Rabu , Desember 12 2018
Breaking News
Home / Aswaja / Gerakan, Galileo dan Gereja

Gerakan, Galileo dan Gereja

Oleh : Barokat Anas Ahimsa

image

     Sikap keksatriaan untuk memperjuangkan sebuah pemikiran (tepatnya penemuan-penemuan) atas apa yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran, seorang ilmuwan alias profesor matematika dan fisika bernama Galileo Galilei yang terlahir di Negeri Pisa Italia, harus ber-urusan dengan pihak gereja (katolik roma) dengan tuduhan yang serat aroma negatif terhadap nya.

    Namun lain arus cerita, dari sebuah jejak langkah positif yang ditapaki sekelompok mahasiswa, tepatnya para aktifis dari baground Mipa di kampus Islam Negeri Malang , justru menjadikan akar pemikiran dan buah penemuan “ilmiah” dari Galileo sebagai inspirasi sebuah nama organisasi di akar dari seluruh tingkatan level nasional. Bernafaskan Keislaman dan Keindonesiaan, yang biasa dikenal dengan sebutan Districk Of Indonesian Moslem Student Movement.

    Bagaimana catatan kiprah perjuangannya? Saya menulis ini sebagai oretan refleksi personal dan harapan, atas pergulatan organisasi ini.

Akar Yang Tumbuh Itu Bernama PMII Rayon Galileo

   Suatu hal yang wajar ketika mengalir sebuah dinamika pada aras kepemudaan di sebuah komunitas. Dengan munculnya geliat kegelisahan, berupa semangat baru untuk mengawal kemandirian, ke-maujud-an (eksistensi) serta upaya untuk menjahit lebih rapi “tenun” anggotanya yang berserakan tak terurus dalam budaya ber-organisasi.

   Ketika aspek manfaat lebih terlihat dominan, “Tasharruful imam ‘ala ar-ra’iyyah manuthun bil al-mashlahah,” maka langkah-langkah baru segera bisa untuk dilakukan…

    Awal langkah itu, dengan dipelopori barisan mahasiswa-mahasiswi kader dari matematika dan biologi (Tadris di bawah Fak.Tarbiyah-Menjadi MIPA-Sekarang Saintek) yang keberadaannya, karena persoalan fungsional dan organisatoris masih berada dibawah “kungkungan” Rayon Condrodimuko. Terlahir ide dan gagasan besar dengan ikhtiar untuk memisahkan diri secara kelembagaan, guna membentuk struktur organisasi tersendiri yang lebih mapan di setiap aktifitas gerakan dan kaderisasinya.

   Sebuah nilai pembebasan serta kemandirian untuk menghidupkan cahaya bergerak dan berfikir, yang patut di apresiasi secerah-cerah nya.

   Dengan semakin bulatnya tekad dan kemantapan niat. Dipersiapkanlah semua kebutuhan sebagai persyaratan, yang akan di usung dalam perhelatan Rapat Tahunan Komisariat (RTK) sebagai forum musyawarah tinggi di tingkat universitas yang mengatur dan memutuskan adanya dinamisasi organisasi.

    Dan, Tepatnya pada tanggal 7 Robbi’ul Awwal 1421 H (Sabtu, 10 Juni 2000) di tabuhlah Gong secara resmi lahirnya Rayon PMII Galileo. Yang secara legalitas produk hukum organisasi tidak bertentangan.  Merdeeeeeeeeeekaaa…!!!

     Sedangkan labelisasi kata “Pencerahan” yang sarat bermuatan hikmah penyemangat, atau ciri khas ditengah nama Rayon PMII Galileo ini. Jika di singgungkan, ada kaitannya dengan istilah dalam filsafat barat abad delapan belas, yakni Aufklarung. Dimana pada periode ini manusia sedang dalam pencarian akan cahaya baru dalam aktifitas nalarnya. Jadi periode sebelum ini bisa di umpamakan dengan keadaan belum akil baligh. Dengan Immanuel Kant sebagai tokoh kunci.

 

Galileo dan Gereja

     Meski secara garis besar tulisan ini tidak secara detail dan mendalam menyinggung tentang persoalan agama dari latar belakang sang Filsuf Galileo Galilei. Namun ketika membaca “lembaran hitam” perjalanan hidup Seorang Galileo ini, terutama saat masa perjuanganya mengawal dasar pemikiran diertai pembuktian spekatakulernya tentang teori Heliosentris, yang dicetuskan awal oleh Copernicus. Galileo begitu deras mendapat tekanan bahkan ancaman dari pihak gereja roma (pusat agama katolik sedunia) di italia.

    Oleh para agamawan katolik, fatwa-fatwa Galileo yang berasal dari hasil pengamatan, penelitian, dan eksperimen nya di anggap paling bertentangan dengan Al-Kitab sebagai rujukan kitab suci tertinggi lembaga tersebut. Galileo telah menjadi ancaman serius Gereja dengan Al-Kitabnya. Bahkan, Galileo dituduh pula sebagai pelaku bidat(dalam islam dikenal dengan bid’ah) yakni suatu perilaku yang di anggap menyimpang dari tuntunan agama atau syariat.

   Bahkan tidak berhenti disitu, pihak agamawan gereja mencari seribu alasan untuk meredam dan menghukum Galileo, atau jika perlu seorang Galileo harus dilenyapkan. Yang pada akhirnya Galileo diadili pengadilan Gereja, di anggap sebagai penentang ajaran agama. Di paksa mengakui kesalahan dan menghabiskan seluruh sisa hidupnya, menjadi tahanan rumah (pengucilan), hingga akhir kehidupannya.

   Sebuah contoh awal konflik antara otoritas agama dengan kebebasan berpikir (terutama dalam sains) pada masyarakat barat, sebagaimana persinggungan antara Galileo dengan Gereja ini.
Bisa dikatakan kisah tentang eksekusi terhadap Galileo serat dengan kejanggalan, ketika mencoba menggulirkan satu pertanyaan sederhana: Apakah ada larangan di dalam al-kitab (katolik) untuk setiap jemaat nya dalam upaya melakukan eksperimen pemikiran-intelektual nya?  disini akan kita temukan pembuktian paska Galileo wafat, dan upaya-upaya kebohongan yang dimunculkan para agamawan gereja katolik roma kala itu. Dan bahwa, oase kerinduan para filosof dan khalayak terhadap sosok Galileo Galilei terus bergulir hingga detik ini.

     Jadi, Sebagai sosok yang dijadikan nama organisasi (Rayon) kita sampai hari ini. Filsof  yang bernama lengkap Galileo di Vincenzo Bonaiuti de’ Galilei, lahir di pisa wilayah toscana Italia tanggal 15 Februari 1564, dan meninggal 8 Januari 1642 (77 tahun). Sebuah peristiwa yang mungkin layak kedepannya kita peringati dengan memberikan do’a (hablum mina-nas) sebagai wujud penghormatan atas pemikiran-perjuangan mendiang Galileo.

Tantangan dan Harapan

    Dalam rytme sejarah nya, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon “Pencerahan” Galileo lahir sebagai suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman. Dengan tetap berpegang erat pada istilah dalam diktum (Qoidah Fiqhiyah) seperti “Al-muhafazatu ‘alal qadimi ash-shalih wal-ahdzu bil jadid al-ashlah” untuk sekedar dijadikan petunjuk dalam mendorong, mengawal, dan sekaligus mengevaluasi setiap gerak langkah pergerakan ini.
   

    Kun Ibna Zamaanika. Jadilah “Generasi Emas” Zamanmu, tidak perlu kiranya terlampau jauh menengok pada spion retak yang dilakukan periodeisasi sebelummu. Cukuplah berfikir serta ikhtiar dalam proses dinamisasi, hari ini dan esok nanti. Dengan model kanvas organisasi yang di landaskan pada karakteristik di setiap zamannya. Semoga manfaat…

Wallahu a’alam wa galileo bish shawab

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

Pemuda Zaman Now Harus Peduli Lingkungan

PMII Galileo – Pemuda merupakan salah satu tonggak menuju kemerdekaan bangsa indonesia. Dan hari ini tepat …

Mengungkap Tabir Saiful Mujani Sang Pengkhianat Intelektual

PMII Galileo – Banyak bahwa yang menyimpulkan pollster di Indonesia berperilaku khianat sudah menjadi pengetahuan publik. …

Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

PMII Galileo – Cara  untuk  meyakinkan dugaan atau hipotetis tentang tingkat keterpilihan Bakal Calon (Balon)/Calon dalam …

GERAKAN AKSI MENULIS

Tanggal 10 November, merupakan hari dimana sejarah tidak bisa di lupakan, hari dimana para pahlawan …

Biografi Agus Herlambang, Ketua Umum PB PMII Masa Khidmat 2017-2019

PMII Galileo – Akrab dipanggil dengan Mr. Agus atau Sahabat Agus, lengkapnya adalah Agus Mulyono Herlambang …

Biografi Septi Rahmawati, Ketua PB KOPRI 2017-2019

PMII Galileo – Septi Rahmawati akrab disapa Septi merupakan Putri ke empat  dari Lima bersaudara. Ayahanda …

Biografi Ahmad Hifni, Penulis Buku Menjadi Kader PMII

PMII Galileo –  Ahmad Hifni kelahiran di Jember, Jawa Timur pada tanggal 11 Agustus 1993. Ia …

Biografi Ibnu Taimiyyah

PMII Galileo – Syaikhul Islam Al Imam Abul Abbas namanya adalah Ahmad bin Abdul Halim Abdus …

Biografi Sahabat Mahbub Junaidi

PMII Galileo –  Mahbub Djunaidi sosok kelahiran Jakarta 27 juli 1933 ini memang begitu gemar …

Buletin Teropong Edisi September 2016

Karena dengan menulis, hidup kita terasa manis. Salam Jurnalistik..!! Puji Syukur, Alhamdulillah.. Buletin Teropong Episode …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *