Senin , Desember 10 2018
Breaking News
Home / Artikel / Surat Untuk Pertiwi “Hibridisasi Ego”

Surat Untuk Pertiwi “Hibridisasi Ego”

Kontributor : sahabat bakhru thohir

Yang terkasih pertiwi,

Semoga selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan YME.

Sebelumnya maafkan saya yang telah lancang mengirimkan surat kepada engkau, tapi dalam rangka memompa semangat meneladani Kartini, perkenankan saya mengeluarkan unek-unek yang terpendam dalam hati.

Mohon maaf pertiwi, dalam membuat surat ini saja saya masih perlu membuka KBBI dan mencari makna paling cepat apa itu pertiwi, maafkan kebodohan saya. Kabar negeri saat ini tak begitu baik, setelah ada ramalan dari Prabowo “Dilan” Subianto yang menyebutkan bahwa “Saat ini Indonesia memang belum bubar, gak tau kalau 2030” telah berhasil membuat banyak penduduk bertanya-tanya, komentar sampai tegang. Selain itu, pada perayaan Kartini tahun ini juga muncul versi kartini berjilbab dan berjacamata yang tentu sangat ketahuan maksud gambar ini dibuat untuk apa, mana mungkin di era itu ada kaca mata yang modelnya sama persis dengan yang dikenakan Via Vallen. Maafkan kami yang terlalu mudah diadu domba. Entah para pahlawan di sana sedang meratapi nasib tanah tumpah darahnya atau malah tertawa terpingkal-pingkal karena kelucuan perilaku kami.

Kegiatan kami setingkat mahasiswa juga setali tiga uang. Banyak diantara kami yang tidak lagi mengasah nalar kritis tapi ikut-ikutan kakak kami untuk memperebutkan jabatan. Proses belajar kami yang bertujuan untuk ilmu juga hanya ditahapan hayal, praktiknya ya tetap saja kami adalah budak nilai A. Saling sikut dengan sesama juga menjadi sesuatu yang wajar. Buku-buku juga demikian, memang banyak bertebaran, tapi entah untuk mencari substansi atau hanya sebatas eksistensi dari penayanganya di story WA dan IG, biar teman kami yang melihat terkesan “Wah keren sekali bacaanmu, sunguh luar biasa”.

Kami yang terafiliasi dengan pergerakan mahasiswa islam indonesia juga demikian. Sungguh maafkan kami pertiwi. Kami yang menyebut mahasiswa pergerakan, tapi gerakan kami pun masih tak memiliki visi. Kami hanya sebatas meneladani romantisme dari para senior. Bukan kami tidak paham soal berbedaannya medan proses dulu dan sekarang, tapi cerita-cerita gagah saling dorong dengan aparat di jalan begitu heroik saat kita dengar, kan lumayan bisa jadi cerita yang terus kita produksi untuk generasi penerus.

Kami yang menyematkan kata “mahasiswa” setelah kata pergerakan juga jauh dari citra mahasiswa yang benar-benar mahasiswa. Memang citra mahasiswa teladan sangat bias sekali dan tentu sangat subjektif penilaian itu. Tapi nyinyiran bahwa kebanyakan mahasiswa pergerakan pasti kuliahnya hancur memang benar adanya. Kita pun cuma bisa menimpali “hidup tak ditentukan oleh kesuksesan nilai saat kuliah”. Kita hanya sebatas membalas argumen tanpa karya. Nanti saat kami dewasa dan menyadari bahwa birokrasi yang memimpin adalah orang-orang yang bobrok, kita tetap hanya bisa berkomentar “dasar birokrat korup dan menindas”. Sadar terhadap perlunya mahasiswa pergerakan mengisi sudut-sudut birokrasi terlalu lamban disadari. Saat ini yang ada juga hanya mencetak generasi politisi, bukan seorang negarawan.

Lanjutan kata mahasiswa adalah kata “Islam”. Dan ya lumayan lah, sejak ada isu-isu khilafiyah, kita jadi belajar lebih tentang Islam. Ucapan terimakasih perlu kita sampaikan pada pejuang khilafah yang muncul dengan isu-isu membuat negara agama, sehingga membuat kita mempersiapkan diri untuk menghadang rencana itu dengan membaca buku dan berdiskusi tentang substansi Islam. Seperti kapital yang semakin berjaya saat dikritik oleh komunis/sosialis. Selebihnya ya kualitas sariat kami sangat ala kadarnya, solat terbatas, puasa sekuatnya. Ya kembali kita berargumen “buat apa rajin solat tapi tak tahu kabar tetangga”. Padahal kami juga sudah membaca buku “saleh ritual saleh social” gubahan Gus Mus, entah kenapa kita juga tak meneladani beliau, padahal kita juga marah saat Gus Mus dihina-hina.

Dan kata yang terakhir adalah “Indonesia”. Mohon maaf pertiwi, selama ini kami membawa kata sedemikian luas tapi pemikiran kami sangat sempit, seteru kita juga hanya si ijoitem itu. Padahal saat ini sudah tak zamannya berseteru. Menyelamatkan Indonesia juga tak mungkin kalau dilakukan oleh pergerakan ini sendirian, karena sekarang sudah saatnya kolaborasi. Tapi maaf baru sebatas wacana, pertiwi.

Tapi pertiwi jangan terlampau bersedih karena kabar buruk yang barusan saya sampaikan. Kami sebagai saintis memiliki konsep yang setidaknya bisa jadi pijakan awal untuk memperbaiki keadaan ini. Saintis yang memilih fokus bidang kimia tentu sudah sangat akrab dengan konsep ini, yakni “hibridisasi”, bahkan konsep ini sudah diberikan pada mahasiswa tahun pertama.

Hibridisasi adalah penyetaraan energi. Kalau dalam kuliah, kami diajarkan tentang atom karbon untuk bisa berikatan lebih maksimal, dia harus menghibridisasi orbitalnya. Karena saat orbital berjalan sendiri-sendiri dia hanya bisa mengikat 2 atom lain, sementara saat karbon sudah menghibridisasi orbitalnya atau menyetarakan energi antar orbitalnya dia bisa mengikat 4 atom karbon lain. Bahkan ikatan rangkap juga terjadi karena adanya hibridisasi ini.

Tentu yang membedakan adalah apa yang akan dihibridisasi. Kalau dalam konteks atom, yang dihibridisasi adalah tingkat energi orbital, kalau dalam proses hidup kita, sementara yang saya pahami, yang paling pertama perlu dihibridisasi adalah energi EGO!.

Energi ego dari setiap manusia, kelompok, partai, komunitas, ras, suku sampai agama. Sehingga ikatan kita bisa lebih banyak dan menjadikan indonesia yang lebih solid dan tak mudah diadu domba.

Untuk teknis tampaknya tak perlu saya sapaikan di sini pertiwi yang terkasih, daya nalar kritis dan kinerja otak dalam mengkontekskan sesuatu oleh anak-anak saat ini sudah jauh maju. Biar setiap manusia yang mengeksplorasi apa yang ada di dalam otak mereka masing-masing.

sehat -sehat pertiwi, kami akan selalu berdoa untukmu.
Merdeka!

Sumber gambar : https://goo.gl/images/NSiU8N

Tentang rifqi hubaib

Lihat Juga

KEHIDUPAN DI PENGHUJUNG KEMATIAN

PMII Galileo – Angin fajar mendesir lembut di antara tiang penyangga satu saung di pertengahan …

Sebatas Hari Kasih Sayang

PMII Galileo – Ironi yang sangat disayangkan, khususnya pada remaja saat ini. Menghadapi tanggal 14 …

Asmatku Belum Teruji

PMII Galileo – Hari-hari ini hampir di semua media social tengah membincangkan persoalan #KartuKuningJokowi. Berjibun komen …

VALENTIN’S DAY: Dialektika Hukum dalam Perspektif Remaja Era Futuristik

PMII Galileo – Gejolak perbedaan pendapat dalam menanggapi suatu hukum permasalah dalam ranah pemuda di …

Kau Anggap Aku Ahlul Bid’ah. Kamu?

PMII Galileo – Berbicara masalah Bid’ah pasti sudah tidak asing lagi dibenak sahabat Galileo. Utamanya …

Aku “NU”, Jangan Kau Ambil Namaku

PMII Galileo – “Miris, sampai hati ini ikut menangis.Ideologi yang susah payah dibangun ulama’ku justru …

PEREMPUAN

Perempuan ada bukan tanpa alasan Jasa mereka tak hanya ‘tuk dikenang Yang mereka perjuangkan adalah …

Peran Mahasiswa Masa Kini

PMII Galileo– Sebagai mahasiswa kita perlu mengetahui apakah esensi sebenarnya yang terkandung dalam satu kata …

PMII RPG Adakan Diskusi Bertemakan “Filsafat Sebagai Ilmu Kritis”

PMII Galileo – Diskusi merupakan satu hal yang tak bisa terlepas dari kehidupan mahasiswa, terlebih …

Filsafat Sebagai Ilmu Kritis

PMII Galileo – Sejak awal Negara Barat terjadi dikotomi antara agama dan filsafat. Sebelum berkembangnya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *