Rabu , Desember 12 2018
Breaking News
Home / Kolom Alumni / Cocokologi Al-Qur’an Sains, ataukan Kesadaran Filosofis?

Cocokologi Al-Qur’an Sains, ataukan Kesadaran Filosofis?

Oleh : Syaiful Bahri**)

Bismillahirrahmanirrahim,,,,

Big Bang Theory
Big Bang Theory

Di Era yang sarat dengan Sains dan Teknologi ini, hampir semua lini kehidupan ini tidak ada yang tak bersentuhan dengannya. Bahkan soal agama. Ada semacam tuntutan tak termaktub, bahwa kebenaran agama tidak boleh bertantangan dengan sains. Karena, jika informasi agama bertentangan dengan sains, sudah bisa dipastikan yang dituding salah adalah informasi agama.

Kenapa demikian? Karena, informasi agama adalah kebenaran filosofis yang lentur dan subyektif. Sedangkan sains adalah kebenaran emperis yang obyektif. Sehingga ketika dibandingkan secara langsung, seakan-akan informasi agama seringkali dipaksa dicocok-cocokkan belaka dengan kebenaran sains.

Karenanya, lantas muncul sindiran kepada para penganut agama, bahwa umat beragama suka melakukan cocokologi alias mencocok-cocokkan informasi kitab sucinya dengan data-data saintifik. Tentunya sindiran itu tidak sepenuhnya benar dan harus diklarifikasi.

Oleh karena itu pemahaman dan implementasi integrasi Al-Qur’an dan sains haruslah komprehensif dan holistic. Bukan hanya menerjemahkan dan menafsirkan secara verbalistik saja. Nah itu yang terjadi hari ini, membicarakan penciptaan alam semesta tidak serta-merta kita bisa mengambil semua teori yang beredar di dunia ini terkait penciptaan alam semesta, kita pilihlah teori Big Bang, maka membicarakan Big Bang bukanla sekedar kita menerima berbagai cocokologi populer di kalangan masyarakat, namun kita harus memahami benar-benar bagaimana kerja Big Bang; toeri dasar, cara kerja, hal-hal yang mempengaruhi Big Bang dan lain sebagainya harus kita pahami benar-benar secara saintifik dan mampu dipertanggung jawabkan. Baru kemudian kita menoleh pada apa yang ungkapkan Al-Qur’an.

Saya termasuk salah satu yang tidak langsung percaya pada berbagai cocokologi populer yang mengaitkan teori Big Bang dengan apa yang dikatakan al-Qur’an. apa yang ditulis oleh Harun Yahya ataupun Achmad Baiquni mungkin ia sesuai dengan ungkapan al-Qur’an, namun saya melihat hal ini akan memicu persoalan tambahan; kalau memang sesuai dan kemudian dianggap itu adalah teori yang diungkap al-Qur’an, maka –dengan asumsi dasar Al-Qur’an mengandung kebenaran mutlak- teori ini pun akan membawa sifat mutlak Al-Qur’an, ini tentunya berbenturan dengan sifat Ilmu pengetahuan yang –harusnya- bersifat tidak mutlak, ia harus terus diuji. Nah, sebuah persoalan yang tidak asing bukan?. Persoalan selanjutnya adalah what’s next? Kalau memang teori Big Bang sesuai dengan ungkapan Al-Qur’an, lalu memangnya kenapa? Apa yang bisa kita sumbangkan terhadap teori ini dengan kesesuaian dalam Al-Qur’an? saya malah merasa bahwasanya Al-Qur’an terlalu banyak kita intervensi dengan Ilmu Pengetahuan. Bisakah kita melakukan hal sebaliknya, kita intervensi teori Big Bang atau apa pun dengan menggali kekayaan Al-Qur’an? saya sangat menyukai cara kerja Al-Razi yang memilih untuk tetap menyatakan keterpaduan langit dan bumi (meskipun tidak sesuai dengan alam sains pada saat itu, namun secara bahasa Al-Qur’an menyatakan demikian). Dengan kerangka kerja yang sama mungkin kita bisa terpakan dalam mengejawantahkan ungkapan-ungkapan Al-Qur’an dalam berbagai bidang. Sehingga kita tidak hanya mampu terkagum dengan berbagai hasil kerja ilmiah yang –kebetulan– sesuai dengan Al-Qur’an, kemudian kita tidak berbuat apa-apa.

