Jumat , November 16 2018
Breaking News
Home / Opini / Khalifah (yang) Khilaf

Khalifah (yang) Khilaf

Selamat pagi sobat, sudahkah menyeduh kopi di Minggu pagi yang cerah ini ? Jika belum, maka bersegeralah untuk mengopi dihari ini 🙂 . Jalanan yang lengang akan kendaraan bermotor nampaknya sudah menjadi pemandangan yang identik diakhir pekan. Car Free Day dikawasan Jalan Ijen sudah menjadi destinasi pagi untuk warga dan pemuda Malang disetiap minggunya. Pun dengan suasana identik seperti berkumpul dan berpacaran (yang sangat dilarang oleh agama) disuatu tempat wisata, yang dizaman sekarang itu juga wujud dari silaturahim.

Akhir-akhir ini, ada banyak berita publik yang membicarakan ihwal lingkungan yang memang itu menjadi permasalahan kita bersama. Pasti sebagian dari kita sudah mendengar dan sedikit bertanya-tanya, bahkan menyatakan ketidaksepakatan dengan apa yang terjadi pada lingkungan di Negeri kita. Persoalan kebakaran hutan dan pertambangan yang menjadi trending topik beberapa bulan terakhir sudah menjadi kontroversial saat ini. Bergeser daripada persoalan lingkungan pada lokus Nasional, yakni  untuk wilayah Malang. Penulis ingin mengambil contoh persoalan lingkungan di wilayah Malang, yakni kontroversi persoalan hutan malabar, dibangunnya gedung disisi bantaran sungai besar, sampai pada persoalan pembangunan gedung diatas sumber air.

Pada semua persoalan tersebut, tentu terdapat keterlibatan manusia didalamnya. Memang disadari atau tidak, dari persoalan-persoalan tersebut terdapat hal negatif dan positif. Dalam  hal ini penulis tidak sedang ingin menilai persoalan-persoalan tersebut dari segi hukum, ekonomi, sosial, budaya, ataupun bidang keilmuan lainnya. Namun, keterlibatan manusia itu berdampak pada munculnya persoalan tersebut yang kemudian menjadi permasalahan kita bersama. Bukan hanya keterlibatan secara tindak dan laku, namun juga keterlibatan pemikiran juga berbuah hal besar yang berujung pada tindak dan laku itu sendiri.

Mengapa manusia sanggup berperilaku demikian (merusak lingkungan), padahal itu sudah sangat jelas dilarang dan tidak diperbolehkan ? Jawaban yang paling sederhana adalah karena manusia mampu untuk berbuat demikian. Hal tersebut terlepas dari kesadaran atau tidak. Namun, ketika membicarakan tentang mampu secara tindak dan laku, pasti tidak lepas dari buah pikir manusia itu sendiri. Semisal, mengapa aku (sebagai manusia) melakukan hal tersebut ? atau, mengapa aku (sebagai manusia) berkeinginan melakukan hal tersebut ? tentu pada kedua pertanyaan tersebut menjadi suatu hal yang dialektis bagi seorang manusia sebelum melakukan sesuatu. Itulah mengapa penulis mengistilahkan bahwa, buah pikir dapat dipastikan akan menghasilkan tindak dan laku (dalam konteks ini).

Membicarakan tentang manusia, pada kalam Allah SWT sudah dijelaskan dan disebutkan  bahwa manusia adalah seorang pemimpin dimuka bumi (Khalifah fil Ardh). Kemudian pada kalam tersebut penulis coba tafsirkan, bahwa istilah pemimpin dimuka bumi tersebut adalah suatu tanggung jawab bagi seluruh manusia untuk kemudian menjaga keutuhan dan stabilitas bumi dan seisinya. Sederhananya, “kalau itu adalah kalam Allah, berarti itu sebuah perintah dari Allah kepada manusia yang harus ditaati.”

Namun bagi penulis, seolah-olah terdapat suatu pergeseran pada penafsiran dan pengaplikasian Khalifah fil Ardh itu sendiri secara disadari ataupun tidak sadar, dan hal ini berdampak pada konstruk pemikiran yang kemudian berlanjut pada tindak dan laku manusia secara tidak sadar sebelumnya. Bahwa, pemimpin itu penguasa, pemimpin itu berkuasa, dan pemimpin adalah pemilik, maka pemimpin ‘berhak’ atas apa yang dikuasai dan dimiliki. Jika kita bayangkan pemimpin adalah istilah lain daripada seorang penguasa, tentu seluruh bumi ini adalah hak kepemilikan daripada pemimpin itu sendiri. Maka, itu adalah suatu konstruk atau penafsiran atau pengertian yang tidak dapat dibenarkan dan harus kita sadari.

Sederhananya, penulis mengasumsikan bahwa pemaknaan atau penafsiran kata pemimpin sebagai penguasa adalah suatu kekhilafan atau bahkan suatu kesengajaan daripada manusia itu sendiri. Khilaf karena memang benar-benar tidak sadar dan lupa dari sejak berpikir bahwa tindak dan lakunya sebagai perusakan atau pengeksploitasian lingkungan dan alam adalah suatu hal yang tidak benar walaupun pelaku merasa ada hal positif dari tindakan tersebut, yang kemudian itu berdampak pada kestabilan alam dan lingkungan.

Lalu, pada hal kesengajaan sejak dalam berpikir dan menimbang inilah yang membuat manusia semakin menjadi-jadi kepenguasaannya, yang seolah-olah mengambil alih penuh kepemilikan alam dan lingkungan ini untuk diolah atas kemauan, keinginan, dan kehendak daripada manusia itu sendiri; dan bagi penulis ini adalah suatu hal yang sangat tidak benar. Jika dilihat dari manusia itu sendiri, bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa. Entah hal tersebut sebagai suatu kebenaran dari tindakan yang salah atau sebagai suatu dalih dari tindakan yang salah untuk tidak disalahkan. Silahkan dipersepsikan sendiri, sobat.

Setidaknya, dari pembahasan-pembahasan tersebut ada suatu hikmah yang dapat kita ambil sebagai pelajaran untuk kebaikan dikemudian hari. Pada akhirnya, penulis mengingatkan kembali bahwa tulisan ini hanya bersifat subyektif dari penulis. Juga penulis memohon maaf apabila terdapat sesuatu yang kurang berkenan pada tulisan ini.

Wallahu a’lam.

 

  • Kontributor = Sahabat Mohammad Izzuddin (Ketua Rayon PMII Galileo 2015-2016)

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

PMII Galileo – Cara  untuk  meyakinkan dugaan atau hipotetis tentang tingkat keterpilihan Bakal Calon (Balon)/Calon dalam …

Salahkah Aku (berOrganisasi)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh⁠⁠⁠⁠ Selamat malam warga dunia maya! Persaingan zaman globalisasi yg makin kompetitif, yang …

(sudahkah) kita merdeka

Hiduplah Indonesia Raya,,, Hampir 71 tahun sudah, bendera Sang Saka berkibar dengan beratasnamakan NKRI disertai …

Haruskah ‘Gender’ ?

Sebelumnya, mari kita coba merenungi sejenak apa itu hakekat gender sebetulnya? bagaimana kita memaknai antara …

Ladzat Kaum Berdarah Segar

Mempelajari hal yang terkecil itu perlu, merasa bisa dan mengerti  merupakan sifat yang gak bisa …

GENDER BUKANLAH PEMBATASAN JENIS KELAMIN BIOLOGIS

Permasalahan kesetaraan gender merupakan masalah yang tidak ada habisnya. Banyak isu-isu yang muncul kemudian tertuju …

Refleksi Gender yang (agak) Bias

Selamat siang dan selamat beraktivitas dihari Senin, sahabat-sahabat pergerakan. Setidaknya cuaca dihari ini masih menunjukkan …

Polemik Perayaan Hari Valentine

Awal bulan februari yang hampir setiap hari didampingi dengan derasnya hujan, membuat sebagian orang merasa …

Indonesia Butuh EDINPRO (Edukasi, Inovasi, dan Promosi) Jajanan Tradisional

Indonesia Butuh EDINPRO (Edukasi, Inovasi, dan Promosi) Jajanan Tradisional Guna Mewujudkan Masyarakat Sehat dan Mandiri …

Membaca sebagai Kesadaran Berbangsa dan Bernegara

Untuk gelap yang melampaui dinginnya embun, selamat malam sahabat. Kurang lebih, begitulah suasana malamnya Malang …

Satu Komentar

  1. ALhamdulillah.. Sangat Bermanfaat..
    Terimakasih, sahabat..

    — Teruskan berkarya, yaa.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *