Rabu , Agustus 15 2018
Breaking News
Home / Artikel / Tahun Politik Dan Keberpihakan Aktivis PMII

Tahun Politik Dan Keberpihakan Aktivis PMII

PMII Galileo – Pada saat momentum politik tahun 2018 ini merupakan pra-politik yang nantinya menembus klimaks politik pada tahun 2019 nantinya. Dimana para partai politik menyimpan kaki-kaki nya saat pilkada serentak berlangsung tahun ini.

Temporial situasi yang menyudutkan para aktivis atas keberpihakannya di tahun politik ini ialah mempunyai tanggung jawab besar dalam mengawasi dan mengawal demokratis yang damai dan tentram.

 Akan tetapi melihat dari beberapa kacamata kuda kita temui, bahwasannya berbicara aktivis tak terlepas kaitannya antara junior dan senior serta tak terelakkan di semua lini dan daerah lokus-lokus para aktivis berkecimoung. Dengan adanya para aktivis junior dan senior maka tidak bisa dipungkiri lagi kemana arus yang ia ikuti.

Spesifik atas pembahasan yaitu para aktivis PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan organisasi mahasiswa ekstra yang berbasis kaderisasi. Dimana seluruh pelosok bumi pertiwi ini sudah ada aktivis PMII.

Maka dari itu salah satu mantan Ketua Umum PB PMII sebut saja Cak Imin (Muhaimin Iskandar) sudah menyiapkan strategi politik untuk menjadi calon wakil Presiden Republik Indonesia bahkan bisa melangkah lebih maju yaitu calon Presiden.

Yang menjadi benang merah antara tahun politik ini dan keberpihakan Aktivis PMII terutama tantangan yang besar atas keberpihakannya yaitu memilih pada proses kaderisasi atau memfokuskan salah satu senior yang ingin maju calon wakil presiden.

Kalau penulis sendiri dengan beberapa ide dan gagasan, akan saya tuangkan pada tulisan ini, agar keberlangsungan kaderisasi akan semakin kuat dan kental dalam berdinamika organisasi.

Solusi Tanpa Menghindari dan Keberpihakannya Pada Tahun Politik

1. Perlunya silaturrahim terus Menerus antar kader dan alumni. Saya meyakini, tidak semua alumni suka politik praktis melainkan ada juga yang politik kebangsaan, maka dari itu jangan bergantung pada salah satu alumni saja.

2. Mulai mengembangkan potensi-potensi yang Anda miliki, agar saat kalian proses berorganisasi maka potensi itulah yang kamu jadikan ide dan gagasan sehingga mempunyai nilai value pada kepribadian Anda, buka malah menjual atau menggadi sebuah organisasi.

3. Peka terhadap hal-hal yang berbau politik praktis untuk menghindari masuk ke dalam jurang yang tidak dinginkan.

4. Tekankan kepada kader untuk lebih disibukkan dengan tanggung jawab mahasiswa sebenarnya. Agar tidak nganggur sehingga gampang untuk dijerumuskan pada politik kebangsaan.

5. Bagi anda yang suka politik praktis, jangan setengah-setengah untuk melacurkan diri. Karena sekali naik daun Anda akan tinggi dan juga sebaliknya.

6. Bagi Anda yang suka politik kebangsaan, marilah kita kampanyekan sebuah kedaimaian. Tanpa menyalahkan antar sesama. Karena kita masih mempunyai sebuah Kebhinekaan.

7. Jika ingin mengembangkan organisasi yang digeluti saat ini, tak perlu kalian harus mengikuti urusan atau konflik organisasi atau oran lain. Cukup Anda kembangkan menjadi besar organisasinya maka organisasi lainnya akan merasa kecil.

8. Tak perlu kita melihat senior-senior kita yang sukses untuk menjadi motif merekruitmen kader. Khawatir terbengkala dalam proses kaderisaai.

9. Dan yang terakhir, ini adalah zaman kita yang berproses untuk berorganisasi, bukan alumni atau senior.

Kalau zaman Sayyidina Ali Bin Abi Thalib menyatakan “Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan ini bapakku, tetapi yang dikatakan inilah aku“. Jika dikaitkan dengan sebuah kaderisasi zaman now yakni, “Bukanlah seorang kader ulul albab yang mengatakan ini seniorku, tetapi yang dikatakan kader ulul albab inilah aku“.

Oleh karena itu, mulai lah sejak dini untuk mengasah pola pikir yang luas, agar tajam dalam menganalisa sebuah konteks saat ini.

Penulis menghimbau para kader dimana pun berada, tak perlu engkau bergantung pada senior atau alumni yang tidak memanusiakan manusia, tapi jangan memilah-milih senior atau alumni untuk bersilaturrahim dan mempererat tali silaturrahim.

Politik di Indonesia bagaikan sebuah kamar mandi yang berada di rumah. Coba bayangkan saja, sebesar-besarnya rumah, jika tidak ada kamar mandi, akankah seperti apa perasaan Anda?. Silakan refleksikan otak dan pikiran kita sejenak.

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

Kau Anggap Aku Ahlul Bid’ah. Kamu?

PMII Galileo – Berbicara masalah Bid’ah pasti sudah tidak asing lagi dibenak sahabat Galileo. Utamanya …

Aku “NU”, Jangan Kau Ambil Namaku

PMII Galileo – “Miris, sampai hati ini ikut menangis.Ideologi yang susah payah dibangun ulama’ku justru …

Peran Mahasiswa Masa Kini

PMII Galileo– Sebagai mahasiswa kita perlu mengetahui apakah esensi sebenarnya yang terkandung dalam satu kata …

Filsafat Sebagai Ilmu Kritis

PMII Galileo – Sejak awal Negara Barat terjadi dikotomi antara agama dan filsafat. Sebelum berkembangnya …

UIN Maliki Malang Bentuk Lembaga Riset dan Fatwa “Majma’ Al-buhuts wa Al-ifta” 

PMII Galileo – Universitas Islam Negeri Malang, sebagai salah satu Universitas dengan eksistensi yang cukup …

INTERPRETASI PAHLAWAN DALAM ORIENTASI PMII MASA KINI

PMII Galileo –  Setiap tanggal 10 November, Bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, sebagai momen reflektif untuk …

Rangers Galileo

PMII Galileo – Pengamatanku yang sudah berjalan hampir 15 tahun pada Power Rangers, meskipun tidak sistematis …

PAHLAWAN GENERASI MILLENIAL

Kemerdekaan bangsa Indonesia adalah sebuah contoh adanya pahlawan dalam perjalanan bangsa ini, tanpa mereka kita …

HARI PAHLAWAN MENURUT SANTRI ZAMAN NOW

Indonesia sekarang sudah berumur 72 tahun dari sejarah pertempuran mempertahankan kemerdekaan di Surabaya pada tanggal …

Pahlawan Bukan Sekedar Dikenang

PMII Galileo –  “Betapa hatiku takkan pilu telah gugur pahlawanku. Betapa hatiku takkan sedih hamba ditinggal sendiri. Siapakah kini pelipur lara nan setia dan perwira. Siapakah kini pahlawan hati pembela bangsa sejati . . . . (Ismail …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *