Sabtu , November 17 2018
Breaking News
Home / Artikel / HARI PAHLAWAN MENURUT SANTRI ZAMAN NOW

HARI PAHLAWAN MENURUT SANTRI ZAMAN NOW

Indonesia sekarang sudah berumur 72 tahun dari sejarah pertempuran mempertahankan kemerdekaan di Surabaya pada tanggal 10 november 1945, sejarah hari pahlawan yang tidak boleh hilang dari ingatan kita selaku penerus perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan proklamasi kemerdekaan 17  agustus 1945 lalu.

Yang melatarbelakangi peristiwa 10 november yang diperingati sebagai hari pahlawan ialah peristiwa pertempuran hebat yang terjadi di Wilayah Surabaya antara arek-arek Suroboyo dengan serdadu NICA yang diboncengi Belanda.

Untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, para kiai dari berbagai pesantren di jawa dan Madura mengadakan musyawarah pada 22 Oktober 1945 untuk menerapkan jargon dari KH. Hasyim Asyari yaitu “Hubbul wathan minal iman”, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Dari hasil musyawarah tersebut KH. Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa fardlu ain bagi umat Islam untuk memerangi orang kafir yang menghalangi kemerdekaan Indonesia.

Sejarah mencatat, pertempuran 10 November 1945 itu tidak akan pernah ada tanpa ada Fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945 yang sekarang diperingati sebagai hari santri nasional. Mendengar fatwa tersebut sontak membuat umat islam tidak terkecuali para santri yang juga mengangkat senjata untuk melawan para penjajah,

 

Penyebab Pertempuran 10 November 1945

 

Latar belakang terjadinya peperangan ini disebabkan adanya insiden hotel Yamato surabaya. Dimana ketika itu orang-orang belanda di bawah pimpinan Mr. Ploegman mengibarkan bendera Merah Putih Biru yaitu bendera Belanda di atas hotel Yamato di Surabaya. Perihal ini pastinya membikin kemarahan di hati masyarakat Surabaya tatkala tersebut. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya aksi perobekan warna biru pada bendera Belanda dan menyisahkan warna merah dan putih yang melambangkan bendera Indonesia.

Mennurut khairul Anam dalam tulisannya yang berjudul Berebut Jihad (2013) salah satu orang yang merobek warna biru dari bendera Belanda tersebut adalah salah satu anggota GP Ansor yaitu Cak Asy’ari

 

Kematian Jenderal Mallaby

 

Sesudah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan juga pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Bulan oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan juga tentara Inggris di Surabaya.

Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada tanggal 30 oktober 1945.

Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol satu orang pemuda Indonesia yang hingga kini tidak diketahui identitasnya, sedangkan menurut Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam kunjungan dalam acara ziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan makam KH Hasyim Asy’ari di pondok pesantren Tebuireng Jombang, beliau mengakatan bahwa “yang membunuh Jenderal Mallaby bukan TNI. Yang membunuh (Mallaby) itu santri. Yang menurunkan bendera (Belanda) di Hotel Orange juga santri, bukan TNI”.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Aqil Siroj, Pertempuran 10 November 1945 yang akhirnya diperingati sebagai Hari Pahlawan itu merupakan perlawanan tanpa komando.

“Komandonya adalah fatwa Jihad fi-Sabilillah, tapi di lapangan dipimpin secara teknis oleh KH Wahab Chasbullah sebagai pelaksana yang bermarkas di Waru (Sidoarjo) dengan dukungan KH Masykur (Laskar Sabilillah) dari Malang dan KH Abbas (Laskar Hizbullah) dari Cirebon”. Yang hasilnya, rakyat menang, bahkan pimpinan tentara Sekutu Brigjen Mallaby pun tewas.

 

 

 

Makna Hari Pahlawan

 

Adapun makna untuk Hari Pahlawan adalah, semangat kebangsaan dan nonsektarianisme harus didorong lebih kuat untuk melampaui gejala primordialisme yang bisa kapan saja mengancam bangunan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan Indonesia. Setidaknya, sejarah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 itu mengajarkan NKRI yang bukan negara kapitalis, bukan negara komunis, dan bukan negara sosialis, melainkan negara yang melindungi agama, suku, dan golongan melalui Pancasila dan UUD 1945.

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

Kau Anggap Aku Ahlul Bid’ah. Kamu?

PMII Galileo – Berbicara masalah Bid’ah pasti sudah tidak asing lagi dibenak sahabat Galileo. Utamanya …

Aku “NU”, Jangan Kau Ambil Namaku

PMII Galileo – “Miris, sampai hati ini ikut menangis.Ideologi yang susah payah dibangun ulama’ku justru …

Peran Mahasiswa Masa Kini

PMII Galileo– Sebagai mahasiswa kita perlu mengetahui apakah esensi sebenarnya yang terkandung dalam satu kata …

Filsafat Sebagai Ilmu Kritis

PMII Galileo – Sejak awal Negara Barat terjadi dikotomi antara agama dan filsafat. Sebelum berkembangnya …

Dunia Rasa Maya

Nadi kaki kiri berdiri Lima meter ranah merah darah Delapan santapan senapan Kau korban kedalaman …

INTERPRETASI PAHLAWAN DALAM ORIENTASI PMII MASA KINI

PMII Galileo –  Setiap tanggal 10 November, Bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, sebagai momen reflektif untuk …

Rangers Galileo

PMII Galileo – Pengamatanku yang sudah berjalan hampir 15 tahun pada Power Rangers, meskipun tidak sistematis …

Apa Kabar Negeriku, Hari Ini?

Ada yang hilang dari negeriku Perkara se-abad lalu Ada yang hilang dari negeriku Pasal suara …

Jangan panggil aku pahlawan!! 

Darahku tumpah tanpa celah Badanku remuk tak peduli bentuk Hidupku hancur mengucur lebur Kepingan ketiganya …

PAHLAWAN GENERASI MILLENIAL

Kemerdekaan bangsa Indonesia adalah sebuah contoh adanya pahlawan dalam perjalanan bangsa ini, tanpa mereka kita …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *