Rabu , Agustus 15 2018
Breaking News
Home / Artikel / Mainstream Kaderisasi Kita, Saat Dan Pasca Tahun Politik

Mainstream Kaderisasi Kita, Saat Dan Pasca Tahun Politik

PMII Galileo – Opini – Di tengah banyak kritik dan pandangan sinis terhadap fenomena baru-baru ini terkait kaderisasi PMII Jawa Timur, yang kebetulan bersamaan dengan tahun-tahun yang paling subur untuk masa depan para aktifis yang beruntung, menjadi catatan penting untuk kita renungkan bersama. Siapapun kita, baik alumni terlebih yang masih aktif di berbagai jenjang struktural yang ada.

Tidak perlu saya sebutkan fenomena itu apa, setidaknya secara pribadi baru kali ini saya tidak bisa beralibi baik ilmiah empiris maupun diplomatis politis, jika ada pertanyaan tentang PMII. Ada seorang teman yang tiba-tiba mengirimi saya foto dua biduan idola saya, Vallen Kharisma dengan membubuhkan caption “Bat, mohon di-mapaba-kan, mereka potensial, untuk meng-kuningbiru-kan Vianisty dan Nella Lovers”. Kira-kira jika itu pertanyaan untuk anda, apa jawaban anda?

Sudah bukan lagi menjadi rahasia khusus, kalau adanya keterlibatan semua organisasi kemahasiswaan terhadap “pesta” dukung mendukung dalam kepentingan politk praktis, baik secara langsung maupun sembunyi-sembunyi. Dengan berbagai alasan dan latar belakang pengambilan keputusannya untuk memihak (dukung-mendukung).

Saya yakin anda bisa berimajinasi sendiri untuk itu saya tidak akan bicara, (karena saya menulis, heuheuheu) untuk mendudukan, memojokkan ataupun mencari kesalahan siapa sebenarnya menodai kaderisasi kita. Memang ini bukan hal baru, akan tetapi jika tidak segera disikapi dengan rasa cinta pada PMII (khususnya adik-adik yang masih berproses di akar rumput), bukan tidak mungkin PMII akan menjadi macan ompong di masa yang akan datang.

Mari kita sedikit menoleh pada awal-awal Gus Dur memimpin NU pada periode pertama, beliau merasakan bahwa NU sebagai kendaraan politik, tidak lebih hanya digunakan sebagai kendaraan umum bagi siapapun. Yang mana kaderisasi NU masa itu dinilai masih mengandalkan proses alamiah, sehingga siapapun yang dinilai “baik” maka dialah yang mendapatkan rekom dari NU. Tidak peduli dia mengenal NU secara “kaffah” atau tidak.

Dari kenyataan seperti itu, seperti yang diungkapkan oleh Mbah Said Aqil Siraj, dalam memimpin NU beberapa periode Gus Dur selalu mengedepankan kaderisasi-kaderisasi yang utuh untuk pemuda-pemudi generasi NU, sampai-sampai kala itu, kaderisasi ulama juga didengungkan.

Sependek jangkauan padangan saya, Gus Dur menerapkan prinsip “kaderisasi” seperti itu, bukanlah Gus Dur sengaja untuk melepas santri dengan Kiainya dan Pesantren, akan tetapi hal itu adalah untuk kita hari ini, yakni generasi meneruskan NU sebagai organisai yang modern.

Salah satu anggota di Lembaga Pengembangan Kaderisasi PKC Jawa Timur, sempat bertanya atau lebih tepatnya menegur dengan bahasa khas Sumenep-Nya yang halus “Mas gimana ini, apa pendapat pean?” Jujur saja saya hanya menyatakan sikap personalitas sebagai kader PMII, dengan mencoba melepas identitas struktural di PKC, saya mengatakan sederhananya “semua pasti ada hikmahnya mas”.

Inikah Masa Depan Kaderisasi Kita
Begini sahabat-sahabat, ini adalah otokritik untuk kita, dan ketika sudah terbit di media yang artinya adalah dapat menjadi konsumsi umum, biarlah, karena ‘sebab’ ini terjadi juga di depan umum, maka akibatnya harus juga dirasakan oleh umum juga. Meskipun terkesan horror begini, saya sangat percaya dan meyakini bahwa tidak ada yang tidak baik di antara sesama organisasi kemahasiswaan. Karena saya pun juga bisa, jika harus mengungkap semua kemunafikan gerakan mahasiswa era pasca reformasi ini.

Maka dari itu, mari kita blejeti satu persatu; Pertama; kemenangan Joko Widodo dari Prabowo di Pilpres 2014 yang lalu, yang tahun depan akan kita ulangi lagi, telah mengantarkan PMII pada mainstream baru dalam gerak-gerak doktrinasi pada anggota baru. Mainstream itu adalah rela menunjukkan kebanggaan, banyaknya jumlah orang  yang berasal dari PMII untuk menjadi pembantunya Presiden Jokowi, saking senangnya, sampai kita lupa, kalau Jokowi adalah mahasiswa pecinta Alam, dan Wakilnya adalah Himpunan Mahasiswa Islam.

Dalam hal ini kita sudah bunuh diri karakter, karakter siapa? Yang jelas bukan karakter senior-senior kita yang sudah nyaman di atas sana atau yang sedang “menjilat”, melainkan karakter adik-adik kita dan karakter PMII di masa depanlah yang terancam. Dan perlu diingat, kalau karakter sudah terbunuh, maka kemudian adalah identitas kita terbunuh, alhasil kita semua telah melakukan bunuh diri “kelas”, itu lah kondisi kita hari ini menuju “the slow death of the our movement”.

Kedua; prespektif saya dalam melihat bahwa Gerindra, PKS dan PAN tidak sanggup mengangkat calon gubernurnya sendiri di Pilkada Jawa Timur tahun ini, merupakan sebuah malapetaka tersendiri, ingat DKI Jakarta. Memang sudah bisa dipastikan, permainan politik senista di Pilkada DKI Jakarta tahun lalu itu, tidak bisa diterapkan di Jawa Timur, tapi dengan melihat ketidakdewasaan Tim Sukses yang notabene diisi oleh para pemuda dengan ambisinya yang khas menggebu-gebu, adalah sebuah celah untuk benar-benar massa suara NU Jawa Timur. Termasuk adalah “mencampuradukkan dapur organisasi dengan pelaku langsung politik praktis”.

Apakah jika memang begitu nyatanya, patutkah disebut bahaya? Tidak! Lantas, apakah hal itu tidak berbahaya? Yaa, sangat berbahaya! Dipastikan tidak berbahaya jika itu pendapat keluar di antara kita yang telah memiliki nalar politik sejak oroknya, bahkan urusan kaderisasi yang seharunya suci dari politik masih diikutcampurkan. Akan menjadi bahaya jika yang berpendapat seperti itu adalah antara kita-kita yang alam fikirnya dipenuhi hanya tentang kaderisasi, pendidikan kader dan distribusi kader.

Saya merasa tulisan ini tidak layak untuk terbit, tapi minimal sebelum tulisan ini terbit telah saya tashih-kan pada salah satu sahabat, yang artinya adalah terbit tidak terbit tulisan ini minimal telah dibaca oleh salah seorang sahabat kita. Oleh karena itu, sekali lagi saya ingatkan, saya tidak mendudukkan siapapun, jika memang dirasa mendudukkan, ya memang pahit rasanya.

Tentang ketidakdewasaan-ketidakdewasaan itu bukan hanya terjadi pada diri kita yang masih aktif, nyatanya jika anda bertemu dengan akun facebook yang mengatasnamakan anak muda NU, isinya hanya kampanye-kampanye politik dan pernah ada satu unggahan yang membuat saya meringis “kok begitu yaa” akun itu menuliskan “yang dilihat itu prestasinya bukan nasabnya”. Dua hal yang perlu kita catat sebagai bahan evaluasi berfikir dan bergerak, adalah tidak semua anak muda NU itu politisi, dan wajah anak muda NU adalah bukan mereka. Persis seperti ketika, ada yang bilang wajah Islam Indonesia adalah, HTI-FPI-PKS-Wahabi, jelas kita tidak akan terima.

Jangan Korbankan Kepolosan Dan Kesucian Adik-Adik Kita
Bahwa tantangan terbesar gerakan mahasiswa Indonesia yang massif seantero negeri, sudah dapat dipastikan tidak akan pernah terjadi di era kita sekarang. Tak perlu saya jelaskan, anda bisa berimajinasi sendiri untuk menemukan sebab-sebab untuk persambungan itu, dan bahkan kita pun tidak bisa menentukan kapan gerakan mahasiswa yang seperti 1966 dan 1998 itu terjadi lagi. Saya masih teringat dengan salah satu senior gets yang dimiliki kader-kader PMII Jawa Timur, beliau mengatakan pada saya:

“Kamu jangan goblok melihat fenomena, kamu ini ada di zaman apa, pastikan semua doktrin-doktrin sisa pergerakan reformasi itu perlahan sesuaikanlah dengan zaman. Kamu ada di sebuah zaman yang lebih populernya disebut sebagai masa elan vital, yaitu sebuah masa-masa ‘di antara’ dua momentum besar, dan kamu harus merasa berdosa mulai hari, jika kelak generasimu tidak siap dan tidak memiliki persiapan militansi ketika dihadapkan pada momentum gerakan itu. Jelas, yang salah adalah kamu di hari ini, mengapa kamu hanya memikirkan habis ini ikut siapa, habis ini masuk partai siapa”, begitu lah kurang lebih nasihat beliau, ia adalah Sahabat Syakban Rosidi.

Kita tau, kalau proses kita secara struktural di cabang ke bawah hanya satu tahun, dan itu adalah masa yang sangat cepat, untuk menyelesaikan masalah pasca konfercab. Sedangkan kaderisasi kita juga sering terganggu akibat itu, ditambah dengan realitas yang ada bahwa organisasi ideologis yang berbeda dengan kita juga sudah masuk dan nyata di depan mata. Lantas masihkah tega, kita menyimpangsiurkan pandangan mereka pada langkah-langkah politik kekanakan ini. Kalau memang yang menjadi semangat-semangat kampanyenya adalah kuning melawan hijau, atau biru melawan hitam, ya tegaskan lah, jangan sampai karena menjaga hati, kita justru mengambil langkah-langkah konyol.

Mari kita membuka mata adik-adik kita, agar melek pada tahun-tahun politik yang membahayakan ini. Sedangkan mereka yang di luar sana, sambil ngopi dan menghisap rokok tetap berfikir kalem, dengan sedikit-sedikit menertawai kita. Terakhir! Sebagai pagar bahwa tulisan ini tidak hanya untuk PMII saja, yang kemudian hanya menambah keruh keadaan, perlu kita ketahui bersama, bahwa musibah ini sedang menimpa PMII, sedangkan pada organisasi lain juga sudah ada yang pernah merasakan, dan atau akan merasakannya di masa depan.

NB: Opini ini adalah curahan hati tidak ada yang saya ajak diskusi dan tidak mewakili lembaga. Salah benarnya, kurang lebihnya, adalah saya sendiri yang bertanggung jawab. Tapi saya tidak akan meladeni perdebatan, sebagai gantinya baik mendukung, menambahi, mengurangi dan membantah penuh, silakan menulis sendiri dan terbitkan sendiri.

Penulis : Aris Indra F.

Sumber : http://pmiinews.com

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

Kau Anggap Aku Ahlul Bid’ah. Kamu?

PMII Galileo – Berbicara masalah Bid’ah pasti sudah tidak asing lagi dibenak sahabat Galileo. Utamanya …

Aku “NU”, Jangan Kau Ambil Namaku

PMII Galileo – “Miris, sampai hati ini ikut menangis.Ideologi yang susah payah dibangun ulama’ku justru …

Peran Mahasiswa Masa Kini

PMII Galileo– Sebagai mahasiswa kita perlu mengetahui apakah esensi sebenarnya yang terkandung dalam satu kata …

Filsafat Sebagai Ilmu Kritis

PMII Galileo – Sejak awal Negara Barat terjadi dikotomi antara agama dan filsafat. Sebelum berkembangnya …

INTERPRETASI PAHLAWAN DALAM ORIENTASI PMII MASA KINI

PMII Galileo –  Setiap tanggal 10 November, Bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, sebagai momen reflektif untuk …

Rangers Galileo

PMII Galileo – Pengamatanku yang sudah berjalan hampir 15 tahun pada Power Rangers, meskipun tidak sistematis …

PAHLAWAN GENERASI MILLENIAL

Kemerdekaan bangsa Indonesia adalah sebuah contoh adanya pahlawan dalam perjalanan bangsa ini, tanpa mereka kita …

HARI PAHLAWAN MENURUT SANTRI ZAMAN NOW

Indonesia sekarang sudah berumur 72 tahun dari sejarah pertempuran mempertahankan kemerdekaan di Surabaya pada tanggal …

Pahlawan Bukan Sekedar Dikenang

PMII Galileo –  “Betapa hatiku takkan pilu telah gugur pahlawanku. Betapa hatiku takkan sedih hamba ditinggal sendiri. Siapakah kini pelipur lara nan setia dan perwira. Siapakah kini pahlawan hati pembela bangsa sejati . . . . (Ismail …

Pahlawan Untuk Pelajaran

PMII Galileo – sejarah adalah pelajaran bagi masa sekarang dan masa sekarang adalah pelajaran bagi masa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *