Siapakah Penghianat Sesungguhnya ?

PMII Galileo – Kata “penghianat”, mungkin tidak asing ditelinga kita sebagai kader PMII. yap, PMII di anggap penghianat setelah mengeluarkan pernyataan independensinya dari Nahdlatul Ulama. Hal ini tentu bukan tanpa sebuah alasan, sejak dasawarsa 70-an, ketika rezim neo-fasis Orde Baru mulai mengkerdilkan fungsi partai politik, sekaligus juga penyederhanaan partai politik secara kuantitas, dan issue back to campus serta organisasi- organisasi profesi kepemudaan mulai diperkenalkan melalui kebijakan NKK/BKK, maka PMII menuntut adanya pemikiran realistis. 14 Juli 1971 melalui Mubes di Murnajati, PMII mencanangkan independensi, terlepas dari organisasi manapun (terkenal dengan Deklarasi Murnajati). Kemudian pada kongres tahun 1973 di Ciloto, Jawa Barat, diwujudkanlah Manifest Independensi PMII. Namun, betapapun PMII mandiri, ideologi PMII tidak lepas dari faham Ahlussunnah wal Jamaah yang merupakan ciri khas NU. Ini berarti secara kultural- ideologis, PMII dengan NU tidak bisa dilepaskan.

Pernyataan sikap independensi PMII dari NU, menjadi senjata empuk bagi lawan-lawan PMII di jajaran perguruan tinggi untuk melakukan konspirasi dengan mendoktrin kader-kader Nahdlatul Ulama untuk membenci PMII dengan mengesampingkan alasan pernyataannya. miris?, memang miris, disaat kader NU yang masih dalam tahap pencarian jati diri justru disuguhi hal yang berkebalikan dari kenyataan yang ada. Hal ini mungkin masih wajar, ketika dilakukan oleh organisasi yang berbeda idiologi dengan PMII. Namun, sangat miris ketika IPNU – IPPNU di tingkatan komisariat perguruan tinggi melakukan hal yang serupa. Hal ini juga bukan tanpa alasan, dewasa ini IPNU – IPPNU yang secara historis adalah orang tua dari PMII dan secara struktural adalah adik PMII, mulai ditunggangi oleh orang-orang yang berbeda idiologi dengannya. Dari sini saya mengajak para pembaca untuk berfikir bersama. PMII yang dilahirkan oleh IPNU secara visual ataupun non-visual jelas memiliki idiologi yang sama. Secara eksakta dapat kita analogikan, mungkinkan seorang saudara memiliki DNA yang jauh berbeda?. jawabannya pasti tidak mungkin. Secara ilmiah DNA orang tua dan anaknya 99% sama, maka jika orang tua tersebut memiliki dua anak, anak tersebut memiliki akurasi presentase kesamaan DNA 99%. Dari sini saya rasa para pembaca sepakat.

Baca : Tes DNA Untuk Menentukan Hubungan Bersaudara

Dari sini bisa saya simpulkan bahwa PMII dan IPNU – IPPNU memiliki idiologi yang sama. Lalu sekarang pertanyaannya, kenapa bisa IPNU – IPPNU sekarang termakan doktrin penghianatan PMII?. jawabannya sebenarnya sangat sederhana, di awal saya sudah menjelaskan bahwa doktrin dari lawan PMII adalah memunculkan konspirasi penghianatan dengan mengesampingkan alasan. IPNU – IPPNU ditataran perguruan tinggi yang bersikap kontradiktif dengan PMII, memang tidak semua IPNU – IPPNU, tapi tidak sedikit juga yang demikian, karena mereka sudah teracuni oleh konspirasi yang dilakukan lawan PMII, sehingga yang masuk ke IPNU – IPPNU banyak dari kalangan yang beridiologi berbeda, sehingga sangat mudah bagi mereka untuk melunturkan sejarah di hadapan kader-kader IPNU – IPPNU.

Baca : Sejarah Terbentuknya PMII

Tulisan ini sebenarnya tidak mengarahkan IPNU – IPPNU sebagai subjek, melainkan orang-orang IPNU – IPPNU yang mengikuti organisasi dengan idiologi yang berbeda. Saya sendiri merupakan kader IPNU dan PMII, namun, semenjak saya menginjak bangku perkuliahan, saya mengetahui banyak hal tentang orang dengan idiologi berbeda yang menunggangi IPNU – IPPNU, terutama dari kalangan yang tidak jelas idiologinya, kalangan yang tidak jelas kaderisasinya pasca kepengurusannya.

Tidak masuk akal memang, orang yang beridiologi berbeda mengaku kader IPNU-IPPNU, lalu anak IPNU – IPPNU yang kemudian melanjutkan karir dengan golongan yang berbeda idiologi ketika menginjak masa Mahasiswa. Bagi saya selaku kader IPNU tidak mengakui mereka yang demikian adalah kader IPNU. Karena jelas kaderisasinya gagal walaupun secara struktural mereka kader IPNU-IPPNU, tapi darah mereka berbeda. Sehingga ketika ditanya siapakah penghianat yang sesungguhnya?, jelas jawabannya mereka yang mengaku IPNU – IPPNU, tapi memiliki idiologi yang berbeda. Pernah dengar musuh dalam selimut?, mungkin itu kata-kata yang pantas untuk mereka. Dari sini jelas bukan, kenapa saya mengatakan “kader IPNU – IPPNU yang masuk organisasi dengan idiologi yang berbeda bukan kader IPNU – IPPNU”.

Pada dasarnya, identitas suatu organisasi dilihat dari idiologinya. orang yang beridiologi berbeda, memiliki cara pandang dan pengambilan keputusan yang berbeda. PMII dan IPNU – IPPNU adalah suatu komponen yang tidak mungkin bisa dipisahkan. PMII dilahirkan untuk menyelamatkan IPNU-IPPNU ditataran perguruan tinggi yang dulunya terinjak-injak oleh organisasi lain. IPNU-IPPNU tetap bertahan di perguruan tinggi untuk menjaga kultur Nahdlatul Ulama di perguruan tinggi. Lahirnya PMII dimotori kader-kader terbaik IPNU, IPNU-IPPNU di selamatkan oleh lahirnya PMII di kampus. Sehingga sangat tidak pantas PMII dan IPNU-IPPNU berseteru diperguruan tinggi.

Tulisan ini saya harap dapat menimbulkan kesadaran, bahwa PMII dan IPNU-IPPNU tidak saling bermusuhan, musuh yang sebenarnya adalah mereka yang beridiologi berbeda, yang mencari penghidupan di Nahdlatul Ulama. Sinergikan pergerkan, berpegangan tangan, menuju NU di masa depan.

sebagai closing statement “tetaplah belajar dalam berjuang untuk bertaqwa kepada Alloh SWT, dengan cara berfikir, berdzikir, dan beramal sholeh”.

oleh : Sahabat Galileo

Kau Anggap Aku Ahlul Bid’ah. Kamu?

PMII Galileo – Berbicara masalah Bid’ah pasti sudah tidak asing lagi dibenak sahabat Galileo. Utamanya golongan ahlussunnah wal jama’ah, rasanya tuduhan bid’ah sangat akrab. Suatu prilaku yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Merupakan devinisi singkat dari kata yang sangat viral tersebut.

Saya kira, ketika kita membahas istilah Bid’ah, sudah bukan hal yang menarik lagi untuk sahabat diskusikan. Karena hal tersebut merupakan perdebatan lama antar kelompok dalam Islam. Namun, tulisan ini tidak terfokuskan kepada perdebadan-perdebatan tersebut. Pada dasarnya tulisan ini hanyalah sekedar dagelan waktu saya bersilaturrahim ke senior sahabat PMII yang sangat menarik menurut saya.

Kita awali dari kata Bid’ah. Sesuai yang saya sampaikan di awal, Bid’ah merupakan perbuatan yang tidak dilakukan oleh Rosululloh S.A.W. Yap, sahabat pasti sepakat Bid’ah itu ada dua macam yang pertama adalah Bid’ah Dholalah (Bid’ah yang jelek), dan yang kedua adalah Bid’ah Hasanah yang (Bid’ah yang Baik). Dalam syari’ah segala perbuatan baik buruknya diukur berdasarkan Mafsadah dan Maslahah-nya. Segala perbuatan yang lebih besar Mafsadah-nya (keburukan/kerugian) maka hukumnya tidak diperbolehkan. Sementara perbuatan yang lebih besar Maslahah-nya (kebaikan/manfaat) maka hukumnya diperbolehkan. Begitu pula dengan hukum pada Bid’ah, karena Bid’ah juga merupakan perbuatan.

Pemahaman tersebut sudah mulai sedikit demi sedikit diterima oleh golongan-golongan di luar ahlussunnah wal jama’ah. Namun, terdapat golongan yang membuat saya geleng-gelang kepala. Golongan tersebut mengatakan bahwa Al-qur’an (mushaf) yang ada saat ini adalah bid’ah dan tidak boleh dibacakan, karena Al-qur’an yang asli ada di Lauhil Mahfudz. pendapat tersebut memang betul, bahwa Alqur’an yang sekarang (mushaf) itu adalah bid’ah, tapi ekstrimnya mereka adalah mengatakan Al-qur’an yang sekarang tidak boleh dibacakan, tapi mereka tetap menggunakan Al-qur’an tersebut dengan alasan “selama Al-qur’an yang asli belum ada, ya ini saja dijadikan alternatif”, lucu bukan.

Dari pemikiran tersebut membuat saya berfikir, kalau memanh demikian, apakah saya membaca Al-qur’an saat ini tidak diperbolehkan, karena Nabi saja baru membaca Al-quran sejak usia 40 tahun. Dan apakah sholat saya saat ini tidak diprbolehkan karena Nabi saja baru sholat sejak usia 53 tahun (peristiwa Isro’-Mi’raj),sementara usia saya masih usia Mahasiswa dengan alasan Bid’ah. Jika melihat Bid’ah dipatokkan kepada dhohiriyah saja lalu siapan sebenarnya yang ahlul bid’ah. Lebih-lebih ketika ahlul-bid’ah dianggap Kafir, lalu siapa yang sebenarnya kafir, apa semua umat Islam itu kafir?

Yah kira-kira begitulah dagelan kami saat bersilaturrahim ke senior kami. Tulisan ini bukan sebagai pengkerdilan beberapa golongan, juga bukan untuk menambah wawasan sahabat, karena saya yakin, wawasan sahabat tentang Bid’ah sudah sangat luas.

Sholawat Sumpah Pemuda “Zaman Now” Ala Gus Dur

PMII Galileo- Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, hampir seluruh kalangan pemuda merayakannya, tanpa terkecuali yang masih kanak-kanak, remaja, sudah agak lebih tua, ataupun lansia. Tapi maaf. Hari ini, saya tidak ikut merayakan hari sumpah pemuda. Bukan hanya karena sekarang akhir pekan, hingga aku sedemikian sibuknya, tidak! Merayakan saja tidak, apalagi aku harus bersumpah layaknya pemuda “Zaman Old” sama sekali tidak.

Sudah cukup saya saja yang demikian, kalian tidak perlu ikut-ikutan, Kalau perlu kalian yang belum sempat diminta diajak ataupun dipaksa untuk bersumpah, segera lah bersumpah pada waktu yang lalu, baik tahun lalu, dua tahun yang lalu ataupun beberapa tahun yang silam.

Diajak, diminta ataupun dipaksa? Saya masih yakin, kalian tidak akan bersumpah, jika tidak diajak ataupun tidak tidak dipaksa. Untuk itu saya memberi saran untuk berhenti lah, tidak perlu melanjutkan langkah kaki kalian ke tempat-tempat persumpahan, jika memang berat rasanya.

Saya saat ini yang sedang terasuki oleh sukma R.M Djoko Marsaid, Mohammad Yamin pun pada waktu lampau, sekitar 89 tahun yang lalu, sudah komitmen untuk tidak akan meminta para pemuda “zaman now” bersumpah sesuai naskah Sumpah Pemuda. Meminta saja tidak, apalagi memaksa kalian.

Saat ini, saya sedang berkumpul dengan para pemuda-pemudi di Surabaya. Saya tahu yang membedakan kalian dengan Yamin hanya terletak pada kata “now” dan “old”. Kamu dan teman-temanya adalah “zaman now”, sedangkan Yamin dan kawan-kawan, terhitung “Zaman Old”. Jadi, sumpahnya pun hanya oleh, dari dan untuk “zaman old”.

Tapi, tunggu sebentar.

Pada perayaan sumpah pemuda kali ini, sudahkah kalian mengirim ataupun melantunkan hadiah surat al-Fatihah kepada Yamin dan kawan-kawan, termasuk Djoko Marsaid? Jika belum, Segera Anda mengirim hadiah tersebut. Hitung-hitung menjaga ingatan kalian pada tokoh-tokoh yang sudah mengabdikan diri pada agama, bangsa dan negara.

Saya tahu, pada momen yang maha spesial ini, hari sumpah pemuda yang sekaligus weekend, pasti kalian sedang nongkrong ataupun bermajelis, sambil membicarakan tentang sumpah pemuda. Gosipin orang-orang Belanda, menjungjung-junjung Yamin dan kawan-kawannya lah, yang akan berujung pada kegelisahan kalian para pemuda “zaman now”. Ya, jika dugaanku salah, maka bersedih dan menangislah, sebab kalian (mungkin) telah lupa pada seluruh unsur-unsur yang ada pada sumpah pemuda, baik tanggalnya, tokohnya, peristiwanya atau bahkan isinya.

Bagi kalian yang sedang nongkrong dan membicarakan sumpah pemuda. Nanti, dipengujung nongkrong ataupun majelis, kalian boleh sendiri ataupun berkelompok untuk ber-tawassul, itupun jika kalian bisa ilahadratin-blablabla. Jika tidak bisa, ya no problem.

Apalagi jika tak mampu bersumpah, maka bershalawat lah dengan mengenang karya ataupun isi naskah sumpah pemuda. Dan jika kalian, masih sulit untuk mencari nada (tempo) yang enak dan gurih. Maka, saya sarankan memakai nada ala-syiir tanpo waton (Gus Dur). Jika masih sulit menyatukan isi sumpah pemuda dengan nada Gus Dur, maka kalian bisa menggunakan nada apapun, yang biasanya kalian gunakan saat bershalawat, yang terpenting ada lirik khas sumpah pemuda.

Saya tahu, pemuda “zaman now” suka yang instan (tidak mau ribet). Dan saya pun tahu, bersumpah ini menegangkan, secara formal pun berat untuk diamalkan. Maka dari itu, jika berat untuk bersumpah, maka bershalawatlah, toh masih sama-sama mengeluarkan kalimat-kalimat sumpah pemuda. Cuman bedanya terletak media atau caranya saja, isinya sama.

Terus jika bersumpah berkesan simbolik kalau kalian gagah dan berani di hadapan manusia lainnya, namun jika bersholawat tidak hanya disaksikan oleh manusia, diperuntukkan kepada manusia tetapi juga disaksikan dan diperuntukkan kepada Allah SWT, ataupun Tuhan kalian masing-masing. Bagaimana? Lebih keren kan tidak! Minimal, pemuda “zaman now” juga bisa berkarya.

Loh, betulkah?

Menurut kalian Sumpah Pemuda yang dicetuskan oleh Yamin seperjuangan adalah karya (produk), hasil dari “zaman old”?

Saya tidak yakin dan tidak setuju ya. Sebelum menjawab itu, saya mau memberikan analogi untuk menjawabnya sebab mendasar dari seseorang sakit maag adalah tidak makan. Dan sebab tidak makan karena tidak punya uang ataupun miskin. Tapi apakah penyakiat maag juga berlaku bagi orang kaya?

Sekelumit analogi itu, menjadi pengantar untuk menjawab bahwa saya tidak setuju. Awalnya memang, saya kira setiap karya adalah hasil. Tapi, kalau diselami lebih dalam lagi, ternyata karya adalah sebab. Ya menjadi sebab bagi pemuda zaman now untuk tetap berkarya kebaikan, kemajuan dan kemuliaan agama, bangsa dan negara.

Ah sudahlah!

Kurang begitu penting juga kita memperdebatkan soal karya adalah hasih ataupun sebab. Apalagi sampai debat kusir. Sangatlah tidak penting, meskipun itu tetap manusiawi.

Dan saya pun masih tetap yakin, bahwa Yamin dan seperjuangan juga memikirkan kehidupan-kehidupan pemuda di masa yang akan datang, kirakira seperti kehidupan generasi muda Indonesia zaman now yang sangat susah, sulit dan beratnya minta ampun, jika diminta diajak atau bahkan dipaksa untuk berkarya. Berkarya sajalah, tanpa perlu membingungkan diri, mau karyanya bersifat sebab ataupun bersifat hasil.

Ah sudahlah,

Zaman now, zaman now

Lebih baik aku berseru kepada Djoko Marsaid, untuk segera kembali ke alamnya masing-masing, dan melanjutkan bersholawat sumpah pemuda dengan nada ala-syiir tanpo waton.

Tumpah darah satu,

Tanah air Indonesia.

Bangsa yang satu,

Bangsa Indonesia.

Bahasa persatuan,

Bahasa Indonesia

(Itulah naskah, dari Sumpah Pemuda) 2x

Surabaya, 28 Oktober 2017

Bung Sokran

Penulis: Bung Sokran (Citizen Warta Pergerakan)

Biografi Agus Herlambang, Ketua Umum PB PMII Masa Khidmat…

PMII Galileo – Akrab dipanggil dengan Mr. Agus atau Sahabat Agus, lengkapnya adalah Agus Mulyono Herlambang atau terkenalnya oleh kader PMII adalah Agus Herlambang, Lahir pada tanggal 17 Juni 1988 di sebuah daerah yang terkenal dengan sebutan kota Mangga, Indramayu. Putra pertama dari pasangan Guru Agama di kampung sehingga sedikit banyak Sahabat Agus sejak dini tumbuh dengan berinteraksi secara langsung dalam dunia pendidikan agama.

Aktif MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) PMII 2006.Setelah lulus SD, Sahabat Agus melanjutkan pendidikannya di pesantren Raudlatut Thalibin Lengkong Kuningan sembari menempuh pendidikan formalnya di MTS Yaspika Kuningan. Lulus MTS kemudian meneruskan proses pembelajaran formalnya pada MAN Cigugur Kuningan dan pendidikan pesantrennya di Pondok Pesantren Al-Ma’mur Cipondok Kadugede.

Kecerdasannya yang memang sudah terlihat sejak usia dini, membawa sahabat Agus menjadi siswa berprestasi yang tak pernah lepas dari posisi tiga (3) besar rangking teratas di semua level pendidikannya. Sehingga sahabat Agus mendapatkan undangan PMDK di Institute Teknologi Bandung (ITB), jurusan Seni rupa dari jalur Beasiswa Santri Berprestasi pada tahun 2006 dikarenakan memperoleh nilai UAN yang tinggi.

Namun, kedua orang tua sahabat Agus memiliki program berbeda dan memintanya untuk mengikuti tes masuk Al-Azhar Kairo Mesir. Sebagaimana kandungan surat al an’am ayat 59

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuudh)” [QS. Al-An’aam : 59].

Itulah yang tepat untuk mendeskripsikan perjalanan hidup sahabat Agus selanjutnya,

Setelah gagal atas harapan untuk mengenyam pendidikan di Al-Azhar mesir, yang kemudian waktu diberitakan di banyak media bahwa banyak pelajar Indonesia yang terpaksa dipulangkan meski belum selesai atas konflik politik yang semakin memanas di Negri Al Azhar tersebut.

Sahabat Agus memilih melanjutkan studi S1nya di Sastra Inggris Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, satu-satunya Perguruan Tinggi di Indonesia yang menggunakan nama Pesantren. Di tahun 2010 Sahabat Agus lulus tepat waktu dengan uji thesis berjudul Afro-American Struggle for Spelling Bee Competition, berisi tentang kisah perjuangan seorang anak afro-amerika  diatas mimbar bergengsi orang-orang kulit putih. Minatnya terhadap sastra, kemudian membuatnya melanjutkan studi S2 Di Jurusan Magister Ilmu Susastra Universitas Indonesia (UI)  dan diterima pada tahun 2012.

Pada tahun yang sama (2012) sahabat Agus mulai terlibat dalam program Community Empowerment of People Againts Tuberculosis, sebuah pilot project pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan, yang disponsori oleh USAID dengan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama dan Kementrian kesehatan RI, berperan sebagai koordinator Program di Jakarta Utara hingga awal 2017 dalam pengentasan TBC di Indonesia. Setelah bersentuhan langsung melakukan advokasi masyarakat di Jakarta Utara, pada tahun 2016  Sahabat Agus memutuskan fokus menggeluti bidang komunikasi publik dengan mengambil studi S2 di Universitas Mercubuana, di Jurusan Magister Komunikasi  yang fokus pada Public Relation, Mass media dan Komunikasi Politik karena ketertarikannya dalam keterlibatan publik dalam menentukan kebijakan pemerintah yang dia dapat ketika melakukan empowering di masyarakat urban di Jakarta Utara.

Biografi Singkat Agus Herlambang

Sahabat Agus Mulyono Herlambang atau biasa dipanggil Agus Herlambang adalah seorang aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sejati, dimana tumbuh kembangnya selalu mengenyam pendidikan pesantren, dan berkecimpung di berbagai organisasi, baik yang nota bene organisasi PMII maupun lembaga lainnya sebagai rekam jejak kembang karakter ke PMII-annya, berikut tambahan aktivitas organisasi yang pernah di geluti :

  • Ketua rayon pertama fakultas bahasa dan sastra inggris Unipdu Jombang 2007.
  • Salah satu penggagas Teater SATU FBS tahun 2007.
  • Wakil ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas 2007-2008.
  • Pengurus Komisariat PMII Umar Tamin Unipdu Koordinator Penerbitan dan penelitian dengan melahirkan buletin Change 2008-2009.
  • Sekjend BEM Unive Unipdu Jombang 2010-2011.
  • Penggagas FGD (Focus Group Discussion) Surau Sahabat di Komisariat PMII Umar Tamim Unipdu Jombang 2010-2011.
  • Pengurus Cabang PMII Jombang di koordinator Penerbitan dan Penelitian dengan menerbitkan Buletin MOVE 2010-2011.
  • Penggagas FIKRAH INSTITUE 2010-2011.
  • Pengajar aktif bahasa inggris di forum Pengurus Besar (PB) PMII 2011-2013.
  • Koordinator Program Community Empowerment of People Againts Tuberculosis wilayah Jakarta Utara 2012.
  • Ketua Bidang Hubungan Internasional dan Jaringan Luar Negeri PB PMII 2014/2016.
  • Terpilih menjadi Ketua Umum PB PMII 2017-2019 saat Kongres di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Di Sisi lain, karena Sahabagt Agus terbiasa dididik mandiri secara ekonomi oleh orang tuanya, Agus bersama sahabat-sahabatnya menghidupkan rayon dari hasil penjualan tiket pementasan Teater SATU, menghidupkan komisariat dengan berjualan buku di kampus, menghidupkan forum diskusi Cabang juga dengan jualan buku dan jualan kopi. Saat ini, selain aktif di kegiatan kemasyarakatan, kuliah dan organisasi, Agus juga memiliki usaha mandiri yang bergerak di bidang limbah besi tua yang dia rintis bersama Istrinya sejak 2014 di CV Karunia Baja. Prinsip yang slalu dipegangnya hingga saat ini adalah hidupkan organisasi, bukan hidup dari organisasi.

Biografi Septi Rahmawati, Ketua PB KOPRI 2017-2019

PMII Galileo – Septi Rahmawati akrab disapa Septi merupakan Putri ke empat  dari Lima bersaudara. Ayahanda Helmi (alm) dan Ibunda Tri Atmini.  Lahir di Karangtani, 01 September 1990 berasal dari Kampung Tanjung Jaya, Kecamatan Bangun Rejo Kabupaten Lampung Tengah Provinsi Lampung. Sejak lahir hingga menyelesaikan studi  Sekolah Menengah Pertama di Lampung Tengah. SD Negeri 1 Tanjung Jaya, SMP Negeri 2 Bangun Rejo dan melanjutkan  Madrasah Aliyah Negeri 1 Metro hingga perguruan tinggi STAIN Jurai Siwo di Metro. Saat ini sedang menyelesaikan studi pasca sarjana di Universitas Negeri Jakarta.

Ketua OSIS SMP Negeri 2 Bangun Rejo Lampung Tengah, tahun 2003-2004.Sejak mengenal bangku sekolah dasar septi telah aktif mengikuti berbagai kegiatan. Organisasi pertama yang ia kenal adalah Pramuka yang dimulai sejak Sekolah Dasar. Setelah itu berorganisasi menjadi kebutuhannya, yang mengantarkannya dengan berbagai pengalaman bergorganisasi yaitu :

  • Juru Adat Putri Pramukan MA Negeri 1 Meto, Lampung, tahun 2006-2007.
  • Ketua Paskibra Sekolah MA Negeri 1 Metro, Lampung, tahun 2006-2007.
  • Pendiri Teater Batu MAN 1 Metro
  • Sekretaris Umum Unit Kegiatan Mahasiswa Ikatan Mahasiswa Pecinta Seni STAIN Jurai Siwo Metro tahun 2010-2011.
  • Ketua bidang pengkaderan Unit Kegiatan Mahasiswa Ikatan Mahasiswa Pecinta Seni STAIN Jurai Siwo Metro tahun 2011-2012
  • Komite Sastra Dewan Kesenian Metro tahun 2013-2016.
  • Ketua Rayon PBI PMII Jurai Siwo Metro 2009-2010.
  • Ketua IV bidang gender Komisariat PMII Jurai Siwo Metro 2011-2012.
  • Ketua Korps PMII Puteri (KOPRI) Pengurus Cabang (PC) PMII Metro 2012-2013.
  • Ketua Umum PC PMII Metro 2013-2014.
  • Wakil Bendahara Umum Pengurus Besar (PB) PMII 2014-2016.
  • Ketua Umum PB Kopri 2017-Sekarang

Selain aktif di PergerakanMahasiswa Islam Indonesia (PMII), ia juga aktif dalam dunia seni pertunjukan. Berbagai karya teater sudah ia pentaskan sejak di sekolah hingga masuk di dunia kampus.

Prestasi yang pernah ia raih

  • Juara 1 Pidato Bahasa Indonesia dalam Olympiade Al-Qur’an tingkat SLTA sederajat se Lampung
  • Juara 1 Puitisasi se Kwartir Daerah Lampung.
  • Juara 3 Tari Kreasi Bedana se Kabupaten Lamung Tengah.
  • Juara 1 Baca Puisi STAIN Jurai Siwo Metro.
  • Juara 3 Baca Puisi se Kota Metro.
  • Juara 3 Karya Tulis ilmiah se Kabupaten Lampung Tengah.

Pernah Menggeluti Seni Pertunjukan
Selain itu, Septi juga aktif dalam dunia seni, khusus nya seni pertunjukan. Karya yang pernah ia tampilkan diantaranya:

  • Aktor Teater “ Barabah”, naskah Barabah karya Motinggo Busye, dalam kontes Liga Teater Pelajar se Lampung (mewakili SMA se Kota Metro) di Taman Budaya Provinsi Lampung.
  • Aktor Teater Ijah, naskah Rajapatih dalam pementasan Seni STAIN Jurai Siwo Metro.
  • Aktor dalam naskah “Kala” karya Hryo Yudho Negoro.-Aktor Monolog, naskah “Bara Di Hamparan Salju” kaeya Osman Saadi, dalam Parade Monolog Provinsi Lampung (mewakili kota Metro) di Taman Budaya Provinsi Lampung.
  • Sutradara teater naskah “Dokter Asbun” dalam pementasan tunggal teater Batu MAN 1 Metro.
  • Pimipinan Produksi Pementasan Teater “Hujan Pukul Lima” dalam Temu Teater Mahasiswa Nusantara di Purwokerto (mewakili Provinsi Lampung).

 

 “Jadilah Kader KOPRI Pelopor Gerakan Perempuan-perempuan Intelektual Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyah” – Septi Rahmawati.

Biografi Ibnu Taimiyyah

PMII Galileo – Syaikhul Islam Al Imam Abul Abbas namanya adalah Ahmad bin Abdul Halim Abdus Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Khidir bin Muhammad bin Khidir bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al-Harani Ad-Dimsyqi.

Ia lahir pada hari Senin 10 Rabi’ul Awal di Haran tahun 661 Hijriyah. Ketika usia 7 tahun dia bersama ayahnya pindah ke Damsyik karena melarikan diri dari sebuah tentara Tartar.

Ia pun tumbuh besar di lingkunan ilmu fiqh dan ilmu agama. Ayah, kakek dan saudaranya serta sebagian besar pamannya adalah ulama-ulama tersohor. Dalam lingkungan keluarga ilmiah yang shalih inilah Ibnu Taimiyyah tumbuh dan berkembang dan mulai menuntut ilmu dari ayahnya dan ulama-ulama Damsyik. Ia juga menghafalkan Al-Qur’’an saat masih kecl, mempelajari Hadits, fuh, ushul (aqidah) dan tafsir.

Sejak kecil ia dikenal cerdas, kuat hafalannya dan cepat menerima ilmu. Kemudian ia memperlua pemahamannya dengan mempelajari berbagai ilmu, mendalaminya dan menguasainya sehingga ia memiliki syarat-syarat untuk mujtahid.

Sejak mudanya ia selalu menjadi imam. Ia dikenal mempunyai keluasan ilmu, akhlak terpuji dan kepemimpinan sebelum ia mencapai usia 30 tahun.

Dalam bidang penulisan dan karya ilmiah, Ibnu Taimiyyah telah meninggalkan warisan yang sangat banyak dan berharga bagi umat Islam. Para ulama dan peneliti senantiasa menimba air yang bersih dari beliau. [Download Kaidah Ahlussunnah Wal Jama’ah ‘ASWAJA’ Karya Ibnu Taimiyyah]

Di tengah umat Islam sekarang sangat banyak bertebaran karya-karya beliau berupa buku, risalah, fatwa, berbgai buletin yang masih tetap tak dikenal dan tersimpan dalam manuscript masih sangat banyak.

Di samping keilmuan dankedalaman pengetahuan agamanya, beiau dikenal sebagai orang yang suka melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Allah mengaruniai beliau dengan sifat-sifat terpuji yang sangat dermawan sehingga lebih mendahulukan kepentingan orang yang mengalami kekurangan makan, pakaian dan sebagainya dari pada dirinya sendiri.

Beliau sangat tekun beribadah, berdzikir dan membaca Al-Qur’an. Beliau hidup jauh dari kemewahan dan kesenangan dan hampir tidak mempunyai simpanan harta selain yang dibutuhkan. Sifat-sifat seperti ini telah dikenal oleh orang-orang pada zamannya. Beliau sangat rendah hati dalam penampilan, pakaian dan pergaulan dengan orang lain. Beliau tidak pernah mengenakan pakaian bagus atau pakaian yang sangat jelek dan beliau tidak pernah memberatkan orang-orang yang ditemuinya.

Beliau terkenal beribawa dan kuat dalam menegakkan kebenaran. Beliau sangat disegani oleh kewibawaannya dan menghormatinya, kecuali orang-orang yang dengki dari kalangan pendukung hawa nafsu. Ia dikenal sangat sabar, tambah memikul kesulitan dalam memperjuangkan agma Allah. Ia sangat terbuka, suka mendatangi undangan dan mempunyai keistimewaan atau karamah yang dapat disaksikan orang banyak. Semoga Allah memberinya rahmat dan melapangkan tempatnya di alam kubur dan juga ditempaknan di surganya Allah. Amiiin…!!!

Syaikh Ibnu Taimiyyah wafat dalam penjara sebagai orang tahanan di penjara Qal’ah di Damsyik. Beliau wafat pada malam Senin tanggal 20 Dzulqa’dah tahun 728 Hijriyah. Penduduk Damsyik keluar meluber dan begitu pula dari kota-kota di sekitarnya untuk menshalatkannya dan mengantarkan jenazahnya ke kuburan. Berbagai sumber menyebutkan bahwa ketika wafat, jenazahnya diantarkan oleh khalayak yang berjumlah sangat besar hingga memenuhi kota. Semoga Allah memberinya rahmat dan memberikan balasan sebaik-baiknya atas pengabdiannya kepada Islam dan kaum muslim.

Tahlil Rutin PMII Rayon Pencerahan Galileo – 08 September…

Tahlil merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh Organisasi PMII Rayon Pencerahan Galileo. Selain sebagai bentuk Hablum Minallah dalam bentuk bermunajat dan membaca doa bersama, juga sebagai bentuk Hablum Minannas dalam bentuk berkumpul bersama dan saling menjaga guyub rukun sesama warga rayon.

tahlil-4

Kegiatan kali ini dilakukan pada tgl 8 september 2016 tepatnya pada jam 20.00 WIB yang bertempat di gedung b lantai 2 menghadap gedung A UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kegiatan ini dihadiri oleh pengurus dan warga rayon. Bukan hanya itu, mahasiswa baru yang merupakan calon anggota juga mengikuti kegiatan dengan antusias.

Kegiatan Tahlilan tersebut dipimpin oleh sahabat Ghofur dari sahabat palapa 2014, setelah itu disambung oleh sambutan dari sahabat Mahbub Junaidi selaku ketua rayon.

tahlil-1

Dalam sambutannya, Sahabat Mahbub Junaidi menyampaikan bahwa dalam rayon ini memiliki berbagai macam biro dan LSO, dan kegiatan Tahlilan ini merupakan sebagian dari kegiatan rutin Rayon, yang mana setiap malam Jum’at selang seling antara Tahlilan dan Sholawatan, yang mana ini merupakan bagian dari biro keislaman.

 

==>

Reporter : Sahabat Insya’ (Simpati 2015)

 

Pentingnya Sholat Lima Waktu

sholatSetiap muslim sudah memahami bahwa sholat lima waktu itu wajib untuk dikerjakan, karena merupakan salah satu dari rukun islam yang merupakan syarat mutlak untuk menjadi muslim yang sesungguhnya.

Sholat yang wajib dikerjakan adalah sholat lima waktu, yaitu Subuh, dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya. Sholat yang dinadzari juga wajib dikerjakan bagi si pembuat nadzar, walaupun yang dinadzari itu sebenarnya sholat sunnah.

Tetapi, entah mengapa pada zaman sekarang, banyak manusia terutama kawula muda yang sering menganggap remeh sholat lima waktu. Mereka mengentengkan untuk meninggalkan salah satu bahkan semua sholat wajib tersebut. Walaupun mereka tahu, sholat lima waktu itu harus dilakukan, tetapi sebagian mereka meninggalkannya. Sungguh menyedihkan !

Mereka banyak yang beranggapan, ‘ahh. nanggung. sebentar lagi acaranya selesai kog, nanti saja sholatnya’ tetapi akhirnya malah tidak sholat. ‘wahh.. lagi sibuk, sholatnya cuti dulu’ sungguh ngawur, ‘ini badan capek banget.. sholatnya kapan-kapan saja lah’ sungguh tidak berpendidikan !

Seharusnya kita sadar, Bahwa segala nikmat yang kita rasakan, telinga, mata, hidung, mulut, dan semuanya itu dari Allah SWT. Cobalah banyangkan jika kita kehilangan salah satu nikmat saja yang Allah berikan kepada kita, apa yang kita rasakan? Kehilangan mulut, tidak bisa berbicara. Kehilangan mata, tidak bisa melihat indahnya dunia. Kehilangan tangan, tidak bisa memegang.

Begitu pemurah dan penyayang Tuhan kita, Allah SWT yang telah memberikan begitu banyak nikmat-Nya kepada kita. Tapi, mengapa… dengan segala nikmat tersebut, kita diwajibkan sholat, hanya lima waktu, yang hanya memakan waktu sekitar 5 menit setiap sholat setiap hari yang berjumlah 24 jam tiap harinya, tetapi kita terkandang begitu susah untuk melaksanakannya. Sungguh memalukan.

Padahal, sholat itu begitu penting untuk diri kita sendiri. Sholat itu merupakan pencegah dari kemungkaran. Sholat itu amal pertama yang akan dihisab nanti, dan apabila sholat bagus, maka semua amal bagus, apabila sholatnya jelek, semua amal jelek. Sholat sebagai sarana pendekatan diri kepada Allah SWT yang sangat bagus.

Ketika Nabi Muhammad SAW ketika sedang menghadapi ajal, beliau memberikan wasiat berupa sholat yang harus umat islam jaga dan laksanakan dengan sungguh-sungguh. Beliau mengucapkan “ummati, ummati” berkali-kali yang berarti beliau sangat perhatian, sangat cinta pada ummatnya. Beliau mengucapkan kata-kata “as-sholah” “as-sholah” berkali-kali, yang berarti begitu pentingnya sholat bagi ummat islam.

Saya pribadi, sebagai penulis juga merasakan begitu dahsyatnya manfaat yang dihasilkan jika kita melaksanakan sholat lima waktu secara tepat waktu. Bagi sebagian orang yang super sibuk, katakanlah mahasiswa yang dipenuhi berbagai macam tugas, sholat bisa menjadi sarana refresh yang sangat efektif supaya otot-otot yang sedang tegang karena mengerjakan tugas, kembali rileks dan segar serta hati yang semakin tenteram.

Coba ketika berwudlu, kita rasakan begitu nikmatnya ketika air membasuh kedua telapak tangan, membasuh muka, hingga membasuh kaki. Air wudlu seakan membawa energy baru ditengah-tengah kelelahan mengerjakan tugas. Dan, jika ditambah sholat, maka akan terasa sungguh nikmat, ketika kita takbir, membaca surah Al Fatihah bahkan ketika bersujud dan kita sempatkan merenungi doa doa kita ditengah-tengah sujud kita. Sungguh, terasa nikmat. Coba hayatilah, kawan.

Ketika seorang muslim meniggalkan sholat, didalam hatinya pasti akan ada rasa berontak bahwa, mengapa ia meninggalkan sholat ?, mengapa ia tidak melaksanakan kewajiban ?. Nah, perasaan tersebut memang murni lahir dari hati nurani, setiap muslim memilikinya. Tetapi syetan menghalangi raga muslim tersebut untuk melaksanakan sholat. Untuk selanjutnya, tergantung kita, mengikuti hati nurani yang berarti segera sholat atau mengikuti rayuan syetan yang berarti meninggalkan sholat begitu saja.

Sampai disini, sebagai ummat muslim, sebagai saudara, sebagai sahabat, sebagai kawan hanya bisa mengingatkan, bahwa sholat itu begitu penting bagi diri kita sendiri, sholat itu sangat bermanfaat bagi kita di dunia hingga akherat dan mari kita jaga bersama-sama sholat kita agar tidak menyesal di hari nanti.

———>

Semoga kita semua menjadi hamba-Nya yang taat dengan sebenar-benarnya taat dan selalu diridloi dan diberkahi dalam setiap langkah yang kita jalankan..

Islam Nusantara Tiga Dimensi

oleh: Anas Ahimsa

Jika menengok sedikit kebelakang, perbincangan tentang Islam Nusantara sungguh terlihat begitu deras saat pra menjelang, muktamar NU, dan beberapa hari (saja) paska momentum di “kota wali” jombang itu terlaksana.

Lantas, bagaimanakah gelombang diskursus tentang Islam Nusantara itu, hari ini dan kedepan?

Dan ketika “Sang Sastrawan” sekaligus tokoh yang kita kagumi, KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam sambutan (tulisan) nya menanyakan; Islam Nusantara, Makhluk Apa Itu? Sungguhlah sulit memberi jawaban secara ringkas akan pertanyaan semacam itu. Hanya saja bagi penulis yang masih terbelakang (awam) tentang pemikiran keislaman dalam kaitannya dengan nilai-nilai budaya di nusantara. Cukup akan menempatkan spirit-nilai “Islam Nusantara” disini sebagai salah satu ciri khas aktualisasi yang tak berkesudahan (proses) dalam keberagaman laku keseharian, sehingga tidak gampang “kagetan” setiap melihat perbedaan.

Oretan ini hanya bagian “refleksi kecil” penulis, tentang manifestasi dari tiga dimensi penting yakni Kearifan Lokal, Pribumisasi Islam, dan Dialog-Toleransi Lintas Keyakinan yang termaktub dalam khasanah (buku) Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan, Mizan.

Kearifan Lokal               

Kearifan lokal (budaya) menjadi nafas penting yang tak terpisahkan dalam kerangka Islam Nusantara. Karena islam nusantara tak lebih adalah upaya penyesuaian (adaptasi) secara ramah dengan nilai-nilai budaya atau kearifan lokal yang ada.

Bahwa “Paham dan praktek keislaman di bumi nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realitas dan budaya setempat”. Sebagaimana disebut oleh Akhmad Sahal dalam mengutip tulisan KH. Afifuddin Muhajir, dalam Prolog buku Islam Nusantara ini.

Sejatinya Islam dan budaya mempunyai posisi independensinya masing-masing, yang saling berkaitan satu sama lain. Islam sebagai agama yang cenderung “garang” dalam (sifat) normatif-nya, menjadi lebih santun menyejukkan dan bisa berkembang secara dimanis ketika mampu berjalan setapak-demi-setapak melalui jembatan, bernama budaya.

Kearifan lokal bisa berwujud prinsip Bhinneka Tunggal Ika, dan berbagai tata nilai kebudayaan Nusantara lain yang beradab, tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap peradaban yang berkembang.

Proses pendekatan agama (islam) melalui budaya berlangsung terus-menerus, menambah kedamaian berupa kelenturan yang ter-asyik, bukan ketegangan yang ter-usik. Sehingga ketika bersentuhan dengan konteks lokalitas masing-masing, penerapan dan bentuk (model) nya bisa berubah-ubah, tetapi prinsip-nilai (islam) nya tetap.

Sehingga karakter Islam Nusantara disini bisa ditunjukkan dengan adanya kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama (islam), namun justru saling bersinergi antara islam di satu sisi, dengan kearifan budaya lokal disisi yang lain.

Dalam epilog di buku ini, Lukman Hakim Saifuddin sang menteri “semua” agama Indonesia kita, kembali mengingat tegaskan. Bahwa media penyebaran Islam di Nusantara salah satu nya adalah melalui perangkat budaya.

Pribumisasi Islam

Sebagai buah “perjumpaan” yang cukup panjang antara agama (islam) dengan budaya sebagai kearifan lokal, hingga mampu membangun “titik temu kultural”.  Pribumisasi Islam merupakan gagasan pembaharuan yang unik dari Gus Dur.

Agar tidak cenderung memikirkan manifestasi simbolik dari islam dalam kehidupan, akan tetapi lebih mementingkan esensinya.  Pribumisasi Islam bukanlah upaya perlawanan secara mutlak dari budaya setempat (nusantara) terhadap budaya timur tengah (arabisasi). Sehingga budaya lokal yang “arif”, sekaligus esensi dari Islam yang universal tidak hilang.

Melakukan pribumisasi islam berarti adalah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan masyarakat muslim disetiap kondisi lokalitas nya.

Tanda adanya proses pribumisasi, dalam salah satu contoh riil di masyarakat kita (Nusantara) menurut pemikiran Gus Dur disini, ketika dalam sebuah stadion juga terdapat/difasilitasi adanya musholla, karena melihat kenyataan yang sering terjadi dalam pertandingan sepak bola digelar berbarengan dengan waktu sholat masuk.

Harus disadari, bahwa  penyesesuaian  ajaran islam dengan kenyataan hidup hanya diperkenankan sepanjang menyangkut (ranah) sisi budaya. Sehingga menjadikan agama (Islam) yang mampu mewadahi/akomodir kebutuhan-kebutuhan budaya lokal, pun sebaliknya.

Yang tidak boleh terjadi adalah pembauran islam dengan budaya, sebab berbaur berarti hilangnya sifat-sifat asli.

“Walaupun atas nama agama (termasuk islam), setiap kegiatan yang menyebabkan kegiatan kemanusiaan mengalami kemunduran, haruslah dihilangkan”. Dengan kata lain menurut Gus Dur, bahwa semua kelompok masyarakat bertanggung jawab terhadap proses Pribumisasi Islam. Dalam arti mengokohkan kembali akar budaya kita, dengan tetap berusaha menciptakan masyarakat yang taat beragama.

Dan, prinsip-prinsip yang keras dalam hukum islam (Nas) harus mampu dipahami, lantas dikaitkan dengan masalah-masalah kearifan lokal (budaya) di negeri kita Indonesia, dengan cakupan yang luas dan argumentasi yang lebih matang. Kalau hal itu bisa berjalan/terlaksana dengan baik, maka inilah yang oleh Gus Dur dimaksud dengan, Pribumisasi Islam.

Dialog-Toleransi (Al-hiwar-tasamuh)       

Dialog sebagai jembatan untuk mencari dan menemukan titik-titik (pemahaman) bersama, akan sebuah permaslahan sosial, kemanusiaan dan lainnya yang sedang terjadi di kehidupan kita. Serta didasari pula dengan spirit toleransi. Toleransi bisa diarahkan dengan adanya sebuah sikap terbuka, dan mengakui adanya berbagai macam perbedaan.

Ciri utama dalam metode berfikir (manhaj al-fikr) ala aswaja yang menjadi prinsip atau pegangan Nahdatul Ulama salah satunya ialah, toleransi (tasamuh). toleransi yang meliputi berbagai aspek universalitas kehidupan. Seperti sosial, politik, dan yang lainnya.

Sebagaimana dalam kenyataan budaya khas nusantara kita, islam dihayati oleh muslim (mayoritas) di negeri ini dengan tidak lepas diantaranya dari spirit-nilai toleransi (tasamuh).

Dan dialog sendiri bukanlah dalam maksud untuk saling “barter” keyakinan (keimanan) dari masing-masing peserta dialog, hingga akan muncul perasaan menang atau kalah.

Setidaknya ada tiga hal (permasalahan) yang bisa di-dialog-kan bersama, seperti apa yang ditulis oleh Prof. Dr. M. Amin Abdullah dalam Fikih dan Kalam Sosial Era Kontemporer di buku Islam Nusantara ini. pertama: menyangkut permasalahan kemanusiaan universal. Seperti pendidikan, kesehatan, kemiskinan, kekerasan atas nama agama, dll-nya. Kedua: menyangkut permaslahan kebudayaan. Seperti adat-istiadat, bahasa, kebiasaan, gaya hidup, dll-nya. Ketiga: menyangkut permasalahan hak asasi manusia. Seperti kemerdekaan, kesejahteraan, kebebasan, dll-nya.

Ketika sebuah dialog dipahami tidak dalam maksud mencari pemenang antar kelompok, keyakinan, organisasi, atau komunitas tertentu. Sehingga tujuan (esensi) dari dialog seperti untuk saling mengenal, saling mengerti, saling mengasihi, membangun solidaritas, serta hidup bersama secara damai dan toleran . akan bisa tercapai.

Terakhir

Teringat salah satu pesan (dakwah) yang pernah disampaikan oleh “Sang filsuf” asal rembang, Gus Mus. Yang coba penulis sampaikan dengan perumpamaan dalam konteks tulisan ini, bahwa; penyesuaian dengan Kearifan Lokal (Budaya), Pribumisasi Islam (Gagasan Gus Dur), serta Dialog dan Toleransi. Sejatinya harus dipahamai sebagai perantara/jalan (wasilah). Untuk mencapai satu tujuan utama (ghayah) yakni Allah SWT, atau seringkali juga kita menyebutnya, Tuhan.

Semoga islam yang ramah, dan arif dalam lokalitas budaya nusantara yang beragam ini, senantiasa menjadi ajaran yang Shalih Li Kulli Zaman Wa Makan (Cocok untuk seluruh masa dan tempat). Wallahu a’lam bish shawab

* Tulisan ini sekedar apresiasi untuk sahabat-sahabat PMII Komisariat Sunan Ampel Uin Malang, yang menggelar hajatan Seminar Bedah Buku Islam Nusantara, akhir oktober 2015.

(Penulis adalah pelayan di Waroeng Gus Dur Ngalam, bisa dijumpai via twitter @anas_ahimsa)