Rabu , Desember 12 2018
Breaking News
Home / Sastra Sahabat / Bercerminlah Wahai Manusia

Bercerminlah Wahai Manusia

Manusia

Sudahkah bercermin pada firman Sang Pencipta?

Mensisati diri tercipta dari apa

Itukah keajaiban Tuhan merubah tanah

Ataupun dari setetes air hina bernama sperma

Tertunduklah pandang diri manusia

Segagah apa mereka berkuasa

Tertawa lepas dengan rasa bangganya

Tanpa muraja’ah diri dari mana asal muasalnya

Manusia,  Sudahkah bercermin pada kalam Sang Maha Raja?

Bertitah dengan amar ma’ruf nahi munkar yang telah diperintah

Menginjakkan kaki di persada bumi dengan niat yang tertata

Memberi tafsir dalam setiap alur cerita

Benarkah manusia telah menghambakan diri ?

Membasmi hama pikir yang mengatakan tugas dari tuhan adalah kerja rodi

Menyandarkan diri dengan butiran doa  “Nawwir Qolbi”

Atau menyalahgunakan kekhalifahannya untuk memperkosa bumi

Tanpa megingat dalam khalifah terdapat banyak arti

Manusia

Berapa persen kebenaran yang ada dalam setaiap kata

“MANUSIA MEMANG TEMPAT SALAH DAN LUPA”

Apakah justru itu adalah sebuah budaya bagi manusia ?

Tata letak ladzat kaum berdarah segar

Jika dikatakan anarkis , bukan lagi hal yang miris

Jika dikatakan berbelit, bukan lagi hal yang sulit

Sebuah tata letak, berdimensi ruang

Akan tetapi entah tak bisa dirasa dengan gambaran murahan

Tegur? Layak  daun yang gugur tanpa ada guna yang menjadi wadah

Nasihat? Layak majnun yang berhujat pada cerminan dirinya

Lantas apa yang menjadi tatanan indah berdimensi tak terhingga ?

Ladzat kah yang menjadi unsur unsur tata letaknya?

Sisi apa yang menjadi kesenangan tiada keterbatasan?

Wahai kaum berdarah segar

Torehan darah menjadi hiasan dimensi tak terhingga, apa kau memahaminya?

Taburkan segenggam tanah bercampur darah pada ruang yang akan kau hias

Lihatlah betapa indah atau hina yang kau perbuat ?

Semua hanya mereka kaum berdarah segar yang bisa mengartikannya

Tanpa ada kesalahan yang mengancam, karena waktu menjadi perputaran dimensi tata letak ladzat yang ada

Dikala zaman menjadi sebab musababnya.

 

Kontribusi : Sahabati Qothrunada. Sahabat Simpati 2015.

Tentang sahabatgalileo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *