Rabu , Desember 12 2018
Breaking News
Home / Biologi / Indonesia Butuh EDINPRO (Edukasi, Inovasi, dan Promosi) Jajanan Tradisional

Indonesia Butuh EDINPRO (Edukasi, Inovasi, dan Promosi) Jajanan Tradisional

Indonesia Butuh EDINPRO (Edukasi, Inovasi, dan Promosi) Jajanan Tradisional Guna Mewujudkan Masyarakat Sehat dan Mandiri

Oleh: A.Z.M. Hilmy*, A.M. Hikmah*, N.R. Sari*

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak hal baru yang ditemukan oleh manusia guna menyejahterakan dan mempermudah kehidupan. Terlebih pada apa yang dimakan oleh manusia. Makanan merupakan kebutuhan mutlak setiap individu yang tanpa itu, mereka tidak dapat hidup. Di samping kebutuhan akan makanan utama, banyak orang yang membutuhkan makanan ringan atau jajanan sebagai pelengkap makanan utama bahkan sekedar pengganjal perut saat lapar tak tertahankan dan kesibukan yang seakan tidak mau berkompromi dengan kondisi perut. Lain halnya dengan anak-anak, bagi mereka saat ini lebih baik tidak makan nasi daripada tidak makan camilan (ngemil). Hal ini sebenarnya bukan salah anak-anak, akan tetapi karena pengaruh globalisasi yang tidak bersahabat dengan mereka.

“Seluruh kepentingan dunia harus mengacu pada kesejahteraan bangsa Indonesia. Jika globalisasi tidak menyejahterakan bangsa Indonesia, harus kita tolak!”, tegas Gus Dur dalam acara “One Day Globalization, Indonesian and You” yang diselenggarakan Institut Pengembangan Sumber Daya Manusia (IPSDM) Mayagita di Jakarta. Ucapan Presiden Indonesia ke-IV ini secara tidak langsung seharusnya membuat masyarakat berpikir bahwa tujuan globalisasi adalah untuk kesejahteraan rakyat, bukannya menyengsarakan. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, derasnya arus globalisasi membuat para penikmat jajanan tradisional Indonesia berangsur-angsur mulai beralih ke jajanan buatan pabrik yang cenderung menawarkan berbagai rasa dan warna yang menggiurkan.

Selain itu, jajanan pabrik juga lebih mudah didapat saat ini. Jajanan seperti sosis, snack, nugget dijual murah meriah di pelataran sekolah. Belum lagi dengan bentuknya yang beraneka ragam disertai kemasan yang unik tentunya banyak menarik minat anak-anak untuk membelinya. Padahal, dibalik itu tersimpan berbagai macam racun yang bisa merusak tubuh secara perlahan. Menurut BPOM RI (2009), sebanyak 45 % jajanan yang dijual di halaman sekolah mengandung beragam zat pengawet ataupun pewarna seperti formalin,

boraks, rhodamin dan methanil yellow yang bisa membahayakan bagi tubuh jika dikonsumsi secara terus-menerus.

Coba bayangkan apabila anak-anak mengkonsumsi zat-zat tersebut setiap harinya, berapa ribu penyakit yang nantinya akan menggerogoti tubuh mereka. Sebanyak 99 % anak-anak mengkonsumsi jajanan di sekolah dalam sehari untuk memenuhi energinya saat bersekolah. Bandingkan dengan jajanan tradisional Indonesia yang kaya akan nutrisi dan tanpa campuran bahan pengawet, akan tetapi justru malah ditinggalkan. Ironi bukan! apa yang salah dengan onde-onde, cenil, serabi, kelpon dll? mungkin jajanan seperti itu sudah jarang ditemui di zaman yang modern ini. Padahal jajanan tersebut dibuat dengan bahan alami yang mengandung banyak nutrisi bagi tubuh. Koswara (2006), menjelaskan dalam 4 buah klepon /50 gr, mengandung kalori 50 kal; protein 0,6 g; lemak 2,7 g; hidrat arang 20,1 g; dan air 26, g. Pertanyannya, masih perlukah kita mempertahankan jajanan Indonesia agar tidak punah ditelan zaman?

Jawabannya tentu tidak perlu dibahas lebih lanjut karena telah dipaparkan sebelumnya terkait kekurangan dan kelebihan jajanan tradisional Indonesia dan jajanan luar. Saat ini yang dibutuhkan adalah cara untuk mempopulerkan jajanan tradisional Indonesia agar bisa kembali memikat hati masyarakat. Hal ini tentunya bukan tanpa sebab, dengan mengkonsumsi jajanan tradisional Indonesia akan merubah gaya hidup masyarakat yang tidak sehat sekaligus akan menjunjung nilai Indonesia di mata dunia. Lalu harus diapakan jajanan tradisional Indonesia ini? Pasti akan timbul pertanyaan semacam ini di kalangan masyarakat.
IDE CEMERLANG

Sebagai pemuda yang peduli terhadap nasib bangsanya kedepan, maka sudah selayaknya turut serta aktif dalam menyelesaikan masalah yang sedang terjadi. Dalam hal ini pemuda mempunyai tugas untuk mengangkat dan megembalikan citra jajanan tradisional menjadi jajanan yang dapat bersaing bahkan dapat menandingi jajalan luar. Seorang pemuda harapan bangsa harus berani terjun langsung dalam mengatasi setiap permasalahan yang ada. “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”, kata Bung Karno dalam salah satu pidatonya. Ungkapan tersebut menyiratkan akan pentingnya peranan pemuda dalam membangun bangsanya, karena diatas pundak merekalah masa depan bangsa dipertaruhkan.

EDUKASI

Untuk mengawali langkah dalam memperbaiki citra jajanan tradisional dapat dilakukan dengan jalan edukasi. Edukasi disebut sebagai pendidikan merupakan hal penting yang perlu ditekankan dalam memulai suatu tujuan. Pengarahan pendidikan terkait dengan bagaimana mengangkat citra jajanan tradisional dalam masyarakat dimulai dengan penyuluhan kepada pembuat jajanan itu sendiri.

Penyuluhan dilakukan dengan mengumpulkan produsen jajanan tradisional yang dibentuk dalam sebuah komunitas untuk diberi pengarahan, mulai dari pembuatan produk hingga uji kualiatas hasil olahan jajan. Lain halnya dengan anak-anak yang berperan sebagai konsumen terbanyak untuk jajanan. Pembelajaran kepada anak-anak dapat dilakukan dengan mengajak mereka untuk ikut serta dalam proses pembuatan jajanan tradisional. Selain itu, anak – anak dapat mempelajari jajanan Indonesia lewat buku, kuis, ataupun game disela-sela proses pembuatan jajanan agar kegiatan pembelajaran tidak menjenuhkan.

INOVASI

Jajanan tradisional yang dulunya pernah eksis dikancah nasional lambat laun mulai terkikis kepopulerannya dengan jajanan luar, untuk itu masyarakat harus mencoba membuat jajanan tradisional menjadi primadona dikalangan anak-anak seperti pada era 80-an. Tentu saja hal ini sulit untuk dilakukan, tetapi bukan berarti mustahil dilakukan sebagai bentuk kecintaan terhadap produk – produk tanah air. Hal ini bisa dimulai dengan merubah tampilan kemasan jajanan tradisional yang dulunya dikemas hanya dengan daun pisang, plastik, kertas minyak bahkan hanya ditusuk menggunakan bambu menjadi tampak lebih menarik dan mengesankan.

Mata penikmat jajanan pertama kali tentunya akan melihat pada kemasan jajanan sebelum melihat isi jajanan tersebut sebagai bentuk kualitas kelayakan untuk dimakan. Menanggapi hal tersebut, tampilan kemasan haruslah diubah menjadi bungkus yang berwarna – warni, bergambar, atau dibungkus dalam bentuk-bentuk yang unik, seperti bentuk kartun animasi (doraemon, sinchan, dragonball) atau gambar–gambar tokoh pahlawan dalam perfileman layaknya spiderman, batman, power ranger, ultramen, dan sebagainnya. Dengan tetap memperhatikan kualitas isi dan rasa jajanan tersebut.

PROMOSI

Media informasi dan komunikasi mempunyai peranan penting dalam menyebarkan informasi dan kondisi yang sedang terjadi, mulai dari media cetak, media audio, maupun media audiovisual. Berbagai jenis media ini biasa dipergunakan sebagai lahan promosi mulai dari pakaian, tempat tinggal, hingga makanan. Salah satu media yang akrab di masyarakat adalah televisi, hampir setiap keluarga mempunyai minimal satu buah televisi. Iklan (promosi produk dan jasa) mau tidak mau akan kita jumpai di televisi. Hal ini dikarenakan iklan biasanya dijadikan pengisi di sela-sela acara telivisi dan bahkan sekarang mulai dimasukkan ke dalam acara tersebut.

Produk makanan maupun minuman yang diiklankan di televisi saat ini masih berupa produk yang instan dan berpengawet serta kebanyakan terpengaruh produk buatan luar negeri. Makanan tradisional Indonesia masih jarang dipromosikan lewat pengiklanan ini. Hal ini bukan semata-mata karena biaya promosi lewat televisi yang selangit, akan tetapi juga dikarenakan minimnya pengetahuan produsen jajanan tradisional terkait cara mempromosikan produknya. Menaggapi hal tersebut maka perlu dilakukan pembimbingan langsung yang dapat berupa sosialisasi serta pemaparan mengenai tata cara pengajuan iklan ke televisi kepada produsen jajanan tradisional.

Media cetak berupa majalah, koran, dan katalog dapat dijadikan sebagai agen kedua untuk mememasarkan produk jajanan tradisional selain melalui media audiovisual. Media cetak dapat diterbitkan setiap bulan dengan edidsi – edisi terbaru yang dapat memberikan kreativitas produsen jajanan tradisonal dalam mengembangkan produknya. Semakin beranekaragam tampilan produk, tentunya penikmat jajanan semakin terpikat untuk membeli. Seperti katalog, dapat menyediakan pemesanan secara grosir dari produsen yang dapat dikirim secara cepat. Ini menjadikan produsen jajanan lebih mudah dalam mempromosikannya tanpa harus menjualnya ke pasar setiap hari dan membutuhkan tempat khusus untuk berjualan.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Pengaruh globalisasi menyebar di segala bidang, mulai dari cara berpakaian, hingga makanan yang dikonsumsi. Hal ini membuat perubahan gaya hidup di berbagai negara, termasuk Indonesia. Negara yang dijuluki sebagai paru-paru dunia ini sekarang mulai kehilangan jati dirinya karena arus globalisasi yang menggerus kekayaan alam Indonesia, salah satunya dibidang makanan. Makanan tradisional mulai kurang diminati, bahkan seakan menghilang dari jiwa bangsa Indonesia. Tentunya hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja karena semua warga NKRI seharusnya turut merubah kebiasaan buruk ini, terutama pemuda. Masa pertengahan antara anak-anak dan dewasa ini membuat jiwa seorang pemuda lebih aktif dan kreatif dibandingkan dengan yang lain.

Langkah pertama yang harus dilakukan guna mengubah gaya hidup ini adalah dengan EDUKASI. Edukasi disini merupakan pembelajaran terkait pengolahan makanan tradisional secara benar dan berbagai macam manfaat yang bisa didapatkan dari mengkonsumsi jajanan tradisional, khususnya bagi tubuh. Edukasi ini ditujukan kepada pihak produsen maupun konsumen, terlebih pada anak-anak yang sangat menggemari jajanan. Langkah kedua yakni dengan INOVASI. Inovasi sendiri terkait perubahan ke arah yang lebih baik yang bisa diterapkan kepada jajanan tradisional, mulai dari pengemasan hingga sampai kepada konsumen.

PROMOSI, merupakan langkah terakhir dalam mengangkat citra jajanan Indonesia. Dalam mengenalkan jajanan ini saat ini tidak harus dengan berjualan keliling mengitari desa, akan tetapi bisa dengan memanfaatkan media informasi mulai dari visual hingga audiovisual. Agar promosi ini berjalan optimal bisa dengan menambahkan hal-hal yang kreatif dan unik seperti warna dan desain yang beragam pada majalah kuliner. Tiga jenis solusi ini lambat laun akan mendongkrak jajanan tradisional Indonesia yang mulai tenggelam ditelan zaman. Tentunya pemuda juga berperan penting dalam pelaksanaan beberapa solusi ini. Mereka sebagai media penyambung antara orang dewasa yang mayoritas menjadi produsen dan anak-anak menjadi konsumen. Pemuda bukan hanya pemuda, tapi pemuda adalah penyemangat bangsa.

 

DAFTAR PUSTAKA
Aimah, S., dan Ulvie, Y.N.S. 2015. Peran Orang Tua Terhadap Optimalisasi Jajanan Sehat pada Tumbuh Kembang Anak. The 2nd University Research Coloquium. ISSN 2407 – 9189

Hamida, K., Zulaekhah, S., Mutalazimah. 2012. Pemyuluhan Gizi dengan Media Komik untuk Meningkatkan Pengetahuan tentang Keamanan Makanan Jajanan. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol. 8. No. 1. Hal. 67-73

http://www.gusdur.net/id/berita/tolak-globalisasi-jika-menyengsarakan-rakyat, diakses pada tanggal 18 Desember 2015, pukul 15.27 WIB, Malang

http://www.kompasiana.com/edisembiring/warisan-bung-karno 55004b56a333115973510416, diakses pada tanggal 17 Desember 2015, pukul 16.12 WIB, Malang

Koswara. 2006. Isoflavon, Senyawa Multi Manfaat dalam Kedelai. (http://www.e-bookpangan.com). Diakses tanggal 15 Desember 2015

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

PMII Galileo – Cara  untuk  meyakinkan dugaan atau hipotetis tentang tingkat keterpilihan Bakal Calon (Balon)/Calon dalam …

Salahkah Aku (berOrganisasi)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh⁠⁠⁠⁠ Selamat malam warga dunia maya! Persaingan zaman globalisasi yg makin kompetitif, yang …

(sudahkah) kita merdeka

Hiduplah Indonesia Raya,,, Hampir 71 tahun sudah, bendera Sang Saka berkibar dengan beratasnamakan NKRI disertai …

Haruskah ‘Gender’ ?

Sebelumnya, mari kita coba merenungi sejenak apa itu hakekat gender sebetulnya? bagaimana kita memaknai antara …

Ladzat Kaum Berdarah Segar

Mempelajari hal yang terkecil itu perlu, merasa bisa dan mengerti  merupakan sifat yang gak bisa …

GENDER BUKANLAH PEMBATASAN JENIS KELAMIN BIOLOGIS

Permasalahan kesetaraan gender merupakan masalah yang tidak ada habisnya. Banyak isu-isu yang muncul kemudian tertuju …

Refleksi Gender yang (agak) Bias

Selamat siang dan selamat beraktivitas dihari Senin, sahabat-sahabat pergerakan. Setidaknya cuaca dihari ini masih menunjukkan …

Polemik Perayaan Hari Valentine

Awal bulan februari yang hampir setiap hari didampingi dengan derasnya hujan, membuat sebagian orang merasa …

Membaca sebagai Kesadaran Berbangsa dan Bernegara

Untuk gelap yang melampaui dinginnya embun, selamat malam sahabat. Kurang lebih, begitulah suasana malamnya Malang …

Khalifah (yang) Khilaf

Selamat pagi sobat, sudahkah menyeduh kopi di Minggu pagi yang cerah ini ? Jika belum, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *