Rabu , Desember 12 2018
Breaking News
Home / Aswaja / Islam Nusantara Tiga Dimensi

Islam Nusantara Tiga Dimensi

oleh: Anas Ahimsa

Jika menengok sedikit kebelakang, perbincangan tentang Islam Nusantara sungguh terlihat begitu deras saat pra menjelang, muktamar NU, dan beberapa hari (saja) paska momentum di “kota wali” jombang itu terlaksana.

Lantas, bagaimanakah gelombang diskursus tentang Islam Nusantara itu, hari ini dan kedepan?

Dan ketika “Sang Sastrawan” sekaligus tokoh yang kita kagumi, KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam sambutan (tulisan) nya menanyakan; Islam Nusantara, Makhluk Apa Itu? Sungguhlah sulit memberi jawaban secara ringkas akan pertanyaan semacam itu. Hanya saja bagi penulis yang masih terbelakang (awam) tentang pemikiran keislaman dalam kaitannya dengan nilai-nilai budaya di nusantara. Cukup akan menempatkan spirit-nilai “Islam Nusantara” disini sebagai salah satu ciri khas aktualisasi yang tak berkesudahan (proses) dalam keberagaman laku keseharian, sehingga tidak gampang “kagetan” setiap melihat perbedaan.

Oretan ini hanya bagian “refleksi kecil” penulis, tentang manifestasi dari tiga dimensi penting yakni Kearifan Lokal, Pribumisasi Islam, dan Dialog-Toleransi Lintas Keyakinan yang termaktub dalam khasanah (buku) Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan, Mizan.

Kearifan Lokal               

Kearifan lokal (budaya) menjadi nafas penting yang tak terpisahkan dalam kerangka Islam Nusantara. Karena islam nusantara tak lebih adalah upaya penyesuaian (adaptasi) secara ramah dengan nilai-nilai budaya atau kearifan lokal yang ada.

Bahwa “Paham dan praktek keislaman di bumi nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realitas dan budaya setempat”. Sebagaimana disebut oleh Akhmad Sahal dalam mengutip tulisan KH. Afifuddin Muhajir, dalam Prolog buku Islam Nusantara ini.

Sejatinya Islam dan budaya mempunyai posisi independensinya masing-masing, yang saling berkaitan satu sama lain. Islam sebagai agama yang cenderung “garang” dalam (sifat) normatif-nya, menjadi lebih santun menyejukkan dan bisa berkembang secara dimanis ketika mampu berjalan setapak-demi-setapak melalui jembatan, bernama budaya.

Kearifan lokal bisa berwujud prinsip Bhinneka Tunggal Ika, dan berbagai tata nilai kebudayaan Nusantara lain yang beradab, tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap peradaban yang berkembang.

Proses pendekatan agama (islam) melalui budaya berlangsung terus-menerus, menambah kedamaian berupa kelenturan yang ter-asyik, bukan ketegangan yang ter-usik. Sehingga ketika bersentuhan dengan konteks lokalitas masing-masing, penerapan dan bentuk (model) nya bisa berubah-ubah, tetapi prinsip-nilai (islam) nya tetap.

Sehingga karakter Islam Nusantara disini bisa ditunjukkan dengan adanya kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama (islam), namun justru saling bersinergi antara islam di satu sisi, dengan kearifan budaya lokal disisi yang lain.

Dalam epilog di buku ini, Lukman Hakim Saifuddin sang menteri “semua” agama Indonesia kita, kembali mengingat tegaskan. Bahwa media penyebaran Islam di Nusantara salah satu nya adalah melalui perangkat budaya.

Pribumisasi Islam

Sebagai buah “perjumpaan” yang cukup panjang antara agama (islam) dengan budaya sebagai kearifan lokal, hingga mampu membangun “titik temu kultural”.  Pribumisasi Islam merupakan gagasan pembaharuan yang unik dari Gus Dur.

Agar tidak cenderung memikirkan manifestasi simbolik dari islam dalam kehidupan, akan tetapi lebih mementingkan esensinya.  Pribumisasi Islam bukanlah upaya perlawanan secara mutlak dari budaya setempat (nusantara) terhadap budaya timur tengah (arabisasi). Sehingga budaya lokal yang “arif”, sekaligus esensi dari Islam yang universal tidak hilang.

Melakukan pribumisasi islam berarti adalah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan masyarakat muslim disetiap kondisi lokalitas nya.

Tanda adanya proses pribumisasi, dalam salah satu contoh riil di masyarakat kita (Nusantara) menurut pemikiran Gus Dur disini, ketika dalam sebuah stadion juga terdapat/difasilitasi adanya musholla, karena melihat kenyataan yang sering terjadi dalam pertandingan sepak bola digelar berbarengan dengan waktu sholat masuk.

Harus disadari, bahwa  penyesesuaian  ajaran islam dengan kenyataan hidup hanya diperkenankan sepanjang menyangkut (ranah) sisi budaya. Sehingga menjadikan agama (Islam) yang mampu mewadahi/akomodir kebutuhan-kebutuhan budaya lokal, pun sebaliknya.

Yang tidak boleh terjadi adalah pembauran islam dengan budaya, sebab berbaur berarti hilangnya sifat-sifat asli.

“Walaupun atas nama agama (termasuk islam), setiap kegiatan yang menyebabkan kegiatan kemanusiaan mengalami kemunduran, haruslah dihilangkan”. Dengan kata lain menurut Gus Dur, bahwa semua kelompok masyarakat bertanggung jawab terhadap proses Pribumisasi Islam. Dalam arti mengokohkan kembali akar budaya kita, dengan tetap berusaha menciptakan masyarakat yang taat beragama.

Dan, prinsip-prinsip yang keras dalam hukum islam (Nas) harus mampu dipahami, lantas dikaitkan dengan masalah-masalah kearifan lokal (budaya) di negeri kita Indonesia, dengan cakupan yang luas dan argumentasi yang lebih matang. Kalau hal itu bisa berjalan/terlaksana dengan baik, maka inilah yang oleh Gus Dur dimaksud dengan, Pribumisasi Islam.

Dialog-Toleransi (Al-hiwar-tasamuh)       

Dialog sebagai jembatan untuk mencari dan menemukan titik-titik (pemahaman) bersama, akan sebuah permaslahan sosial, kemanusiaan dan lainnya yang sedang terjadi di kehidupan kita. Serta didasari pula dengan spirit toleransi. Toleransi bisa diarahkan dengan adanya sebuah sikap terbuka, dan mengakui adanya berbagai macam perbedaan.

Ciri utama dalam metode berfikir (manhaj al-fikr) ala aswaja yang menjadi prinsip atau pegangan Nahdatul Ulama salah satunya ialah, toleransi (tasamuh). toleransi yang meliputi berbagai aspek universalitas kehidupan. Seperti sosial, politik, dan yang lainnya.

Sebagaimana dalam kenyataan budaya khas nusantara kita, islam dihayati oleh muslim (mayoritas) di negeri ini dengan tidak lepas diantaranya dari spirit-nilai toleransi (tasamuh).

Dan dialog sendiri bukanlah dalam maksud untuk saling “barter” keyakinan (keimanan) dari masing-masing peserta dialog, hingga akan muncul perasaan menang atau kalah.

Setidaknya ada tiga hal (permasalahan) yang bisa di-dialog-kan bersama, seperti apa yang ditulis oleh Prof. Dr. M. Amin Abdullah dalam Fikih dan Kalam Sosial Era Kontemporer di buku Islam Nusantara ini. pertama: menyangkut permasalahan kemanusiaan universal. Seperti pendidikan, kesehatan, kemiskinan, kekerasan atas nama agama, dll-nya. Kedua: menyangkut permaslahan kebudayaan. Seperti adat-istiadat, bahasa, kebiasaan, gaya hidup, dll-nya. Ketiga: menyangkut permasalahan hak asasi manusia. Seperti kemerdekaan, kesejahteraan, kebebasan, dll-nya.

Ketika sebuah dialog dipahami tidak dalam maksud mencari pemenang antar kelompok, keyakinan, organisasi, atau komunitas tertentu. Sehingga tujuan (esensi) dari dialog seperti untuk saling mengenal, saling mengerti, saling mengasihi, membangun solidaritas, serta hidup bersama secara damai dan toleran . akan bisa tercapai.

Terakhir

Teringat salah satu pesan (dakwah) yang pernah disampaikan oleh “Sang filsuf” asal rembang, Gus Mus. Yang coba penulis sampaikan dengan perumpamaan dalam konteks tulisan ini, bahwa; penyesuaian dengan Kearifan Lokal (Budaya), Pribumisasi Islam (Gagasan Gus Dur), serta Dialog dan Toleransi. Sejatinya harus dipahamai sebagai perantara/jalan (wasilah). Untuk mencapai satu tujuan utama (ghayah) yakni Allah SWT, atau seringkali juga kita menyebutnya, Tuhan.

Semoga islam yang ramah, dan arif dalam lokalitas budaya nusantara yang beragam ini, senantiasa menjadi ajaran yang Shalih Li Kulli Zaman Wa Makan (Cocok untuk seluruh masa dan tempat). Wallahu a’lam bish shawab

* Tulisan ini sekedar apresiasi untuk sahabat-sahabat PMII Komisariat Sunan Ampel Uin Malang, yang menggelar hajatan Seminar Bedah Buku Islam Nusantara, akhir oktober 2015.

(Penulis adalah pelayan di Waroeng Gus Dur Ngalam, bisa dijumpai via twitter @anas_ahimsa)

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

Kau Anggap Aku Ahlul Bid’ah. Kamu?

PMII Galileo – Berbicara masalah Bid’ah pasti sudah tidak asing lagi dibenak sahabat Galileo. Utamanya …

PMII RPG Adakan Diskusi Bertemakan “Filsafat Sebagai Ilmu Kritis”

PMII Galileo – Diskusi merupakan satu hal yang tak bisa terlepas dari kehidupan mahasiswa, terlebih …

Revolusi Digital, NU Luncurkan Aplikasi Mobile

PMII Galileo – Nahdlatul Ulama (NU) tak mau ketinggalan dengan perkembangan teknologi. Organisasi ini pun meluncurkan …

UIN Maliki Malang Bentuk Lembaga Riset dan Fatwa “Majma’ Al-buhuts wa Al-ifta” 

PMII Galileo – Universitas Islam Negeri Malang, sebagai salah satu Universitas dengan eksistensi yang cukup …

PMII RPG Adakan Mapaba Sesion II

Tahun akademik baru menjadi ajang perlombaan mahasiswa baru disemua Universitas dan sekolah tinggi di Indonesia. …

PMII RPG adakan Follow Up MAPABA 2017

PMII Galileo –  Mencetak Kader penerus merupakan kewajiban bagi organisasi kaderisasi seperti Pergerakan Mahasiswa Islam …

Sholawat Sumpah Pemuda “Zaman Now” Ala Gus Dur

PMII Galileo- Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, hampir seluruh kalangan pemuda merayakannya, tanpa terkecuali yang masih …

Pemuda Zaman Now Harus Peduli Lingkungan

PMII Galileo – Pemuda merupakan salah satu tonggak menuju kemerdekaan bangsa indonesia. Dan hari ini tepat …

Mengungkap Tabir Saiful Mujani Sang Pengkhianat Intelektual

PMII Galileo – Banyak bahwa yang menyimpulkan pollster di Indonesia berperilaku khianat sudah menjadi pengetahuan publik. …

Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

PMII Galileo – Cara  untuk  meyakinkan dugaan atau hipotetis tentang tingkat keterpilihan Bakal Calon (Balon)/Calon dalam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *