Rabu , Desember 12 2018
Breaking News
Home / Aswaja / DARI PREMIUM MENUJU PERTALITE : Polemik Bilangan Oktan dan Ketersediaan Pasar terhadap Kebijakan Harga

DARI PREMIUM MENUJU PERTALITE : Polemik Bilangan Oktan dan Ketersediaan Pasar terhadap Kebijakan Harga

Oleh : Fawwaz M. Fauzi*)

2196863
Sumber : inilah.com

Waktu liburan dalam rangka memperingati may day dan HARDIKNAS penulis gunakan untuk sekedar refreshing otak dari refreshing lain (ngurusi kuliah, rayon, dan laporan praktikum). Penulis memacu sepeda MX menuju Unyil untuk sedikit merasakan pahitnya kopi. Di lokasi, penulis mencoba membuka buku “MENGGUGAT PENDIDIKAN INDONESIA” karya sahabat Moh Yamin yang tadi sore penulis pinjam. Tak sampai penulis membaca hingga 10 halaman, sahabat encok datang ke Unyil Coffee dengan jaket lusuh dipundaknya. “Selesai cari baju buat PDH”, ujarnya memberi keterangan. Karena kedatangan seorang sahabat, mood saya untuk meneruskan bacaan sedikit terkalahkan. Kopi yang sudah mendingin saya seruput sembari membuka laptop kesayangan, connect wi-fi, facebook.com pertama terbuka dalam browser penulis. Beginilah memang suasana ngopi ditempat ber-wifi, bukan malah ngobrol pintar, malah ngonline pintar. Yah, selagi bermanfaat, it’s OK.

Dari tautan facebook, saya melihat ada sebuah wacana besar yang mungkin penulis sangat telat ndelok, yaitu wacana penggantian Bensin RON 88 ke Pertalite yang mempunyai kisaran nilai Oktan 90-91. Berita tersebut menyebutkan bahwa pertalite akan lauching pada bulan ini (Mei 2015). Hal tersebut membuat penulis penasaran untuk terus menggali informasi mengenai topik terkait yang kemudian penulis menemukan banyak tanggapan baik positif maupun negatif dari berbagai pihak dan menuai semacam kontroversi di beberapa kalangan.

Apa sih pertalite? Apa itu RON 88, RON 91, RON 92 dan beberapa istilah yang terkadang membingungkan sahabat-sahabat pembaca dalam memahami isu BBM? Penulis kira, istilah-istilah ini perlu difahami agar kita sebagai mahasiswa tidak terjebak dalam framing media maupun isu-isu yang diputar balik oleh para oknum media dan pemiliknya yang tidak bertanggungjawab karena ketidaktahuan kita akan hal tersebut. Karena penulis setidaknya menemukan beberapa kejanggalan pada beberapa kebijakan yang berkaitan dengan bahan bakar minyak alias BBM.

 

BILANGAN OKTAN

Bilangan Oktan merupakan pernyataan berupa persentase volume iso-oktana dalam suatu fraksi bensin hasil proses destilasi fraksional minyak bumi (destilasi = salah satu metode pemisahan kimia berdasarkan perbedaan titik didih). Biasanya, bilangan oktan dari bensin hasil destilasi adalah ~70. Sebelumnya, mungkin harus difahami terlebih dahulu terkait iso-oktana dan n-heptana yang merupakan komponen utama dalam fraksi bensin.

Iso-oktana (2,2,4-trimetilpentana) merupakan senyawa hidrokarbon dengan rantai bercabang. Singkatnya, Iso-oktana apabila diberi tekanan tinggi dalam suatu kompleks mesin motor tidak akan terbakar dengan cepat dan akan terbakar menghasilkan energy ketika mendapatkan percikan api dari busi. Sedangkan n-heptana merupakan senyawa hidrokarbon tak bercabang (lurus) dan apabila diberi tekanan tinggi akan terbakar lebih cepat sebelum terbakar oleh percikan dari busi (Pembakaran Spontan). Pembakaran spontan tersebut akan menimbulkan knocking (ketukan) dalam mesin dan meninggalkan sisa pembakaran tidak sempurna dan kerak dalam mesin sehingga mesin akan cepat rusak atau overhaul.

Untuk menentukan bilangan oktan dari suatu fraksi bensin, dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

Mis, suatu fraksi bensin mengandung 10% n-heptana dan 90% iso-oktana, maka bilangan oktannya adalah :

= (10/100) x 0 + (90/100) x 100

Dengan :

Nilai 0 ditetapkan untuk n-heptana, sedangkan 100 untuk iso-oktana

Dari perhitungan tersebut, dihasilkan bahwa fraksi bensin yang mengandung 10% n-heptan dan 90% iso-oktan mempunyai nilai oktan 90%.

Sedikit tambahan referensi terkait nilai oktan, bahwa nilai oktan dapat ditingkatkan dengan beberapa cara, yaitu (SitusKimiaIndonesia, 2009) :

  • Isomerisasi (Reforming) dengan penambahan katalis. Dari rantai lurus hidrokarbon diubah menjadi rantai bercabang. Contoh :
oktane
  • Menambahkan hidrokarbonalisiklik/aromatic kedalam fraksi bensin
  • Menambah Zat Aditif, seperti Tetraetil-Lead (Pb(C2H5)4), MTEB (CH2OC4H9), etanol dan lain-lain

Seperti penjelasan diatas, kenaikan nilai oktan akan berpengaruh pada proses pembakaran dalam mesin. Semakin tinggi nilai oktan, semakin baik terhadap mesin (namun masih dalam batas tertentu, tergantung kemampuan suatu mesin). Selain itu, semakin tinggi bilangan oktan, emisi berbahaya (mis CO, CO2, dll) semakin sedikit.

Sering kita mendengar kata RON didepan angka oktan, missal RON 88 yang merupakan ungkapan angka oktan dari premium atau RON 92 untuk Pertamax. RON merupakan singkatan dari Research Octane Number. RON adalah sebuah metode angka oktan dengan menguji mesin untuk berjalan pada kecepatan 600 rpm. Jadi, RON adalah proses pengujian nilai oktan berdasarkan jarak tempuh suatu motor, karena jarak tempuh berbanding lurus terhadap nilai oktannya. Nilai lainnya adalah MON (Motor Octane Number) yang perbedaannya dengan RON hanya terletak pada kecepatan yang digunakan, yaitu 900 rpm. Namun, istilah yang sering digunakan memang RON.

SEDIKIT MENGKRITISI POLEMIK BBM

mafia-migasBahan Bakar Minyak (BBM) merupakan kebutuhan pokok untuk berbagai kalangan untuk menjalankan aktivitas di berbagai sektor, terutama di sektor perekonomian. Industri yang menggunakan mesin sebagai alat produksinya sangat bergantung terhadap keberadaan BBM untuk kelangsungan produksinya. Tanpa BBM, industri tersebut akan gulung tikar dengan sendirinya. Begitu pentingnya BBM sehingga pemerintah pun ikut andil dalam mengelolanya dalam konteks kebijakannya.

Belakangan ini, muncul berbagai isu yang menyebutkan bahwa stok minyak bumi akan habis beberapa tahun lagi yang menyebabkan harga minyak dunia melonjak. Hal ini menyebabkan pemerintah dan instansi yang menangani terkait Minyak Bumi dan Gas (baca:migas) kelimpungan, terutama dalam menentukan harga untuk BBM (Keterangan ini menampik beberapa temuan bahwa isu ini sengaja diangkat untuk kepentingan Barat dalam memonopoli MIGAS). Penentuan harga ini berlaku untuk seluruh jenis BBM, baik RON 88, 92 maupun RON 94.

Langsung menuju fokus utama, hal yang kemudian perlu digarisbawahi adalah PENENTUAN HARGA BBM, terutama untuk BBM jenis RON 88 (Premium) yang merupakan jenis BBM yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia. Penulis memang akan mengkerucutkan pembahasan ke arah Penetuan Harga RON 88 yang sering naik turun meskipun (dulu) disubsidi pemerintah.

Premium adalah jenis BBM yang mempunyai harga yang paling labil, harganya mengalami naik-turun, entah dalih pengurangan atau penaikan subsidi ataupun penyesuaian harga minyak dunia. Karena faktanya, naik-turunnya premium ternyata jarang diikuti oleh naik-turunnya BBM jenis lain, seperti pertamax dan pertamax plus. Hal ini menurut penulis patut dicurigai dari berbagai sisi, karena banyak dalam prosesnya banyak memberikan peluang bahkan terus memberikan peluang bagi para penikmat kotoran bumi, alias Mafia MIGAS.

Dalam beberapa media, Indonesia diberitakan sebagai Negara yang BBM-nya masih termasuk yang termurah di ASIA. Wianda (Vice President Corp Comm Pertamina) menyebutkan bahwa harga BBM di Indonesia masih yang termurah, beriku adalah data yang diberikan Wianda (detikfinance, 28/03/2014) :

  • Kamboja, harga gasoline (premium) Rp 17.254/liter, sedangkan gasoil (solar) Rp 15.937/liter
  • Laos, harga gasoline Rp 16.727/liter, sedangkan gasoil Rp 14.752/liter
  • China, harga gasoline Rp 14.225/liter, sedangkan gasoil Rp 12.644/liter
  • Thailand, harga gasoline Rp 14.093/liter, sedangkan gasoil Rp 10.800/liter
  • India, harga gasoline Rp 13.698/liter, sedangkan gasoil Rp 11.327/liter
  • Filipina, harga gasoline Rp 12.644/liter, sedangkan gasoil Rp 8.825/liter
  • Vietnam, harga gasoline Rp 11.195/liter, sedangkan gasoil Rp 9.747/liter
  • Malaysia, harga gasoline Rp 6.849/liter, sedangkan gasoil Rp 6.981/liter
  • Indonesia, harga gasoline Rp 6.800/liter, sedangkan gasoil Rp 6.400/liter (sebelum naik menjadi 7.400/liter)

Situs Global Petrol Price menyebutkan pula bahwa Indonesia masih termasuk kedalam Negara yang menjual BBM dengan harga murah. Beriku adalah data yang disajikan otosia.com (19/11/2014) yang berasal dari situs Global Petrol Price :

statistik
Sumber : Global Petrol Price

Penulis tidak menyangkal kebenaran data tersebut, karena data tersebut memang benar adanya. Namun apabila kita menelisik lebih jauh, ada beberapa kejanggalan terkait klaim TERMURAH yang dimiliki Indonesia. Faisal Basri (Komite Reformasi Tata Kelola Migas) yang mencanangkan penghapusan RON 88 di Indonesia menyatakan bahwa (Tajuk Bisnis Indonesia, 23/12/2014):

  • RON 88 atau Premium sudah jarang diproduksi pasar dunia, sedangkan stok premium di Indonesia adalah hasil impor.
  • Penentuan Harga BBM berdasarkan Harga Indeks Pasar (HIP) BBM. HIP ini mengacu pada harga transaksi di bursa Singapura (Means of Platts Singapore/MoPS). Padahal, bursa Singapura tidak menyediakan patokan harga transaksi untuk jenis bensin Premium RON 88. (Singapura merupakan kilang tempat pengolahan BBM hasil impor Indonesia (BisnisTempo.co, 24/03/2015))
  • Pertamina sendiri mengklaim bahwa selama ini mereka mengimpor bahan bakar dengan jenis RON 92, yang kemudian dicampur dengan nafta agar menjadi premium dengan RON 88. Mereka beralasan kebanyakan kilang milik Pertamina sudah tua dan kemampuan untuk mem produksi bensin beroktan tinggi terbatas, sehingga lebih pas untuk memproduksi bahan bakar RON 88.

Selain itu, temuan di kompasiana (data akan diperbaiki) menyebutkan bahwa harga Pertamax Plus (RON 94) di Malaysia adalah RM 1.90 atau 5.800 dalam Rupiah sedangkan RON 88 sudah jarang digunakan di Malaysia.

Dari data yang dipaparkan diatas, ada beberapa hal yang janggal dalam Penentuan harga BBM di Indonesia, baik Premium mapun BBM jenis lain, diantaranya; Logiskah ketika harga barang yang langka dipasaran (dalam hal ini adalah premium) dijual dengan harga murah? Logiskah ketika barang yang perlu proses tambahan lebih murah daripada barang yang sudah siap pakai? (Logiskah ketika BBM impor berupa RON 92 yang harus diubah ke RON 88 di Singapura “YANG PASTINYA MEMERLUKAN ONGKOS” lebih murah daripada RON 92 itu sendiri?) Ketika logika sahabat-sahabati digunakan, jawaban pastinya adalah TIDAK LOGIS!

Dari kesadaran tersebut, pembaca akan bertanya-tanya, kenapa hal itu bisa terjadi? Benarkah ada sekelompok orang yang diuntungkan? Siapakah gerangan? Ketika sudah berbicara siapa yang diuntungkan, kita memang hanya bisa mencari data dan kemudian menyampaikan aspirasi kita melalui demonstrasi, audiensi dan sejenisnya. Biarlah proses hukum yang mudah-mudahan masih berjalan dengan baik ditangani oleh yang berwenang. Dari kacamata penulis, sepertinya mafia migas sengaja bermain-main mengalihkan perhatian masyarakat terkait kelangkaan RON 88 dipasaran dengan memberikan harga murah. Hal ini dinilai efektif karena sejak tahun 1974, Indonesia telah menggunakan RON 88 sebagai BBM utama dalam berbagai aktivitasnya. Selain itu. bilangan oktannya lebih rendah daripada RON 92. Kemudian, kerugian dari peMURAHan harga premium dialihkan dengan memberikan harga mahal terhadap RON 92 dan 94 serta produk BBM yang lainnya. Buktinya pada saat ini digalakkan kampanye bertajuk “LEBIH BAIK PERTAMAX” serta kewajiban bagi kendaraan pemerintah untuk menggunakan pertamax. Dari aksi tersebut, mereka dapat mengambil keuntungan dari penjualan BBM selain RON 88. Wallahu alam.

Ketika memang RON 88 sangat langka dipasaran, seharusnya pemerintah maupun instansi yang berwenang mencari solusi yang bahkan sebetulnya sudah ada di depan mata. Pertamax dan Pertamax Plus adalah sebagai contoh jenis BBM yang di negeri-negeri tetangga sudah menjadi BBM utama pilihan masyarakat dan dijual dengan harga murah, bahkan lebih murah dari premium di Indonesia. Faktanya, Indonesia ternyata mengimpor BBM jenis RON 92 (Pertamax), bukan RON 88 (Premium).

WACANA PRODUK BARU ‘PERTALITE’ : Solutif dan (tapi) Kontroversial

Penulis menyebutkan diawal tulisan bahwa bulan ini (Mei 2015) Pertamina akan memunculkan produk baru BBM bernama Pertalite sebagai tandingan Premium yang sedikit demi sedikit akan ditarik dari pasar Indonesia. Premium yang diyakini memang sudah tidak banyak diproduksi dan kurang baik bagi lingkungan karena emisinya akan digantikan Pertalite yang lebih ramah lingkungan karena mempunyai nilai oktan 90-91. Dalam hal ini, Menko Perekonomian, Sofyan Djalil mendukung keputusan Pertamina. Bahkan menurutnya, kebijakan untuk menarik premium tidak usah mengajukan izin ke pemerintahan maupun DPR karena premium sudah tidak lagi di subsidi pemerintah.

Bagi penulis, terserah apakah pertamina meminta izin maupun tidak dalam hal pemasaran pertalite. Namun yang harus digarisbawahi pertamina adalah (seperti biasanya) terkait PENETUAN HARGA. Seperti yang diuraikan diatas, tidak logis ketika pertamax lebih mahal daripada premium yang notabene langka dipasaran dan perlu proses tambahan. Seharusnya pertamax yang banyak beredar dipasaran lebih murah dari premium. Begitupula dengan pertalite, sepatutnya pertalite lebih murah daripada premium yang notabene punya ongkos lebih dalam produksinya meskipun mempunyai bilangan oktan dibawahnya. Pertamina memang belum memutuskan harga pasti pertalite dipasaran, namun isu beredar, pertalite akan dijual dengan harga 8.000-8.200,-/liternya (okezone, 24/5/2015). Jika isu ini benar adanya, lagi-lagi pemerintah dan pertamina semakin mendzolimi masyarakat. Masyarakat akan semakin terjepit secara ekonomi. Sembako, listrik, sandang, dan kebutuhan lainnya akan naik. Nasib UKM dan pedagang-pedagang pasar semakin tidak karuan. Daya beli masyarakan berkurang, dan lain-lain.

Menurut Enny Sri Hartati (Direktur INDEF), Premium menyebabkan ketidakefisienan dalam tubuh pertamina. Pasalnya, untuk membuat RON 88, minyak impor yang semula memiliki RON 90 atau 92 harus diturunkan menjadi RON 88. Hal tersebut jelas membutuhkan biaya. Jadi, jika Indonesia ingin menjual RON 90 seharusnya harganya di bawah Premium, karena harganya lebih kompetitif karena dapat dipasok dari banyak negara seperti negara di Timur Tengah atau Afrika dan juga tidak membutuhkan dana untuk menurunkan RON-nya (BisnisTempo.co, 24/03/15).

spbu_8Berdasarkan hal tersebut, maka ketika pertalite dibandrol dengan harga yang lebih mahal daripada premium, berarti masih ada mafia migas! Pernyataan ini jelas senada apabila dianalogikan dengan penjelasan diatas terkait premium pertamax dalam konteks penentuan harga dari kedua jenis BBM tersebut. Lagi-lagi mafia migas menggunakan dalih linieritas bilangan oktan terhadap harga untuk menutupi kebusukannya dalam mengambil hak-hak masyarakat. Padahal, jelas sekali bahwa pengaruh ketersediaan produk lebih berpengaruh terhadap harga (Kualitas vs Ketersediaan).

Apabila memang pemerintah dan pertamina benar-benar ingin menarik premium dari pasaran, maka sudah sepatutnya pertalite dipasarkan dengan bandrol dibawah harga premium saat ini. Karena jika pertamina masih keukeuh mematok harga pertalite diatas harga premium, masyarakat akan tetap memilih premium sebagai pilihan utama, tetap dengan alasan harga. Menurut hemat penulis, sejatinya masyarakat akan terbuka menerima kehadiran pertalite sebagai pengganti premium. Toh, pertalite memiliki RON 90-91 dan lebih ramah lingkungan, namun dengan catatan, pertalite dipasarkan dengan harga yang solutif dan tidak kontroversial. Karena yang terpenting bagi masyarakat adalah terjangkaunya kebutuhan oleh daya beli masyarakat , termasuk kebutuhan akan BBM. Wallahu Alam

 

*) Koordinator FKE PMII Rayon Pencerahan Galileo 2014-2015

     e-mail : fawwaz2406@gmail.com

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

Pemuda Zaman Now Harus Peduli Lingkungan

PMII Galileo – Pemuda merupakan salah satu tonggak menuju kemerdekaan bangsa indonesia. Dan hari ini tepat …

Mengungkap Tabir Saiful Mujani Sang Pengkhianat Intelektual

PMII Galileo – Banyak bahwa yang menyimpulkan pollster di Indonesia berperilaku khianat sudah menjadi pengetahuan publik. …

Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

PMII Galileo – Cara  untuk  meyakinkan dugaan atau hipotetis tentang tingkat keterpilihan Bakal Calon (Balon)/Calon dalam …

GERAKAN AKSI MENULIS

Tanggal 10 November, merupakan hari dimana sejarah tidak bisa di lupakan, hari dimana para pahlawan …

Biografi Agus Herlambang, Ketua Umum PB PMII Masa Khidmat 2017-2019

PMII Galileo – Akrab dipanggil dengan Mr. Agus atau Sahabat Agus, lengkapnya adalah Agus Mulyono Herlambang …

Biografi Septi Rahmawati, Ketua PB KOPRI 2017-2019

PMII Galileo – Septi Rahmawati akrab disapa Septi merupakan Putri ke empat  dari Lima bersaudara. Ayahanda …

Biografi Ahmad Hifni, Penulis Buku Menjadi Kader PMII

PMII Galileo –  Ahmad Hifni kelahiran di Jember, Jawa Timur pada tanggal 11 Agustus 1993. Ia …

Biografi Ibnu Taimiyyah

PMII Galileo – Syaikhul Islam Al Imam Abul Abbas namanya adalah Ahmad bin Abdul Halim Abdus …

Biografi Sahabat Mahbub Junaidi

PMII Galileo –  Mahbub Djunaidi sosok kelahiran Jakarta 27 juli 1933 ini memang begitu gemar …

Buletin Teropong Edisi September 2016

Karena dengan menulis, hidup kita terasa manis. Salam Jurnalistik..!! Puji Syukur, Alhamdulillah.. Buletin Teropong Episode …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *