Tax Goes to Campus 2018

PMII Galileo – Perhelatan Tax Goes to Campus 2018 yang digelar Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kota Malang berlangsung semarak. Ratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang sangat antusias saat berbagai game dan hiburan disajikan dalam rangkaian sosialisasi pajak daerah itu.

Para mahasiswa dan mahasiswi kompak ikut bernyanyi saat band d’Kross membawakan beberapa lagu hits mereka. Termasuk juga saat pembawa acara mengajak para peserta berlomba stand up comedy dengan juri comica senior Wawan Saktiawan dan tim BP2D Kota Malang.

Read more “Tax Goes to Campus 2018”

Ketua PMII JATIM Peringatkan Ketua ESDM JATIM Tak Asal…

PMII Galileo – Pernyataan kepala ESDM Jawa timur, setiajit, dalam seminar pertambangan yang dibiayai oleh PT. bumi seksesindo di Surabaya pada Kamis tanggal 22 November kemarin berbuntut panjang.

Ketua Pengurus Koprdinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Jawa Timur mengingatkan agar setiajit tak asal bicara perihal pertambangan di Silo kabupaten Jember tersebut.

“Tentu sangat menyayangkan pernyataan itu bisa keluar dari seorang kepala dinas Jawa timur, mengingat baru dua hari yang lalu masyarakat silo datang menemui sekda Jatim dan komisi D DPRD provinsi Jawa timur, juga sowan menghadap kKyai Marzuki Mustamar untuk menggalang dukungan dan mengedarkan petisi penolakan tambang, lah kok sekarang bapak setiajit ini tiba-tiba muncul dengan statement yang ngawur dan tidak mempertimbangkan perasaan masyarakat silo”, ungkap Ketua PMII Jawa Timur (23/11/2018).

. Read more “Ketua PMII JATIM Peringatkan Ketua ESDM JATIM Tak Asal Bicara Soal Tambang Emas Silo”

Berproseslah Dengan Caramu Sendiri

Kamu tidak dapat mengajari seseorang apa pun, kamu hanya bisa membantunya menemukan apa yang ada dalam dirinya sendiri- Galileo Galilei

Kalimat di atas yang kemudian memantik kita para kader PMII, khususnya PMII Rayon “Pencerahan” Galileo untuk dapat mengaktualisasikan peranan kader dalam mengembangkan berbagai hal yang nantinya dapat berdampak positif baik bagi rayon maupun lingkungan sekitar.

PMII merupakan salah satu dari sekian banyak OMEK yang berkembang di kampus. Setiap OMEK tentu memiliki tujuan mulia untuk mencetak kader-kader yang mampu mengembangkan bakat dan minat yang mereka miliki. Selain itu keberadaan PMII sebagai wadah pergerakan mahasiswa berbasis Islam tentunya memiliki tujuan utama untuk tetap menjaga khazanah dan tradisi Islam yang sesuai dengan Islam Ahlussunnah wal Jamaa’ah. Sehingga, nantinya diharapkan kemanapun kader-kader PMII didistribusikan akan tetap berpegang teguh dengan Tujuan PMII yang tertuang dalam Pasal 4 AD PMII, yang berbunyi

Terbentuknya Pribadi Muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta berkomitmen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Menurut, Sahabat Fitrah pada saat Follow Up PKD, beberapa pekan lalu, disampaikan bahwa salah satu konsep yang dapat diterapkan untuk mengaktualisasikan peranan kader secara optimal adalah dengan konsep Bunga Matahari. Konsep ini yang seharusnya dapat dijadikan oleh setiap kader PMII sebagai landasan selama berproses di PMII. Dimana kelopak pada bunga matahari melambangkan di ranah mana kita sebagai kader akan mengembangkan diri. Mulai dari organisasi intra, komunitas, akademisi, maupun di ranah ma’had sebagai musyrif/ah. Dimanapun kita akan berproses pada muaranya setiap kelopak akan kembali pada lingkaran tengah bunga yakni sebagai interpretasi Rayon. Dimanapun berada setiap kader tidak dapat mengelak identitasnya sebagai kader pergerakan. Untuk begitu tinggal bagaimana kita sebagai kader dapat menempatkan diri sesuai dengan profesionalitas yang kita miliki.

Rayon adlah benda mati, yang menjadi wadah bagi setiap kadernya. rayon membutuhkan peran aktif setiap kader untuk menghidupinnya. Karena, rayon tak akan memberikan apa-apa kepada kita jika kita enggan tuk mencarinya. Begitulah jika kita telaah kembali kalimat Galileo di atas. Karena melalui berproses di PMII kita akan digiring untuk menemukan diri kita sendiri, tergantung bagaimana kita mau memaksimalkan waktu untuk berproses. Dan cara terbaik untuk berproses adalah, berproses dengan cara kita sendiri.

 

.Nrl

Mainstream Kaderisasi Kita, Saat Dan Pasca Tahun Politik

PMII Galileo – Opini – Di tengah banyak kritik dan pandangan sinis terhadap fenomena baru-baru ini terkait kaderisasi PMII Jawa Timur, yang kebetulan bersamaan dengan tahun-tahun yang paling subur untuk masa depan para aktifis yang beruntung, menjadi catatan penting untuk kita renungkan bersama. Siapapun kita, baik alumni terlebih yang masih aktif di berbagai jenjang struktural yang ada.

Tidak perlu saya sebutkan fenomena itu apa, setidaknya secara pribadi baru kali ini saya tidak bisa beralibi baik ilmiah empiris maupun diplomatis politis, jika ada pertanyaan tentang PMII. Ada seorang teman yang tiba-tiba mengirimi saya foto dua biduan idola saya, Vallen Kharisma dengan membubuhkan caption “Bat, mohon di-mapaba-kan, mereka potensial, untuk meng-kuningbiru-kan Vianisty dan Nella Lovers”. Kira-kira jika itu pertanyaan untuk anda, apa jawaban anda?

Sudah bukan lagi menjadi rahasia khusus, kalau adanya keterlibatan semua organisasi kemahasiswaan terhadap “pesta” dukung mendukung dalam kepentingan politk praktis, baik secara langsung maupun sembunyi-sembunyi. Dengan berbagai alasan dan latar belakang pengambilan keputusannya untuk memihak (dukung-mendukung).

Saya yakin anda bisa berimajinasi sendiri untuk itu saya tidak akan bicara, (karena saya menulis, heuheuheu) untuk mendudukan, memojokkan ataupun mencari kesalahan siapa sebenarnya menodai kaderisasi kita. Memang ini bukan hal baru, akan tetapi jika tidak segera disikapi dengan rasa cinta pada PMII (khususnya adik-adik yang masih berproses di akar rumput), bukan tidak mungkin PMII akan menjadi macan ompong di masa yang akan datang.

Mari kita sedikit menoleh pada awal-awal Gus Dur memimpin NU pada periode pertama, beliau merasakan bahwa NU sebagai kendaraan politik, tidak lebih hanya digunakan sebagai kendaraan umum bagi siapapun. Yang mana kaderisasi NU masa itu dinilai masih mengandalkan proses alamiah, sehingga siapapun yang dinilai “baik” maka dialah yang mendapatkan rekom dari NU. Tidak peduli dia mengenal NU secara “kaffah” atau tidak.

Dari kenyataan seperti itu, seperti yang diungkapkan oleh Mbah Said Aqil Siraj, dalam memimpin NU beberapa periode Gus Dur selalu mengedepankan kaderisasi-kaderisasi yang utuh untuk pemuda-pemudi generasi NU, sampai-sampai kala itu, kaderisasi ulama juga didengungkan.

Sependek jangkauan padangan saya, Gus Dur menerapkan prinsip “kaderisasi” seperti itu, bukanlah Gus Dur sengaja untuk melepas santri dengan Kiainya dan Pesantren, akan tetapi hal itu adalah untuk kita hari ini, yakni generasi meneruskan NU sebagai organisai yang modern.

Salah satu anggota di Lembaga Pengembangan Kaderisasi PKC Jawa Timur, sempat bertanya atau lebih tepatnya menegur dengan bahasa khas Sumenep-Nya yang halus “Mas gimana ini, apa pendapat pean?” Jujur saja saya hanya menyatakan sikap personalitas sebagai kader PMII, dengan mencoba melepas identitas struktural di PKC, saya mengatakan sederhananya “semua pasti ada hikmahnya mas”.

Inikah Masa Depan Kaderisasi Kita
Begini sahabat-sahabat, ini adalah otokritik untuk kita, dan ketika sudah terbit di media yang artinya adalah dapat menjadi konsumsi umum, biarlah, karena ‘sebab’ ini terjadi juga di depan umum, maka akibatnya harus juga dirasakan oleh umum juga. Meskipun terkesan horror begini, saya sangat percaya dan meyakini bahwa tidak ada yang tidak baik di antara sesama organisasi kemahasiswaan. Karena saya pun juga bisa, jika harus mengungkap semua kemunafikan gerakan mahasiswa era pasca reformasi ini.

Maka dari itu, mari kita blejeti satu persatu; Pertama; kemenangan Joko Widodo dari Prabowo di Pilpres 2014 yang lalu, yang tahun depan akan kita ulangi lagi, telah mengantarkan PMII pada mainstream baru dalam gerak-gerak doktrinasi pada anggota baru. Mainstream itu adalah rela menunjukkan kebanggaan, banyaknya jumlah orang  yang berasal dari PMII untuk menjadi pembantunya Presiden Jokowi, saking senangnya, sampai kita lupa, kalau Jokowi adalah mahasiswa pecinta Alam, dan Wakilnya adalah Himpunan Mahasiswa Islam.

Dalam hal ini kita sudah bunuh diri karakter, karakter siapa? Yang jelas bukan karakter senior-senior kita yang sudah nyaman di atas sana atau yang sedang “menjilat”, melainkan karakter adik-adik kita dan karakter PMII di masa depanlah yang terancam. Dan perlu diingat, kalau karakter sudah terbunuh, maka kemudian adalah identitas kita terbunuh, alhasil kita semua telah melakukan bunuh diri “kelas”, itu lah kondisi kita hari ini menuju “the slow death of the our movement”.

Kedua; prespektif saya dalam melihat bahwa Gerindra, PKS dan PAN tidak sanggup mengangkat calon gubernurnya sendiri di Pilkada Jawa Timur tahun ini, merupakan sebuah malapetaka tersendiri, ingat DKI Jakarta. Memang sudah bisa dipastikan, permainan politik senista di Pilkada DKI Jakarta tahun lalu itu, tidak bisa diterapkan di Jawa Timur, tapi dengan melihat ketidakdewasaan Tim Sukses yang notabene diisi oleh para pemuda dengan ambisinya yang khas menggebu-gebu, adalah sebuah celah untuk benar-benar massa suara NU Jawa Timur. Termasuk adalah “mencampuradukkan dapur organisasi dengan pelaku langsung politik praktis”.

Apakah jika memang begitu nyatanya, patutkah disebut bahaya? Tidak! Lantas, apakah hal itu tidak berbahaya? Yaa, sangat berbahaya! Dipastikan tidak berbahaya jika itu pendapat keluar di antara kita yang telah memiliki nalar politik sejak oroknya, bahkan urusan kaderisasi yang seharunya suci dari politik masih diikutcampurkan. Akan menjadi bahaya jika yang berpendapat seperti itu adalah antara kita-kita yang alam fikirnya dipenuhi hanya tentang kaderisasi, pendidikan kader dan distribusi kader.

Saya merasa tulisan ini tidak layak untuk terbit, tapi minimal sebelum tulisan ini terbit telah saya tashih-kan pada salah satu sahabat, yang artinya adalah terbit tidak terbit tulisan ini minimal telah dibaca oleh salah seorang sahabat kita. Oleh karena itu, sekali lagi saya ingatkan, saya tidak mendudukkan siapapun, jika memang dirasa mendudukkan, ya memang pahit rasanya.

Tentang ketidakdewasaan-ketidakdewasaan itu bukan hanya terjadi pada diri kita yang masih aktif, nyatanya jika anda bertemu dengan akun facebook yang mengatasnamakan anak muda NU, isinya hanya kampanye-kampanye politik dan pernah ada satu unggahan yang membuat saya meringis “kok begitu yaa” akun itu menuliskan “yang dilihat itu prestasinya bukan nasabnya”. Dua hal yang perlu kita catat sebagai bahan evaluasi berfikir dan bergerak, adalah tidak semua anak muda NU itu politisi, dan wajah anak muda NU adalah bukan mereka. Persis seperti ketika, ada yang bilang wajah Islam Indonesia adalah, HTI-FPI-PKS-Wahabi, jelas kita tidak akan terima.

Jangan Korbankan Kepolosan Dan Kesucian Adik-Adik Kita
Bahwa tantangan terbesar gerakan mahasiswa Indonesia yang massif seantero negeri, sudah dapat dipastikan tidak akan pernah terjadi di era kita sekarang. Tak perlu saya jelaskan, anda bisa berimajinasi sendiri untuk menemukan sebab-sebab untuk persambungan itu, dan bahkan kita pun tidak bisa menentukan kapan gerakan mahasiswa yang seperti 1966 dan 1998 itu terjadi lagi. Saya masih teringat dengan salah satu senior gets yang dimiliki kader-kader PMII Jawa Timur, beliau mengatakan pada saya:

“Kamu jangan goblok melihat fenomena, kamu ini ada di zaman apa, pastikan semua doktrin-doktrin sisa pergerakan reformasi itu perlahan sesuaikanlah dengan zaman. Kamu ada di sebuah zaman yang lebih populernya disebut sebagai masa elan vital, yaitu sebuah masa-masa ‘di antara’ dua momentum besar, dan kamu harus merasa berdosa mulai hari, jika kelak generasimu tidak siap dan tidak memiliki persiapan militansi ketika dihadapkan pada momentum gerakan itu. Jelas, yang salah adalah kamu di hari ini, mengapa kamu hanya memikirkan habis ini ikut siapa, habis ini masuk partai siapa”, begitu lah kurang lebih nasihat beliau, ia adalah Sahabat Syakban Rosidi.

Kita tau, kalau proses kita secara struktural di cabang ke bawah hanya satu tahun, dan itu adalah masa yang sangat cepat, untuk menyelesaikan masalah pasca konfercab. Sedangkan kaderisasi kita juga sering terganggu akibat itu, ditambah dengan realitas yang ada bahwa organisasi ideologis yang berbeda dengan kita juga sudah masuk dan nyata di depan mata. Lantas masihkah tega, kita menyimpangsiurkan pandangan mereka pada langkah-langkah politik kekanakan ini. Kalau memang yang menjadi semangat-semangat kampanyenya adalah kuning melawan hijau, atau biru melawan hitam, ya tegaskan lah, jangan sampai karena menjaga hati, kita justru mengambil langkah-langkah konyol.

Mari kita membuka mata adik-adik kita, agar melek pada tahun-tahun politik yang membahayakan ini. Sedangkan mereka yang di luar sana, sambil ngopi dan menghisap rokok tetap berfikir kalem, dengan sedikit-sedikit menertawai kita. Terakhir! Sebagai pagar bahwa tulisan ini tidak hanya untuk PMII saja, yang kemudian hanya menambah keruh keadaan, perlu kita ketahui bersama, bahwa musibah ini sedang menimpa PMII, sedangkan pada organisasi lain juga sudah ada yang pernah merasakan, dan atau akan merasakannya di masa depan.

NB: Opini ini adalah curahan hati tidak ada yang saya ajak diskusi dan tidak mewakili lembaga. Salah benarnya, kurang lebihnya, adalah saya sendiri yang bertanggung jawab. Tapi saya tidak akan meladeni perdebatan, sebagai gantinya baik mendukung, menambahi, mengurangi dan membantah penuh, silakan menulis sendiri dan terbitkan sendiri.

Penulis : Aris Indra F.

Sumber : http://pmiinews.com

Tahun Politik Dan Keberpihakan Aktivis PMII

PMII Galileo – Pada saat momentum politik tahun 2018 ini merupakan pra-politik yang nantinya menembus klimaks politik pada tahun 2019 nantinya. Dimana para partai politik menyimpan kaki-kaki nya saat pilkada serentak berlangsung tahun ini.

Temporial situasi yang menyudutkan para aktivis atas keberpihakannya di tahun politik ini ialah mempunyai tanggung jawab besar dalam mengawasi dan mengawal demokratis yang damai dan tentram.

 Akan tetapi melihat dari beberapa kacamata kuda kita temui, bahwasannya berbicara aktivis tak terlepas kaitannya antara junior dan senior serta tak terelakkan di semua lini dan daerah lokus-lokus para aktivis berkecimoung. Dengan adanya para aktivis junior dan senior maka tidak bisa dipungkiri lagi kemana arus yang ia ikuti.

Spesifik atas pembahasan yaitu para aktivis PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan organisasi mahasiswa ekstra yang berbasis kaderisasi. Dimana seluruh pelosok bumi pertiwi ini sudah ada aktivis PMII.

Maka dari itu salah satu mantan Ketua Umum PB PMII sebut saja Cak Imin (Muhaimin Iskandar) sudah menyiapkan strategi politik untuk menjadi calon wakil Presiden Republik Indonesia bahkan bisa melangkah lebih maju yaitu calon Presiden.

Yang menjadi benang merah antara tahun politik ini dan keberpihakan Aktivis PMII terutama tantangan yang besar atas keberpihakannya yaitu memilih pada proses kaderisasi atau memfokuskan salah satu senior yang ingin maju calon wakil presiden.

Kalau penulis sendiri dengan beberapa ide dan gagasan, akan saya tuangkan pada tulisan ini, agar keberlangsungan kaderisasi akan semakin kuat dan kental dalam berdinamika organisasi.

Solusi Tanpa Menghindari dan Keberpihakannya Pada Tahun Politik

1. Perlunya silaturrahim terus Menerus antar kader dan alumni. Saya meyakini, tidak semua alumni suka politik praktis melainkan ada juga yang politik kebangsaan, maka dari itu jangan bergantung pada salah satu alumni saja.

2. Mulai mengembangkan potensi-potensi yang Anda miliki, agar saat kalian proses berorganisasi maka potensi itulah yang kamu jadikan ide dan gagasan sehingga mempunyai nilai value pada kepribadian Anda, buka malah menjual atau menggadi sebuah organisasi.

3. Peka terhadap hal-hal yang berbau politik praktis untuk menghindari masuk ke dalam jurang yang tidak dinginkan.

4. Tekankan kepada kader untuk lebih disibukkan dengan tanggung jawab mahasiswa sebenarnya. Agar tidak nganggur sehingga gampang untuk dijerumuskan pada politik kebangsaan.

5. Bagi anda yang suka politik praktis, jangan setengah-setengah untuk melacurkan diri. Karena sekali naik daun Anda akan tinggi dan juga sebaliknya.

6. Bagi Anda yang suka politik kebangsaan, marilah kita kampanyekan sebuah kedaimaian. Tanpa menyalahkan antar sesama. Karena kita masih mempunyai sebuah Kebhinekaan.

7. Jika ingin mengembangkan organisasi yang digeluti saat ini, tak perlu kalian harus mengikuti urusan atau konflik organisasi atau oran lain. Cukup Anda kembangkan menjadi besar organisasinya maka organisasi lainnya akan merasa kecil.

8. Tak perlu kita melihat senior-senior kita yang sukses untuk menjadi motif merekruitmen kader. Khawatir terbengkala dalam proses kaderisaai.

9. Dan yang terakhir, ini adalah zaman kita yang berproses untuk berorganisasi, bukan alumni atau senior.

Kalau zaman Sayyidina Ali Bin Abi Thalib menyatakan “Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan ini bapakku, tetapi yang dikatakan inilah aku“. Jika dikaitkan dengan sebuah kaderisasi zaman now yakni, “Bukanlah seorang kader ulul albab yang mengatakan ini seniorku, tetapi yang dikatakan kader ulul albab inilah aku“.

Oleh karena itu, mulai lah sejak dini untuk mengasah pola pikir yang luas, agar tajam dalam menganalisa sebuah konteks saat ini.

Penulis menghimbau para kader dimana pun berada, tak perlu engkau bergantung pada senior atau alumni yang tidak memanusiakan manusia, tapi jangan memilah-milih senior atau alumni untuk bersilaturrahim dan mempererat tali silaturrahim.

Politik di Indonesia bagaikan sebuah kamar mandi yang berada di rumah. Coba bayangkan saja, sebesar-besarnya rumah, jika tidak ada kamar mandi, akankah seperti apa perasaan Anda?. Silakan refleksikan otak dan pikiran kita sejenak.

Surat Untuk Pertiwi “Hibridisasi Ego”

Kontributor : sahabat bakhru thohir

Yang terkasih pertiwi,

Semoga selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan YME.

Sebelumnya maafkan saya yang telah lancang mengirimkan surat kepada engkau, tapi dalam rangka memompa semangat meneladani Kartini, perkenankan saya mengeluarkan unek-unek yang terpendam dalam hati.

Mohon maaf pertiwi, dalam membuat surat ini saja saya masih perlu membuka KBBI dan mencari makna paling cepat apa itu pertiwi, maafkan kebodohan saya. Kabar negeri saat ini tak begitu baik, setelah ada ramalan dari Prabowo “Dilan” Subianto yang menyebutkan bahwa “Saat ini Indonesia memang belum bubar, gak tau kalau 2030” telah berhasil membuat banyak penduduk bertanya-tanya, komentar sampai tegang. Selain itu, pada perayaan Kartini tahun ini juga muncul versi kartini berjilbab dan berjacamata yang tentu sangat ketahuan maksud gambar ini dibuat untuk apa, mana mungkin di era itu ada kaca mata yang modelnya sama persis dengan yang dikenakan Via Vallen. Maafkan kami yang terlalu mudah diadu domba. Entah para pahlawan di sana sedang meratapi nasib tanah tumpah darahnya atau malah tertawa terpingkal-pingkal karena kelucuan perilaku kami.

Kegiatan kami setingkat mahasiswa juga setali tiga uang. Banyak diantara kami yang tidak lagi mengasah nalar kritis tapi ikut-ikutan kakak kami untuk memperebutkan jabatan. Proses belajar kami yang bertujuan untuk ilmu juga hanya ditahapan hayal, praktiknya ya tetap saja kami adalah budak nilai A. Saling sikut dengan sesama juga menjadi sesuatu yang wajar. Buku-buku juga demikian, memang banyak bertebaran, tapi entah untuk mencari substansi atau hanya sebatas eksistensi dari penayanganya di story WA dan IG, biar teman kami yang melihat terkesan “Wah keren sekali bacaanmu, sunguh luar biasa”.

Kami yang terafiliasi dengan pergerakan mahasiswa islam indonesia juga demikian. Sungguh maafkan kami pertiwi. Kami yang menyebut mahasiswa pergerakan, tapi gerakan kami pun masih tak memiliki visi. Kami hanya sebatas meneladani romantisme dari para senior. Bukan kami tidak paham soal berbedaannya medan proses dulu dan sekarang, tapi cerita-cerita gagah saling dorong dengan aparat di jalan begitu heroik saat kita dengar, kan lumayan bisa jadi cerita yang terus kita produksi untuk generasi penerus.

Kami yang menyematkan kata “mahasiswa” setelah kata pergerakan juga jauh dari citra mahasiswa yang benar-benar mahasiswa. Memang citra mahasiswa teladan sangat bias sekali dan tentu sangat subjektif penilaian itu. Tapi nyinyiran bahwa kebanyakan mahasiswa pergerakan pasti kuliahnya hancur memang benar adanya. Kita pun cuma bisa menimpali “hidup tak ditentukan oleh kesuksesan nilai saat kuliah”. Kita hanya sebatas membalas argumen tanpa karya. Nanti saat kami dewasa dan menyadari bahwa birokrasi yang memimpin adalah orang-orang yang bobrok, kita tetap hanya bisa berkomentar “dasar birokrat korup dan menindas”. Sadar terhadap perlunya mahasiswa pergerakan mengisi sudut-sudut birokrasi terlalu lamban disadari. Saat ini yang ada juga hanya mencetak generasi politisi, bukan seorang negarawan.

Lanjutan kata mahasiswa adalah kata “Islam”. Dan ya lumayan lah, sejak ada isu-isu khilafiyah, kita jadi belajar lebih tentang Islam. Ucapan terimakasih perlu kita sampaikan pada pejuang khilafah yang muncul dengan isu-isu membuat negara agama, sehingga membuat kita mempersiapkan diri untuk menghadang rencana itu dengan membaca buku dan berdiskusi tentang substansi Islam. Seperti kapital yang semakin berjaya saat dikritik oleh komunis/sosialis. Selebihnya ya kualitas sariat kami sangat ala kadarnya, solat terbatas, puasa sekuatnya. Ya kembali kita berargumen “buat apa rajin solat tapi tak tahu kabar tetangga”. Padahal kami juga sudah membaca buku “saleh ritual saleh social” gubahan Gus Mus, entah kenapa kita juga tak meneladani beliau, padahal kita juga marah saat Gus Mus dihina-hina.

Dan kata yang terakhir adalah “Indonesia”. Mohon maaf pertiwi, selama ini kami membawa kata sedemikian luas tapi pemikiran kami sangat sempit, seteru kita juga hanya si ijoitem itu. Padahal saat ini sudah tak zamannya berseteru. Menyelamatkan Indonesia juga tak mungkin kalau dilakukan oleh pergerakan ini sendirian, karena sekarang sudah saatnya kolaborasi. Tapi maaf baru sebatas wacana, pertiwi.

Tapi pertiwi jangan terlampau bersedih karena kabar buruk yang barusan saya sampaikan. Kami sebagai saintis memiliki konsep yang setidaknya bisa jadi pijakan awal untuk memperbaiki keadaan ini. Saintis yang memilih fokus bidang kimia tentu sudah sangat akrab dengan konsep ini, yakni “hibridisasi”, bahkan konsep ini sudah diberikan pada mahasiswa tahun pertama.

Hibridisasi adalah penyetaraan energi. Kalau dalam kuliah, kami diajarkan tentang atom karbon untuk bisa berikatan lebih maksimal, dia harus menghibridisasi orbitalnya. Karena saat orbital berjalan sendiri-sendiri dia hanya bisa mengikat 2 atom lain, sementara saat karbon sudah menghibridisasi orbitalnya atau menyetarakan energi antar orbitalnya dia bisa mengikat 4 atom karbon lain. Bahkan ikatan rangkap juga terjadi karena adanya hibridisasi ini.

Tentu yang membedakan adalah apa yang akan dihibridisasi. Kalau dalam konteks atom, yang dihibridisasi adalah tingkat energi orbital, kalau dalam proses hidup kita, sementara yang saya pahami, yang paling pertama perlu dihibridisasi adalah energi EGO!.

Energi ego dari setiap manusia, kelompok, partai, komunitas, ras, suku sampai agama. Sehingga ikatan kita bisa lebih banyak dan menjadikan indonesia yang lebih solid dan tak mudah diadu domba.

Untuk teknis tampaknya tak perlu saya sapaikan di sini pertiwi yang terkasih, daya nalar kritis dan kinerja otak dalam mengkontekskan sesuatu oleh anak-anak saat ini sudah jauh maju. Biar setiap manusia yang mengeksplorasi apa yang ada di dalam otak mereka masing-masing.

sehat -sehat pertiwi, kami akan selalu berdoa untukmu.
Merdeka!

Sumber gambar : https://goo.gl/images/NSiU8N

Istiqomah dalam Ber-Organisasi

PMII Galileo – Judul di atas terdiri dari dua variabel kata, yaitu istiqomah dan organisasi yang mempunyai makna dan arti tersendiri. Istiqomah dapat diartikan sebagai terus menerus, kokoh, teguh pendirian, tetap dan konsisten. Sedangkan arti dari organisasi sendiri dapat ditinjau dari dua sudut, yakni dari sudut statis dan dinamis. Arti organisasi dari sudut statis mempunyai arti wadah dari sekumpulan orang untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan. Sedangkan arti organisasi dari sudut dinamis adalah merujuk pada orang-orang yang melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Dari situlah dapat disimpulkan bahwa istiqomah dalam berorganisasi memiliki pengertian ke konsistenan sesorang dalam menjalankan roda ke organisasian dengan tetap memperhatikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelaku organsasi guna mencapai tujuan yang sama.

Kadangkala sebagian orang mengasumsikan makna “tetap”dari istiqomah kurag tetap, bagi hemat penulis makna “tetap” dari istiqomah tersebut merujuk pada tetap dalam kedinamisan. Dalam artian tetap bergerak dan mempertahankan pola tingkah laku dan perilku sebagai pelaku organsasi meskipun halangan dan rintangan kian datang silih berganti menghampirinya. Dengan tanda kutip pola tigkah laku dan perilaku tersebut dalam koridor baik sehingga perlu kiranya untuk tetap dipertahankan dan dilaksanakan secara terus menerus.
Kata istiqomah memang mudah di ucapkan, namun susah untuk dilakukan. Meski susah tidak ada salahnya kita harus dan tetap mencoba dan memulai dari diri individu kita sendiri tanpa harus menunggu orang lain untuk istiqomah. Apa lagi istiqomah ingin dilakukan secara kolektif atau kelompok justru akan semakin susah tercipta.
Dalam prinsip perjuangan Nahdlatul Wathon adalah yakin, ikhlas dan istiqomah. Betapa pentingnya istiqomah dilakukan dalam berbagai hal termasuk istiqomah dalam berorganisasi. Tujuan organisasi akan mudah dicapai apabila para pelaku dalam organsasi tersebut mampu menjalankan tugas dan kewajibannya secara konsisten (istiqomah).
Salah satu manfaat dari istiqomah adalah dapat meneguhkan dan mengokohkan pendirian kita dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab yang di emban meskipun menemukan halangan dan rintangan. Namun dengan beristiqomah tidak akan mudah lengah dan putus asa untuk terus berproses dan berusaha hingga membuahkan hasil yang maksimal dan memuaskan.
Untuk mencapai istiqomah butuh proses bertahap secara evolusiner bukan revolusioner. Untuk itu mulailah dari hal-hal kecil namun konsisten dilakukan. Selain itu harus memilih dan memilah kawan/teman yang baik dalam hal untuk beristiqomah. Dan yang terpenting mulailah diri kita sendiri untuk istiqomah sehingga mampu meghipno dan mengajak orang lain disekitar kita untuk ikut istiqomah dalam kebaikan, tentunya……………….!!!. wallahu a’lam.
Oleh : Yudi Perreng

Siapakah Penghianat Sesungguhnya ?

PMII Galileo – Kata “penghianat”, mungkin tidak asing ditelinga kita sebagai kader PMII. yap, PMII di anggap penghianat setelah mengeluarkan pernyataan independensinya dari Nahdlatul Ulama. Hal ini tentu bukan tanpa sebuah alasan, sejak dasawarsa 70-an, ketika rezim neo-fasis Orde Baru mulai mengkerdilkan fungsi partai politik, sekaligus juga penyederhanaan partai politik secara kuantitas, dan issue back to campus serta organisasi- organisasi profesi kepemudaan mulai diperkenalkan melalui kebijakan NKK/BKK, maka PMII menuntut adanya pemikiran realistis. 14 Juli 1971 melalui Mubes di Murnajati, PMII mencanangkan independensi, terlepas dari organisasi manapun (terkenal dengan Deklarasi Murnajati). Kemudian pada kongres tahun 1973 di Ciloto, Jawa Barat, diwujudkanlah Manifest Independensi PMII. Namun, betapapun PMII mandiri, ideologi PMII tidak lepas dari faham Ahlussunnah wal Jamaah yang merupakan ciri khas NU. Ini berarti secara kultural- ideologis, PMII dengan NU tidak bisa dilepaskan.

Pernyataan sikap independensi PMII dari NU, menjadi senjata empuk bagi lawan-lawan PMII di jajaran perguruan tinggi untuk melakukan konspirasi dengan mendoktrin kader-kader Nahdlatul Ulama untuk membenci PMII dengan mengesampingkan alasan pernyataannya. miris?, memang miris, disaat kader NU yang masih dalam tahap pencarian jati diri justru disuguhi hal yang berkebalikan dari kenyataan yang ada. Hal ini mungkin masih wajar, ketika dilakukan oleh organisasi yang berbeda idiologi dengan PMII. Namun, sangat miris ketika IPNU – IPPNU di tingkatan komisariat perguruan tinggi melakukan hal yang serupa. Hal ini juga bukan tanpa alasan, dewasa ini IPNU – IPPNU yang secara historis adalah orang tua dari PMII dan secara struktural adalah adik PMII, mulai ditunggangi oleh orang-orang yang berbeda idiologi dengannya. Dari sini saya mengajak para pembaca untuk berfikir bersama. PMII yang dilahirkan oleh IPNU secara visual ataupun non-visual jelas memiliki idiologi yang sama. Secara eksakta dapat kita analogikan, mungkinkan seorang saudara memiliki DNA yang jauh berbeda?. jawabannya pasti tidak mungkin. Secara ilmiah DNA orang tua dan anaknya 99% sama, maka jika orang tua tersebut memiliki dua anak, anak tersebut memiliki akurasi presentase kesamaan DNA 99%. Dari sini saya rasa para pembaca sepakat.

Baca : Tes DNA Untuk Menentukan Hubungan Bersaudara

Dari sini bisa saya simpulkan bahwa PMII dan IPNU – IPPNU memiliki idiologi yang sama. Lalu sekarang pertanyaannya, kenapa bisa IPNU – IPPNU sekarang termakan doktrin penghianatan PMII?. jawabannya sebenarnya sangat sederhana, di awal saya sudah menjelaskan bahwa doktrin dari lawan PMII adalah memunculkan konspirasi penghianatan dengan mengesampingkan alasan. IPNU – IPPNU ditataran perguruan tinggi yang bersikap kontradiktif dengan PMII, memang tidak semua IPNU – IPPNU, tapi tidak sedikit juga yang demikian, karena mereka sudah teracuni oleh konspirasi yang dilakukan lawan PMII, sehingga yang masuk ke IPNU – IPPNU banyak dari kalangan yang beridiologi berbeda, sehingga sangat mudah bagi mereka untuk melunturkan sejarah di hadapan kader-kader IPNU – IPPNU.

Baca : Sejarah Terbentuknya PMII

Tulisan ini sebenarnya tidak mengarahkan IPNU – IPPNU sebagai subjek, melainkan orang-orang IPNU – IPPNU yang mengikuti organisasi dengan idiologi yang berbeda. Saya sendiri merupakan kader IPNU dan PMII, namun, semenjak saya menginjak bangku perkuliahan, saya mengetahui banyak hal tentang orang dengan idiologi berbeda yang menunggangi IPNU – IPPNU, terutama dari kalangan yang tidak jelas idiologinya, kalangan yang tidak jelas kaderisasinya pasca kepengurusannya.

Tidak masuk akal memang, orang yang beridiologi berbeda mengaku kader IPNU-IPPNU, lalu anak IPNU – IPPNU yang kemudian melanjutkan karir dengan golongan yang berbeda idiologi ketika menginjak masa Mahasiswa. Bagi saya selaku kader IPNU tidak mengakui mereka yang demikian adalah kader IPNU. Karena jelas kaderisasinya gagal walaupun secara struktural mereka kader IPNU-IPPNU, tapi darah mereka berbeda. Sehingga ketika ditanya siapakah penghianat yang sesungguhnya?, jelas jawabannya mereka yang mengaku IPNU – IPPNU, tapi memiliki idiologi yang berbeda. Pernah dengar musuh dalam selimut?, mungkin itu kata-kata yang pantas untuk mereka. Dari sini jelas bukan, kenapa saya mengatakan “kader IPNU – IPPNU yang masuk organisasi dengan idiologi yang berbeda bukan kader IPNU – IPPNU”.

Pada dasarnya, identitas suatu organisasi dilihat dari idiologinya. orang yang beridiologi berbeda, memiliki cara pandang dan pengambilan keputusan yang berbeda. PMII dan IPNU – IPPNU adalah suatu komponen yang tidak mungkin bisa dipisahkan. PMII dilahirkan untuk menyelamatkan IPNU-IPPNU ditataran perguruan tinggi yang dulunya terinjak-injak oleh organisasi lain. IPNU-IPPNU tetap bertahan di perguruan tinggi untuk menjaga kultur Nahdlatul Ulama di perguruan tinggi. Lahirnya PMII dimotori kader-kader terbaik IPNU, IPNU-IPPNU di selamatkan oleh lahirnya PMII di kampus. Sehingga sangat tidak pantas PMII dan IPNU-IPPNU berseteru diperguruan tinggi.

Tulisan ini saya harap dapat menimbulkan kesadaran, bahwa PMII dan IPNU-IPPNU tidak saling bermusuhan, musuh yang sebenarnya adalah mereka yang beridiologi berbeda, yang mencari penghidupan di Nahdlatul Ulama. Sinergikan pergerkan, berpegangan tangan, menuju NU di masa depan.

sebagai closing statement “tetaplah belajar dalam berjuang untuk bertaqwa kepada Alloh SWT, dengan cara berfikir, berdzikir, dan beramal sholeh”.

oleh : Sahabat Galileo

KEHIDUPAN DI PENGHUJUNG KEMATIAN

PMII Galileo – Angin fajar mendesir lembut di antara tiang penyangga satu saung di pertengahan pematang sawah. Tak asing sebenarnya bila kau melihatku tenggelam dalam kesendirian di saung itu. Menikmati angin fajar sembari menghafal materi pesantren. Ya, aku sedang mengorek ilmu di satu pesantren di kampung ini. Pesantren ini cukup tua pada umurnya, tapi tidak cukup besar dalam pembangunannya. Pesantren ini tidak semegah pesantren lainnya yang mungkin seumuran dengannya. Pesantren ini pun tidak sekondang pesantren lainnya. Anehnya pun, mau kau yakini atau tidak santrinya tidak melebihi seratus kepala dan tidak pernah kurang dari seratus kepala.
Pernah satu hari saat ku masih baru di pesantren ini. Seorang kakak tingkatkku memutukan tuk berhenti. Tak sampai satu jam ia keluar dengan barang bawaannya, seorang santri baru bersama orang tuanya masuk dan mendaftar. Sangat menarik.
Pesantren ini memiliki pengampu sebagaimana pesantren lainnya. Di sini kami menyebut beliau dengan julukan abah. Abah masih terhitung muda. beliau dibaiat ketika umurnya berkepala dua. Entah mengapa beliau dibaiat, padahal bila kau tahu beliau adalah anak terakhir dan paling nyentrik dari kedua kakaknya.
Abah cukup pendiam wataknya, tak terlalu banyak bicara. Beliau murah senyum dengan hawa perlindungan dan kasih sayang yang dibawanya. Sinar matanya cerah tapi menenangkan. Menyejukkan siapa saja yang melihatnya secara langsung atau pun hanya melalui foto.
Kisahku kali ini cukup mempermainkan akalmu. Kau ingin mempercayaiku atau tidak itu terserahmu. Toh, aku bukan Tuhanmu yang semena-mena, kau pun bukan budakku yang tanpa daya. Kisah ini tak jauh berbeda dengan kisah Siti Jenar yang menjelaskan ketidak jelasan dan menidak jelaskan yang sudah jelas. Namun, kisah ini tak semenarik Khidir yang entah bagaimana caranya ia berhasil mencuri dengar masa depan dari semesta. Kisah ini mungkin lebih absurd dari Gus Jakfar yang dituliskan Kyai Bisri. Tapi maaf jikalau kau tak suka dengan cara penyampaianku, meskipun nyatanya kau sudah betah membaca sampai titik ini.
Saung dari bambu itu sudah lama berdiri. Mungkin juga umurnya tak beda jauh dengan pesantren. Tiap tempat pasti memiliki keunikan masing-masing kan?. Begitu pula saung ini. Ku yakinkan kau, kau dapat melihat matahari mulai menyentuh angkasa di waktu fajar dan kembali menyembunyikan diri di waktu senja hanya dengan duduk bersila di tengah saung. Tak percaya?. Kemarilah, ku tunggu kau di kampung penghujung pulau ini.
Fajar menyingsing perlahan. Tapi entah mangapa atmosfer semesta hari ini cukup sendu. Sangat sendu bahkan. Aku melangkah perlahan menuju pesantren. Semakin ku mendekati pesantren, kesenduan itu semakin terasa. Langit pun menambahi kesenduan dengan hujan. Tak disangka abah tiada.
Kabar ini menyebar secepat api merambati minyak. Sangat cepat menyebar di kampung, turut serta membawa kesedihan. Namun entah mengapa, kesedihan itu menjadi berkali-kali lipat dalam tempo sesingkat ini. Tak berselang lama, hanya cukup memakan setengah hari hujan turun begitu deras. Amat deras bahkan. Memaksakan keluarga tuk menguburkan abah di lain waktu.
Kau yakini atau tidak. Kata orang abah sempat menyapa seseorang di masjid saat fajar, saat ku sedang asyik bersendiri di saung. Tapi anehnya orang yang disapa dan berbincang dengan abah tak berwujud. Tak ada yang melihatnya. Santri-santri yang menyaksikan hanya melihat abah berekspresi senang, sedih, dan tertawa. Tapi sekali lagi ku katakan, tak ada seorang pun yang melihat pada siapa ia berbicara.
Aku sempat berfikir dua kali saat mengisahkan ini padamu. Mengingat kisah ini cukup di luar nalar kita. Padahal bila kau tahu, aku pun sedikit tak percaya dengan kisahku sendiri. Kau mau meyakini pun tak kupaksa. Tapi, faktanya itu terjadi dan kisah ini benar-benar tak kasat mata.
Senja mulai menampakkan kehadirannya. Adzan maghrib juga mulai dikumandangkan. Semua aktifitas berhenti. Santri yang menyapu berhenti, yang memasak makanan untuk seratus santri berhenti, yang sedang bermain bola berhenti, semua berhenti. Tapi tidak untuk hujan, ia masih turun dengan intensitas tak jauh beda dari sebelumnya.
Hujan yang tak kunjung reda ini memaksakan keluarga pesantren untuk hilang kesabaran. Gus Haidar kakak tertua abah memaksa tuk mengadakan pemakaman di tengah hujan. Tak perlu mengantar abah dengan rombongan, mengingat makam terletak tak jauh dari masjid, cukup keluarga dan beberapa santi yang mengabdi. Gus Haidar juga mencoba tuk menghentikan hujan dengan membaca beberapa do’a. Gus Fahmi kakak abah yang paling muda membantu mengurus kebutuhan untuk membumikan abah. Ia mandikan abah, mengkafani, hingga mencarikan penggali kubur.
Sholat jenazah untuk abah dilaksanakan ba’da isya’. Tapi entah mengapa, seakan-akan bumi menolak abah. Seakan-akan bumi tak menerima abah. Hujan semakin deras disertai angin kencang yang amat riuh. Gus Haidar bingung bukan main. Gus Fahmi pun tak habis pikir melihat badai yang menjadi-jadi. Bahkan ia sampai kebingungan mendengar laporan dari penggali kubur bahwa kuburan sedang banjir.
Aku saksi saat itu. Aku saksi mata. Entah mengapa ekspresi abah cukup pucat. Pucat pasi dengan kafan sebagai pelapisnya sekarang. Tak ada cahaya kedamaian di sana. Tak ada cahaya kasih sayang lagi yang terpancarkan. Jujur saja, bulu kudukku merinding saat itu. Ini bukan petama kali ku lihat jenazah. Tapi ini pertama kalinya ku lihat jenazah sepucat ini. Tiba-tiba aku meneteskan air mata. Jikalau abah yang sangat mengayomi kita sepucat ini, bagaimana denganku?, bagaimana nasibmu?.
Klimaks kisah ini sudah hampir terlihat. Aku dan beberapa santri yang ikut mengurus kebutuhan sebelum pemakaman melihat kejadian ini secara langsung di rumah abah. Ingin kau imani atau tidak, abah bernafas. Seketika suasana di rumah riuh. Gus Haidar dan Gus Fahmi segera menghampiri abah. Beliau menyoba tuk menyentuh abah, membangunkan abah. Hingga tiba-tiba abah terbangun dengan tarikan nafas panjang. Beliau bingung sesaat kemudian tertawa.
“Hahaha… mengapa kalian mengkafaniku?” ucap beliau dengan ringan dan tawa yang jujur sangat menjengkel kan bagiku.
Gus Haidar, Gus Fahmi, dan semua yang berada di tempat saling memandang kebingungan. Mengapa abah tertawa?. Adakah yang lucu setelah kesenduan sehari ini?. Adakah yang menggembirakan setelah kesedihan hari ini?.
“Aku hanya jalan-jalan sebentar bersama Izrail. Yah, hanya jalan-jalan sehari tak masalah kan?” Tanpa rasa takut sedikit pun abah bercerita dengan senyuman.
Gus Haidar dan Gus Fahmi seketika memeluk erat abah. Beliau menangis di pundak abah. Tersedu. Kami pun tenggelam dalam haru. Entah, aku merasa seakan-akan kerinduanku terobati begitu saja. Aku merasa bahagia ketika kehilangan yang sudah di depan mata tak terjadi disebabkan keajaiban yang mungkin kau takkan percaya bila tak langsung melihatnya.

Oleh : sahabat Yusril Al Mastury