Rabu , Desember 12 2018
Breaking News
Home / Artikel / Refleksi Gender yang (agak) Bias

Refleksi Gender yang (agak) Bias

Selamat siang dan selamat beraktivitas dihari Senin, sahabat-sahabat pergerakan. Setidaknya cuaca dihari ini masih menunjukkan keberpihakannya, yang membuat kita semua dapat melanjutkan aktivitas kita masing-masing. Juga disini penulis hendak mengucapkan selamat dan sukses atas diwisudanya (19 Maret 2016) senior saya serta senior kita semua, terima kasih pula atas pemberian cambuk cerita yang membuat kita terus bergerak dalam jalurnya. Pun penulis mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya (19-20 Maret 2016) Sekolah Islam Gender oleh Heksa Rayon PMII Komisariat Sunan Ampel Malang.
Ada sedikit pembahasan menarik menyoal gender hari ini, hanya sebagai hal reflektif saja. Membincangkan soal gender, ada hal hal mendasar yang selalu menjadi ambiguitas bagi penulis, “siapa berbuat apa, siapa memiliki apa, siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan, siapa yang memutuskan; laki-laki atau perempuan ?”. Kesemua itu, bagi penulis mungkin menjadikan pola pikir yang dinamis ketika membincangkan soal gender.
Dalam posisi ini, mungkin kita semua terus menyepakati mengenai konsepsi ‘kesetaraan gender’. Dengan hal itu selalu disuarakan oleh pegiat-pegiatnya, khususnya kaum perempuan. Kemudian yang menjadi dasar mengenai gender adalah artkulasinya sebagai interpretasi mental dan budaya terhadap perbedaan kelamin; yaitu perempuan dan laki-laki. Karena biasanya gender dipergunakan untuk menunjukkan pembagian yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan. Bagi penulis, mengagungkan kesetaraan gender akan memunculkan bias gender yang akut. Hal itu dapat kita lihat dari segi pemposisian laki-laki dan perempuan dalam konteks keseharian.
Dalam Al-Qur’an telah disampaikan pada Surat An-Nisa’: 34 , bahwa “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan mereka(laki-laki) telah memberikan nafkah dari sebagian harta mereka”. Sederhananya, islam klasik menafsirkan ayat tersebut bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Kemudian bagi pegiat gender kekinian, tafsiran tersebut sedikit disanggah untuk (lagi-lagi) menyetarakan posisi antara laki-laki dan perempuan. Mungkin mereka memandang bahwa, jika hal tersebut dikonsumsi mentah akan menimbulkan pandangan perempuan yang termajinalkan. Lalu dari penulis, tentunya arti tekstual itu masih mengandung unsur sosio-historis saat itu. Kemudian ditranslasikan menyesuaikan perkembangan dan kebutuhan zaman.
Jika melihat konteks kesetaraan gender, marjinalisasi perempuan terjadi semenjak zaman kolonial Londo. Kesewenangan gender tersebut sangat nampak pada abad ke-19. Pada waktu itu perempuan-perempuan kelas bawah menjadi korban pelampiasan seksual oleh kaum bangsawan dan alat ekspansi kekuasaan kaum bangsawan. Mereka diangkut ke istana untuk dijadikan ‘istri percobaan’ yang dapat diusir sewaktu-waktu sampai ndoro-ndoro mereka memperoleh istri yang sederajat. Eksplotasi ini nampak hidup dalam tulisan sastra, seperti kisah Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Hingga dieranya, mulailah muncul pergerakan nasional yang menyuarakan keadilan gender, sebut saja R.A Kartini.
Kemudian pergerakan tersebut berlanjut pada masa transisi kolonial ke orde lama, sebut saja Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Mereka terus menyuarakan keadilan gender, khususnya untuk kaum perempuan dan hingga pada perjuangan menjaga keutuhan NKRI. Perjuangan tersebut berdasarkan pada sejarah perempuan sendiri yang dirasa mengalami dehumanisasi pada saat itu.
Hingga sampai orde baru dan reformasi, perjuangan keadilan dan kesetaraan gender telah mengalami proses legitimasi yang kuat, dilihat pada munculnya Badan ke Negaraan yang menaungi tentang masalah gender, perempuan lebih khususnya. Kemudian, hanya tinggal kelanjutan pergerakan daripada gender yang tentu itu berdasarkan pada artikulasinya, mengenai mental dan budaya terhadap perbedaan kelamin. Karena pada dasarnya, muara ketidakadilan gender sebagaimana keadilan lain di muka bumi ini adalah dehumanisasi manusia. Selama penindasan itu ada, perlawanan sebagai ekspresi ketertindasan ataupun kebangkitan kesadaran.
Dengan itu semua, gerakan-gerakan yang mengatasnamakan gender bisa menjadi acuan kita bersama, bahwa adil tak sepenuhnya harus setara dan setarah adalah pondasi awal untuk mewujudkan keadilan.
Kembali disini penulis menyampaikan, bahwa tulisan ini hanya subyektifitas pribadi saja yang mencoba untuk tetap dinamis dalam berpikir. Diakhir, semoga bermanfaat untuk kita semua.
Wallahu a’lam.

 

kontributor : Sahabat Moh. Izzuddin (Ketua Rayon 2015-2916)

sumber gambar : http://www.iflscience.com/

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

KEHIDUPAN DI PENGHUJUNG KEMATIAN

PMII Galileo – Angin fajar mendesir lembut di antara tiang penyangga satu saung di pertengahan …

Sebatas Hari Kasih Sayang

PMII Galileo – Ironi yang sangat disayangkan, khususnya pada remaja saat ini. Menghadapi tanggal 14 …

Asmatku Belum Teruji

PMII Galileo – Hari-hari ini hampir di semua media social tengah membincangkan persoalan #KartuKuningJokowi. Berjibun komen …

VALENTIN’S DAY: Dialektika Hukum dalam Perspektif Remaja Era Futuristik

PMII Galileo – Gejolak perbedaan pendapat dalam menanggapi suatu hukum permasalah dalam ranah pemuda di …

Kau Anggap Aku Ahlul Bid’ah. Kamu?

PMII Galileo – Berbicara masalah Bid’ah pasti sudah tidak asing lagi dibenak sahabat Galileo. Utamanya …

Aku “NU”, Jangan Kau Ambil Namaku

PMII Galileo – “Miris, sampai hati ini ikut menangis.Ideologi yang susah payah dibangun ulama’ku justru …

Peran Mahasiswa Masa Kini

PMII Galileo– Sebagai mahasiswa kita perlu mengetahui apakah esensi sebenarnya yang terkandung dalam satu kata …

Filsafat Sebagai Ilmu Kritis

PMII Galileo – Sejak awal Negara Barat terjadi dikotomi antara agama dan filsafat. Sebelum berkembangnya …

UIN Maliki Malang Bentuk Lembaga Riset dan Fatwa “Majma’ Al-buhuts wa Al-ifta” 

PMII Galileo – Universitas Islam Negeri Malang, sebagai salah satu Universitas dengan eksistensi yang cukup …

INTERPRETASI PAHLAWAN DALAM ORIENTASI PMII MASA KINI

PMII Galileo –  Setiap tanggal 10 November, Bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, sebagai momen reflektif untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *