Artikel

Istiqomah dalam Ber-Organisasi

PMII Galileo – Judul di atas terdiri dari dua variabel kata, yaitu istiqomah dan organisasi yang mempunyai makna dan arti tersendiri. Istiqomah dapat diartikan sebagai terus menerus, kokoh, teguh pendirian, tetap dan konsisten. Sedangkan arti dari organisasi sendiri dapat ditinjau dari dua sudut, yakni dari sudut statis dan dinamis. Arti organisasi dari sudut statis mempunyai arti wadah dari sekumpulan orang untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan. Sedangkan arti organisasi dari sudut dinamis adalah merujuk pada orang-orang yang melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Dari situlah dapat disimpulkan bahwa istiqomah dalam berorganisasi memiliki pengertian ke konsistenan sesorang dalam menjalankan roda ke organisasian dengan tetap memperhatikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelaku organsasi guna mencapai tujuan yang sama.

Kadangkala sebagian orang mengasumsikan makna “tetap”dari istiqomah kurag tetap, bagi hemat penulis makna “tetap” dari istiqomah tersebut merujuk pada tetap dalam kedinamisan. Dalam artian tetap bergerak dan mempertahankan pola tingkah laku dan perilku sebagai pelaku organsasi meskipun halangan dan rintangan kian datang silih berganti menghampirinya. Dengan tanda kutip pola tigkah laku dan perilaku tersebut dalam koridor baik sehingga perlu kiranya untuk tetap dipertahankan dan dilaksanakan secara terus menerus.
Kata istiqomah memang mudah di ucapkan, namun susah untuk dilakukan. Meski susah tidak ada salahnya kita harus dan tetap mencoba dan memulai dari diri individu kita sendiri tanpa harus menunggu orang lain untuk istiqomah. Apa lagi istiqomah ingin dilakukan secara kolektif atau kelompok justru akan semakin susah tercipta.
Dalam prinsip perjuangan Nahdlatul Wathon adalah yakin, ikhlas dan istiqomah. Betapa pentingnya istiqomah dilakukan dalam berbagai hal termasuk istiqomah dalam berorganisasi. Tujuan organisasi akan mudah dicapai apabila para pelaku dalam organsasi tersebut mampu menjalankan tugas dan kewajibannya secara konsisten (istiqomah).
Salah satu manfaat dari istiqomah adalah dapat meneguhkan dan mengokohkan pendirian kita dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab yang di emban meskipun menemukan halangan dan rintangan. Namun dengan beristiqomah tidak akan mudah lengah dan putus asa untuk terus berproses dan berusaha hingga membuahkan hasil yang maksimal dan memuaskan.
Untuk mencapai istiqomah butuh proses bertahap secara evolusiner bukan revolusioner. Untuk itu mulailah dari hal-hal kecil namun konsisten dilakukan. Selain itu harus memilih dan memilah kawan/teman yang baik dalam hal untuk beristiqomah. Dan yang terpenting mulailah diri kita sendiri untuk istiqomah sehingga mampu meghipno dan mengajak orang lain disekitar kita untuk ikut istiqomah dalam kebaikan, tentunya……………….!!!. wallahu a’lam.
Oleh : Yudi Perreng
Artikel

Siapakah Penghianat Sesungguhnya ?

PMII Galileo – Kata “penghianat”, mungkin tidak asing ditelinga kita sebagai kader PMII. yap, PMII di anggap penghianat setelah mengeluarkan pernyataan independensinya dari Nahdlatul Ulama. Hal ini tentu bukan tanpa sebuah alasan, sejak dasawarsa 70-an, ketika rezim neo-fasis Orde Baru mulai mengkerdilkan fungsi partai politik, sekaligus juga penyederhanaan partai politik secara kuantitas, dan issue back to campus serta organisasi- organisasi profesi kepemudaan mulai diperkenalkan melalui kebijakan NKK/BKK, maka PMII menuntut adanya pemikiran realistis. 14 Juli 1971 melalui Mubes di Murnajati, PMII mencanangkan independensi, terlepas dari organisasi manapun (terkenal dengan Deklarasi Murnajati). Kemudian pada kongres tahun 1973 di Ciloto, Jawa Barat, diwujudkanlah Manifest Independensi PMII. Namun, betapapun PMII mandiri, ideologi PMII tidak lepas dari faham Ahlussunnah wal Jamaah yang merupakan ciri khas NU. Ini berarti secara kultural- ideologis, PMII dengan NU tidak bisa dilepaskan.

Pernyataan sikap independensi PMII dari NU, menjadi senjata empuk bagi lawan-lawan PMII di jajaran perguruan tinggi untuk melakukan konspirasi dengan mendoktrin kader-kader Nahdlatul Ulama untuk membenci PMII dengan mengesampingkan alasan pernyataannya. miris?, memang miris, disaat kader NU yang masih dalam tahap pencarian jati diri justru disuguhi hal yang berkebalikan dari kenyataan yang ada. Hal ini mungkin masih wajar, ketika dilakukan oleh organisasi yang berbeda idiologi dengan PMII. Namun, sangat miris ketika IPNU – IPPNU di tingkatan komisariat perguruan tinggi melakukan hal yang serupa. Hal ini juga bukan tanpa alasan, dewasa ini IPNU – IPPNU yang secara historis adalah orang tua dari PMII dan secara struktural adalah adik PMII, mulai ditunggangi oleh orang-orang yang berbeda idiologi dengannya. Dari sini saya mengajak para pembaca untuk berfikir bersama. PMII yang dilahirkan oleh IPNU secara visual ataupun non-visual jelas memiliki idiologi yang sama. Secara eksakta dapat kita analogikan, mungkinkan seorang saudara memiliki DNA yang jauh berbeda?. jawabannya pasti tidak mungkin. Secara ilmiah DNA orang tua dan anaknya 99% sama, maka jika orang tua tersebut memiliki dua anak, anak tersebut memiliki akurasi presentase kesamaan DNA 99%. Dari sini saya rasa para pembaca sepakat.

Baca : Tes DNA Untuk Menentukan Hubungan Bersaudara

Dari sini bisa saya simpulkan bahwa PMII dan IPNU – IPPNU memiliki idiologi yang sama. Lalu sekarang pertanyaannya, kenapa bisa IPNU – IPPNU sekarang termakan doktrin penghianatan PMII?. jawabannya sebenarnya sangat sederhana, di awal saya sudah menjelaskan bahwa doktrin dari lawan PMII adalah memunculkan konspirasi penghianatan dengan mengesampingkan alasan. IPNU – IPPNU ditataran perguruan tinggi yang bersikap kontradiktif dengan PMII, memang tidak semua IPNU – IPPNU, tapi tidak sedikit juga yang demikian, karena mereka sudah teracuni oleh konspirasi yang dilakukan lawan PMII, sehingga yang masuk ke IPNU – IPPNU banyak dari kalangan yang beridiologi berbeda, sehingga sangat mudah bagi mereka untuk melunturkan sejarah di hadapan kader-kader IPNU – IPPNU.

Baca : Sejarah Terbentuknya PMII

Tulisan ini sebenarnya tidak mengarahkan IPNU – IPPNU sebagai subjek, melainkan orang-orang IPNU – IPPNU yang mengikuti organisasi dengan idiologi yang berbeda. Saya sendiri merupakan kader IPNU dan PMII, namun, semenjak saya menginjak bangku perkuliahan, saya mengetahui banyak hal tentang orang dengan idiologi berbeda yang menunggangi IPNU – IPPNU, terutama dari kalangan yang tidak jelas idiologinya, kalangan yang tidak jelas kaderisasinya pasca kepengurusannya.

Tidak masuk akal memang, orang yang beridiologi berbeda mengaku kader IPNU-IPPNU, lalu anak IPNU – IPPNU yang kemudian melanjutkan karir dengan golongan yang berbeda idiologi ketika menginjak masa Mahasiswa. Bagi saya selaku kader IPNU tidak mengakui mereka yang demikian adalah kader IPNU. Karena jelas kaderisasinya gagal walaupun secara struktural mereka kader IPNU-IPPNU, tapi darah mereka berbeda. Sehingga ketika ditanya siapakah penghianat yang sesungguhnya?, jelas jawabannya mereka yang mengaku IPNU – IPPNU, tapi memiliki idiologi yang berbeda. Pernah dengar musuh dalam selimut?, mungkin itu kata-kata yang pantas untuk mereka. Dari sini jelas bukan, kenapa saya mengatakan “kader IPNU – IPPNU yang masuk organisasi dengan idiologi yang berbeda bukan kader IPNU – IPPNU”.

Pada dasarnya, identitas suatu organisasi dilihat dari idiologinya. orang yang beridiologi berbeda, memiliki cara pandang dan pengambilan keputusan yang berbeda. PMII dan IPNU – IPPNU adalah suatu komponen yang tidak mungkin bisa dipisahkan. PMII dilahirkan untuk menyelamatkan IPNU-IPPNU ditataran perguruan tinggi yang dulunya terinjak-injak oleh organisasi lain. IPNU-IPPNU tetap bertahan di perguruan tinggi untuk menjaga kultur Nahdlatul Ulama di perguruan tinggi. Lahirnya PMII dimotori kader-kader terbaik IPNU, IPNU-IPPNU di selamatkan oleh lahirnya PMII di kampus. Sehingga sangat tidak pantas PMII dan IPNU-IPPNU berseteru diperguruan tinggi.

Tulisan ini saya harap dapat menimbulkan kesadaran, bahwa PMII dan IPNU-IPPNU tidak saling bermusuhan, musuh yang sebenarnya adalah mereka yang beridiologi berbeda, yang mencari penghidupan di Nahdlatul Ulama. Sinergikan pergerkan, berpegangan tangan, menuju NU di masa depan.

sebagai closing statement “tetaplah belajar dalam berjuang untuk bertaqwa kepada Alloh SWT, dengan cara berfikir, berdzikir, dan beramal sholeh”.

oleh : Sahabat Galileo

Artikel

KEHIDUPAN DI PENGHUJUNG KEMATIAN

PMII Galileo – Angin fajar mendesir lembut di antara tiang penyangga satu saung di pertengahan pematang sawah. Tak asing sebenarnya bila kau melihatku tenggelam dalam kesendirian di saung itu. Menikmati angin fajar sembari menghafal materi pesantren. Ya, aku sedang mengorek ilmu di satu pesantren di kampung ini. Pesantren ini cukup tua pada umurnya, tapi tidak cukup besar dalam pembangunannya. Pesantren ini tidak semegah pesantren lainnya yang mungkin seumuran dengannya. Pesantren ini pun tidak sekondang pesantren lainnya. Anehnya pun, mau kau yakini atau tidak santrinya tidak melebihi seratus kepala dan tidak pernah kurang dari seratus kepala.
Pernah satu hari saat ku masih baru di pesantren ini. Seorang kakak tingkatkku memutukan tuk berhenti. Tak sampai satu jam ia keluar dengan barang bawaannya, seorang santri baru bersama orang tuanya masuk dan mendaftar. Sangat menarik.
Pesantren ini memiliki pengampu sebagaimana pesantren lainnya. Di sini kami menyebut beliau dengan julukan abah. Abah masih terhitung muda. beliau dibaiat ketika umurnya berkepala dua. Entah mengapa beliau dibaiat, padahal bila kau tahu beliau adalah anak terakhir dan paling nyentrik dari kedua kakaknya.
Abah cukup pendiam wataknya, tak terlalu banyak bicara. Beliau murah senyum dengan hawa perlindungan dan kasih sayang yang dibawanya. Sinar matanya cerah tapi menenangkan. Menyejukkan siapa saja yang melihatnya secara langsung atau pun hanya melalui foto.
Kisahku kali ini cukup mempermainkan akalmu. Kau ingin mempercayaiku atau tidak itu terserahmu. Toh, aku bukan Tuhanmu yang semena-mena, kau pun bukan budakku yang tanpa daya. Kisah ini tak jauh berbeda dengan kisah Siti Jenar yang menjelaskan ketidak jelasan dan menidak jelaskan yang sudah jelas. Namun, kisah ini tak semenarik Khidir yang entah bagaimana caranya ia berhasil mencuri dengar masa depan dari semesta. Kisah ini mungkin lebih absurd dari Gus Jakfar yang dituliskan Kyai Bisri. Tapi maaf jikalau kau tak suka dengan cara penyampaianku, meskipun nyatanya kau sudah betah membaca sampai titik ini.
Saung dari bambu itu sudah lama berdiri. Mungkin juga umurnya tak beda jauh dengan pesantren. Tiap tempat pasti memiliki keunikan masing-masing kan?. Begitu pula saung ini. Ku yakinkan kau, kau dapat melihat matahari mulai menyentuh angkasa di waktu fajar dan kembali menyembunyikan diri di waktu senja hanya dengan duduk bersila di tengah saung. Tak percaya?. Kemarilah, ku tunggu kau di kampung penghujung pulau ini.
Fajar menyingsing perlahan. Tapi entah mangapa atmosfer semesta hari ini cukup sendu. Sangat sendu bahkan. Aku melangkah perlahan menuju pesantren. Semakin ku mendekati pesantren, kesenduan itu semakin terasa. Langit pun menambahi kesenduan dengan hujan. Tak disangka abah tiada.
Kabar ini menyebar secepat api merambati minyak. Sangat cepat menyebar di kampung, turut serta membawa kesedihan. Namun entah mengapa, kesedihan itu menjadi berkali-kali lipat dalam tempo sesingkat ini. Tak berselang lama, hanya cukup memakan setengah hari hujan turun begitu deras. Amat deras bahkan. Memaksakan keluarga tuk menguburkan abah di lain waktu.
Kau yakini atau tidak. Kata orang abah sempat menyapa seseorang di masjid saat fajar, saat ku sedang asyik bersendiri di saung. Tapi anehnya orang yang disapa dan berbincang dengan abah tak berwujud. Tak ada yang melihatnya. Santri-santri yang menyaksikan hanya melihat abah berekspresi senang, sedih, dan tertawa. Tapi sekali lagi ku katakan, tak ada seorang pun yang melihat pada siapa ia berbicara.
Aku sempat berfikir dua kali saat mengisahkan ini padamu. Mengingat kisah ini cukup di luar nalar kita. Padahal bila kau tahu, aku pun sedikit tak percaya dengan kisahku sendiri. Kau mau meyakini pun tak kupaksa. Tapi, faktanya itu terjadi dan kisah ini benar-benar tak kasat mata.
Senja mulai menampakkan kehadirannya. Adzan maghrib juga mulai dikumandangkan. Semua aktifitas berhenti. Santri yang menyapu berhenti, yang memasak makanan untuk seratus santri berhenti, yang sedang bermain bola berhenti, semua berhenti. Tapi tidak untuk hujan, ia masih turun dengan intensitas tak jauh beda dari sebelumnya.
Hujan yang tak kunjung reda ini memaksakan keluarga pesantren untuk hilang kesabaran. Gus Haidar kakak tertua abah memaksa tuk mengadakan pemakaman di tengah hujan. Tak perlu mengantar abah dengan rombongan, mengingat makam terletak tak jauh dari masjid, cukup keluarga dan beberapa santi yang mengabdi. Gus Haidar juga mencoba tuk menghentikan hujan dengan membaca beberapa do’a. Gus Fahmi kakak abah yang paling muda membantu mengurus kebutuhan untuk membumikan abah. Ia mandikan abah, mengkafani, hingga mencarikan penggali kubur.
Sholat jenazah untuk abah dilaksanakan ba’da isya’. Tapi entah mengapa, seakan-akan bumi menolak abah. Seakan-akan bumi tak menerima abah. Hujan semakin deras disertai angin kencang yang amat riuh. Gus Haidar bingung bukan main. Gus Fahmi pun tak habis pikir melihat badai yang menjadi-jadi. Bahkan ia sampai kebingungan mendengar laporan dari penggali kubur bahwa kuburan sedang banjir.
Aku saksi saat itu. Aku saksi mata. Entah mengapa ekspresi abah cukup pucat. Pucat pasi dengan kafan sebagai pelapisnya sekarang. Tak ada cahaya kedamaian di sana. Tak ada cahaya kasih sayang lagi yang terpancarkan. Jujur saja, bulu kudukku merinding saat itu. Ini bukan petama kali ku lihat jenazah. Tapi ini pertama kalinya ku lihat jenazah sepucat ini. Tiba-tiba aku meneteskan air mata. Jikalau abah yang sangat mengayomi kita sepucat ini, bagaimana denganku?, bagaimana nasibmu?.
Klimaks kisah ini sudah hampir terlihat. Aku dan beberapa santri yang ikut mengurus kebutuhan sebelum pemakaman melihat kejadian ini secara langsung di rumah abah. Ingin kau imani atau tidak, abah bernafas. Seketika suasana di rumah riuh. Gus Haidar dan Gus Fahmi segera menghampiri abah. Beliau menyoba tuk menyentuh abah, membangunkan abah. Hingga tiba-tiba abah terbangun dengan tarikan nafas panjang. Beliau bingung sesaat kemudian tertawa.
“Hahaha… mengapa kalian mengkafaniku?” ucap beliau dengan ringan dan tawa yang jujur sangat menjengkel kan bagiku.
Gus Haidar, Gus Fahmi, dan semua yang berada di tempat saling memandang kebingungan. Mengapa abah tertawa?. Adakah yang lucu setelah kesenduan sehari ini?. Adakah yang menggembirakan setelah kesedihan hari ini?.
“Aku hanya jalan-jalan sebentar bersama Izrail. Yah, hanya jalan-jalan sehari tak masalah kan?” Tanpa rasa takut sedikit pun abah bercerita dengan senyuman.
Gus Haidar dan Gus Fahmi seketika memeluk erat abah. Beliau menangis di pundak abah. Tersedu. Kami pun tenggelam dalam haru. Entah, aku merasa seakan-akan kerinduanku terobati begitu saja. Aku merasa bahagia ketika kehilangan yang sudah di depan mata tak terjadi disebabkan keajaiban yang mungkin kau takkan percaya bila tak langsung melihatnya.

Oleh : sahabat Yusril Al Mastury

Artikel

Sebatas Hari Kasih Sayang

PMII Galileo – Ironi yang sangat disayangkan, khususnya pada remaja saat ini. Menghadapi tanggal 14 Februari, membuat mayoritas remaja yang tengah mencari jati diri kerap dengan mudah mengikuti budaya dan kebiasaan barat, yang sudah tak asing lagi yakni merayakan Hari Valentine. Jika kita kembali mengkaji bagaimana sejarah, asal muasal lahirnya Hari Valentine tentu akan timbul pola pikir betapa bobroknya sejarah yang kemudian kita kenal dengan sebutan Hari Kasih Sayang. Sehingga, hal ini yang kemudian melatar belakangi praktik Hari Valentine kerap diisi dengan perbuatan-perbuatan negatif.
Pro dan kontra tentu tidak dapat dipungkiri akan selalu ada pada setiap problema yang muncul di masyarakat. Begitu pula dalam menanggapi perayaan Hari Valentine. Jika kita pandang secara langsung, perayaan valentine dikalangan remaja saat ini begitu buruk dan melebihi batas norma dalam masyarakat. Remaja tak lagi memfilter mana sisi positif dan negatif dari perayaan ini. Mereka cenderung mengedepankan nafsu dan kepuasaan diri semata tanpa berfikir apa dampak dari perbuatannya itu.
Sebagai umat muslim merayakan valentine, merupakan hal yang sangat dilarang dalam syari’at, selain karena perbuatannya yang sangat dekat dengan maksiat merayakan valentine juga memiliki arti kita telah menirukan adat atau kebiasaan dari suatu kaum. Dimana dalam salah satu hadist dijelaskan bahwa, “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam kaum tersebut.” Sehingga secara tidak langsung jika kita merayakan valentine yang merupakan budaya orang Barat, kita dapat dianggap menyerupai mereka dan termasuk bagian dari mereka pula.
Tidak dapat dipungkiri perayaan valentine sudah menjamur disetiap apisan generasi, bahkan anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, turut andil menyemarakkan perayaan Hari Valentine. Inilah kemudian yang menjadikan suatu problema bagi kita semua bahwa perayaan valentine telah menyerang generasi muda bahkan sejak usia dini. Yang menjadi tugas kita saat ini sebagai generasi pemikir, haruslah memikirkan bagaimana kemudian mengubah pola pikir dan cara pandang mengenai hari kasih sayang. Sebagaimana usaha para Wali Songo, yang sedikit demi sedikit membuat revolusi pada adat dan kebiasaan masyarakat Hindu-Budha menjadi lebih ke-Islaman dan sesuai dengan syariat.
Memandang Hari Valentine, sebatas hari kasih sayang. Mengingatkan kita akan pentingnya hidup dengan toleransi dan tak lagi melihat Hari Valentine dari satu perspektif saja, serta tidak mempersempit makna dari Kasih Sayang itu sendiri. Kita jadikan moment Hari Valentine sebagai refleksi diri, apakah kita telah memiliki rasa kasih sayang dengan sesama manusia (Hablum minan nas) atau hanya sekedar menjiplak tradisi orang barat yang menjadikan hari valentine sebagai pembebasan diri dan mengembarakan nafsu belaka. Kita rubah mindset dan kemudian memanfaatkan perayaan valentine sebagai bentuk pengaplikasian sifat Tuhan Yang Maha Rahman Rahim. Karena dengan senantiasa mengingatNya kita tentu akan menjadikan Hari Valentine, sebatas hari kasih sayang yang dirayakan dan diakui oleh umat dunia dari sekian banyak hari yang merupakan Hari Kasih Sayang bagi kita sebagai umat muslim.

Oleh : Sahabat Nuril

Artikel

Asmatku Belum Teruji

PMII Galileo – Hari-hari ini hampir di semua media social tengah membincangkan persoalan #KartuKuningJokowi.

Berjibun komen sanjungan hingga seloroh kata goblag goblog bersaut-sautan di setiap kolom komentar.

Berbicara mengenai Kejadian Luar Biasa (KLB) di Asmat.

Izinkanlah aku untuk berbagi cerita. Aku tergabung dalam tim NU Peduli Kemanusiaan untuk Asmat.

Sebelumnya tak pernah terbayangkan jikalau diriku ikut andil mengemban tugas ini. Dalam benakku sudah tergambar bagaimana susahnya menuju Asmat, apalagi ancaman penyakit malaria maupun campak membuat bulu kuduku berdesir bila membayangkannya.

Read more “Asmatku Belum Teruji”

Artikel

VALENTIN’S DAY: Dialektika Hukum dalam Perspektif Remaja Era Futuristik

PMII Galileo – Gejolak perbedaan pendapat dalam menanggapi suatu hukum permasalah dalam ranah pemuda di zaman modern saat ini menuai beberapa konflik argumen untuk mendapatkan ke-Maslahatan bersama. Khususnya dalam menanggapi fatwa Majlis Ulama’ Indonesia (MUI) Jawa Timur, yang dinyatakan dalam surat edaran No : Kep.03/SKF.MUI/JTM/I/2017 Tentang HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTIN BAGI ORANG ISLAM, Bahwa “mengikuti dan atau berpartisipasi dalam kegiatan perayaan hari Valentin (valentine’s day) bagi orang Islam hukumnya haram”.

Menanggapi fatwa tersebut, banyak dari kaum muda, anak remaja khususnya, yang kurang atau tidak 100% setuju dengan fatwa yang diputuskan. Diantara mereka ada yang berpendapat dengan menggunakan dalil “Innamal a’malu binniyah (segala sesuatu tergantung pada niyatnya), sehingga tidak bisa MUI langsung memfatwakan valentin’s day itu haram. Karena banyak diantara kaum muda yang pengetahuannya tentang agama masih bersifat awam, sehingga mereka akan merasa terbebani dalam keputusan tersebut. Budaya tersebut sudah berbeda antara yang sekarang dan yang dulu jika kita tinjau melalui sejarah valentin’s day yang telah tersebar luas. Selain itu, tidak bisa kita gunakan dalil “man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum”, Karena kita tahu sendiri banyak diantara kita produk yang berasal dari peradaban orang kafir. Sehingga solusinya adalah seharusnya MUI memberikan himbauan agar kaum muda tidak ikut serta dalam perayaan hari kasih sayang tersebut bukan langsung memfatwakan hukum keharaman valentin. Atau lebih baiknya lagi jika budaya tersebut dirubah menjadi budaya yang bernuansakan Islam sehingga peringatan tersebut menjadi lebih berfaidah.” Tutur Group Pro-Valentin’s Day dalam salah satu FGDM di salah satu Universitas dalam menanggapi Valentine’s day.

Pada dasarnya, menurut Ust. Zainal Arifin Al-Nganjuki, pada seminarnya di Aula Skodam (Rabu, 15 februari 2017, 12.20-14-30 WIB) Malang. Valentin diharamkan Karena :

  1. Ikut meramaikan tradisi yang bertentangan dengan akidah.
  2. Perbuatan sia-sia.
  3. Bukan budaya orang Islam.
  4. Memberikan peluang maksiat adalah

Sehingga menurutnya terdapat beberapa akibat dari perayaan hari tersebut, yakni:

  1. Perzinahan
  • Hamil diluar nikah
  • Bayi tak ber-ayah
  • Hilangnya cahaya iman dari wajah
  • Terasing dari daerah, mengkhianati keluarga
  • Kehilangan kesopanan
  • Minder / merasa bersalah / depresi dll
  1. Aqidah Rusak
  • Jauh dari Alloh S.W.T
  • Meremehkan dosa
  • Lemah keyakinan
  1. Hati Mati
  • Hatinya sering kemasukan barang haram

Suatu hukum tidak bisa diambil berdasarkan hawa nafsu seseorang sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. Al-Mukminun [23] : 71, dan QS. Al-Jatsiyah [45] : 18. Seperti hal-nya Valentin’s day (terlepas dari sejarah yang ada), dalam kegiatannya lebih banyak kearah hawa nafsu remaja, sehingga lebih banyak menmbulkan Mafsadah dari pada Maslahah.

Valentin’s day juga tidak bisa jika dicampur adukkan dengan hal yang bernuansakan islam seperti halnya ber-dzikir dan ber-istighastah bersama, Karena dalam Islam dilarang mencampuri hal yang Bathil dengan hal yang Haq, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah [2] : 42.

Jika yang disinggung adalah penggunaan dalil “man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum” yang tidak tepat hanya dengan alasan analogi banyaknya produk hasil peradaban orang non-Islam yang digunakan oleh orang Islam. Maka perlu diluruskan bahwa, hadist tersebut sangat tepat digunakan dalam konteks ini. Karena maksud dari hadist tersebut adalah untuk menjaga jati diri agama Islam itu sendiri, sehingga tidak bisa dibandingkan dengan produk hasil peradaban orang non-Islam seperti kalender Masehi, kendaraan bermotor dll. Karena analogi tersebut tidak berpengaruh terhadap jati diri Islam itu sendiri. Alloh S.W.T menjelaskan betapa pentingnya menjaga identitas atau jati diri umat Islam dalam firmannya QS. Ali Imran [3] : 64.

Islam sudah memberikan solusi terkait konflik hari kasih sayang tersebut, sehingga Islam punya acara sendiri untuk berkasih sayang, bukan meniru budaya yang menjadi identitas tersendiri dari non-Islam sebagaimana dalam QS. Al-Mujadilah [58] : 22. Selain itu islam juga tidak hanya membatasi ummatnya untuk berkasih sayang hanya pada tanggal 14 februari itu saja, melainkan setiap hari. Karena Islam merupakan agama Rahmatan Lil-‘Alamin, sehingga dalam perjalannya Islam memang sudah dibekali kasih sayang yang indah.

Jika yang dsindir masalah tolersansi umat beragama. Maka perlu juga diluruskan bahwa, toleransi bukan berarti ikut serta dalam perayaan budaya yang telah menjadi jati diri dari agama lain. Toleransi hanya untuk saling menghormati saja, sehingga menimbulkan kerukunan antar umat beragama. Semisal dalam perayaan hari raya natal, pantaskah jika ummat non-Nasrani ikut merayakan hari raya tersebut, sedangkan hari raya tersebut merupakan jati diri Nashrani?. Tugas toleransi hanyalah menghargai mereka (tidak melarang mereka dalam perayaan hari raya mereka).

Masalah dalil “innamal a’malu binniyah” juga tidak bisa digunakan sebagai alasan diperbolehkannya suatu hukum. Karena hukum dibuat untuk mencari suatu perkara yang Haq, demi kemaslahatan ummat. Sedangkan dalil tersebut hanya berlaku pada perindividu. Karena niat hati seseorang yang tahu dan memahami hanyalah orang tersebut dan dzat Al-Lathif. Sehingga pernyataan tersebut tidak dapat digunakan untuk memutuskan suatu hukum. Selain itu Valentin’s day lebih identik dengan pacaran, yang sudah jelas dalam hatinya tidak ada niat baik, Karena pacarana cenderung kearah hawa nafsu, dan seperti yang telah dikutipkan di atas bahwa tidak bisa hukum diambil berdasakna hawa nafsu. Sehingga sangat tidak Haq ketika dalil “innamal a’malu binniyah” dijadikan keputusa hukum.

Berdasarkan alasan itulah dapat disimpulkan bahwa keputusan MUI Jatim sangatlah tepat dalam memberikan fatwa terhadap umat Islam terkait Perayaan Valentin’s Day Bagi Ummat Islam. Karena masalah ini sudah banyak di bahas oleh para Ulama Salafus sholih (Ibnu Hajar, Al-Ghazali Al-Faks Al-Razi DLL), yang mana dalam ijtihad mereka adalah mengharamkan valentin’s day tersebut. Sehingga perkara ini tidak dapat ditolerin dengan hanya sekedar himbauan tanpa hukum untuk ummat Islam agar tidak ikut serta dalam perayaannya, atau mengganti budaya menjadi budaya yang bernuansakan Islam sebagaimana kaidah fiqhiyah yang berbunyi “darrul mafasid muqaddamu ‘alal jalbil masholih (menolak kerusakan harus didahulukan daripada menarik kemaslahatan)”.

Sikap tegas memang dibutuhkan dalam penentuan suatu hukum oleh Al-‘Alim Al-‘Allamah Al-Mujtahid fi biladina Indonesia walaupun sifatnya kontrofersial. Sehingga Ummat Islam Indonesia dapat berjalan lurus dalam agamanya. Tulisan ini hanyalah suatu tanggapan yang masih jauh dari kesemprnaan, sehingga dari kami pribadi selaku penulis memohon kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga tulisan ini menjadi lebih baik kedepannya.

Oleh : Sahabat Galileo

Artikel

Kau Anggap Aku Ahlul Bid’ah. Kamu?

PMII Galileo – Berbicara masalah Bid’ah pasti sudah tidak asing lagi dibenak sahabat Galileo. Utamanya golongan ahlussunnah wal jama’ah, rasanya tuduhan bid’ah sangat akrab. Suatu prilaku yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Merupakan devinisi singkat dari kata yang sangat viral tersebut.

Saya kira, ketika kita membahas istilah Bid’ah, sudah bukan hal yang menarik lagi untuk sahabat diskusikan. Karena hal tersebut merupakan perdebatan lama antar kelompok dalam Islam. Namun, tulisan ini tidak terfokuskan kepada perdebadan-perdebatan tersebut. Pada dasarnya tulisan ini hanyalah sekedar dagelan waktu saya bersilaturrahim ke senior sahabat PMII yang sangat menarik menurut saya. Read more “Kau Anggap Aku Ahlul Bid’ah. Kamu?”

Artikel

Aku “NU”, Jangan Kau Ambil Namaku

PMII Galileo – “Miris, sampai hati ini ikut menangis.Ideologi yang susah payah dibangun ulama’ku justru dibantai habis. Ahlussunnah wal Jamaah, Islam Nusantara, menjadi bulan-bulanan warganya sendiri. Yang membela NKRI justru di anggap teroris.”

Saya merasa bingung dengan negeri ini, antara harus tertawa atau malah menangis. Mengingat keadaan negeri yang luar biasa lucu namun miris. Bagaimana tidak, masyarakat negeri ini mengatak putih padahal yang berisi adalah hitam.

Read more “Aku “NU”, Jangan Kau Ambil Namaku”