Senin , Juli 23 2018
Breaking News
Home / Artikel / Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

PMII Galileo – Cara  untuk  meyakinkan dugaan atau hipotetis tentang tingkat keterpilihan Bakal Calon (Balon)/Calon dalam pemilihan seperti Pemilihan Presiden (Pilpres) atau Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dengan melakukan survei opini publik terhadap elektabilitas para Balon/Calon.

Di acara Rapimnas Partai Golkar, Mei 2017 Balikpapan, Kalitim. Menko Maritim Luhut B. Panjaitan  menyatakan tanpa Sumber bahwa elektabilitas Jokowi saat ini masih di atas 50 persen. Lebih besar dibandingkan dengan elektabilitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Prabowo dan Megawati.Untuk kasus Jokowi sebagai Balon pada Pilpres tahun 2019 mendatang, sudah mulai dibicarakan di publik berdasarkan hasil survei opini publik. Sebagai  incumbent/petahana, Jokowi dalam pandangan lembaga survei umumnya  memperlihatkan penurunan elektabilitasnya. Sehingga bisa  disimpulkan bahwa kemungkinan besar Jokowi bisa memenangkan persaingan pada Pilpres 2019 semakin sulit dan harapankecil.

Litbang Kompas adakan survei berkala pada Januari hingga April 2017. Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan elektabilitas Jokowi mencapai  41,6 persen.

Pada 14-20 Mei 2017, bulan sama dengan pernyataan Luhut B. Panjaitan waktu di acara Golkar,  SMRC mengadakan surveipublic opinion. Hasil survei tersebut menperlihatkan elektabilitas Jokowi mencapai hingga 34,1%.

Pada 23-30 Agustus  2017 CSIS lakukan survei. Hasil survei menunjukkan  elektabilitas Jokowi cukup tinggi, yakni  50,9%,

Selanjutnya, Lembaga Media Survei Nasional (Median) merilis hasil survei 14-22  September 2017,  Hasil survei menunjukkan, elektabilitas Jokowi 36,2 persen. Namun di sisi lain dari pihak SMRC mengumumkan angka lebih besar, yaitu elektabilitas Jokowi mencapai 38,9%. Angka ini naik lebih besar dibandingkan hasil survei SMRC sebelumnya elektabilitas Jokowi mencapai 34,1%.

Sejumlah data elektabilitas yang sudah tertera di atas, dapat kita simpulkan bahwa penurunan elektabilitas Jokowi mencapai di bawah 40% dan mendekati di bawah 35% dari tingkat elektabilitas sebelumnya, di atas 50%. Jika ditarik rata-rata dari angka seluruh lembaga survei di atas, tetap mengalami penurunan, yakni rata-rata sekitar 40%. Lembaga survey membandingkan Jokowi sebagai petahana dengan tokoh bukan petahana, bahkan belum secara resmi menyatakan diri akan maju sebagai calon Presiden (Capres) pada Pilpres 2019. Sebagai Petahana elektabilitas Jokowi kini hanya sekitar 40%, jauh di bawah perolehan suara Jokowi pada Pilpres 2014, di atas 50%. Sangat tepat jika ada pendapat, semua calon Presiden seperti Gatot N, Prabowo, bahkan SBY memiliki peluang yang sama dengan Jokowi untuk memenangkan kompetisi pada Pilpres tahun 2019.

Intinya, tidak terdapat indikasi peningkatan elektabilitas Jokowi, bahkan dari bulan ke bulan tahun 2017 ini terus merosot. Waktu tinggal sekitar 1,5 tahun lagi bagi Jokowi untuk hentikan penurunan elektabilitas dirinya.  Kondisi Jokowi ini tanpa kegiatan promosi dan kampanye pesaing atau kompetitor atau Tim Sukses, Relawan dan Partai pendukung. Baru Jokowi seorang telah mendapatkan dukungan resmi dari Partai PKB, Golkar, Hanura, Nasdem, PPP dll. Ternyata dukungan resmi Parpol-parpol tersebut, tak usah meningkatkan elektabilitas Jokowi, mempertahankan agar tidak menurun pun tak sanggup.

 Penurunan elektabilitas Jokowi ini tentu disebabkan berbagai faktor, terutama rakyat umat Islam politik dan kelas menengah perkotaan, bukan tokoh  pesaing individual sebagai Balon.

Angka elektabilitas Jokowi menurun itu semua bermakna semakin berkurang kemungkinan Jokowi akan menang pada Pilpres tahun 2019. Kecenderungan menurunnya elektabilitas Jokowi ini akan terus mengambil tempat sepanjang kebijakan-kebijakan Jokowi tidak mengutamakan aspirasi dan kepentingan terutama Umat Islam politik dan kelas menengah perkotaan.

Ada asumsi bahwa elektabilitas calon incumbent atau petahana harus di atas  60%. Jokowi harus memiliki tingkat elektabilitas di atas 60%. Sebab, dalam berbagai pertarungan pemilu ketat, perolehan  suara calon petahana berada di bawah tingkat elektabilitas hasil survei. Dalam Pilpres 2009, SBY-Boediono meraup 60,8% suara. Perolehan  ini jauh di bawah hasil survei opini publik  menempatkan SBY-Boediono sebagai pemenang pemilu dengan tingkat elektabilitas 71%. Hal ini juga berlaku pada  Pilkada  DKI Jakarta 2017. Pasangan Incumbent Ahok-Djarot menurut sejumlah rilis survei opini publik, tingkat elektabilitas mereka  hingga 56%,  hanya mampu meraih 42,99% suara dalam putaran pertama dan 42,04% suara pada putaran kedua.

Angka elektabilitas Jokowi cenderung kemungkinan besar bisa menurun dan menjauh dari zona amannya dengan angka elektabilitas mencapai 60%.

Jika asumsi dasar ini diterima, adalah sangat sukar  bagi Jokowi untuk memenangkan pertarungan perebutan kekuasaan negara pada  Pilpres 2019 mendatang.

apa cara pemecahan masalah (solusi) trend penurunan elektabilitas Jokowi ini agar bisa menaik dan mencapai batas aman untuk memenangkan Pilpres 2019?

Cara pemecahan utama, sangat menentukan, menggunakan  level analisis Parpol sebagai aktor mempengaruhi perilaku pemilih. PDIP sebagai Parpol peserta pemilu  harus segera menyatakan secara resmi  dukungan terhadap Jokowi untuk maju lagi sebagai Capres  pada Pilpres 2019. PDIP harus mengambil posisi di mata publik  sebagai “Lead Party“, Parpol Pemimpin, jangan beri ke Parpol lain yang tidak memiliki akar sosiologis dengan Jokowi seperti Golkar. Setelah adakan  pernyataan resmi, lalu PDIP lakukan konsolidasi internal penguatan mesin Parpol untuk mempromosikan dan mengkampanyekan Jokowi di tengah-tengah masyarakat pemilih. Tentu saja, mesin Parpol ini akan terkendala dengan kepentingan Pemilu legislatif yang waktu  bersamaan dengan Pilpres 2019.

Untuk mendapatkan dukungan sebagian umat Islam politik, Jokowi sudah mulai memberi tanda kepada publik, Calon Wapres dirinya dari Tokoh atau Ulama umat Islam seperti Jusuf Kalla saat Pilpres 2014. Siapa Tokoh atau Ulama dimaksud, satu kriteria Tokoh itu memiliki basis massa atau organisasi masyarakat umat Islam atau didukung berat para Parpol Islam. Dari segi momentum memang terlambat, tapi Jokowi harus coba untuk pemenan Pilpres 2019. Sudah saatnya Jokowi berpikir rasional untuk perolehan suara pemilih sebanyak mungkin. Semua kebijakan pemerintah membuat umat Islam dan kelas menengah perkotaan antipati dan penurunan elektabilitas harus diminimalkan. Jangan terus lakukan politik pembiaran yang membuat persepsi masyarakat negatif meningkat dan meluas. Waktu hanya sekitar 1,5 tahun lagi!

Oleh: Muchtar Effendi Harahap (Peneliti NSEAS)

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

Asmatku Belum Teruji

PMII Galileo – Hari-hari ini hampir di semua media social tengah membincangkan persoalan #KartuKuningJokowi. Berjibun komen …

VALENTIN’S DAY: Dialektika Hukum dalam Perspektif Remaja Era Futuristik

PMII Galileo – Gejolak perbedaan pendapat dalam menanggapi suatu hukum permasalah dalam ranah pemuda di …

Kau Anggap Aku Ahlul Bid’ah. Kamu?

PMII Galileo – Berbicara masalah Bid’ah pasti sudah tidak asing lagi dibenak sahabat Galileo. Utamanya …

Aku “NU”, Jangan Kau Ambil Namaku

PMII Galileo – “Miris, sampai hati ini ikut menangis.Ideologi yang susah payah dibangun ulama’ku justru …

Peran Mahasiswa Masa Kini

PMII Galileo– Sebagai mahasiswa kita perlu mengetahui apakah esensi sebenarnya yang terkandung dalam satu kata …

Filsafat Sebagai Ilmu Kritis

PMII Galileo – Sejak awal Negara Barat terjadi dikotomi antara agama dan filsafat. Sebelum berkembangnya …

UIN Maliki Malang Bentuk Lembaga Riset dan Fatwa “Majma’ Al-buhuts wa Al-ifta” 

PMII Galileo – Universitas Islam Negeri Malang, sebagai salah satu Universitas dengan eksistensi yang cukup …

INTERPRETASI PAHLAWAN DALAM ORIENTASI PMII MASA KINI

PMII Galileo –  Setiap tanggal 10 November, Bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, sebagai momen reflektif untuk …

Rangers Galileo

PMII Galileo – Pengamatanku yang sudah berjalan hampir 15 tahun pada Power Rangers, meskipun tidak sistematis …

PAHLAWAN GENERASI MILLENIAL

Kemerdekaan bangsa Indonesia adalah sebuah contoh adanya pahlawan dalam perjalanan bangsa ini, tanpa mereka kita …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *