Rabu , Desember 12 2018
Breaking News
Home / Opini / Membaca sebagai Kesadaran Berbangsa dan Bernegara

Membaca sebagai Kesadaran Berbangsa dan Bernegara

Untuk gelap yang melampaui dinginnya embun, selamat malam sahabat. Kurang lebih, begitulah suasana malamnya Malang dan tentu secangkir kopi adalah kekancan yang ideal untuk melalui rangkaian hari ini. Masih dengan suasana hujan yang membawa dingin serta kenangan (#eeh) dan karena itu mari kita hadirkan hangatnya malam melalui aktivitas berpikir yang menghasilkan buah pikir.
Teringat suatu pembahasan diskusi kecil dengan salah seorang Sahabat menyoal budaya yang dikhususkan mengenai kebudayaan baca-membaca. Dengan mengawali pembicaraan mengenai cita-cita Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, yang kemudian semakin hangat membahas tabiat dan budaya para pemuda penerus bangsa hari ini, pun didalam diskusi kecil ini menghadirkan banyak sekali kritik membangun untuk kita sebagai penerus bangsa. Inilah yang kemudian ingin penulis angkat menjadi suatu problematika yang perlu kita bahas pada kesempatan kali ini.
Sering kita mendengar pertanyaan mengenai, “mengapa negara kita susah bersaing dengan negara-negara lain, apa ada yang salah dalam sistem perikehidupan rakyat kita ?” atau “kapan negara kita dapat menandingi negara-negara maju ?”. Lalu hal tersebut selalu dikait-kaitkan dengan strata pendidikan, inovasi dan rekayasa teknologi, serta karya-karya pribumi yang itu untuk dimonumentasikan sebagai bukti perkembangan dan kemajuan negeri. Daripada itu semua, terdapat hal yang mendasar untuk kita kaji bersama, yakni mengenai “apa yang menjadikan mereka lebih maju dari kita”.
Peradaban suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan dihasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang didapat, sedngkan ilmu pengetahuan didapat dari informasi yang diperoleh dari lisan maupun tulisan. Dalam hal ini penulis sangat bersepakat, bahwa untuk memajukan negeri hMembacaarus diawali dengan proses membaca untuk kemudian agar dapat mendapat informasi dan wawasan.
Bahwa berkembangnya dari era orde lama ke era reformasi sudah sangat memberi pengaruh pada hal yang umum hingga spesifik secara signifikan. Pengaruh perkembangan infrastruktur adalah salah satu wujud perkembangan paling kontras untuk kedua proses di era orde lama hingga reformasi. Namun, penulis tidak sedang membahas pengaruh umum yang diberikan oleh perkembangan era tersebut; melainkan penulis mencoba membahas pada pengaruh yang belum kita sadari, yakni perkembangan baca-membaca
Coba kita sedikit berimajinasi mengenai kondisi baca-membaca pada era orde lama, orde baru, dan reformasi. Pada era orde lama atau pada pemerintahan Soekarno, yang pada era ini masih terdapat problematika ketahanan negara. Proses perkembangan pendidikan mengalami step awal, yang dalam hal ini Ki Hajar Dewantara diamanahi sebagai Menteri Pengajaran dan Kebudayaan sebagai generasi awal bidang pendidikan pasca kemerdekaan. Pandangan atau konsepsi politik Soekarno mengenai Nas-A-Kom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) ini juga mempengaruhi dinamika dan stabilitas negara yang terdapat tiga komponen penting; yakni tentara, kelompok-kelmpok islam, dan komunis.
Disisi lain, pada berbagai hal juga terdapat anggapan atau asumsi dari masyarakat bahwa Soekarno adalah penganut hal-hal yang berbau komunisme (lebih khususnya sosialisme); anggapan ini tentu dari keseharian dalam hal pemikiran dan tutur kata Soekarno pada saat itu yang sering menyebut istilah-istilah sosialisme atau (pernah) komunisme. Daripada hal tersebut, mulailah masuk literasi atau wacana komunisme di Indonesia, yang juga melalui salah satu tokoh komunisme atau dapat disebut sebagai salah satu orang kepercayaan Soekarno; yakni Tan Malaka.
Di era orde lama pun, hubungan Soekarno dengan negara-negara berpaham sosialisme dan komunisme bisa dibilang berada pada titik ideal, yang mempunyai pengaruh pada bertambahnya literasi dan wacana komunisme global. Kemudian daripada itu, Soekarno juga mencanangkan misi “pemberantasan buta huruf” yang dalam hal ini bisa kita tafsirkan bersama sebagai membaca-menulis. Misi memberantas buta huruf ini bukan hanya mengajari rakyat untuk bisa baca dan tulis, bukan hanya mengarahkan rakyat dari gelap menuju terang; tapi juga sebagai misi penyempurnaan kewarganegaraan. Untuk hal ini, coba penulis kutip dari tokoh internasional Lenin bahwa, “seorang manusia buta huruf adalah diluar dunia politik.” Maksud dari apa yang disampaikan Lenin; tanpa membaca dan menulis, berarti seseorang tidak bisa menyadari hak dan kewajibannya sebagai warga negara, seorang tersebut akan sulit bertindak atas nama dirinya karena tidak bisa membaca konstitusi dan memahaminya.Indonesia membaca
Bahwa di era orde lama ini penulis menganggap sanggupnya membaca dan menulis adalah suatu kelebihan hebat bagi pribumi yang bisa disebut sebagai kaum terpelajar. Jadi teringat surat Kartini kepada sahabatnya Estelle Zeehendelaar, “duh, sekarang aku mengerti, mengapa orang begitu menentang keterpelajaran orang Jawa. Kalau orang jawa terpelajar, dia tidak akan gampang menjadi pengamin saja, takkan menerima segala macam perintah atasannya lagi.” Juga pada perjuangan beliau untuk kemudian mengajarkan pribumi agar melek huruf, pada saat itu.
Disisi lain, perlu juga kita sadari bahwa kondisi diera orde lama ini tidak terdapat fasilitas tempat ataupun buku yang optimal untuk dikonsumsi rakyat sebagai pengetahuan dan wawasan, yang tentu karena keterbatasan ini dan itu. Dengan melihat modernitas dan perkembangan zaman, diera orde lama sangat jarang menyediakan literasi global yang sudah diterjemahkan dalam bahasa nasional untuk kemudian dapat dibaca dan dipelajari oleh rakyat masa itu.
Pada era orde baru atau pemerintahannya Soeharto, dengan diawalinya supersemar (surat perintah sebelas maret) yang mungkin masih ada hal kontroversial hingga saat ini. Penulis tidak akan membahas bagaimana dinamika pergantian orde lama ke orde baru walaupun hanya sepengetahuan penulis apalagi pengaruh dari orde baru ini yang tidak sesuai. Setidaknya, kita sama-sama berimajinasi mengenai bagaimana pengaruh positif untuk perkembangan Indonesia di beberapa hal, khususnya perkembangan dibaca-membacanya. Mengenai pemerintahan Soeharto, terdapat beberapa hal yang sangat kontras untuk kemudian kita munculkan sebagai pembahasan yang renyah; namun, kita tidak akan mendalami kesemuanya, hanya sebagian saja yang itu relevan untuk kita bahas. Tentu, menjadi sebuah kesadaran bagi para pendahulu yang berkesempatan hidup pada pemerintahan orde baru untuk menyatakan bahwa, hilangnya hak bersuara dan hilangnya hak demokrasi atau bisa dianggap otoritas penuh dari pemerintahan orde baru; hal itu yang kemudian menjadi kontras pada masanya.
Kemudian adanya hal kontras lain terdapat pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat dimasa itu, juga begitu hebatnya perkembangan infrastruktur karena terbukanya ruang untuk korporasi-korporasi dan investor asing yang hari ini masih kita rasakan pengarunya. Anggapan atau asumsi bahwa tidak adanya ruang untuk beraspirasi ini yang kemudian menjadi pelabelan bahwa, dominasi kelompok aparat yang berlebih.
Bahkan, berbagai kabar dari orde baru yang penulis terima adalah mengenai upaya genosida terhadap kelompok penganut komunisme atau bahkan yang terinduga menganut komunisme; yang menurut penulis diorde lama telah menjadi salah satu lokomotif perkembangan pemikiran negeri maupun global. Terkait berbagai upaya genosida yang berbau komunisme (termasuk produk, buku, dan simbol) ini juga berdampak bagi kaum terpelajar, untuk berwawasan mengenai pemikiran Soekarno yang sudah dianggap mempunyai gagasan sosialisme dan komunisme.
Kemudian bagi penulis, hal tersebut sudah sangat mengalami ketimpangan yanghingga saat ini kita masih mencari asumsi yang benar mengenai peristiwa yang berkaitan dengan komunisme diera orde baru. Bahkan penulis menganggap ada hal lain, yakni bukan saja upaya untuk menyingkirkan pemahaman komunisme, melainkan yang tidak pro dan sesuai dengan tindak laku atau kebijakan pemerintahan bisa diancam dan terancam, hingga produk (buku atau literasi sekalipun) ikut terancam; dan semoga itu hanya menjadi anggapan penulis yang kurang benar adanya. Dari hal sebelumnya, bahwa tidak banyaknya atau bahkan tidak adanya literasi dan wacana terkait perkembangan komunisme, sosialisme, dan hal yang menyangkut penyuaraan aspirasi; atau yang biasa kita sebut sebagai literasi dan wacana kekirian yang beredar. Hingga dinamika tersebut berlangsung sampai akhir era orde baru di tahun 98-nan.membaca
Yang berlanjut pada era reformasi atau pemerintahan BJ. Habibie hingga Jokowi (sekarang). Tentu terdapat banyak hasil dari buah proses dan dinamika di dua era sebelumnya. Setidaknya, sebagian besar dari kita yang hidup pada era reformasi ini mempunyai persepsi dan penilaian pribadi, yang tentu subyektif.
Di era reformasi yang menyebut sebagai masa demokrasi dan tersedianya ruang-ruang untuk menyuarakan aspirasi ini, tentu segala hal dapat kita akses dan dapat jika kita berkemauan juga berkesempatan. Pun terkait dengan sarana prasarana yang menunjang kita untuk berwawasan dan berpengetahuan; mulai dari sekolah, perpustakaan umum dan khusus, kios-kios toko buku, hingga yang kita anggap sebagai tempat ideal dan cocok untuk berwacana. Perkembangan zaman pun sudah memberikan distribusi mengenai buku dan terjemahan tentang literasi atau wacana yang dapat kita akses dan peroleh sebagai penambahan wawasan dan pengetahuan diri dan bangsa. Juga buah karya para pemikir dan praktisi di era reformasi ini lebih bisa kita asumsikan sebagai hal yang kompleks; kesemua itu dapat kita peroleh, jika kita menyadarinya dengan benar-benar sadar.
Asumsi penulis bahwa, dari membudayakan diri membaca maka kita akan menapakkan langkah awal kita untuk menyadari kewajiban berbangsa dan bernegara. Dengan kita membaca, maka kita akan membuka keran pengetahuan dan wawasan, dengan terbukanya wawasan dan pengetahuan maka kita akan mengerti dan memahami bagaimana untuk menjawab pertanyaan yang sering kita dengar mengenai “kapan Indonesia dapat menyaingi negara-negara maju ?” sesuai versi kita masing-masing.
Penulis juga mengingatkan, bahwa apa yang ada pada tulisan ini adalah subyektifitas daripada penulis yang mengharapkan atas kritik dan saran dari pembaca. Semoga dapat memberi hikmah dan manfaat, terimakasih.
Wallahu a’lam.

 

Kontributor : Sahabat Mohammad Izzuddin (Ketua Rayon PMII Galileo 2015-2016)

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

PMII Galileo – Cara  untuk  meyakinkan dugaan atau hipotetis tentang tingkat keterpilihan Bakal Calon (Balon)/Calon dalam …

Salahkah Aku (berOrganisasi)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh⁠⁠⁠⁠ Selamat malam warga dunia maya! Persaingan zaman globalisasi yg makin kompetitif, yang …

(sudahkah) kita merdeka

Hiduplah Indonesia Raya,,, Hampir 71 tahun sudah, bendera Sang Saka berkibar dengan beratasnamakan NKRI disertai …

Haruskah ‘Gender’ ?

Sebelumnya, mari kita coba merenungi sejenak apa itu hakekat gender sebetulnya? bagaimana kita memaknai antara …

Ladzat Kaum Berdarah Segar

Mempelajari hal yang terkecil itu perlu, merasa bisa dan mengerti  merupakan sifat yang gak bisa …

GENDER BUKANLAH PEMBATASAN JENIS KELAMIN BIOLOGIS

Permasalahan kesetaraan gender merupakan masalah yang tidak ada habisnya. Banyak isu-isu yang muncul kemudian tertuju …

Refleksi Gender yang (agak) Bias

Selamat siang dan selamat beraktivitas dihari Senin, sahabat-sahabat pergerakan. Setidaknya cuaca dihari ini masih menunjukkan …

Polemik Perayaan Hari Valentine

Awal bulan februari yang hampir setiap hari didampingi dengan derasnya hujan, membuat sebagian orang merasa …

Indonesia Butuh EDINPRO (Edukasi, Inovasi, dan Promosi) Jajanan Tradisional

Indonesia Butuh EDINPRO (Edukasi, Inovasi, dan Promosi) Jajanan Tradisional Guna Mewujudkan Masyarakat Sehat dan Mandiri …

Khalifah (yang) Khilaf

Selamat pagi sobat, sudahkah menyeduh kopi di Minggu pagi yang cerah ini ? Jika belum, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *