Senin , September 24 2018
Breaking News
Home / Artikel / Sholawat Sumpah Pemuda “Zaman Now” Ala Gus Dur

Sholawat Sumpah Pemuda “Zaman Now” Ala Gus Dur

PMII Galileo- Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, hampir seluruh kalangan pemuda merayakannya, tanpa terkecuali yang masih kanak-kanak, remaja, sudah agak lebih tua, ataupun lansia. Tapi maaf. Hari ini, saya tidak ikut merayakan hari sumpah pemuda. Bukan hanya karena sekarang akhir pekan, hingga aku sedemikian sibuknya, tidak! Merayakan saja tidak, apalagi aku harus bersumpah layaknya pemuda “Zaman Old” sama sekali tidak.

Sudah cukup saya saja yang demikian, kalian tidak perlu ikut-ikutan, Kalau perlu kalian yang belum sempat diminta diajak ataupun dipaksa untuk bersumpah, segera lah bersumpah pada waktu yang lalu, baik tahun lalu, dua tahun yang lalu ataupun beberapa tahun yang silam.

Diajak, diminta ataupun dipaksa? Saya masih yakin, kalian tidak akan bersumpah, jika tidak diajak ataupun tidak tidak dipaksa. Untuk itu saya memberi saran untuk berhenti lah, tidak perlu melanjutkan langkah kaki kalian ke tempat-tempat persumpahan, jika memang berat rasanya.

Saya saat ini yang sedang terasuki oleh sukma R.M Djoko Marsaid, Mohammad Yamin pun pada waktu lampau, sekitar 89 tahun yang lalu, sudah komitmen untuk tidak akan meminta para pemuda “zaman now” bersumpah sesuai naskah Sumpah Pemuda. Meminta saja tidak, apalagi memaksa kalian.

Saat ini, saya sedang berkumpul dengan para pemuda-pemudi di Surabaya. Saya tahu yang membedakan kalian dengan Yamin hanya terletak pada kata “now” dan “old”. Kamu dan teman-temanya adalah “zaman now”, sedangkan Yamin dan kawan-kawan, terhitung “Zaman Old”. Jadi, sumpahnya pun hanya oleh, dari dan untuk “zaman old”.

Tapi, tunggu sebentar.

Pada perayaan sumpah pemuda kali ini, sudahkah kalian mengirim ataupun melantunkan hadiah surat al-Fatihah kepada Yamin dan kawan-kawan, termasuk Djoko Marsaid? Jika belum, Segera Anda mengirim hadiah tersebut. Hitung-hitung menjaga ingatan kalian pada tokoh-tokoh yang sudah mengabdikan diri pada agama, bangsa dan negara.

Saya tahu, pada momen yang maha spesial ini, hari sumpah pemuda yang sekaligus weekend, pasti kalian sedang nongkrong ataupun bermajelis, sambil membicarakan tentang sumpah pemuda. Gosipin orang-orang Belanda, menjungjung-junjung Yamin dan kawan-kawannya lah, yang akan berujung pada kegelisahan kalian para pemuda “zaman now”. Ya, jika dugaanku salah, maka bersedih dan menangislah, sebab kalian (mungkin) telah lupa pada seluruh unsur-unsur yang ada pada sumpah pemuda, baik tanggalnya, tokohnya, peristiwanya atau bahkan isinya.

Bagi kalian yang sedang nongkrong dan membicarakan sumpah pemuda. Nanti, dipengujung nongkrong ataupun majelis, kalian boleh sendiri ataupun berkelompok untuk ber-tawassul, itupun jika kalian bisa ilahadratin-blablabla. Jika tidak bisa, ya no problem.

Apalagi jika tak mampu bersumpah, maka bershalawat lah dengan mengenang karya ataupun isi naskah sumpah pemuda. Dan jika kalian, masih sulit untuk mencari nada (tempo) yang enak dan gurih. Maka, saya sarankan memakai nada ala-syiir tanpo waton (Gus Dur). Jika masih sulit menyatukan isi sumpah pemuda dengan nada Gus Dur, maka kalian bisa menggunakan nada apapun, yang biasanya kalian gunakan saat bershalawat, yang terpenting ada lirik khas sumpah pemuda.

Saya tahu, pemuda “zaman now” suka yang instan (tidak mau ribet). Dan saya pun tahu, bersumpah ini menegangkan, secara formal pun berat untuk diamalkan. Maka dari itu, jika berat untuk bersumpah, maka bershalawatlah, toh masih sama-sama mengeluarkan kalimat-kalimat sumpah pemuda. Cuman bedanya terletak media atau caranya saja, isinya sama.

Terus jika bersumpah berkesan simbolik kalau kalian gagah dan berani di hadapan manusia lainnya, namun jika bersholawat tidak hanya disaksikan oleh manusia, diperuntukkan kepada manusia tetapi juga disaksikan dan diperuntukkan kepada Allah SWT, ataupun Tuhan kalian masing-masing. Bagaimana? Lebih keren kan tidak! Minimal, pemuda “zaman now” juga bisa berkarya.

Loh, betulkah?

Menurut kalian Sumpah Pemuda yang dicetuskan oleh Yamin seperjuangan adalah karya (produk), hasil dari “zaman old”?

Saya tidak yakin dan tidak setuju ya. Sebelum menjawab itu, saya mau memberikan analogi untuk menjawabnya sebab mendasar dari seseorang sakit maag adalah tidak makan. Dan sebab tidak makan karena tidak punya uang ataupun miskin. Tapi apakah penyakiat maag juga berlaku bagi orang kaya?

Sekelumit analogi itu, menjadi pengantar untuk menjawab bahwa saya tidak setuju. Awalnya memang, saya kira setiap karya adalah hasil. Tapi, kalau diselami lebih dalam lagi, ternyata karya adalah sebab. Ya menjadi sebab bagi pemuda zaman now untuk tetap berkarya kebaikan, kemajuan dan kemuliaan agama, bangsa dan negara.

Ah sudahlah!

Kurang begitu penting juga kita memperdebatkan soal karya adalah hasih ataupun sebab. Apalagi sampai debat kusir. Sangatlah tidak penting, meskipun itu tetap manusiawi.

Dan saya pun masih tetap yakin, bahwa Yamin dan seperjuangan juga memikirkan kehidupan-kehidupan pemuda di masa yang akan datang, kirakira seperti kehidupan generasi muda Indonesia zaman now yang sangat susah, sulit dan beratnya minta ampun, jika diminta diajak atau bahkan dipaksa untuk berkarya. Berkarya sajalah, tanpa perlu membingungkan diri, mau karyanya bersifat sebab ataupun bersifat hasil.

Ah sudahlah,

Zaman now, zaman now

Lebih baik aku berseru kepada Djoko Marsaid, untuk segera kembali ke alamnya masing-masing, dan melanjutkan bersholawat sumpah pemuda dengan nada ala-syiir tanpo waton.

Tumpah darah satu,

Tanah air Indonesia.

Bangsa yang satu,

Bangsa Indonesia.

Bahasa persatuan,

Bahasa Indonesia

(Itulah naskah, dari Sumpah Pemuda) 2x

Surabaya, 28 Oktober 2017

Bung Sokran

Penulis: Bung Sokran (Citizen Warta Pergerakan)

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

Asmatku Belum Teruji

PMII Galileo – Hari-hari ini hampir di semua media social tengah membincangkan persoalan #KartuKuningJokowi. Berjibun komen …

VALENTIN’S DAY: Dialektika Hukum dalam Perspektif Remaja Era Futuristik

PMII Galileo – Gejolak perbedaan pendapat dalam menanggapi suatu hukum permasalah dalam ranah pemuda di …

Kau Anggap Aku Ahlul Bid’ah. Kamu?

PMII Galileo – Berbicara masalah Bid’ah pasti sudah tidak asing lagi dibenak sahabat Galileo. Utamanya …

Aku “NU”, Jangan Kau Ambil Namaku

PMII Galileo – “Miris, sampai hati ini ikut menangis.Ideologi yang susah payah dibangun ulama’ku justru …

Peran Mahasiswa Masa Kini

PMII Galileo– Sebagai mahasiswa kita perlu mengetahui apakah esensi sebenarnya yang terkandung dalam satu kata …

Filsafat Sebagai Ilmu Kritis

PMII Galileo – Sejak awal Negara Barat terjadi dikotomi antara agama dan filsafat. Sebelum berkembangnya …

UIN Maliki Malang Bentuk Lembaga Riset dan Fatwa “Majma’ Al-buhuts wa Al-ifta” 

PMII Galileo – Universitas Islam Negeri Malang, sebagai salah satu Universitas dengan eksistensi yang cukup …

INTERPRETASI PAHLAWAN DALAM ORIENTASI PMII MASA KINI

PMII Galileo –  Setiap tanggal 10 November, Bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, sebagai momen reflektif untuk …

Rangers Galileo

PMII Galileo – Pengamatanku yang sudah berjalan hampir 15 tahun pada Power Rangers, meskipun tidak sistematis …

PAHLAWAN GENERASI MILLENIAL

Kemerdekaan bangsa Indonesia adalah sebuah contoh adanya pahlawan dalam perjalanan bangsa ini, tanpa mereka kita …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *