Jumat , November 16 2018
Breaking News
Home / Artikel / KEHIDUPAN DI PENGHUJUNG KEMATIAN

KEHIDUPAN DI PENGHUJUNG KEMATIAN

PMII Galileo – Angin fajar mendesir lembut di antara tiang penyangga satu saung di pertengahan pematang sawah. Tak asing sebenarnya bila kau melihatku tenggelam dalam kesendirian di saung itu. Menikmati angin fajar sembari menghafal materi pesantren. Ya, aku sedang mengorek ilmu di satu pesantren di kampung ini. Pesantren ini cukup tua pada umurnya, tapi tidak cukup besar dalam pembangunannya. Pesantren ini tidak semegah pesantren lainnya yang mungkin seumuran dengannya. Pesantren ini pun tidak sekondang pesantren lainnya. Anehnya pun, mau kau yakini atau tidak santrinya tidak melebihi seratus kepala dan tidak pernah kurang dari seratus kepala.
Pernah satu hari saat ku masih baru di pesantren ini. Seorang kakak tingkatkku memutukan tuk berhenti. Tak sampai satu jam ia keluar dengan barang bawaannya, seorang santri baru bersama orang tuanya masuk dan mendaftar. Sangat menarik.
Pesantren ini memiliki pengampu sebagaimana pesantren lainnya. Di sini kami menyebut beliau dengan julukan abah. Abah masih terhitung muda. beliau dibaiat ketika umurnya berkepala dua. Entah mengapa beliau dibaiat, padahal bila kau tahu beliau adalah anak terakhir dan paling nyentrik dari kedua kakaknya.
Abah cukup pendiam wataknya, tak terlalu banyak bicara. Beliau murah senyum dengan hawa perlindungan dan kasih sayang yang dibawanya. Sinar matanya cerah tapi menenangkan. Menyejukkan siapa saja yang melihatnya secara langsung atau pun hanya melalui foto.
Kisahku kali ini cukup mempermainkan akalmu. Kau ingin mempercayaiku atau tidak itu terserahmu. Toh, aku bukan Tuhanmu yang semena-mena, kau pun bukan budakku yang tanpa daya. Kisah ini tak jauh berbeda dengan kisah Siti Jenar yang menjelaskan ketidak jelasan dan menidak jelaskan yang sudah jelas. Namun, kisah ini tak semenarik Khidir yang entah bagaimana caranya ia berhasil mencuri dengar masa depan dari semesta. Kisah ini mungkin lebih absurd dari Gus Jakfar yang dituliskan Kyai Bisri. Tapi maaf jikalau kau tak suka dengan cara penyampaianku, meskipun nyatanya kau sudah betah membaca sampai titik ini.
Saung dari bambu itu sudah lama berdiri. Mungkin juga umurnya tak beda jauh dengan pesantren. Tiap tempat pasti memiliki keunikan masing-masing kan?. Begitu pula saung ini. Ku yakinkan kau, kau dapat melihat matahari mulai menyentuh angkasa di waktu fajar dan kembali menyembunyikan diri di waktu senja hanya dengan duduk bersila di tengah saung. Tak percaya?. Kemarilah, ku tunggu kau di kampung penghujung pulau ini.
Fajar menyingsing perlahan. Tapi entah mangapa atmosfer semesta hari ini cukup sendu. Sangat sendu bahkan. Aku melangkah perlahan menuju pesantren. Semakin ku mendekati pesantren, kesenduan itu semakin terasa. Langit pun menambahi kesenduan dengan hujan. Tak disangka abah tiada.
Kabar ini menyebar secepat api merambati minyak. Sangat cepat menyebar di kampung, turut serta membawa kesedihan. Namun entah mengapa, kesedihan itu menjadi berkali-kali lipat dalam tempo sesingkat ini. Tak berselang lama, hanya cukup memakan setengah hari hujan turun begitu deras. Amat deras bahkan. Memaksakan keluarga tuk menguburkan abah di lain waktu.
Kau yakini atau tidak. Kata orang abah sempat menyapa seseorang di masjid saat fajar, saat ku sedang asyik bersendiri di saung. Tapi anehnya orang yang disapa dan berbincang dengan abah tak berwujud. Tak ada yang melihatnya. Santri-santri yang menyaksikan hanya melihat abah berekspresi senang, sedih, dan tertawa. Tapi sekali lagi ku katakan, tak ada seorang pun yang melihat pada siapa ia berbicara.
Aku sempat berfikir dua kali saat mengisahkan ini padamu. Mengingat kisah ini cukup di luar nalar kita. Padahal bila kau tahu, aku pun sedikit tak percaya dengan kisahku sendiri. Kau mau meyakini pun tak kupaksa. Tapi, faktanya itu terjadi dan kisah ini benar-benar tak kasat mata.
Senja mulai menampakkan kehadirannya. Adzan maghrib juga mulai dikumandangkan. Semua aktifitas berhenti. Santri yang menyapu berhenti, yang memasak makanan untuk seratus santri berhenti, yang sedang bermain bola berhenti, semua berhenti. Tapi tidak untuk hujan, ia masih turun dengan intensitas tak jauh beda dari sebelumnya.
Hujan yang tak kunjung reda ini memaksakan keluarga pesantren untuk hilang kesabaran. Gus Haidar kakak tertua abah memaksa tuk mengadakan pemakaman di tengah hujan. Tak perlu mengantar abah dengan rombongan, mengingat makam terletak tak jauh dari masjid, cukup keluarga dan beberapa santi yang mengabdi. Gus Haidar juga mencoba tuk menghentikan hujan dengan membaca beberapa do’a. Gus Fahmi kakak abah yang paling muda membantu mengurus kebutuhan untuk membumikan abah. Ia mandikan abah, mengkafani, hingga mencarikan penggali kubur.
Sholat jenazah untuk abah dilaksanakan ba’da isya’. Tapi entah mengapa, seakan-akan bumi menolak abah. Seakan-akan bumi tak menerima abah. Hujan semakin deras disertai angin kencang yang amat riuh. Gus Haidar bingung bukan main. Gus Fahmi pun tak habis pikir melihat badai yang menjadi-jadi. Bahkan ia sampai kebingungan mendengar laporan dari penggali kubur bahwa kuburan sedang banjir.
Aku saksi saat itu. Aku saksi mata. Entah mengapa ekspresi abah cukup pucat. Pucat pasi dengan kafan sebagai pelapisnya sekarang. Tak ada cahaya kedamaian di sana. Tak ada cahaya kasih sayang lagi yang terpancarkan. Jujur saja, bulu kudukku merinding saat itu. Ini bukan petama kali ku lihat jenazah. Tapi ini pertama kalinya ku lihat jenazah sepucat ini. Tiba-tiba aku meneteskan air mata. Jikalau abah yang sangat mengayomi kita sepucat ini, bagaimana denganku?, bagaimana nasibmu?.
Klimaks kisah ini sudah hampir terlihat. Aku dan beberapa santri yang ikut mengurus kebutuhan sebelum pemakaman melihat kejadian ini secara langsung di rumah abah. Ingin kau imani atau tidak, abah bernafas. Seketika suasana di rumah riuh. Gus Haidar dan Gus Fahmi segera menghampiri abah. Beliau menyoba tuk menyentuh abah, membangunkan abah. Hingga tiba-tiba abah terbangun dengan tarikan nafas panjang. Beliau bingung sesaat kemudian tertawa.
“Hahaha… mengapa kalian mengkafaniku?” ucap beliau dengan ringan dan tawa yang jujur sangat menjengkel kan bagiku.
Gus Haidar, Gus Fahmi, dan semua yang berada di tempat saling memandang kebingungan. Mengapa abah tertawa?. Adakah yang lucu setelah kesenduan sehari ini?. Adakah yang menggembirakan setelah kesedihan hari ini?.
“Aku hanya jalan-jalan sebentar bersama Izrail. Yah, hanya jalan-jalan sehari tak masalah kan?” Tanpa rasa takut sedikit pun abah bercerita dengan senyuman.
Gus Haidar dan Gus Fahmi seketika memeluk erat abah. Beliau menangis di pundak abah. Tersedu. Kami pun tenggelam dalam haru. Entah, aku merasa seakan-akan kerinduanku terobati begitu saja. Aku merasa bahagia ketika kehilangan yang sudah di depan mata tak terjadi disebabkan keajaiban yang mungkin kau takkan percaya bila tak langsung melihatnya.

Oleh : sahabat Yusril Al Mastury

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

Kau Anggap Aku Ahlul Bid’ah. Kamu?

PMII Galileo – Berbicara masalah Bid’ah pasti sudah tidak asing lagi dibenak sahabat Galileo. Utamanya …

Aku “NU”, Jangan Kau Ambil Namaku

PMII Galileo – “Miris, sampai hati ini ikut menangis.Ideologi yang susah payah dibangun ulama’ku justru …

PEREMPUAN

Perempuan ada bukan tanpa alasan Jasa mereka tak hanya ‘tuk dikenang Yang mereka perjuangkan adalah …

Peran Mahasiswa Masa Kini

PMII Galileo– Sebagai mahasiswa kita perlu mengetahui apakah esensi sebenarnya yang terkandung dalam satu kata …

Filsafat Sebagai Ilmu Kritis

PMII Galileo – Sejak awal Negara Barat terjadi dikotomi antara agama dan filsafat. Sebelum berkembangnya …

Dunia Rasa Maya

Nadi kaki kiri berdiri Lima meter ranah merah darah Delapan santapan senapan Kau korban kedalaman …

INTERPRETASI PAHLAWAN DALAM ORIENTASI PMII MASA KINI

PMII Galileo –  Setiap tanggal 10 November, Bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, sebagai momen reflektif untuk …

Rangers Galileo

PMII Galileo – Pengamatanku yang sudah berjalan hampir 15 tahun pada Power Rangers, meskipun tidak sistematis …

Apa Kabar Negeriku, Hari Ini?

Ada yang hilang dari negeriku Perkara se-abad lalu Ada yang hilang dari negeriku Pasal suara …

Jangan panggil aku pahlawan!! 

Darahku tumpah tanpa celah Badanku remuk tak peduli bentuk Hidupku hancur mengucur lebur Kepingan ketiganya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *