Artikel

Peran Mahasiswa Masa Kini

PMII Galileo– Sebagai mahasiswa kita perlu mengetahui apakah esensi sebenarnya yang terkandung dalam satu kata sakral tersebut yakni “MAHASISWA”Apakah sebenarnya makna dari mahasiswa serta adakah karakter atau sikap yang menunjukkan identitas mahasiswa yang ideal dan patut untuk dijadikan  teladan dan harapan bangsa di masa yang akan datang.

Mahasiswa merupakan individu yang tengah mengenyam pendidikan di bangku perguruan tinggi. Mahasiswa identik dengan dua sisi, yaitu sebagai manusia muda dan calon intelektual. Sebagai calon intelektual mahasiswa cenderung memiliki pemikiran kritis dalam menghadapi segala hal, sedangkan manusia muda lebih mengarah kepada pribadi yang labil serta sulit mengatur permasalahn dan menanggung resiko. Mahasiswa dituntut untuk menjalankan kuliah dengan kemampuan sendiri, tidak bergantung pada orang lain.

Secara umum terdapat beberapa karakter mahasiswa:

  1. Kritis

Mahasiswa dengan karakter seperti inilah yang dapat dikatakan sebagai mahasiswa ideal. Karena dengan memiliki sika kritis pola pikir mahasiswa akan terus berkembang dan berdampak kepada perkembangan pengetahuan mahasiswa selanjutnya. Karena mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

  1. Hedonis

Mayoritas mahasiswa yang memiliki karakter hedonis merupakan mereka yang tak lagi memikirkan masa depan serta orang tua yang tengah menunggu kesuksesan mereka. Sehingga masa kuliah hanya dipergunakan sebagai wahana bersenang-senang semata.

  1. Normatif

Mahasiswa tipe ini merupakan mahasiswa yang memiliki prinsip mengikuti arus. Dimana mereka tak lagi mempertanyakan akan suatu hal benar atau salah. Dan menurut begitu saja dengan perintah dan pernyataan yang mereka terima tanpa ingin menelusuri kebenaran dan sumbernya.

  1. Apatis

Karakter ini perlu dihindari oleh mahasiswa. Karena jika mayoritas mahasiswa memiliki sikap ini akan berdampak buruk bagi masa depan bangsa, karena yang akan terlahir adalah generasi yang acuh terhadap keadaan lingkungan terlebih kemudian terhadap bangsanya.

Dari sosok mahasiswa yang kritis kemudian diharapkan dapat melahirkan mahasiswa-mahasiswa yang dapat memimpin bangsa. Terdapat beberapa peranan pokok mahasiswa, yaitu:

  1. Agent of Change ( Generasi Perubahan)
  2. Agent of Social Control (Generasi Pengontrol)
  3. Agent of Iron Stock (Generasi Penerus)
  4. Agent of Moral Force (Generasi Gerakan Moral)

Gerakan mahasiswa dimasa reformasi serba terkekang dan sangat ditekan pergerakannya, namun setelah era reformasi pergerakan mahasiswa kian muncul kepermukaan. Namun, dewasa ini mahasiswa menghadapi beberapa tantangan yang harus mereka temui, diantaranya:

  1. Miskinnya bangsa dari guiding ideas (Krisis gagasan kebangsaan)
  2. Adanya kelunturan nilai dan budaya ketimuran yang terus bertambah sesuai pergulingan zaman (Krisis identitas)
  3. Lemahnya pengertian terhadap tanggung jawab dan kewajiban (Krisis kepercayaan dan tanggungjawab)
  4. Kebutuhan akan pemimpin yang layak dan kompeten tidak pernah tercukupi (Krisis Kepemimpinan)

Untuk itu perlu adanya reposisi gerakan mahasiswa yang dijabarkan sebagai berikut:

  • Orientasi Gerakan
    • Gugatan terhadap struktur kekuasaan
    • Pembentukan opini publik
  • Format Kegiatan
    • Aksi massa
    • Aksi sosial
  • Tipe Gerakan
    • Gerakan politik praktis
    • Gerakan penyadaran dalam bidang sospol

Dapat kita simpulkan bahwa, setiap periode akan lahir para pemimpin pemimpin penerus perjuangan bangsa dan mahasiswa saat ini adalah para pengganti pemimpin serta komponen komponen lainnya baik itu dalam bidang pemerintahan, pendidikan, ekonomi dan lainnya pada 10-20 tahun yang akan datang. Untuk itu yang diharapkan adalah lahirnya generasi mahasiswa yang kritis, bukan  lagi mahasiswa apatis. Mahasiswa yang mampu menjadi agent of change, baik bagi bangsanya maupun bagi dunia. Mahasiswa yang mampu menjadi kontrol di tengah tengah masyarakat. Mahsiswa sebagai generasi penerus yang dapat mempertanggung jawabkan keberadaannya serta sosok mahasiswa yang mampu menyuarakan gerakan moral demi kemaslahatan bangsanya.

 

 

Nb: Materi ini disampaikan oleh Sahabat Mahbub Junaidi, dalam acara Follow Up Mapaba yang ke-2 dengan Materi Kemahasiswaan, pada Selasa, 28 Nopember 2017.

Agenda

PMII RPG Adakan Diskusi Bertemakan “Filsafat Sebagai Ilmu Kritis”

PMII Galileo – Diskusi merupakan satu hal yang tak bisa terlepas dari kehidupan mahasiswa, terlebih bagi kaum pergerakan. Untuk terus mengupgrade dan membentuk kader pergerakan yang kritis, kegiatan diskusi rutinan dengan tema yang relevan dengan ranah pemikiran mahasiswa tentu merupakan kegiatan yang sangat tepat untuk kemudian dijadikan sebagai agenda rutinan PMII RPG. Diskusi kali ini mengupas tentang “Filsafat Sebagai Ilmu Kritis” dengan pemateri, Bapak Dr. Moh. Anas, M. Phil. (21/11/2017)

Sahabat Engki selaku Direktur dari Biro Pengembangan Wawasan menegaskan bahwa “topik Filsafat Sebagai Ilmu Kritis sangat penting dikaji bagi mahasiswa sains, mengingat dalam istilah Yunani disebutkan bahwa Philoshophy is Mother of Science, yang mana kemudian output dari wawasan kajian filsafat ini dapat diaplikasikan oleh seluruh Sahabat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon “Pencerahan” Galileo”.

Read more “PMII RPG Adakan Diskusi Bertemakan “Filsafat Sebagai Ilmu Kritis””

Artikel

Filsafat Sebagai Ilmu Kritis

PMII Galileo – Sejak awal Negara Barat terjadi dikotomi antara agama dan filsafat. Sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan yang sangat pesat di Negara Barat, pada mulanya mereka hanya mengenal Teologis, dan kemudian berkembang menjadi Metafisik, dan baru kemudian lahir ilmu-ilmu pengetahuan yang menjadi cikal-bakal ilmu pengetahuan modern saat ini. Berbeda dengan pandangan Islam, dimana Islam bukan memisahkan antara agama dan filsafat dan juga ilmu pengetahuan, akan tetapi dalam islam kita mengenal adanya Agama Teologis dan Agama Ilmu. Hal inilah yang kemudian membedakan Filsafat Islam dengan Filsafat yang berkembang di barat.

Jika saja kita mau mengamati beberapa Universitas Islam Negeri, mulai terpengaruh oleh paham barat, dimana terjadi dikotomi antara agama, filsafat dan ilmu pengetahuan. Namun, adanya Pohon Ilmu yang berada di UIN Malang, dapat dijadikan sebagai landasan dalam mengembangkan ilmu maupun belajar filsafat,kita ketahui bahwa landasan dan sumber utama dari segala bentuk ilmu pengetahuan berasal dari Tuhan yang dalam hal ini Agama, jadi antara filsafat, ilmu dan agama adalah satu kesatuan yang saling melengkapi.

Why Important Think Philosophy?

Sebagian filosof enggan menyebutkan filsafat sebagai cabang ilmu pengetahuan, karena filsafat merupakan refleksi filosofis dari kehidupan manusia. Secara fundamental filsafat memiliki makna rasional, mengupas secara mendalam menggunakan akal dan pemikiran. Di dalam Islam, pemikiran secara rasional diistilahkan dengan burhani (Logika Silogisme). Pada awal munculnya filsafat,  di Yunani juga berkembang mitologi atau mitos yang menganut paham irasional, sehingga seringkali mitos ini bersaingan dengan pemikiran filsafat yang rasional.

Yang menjadi pertanyaan untuk saat ini, masihkah mitos menjadi musuh dalam kehidupan manusia? Jika hal ini masih terjadi dapat dipastikan bahwa manusia modern pada hakikatnya masih memiliki pemikiran yang sangat klasik. Mengapa demikian, karena dalam pemikiran klasik pada zaman dahulu, mayoritas masyarakat memercayai dan mendewakan mitos dan takhayul. Sedangkan, di era modern ini pemikiran klasik lebih mengarah pada situasi atau keadaan dimana akal terbelenggu oleh pemikiran mengenai mitos-mitos tersebut. Dalam situasi ini peran mahasiswa khususnya insan pergerakan memiliki peran untuk menggaungkan rasionalitas, dan membebaskan diri dari belenggu, yang kemudian akan melahirkan pencerahan pada lingkungan dan masyarakat sekitar.

Sebuah ironi yang belakangan ini marak menjadi perbincagan di media sosial akan lahirnya agama baru yang bertuhankan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence). Lantas dalam keadaan seperti ini masihkah dapat dikatakan relevan antara Filsafat,Sains(Ilmu), dan Agama. Sebagai insan pergerakan kita dituntut untuk memiliki sikap kritis terhadap segala hal. Sikap kritis juga merupakan komponen terpenting dalam filsafat. Seseorang dapat dikatakan memiliki sikap kritis apabila dalam dirinya muncul keraguan atas sesuatu, dengan selalu muncul rasa ingin tahu dan mempertanyakan kembali akan konsep yang telah matang, dengan pertanyan mendasar (fundamental). Dengan sikap kritis kita akan memiliki wilayah pemikiran yang otonom atau dapat dikatakan kebebasan. Kondisi ini memiliki implikasi terhadap dengan tidak bergantung pada pandangan orang lain dan mampu berfikir sendiri (Sapare Aude). Filsafat bukanlah ilmu instan yang secara gamblang memberikan materi, namun filsafat merupakan alat, tinggal bagaimana kita dapat memfungsikan alat tersebut untuk menganalisis setiap persoalan dan permasalah  yang muncul di masyarakat. Dengan memiliki pemikiran yang rasional serta sikap kritis tentu akan tercipta insan pergerakan yang memiliki kepribadian yang terbebas dari belenggu pemikiran klasik(mitos).

Oleh : Sahabat Nuril Qomariyah

 

Berita

Revolusi Digital, NU Luncurkan Aplikasi Mobile

PMII Galileo – Nahdlatul Ulama (NU) tak mau ketinggalan dengan perkembangan teknologi. Organisasi ini pun meluncurkan aplikasi sebagai bukti revolusi digital.

Aplikasi yang dimaksud dinamai NU Mobile, yang didedikasikan sebagai solusi dan pelayanan bagi warga NU. Aplikasi ini juga diharapkan bisa memberi solusi bagi masyarakat melalui satu solusi.
Bahkan NU Mobile telah menggandeng sejumlah mitra yang siap memperkuat layanannya, seperti KSP, Kementerian Kominfo, XOX Media Berhad, XL Axiata, Artha Graha Group, BRI, BTPN, NIN Media, Adira Syariah, Telkom Tmoney, Mercato, Duit Hape, WIR Wahyoo, Seroyamart, GAPMII.
“Era digitalisasi, semua berubah serba digital. Langkah kami ini sebagai wujud untuk mengikuti perkembangan zaman dan memberikan pendidikan melek literasi,” kata Said Aqil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di Jakarta.
Tapi NU Mobile bukan satu-satunya layanan yang diluncurkan. Bersamaan dengan itu, NU juga merilis NU Channel. Kanal siar ini ditujukan untuk mengedukasi msyarakat, sekaligus membendung radikalisme, serta menjadi media penyebaran konten positif.
Selain itu ada juga layanan bernama Mobile Halal Investigation, yang memungkinkan pengguna mengakses proses laboratorium halal semakin lebih mudah, cepat, dan akurat.
“Ada 90 juta warga nahdliyin. Kalau semua menggunakan layanan aplikasi NU ini, dampak positifnya akan sangat terasa. Saya akan terus mendukung langkah ini karena diharapkan juga dapat meng-counter seluruh konten negatif yang ada di dunia maya,” ujar Menkominfo Rudiantara yang turut hadir di acara peluncuran.
Sebagai pelengkap, NU turut mengumumkan kehadiran data center miliknya dan digitalisasi Arab Pegon hasil kerjasama dengan Microsoft.

Sumber : inet.detik.com

Berita

UIN Maliki Malang Bentuk Lembaga Riset dan Fatwa “Majma’…

PMII Galileo – Universitas Islam Negeri Malang, sebagai salah satu Universitas dengan eksistensi yang cukup bersaing dengan Universitas besar di Indonesia, sudah sepantasnya untuk menciptakan gebrakan-gebrakan baru ditengah era yang semakin menuju futuristik.

Universitas yang berlebelkan Islam memiliki tanggung jawab besar dalam membangun kembali peradaban Islam yang sempat hilang dari peradaban dunia. Lebel Islam tidak bisa menjadi alasan untuk tidak ikut andil dalam perkembangan teknologi dunia.

UIN Maliki Malang, sesuai dengan tujuannya untuk membentuk kader Indonesia intelek yang ulama dan ulama yang intelek, semakin memperlihatkan eksistensinya di antara perguan tinggi mentereng di Indonesia dengan membentuk Lembaga Riset dan Fatwa “Majma’ Al-buhuts wa Al-ifta” yang diresmikan oleh Kepala Ditjen Pendis Bapak Prof. Dr. Kamaruddin Amin, M.A. di Aula Rektorat Lt. 5 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, senin, (17-11)

Prof. Abdul Haris selaku Rektor UIN Maliki Malang, menyampaikan “lembaga riset ini merupakan bentuk kerjasama kampus dengan fakultas Sains dan Teknologi yang terus mengembangkan riset dan penemuan-penemuan terbaru. Dalam praktiknya Majma’ al Buhuts wa al Ifta’ (dibaca MBI) diharapkan dapat menjadi salah satu bagian yang menangani isu-isu serta problema pada masyarakat. Dengan menawarkan beberapa jenis inovasi seperti MBI online, Halal Center, Falaq Center dan Konsultasi Fiqih”.

Menurut Kepala Ditjen Pendis, “Pembentukan lembaga ini merupakan inisiasi yang sangat baik di kalangan PTKIN, serta sangat strategis mengingat peran perguruan tinggi yang memiliki fungsi sebagai salah satu lembaga pendidikan yang perlu memiliki lembaga pengabdian masyarakat yang sesuai dengan karakter masyarakat saat ini, lembaga ini selain merupakan inovasi baru juga berkontribusi tinggi pada masyarakat. Mengingat kembali bahwa beberapa negara dengan universitas maju di dalamnya seperti Al-Azhar di Kairo yang memiliki lembaga fatwa bertaraf internasional. Selain itu, negara-negar maju di Eropa dan Amerika juga memiliki universitas besar yang berkontribusi tinggi dan memiliki semangat pengabdian masyarakat”.

“Dengan membentuk MBI, menjadikan Kampus UIN Malang dapat mengawal bangsa untuk meningkatkan daya saing. MBI dapat menjadi refleksi sebagai instrumen untuk merespon problema masyarakat dengan memberikan tawaran yang sangat solutif, mengingat kompleksnya permasalah masyarakat saat ini” tambahnya.

“Mengoptimalakan peran PT, khususnya PTKIN yang memiliki kontribusi secara fundamental untuk mencetak generasi masyarakat indonesia yang demokratis”.

Memang kontribusi ini merupakan jenis kontribusi yang tidak terlihat, yakni mengkonsolidasikan demokrasi di indonesia dan menanamkan pemahaman keagamaan yang moderat. Dimana refleksi keagamaan di sebuah bangsa dipengaruhi tradisi kesarjanaan bangsa tersebut. Sehingga lulusan PT dan PTKIN diharapakan dapat memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu dan juga keagamaan.

Kontribusi yang dimiliki PTKIN dalam menciptakan generasi intelek yang memiliki spiritual dan nasionalisme tinggi tidak terlihat namun dampak yang sangat besar terasa. Sehingga, diharapkan mahasiswa di PTKIN tidak hanya mengadopsi dan mengembangkan penemuan-penemuan yang telah ada namun juga melakukan inovasi-inovasi yang memiliki daya saing dengan bangsa lain dan memiliki kontribusi serta manfaat yang besar bagi bangsa.
Oleh: sahabat Nuril Qomariyah

Agenda

PMII RPG Adakan Mapaba Sesion II

Tahun akademik baru menjadi ajang perlombaan mahasiswa baru disemua Universitas dan sekolah tinggi di Indonesia. Masa dimana seorang Siswa beralih menjadi siswa yang bergelarkan MAHA. 

“Mahasiswa adalah Parlementer jalanan”, adalah opini yang selama ini tertanam dibenak mahasiswa baru. Opini tersebut menjadikan mereka berlomba-lomba untuk mencari organisasi yang seidiologi dengannya. 

Dalam menampung mahasiswa Islam di Indonesia, yang beridiologikan Ahlussunnah Wal Jamaah, PMII Hadir sebagai wadah para pejuang Islam yang nasionalis dengan membuka perekrutan melalui MAPABA (11-11-2017)

“MAPABA sesion 1 yang diadakan pada tanggal 27-November-2017 telah malakukan satu kali follow up, tidak cukup untuk menampung semha mahasiswa yang memiliki tujuan yang sama. Sehingga diadakan MAPABA sesion II” tutur sahabat Java selaku CO bidang Kaderisasi. 

“selain itu MAPABA memang menjadi kegiatan yang menjadi kewajiban bagi kepengurusan PMII, mengingat PMII merupakan organisasi Kaderisasi yang berbasis Islam dan Nasional, sehingga mencetak kader merupakan kewajiban yang haqiqi bagi semua kader PMII” tambahnya. 

“waktu mahasiswa sangatlah terbatas, disamping waktu kuliah yang padat, tugas yang diberikan dosenpun luar biasa banyak, belum lagi anak saintek yang selalu disibukkan dengan laporan dan praktikum, namun hal itu tidak bisa menjadi alasan dari mahasiswa dengan jiwa pergerakan. Karena mereka sadar betul pentingnya berjuang untuk orang lain, bukan hanya untuk diri sendiri” tutur sahabat Qomaruddin selaku ketua rayon. 

Mapaba sesion II yang diadakan pada 11 November 2017 ini merupakan kelanjutan dari mahasiswa yang berkeinginan berjuang di PMII namun belum bisa menyempatkan hadir saat MAPABA yanh pertama. 

MAPABA sesion II ini dilaksanakan dengan kknsepan dan kepanitian yang sama serta tema yang sama, dengan tujuan lulusan MAPABA I dan MAPABA II tetap menjadi satu angkatan yang diberi nama Angkatan Dirgantara. 

Yang berbeda dari MAPABA II adalah tempat dan pesertanya. Tempat MAPABA II dilakukan di Aula kantor PC PMII Kota Malang. 
Oleh : Tim Redaksi Teropong PMII RPG

Hari Pahlawan

Dunia Rasa Maya

Nadi kaki kiri berdiri
Lima meter ranah merah darah

Delapan santapan senapan

Kau korban kedalaman kesatuan 

Kau korban kedalaman kekuatan

Kau korban kedalaman pertahanan

Tahan abdi kapanpun dinanti

Tahan gigi kapanpun jerit hati

Tahan kasih kapanpun menitih

Engkau belum disini…

Dor…dor dor dor dor…

Masamu tak lagi ini, bukan tidak seperti ini

Masamu lebih dari ini, tidak harus seperti ini

Pertahanan tak sekedar dunia, nyata bersama maya

Kekuatanmu tak sekedar dunia, merona bersama maya

Dunia maya tak sekedar dunia, dunia maya bukan sandaran pahlawan

Dunia maya tak sekedar batas pena, dunia maya bukan sekedar gerakan

Gerakan menawan  meski tanganmu dan  batuanmu dihantam

Gerkan ketahanan meski hatimu dan kakimu berlawanan
Oleh : Sahabat Devi Kartika R

Kota tak dingin lagi, 08 Nopember 2017

Artikel

INTERPRETASI PAHLAWAN DALAM ORIENTASI PMII MASA KINI

PMII Galileo –  Setiap tanggal 10 November, Bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, sebagai momen reflektif untuk memberi makna atas pengorbanan para pahlawan bangsa, dengan menyalakan jiwa kepahlawanan dalam perjuangan mengisi kemerdekaan.
Peringatan tersebut didasarkan pada peristiwa “Pertempuran 10 November 1945” di Surabaya, sebagai pertempuran pertama dan terbesar antara pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus L945, dengan memakan korban jiwa yang sangat besar.

Sudah 71 tahun dari sejarah pertempuran mempertahankan kemerdekaan di Surabaya. 10 november 1945  merupakan sejarah hari pahlawan yang tidak boleh hilang dari ingatan kita sebagai penerus-penerus perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus1945 yang lampau.

Satu fakta sejarah dalam momentum ini adalah peran para ulama dan kiai NU dalam proses peristiwa 10 November 1945 dengan Resolusi Jihadnya dan hendak diabadikan agar tidak dilupakan begitu saja oleh generasi ke depan. Resolusi Jihad Fii Sabilillah PBNU di Surabaya mempunyai peranan penting untuk membakar semangat arek-arek suroboyo dalam pertempuran 10 November 1945, tidak peduli warga NU ataupun masyarakat islam yang lainnya. Sementara itu, warga NU, khususnya pemuda dan santri pondok telah bergabung dengan tentara Hizbullah untuk dilatih sebagai pasukan perang.

”Dan perjuangan kemerdekaan bangsa ini, telah sampailah pada saat yang membahagiakan. Dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat serta adil dan makmur”.

Bunyi pembukaan Undang-undang Dasar 1945 itu mengingatkan kepada kita semua, bahwa perjuangan kemerdekaan adalah sebuah pintu gerbang untuk memasuki sebuah negara yang merdeka, bersatu, berdaulat dan juga adil dan makmur.

Kemerdekaan telah diraih,kesatuan sebagai bangsa masih kita pegang, meskipun keteguhannya mulai terlihat mengendur dengan pandangan-pandangan kelompok yang sempit. apakah kedaulatan bangsa ini telah ditegakkan?! Dan tujuan kemerdekaan untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur ini telah tercapai 100 persen ?.

Saya rasa belum. Untuk itulah perjuangan dengan semangat serta keberanian yang sama dengan para pahlawan pendahulu menjadi penting sekali diterapkan sekarang ini.

Pengalaman merebut dan mempertahankan kemerdekaan juga menunjukkan betapa spirit perjuangan dan mental – karakter kepahlawanan memiliki daya hidup yang luar biasa dalam menghadapi berbagai rintangan dan penderitaan.

Pahlawan: orang yang dihormati karena keberanian (pribadi yang mulia dan sebagainya); pahlawan; atau orang yang dikagumi karena kecakapan, prestasi, atau karena sebagai idola. [Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)]

Lantas siapakah pahlawan itu? Apakah 70,000 orang yang gugur dalam pertempuran Surabaya antara tanggal 10 – 20 November 1945 ? Apakah mereka yang terbaring di Taman Makam Pahlawan ? Apakah mereka yang diresmikan menjadi pahlawan oleh pemerintah berdasarkan SK?. 

Memang ada kesan bahwa menjadi pahlawan itu harus resmi, karena kentalnya fungsi pemerintah dalam benak kita.  Karena itu tak terhindarkan bahwa sebagian besar pahlawan resmi adalah anggota TNI.  Padahal dalam pertempuran Surabaya yang ikut terlibat bukan saja BKR (Badan Keamanan Rakyat) tetapi juga pelajar SMP/SMA, guru, kyai dan santri mereka, pangreh praja, tukang becak, pokoknya hampir seluruh penduduk Surabaya dari seluruh etnis plus orang asing — rupanya mereka terbakar oleh semangat kemerdekaan yang diproklamasikan 3 bulan sebelumnya.

Pahlawan sejati tidak mempedulikan pengakuan apalagi imbalan uang. Syukurlah,setelah proklamasi banyak bermunculan pahlawan sejati,baik pahlawan resmi maupun tidak. Pahlawan besar atau pahlawan kecil. Banyak dari mereka berjuang dibidangnya dengan atau tanpa bantuan pemerintah. Pahlawan jenis ini besar jumlahnya. 

Mereka adalah pedagang kecil yang tanpa mereka ekonomi Indonesia koleps betulan ketika krisis moneter 1997 datang melanda. Mereka adalah dokter muda yang rela ditempatkan ditempat terpencil di luar Jawa. Mereka adalah TKI/TKW yang memecahkan masalah pengangguran dalam negeri yang terpaksa hidup irit di Virginia seperti si Minah agar dapat mengirim uang kepada keluarganya di Sragen. Mereka adalah pemuka agama yang berani menjalankan tugas menyebar kebaikan tanpa ikut arus menebar hasutan. Mereka adalah kecil/menengah yang tetap tangguh tidak berhenti berusaha dan menciptakan lebih banyak pengangguran sekalipun dihadang berbagai peraturan yang tidak masuk akal,tanpa mereka tidak mungkin negara ini mencapai pertumbuhan 5.8%.

Negara harus malu karena tidak mampu melindungi pahlawan biasa itu. Pedagang dan sopir truk dihadang oleh pamong praja, polisi dan jaksa dengan berbagai bentuk pungutan liar. Depnekertrans hendaknya mencontoh Filipina memperlakukan TKI/TKW sebagai “pahlawan deviza” dan tidak meperlakukan mereka sebagai sasaran pemerasan.
IMPOSISI NILAI DASAR PERGERAKAN DALAM AGENDA REVOLUSIOR PMII

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang kelahirannya diharapkan menjadi salahsatu komponen bangsa untuk melunasi cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia harus mulai membenahi agenda gerakannya, kalau tidak demikian lambat laun gerakan PMII akan menjadi basi dan tak ada fungsi sosial.

PMII haruslah mampu mereparasi teoritik terhadap basis ontologism dan epistemic DNP. Gerakan PMII bertolak dari Nilai Dasar Pergerakan. NDP merupakan ikhtiar PMII untuk mensublimasi nilai-nilai Keislaman bagi tujuan pergerakan. Di dalamnya terkandung muatan Tauhid, Hubungan Manusia dengan Allah, Manusia dengan Manusia, dan Manusia dengan Alam. Tauhid merupakan prinsip dasar dari gerakan PMII. Dengan Tauhid, yaitu keyakinan bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah, kader PMII menyerahkan ketundukkan, ketakutan dan pengharapan mutlaknya hanya kepada Allah. Sehingga kader PMII tidak pernah takut dengan kenyataan dunia, dan selalu siap menghadapi apapun kenyataan yang dihadapi. 

Tauhid, Hubungan Manusia dengan Allah, Manusia dengan Manusia, dan Manusia dengan Alam adalah bangunan dasar yang satu sama lain bersifat koinsidensi, Koopreasi, Resiprokal. Koinsidensi artinya antara satu sama lain satu kesatuan, kooperasi artinya satusama lainnya saling kerjasama, dan resiprokal artinya saling mengandaikan. Kita mencintai alam tapi lupa tidak mencintai manusia juga keliru, kita berhubungan dengan tuhan dan manusia maka juga dengan alam.

PMII harus menjembatani antara yang imanen dan transenden, di dalam yang ardhi ada yang ukhrawi dan  didalam yang ukhrawi ada yang ardhi. Kalau bahasa etis filosofisnya Emmanuel Levinas mengatakan: “Dari wajah yang lain dari gelandangan-gelandangan ada tuhan , dari wajah-wajah ibu yang ditindas tanah-tanah yang dirampas ada tuhan yang sedang menjerit memanggil-manggil kita untuk bertindak etis”.

Kader PMII harus menjaga kedaulatan bangsa, kedaulatan pangan, kedaulatan lingkungan, kedaulatan energy dan lain-lainnya. Dengan memberikan imajinasi baru terhadap agenda gerakan revolusioner di Indonesia. Akibat dari rezim deflopmentalis orde baru telah mensedimentasi gerakan pemuda/mahasiswa yang satu menjadi agenda politik pragmatis yakni para akademis tulen dan satunya agenda politik konservatif yang setiap hari sibuk berdebat tentang perbedaan cara pandang dan perbedaan ajaran, sehingga terjadi disparitas antara Mahasiswa dan kaum lumpenproletariat. 

Mahasiswa tidak punya persenyawaan dengan masyarakat, pun PMII hadir sebagai kelas tertentu yang seakan-akan mau menyelamatkan masyarakat. Ini yang agak bermasalah dalam agenda mahasiswa di Indonesia, oleh karena itu disparitas tersebut harus kita jembatani. Kebanyakan gerakan pemuda di Indonesia menjadi alat oligarki dan alat represi ekonomi dan politik. Maka, PMII harus mengimposisikan Nilai Dasar Pergerakan sebagai sebagai aksi nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Pada akhirnya, Peringatan Hari Pahlawan PMII harus mampu menggali apinya, bukan abunya.Dengan meminjam ungkapan Bung Karno, semangat kepahlawanan itu adalah semangat rela berjuang, berjuang mati-matian dengan penuh idealisme dengan mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

Setelah Indonesia merebut kemerdekaannya, Semangat Kepahlawanan tidak cukup hanya dengan mempertahankan patriotisme defensif, kita butuh patriotisme yang lebih positif dan progresif. Patriotisme sejati bukan sekedar mempertahankan melainkan juga memperbaiki keadaan negeri. Untuk keluar dari berbagai persoalan bangsa hari ini, patriotisme progresif dituntut menghadirkan kedaulatan multidimensional bangsa tanpa terperosok pada sikap anti-asing. 

Pada dasarnya manusia memiliki panggilan hati  kemana mereka dan memberikan kontribusi terbesar mereka di berbagai bidang yang berbeda. Setiap orang adalah bagian dari umat manusia, dan sejatinya adalah para pahlawan untuk memberikan kekuatan satu sama lain.

Menjadi pahlawan bermakna siap menyumbangkan waktu, tenaga maupun materi untuk berkontribusi. Tidak perlu besar, seorang orang tua yang memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya pun dapat dikatakan sebagai seorang pahlawan.

Pada akhirnya, apa yang dibutuhkan dunia saat ini bukan lagi sosok pahlawan seperti di dalam animasi dan film, namun sosok yang berkontribusi secara nyata yang dimulai dari diri sendiri.

Artikel

Rangers Galileo

PMII Galileo – Pengamatanku yang sudah berjalan hampir 15 tahun pada Power Rangers, meskipun tidak sistematis dan komprehensif, agaknya sedikit sudah cukup untuk membuat aku berani bercerita tentang kisah-kisah yang tergambar dari serial action untuk anak-anak yang jaya pada pertelevisian Indonesia di awal era 2000an ini.

Pengamatan yang saya maksud antara lain adalah pada latar cerita, plot sampai twice-twice menarik dalam setiap serialnya. Kalau soal siapa aktor, sutradara, produser sampai konspirasi dibelakangnya, aku tak dapat menceritakan. Dan untuk tulisan ini, yang ingin aku bicarakan adalah soal plot yang ada dalam setiap kisah power rangers. 

Dalam kisah power rangers, selalu diawali dengan memberikan gambaran pada manusia-manusia korban bullying, si lemah, proletar sosial atau mustadh’afin kalau kata anak-anak pergerakan. Si korban ini memiliki perbedaan dari manusia pada umumnya, yang sering tergambar adalah mereka yang lemah fisiknya, kutu buku dan orang-orang intovert yang tak punya kawan. -kalau ada yang gusar aku memilih redaksi kawan dan tidak sahabat, lebih baik MAPABA lagi,, heeee- .

Selanjutnya, sang mustadh’afin ini akan segera perang batin, hari-harinya akan semakin risau, mereka berfikir kenapa dirinya berbeda dan kenapa dibully oleh teman-temannya, sampai pada satu titik kulminasi dimana mereka akan menerima semacam wahyu dari langit yang memberitahu pada sukma mereka, bahwa mereka bukanlah orang biasa, lalu mereka mendapat bisikan langit, bahwa sejatinya mereka adalah seorang power ranger, selanjutnya mereka dibaiat, dan setelahnya secara siknifikan mereka menjadi orang-orang yang sangat pede pun juga memiliki kekuatan kanuragan yang maha hebat. Selanjutnya mereka akan segera bertugas menjadi power rangers dengan jobdis utama adalah menjaga keamanan dan perdamaian umat manusia dari serangan monster-monster jahat. Tak pernah diceitakan soal gaji sebagai power rangers dan kapan mereka anak mengambil cuti haid atau hamil, padahal saat rangers pink mau berserikat, harusnya mereka mendapatkan hak itu. 

Hari-hari power rangers diisi dengan kegiatan berupa bangun pagi, sarapan, tapi tak sampai habis sudah dipangil kantor karena ada mosnter mengacau, lalu mereka turba mencari lokasi monster, bertarung, awalnya mereka kalah, lalu menang, lalu moster menjadi besar, kemudian power rangers memangil robot besar, robot dan moster besar berperang, awalnya robot kalah, lalu dapat comeback diakhir-akhir laga seperti Manchaster United era Alex Fergie dan diakhiri dengan kemenangan manis robot power rangers.

Plot kisah ini akan diulang setiap hari dan yang berubah hanya jenis monster dan bagaimana ansos serta reksos yang dilakukan para power rengers dalam menghadapi musuh. Analisa mereka selalu benar, aku curiga power rangers adalah alumni PKD. Heee-

Sekarang mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, “siapa itu power rangers?” saya yakin sahabat-sahabat semua akan menjawab “pahlawan pembela kebenaran”. Kecuali yang sudah baca buku filsafat, dan pandai berretoris, pasti akan  memaparkan makna power rangers dari konsep ontologis, epistemologis sampai aksiologis, dan akan lebih panjang jawabannya dari keseluruhan tulisan ini. Heee-

Lalu, kalau power rangers adalah pahlawan, apa persamaan power rangers dengan Soekarno, Hatta, Bung Tomo dan pahlawan-pahlawan lain yang kita kenal dari buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL)?

Kira-kira persamaannya kurang lebih adalah berikut:

Mereka semua sama-sama siap mati untuk perdamaian

Baik power rangers dan pahlawan nasional sejatinya dalam setiap gerakannya penuh dengan ancaman kematian. Lihat saja betapa gagahnya power rangers adu tembak dan pedang laser, salah pukul atau telat menghindar, kematian sudah jadi konsekuensinya. Pun demikian dengan pahlawan nasional kita, perjuangan mereka tak jauh dari ujung bedil kompeni, seakan-akan kawan terdekat pahlawan nasional adalah kematian, kapanpun dia bisa ditikam kompeni kalau salah gerak.

Tidak memikirkan dirinya sendiri, yang mereka lakukan adalah untuk kepentingan mensejahterakan umat

Power rangers siap dipanggil padahal sedang enak-enak makan adalah bukti kongkrit betapa hidup mereka sejatinya sudah tidak untuk kepentingan mereka sendiri. Hidup mereka sudah dihibahkan pada umat yang mereka sayangi. Sama halnya dengan pahlawan nasional, yang ada di hidup para pahlawan bukan memikirkan dirinya sendiri, visi besar pahlawan adalah memerdekaan bumi Indonesia dan mensejahterakan umat.

Siap ditawan musuh dan diasingkan

Sering kita lihat dalam kisah power rangers, salah satu diantara mereka ditawan musuh dan diasingkan, mereka dibuang karena mengganggu jalannya misi menguasai dunia. Dan ini pun sudah menjadi hal yang lumrah diterima pahawan nasional kita, bisa dibaca berbagai risalah yang mengisahkan pahlawan-pahlawan kita, pasti ada kisah tentang mereka diasingkan.

Standby 24 jam dalam menjaga perdamaian

Power tangers dan pahlawan nasional kapanpun dan dimanapun mereka sedang berada, saat ada bahaya mengancam, mereka akan siap bertempur. Tak perduli panas,hujan, petir, badai sampai kenangan mantan. Mereka akan tersus terjang tiran penghalan untuk mengalahkan musuh.

Jumlahnya tak banyak, alias orang-orang pilihan dan menonjol dari yang lain

Dan ya, ini sudah tentu. Pejuang kemerdekaan memang banyak, tapi yang kita kenal hanya beberapa. Power rangers juga demikian, pasti hanya diisi 3, 5 atau 6 orang saja dalam setiap serialnya. Ini semua karena mereka menonjol dari yang lain.

Hee mas, kalo sarat-saratnya cumak gitu, anak pergerakan juga pahlawan dong? Lihat saja pola hidup anak pergeraakan. Merani mati? Tentu! Demo musuh pentung satpam sampek bedil polisi gak membuat mundur dari barisan. Tidak memikirkan diri sendiri? Jelas, wong yang diperjuangkan itu kesejahteraan mustadh’afin, gak pernah to dengan anak pergerakan demo untuk mintak uang bayar kontrakan rayon yang sering telat tiap tahun. Siap ditawan? Wahh,, ojok ditanyak mas, berapa jumlah anak pergerakan yang jadi tawanan kampus dan di blacklist karena perjuangannya? Jari kita sampek tak cukup menghitungnya. Standby 24 jam? Ehhee mas, kita pembacaan buat demo itu biasa lo sampek subuh dan pagi sudah siap demo. Kalo ada rapat-rapat dan kajian, kita juga selalu siap sedia kapanpun. Dan jumlahnya tak banyak? Wahh jelas mas. Rasio mahasiswa pegerakan dengan seluruh mahasiswa disuatu kampus bisa dihitung sendiri lah.

Dan tepat sekali, aku juga sepakat kalau menyebut mahasiswa pergerakan sudah punya bekal menjadi pahlawan. Dari seluruh anak pergerakan, hanya ada beberapa saja kan yang sangat dikenal publik. Seperti ratusan pahlawan kita, pikiran kita pasti tak jauh-jauh dari nama soekarno, hatta, yamin, bung tomo. Dan tentu, itu karena pahlawan-pahlawan yang lebih dikenal ini lebih menonjol, unik serta otentik.

Mari kita seret pengandaian ini pada Rayon ‘pencerahan’ Galieo. Siapa yang tidak kenal anak galileo yang ikut demo bela kendeng tolak semen melawan Ganjar Pranowo di Semarang?. Siapa yang tak kenal anak galileo yang menjadi pejuang literasi dengan membat komunitas literasi gubuk tulis?. Siapa yang tak kenal anak galileo yang menjual bubur untuk dana kuliah dan sekarang sudah hatam menjadi master kimia?. Siapa yang tidak kenal anak galileo yang menjadi aktivis media sosial dengan mengembangkan akun info positif berupa kutipan-kutipan tokoh publik?. Siapa yang tak kenal anak galileo yang menjadi inisiator Gerakan GUSDURian Muda Kota Malang dan sekarang sedang menjadi koordinator GUSDURian Probolinggo?. Siapa yang kan kenal anak galileo yang menjadi inisiator dibentuknya rayon galileo?

Sejatinya dalam memahami pahlawan dan kepahlawanan, tak perlu jauh-jauh, karena disektar kita ada pahlawan-pahlawan baru dibidangnya masing-masing. Yang perlu dilakukan bukanlah mengalahkan orang lain atau mengusahakan diri lebih baik dari orang lain agar kita terlihat lebih ngaktifis dan lebih pahlawan. 

Sahabat semua tek perlu menjadi aktivis yang lebih aktivis soal agraria agak bisa mengalahkan Encok, Ihya dan Izzudin. Sahabat semua tak perlu membuat gubuk tulis lain untuk mengalahkan Muiz. Sahabat semua tak perlu jualan bubur dan menjadi master kimia untuk mengalahkan Erwanto. Sahabat semua tak perlu membuat sabda perubahan baru untuk mengalahkan Yasin Arif. Sahabat semua tak perlu menginisiaasi GUSDURian lain untuk mengalahkan Anas Ahimsa dan sahabat semua tak perlu membuat rayon-rayon baru untuk mengalahkan Ahmad ‘Buset’ Busaidi. 

Yang perlu dilakukan adalah mengalahkan diri sendiri. Perjalanan lebih jauh dan lebih dalam untuk mengenal diri sendiri. Karena dengan bergabung di PMII, kita sudah punya bekal-bekal menjadi pahlawan (baca makna pahlawan di KBBI), tinggal mengalahkan musuh terbesar kita, diri sendiri!. 
Yogyakarta, 9 November 2017

Bakhru Thohir (Pernah MAPABA dan PKD di Rayon “pencerahan” Galileo ke-XII dan sampai sekarang belum hafal tujuan, tri hikmat, tri motto apalagi NDP PMII)