Jumat , Februari 23 2018
Breaking News
Home / Artikel / VALENTIN’S DAY: Dialektika Hukum dalam Perspektif Remaja Era Futuristik

VALENTIN’S DAY: Dialektika Hukum dalam Perspektif Remaja Era Futuristik

PMII Galileo – Gejolak perbedaan pendapat dalam menanggapi suatu hukum permasalah dalam ranah pemuda di zaman modern saat ini menuai beberapa konflik argumen untuk mendapatkan ke-Maslahatan bersama. Khususnya dalam menanggapi fatwa Majlis Ulama’ Indonesia (MUI) Jawa Timur, yang dinyatakan dalam surat edaran No : Kep.03/SKF.MUI/JTM/I/2017 Tentang HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTIN BAGI ORANG ISLAM, Bahwa “mengikuti dan atau berpartisipasi dalam kegiatan perayaan hari Valentin (valentine’s day) bagi orang Islam hukumnya haram”.

Menanggapi fatwa tersebut, banyak dari kaum muda, anak remaja khususnya, yang kurang atau tidak 100% setuju dengan fatwa yang diputuskan. Diantara mereka ada yang berpendapat dengan menggunakan dalil “Innamal a’malu binniyah (segala sesuatu tergantung pada niyatnya), sehingga tidak bisa MUI langsung memfatwakan valentin’s day itu haram. Karena banyak diantara kaum muda yang pengetahuannya tentang agama masih bersifat awam, sehingga mereka akan merasa terbebani dalam keputusan tersebut. Budaya tersebut sudah berbeda antara yang sekarang dan yang dulu jika kita tinjau melalui sejarah valentin’s day yang telah tersebar luas. Selain itu, tidak bisa kita gunakan dalil “man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum”, Karena kita tahu sendiri banyak diantara kita produk yang berasal dari peradaban orang kafir. Sehingga solusinya adalah seharusnya MUI memberikan himbauan agar kaum muda tidak ikut serta dalam perayaan hari kasih sayang tersebut bukan langsung memfatwakan hukum keharaman valentin. Atau lebih baiknya lagi jika budaya tersebut dirubah menjadi budaya yang bernuansakan Islam sehingga peringatan tersebut menjadi lebih berfaidah.” Tutur Group Pro-Valentin’s Day dalam salah satu FGDM di salah satu Universitas dalam menanggapi Valentine’s day.

Pada dasarnya, menurut Ust. Zainal Arifin Al-Nganjuki, pada seminarnya di Aula Skodam (Rabu, 15 februari 2017, 12.20-14-30 WIB) Malang. Valentin diharamkan Karena :

  1. Ikut meramaikan tradisi yang bertentangan dengan akidah.
  2. Perbuatan sia-sia.
  3. Bukan budaya orang Islam.
  4. Memberikan peluang maksiat adalah

Sehingga menurutnya terdapat beberapa akibat dari perayaan hari tersebut, yakni:

  1. Perzinahan
  • Hamil diluar nikah
  • Bayi tak ber-ayah
  • Hilangnya cahaya iman dari wajah
  • Terasing dari daerah, mengkhianati keluarga
  • Kehilangan kesopanan
  • Minder / merasa bersalah / depresi dll
  1. Aqidah Rusak
  • Jauh dari Alloh S.W.T
  • Meremehkan dosa
  • Lemah keyakinan
  1. Hati Mati
  • Hatinya sering kemasukan barang haram

Suatu hukum tidak bisa diambil berdasarkan hawa nafsu seseorang sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. Al-Mukminun [23] : 71, dan QS. Al-Jatsiyah [45] : 18. Seperti hal-nya Valentin’s day (terlepas dari sejarah yang ada), dalam kegiatannya lebih banyak kearah hawa nafsu remaja, sehingga lebih banyak menmbulkan Mafsadah dari pada Maslahah.

Valentin’s day juga tidak bisa jika dicampur adukkan dengan hal yang bernuansakan islam seperti halnya ber-dzikir dan ber-istighastah bersama, Karena dalam Islam dilarang mencampuri hal yang Bathil dengan hal yang Haq, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah [2] : 42.

Jika yang disinggung adalah penggunaan dalil “man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum” yang tidak tepat hanya dengan alasan analogi banyaknya produk hasil peradaban orang non-Islam yang digunakan oleh orang Islam. Maka perlu diluruskan bahwa, hadist tersebut sangat tepat digunakan dalam konteks ini. Karena maksud dari hadist tersebut adalah untuk menjaga jati diri agama Islam itu sendiri, sehingga tidak bisa dibandingkan dengan produk hasil peradaban orang non-Islam seperti kalender Masehi, kendaraan bermotor dll. Karena analogi tersebut tidak berpengaruh terhadap jati diri Islam itu sendiri. Alloh S.W.T menjelaskan betapa pentingnya menjaga identitas atau jati diri umat Islam dalam firmannya QS. Ali Imran [3] : 64.

Islam sudah memberikan solusi terkait konflik hari kasih sayang tersebut, sehingga Islam punya acara sendiri untuk berkasih sayang, bukan meniru budaya yang menjadi identitas tersendiri dari non-Islam sebagaimana dalam QS. Al-Mujadilah [58] : 22. Selain itu islam juga tidak hanya membatasi ummatnya untuk berkasih sayang hanya pada tanggal 14 februari itu saja, melainkan setiap hari. Karena Islam merupakan agama Rahmatan Lil-‘Alamin, sehingga dalam perjalannya Islam memang sudah dibekali kasih sayang yang indah.

Jika yang dsindir masalah tolersansi umat beragama. Maka perlu juga diluruskan bahwa, toleransi bukan berarti ikut serta dalam perayaan budaya yang telah menjadi jati diri dari agama lain. Toleransi hanya untuk saling menghormati saja, sehingga menimbulkan kerukunan antar umat beragama. Semisal dalam perayaan hari raya natal, pantaskah jika ummat non-Nasrani ikut merayakan hari raya tersebut, sedangkan hari raya tersebut merupakan jati diri Nashrani?. Tugas toleransi hanyalah menghargai mereka (tidak melarang mereka dalam perayaan hari raya mereka).

Masalah dalil “innamal a’malu binniyah” juga tidak bisa digunakan sebagai alasan diperbolehkannya suatu hukum. Karena hukum dibuat untuk mencari suatu perkara yang Haq, demi kemaslahatan ummat. Sedangkan dalil tersebut hanya berlaku pada perindividu. Karena niat hati seseorang yang tahu dan memahami hanyalah orang tersebut dan dzat Al-Lathif. Sehingga pernyataan tersebut tidak dapat digunakan untuk memutuskan suatu hukum. Selain itu Valentin’s day lebih identik dengan pacaran, yang sudah jelas dalam hatinya tidak ada niat baik, Karena pacarana cenderung kearah hawa nafsu, dan seperti yang telah dikutipkan di atas bahwa tidak bisa hukum diambil berdasakna hawa nafsu. Sehingga sangat tidak Haq ketika dalil “innamal a’malu binniyah” dijadikan keputusa hukum.

Berdasarkan alasan itulah dapat disimpulkan bahwa keputusan MUI Jatim sangatlah tepat dalam memberikan fatwa terhadap umat Islam terkait Perayaan Valentin’s Day Bagi Ummat Islam. Karena masalah ini sudah banyak di bahas oleh para Ulama Salafus sholih (Ibnu Hajar, Al-Ghazali Al-Faks Al-Razi DLL), yang mana dalam ijtihad mereka adalah mengharamkan valentin’s day tersebut. Sehingga perkara ini tidak dapat ditolerin dengan hanya sekedar himbauan tanpa hukum untuk ummat Islam agar tidak ikut serta dalam perayaannya, atau mengganti budaya menjadi budaya yang bernuansakan Islam sebagaimana kaidah fiqhiyah yang berbunyi “darrul mafasid muqaddamu ‘alal jalbil masholih (menolak kerusakan harus didahulukan daripada menarik kemaslahatan)”.

Sikap tegas memang dibutuhkan dalam penentuan suatu hukum oleh Al-‘Alim Al-‘Allamah Al-Mujtahid fi biladina Indonesia walaupun sifatnya kontrofersial. Sehingga Ummat Islam Indonesia dapat berjalan lurus dalam agamanya. Tulisan ini hanyalah suatu tanggapan yang masih jauh dari kesemprnaan, sehingga dari kami pribadi selaku penulis memohon kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga tulisan ini menjadi lebih baik kedepannya.

Oleh : Sahabat Galileo

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

PAHLAWAN GENERASI MILLENIAL

Kemerdekaan bangsa Indonesia adalah sebuah contoh adanya pahlawan dalam perjalanan bangsa ini, tanpa mereka kita …

HARI PAHLAWAN MENURUT SANTRI ZAMAN NOW

Indonesia sekarang sudah berumur 72 tahun dari sejarah pertempuran mempertahankan kemerdekaan di Surabaya pada tanggal …

Pahlawan Bukan Sekedar Dikenang

PMII Galileo –  “Betapa hatiku takkan pilu telah gugur pahlawanku. Betapa hatiku takkan sedih hamba ditinggal sendiri. Siapakah kini pelipur lara nan setia dan perwira. Siapakah kini pahlawan hati pembela bangsa sejati . . . . (Ismail …

Pahlawan Untuk Pelajaran

PMII Galileo – sejarah adalah pelajaran bagi masa sekarang dan masa sekarang adalah pelajaran bagi masa …

Sholawat Sumpah Pemuda “Zaman Now” Ala Gus Dur

PMII Galileo- Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, hampir seluruh kalangan pemuda merayakannya, tanpa terkecuali yang masih …

Pemuda Zaman Now Harus Peduli Lingkungan

PMII Galileo – Pemuda merupakan salah satu tonggak menuju kemerdekaan bangsa indonesia. Dan hari ini tepat …

Mengungkap Tabir Saiful Mujani Sang Pengkhianat Intelektual

PMII Galileo – Banyak bahwa yang menyimpulkan pollster di Indonesia berperilaku khianat sudah menjadi pengetahuan publik. …

Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

PMII Galileo – Cara  untuk  meyakinkan dugaan atau hipotetis tentang tingkat keterpilihan Bakal Calon (Balon)/Calon dalam …

GERAKAN AKSI MENULIS

Tanggal 10 November, merupakan hari dimana sejarah tidak bisa di lupakan, hari dimana para pahlawan …

Biografi Agus Herlambang, Ketua Umum PB PMII Masa Khidmat 2017-2019

PMII Galileo – Akrab dipanggil dengan Mr. Agus atau Sahabat Agus, lengkapnya adalah Agus Mulyono Herlambang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *