Artikel

Berproseslah Dengan Caramu Sendiri

Kamu tidak dapat mengajari seseorang apa pun, kamu hanya bisa membantunya menemukan apa yang ada dalam dirinya sendiri- Galileo Galilei

Kalimat di atas yang kemudian memantik kita para kader PMII, khususnya PMII Rayon “Pencerahan” Galileo untuk dapat mengaktualisasikan peranan kader dalam mengembangkan berbagai hal yang nantinya dapat berdampak positif baik bagi rayon maupun lingkungan sekitar.

PMII merupakan salah satu dari sekian banyak OMEK yang berkembang di kampus. Setiap OMEK tentu memiliki tujuan mulia untuk mencetak kader-kader yang mampu mengembangkan bakat dan minat yang mereka miliki. Selain itu keberadaan PMII sebagai wadah pergerakan mahasiswa berbasis Islam tentunya memiliki tujuan utama untuk tetap menjaga khazanah dan tradisi Islam yang sesuai dengan Islam Ahlussunnah wal Jamaa’ah. Sehingga, nantinya diharapkan kemanapun kader-kader PMII didistribusikan akan tetap berpegang teguh dengan Tujuan PMII yang tertuang dalam Pasal 4 AD PMII, yang berbunyi

Terbentuknya Pribadi Muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta berkomitmen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Menurut, Sahabat Fitrah pada saat Follow Up PKD, beberapa pekan lalu, disampaikan bahwa salah satu konsep yang dapat diterapkan untuk mengaktualisasikan peranan kader secara optimal adalah dengan konsep Bunga Matahari. Konsep ini yang seharusnya dapat dijadikan oleh setiap kader PMII sebagai landasan selama berproses di PMII. Dimana kelopak pada bunga matahari melambangkan di ranah mana kita sebagai kader akan mengembangkan diri. Mulai dari organisasi intra, komunitas, akademisi, maupun di ranah ma’had sebagai musyrif/ah. Dimanapun kita akan berproses pada muaranya setiap kelopak akan kembali pada lingkaran tengah bunga yakni sebagai interpretasi Rayon. Dimanapun berada setiap kader tidak dapat mengelak identitasnya sebagai kader pergerakan. Untuk begitu tinggal bagaimana kita sebagai kader dapat menempatkan diri sesuai dengan profesionalitas yang kita miliki.

Rayon adlah benda mati, yang menjadi wadah bagi setiap kadernya. rayon membutuhkan peran aktif setiap kader untuk menghidupinnya. Karena, rayon tak akan memberikan apa-apa kepada kita jika kita enggan tuk mencarinya. Begitulah jika kita telaah kembali kalimat Galileo di atas. Karena melalui berproses di PMII kita akan digiring untuk menemukan diri kita sendiri, tergantung bagaimana kita mau memaksimalkan waktu untuk berproses. Dan cara terbaik untuk berproses adalah, berproses dengan cara kita sendiri.

 

.Nrl

Agenda

KOPRI Rayon Pencerahan Galileo Adakan SIG

PMII Galileo-Sekolah Islam dan Gender yang dikenal dengan SIG merupakan kaderisasi tingkat dasar dalam tubuh KOPRI yang setara dengan MAPABA. Meskipun SIG ini diadakan oleh KOPRI tidak menutup kemungkinan kader putra juga dapat mengikuti sekolah ini. Sebagai, salah satu proker wajib KOPRI Rayon Pencerahan Galileo, maka diadakan SIG 2018 dengan tema “Eksistensi Gender dalam Konsep Islami” (3-4/03/2018).

Kegiatan SIG ini dilaksanakan diluar area Kampus Ulul Albab, tepatnya di Vihara Dharma Mitra. Pemilihan tempat ini selain karena tempatnya strategis, nyaman bagi peserta, juga dengan tujuan memberikan pesan bagi setiap peserta SIG betapa pentingnya toleransi antar umat beragama. Pelaksanaan SIG selama dua hari sejak Sabtu pagi (03/03/2018) hingga Minggu sore (04/03/2018) merupakan pilihan waktu yang tepat, dengan tujuan agar waktu liburan kader-kader galileo dapat diisi dengan kegiatan positif.

SIG kali ini, tidak hanya diikuti oleh kader puteri saja, akan tetapi juga terdapat kader putera yang berpartiipasi. “Tujuan SIG kali ini ingin mengubah konsep bahwa SIG hanya dikhususkan untuk kader puteri saja akan tetapi juga terbuka bagi kader putera. Dan terbukti dengan mulai berubahnya cara pandang peserta putera tentang memposisikan perempuan setelah menerima materi selama dua hari.” Sahabati Hani, selaku ketua pelaksana SIG kali ini merasa sangat senang dengan antusiasme dan keaktifan peerta SIG.

Selain tidak adanya batas peserta putera atau puteri, peserta SIG Rayon Pencerahan Galileo juga berasal dari rayon sebelah yakni dua kader dari Rayon Penyelamat Dja’far Syaifuddin serta 4 kader delegasi Rayon Penakluk Adawiyah. Kedatangan delegasi ini menjadi salah satu tanda bahwa dalam menuntut ilmu tidak ada sekat antar rayon. Sehingga, dengan ini semakin memperkuat rasa persahabatan (hablum minan nass) antar rayon.

Pemilihan tema SIG yakni, Eksistensi Gender dalam Konsep Islami memiliki tujuan untuk menguatkan kembali pemahaman peserta mengenai gender yang pada hakikatnya telah dari awal di jelaskan dalam Al Quran. Peserta SIG yang berjumlah sekitar 20 orang, dengan antusias mendengarkan materi yang disampaikan oleh pemateri-pemateri yang ahli dalam bidangnya. Pada tanggal 03 Maret terdapat empat materi wajib yaitu, Fiqih Peremuan, Hukum Islam di Indonesia, Gender dalam Perspektif Al quran dan Hadist, dan Konsep Dasar Islam. Sedangkan, di hari kedua terdapat dua materi tambahan yakni Pulic Speaking dan Kepemimpinan Perempuan.

“Dengan mengikuti SIG ini mampu merubah pola pikir aya yang mulanya merasa bahwa laki-laki lebih dan di atas perempuan kemampuannya. Namun, setelah menerima materi saya mengerti bahwa kesetaraan antara laki-laki dan perempuan telah ditegaskan dalam agama.” Di sampaikan oleh satu-satunya delegasi kader putera Rayon Pencerahan Galileo, Sahabat Nasruddin.

Sahabati Wida, selaku ketua KOPRI Rayon Pencerahan Galileo, menyampaikan, “Besar harapan saya di SIG selanjutnya jumlah peserta putera dan puterinya seimbang sehingga menghilangkan pandangan bahwa SIG hanya dikhususkan bagi kader puteri saja. Dengan SIG ini juga saya berharap para kader puteri dapat menjadi lebih tangguh dan percaya diri dan mau memimpin baik di organisasi ataupun lainnya.”

Diakhir acara, diadakan Rencana Tindak Lanjut (RTL) bagi peserta SIG. Setelah dilakukan voting ditetapkan adanya Follow Up pada Hari Minggu Ba’da Maghrib dengan dua materi utama, yaitu: Gender Perspektif Al Quran dan Hadist, serta materi kedua Perempuan dalam Ranah Politik. Tujuan Follow Up ini adalah untuk memantapkan kembali pemahaman peserta serta menambah khazanah pengetahuan yang mungkin belum tersampaikan dalam SIG.

“Bergeraklah, atau kau akan terlupakan.”

 

Oleh: N.

Kopri

PEREMPUAN

Perempuan ada bukan tanpa alasan

Jasa mereka tak hanya ‘tuk dikenang

Yang mereka perjuangkan adalah cahaya masa depan

Tangan mereka lahirkan peradaban

Dengan mereka dunia ‘kan alami perubahan

Namun sayang,

Terlalu rapuh perempuan seakan pesuruh

Perlahan tangan halus itu kian  melepuh

Tak lagi bisa tegas bersikap

Apalagi memaksakan pendapat

Perempuan seakan hilang dari peradaban

Bungkam,

Diam yang tak beralasan

Enggan berjuang,

Enggan bergerak, seakan terkekang,

Kemanakah hakikat ketangguhan perempuan?

Mengapa kini harus dipertanyakan?

Tidakkah peradaban rindu sosok kartini lahir kembali,

atau paling tidak,

Mahatma Gandhi bangkit, dalam pribadi perempan masa kini

Kemanakah perempuan masa kini?

Haruskah diam menjadi pilihan?

Lantas, masih adakah esensi pergerakan dalam diri perempuan masa kini?

Tanyakan itu!

Dan berikan jawaban terbaik bagi bangsa,

Karena perempuan penentu masa depan bangsa kelak.

 

Nb: Spesial teruntuk Harlah KOPRI ke-50, ^^

Malang, 05 Desember 2017

23:40

Sahabati Nuril Q.

Artikel

Peran Mahasiswa Masa Kini

PMII Galileo– Sebagai mahasiswa kita perlu mengetahui apakah esensi sebenarnya yang terkandung dalam satu kata sakral tersebut yakni “MAHASISWA”Apakah sebenarnya makna dari mahasiswa serta adakah karakter atau sikap yang menunjukkan identitas mahasiswa yang ideal dan patut untuk dijadikan  teladan dan harapan bangsa di masa yang akan datang.

Mahasiswa merupakan individu yang tengah mengenyam pendidikan di bangku perguruan tinggi. Mahasiswa identik dengan dua sisi, yaitu sebagai manusia muda dan calon intelektual. Sebagai calon intelektual mahasiswa cenderung memiliki pemikiran kritis dalam menghadapi segala hal, sedangkan manusia muda lebih mengarah kepada pribadi yang labil serta sulit mengatur permasalahn dan menanggung resiko. Mahasiswa dituntut untuk menjalankan kuliah dengan kemampuan sendiri, tidak bergantung pada orang lain.

Secara umum terdapat beberapa karakter mahasiswa:

  1. Kritis

Mahasiswa dengan karakter seperti inilah yang dapat dikatakan sebagai mahasiswa ideal. Karena dengan memiliki sika kritis pola pikir mahasiswa akan terus berkembang dan berdampak kepada perkembangan pengetahuan mahasiswa selanjutnya. Karena mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

  1. Hedonis

Mayoritas mahasiswa yang memiliki karakter hedonis merupakan mereka yang tak lagi memikirkan masa depan serta orang tua yang tengah menunggu kesuksesan mereka. Sehingga masa kuliah hanya dipergunakan sebagai wahana bersenang-senang semata.

  1. Normatif

Mahasiswa tipe ini merupakan mahasiswa yang memiliki prinsip mengikuti arus. Dimana mereka tak lagi mempertanyakan akan suatu hal benar atau salah. Dan menurut begitu saja dengan perintah dan pernyataan yang mereka terima tanpa ingin menelusuri kebenaran dan sumbernya.

  1. Apatis

Karakter ini perlu dihindari oleh mahasiswa. Karena jika mayoritas mahasiswa memiliki sikap ini akan berdampak buruk bagi masa depan bangsa, karena yang akan terlahir adalah generasi yang acuh terhadap keadaan lingkungan terlebih kemudian terhadap bangsanya.

Dari sosok mahasiswa yang kritis kemudian diharapkan dapat melahirkan mahasiswa-mahasiswa yang dapat memimpin bangsa. Terdapat beberapa peranan pokok mahasiswa, yaitu:

  1. Agent of Change ( Generasi Perubahan)
  2. Agent of Social Control (Generasi Pengontrol)
  3. Agent of Iron Stock (Generasi Penerus)
  4. Agent of Moral Force (Generasi Gerakan Moral)

Gerakan mahasiswa dimasa reformasi serba terkekang dan sangat ditekan pergerakannya, namun setelah era reformasi pergerakan mahasiswa kian muncul kepermukaan. Namun, dewasa ini mahasiswa menghadapi beberapa tantangan yang harus mereka temui, diantaranya:

  1. Miskinnya bangsa dari guiding ideas (Krisis gagasan kebangsaan)
  2. Adanya kelunturan nilai dan budaya ketimuran yang terus bertambah sesuai pergulingan zaman (Krisis identitas)
  3. Lemahnya pengertian terhadap tanggung jawab dan kewajiban (Krisis kepercayaan dan tanggungjawab)
  4. Kebutuhan akan pemimpin yang layak dan kompeten tidak pernah tercukupi (Krisis Kepemimpinan)

Untuk itu perlu adanya reposisi gerakan mahasiswa yang dijabarkan sebagai berikut:

  • Orientasi Gerakan
    • Gugatan terhadap struktur kekuasaan
    • Pembentukan opini publik
  • Format Kegiatan
    • Aksi massa
    • Aksi sosial
  • Tipe Gerakan
    • Gerakan politik praktis
    • Gerakan penyadaran dalam bidang sospol

Dapat kita simpulkan bahwa, setiap periode akan lahir para pemimpin pemimpin penerus perjuangan bangsa dan mahasiswa saat ini adalah para pengganti pemimpin serta komponen komponen lainnya baik itu dalam bidang pemerintahan, pendidikan, ekonomi dan lainnya pada 10-20 tahun yang akan datang. Untuk itu yang diharapkan adalah lahirnya generasi mahasiswa yang kritis, bukan  lagi mahasiswa apatis. Mahasiswa yang mampu menjadi agent of change, baik bagi bangsanya maupun bagi dunia. Mahasiswa yang mampu menjadi kontrol di tengah tengah masyarakat. Mahsiswa sebagai generasi penerus yang dapat mempertanggung jawabkan keberadaannya serta sosok mahasiswa yang mampu menyuarakan gerakan moral demi kemaslahatan bangsanya.

 

 

Nb: Materi ini disampaikan oleh Sahabat Mahbub Junaidi, dalam acara Follow Up Mapaba yang ke-2 dengan Materi Kemahasiswaan, pada Selasa, 28 Nopember 2017.

Artikel

Filsafat Sebagai Ilmu Kritis

PMII Galileo – Sejak awal Negara Barat terjadi dikotomi antara agama dan filsafat. Sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan yang sangat pesat di Negara Barat, pada mulanya mereka hanya mengenal Teologis, dan kemudian berkembang menjadi Metafisik, dan baru kemudian lahir ilmu-ilmu pengetahuan yang menjadi cikal-bakal ilmu pengetahuan modern saat ini. Berbeda dengan pandangan Islam, dimana Islam bukan memisahkan antara agama dan filsafat dan juga ilmu pengetahuan, akan tetapi dalam islam kita mengenal adanya Agama Teologis dan Agama Ilmu. Hal inilah yang kemudian membedakan Filsafat Islam dengan Filsafat yang berkembang di barat.

Jika saja kita mau mengamati beberapa Universitas Islam Negeri, mulai terpengaruh oleh paham barat, dimana terjadi dikotomi antara agama, filsafat dan ilmu pengetahuan. Namun, adanya Pohon Ilmu yang berada di UIN Malang, dapat dijadikan sebagai landasan dalam mengembangkan ilmu maupun belajar filsafat,kita ketahui bahwa landasan dan sumber utama dari segala bentuk ilmu pengetahuan berasal dari Tuhan yang dalam hal ini Agama, jadi antara filsafat, ilmu dan agama adalah satu kesatuan yang saling melengkapi.

Why Important Think Philosophy?

Sebagian filosof enggan menyebutkan filsafat sebagai cabang ilmu pengetahuan, karena filsafat merupakan refleksi filosofis dari kehidupan manusia. Secara fundamental filsafat memiliki makna rasional, mengupas secara mendalam menggunakan akal dan pemikiran. Di dalam Islam, pemikiran secara rasional diistilahkan dengan burhani (Logika Silogisme). Pada awal munculnya filsafat,  di Yunani juga berkembang mitologi atau mitos yang menganut paham irasional, sehingga seringkali mitos ini bersaingan dengan pemikiran filsafat yang rasional.

Yang menjadi pertanyaan untuk saat ini, masihkah mitos menjadi musuh dalam kehidupan manusia? Jika hal ini masih terjadi dapat dipastikan bahwa manusia modern pada hakikatnya masih memiliki pemikiran yang sangat klasik. Mengapa demikian, karena dalam pemikiran klasik pada zaman dahulu, mayoritas masyarakat memercayai dan mendewakan mitos dan takhayul. Sedangkan, di era modern ini pemikiran klasik lebih mengarah pada situasi atau keadaan dimana akal terbelenggu oleh pemikiran mengenai mitos-mitos tersebut. Dalam situasi ini peran mahasiswa khususnya insan pergerakan memiliki peran untuk menggaungkan rasionalitas, dan membebaskan diri dari belenggu, yang kemudian akan melahirkan pencerahan pada lingkungan dan masyarakat sekitar.

Sebuah ironi yang belakangan ini marak menjadi perbincagan di media sosial akan lahirnya agama baru yang bertuhankan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence). Lantas dalam keadaan seperti ini masihkah dapat dikatakan relevan antara Filsafat,Sains(Ilmu), dan Agama. Sebagai insan pergerakan kita dituntut untuk memiliki sikap kritis terhadap segala hal. Sikap kritis juga merupakan komponen terpenting dalam filsafat. Seseorang dapat dikatakan memiliki sikap kritis apabila dalam dirinya muncul keraguan atas sesuatu, dengan selalu muncul rasa ingin tahu dan mempertanyakan kembali akan konsep yang telah matang, dengan pertanyan mendasar (fundamental). Dengan sikap kritis kita akan memiliki wilayah pemikiran yang otonom atau dapat dikatakan kebebasan. Kondisi ini memiliki implikasi terhadap dengan tidak bergantung pada pandangan orang lain dan mampu berfikir sendiri (Sapare Aude). Filsafat bukanlah ilmu instan yang secara gamblang memberikan materi, namun filsafat merupakan alat, tinggal bagaimana kita dapat memfungsikan alat tersebut untuk menganalisis setiap persoalan dan permasalah  yang muncul di masyarakat. Dengan memiliki pemikiran yang rasional serta sikap kritis tentu akan tercipta insan pergerakan yang memiliki kepribadian yang terbebas dari belenggu pemikiran klasik(mitos).

Oleh : Sahabat Nuril Qomariyah