Lalu seperti apa kemudian keterlibatan insan Ulul Albab disini ?, lagi-lagi kita dihadapkan pada suatu kondisi dimana citra diri PMII (Ulul Albab) dituntut menjadi akselerator atas problem cocokologi pupopuler. Ulul Albab secara umum didefinisikan sebagai seseorang yang selalu haus akan ilmu pengetahuan (olah pikir) dan iapun tak lupa mengayun dzikir. Ulul Albab-citra diri seorang kader PMII, dengan sangat jelas disarikan dalam motto PMII dzikir, fikir dan amal sholeh. Maka beruntung dan berbanggalah kita yang hari ini menjadi kader pergerakan, karena sesungguhnya kita sebagai individu-individu telah dipersatukan oleh kontruksi ideal seorang manusia yaitu Ulul Albab.

Didalam beberapa panduan buku PMII, disebutkan bahwa kader Ulul Albab sesungguhnya banyak digambarkan dalam Al-qur’an. yang kemudian dari elaborasi ayat-ayat Al-qur’an tersebut dapat dicirikan bahwa kader Ulul Albab : 1) Berkesadaran histories-primordial atas relasi Tuhan-Manusia-Alam. 2) Berjiwa optimis-transendental atas kemampuan mengatasi masalah kehidupan. 3) Berfikir secara dialektis. 4) Bersikap kritis. 5) Bertindak transpormatif. Lima ciri Ulul Albab tersebut adalah jawaban atas problem cocokologi yang lagi mewabah dikampus integrasi ini dan harus menjadi kesadaran filosofis bagi penganutnya. Amien…

Mungkin saya tidak perlu panjang lebar mengejawabtahkan ciri Ulul Albab di atas, tapi sebagai kader PMII patutlah bila rumusan kader Ulul Albab (manusia seutuhnya) ini dijadikan spirit untuk kita dalam mengaktualisasikan segala kemampuan yang dimiliki oleh setiap kader PMII. Apabila kader PMII tidak menyadari kesenjangan-kesenjangan tersebut diatas, maka Ulul Albab tak pantas disandang sebagai citra diri kader PMII.

Wallahu A’lam,,,,,

Wallahul Muwaffieq Ilaa Aqwamitthoriq….

 

**) Kader PMII Pencerahan Galileo

Ketua HMJ “Astrolab” Fisika 2014

Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi 2015

Menteri Kaderisasi IHAMAFI 2015

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

Mengungkap Tabir Saiful Mujani Sang Pengkhianat Intelektual

PMII Galileo – Banyak bahwa yang menyimpulkan pollster di Indonesia berperilaku khianat sudah menjadi pengetahuan publik. …

Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

PMII Galileo – Cara  untuk  meyakinkan dugaan atau hipotetis tentang tingkat keterpilihan Bakal Calon (Balon)/Calon dalam …

GERAKAN AKSI MENULIS

Tanggal 10 November, merupakan hari dimana sejarah tidak bisa di lupakan, hari dimana para pahlawan …

Biografi Agus Herlambang, Ketua Umum PB PMII Masa Khidmat 2017-2019

PMII Galileo – Akrab dipanggil dengan Mr. Agus atau Sahabat Agus, lengkapnya adalah Agus Mulyono Herlambang …

Biografi Ahmad Hifni, Penulis Buku Menjadi Kader PMII

PMII Galileo –  Ahmad Hifni kelahiran di Jember, Jawa Timur pada tanggal 11 Agustus 1993. Ia …

Biografi Ibnu Taimiyyah

PMII Galileo – Syaikhul Islam Al Imam Abul Abbas namanya adalah Ahmad bin Abdul Halim Abdus …

Biografi Sahabat Mahbub Junaidi

PMII Galileo –  Mahbub Djunaidi sosok kelahiran Jakarta 27 juli 1933 ini memang begitu gemar …

Buletin Teropong Edisi September 2016

Karena dengan menulis, hidup kita terasa manis. Salam Jurnalistik..!! Puji Syukur, Alhamdulillah.. Buletin Teropong Episode …

ASEP PEMUDA YANG KEKINIAN

  By:m.azwar afandi Kisah pemuda bernama Asep, sang pemuda yang kekinian. Kehidupan Asep sehari hari …

Refleksi Gender yang (agak) Bias

Selamat siang dan selamat beraktivitas dihari Senin, sahabat-sahabat pergerakan. Setidaknya cuaca dihari ini masih menunjukkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *