Berita

Sekolah Islam Gender

FORMULIR PENDAFTARAN SEKOLAH ISLAM DAN GENDER (SIG) TAHUN 2019

dapat di download disini!                                                                                                         Download

Artikel

Untitled

PMII Galileo – Perhelatan Tax Goes to Campus 2018 yang digelar Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kota Malang berlangsung semarak. Ratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang sangat antusias saat berbagai game dan hiburan disajikan dalam rangkaian sosialisasi pajak daerah itu.

Para mahasiswa dan mahasiswi kompak ikut bernyanyi saat band d’Kross membawakan beberapa lagu hits mereka. Termasuk juga saat pembawa acara mengajak para peserta berlomba stand up comedy dengan juri comica senior Wawan Saktiawan dan tim BP2D Kota Malang.

Misalnya saat Anggi Mareta, salah satu peserta berpura-pura sebagai Kepala BP2D Kota Malang Ade Herawanto dan mengajak masyarakat membayar pajak. Alih-alih sangar, gaya Anggi malah seperti penceramah perempuan saat mengisi majelis taklim. “Assalamu’alaikum rek, ayo jangan lupa bayar pajak, biar barokah,” ujar mahasiswa jurusan akutansi semester 7 itu.

Kepala BP2D Kota Malang Ade Herawanto mengungkapkan, kegiatan Tax Goes to Campus ini merupakan rangkaian terakhir program Sosialisasi Sadar Pajak sepanjang 2018. Sebelumnya, lembaga eks Dispenda itu sudah menggelar acara serupa di sekolah dengan menyasar pelajar, di mall dengan audiens pengunjung pusat perbelanjaan, serta di kampung-kampung yang melibatkan masyarakat umum.

“Di UIN ini dengan melibatkan rektor, dekan, civitas akademika, hingga mahasiswa. Nanti saat mahasiswa lulus, mereka sudah mengetahui kewajiban perpajakan,” terang Sam Ade d’Kross, sapaan akrabnya. Dia mengungkapkan, UIN Maliki Malang bukan kampus pertama dalam agenda rutin tersebut. Sebelumnya, Tax Goes to Campus sudah digelar di Universitas Brawijaya, Unikama, Unida, dan lain-lain.

Kegiatan sosialisasi itu, lanjutnya, akan berdampak pada tahun -tahun mendatang. “Pasti ada dampaknya ke depan karena saat ini mereka sudah teredukasi soal pajak. Minimal mahasiswa lebih tahu dan bisa menyebarkan ke masyarakat soal pajak daerah,” terang tokoh Aremania itu.

Rektor UIN Maliki Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg, mengapresiasi kegiatan Tax Goes To Campus bagi para mahasiswa dan akademisi  kampus yang dipimpinnya. Haris berharap kegiatan sosialisasi ini mampu menambah wawasan para mahasiswa dan akademisi. “Mereka paham dan sadar tentang kewajiban membayar pajak daerah, sehingga muaranya mereka bisa menjadi panutan bagi para wajib pajak daerah di Kota Malang,” urainya.

“Pajak ini menjadi penting sekali untuk segera didistribusi dan jangan sampai dikorupsi. Untuk baldatun thayyibatun warabun ghafur,” tambahnya. Dalam acara yang berlangsung di gedung rektorat UIN itu, mahasiswa juga diajak mengikuti lomba karya tulis bagi mahasiswa ini yaitu, pertama Antisipasi Inovasi Korupsi dalam Pemungutan Pajak Daerah, dan tema kedua adalah Optimalisasi Teknologi IT dalam Pelayanan Pajak Daerah di Kota Malang.

 

sumber : https://www.malangtimes.com

Artikel

Ketua PMII JATIM Peringatkan Ketua ESDM JATIM Tak Asal…

PMII Galileo – Pernyataan kepala ESDM Jawa timur, setiajit, dalam seminar pertambangan yang dibiayai oleh PT. bumi seksesindo di Surabaya pada Kamis tanggal 22 November kemarin berbuntut panjang.

Ketua Pengurus Koprdinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Jawa Timur mengingatkan agar setiajit tak asal bicara perihal pertambangan di Silo kabupaten Jember tersebut.

“Tentu sangat menyayangkan pernyataan itu bisa keluar dari seorang kepala dinas Jawa timur, mengingat baru dua hari yang lalu masyarakat silo datang menemui sekda Jatim dan komisi D DPRD provinsi Jawa timur, juga sowan menghadap kKyai Marzuki Mustamar untuk menggalang dukungan dan mengedarkan petisi penolakan tambang, lah kok sekarang bapak setiajit ini tiba-tiba muncul dengan statement yang ngawur dan tidak mempertimbangkan perasaan masyarakat silo”, ungkap Ketua PMII Jawa Timur (23/11/2018).

Abdul Ghoni menyarankan setiajit mempelajari sosio-kultural dan basis kehidupan masyarakat agraris jember timur terlebih dahulu sebelum memberikan pernyataan ngawur, ia menambahkan bahwa rencana proyek tambang emas silo bertentangan dengan sekian peraturan perundangan-undangan yang ada.

“Baiknya setiajit, belajar banyak hal tentang sosial-budaya dan tradisi agraris masyarakat Jember terlebih dahulu, juga pelajari sekian regulasi dan ancaman lingkungan yang akan terjadi pada masyarakat silo, sebelum memberikan pernyataan dengan landasan yang lemas” begitu tutup sarjana ilmu keperawatan tersebut.

 

Sumber : http://pmiinews.com

Sejarah

Sejarah PMII Rayon “Pencerahan” Galileo

PMII Galileo – Dalam pepatah Arab mengatakan “Syubhanul Yaum Rijaalul Ghoddi” Pemuda sekarang adalah Pemimpin Masa depan, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon “Pencerahan” Galileo, merupakan salah satu organisasi Mahasiswa Islam berbasis eksact “Sains dan Teknologi” yang mandiri yang secara struktural berada dibawah naungan PMII Komisariat Sunan Ampel UIN Malang, sedangakan hubungan dengan Nahdatul Ulama (NU) masih tetap terikat dalam bingkai garis Kultural. Pada awalnya kader-kader PMII yang ada pada jurusan tadris matematika dan biologi (yang pada saat itu keberadaannya masih dibawah naungan Rayon Chondrodhimuko/ Fakultas Tarbiyah) berinisiatif untuk memisahkan diri dengan Rayon condrodimuko karena sangat merasa belum maksimal dalamberfikir, bersikap,bertindak, beraktualisasi diri, serta menggali potensi diri secara mandiri,sekaligus dirasa kurang efektif dalam aktifitas pengkaderannya. disertai dengan prinsip pengembangan organisasi dengan sebuah Tujuan untuk membentuk Sebuah pribadi yang dengan segala kapasitas pribadinya terasah, kemudian mengarahkan semua kualitas pribadinya bagi kepentinganMasyarakat dan bangsa.

Berangkat dari Latar belakang dan Kegelisahan di atas Serta besamaan dengan adanya pemisahan fakultas yang semula Matematika dan Biologi adalah jurusan tadris (pendidikan) dibawah Fakultas Tarbiyah menjadi jurusan murni di bawah Fakultas MIPA (yang sekarang berubah menjadi Fakultas Sains dan Teknologi). Akhirnya aspirasi dan inisiatif pembentukan Rayon baru dibawa dalam sebuah Loka karya pengembangan organisasi (LPO) Komisariat Suanan Ampel Uin Malang periode 1999-2000, akhirnya setelah mendapat restu dari ketua Rayon Condrodhimuko (sahabat M. Quraisyi) sekaligus ketua komisariat (Sahabat Alamul Huda) pada saat itu, dideklarasikanlah berdirinya Rayon “Pencerahan” Galileo pada tanggal 10 Juni 2000 di gedung J-4 STAIN Malang (Sekarang menjadi gedung B UIN)
Sedangakan untuk nama Rayon sendiri sebelumnya dari kader-kader Biologi mengusulkan nama Ibnu Sina, karena dinilai memiliki disiplin keilmuwan yang paham dalam bidang kedokteran, selanjuntya kader-kader dari jurusan Matematika mengusulkan Galileo yang di anggap sebagai Scientist yang dikenal dengan pola disiplin keilmuawnnya yang sekaligus secara konsensus di sepakati untuk di jadikan sebagai nama Rayon yang nantinya akan mewadahi semua kader Mipa pada saat itu.
Dalam keberadaannya sekaligus perjalanan sejarahnya Rayon” Pencerahan” Galileo sebagai wahana profesionalitas dan intelektualitas seta kaderisasi mahasiswa di lingkungan fakultas Saintek, telah mengalami 11 periodesasi pengurus yang pertama yakni Sahabat Herianto (2000-2001), Sahabat Khilwan Habibi (2001-2002), Sahabat Hendrik Ahyar (2002-2003), Sahabat Mubin Masduki(2003-2004), Sahabat Bambang Riadi (2004-2005). Sahabat Yusuf Afandi (2005-2006), Sahabat Agus Saifurrohim (2006-2007), Sahabat Ahmad Sadzily (2007-2008), Sahabat Barokat Anas Al-Hadi (2008-2009), Sahabat Arief Nurhandika(2009-2010), dan Sahabat M. Yasin Arif(2010-2011).
Sebagai salah satu organisasi kemahasiswaan Rayon “Pencerahan” Galileo bergerak di bidang pengkaderan dan terus berusaha menjadi wahana aktualisasi serta untuk menggali potensi diri dalam dunia pergerakan dan dunia akademiknya untuk ‘Terbentuknya pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah swt. berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmu pengetahuannya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia’. (Visi Misi PMII ).
Rayon “Pencerahan” Galileo yang beranggotakan mahasiswa berbasis eksakta, Sebagian orang mengatakan mahasiswanya terkesan individualis dan praktis. Karena hal yang demikianlah Rayon “Pencerahan” Galileo dituntut untuk berupaya membuka pola pikir warga eksakta menjadi warga eksak yang berpikiran luas, mempunyai paradigma kritis transformatif, profesional,ilmiah (positif) dan dinamis. dan mengaktualisasikan diri sebagai sebuah citra diri “Ulul Albab”. (Semoga sedikit pengetahuan diatas bermanfaat bagi Sahabat-Sahabati Mahasiwa).Amien
Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thorieq
Wassalamualaikum Wr. Wb
Berita

Presiden Jokowi : Kader PMII Harus Optimistis Menatap Masa…

PMII Galileo – Presiden Joko Widodo (Jokowi)  menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-58 Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII) di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Jalan Tamansari Nomor 73, Kota Bandung, Selasa (17/4/2018) malam. ia menyampaikan kepAda seluruh kader PMII  optimistis menatap masa depan Indonesia yang lebih baik. Sikap optimistis sangat penting untuk mengatasi berbagai tantangan yang bakal dihadapi Indonesia di masa datang.

“Saya senang bisa hadir di sini. Saya bisa merasakan semangat yang sangat besar para kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Saya optimistis tahun depan Indonesia semakin maju apabila kader-kader PMII semangatnya tidak pudar,” kata Jokowi saat menyampaiakn sambutan di Gedung Sabuga.

Presiden juga mengajak semua pihak untuk membawa budaya politik yang penuh kesantunan. Politik yang menyatukan, bukan politik pemecah belah. Sebab itu bukan politik Indonesia.

“Marilah kita bangun optimisme kuat agar apa yang kita inginkan menjadi kenyataan. Media sosial ada sisi positif dan negatif. Dalam Pilpres 2014, saya terkena isu PKI. Isinya adalah Presiden Jokowi itu PKI. Saya sampaikan, saya lahir tahun 1961. PKI dibubarkan tahun 1965. Usia saya baru empat tahun. Apa mungkin anak bayi ada di poto yang mana DN Aidit sedang berpidato dan saya berada di bawahnya,” ujar Presiden.

Negara Indonesia ini, tutur Jokowi, tak berprestasi selama sekian tahun. Sementara Jepang, Korea Selatan, China, Amerika Serikat, dan negara-negara di Eropa melesat. “Saya ingin ada keseimbangan. Oleh sebab itu dalam tiga setengah tahun ini saya selalu menuju kepada negara-negara di Timur Tengah. Kenapa ini saya lakukan, karena kita ingin jalin kerja sama agar Indonesia menjadi negara maju dan besar,” tutur Jokowi disambut tepuk tangan kader PMII.

Jokowi hadir didampingi Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, Kapolri Jenderal Pol Muhammad Tito Karnavian, Kemenpora Imam Nahrawi, Menteri Desa Eko Putro Sandjojo, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, Pangdam lll/Siliwangi Mayjen TNI Besar Harto, Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryoto, Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Hendro Pandowo, Dandim 0618/BS Kolonel Inf Arfin Dahlan.

Hadir pula, pendiri PMII KH Nuril Huda pendiri PMII, Ketua Mabinmas PMII A Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PB PMII Agus Mulyono Herlambang, Sekjen PMII Sabolah Al Kalambi, Ketua PKB Jabar Saeful Huda, dan Khofifah Indar Parawansa (senior PMII).

Ketua Umum PB PMII Agus Mulyono Herlambang mengatakan, PMII telah mewakafkan diri untuk Indonesia. PMII zaman now siap merebut zaman milenial. Kader PMII zaman now sudah banyak yang berprestasi di berbagai bidang.

“Kami, PMII, sangat mengapresiasi kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo dan keberanian mengunjungi negara-negara yang sedang konflik. PMII untuk indonesia dengan itikad sama, PMII hadir menciptakan Indonesia merdeka dan berprestasi,” kata Agus.

Sumber : http://pmii.or.id

Artikel

Mainstream Kaderisasi Kita, Saat Dan Pasca Tahun Politik

PMII Galileo – Opini – Di tengah banyak kritik dan pandangan sinis terhadap fenomena baru-baru ini terkait kaderisasi PMII Jawa Timur, yang kebetulan bersamaan dengan tahun-tahun yang paling subur untuk masa depan para aktifis yang beruntung, menjadi catatan penting untuk kita renungkan bersama. Siapapun kita, baik alumni terlebih yang masih aktif di berbagai jenjang struktural yang ada.

Tidak perlu saya sebutkan fenomena itu apa, setidaknya secara pribadi baru kali ini saya tidak bisa beralibi baik ilmiah empiris maupun diplomatis politis, jika ada pertanyaan tentang PMII. Ada seorang teman yang tiba-tiba mengirimi saya foto dua biduan idola saya, Vallen Kharisma dengan membubuhkan caption “Bat, mohon di-mapaba-kan, mereka potensial, untuk meng-kuningbiru-kan Vianisty dan Nella Lovers”. Kira-kira jika itu pertanyaan untuk anda, apa jawaban anda?

Sudah bukan lagi menjadi rahasia khusus, kalau adanya keterlibatan semua organisasi kemahasiswaan terhadap “pesta” dukung mendukung dalam kepentingan politk praktis, baik secara langsung maupun sembunyi-sembunyi. Dengan berbagai alasan dan latar belakang pengambilan keputusannya untuk memihak (dukung-mendukung).

Saya yakin anda bisa berimajinasi sendiri untuk itu saya tidak akan bicara, (karena saya menulis, heuheuheu) untuk mendudukan, memojokkan ataupun mencari kesalahan siapa sebenarnya menodai kaderisasi kita. Memang ini bukan hal baru, akan tetapi jika tidak segera disikapi dengan rasa cinta pada PMII (khususnya adik-adik yang masih berproses di akar rumput), bukan tidak mungkin PMII akan menjadi macan ompong di masa yang akan datang.

Mari kita sedikit menoleh pada awal-awal Gus Dur memimpin NU pada periode pertama, beliau merasakan bahwa NU sebagai kendaraan politik, tidak lebih hanya digunakan sebagai kendaraan umum bagi siapapun. Yang mana kaderisasi NU masa itu dinilai masih mengandalkan proses alamiah, sehingga siapapun yang dinilai “baik” maka dialah yang mendapatkan rekom dari NU. Tidak peduli dia mengenal NU secara “kaffah” atau tidak.

Dari kenyataan seperti itu, seperti yang diungkapkan oleh Mbah Said Aqil Siraj, dalam memimpin NU beberapa periode Gus Dur selalu mengedepankan kaderisasi-kaderisasi yang utuh untuk pemuda-pemudi generasi NU, sampai-sampai kala itu, kaderisasi ulama juga didengungkan.

Sependek jangkauan padangan saya, Gus Dur menerapkan prinsip “kaderisasi” seperti itu, bukanlah Gus Dur sengaja untuk melepas santri dengan Kiainya dan Pesantren, akan tetapi hal itu adalah untuk kita hari ini, yakni generasi meneruskan NU sebagai organisai yang modern.

Salah satu anggota di Lembaga Pengembangan Kaderisasi PKC Jawa Timur, sempat bertanya atau lebih tepatnya menegur dengan bahasa khas Sumenep-Nya yang halus “Mas gimana ini, apa pendapat pean?” Jujur saja saya hanya menyatakan sikap personalitas sebagai kader PMII, dengan mencoba melepas identitas struktural di PKC, saya mengatakan sederhananya “semua pasti ada hikmahnya mas”.

Inikah Masa Depan Kaderisasi Kita
Begini sahabat-sahabat, ini adalah otokritik untuk kita, dan ketika sudah terbit di media yang artinya adalah dapat menjadi konsumsi umum, biarlah, karena ‘sebab’ ini terjadi juga di depan umum, maka akibatnya harus juga dirasakan oleh umum juga. Meskipun terkesan horror begini, saya sangat percaya dan meyakini bahwa tidak ada yang tidak baik di antara sesama organisasi kemahasiswaan. Karena saya pun juga bisa, jika harus mengungkap semua kemunafikan gerakan mahasiswa era pasca reformasi ini.

Maka dari itu, mari kita blejeti satu persatu; Pertama; kemenangan Joko Widodo dari Prabowo di Pilpres 2014 yang lalu, yang tahun depan akan kita ulangi lagi, telah mengantarkan PMII pada mainstream baru dalam gerak-gerak doktrinasi pada anggota baru. Mainstream itu adalah rela menunjukkan kebanggaan, banyaknya jumlah orang  yang berasal dari PMII untuk menjadi pembantunya Presiden Jokowi, saking senangnya, sampai kita lupa, kalau Jokowi adalah mahasiswa pecinta Alam, dan Wakilnya adalah Himpunan Mahasiswa Islam.

Dalam hal ini kita sudah bunuh diri karakter, karakter siapa? Yang jelas bukan karakter senior-senior kita yang sudah nyaman di atas sana atau yang sedang “menjilat”, melainkan karakter adik-adik kita dan karakter PMII di masa depanlah yang terancam. Dan perlu diingat, kalau karakter sudah terbunuh, maka kemudian adalah identitas kita terbunuh, alhasil kita semua telah melakukan bunuh diri “kelas”, itu lah kondisi kita hari ini menuju “the slow death of the our movement”.

Kedua; prespektif saya dalam melihat bahwa Gerindra, PKS dan PAN tidak sanggup mengangkat calon gubernurnya sendiri di Pilkada Jawa Timur tahun ini, merupakan sebuah malapetaka tersendiri, ingat DKI Jakarta. Memang sudah bisa dipastikan, permainan politik senista di Pilkada DKI Jakarta tahun lalu itu, tidak bisa diterapkan di Jawa Timur, tapi dengan melihat ketidakdewasaan Tim Sukses yang notabene diisi oleh para pemuda dengan ambisinya yang khas menggebu-gebu, adalah sebuah celah untuk benar-benar massa suara NU Jawa Timur. Termasuk adalah “mencampuradukkan dapur organisasi dengan pelaku langsung politik praktis”.

Apakah jika memang begitu nyatanya, patutkah disebut bahaya? Tidak! Lantas, apakah hal itu tidak berbahaya? Yaa, sangat berbahaya! Dipastikan tidak berbahaya jika itu pendapat keluar di antara kita yang telah memiliki nalar politik sejak oroknya, bahkan urusan kaderisasi yang seharunya suci dari politik masih diikutcampurkan. Akan menjadi bahaya jika yang berpendapat seperti itu adalah antara kita-kita yang alam fikirnya dipenuhi hanya tentang kaderisasi, pendidikan kader dan distribusi kader.

Saya merasa tulisan ini tidak layak untuk terbit, tapi minimal sebelum tulisan ini terbit telah saya tashih-kan pada salah satu sahabat, yang artinya adalah terbit tidak terbit tulisan ini minimal telah dibaca oleh salah seorang sahabat kita. Oleh karena itu, sekali lagi saya ingatkan, saya tidak mendudukkan siapapun, jika memang dirasa mendudukkan, ya memang pahit rasanya.

Tentang ketidakdewasaan-ketidakdewasaan itu bukan hanya terjadi pada diri kita yang masih aktif, nyatanya jika anda bertemu dengan akun facebook yang mengatasnamakan anak muda NU, isinya hanya kampanye-kampanye politik dan pernah ada satu unggahan yang membuat saya meringis “kok begitu yaa” akun itu menuliskan “yang dilihat itu prestasinya bukan nasabnya”. Dua hal yang perlu kita catat sebagai bahan evaluasi berfikir dan bergerak, adalah tidak semua anak muda NU itu politisi, dan wajah anak muda NU adalah bukan mereka. Persis seperti ketika, ada yang bilang wajah Islam Indonesia adalah, HTI-FPI-PKS-Wahabi, jelas kita tidak akan terima.

Jangan Korbankan Kepolosan Dan Kesucian Adik-Adik Kita
Bahwa tantangan terbesar gerakan mahasiswa Indonesia yang massif seantero negeri, sudah dapat dipastikan tidak akan pernah terjadi di era kita sekarang. Tak perlu saya jelaskan, anda bisa berimajinasi sendiri untuk menemukan sebab-sebab untuk persambungan itu, dan bahkan kita pun tidak bisa menentukan kapan gerakan mahasiswa yang seperti 1966 dan 1998 itu terjadi lagi. Saya masih teringat dengan salah satu senior gets yang dimiliki kader-kader PMII Jawa Timur, beliau mengatakan pada saya:

“Kamu jangan goblok melihat fenomena, kamu ini ada di zaman apa, pastikan semua doktrin-doktrin sisa pergerakan reformasi itu perlahan sesuaikanlah dengan zaman. Kamu ada di sebuah zaman yang lebih populernya disebut sebagai masa elan vital, yaitu sebuah masa-masa ‘di antara’ dua momentum besar, dan kamu harus merasa berdosa mulai hari, jika kelak generasimu tidak siap dan tidak memiliki persiapan militansi ketika dihadapkan pada momentum gerakan itu. Jelas, yang salah adalah kamu di hari ini, mengapa kamu hanya memikirkan habis ini ikut siapa, habis ini masuk partai siapa”, begitu lah kurang lebih nasihat beliau, ia adalah Sahabat Syakban Rosidi.

Kita tau, kalau proses kita secara struktural di cabang ke bawah hanya satu tahun, dan itu adalah masa yang sangat cepat, untuk menyelesaikan masalah pasca konfercab. Sedangkan kaderisasi kita juga sering terganggu akibat itu, ditambah dengan realitas yang ada bahwa organisasi ideologis yang berbeda dengan kita juga sudah masuk dan nyata di depan mata. Lantas masihkah tega, kita menyimpangsiurkan pandangan mereka pada langkah-langkah politik kekanakan ini. Kalau memang yang menjadi semangat-semangat kampanyenya adalah kuning melawan hijau, atau biru melawan hitam, ya tegaskan lah, jangan sampai karena menjaga hati, kita justru mengambil langkah-langkah konyol.

Mari kita membuka mata adik-adik kita, agar melek pada tahun-tahun politik yang membahayakan ini. Sedangkan mereka yang di luar sana, sambil ngopi dan menghisap rokok tetap berfikir kalem, dengan sedikit-sedikit menertawai kita. Terakhir! Sebagai pagar bahwa tulisan ini tidak hanya untuk PMII saja, yang kemudian hanya menambah keruh keadaan, perlu kita ketahui bersama, bahwa musibah ini sedang menimpa PMII, sedangkan pada organisasi lain juga sudah ada yang pernah merasakan, dan atau akan merasakannya di masa depan.

NB: Opini ini adalah curahan hati tidak ada yang saya ajak diskusi dan tidak mewakili lembaga. Salah benarnya, kurang lebihnya, adalah saya sendiri yang bertanggung jawab. Tapi saya tidak akan meladeni perdebatan, sebagai gantinya baik mendukung, menambahi, mengurangi dan membantah penuh, silakan menulis sendiri dan terbitkan sendiri.

Penulis : Aris Indra F.

Sumber : http://pmiinews.com

Artikel

Tahun Politik Dan Keberpihakan Aktivis PMII

PMII Galileo – Pada saat momentum politik tahun 2018 ini merupakan pra-politik yang nantinya menembus klimaks politik pada tahun 2019 nantinya. Dimana para partai politik menyimpan kaki-kaki nya saat pilkada serentak berlangsung tahun ini.

Temporial situasi yang menyudutkan para aktivis atas keberpihakannya di tahun politik ini ialah mempunyai tanggung jawab besar dalam mengawasi dan mengawal demokratis yang damai dan tentram.

 Akan tetapi melihat dari beberapa kacamata kuda kita temui, bahwasannya berbicara aktivis tak terlepas kaitannya antara junior dan senior serta tak terelakkan di semua lini dan daerah lokus-lokus para aktivis berkecimoung. Dengan adanya para aktivis junior dan senior maka tidak bisa dipungkiri lagi kemana arus yang ia ikuti.

Spesifik atas pembahasan yaitu para aktivis PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan organisasi mahasiswa ekstra yang berbasis kaderisasi. Dimana seluruh pelosok bumi pertiwi ini sudah ada aktivis PMII.

Maka dari itu salah satu mantan Ketua Umum PB PMII sebut saja Cak Imin (Muhaimin Iskandar) sudah menyiapkan strategi politik untuk menjadi calon wakil Presiden Republik Indonesia bahkan bisa melangkah lebih maju yaitu calon Presiden.

Yang menjadi benang merah antara tahun politik ini dan keberpihakan Aktivis PMII terutama tantangan yang besar atas keberpihakannya yaitu memilih pada proses kaderisasi atau memfokuskan salah satu senior yang ingin maju calon wakil presiden.

Kalau penulis sendiri dengan beberapa ide dan gagasan, akan saya tuangkan pada tulisan ini, agar keberlangsungan kaderisasi akan semakin kuat dan kental dalam berdinamika organisasi.

Solusi Tanpa Menghindari dan Keberpihakannya Pada Tahun Politik

1. Perlunya silaturrahim terus Menerus antar kader dan alumni. Saya meyakini, tidak semua alumni suka politik praktis melainkan ada juga yang politik kebangsaan, maka dari itu jangan bergantung pada salah satu alumni saja.

2. Mulai mengembangkan potensi-potensi yang Anda miliki, agar saat kalian proses berorganisasi maka potensi itulah yang kamu jadikan ide dan gagasan sehingga mempunyai nilai value pada kepribadian Anda, buka malah menjual atau menggadi sebuah organisasi.

3. Peka terhadap hal-hal yang berbau politik praktis untuk menghindari masuk ke dalam jurang yang tidak dinginkan.

4. Tekankan kepada kader untuk lebih disibukkan dengan tanggung jawab mahasiswa sebenarnya. Agar tidak nganggur sehingga gampang untuk dijerumuskan pada politik kebangsaan.

5. Bagi anda yang suka politik praktis, jangan setengah-setengah untuk melacurkan diri. Karena sekali naik daun Anda akan tinggi dan juga sebaliknya.

6. Bagi Anda yang suka politik kebangsaan, marilah kita kampanyekan sebuah kedaimaian. Tanpa menyalahkan antar sesama. Karena kita masih mempunyai sebuah Kebhinekaan.

7. Jika ingin mengembangkan organisasi yang digeluti saat ini, tak perlu kalian harus mengikuti urusan atau konflik organisasi atau oran lain. Cukup Anda kembangkan menjadi besar organisasinya maka organisasi lainnya akan merasa kecil.

8. Tak perlu kita melihat senior-senior kita yang sukses untuk menjadi motif merekruitmen kader. Khawatir terbengkala dalam proses kaderisaai.

9. Dan yang terakhir, ini adalah zaman kita yang berproses untuk berorganisasi, bukan alumni atau senior.

Kalau zaman Sayyidina Ali Bin Abi Thalib menyatakan “Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan ini bapakku, tetapi yang dikatakan inilah aku“. Jika dikaitkan dengan sebuah kaderisasi zaman now yakni, “Bukanlah seorang kader ulul albab yang mengatakan ini seniorku, tetapi yang dikatakan kader ulul albab inilah aku“.

Oleh karena itu, mulai lah sejak dini untuk mengasah pola pikir yang luas, agar tajam dalam menganalisa sebuah konteks saat ini.

Penulis menghimbau para kader dimana pun berada, tak perlu engkau bergantung pada senior atau alumni yang tidak memanusiakan manusia, tapi jangan memilah-milih senior atau alumni untuk bersilaturrahim dan mempererat tali silaturrahim.

Politik di Indonesia bagaikan sebuah kamar mandi yang berada di rumah. Coba bayangkan saja, sebesar-besarnya rumah, jika tidak ada kamar mandi, akankah seperti apa perasaan Anda?. Silakan refleksikan otak dan pikiran kita sejenak.

Berita

PMII RPG Adakan Sekolah Jurnalistik

PMII Galileo – Sekolah Jurnalistik bertemakan “Serunya Menjadi Seorang Jurnalistik” di adakan oleh Pengurus Rayon ” Pencerahan” Galileo pada tanggal 17-18 Maret 2018 di Aula Pengurus Komisariat Sunan Ampel Malang dan di lanjutkan tanggal 24-25 Maret 2018.

Menurut Direktur LSO Jurnalistik (sahabat Rifqi Hubaib) selaku pelaksana, event ini rangkai selama dua minggu tiap hari sabtu dan minggu agar dapat memaksimalkan materi. Sehingga bagaimana kemudian output dari sekolah jurnalistik ini bisa mengena sesuai presentase yang ditargetkan.

“saya sangat beeharap, peserta mampu mengelola web dan media sosial dengan semaksimal mungkin, mengingat anak-anak zaman now mayoritas hanya menggunakan sosmed sebagai tempat ajang eksistensi pribadi, tidak dimanfaatkan sebagai wadah penulisan”. Ucapnya saat ditemui di Komisariat Sunan Ampel Malang (17 Maret 2018).

Selain itu, tambahnya, harapan PMII menguasai leading sector khususnya di tataran Mahasiswa sangat besar, mengingat orang-orang dengan idiologi non-ahlussunnah waljamaah sudah menguasai media ditataran global. Sehingga penting bagi kader PMII untuk menjadi penggerak di sosial media, bukan hanya menjadi penggerak dalam aksi turun ke jalan.

“dari rayon ataupun dari LSO sendiri hanya menargetkan 3 peserta asal dapat dimaksimalkan betul. Akan tetapi peserta yang hadir justru lima kali lipat dari target, namun bukan berarti dengan kuantitas kemudian mengenyampingkan kualitas yang menjadi barometer utama” tambahnya.

Oleh : Sahabat Galileo

Artikel

Istiqomah dalam Ber-Organisasi

PMII Galileo – Judul di atas terdiri dari dua variabel kata, yaitu istiqomah dan organisasi yang mempunyai makna dan arti tersendiri. Istiqomah dapat diartikan sebagai terus menerus, kokoh, teguh pendirian, tetap dan konsisten. Sedangkan arti dari organisasi sendiri dapat ditinjau dari dua sudut, yakni dari sudut statis dan dinamis. Arti organisasi dari sudut statis mempunyai arti wadah dari sekumpulan orang untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan. Sedangkan arti organisasi dari sudut dinamis adalah merujuk pada orang-orang yang melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Dari situlah dapat disimpulkan bahwa istiqomah dalam berorganisasi memiliki pengertian ke konsistenan sesorang dalam menjalankan roda ke organisasian dengan tetap memperhatikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelaku organsasi guna mencapai tujuan yang sama.

Kadangkala sebagian orang mengasumsikan makna “tetap”dari istiqomah kurag tetap, bagi hemat penulis makna “tetap” dari istiqomah tersebut merujuk pada tetap dalam kedinamisan. Dalam artian tetap bergerak dan mempertahankan pola tingkah laku dan perilku sebagai pelaku organsasi meskipun halangan dan rintangan kian datang silih berganti menghampirinya. Dengan tanda kutip pola tigkah laku dan perilaku tersebut dalam koridor baik sehingga perlu kiranya untuk tetap dipertahankan dan dilaksanakan secara terus menerus.
Kata istiqomah memang mudah di ucapkan, namun susah untuk dilakukan. Meski susah tidak ada salahnya kita harus dan tetap mencoba dan memulai dari diri individu kita sendiri tanpa harus menunggu orang lain untuk istiqomah. Apa lagi istiqomah ingin dilakukan secara kolektif atau kelompok justru akan semakin susah tercipta.
Dalam prinsip perjuangan Nahdlatul Wathon adalah yakin, ikhlas dan istiqomah. Betapa pentingnya istiqomah dilakukan dalam berbagai hal termasuk istiqomah dalam berorganisasi. Tujuan organisasi akan mudah dicapai apabila para pelaku dalam organsasi tersebut mampu menjalankan tugas dan kewajibannya secara konsisten (istiqomah).
Salah satu manfaat dari istiqomah adalah dapat meneguhkan dan mengokohkan pendirian kita dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab yang di emban meskipun menemukan halangan dan rintangan. Namun dengan beristiqomah tidak akan mudah lengah dan putus asa untuk terus berproses dan berusaha hingga membuahkan hasil yang maksimal dan memuaskan.
Untuk mencapai istiqomah butuh proses bertahap secara evolusiner bukan revolusioner. Untuk itu mulailah dari hal-hal kecil namun konsisten dilakukan. Selain itu harus memilih dan memilah kawan/teman yang baik dalam hal untuk beristiqomah. Dan yang terpenting mulailah diri kita sendiri untuk istiqomah sehingga mampu meghipno dan mengajak orang lain disekitar kita untuk ikut istiqomah dalam kebaikan, tentunya……………….!!!. wallahu a’lam.
Oleh : Yudi Perreng