa guna menurunkan Gus- Dur dari kursi Presiden. (dalam konteks tujuan dalam organisasi, siding ini bisa di analogikan juga sebagai MUSMALUB).

 

Sifat-sifat persidangan

 

Karena Persidangan pada prinsipnya untuk mengambil keputusan, maka dalam prosesnya tidak jarang terjadi dinamika yang mengarah pada sifat yang terpola pada kepentingan para peserta sidang. Ada dua macam sifat persidangan, diantaranya adalah :

– Persidangan profesional

Persidangan Profesional dilakukan sebagai bentuk aplikasi kerja organisasi, misalnya : Rapat Kerja, Rapat Koordinasi, Rapat Evaluasi, dsb. Hal ini dilakukan dalam model-model Persidangan. Dikatakan professional, karena biasanya pembahasan yang berkembang diforum tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dari penyelenggaraannya.

– Persidangan politis

Suatu Persidangan, dapat dikatakan Politis karena adanya kebutuhan untuk mencapai tujuan dari sekelompok orang yang ada didalamnya dan kebutuhan itu tidak menjadi kebutuhan bersama, sehingga terjadi proses yang cenderung politis. Misalnya : Pemilihan Pemimpin Organisasi, baik untuk Organisasi Profesional maupun Organisasi Politik

 

Kebutuhan persidangan

 

Kebutuhan yang harus dipenuhi dalam persidangan, yaitu :

–          Pimpinan Sidang

–          Quorum ( (½ + 1 dari Jumlah peserta sidang)

–          Berkas-berkas dan peralatan yang diperlukan (Susunan Agenda Acara, Tata Tertib, AD/ART, Palu Sidang, dll)

Istilah-istilah dalam persidangan

 

– Skorsing adalah penundaan acara sidang untuk sementara waktu atau dalam waktu tertentu pada waktu sidang berlangsung.

–  Pending adalah penundaan acara sidang untuk waktu yang tidak ditemntukan.

– Lobbying adalah penentuan jalan tengah atas konflik dengan skorsing waktu untuk
menyatukan pandangan melalui obrolan antara dua pihak atau lebih yang bersebrangan secara informal.

– Interupsi adalah memotong pembicaraan, ditempuh dengan menggunakan kata “interupsi” yang pada hakekatnya meminta kesepakatan untuk berbicara.

 

Pimpinan sidang

 

Pimpinan sidang adalah salah satu unsur yang sangat menentukan dalam proses persidangan. Karena berfungsi menetapkan kesepakatan yang berkembang dan terkadang harus memilih satu diantara kesepakatan yang berkembang, maka pimpinan sidang harus berjumlah ganjil (3 orang, 5 orang, 7 orang, atau bahkan cukup hanya dengan 1 orang saja). Hal ini untuk menghindari terjadinya keputusan yang imbang. Struktur Pimpinan Sidang dapat diatur dan dibicarakan oleh para pimpinan sidang, sesuai dengan kebutuhan.

Kriteria Pimpinan Sidang:

– Pimpinan Sidang Harus ganjil

– Pimpinan sidang harus berwibawa, tegas dan tidak gagap

– Pimpinan sidang harus tahu kapan waktu yang tepat untuk menghentikan, mempending, dan membubarkan persidangan apabila suasana sudah tidak kondusif

Hal yang menarik dalam persidangan formal (organisasi) adalah, keputusan ada pada kesepakatan peserta sidang, sedangkan pimpinan sidang hanya sebagai fasilitator untuk membuat dan menetapkan keputusan berdasarkan atas kesepakatan peserta sidang. Pimpinan sidang dianalogikan seperti cermin yang memantulkan / mengembalikan usulan yang di ajukan flor kepada flor juga.

 

Bagaimana seseorang menjadi pimpinan sidang ?

 

Ada dua kategori Pimpinan Sidang, yaitu Pimpinan Sidang sementara dan Pimpinan Sidang tetap. Pimpinan Sidang Sementara memimpin sidang sampai terpilihnya Pimpinan Sidang Tetap dan Pimpinan Sidang Tetap memimpin Persidangan sampai dengan selesai.

Ada beberapa cara untuk memilih dan mengangkat seseorang menjadi Pimpinan Sidang. diantaranya adalah :

 

  1. Berdasarkan votting.

Mekanisme votting dapat dilakukan, dengan sebelumnya, dilakukan proses pencalon-an, kesediaan calon dan penetapan calon, jika calon yang mengajukan diri atau diajukan lebih dari jumlah yang dibutuhkan, maka dilakukan pemilihan, tetapi jika sudah mencukupi tidak perlu diadakan voting. Biasanya pemilihan dipandu dengan kriteria-kriteria calon dan tata tertib.

  1. Musyawarah mufakat/aklamasi

Penunjukan pimpinan sidang secara aklamasi oleh peserta sidang kepada orang-orang yang dianggap pantas.

  1. Penunjukan formal

Misalnya, penunjukan oleh negara atas kasus hukum warga negaranya, penunjukan pimpinan sidang skripsi.

 

Kriteria pimpinan sidang

 

  1. Faktor usia
  2. Kemampuan dalam memimpin
  3. Pengalaman dalam berorganisasi
  4. Memahami Masalah
  5. Adil, independen, transparan dan tidak memaksakan kehendak

 

Etika Persidangan

 

  1. Hadir tepat waktu
  2. Menghormati kuorum
  3. Menghargai perbedaan pendapat
  4. Tidak menjatuhkan lawan bicara
  5. Menyampaikan pendapat dengan singkat dan padat
  6. Berbicara dengan prinsip-prinsip interupsi
  7. Mampu mengontrol emosi

 

Model-Model Interupsi

 

Sebelum mengajukan interupsi, peserta di haruskan memperkenalkan diri dan institutsi – agar apa-apa yang di ajukan bisa 150317077SidangTrioMacandipertanggungjawabkan, mengajukan point yang ditawarkan dan mengajukan pertanyaan yang lugas dan jelas (tidak berputar-putar).

Adapun model-model interupsi sebagai berikut:

  1. Point of Order

Memberikan Saran, yang relevan dengan persoalan yang sedang dibahas dalam persidangan.

  1. Point of Information

Memberikan informasi / kabar tentang sesuatu yang sangat penting dan mendesak, terutama yang berkaitan dengan teknis penyelenggaraan sidang. Atau bahkan pembahasan sidang yang blunder dan membutuhkan informasi untuk meluruskannya.

  1. Point of Clarification

Memberikan penjelasan untuk menjernihkan pembahasan yang blunder dan meng-kondusifkan suasana ketika agak kacau karena pendapat atau informasi yang simpang siur. Point in sangat bijak dan dapat memberikan citra baik bagi penggunanya.

  1. Point of Personal Prevelege

Point ini dapat digunakan oleh peserta sidang dan pimpinan sidang apabila dalam pembahasan sidang terdapat perusakan nama baik dan yang bersangkutan merasa tersinggung, sehingga permasalahan yang berkembang antara peserta sidang dan atau dengan pimpinan sidang dapat diselesaikan dan sidang dapat dilanjutkan.

  1. Peninjauan Kembali

Mencoba untuk mengulang kembali poin yang disahkan untuk analisa kembali

Tata Tertib

Tata tertib persidangan merupakan hasil kesepakatan seluruh peserta pada saat persidangan dengan memperhatikan aturan umum organisasi dan nilai-nilai universal dimasyarakat.

Sanksi-sanksi

Peserta yang tidak memenuhi persyaratan dan kewajiban yang ditentukan dalam tata tertib persidangan akan dikenakan sanksi dengan mempertimbangkan saran, dan usulan peserta siding yang lain. Biasanya, mekanisme dalam pemberian sanksi didahului oleh peringatan kepada peserta (biasanya sampai 3 kali), kemudian dengan kesepakatan bersama, presidium sidang boleh mengeluarkan peserta tersebut dari forum, atau mengambil kebijakan lain dengan atau tanpa kesepakatan peserta sidang yang lain. Sanksi dimulai dari level sederhana seperti di peringatkan, di cabut hak bicara dan suaranya hingga di keluarkan dari persidangan.

Alat untuk mengesahkan persidangan

 

  1. Palu sidang
  2. Surat keputusan pengesahan hasil-hasil persidangan
  3. Dalam keadaan darurat ketika tidak ada palu sidang, dapat digunakan alat – alat yang menghasilkan bunyi (sepatu, pulpen, kepalan tangan, dll)

 

Cara pengetukan palu sidang dan fungsinya

 

  1. Ketukan 3 kali, untuk :
  2. Membuka dan Menutup Persidangan
  3. Mengesahkan keputusan final / akhir persidangan (biasanya dalam konsideran)

 

  1. Ketukan 2 kali, untuk :
  2. Untuk menunda persidangan sesuai dengan waktu yang ditentukan, misalnya 2×15 menit atau diatas waktu 30 menit.
  3. Untuk menunda persidangan dengan batas waktu yang tidak ditentukan.

 

  1. Ketukan 1 kali, untuk :
  2. Memindahkan palu sidang dari pimpinan sidang satu kepada pimpinan sidang yang lain.
  3. Penundaan sidang dibawah 30 menit.
  4. Pengesahan point per point

 

  1. Ketukan berkali-kali :
  2. Menandakan permasalahan darurat.
  3. Mengkondusifkan peserta sidang (setelah didahului oleh peringatan lisan).
  4. Untuk membubarkan persidangan.

 

Layout (tata letak) dalam persidangan

 

Ada beberapa tipe tata letak teknis meja persisangan diantaranya adalah:

 

  1. Model baris berbanjar :

0.1

 

Model baris berbanjar adalah model lay out persidangan yang paling populer. Model ini mengesankan persidangan yang teramat formal, sebab model ini menyebabkan para peserta sidang akan sangat terfokus langsung pada pimpinan sidang. Contoh : sidang dipengadilan, persidangan politis.

 

  1. Model tapal Kuda (setengah lingkaran) :

0.4 tapal

 

Biasanya dilakukan pada ruang sidang yang sempit, sehingga peserta sidang diposisikan dalam bentuk setengah lingkaran. Model ini sangat interaktif sebab pimpinan sidang berada dalam model interaktif yang tegas. Kedekatan pimpinan sidang dengan peserta juga dapat dirasakan dalam model ini.

 

  1. Model lingkaran penuh :

0.2

Pimpinan sidang terletak ditengah-tengah peserta sidang, model ini diartikan sebagai “centered of power”, jadi peserta sidang betul-betul berada diatas kekuasaannya.

Contoh: Persidangan di Forum PBB.

 

 

  1. Model spontan :

0.3

 

Biasanya dilakukan pada sidang kilat atau spontan, pimpinan sidang langsung berhadapan dengan peserta sidang secara fokus (tatap muka langsung).

Contoh: sidang pelanggaran lalu lintas, sidang KTP

WHO AM I ?

imagesWHO AM I ? jawaban nya jelas kita adalah mahasiswa,  namun apa peran dan fungsi Mahasiswa ?            ini lah yang perlu di pertanyakan oleh kita siapa kah kita apa peran kita apa fungsi kita sebagai mahasiswa ? Mari kita andir (analisa diri) sahabat , Mahasiswa dapat dikatakan sebuah komunitas unik yang berada di masyarakat, yang mempunyai kesempatan untuk mengarungi lautan ilmu perguruan tinggi ,dan mempunyai title sebagai orang intelek dan mempunyai tanggung jawab terhadap rakyat dan mempunyai suara untuk memajukan negeri,sehingga mampu membuat  mahasiswa  berada di tengah-tengah antara masyarakat dan pemerintah .

 

-PERAN MAHASISWA :

  1. Agent Of Change( Generasi Perubahan )

Mahasiswa sebagai agen dari suatu perubahan.Artinya jika ada sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar dan itu salah, mahasiswa dituntut untuk merubahnya sesuai dengan harapan sesungguhnya.

  1. Social Control( Generasi Pengontrol )

Sebagai generasi pengontorol seorang mahasiswa diharapkan mampu mengendalikan keadaan sosial yang ada di lingkungan sekitar.Jadi, selain pintar dalam bidang akademis, mahasiswa juga harus pintar dalam bersosialisasi dan memiliki kepekaan dengan lingkungan.

Sebagai tulang punggung bangsa di masa depan, mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya

  1. Moral Force( Gerakan Moral )

Mahasiswa sebagai penjaga stabilitas lingkungan masyarakat, diwajibkan untuk menjaga moral-moral yang ada.

 

-Fungsi Mahasiswa

Berdasarkan tugas perguruan tinggi yang diungkapkan M.Hatta yaitu membentuk manusisa susila dan demokrat yang

  1. Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat
  2. Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan
  3. Cakap memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat

 

-POSISI MAHASISWA

Mahasiswa dengan segala kelebihan dan potensinya tentu saja tidak bisa disamakan dengan rakyat dalam  hal perjuangan dan kontribusi terhadap bangsa. Mahasiswa pun masih tergolong kaum idealis, dimana keyakinan dan pemikiran mereka belum dipengarohi oleh parpol, ormas, dan lain sebagainya. Sehingga mahasiswa dapat dikatakan memiliki posisi diantara masyarakat dan pemerintah.

tes1Mahasiswa dalam hal hubungan  masyarakat ke pemerintah dapat berperan sebagai kontrol politik, yaitu mengawasi dan membahas segala pengambilan keputusan beserta keputusan-keputusan yang telah dihasilkan sebelumnya. Mahasiswa pun dapat berperan sebagai penyampai aspirasi rakyat, dengan melakukan interaksi sosial dengan masyarakat dilanjutkan dengan analisis masalah yang tepat maka diharapkan mahasiswa mampu menyampaikan realita yang terjadi di masyarakat beserta solusi ilmiah dan bertanggung jawab dalam menjawab berbagai masalah yang terjadi di masyarakat.

Mahasiswa dalam hal hubungan pemerintah ke masyarakat dapat berperan sebagai penyambung lidah pemerintah. Mahasiswa diharapkan mampu membantu  menyosialisasikan berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Tak jarang kebijakan-kebijakan pemerintah mengandung banyak salah pengertian dari masyarakat, oleh karena itu tugas mahasiswalah yang marus “menerjemahkan” maksud dan tujuan berbagai kebijakan kontroversial tersebut agar mudah dimengerti masyarakat.

Posisi mahasiswa cukuplah rentan, sebab mahasiswa berdiri di antara idealisme dan realita. Tak jarang kita berat sebelah, saat kita membela idealisme ternyata kita melihat realita masyarakat yang semakin buruk. Saat kita berpihak pada realita, ternyata kita secara tak sadar sudah meninggalkan idealisme kita dan juga kadang sudah meninggalkan watak ilmu yang seharusnya kita miliki,dan juga kita sudah lupa dimana posisi ,peran dan fungsi kita sebagai mahasiswa yang berada di tengah-tengah pemerintah dan masyarakat ,terkadang kita malah hanya ingin menuruti kemauan kita sendiri, tidak pernah memikirkan nasib negara kesatuan kita ini ,seharus nya kita memiliki pengaruh yang sangat tinggi dalam menentukan MAJU ATAU MUNDUR nya bangsa ini dengan peran ke ilmuan berlandas kan TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI, maupun Pergerakan kita untuk membela hak-hak rakyat dengan cara   menyampaikan pendapat, hal tersebut sudah diatur oleh UUD 1945 dalam pasal 27 tenUntuktang kebebasan berpendapat “setiap warga Negara berhak menyampaikan pendapat baik lisan maupun tulisan dan diatur oleh undang – undang”. Penjabaran dalam menyampaikan pendapat menurut undang – undang bisa dilakukan dengan cara :Membuat tulisan,Audiensi,Mimbar bebas,Pawai / long March,Aksi Demonstrasi, dan juga kita ada lah mahasiswa islam , kita bukan hanya membela negara , kita juga wajib menyampaikan nilai nilai ke islman dan selalu menjaga persatuan kesatuan republik indonesia.

Dalam pepatah Arab mengatakan “Syubhanul Yaum Rijaalul Ghoddi” Pemuda sekarang adalah Pemimpin Masa depan.