Kamis , Mei 24 2018
Breaking News
Home / PMII / Kri-tikus (yang) Kekinian

Kri-tikus (yang) Kekinian

Selamat malam para pecandu kopi, selamat bermanja ria dengan cangkir kopimu dan semoga kemesraan itu selalu ada. Malam yang dingin untuk wilayah Malang, pun dengan bersandang tebal khas pakaian musim dingin. Kembali penulis ingatkan, segerakan me-ngopi-mu untuk bisa menikmati hal-hal yang dialektis nan cerdik.

Ingatkah kita dengan polemik-polemik persepakbolaan, lingkungan, akademik, dan kesejahteraan rakyat di Negeri ini ? Baiklah, penulis akan menspesifikkan lagi. Ingatkah kita dengan polemik PSSI, pembakaran hutan, akademisi yang ter-dropout, dan hal yang menimpa rakyat pada sisi kesejahteraannya ? Tentu hal tersebut menjadi sebuah refleksi bagi kita akan polarisasi hidup di Tanah Air ini.

shutterstock_98504012

Kali ini penulis akan sedikit bersubyektifitas tentang hal yang mendasar mengenai tabiat kita, yakni kritik-mengkritik. Bukan mengenai tinjauan dari perspektif ini – itu, namun hanya dari subyektifitas penulis yang berupaya untuk obyektif. Pada dasarnya, tentu kita mengetahui apa yang dimaksud daripada kritik itu sendiri, entah dalam segi pemaknaan pribadi atau segi teoritisnya.

Mengenai kritik-mengkritik, tentu sebagian manusia di Negeri ini sudah pernah melakukannya disadari atau tidak. Entah mengkritisi pribadi atau karakter seseorang, mengkritisi keputusan dan tindak laku seseorang, atau bahkan mengkritisi organ kommunal. Lagi-lagi itu semua berdasarkan pandangan subyektif dari sudut pengkritisi saja. Karena sebelumnya sama-sama kita sadari, bahwa dizaman (yang katanya) demokrasi ini semua pihak berhak menyuarakan aspirasi atau argumennya asalkan tetap memenuhi standart etika publik. Tidak dapat dipungkiri pula, mengkritik itu tidak harus memiliki syarat kecerdasan atau bidang tertentu.

Adalah sebuah media yang menjadi penunjang utama sarana kritik pada era kekinian. Karena, hampir semua elemen masyarakat sudah mahir untuk menggunakan gadget dan mengaplikasikan media yang ada. Pun juga kecerdasan masyarakat sudah mengalami peningkatan dalam segi kritik mengkritik. Bahkan pada saat ini, hampir susah membedakan antara kritikan dan hujatan. Lalu, yang menjadi kritikan kekinian itu seperti apa ?

Diera saat ini, kritikan yang bernada hujatan, kritikan yang mengandung hujatan, hujatan yang sejatinya mengkritik, kritikan yang murni untuk menghujat, dan kritikan yang benar untuk mengkritik, semuanya menjadi hal yang kekinian. Padahal, tentunya kita sadar tujuan dari mengkritik itu sendiri adalah sebagai pengingat dan evaluasi bagi si dia atau kita yang menerima kritik agar dapat menjadi yang lebih baik. Namun, realita yang penulis tangkap adalah dua hal yang penulis anggap sebagai substansi daripada mengkritik saat ini, yaitu :

Pertama, pengkritik yang hanya menilai atau mengkritisi saja tanpa dibarengi dengan solusi dan tindak nyata bagi dirinya sendiri. Mengapa demikan ? Tentunya kita harus sadar bahwa mengkritik yang secara tidak langsung adalah bertujuan agar kita juga berkaca / berintrospeksi diri, yang kemudian hal penting daripada mengkritik adalah memunculkan solusi atau rekomendasi atau saran bagi seseorang yang kita kritik agar dia dapat menilai sejauh mana pribadi atau tindak lakunya sampai bisa menimbulkan kritik dan penilaian bagi dirinya.

Kedua, pengkritik yang menilai atau mengkritisi dengan dibarengi solusi dan tindak nyata bagi dirinya sendiri. Ini adalah hal kedua yang penulis anggap sebagai substansi dari mengkritisi saat ini. Bahwa setidaknya perlu kita ketahui bersama bahwa tidak hanya mengkritik, namun juga memberi solusi. Itulah esensinya. Banyak daripada kita yang panjang lebar mengkritisi ini – itu dan sana – sini, namun kita melupakan unsur solusi yang kemudian itu kita berlakukan bagi diri kita sendiri. Kesemua itu kemudian harus ditarik lagi pada diri pribadi agar esensi dari kritik-mengkritisi dapat berlaku bagi si pengkritik, atau bahasa sederhananya “kita mengkritik, maka sejatinya kita juga dikritisi”.

Setidaknya, dari kedua hal tersebut kita semua dapat menyadari bahwa kritik-mengkritisi juga terdapat nilai tanggung jawab bagi diri. Negara kita tidak akan maju, tanpa ada sebuah dan banyak kritik daripada pengamatnya (masyarakat). Tentu penulis sepakat, bahwa tiada manusia yang menyempurnakan diri tanpa suatu kritikan. Pun dengan Baginda Rasulullah SAW, bahwa Beliau pernah dikritisi oleh Allah SWT. Dan satu hal lagi, bahwa penulis sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Walikota Bandung;

Negeri ini butuh banyak pemuda pencari solusi, bukan pemuda pemaki-maki.”

Dari hal tersebut, penulis harap kita semua dapat mengambil suatu pelajaran dan hikmah dari apa yang kita sebut sebagai kritik-mengkritisi. Juga sekali lagi penulis mengingatkan, bahwa tulisan ini hanya suatu subyektifitas penulis saja. Maka apabila terdapat suatu hal yang kurang sesuai, mohon kritik dan sarannya.

Wallahu a’lam

——————-

Kontributor : Sahabat Izzuddin (Ketua Rayon PMII Galileo 2015-2016)

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

Biografi Sahabat Mahbub Junaidi

PMII Galileo –  Mahbub Djunaidi sosok kelahiran Jakarta 27 juli 1933 ini memang begitu gemar …

Sambutan Ketua Rayon “Pencerahan” Galileo 2017-2018 (Ahmad Qomaruddin) 

  Assalamualaikum warahmatullahi  wabarakatuh Salam Pergerakan!!! Yang terhormat  PB pergerakan mahasiswa islam Indonesia Yang terhormat  …

Open House PMII Rayon “Pencerahan” Galileo

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh *Bersemilah bersemilah kader PMII. Tumbuh subur tumbuh subuh kader PMII* Kepengurusan terus …

RTAR PMII Rayon Pencerahan Galileo XVI

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Tangan terkepal,,maju ke muka Tak terasa setahun sudah berlalu, semuanya seakan terasa …

Harlah PMII Rayon Pencerahan Galileo XVI

Assalamu’alaikum, sahabat.. Tetap dalam semangat perjuangan.. tangan terkepal dan maju kemuka.. Dzikir Fikir Amal Sholeh. …

Undangan Menulis dalam Buku Antologi Esai “PMII DALAM BINGKAI EKSAKTA”

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh… Bismillahirrahmanirrahim… PMII Pencerahan Galileo bermaksud akan menerbitkan sebuah buku antologi esai perdana …

Refleksi Gender yang (agak) Bias

Selamat siang dan selamat beraktivitas dihari Senin, sahabat-sahabat pergerakan. Setidaknya cuaca dihari ini masih menunjukkan …

Membaca sebagai Kesadaran Berbangsa dan Bernegara

Untuk gelap yang melampaui dinginnya embun, selamat malam sahabat. Kurang lebih, begitulah suasana malamnya Malang …

Khalifah (yang) Khilaf

Selamat pagi sobat, sudahkah menyeduh kopi di Minggu pagi yang cerah ini ? Jika belum, …

Sambutan Ketua Rayon PMII Galileo

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh Yang terhormat, pengurus PB PMII, PKC PMII, PC PMII, dan PR PMII …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *