Rabu , Desember 12 2018
Breaking News
Home / Aswaja / SIAC (Simple Action): Upaya Optimalisasi Potensi Diri Bersama PMII “Pencerahan” Galileo

SIAC (Simple Action): Upaya Optimalisasi Potensi Diri Bersama PMII “Pencerahan” Galileo

Oleh : Hidayatullah *)

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, Maka apabila engkau telah selesai dari sesuatu urusan, tetaplah bekerja keras (untuk urusan lain). dan hanya kepada tuhanmulah engkau berharap” (SQ. al-Insyirah: 6-8).

bisa
Sahabat BISA!

Percaya diri dan Optimis. Dua kata singkat ini yang mengantarkan penulis untuk menyampaikan gagasan sederhana dalam kajian analisa diri bersama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Pemahaman akan pentingnya mengetahui dan mengenal diri sendiri sudah pasti diketahui melalui berbagai media informasi baik yang bersifat formal maupun non formal. Penulis juga meyakini bahwa banyak sekali keragaman pengetahuan yang sudah mengisi setiap masing-masing personel sehingga tidak sedikit pula orang yang merumuskan sendiri bagaimana tatacara memahami diri sesuai kemampuan ilmu yang dimilikinya. Namun, tidak bisa dipungkiri masih terlalu banyak dari sebagian orang yang belum bisa memahami diri sendiri apalagi pengaktualisasian dirinya. Fenomena ini dapat kita analisis pada negara Indonesia yang besar ini, Pasalnya Indonesia seringkali mengalami krisis kepercayaan akan bangsanya, hal ini terbukti dari banyaknya torehan sejarah yang mengatakan bahwa Indonesia masih kurang percaya diri akan para kaum intelektualnya yang mampu bersaing bahkan mengungguli Negara lainnya. Seperti yang kita ketahui bersama, Sikap apatis pemerintah kepada Seorang Bj. Habibi yang sangat luar biasa dengan karyanya yang berupa kontruksi pesawat Terbang, Kemudian Ir. Surono Danu dengan Karyanya Bibit Unggul Lokal Sertani (Pernah di datangkan oleh PMII Rayon Pencerahan Galileo pada 31 Mei 2014), Sampai berita yang baru kemarin menggetarkan bangsa Indonesia ini adalah Ricy Elson: Sang putra petir Indonesia Pembuat Mobil Listrik serta masih banyak ilmuan lainnya yang tidak bisa disebutkan semuanya.

Bila kita cermati statement diatas, persoalan yang sangat fundamental adalah khazanah ketidakpercayaan para pemimpin kita pada kaum intelektual bangsa ini. hal ini menjadi salah satu bahan acuan kita untuk dapat mengalisis diri kita sebagai kader PMII yang berbasiskan eksakta, sehingga motivasi besar kita adalah kepercayaan pada diri kita saat ini dan organisasi yang kita cintai. Sangat tidak patut bilamana kita mengaku menjadi seorang kader dalam sebuah organisasi tapi tidak ada pembuktian konkrit yang berupa pengabadian padanya, dalam konteks ini sudah tentu banyak jalan yang akan kita jumpai, namun setiap jalan itu ada batas-batas tertentu yang perlu kita garis bawahi sebagai landasan berfikir dan bertindak. Batas yang dimaksudkan adalah kembali pada khittoh yaitu jalan lurus PMII itu sendiri. Selain hal tersebut, setidaknya kita sendiri meranjak untuk senantiasa mengawali indahnya pesona kebaikan kepada orang lain terlebih untuk diri kita sendiri. Maka, Jika kita ingin menjadi kader yang progresif tentunya harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.

Memahami Diri Bersama PMII

Who am I? Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban pasti, karena setiap kepala akan menjawab sesuai kapasitasnya masing-masing. Tetapi, Melirik tentang kajian konsep diri maka banyak pula beragamnya teori yang bermunculan, salah satunya seperti yang dituturkan oleh Hurlock dalam Avin Fadilla Helmi (2005) mengatakan bahwa konsep diri adalah gambaran seseorang mengenai diri sendiri yang merupakan gabungan dari keyakinan fisik, psikologis, social, emosional, aspiratif, dan prestasi yang mereka capai. Pencarian identitas diri itu menjadi sangat penting karena menjadi jalan yang perlu dilaluinya nanti. artinya kebutuhan dasar menjadi prasyarat untuk mendapatkan kebutuhan berikutnya.

Sejatinya bagian salah satu referensi yang paling berharga bagi kita semua untuk mengetahui kualitas diri bisa dilihat dari style hidup dalam memimpin baik itu memimpin diri sendiri maupun orang lain, Hal ini bisa menjadi indikator keberhasilan masing-masing individu dalam memeneg dirinya, sebab tidak sedikit orang yang mampu mengatur dirinya apalagi mengatur orang lain. Itulah sebabnya Rasulullah SAW mengingatkan kepada umatnya bahwa setiap kepala itu adalah pemimpin dan setiap pemimpin itu pasti akan dimintai pertanggung jawabannya.

Dari hadist diatas terdapat banyak ibroh yang bisa kita peroleh, pertama kita diwajibkan untuk mampu memahami diri agar nantinya bisa memimpin dan mengatur diri sendiri. kedua, kita dituntut untuk bisa menjadi pemimpin yang bijaksana dan menjadi contoh untuk yang lainnya. dan ketiga, kita diajarkan untuk senantiasa melakukan muhasabah diri baik untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan orang lain. Dalam al-qur’an surat Al Hasyr: 18 disebutkan bahwa: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah tiap-tiap diri memperhatikan apa yang dipersiapkan untuk esok (akhirat); dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Kemudian suatu ketika kholifah Umar bin Khattab r.a berkata: Hisablah (hitung) dirimu sendiri sebelum kamu di hisab, timbanglah dirimu terlebih dahulu sebelum kamu ditimbang dan persiapkanlah untuk menghadapi alam terbuka yang besar (padang mahsyar). Secara garis besar dalam memahami diri sendiri bisa kita ukur dengan dua pusaka yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW yaitu berupa Al-qur’an dan Al-hadist, sehingga kita tidak akan pernah tersesat dalam perjalan kita.

Dasar-dasar yang disebutkan diatas merupakan pijakan murni yang harus dijadikan sebagai pedoman dalam setiap langkah dekil kita dalam mengontrol dan mengendalikan diri kita. Bagaimana sebenarnya cara kita memperoleh predikat manusia yang mengetaui dan memahami dirinya? Maka, penulis ingin memberikan gagasan dengan istilah SIAC (Simple Action). SIAC merupakan konsep prilaku sederhana disetiap kondisi yang dijalani dan mengoptimalkan peluang yang ada serta mengeksekusinya dengan baik dan sistematis. Gagasan ini didasarkan pada berbagai pengalaman, data dan referensi yang ditemukan oleh penulis sehingga gagasan ini pula tidak dipaksakan untuk diikuti dan tidak pula dilarang untuk diikuti.

SIAC bisa dikaitkan dengan diri kita melalui banyaknya kegagalan yang pernah kita alami, ukuran dan kualitas diri kita serta ilmu yang kita dapatkan baik itu ilmu tentang fisik, psikis, individu, social dan prestasi yang pernah kita capai. SIAC juga sangat berhubungan dengan kebiasaan yang kita lakukan, bila seseorang sudah merasa nyaman dengan kebiasaannya maka orang itu pula sangat sulit untuk melakukan suatu perubahan dalam dirinya. inilah seorang ulama’ dalam sebuah maqolahnya mengatakan bahwa Al Insanu Ibnul ‘Awa’idi yang artinya manusia adalah anak dari kebiasaanya.

Aksi sederhana yang dimaksudkan ini tentunya berkonotasi pada aspek kebaikan bukan pada keburukan, artinya kebaikan yang wajib kita terapkan itu tidak memerlukan konsep yang begitu muluk tapi tak berbukti melainkan aksi sederhana ini dilakoni berdasarkan kualitas diri kita. So, Berbuatlah kalian maka kalian akan mengetahui siapa diri kalian sebenarnya. Seorang guru besar bangsa pun pernah mengatakan bahwa ‘Yang terpenting dalam hidup ini adalah Perbuatan’.

Menuju Multipotensi Diri Bersama PMII Galileo

Mungkin kita akan bertanya-tanya sesama kader, Bagaimana ingin mengoptimalkan potensi diri kita potensi-diri-harus-tertingkatbilamana kita tidak mengetahui apa sebenarnya potensi kita apalagi multipotensi? Nah, Pertanyaan yang timbul tersebut merupakan salah satu respons aktif dalam menanggapi statemen yang dianggap tidak begitu masuk akal. Sebetulnya apa yang dimaksud dengan potensi? apakah sama antara potensi dengan profesi? keberhasilan mengenal potensi diri kita masing-masing dapat dilihat dari seberapa banyak pertanyaan yang muncul dalam diri kita sendiri. Apakah anda seorang penulis? apakah anda seorang reporter? apakah anda seorang orator? apakah anda seorang peneliti? dan lain sebagainya. Pertanyaan yang dimunculkan penulis dalam kalimat ini dapat disadari sebagai bagian cara untuk mengetahui perbedaan antara potensi dan profesi.

Potensi diri adalah kemampuan dan kekuatan diri seseorang baik secara fisik maupun psikis serta lebih dominan daripada yang lain kemudian berpotensi untuk ditumbuh kembangkan melalui berbagai cara dan sarana yang mencukupi. Potensi dapat dirasakan dari kemampuan dasar, etos kerja dan kepribadian. Sedangkan profesi adalah pekerjaan atau bidang ahli yang diperoleh dari kerja keras melalui penguasaan keilmuan khusus. Dari rangkuman pengertian ini dapat kita simpulkan bahwa potensi menjadi langkah pertama untuk menggapai suatu profesi. Namun tidak semua profesi yang akan kita peroleh nantinya tidak membutuhkan potensi yang kita miliki sesungguhnya. kenapa hal demikian bisa terjadi, maka akar problemnya karena kita sendiri belum bisa menguak potensi dominan yang kita miliki.

Selanjutnya bagaimana PMII Galileo tercinta ini mengantarkan kita untuk menguasai berbagai potensi yang kita miliki. Pertama yang harus dijadikan modal adalah kesadaran yang didasari oleh pengetahuan dan pengabdian. Saat ini yang perlu kita lakukan adalah menyadari diri kita yang sebenarnya. Sadar yang dimaksudkan harus dibarengi dengan perbuatan atau tindakan yang memiliki nilai positif dan berdaya guna untuk orang lain. Sejak awal kita mencatatkan nama dipangkuan bendera PMII Galileo ini tentunya pada saat itu pula harus ada rasa percaya dan komitmen untuk mengembangkan lembaga tercinta ini sehingga menjadi lembaga percontohan dikelasnya. Inilah yang disebut sebagai tanggung jawab berorganisasi, berorganisasi itu pula sudah membuka pintu-pintu potensi kita apalagi kita mampu berkontribusi besar untuk organisasi ini maka sudah pasti kita melakukan hal terpenting dalam hidup yaitu Ibadah, karena ber-PMII itu adalah bagian dari ibadah pada sang pencipta.

Kedua, pengoptimalan potensi menjadi multipotensi senantiasa dilakukan dengan kebiasaan yang baik, tata cara yang benar serta dilakukan secara perlahan dan penuh hati-hati. Yang terakhir, mulailah berbuat dan bertindak, aktualisasikan diri kita masing-masing pada porsi yang kita ketahui, berkumpulah dengan orang-orang mulya, orang yang kita anggap dapat mengasah dan mengasuh kita untuk mengembangkan potensi yang kita miliki agar nantinya dapat terkondisikan dengan baik pula. Bila kalian adalah seorang penulis maka tuliskanlah ide-ide cemerlang kalian. Bila kalian seorang peneliti, maka segeralah lakukan penelitian. Bila kalian seorang da’i maka jangan pernah berhenti untuk selalu berdakwah dan bila kalian ingin menjadi seorang pemimpin yang bijaksana baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain tanpa harus menggugurkan potensi yang kalian miliki, maka Berproseslah di PMII Galileo tercinta dengan baik dan benar.

DAFTAR RUJUKAN

AD/ART Hasil Kongres Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) XVII 2011. Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Alfas, Fauzan. (2004). PMII Dalam Simpul-Simpul Sejarah Perjuangan. Jakarta: PB PMII.

Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Alwisol. (2004). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press

Avin Fadilla Helmi. (2005). Studi Meta-Analisis Gaya Kelekatan dan Model Mental Diri. Tugas Metode Penelitian Kuantitatif: Meta-Analisis. Program Pra S3 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

Koirom. (2010). Penerapan fungsi Menejemen dalam pelatihan kader dasar (PKD) di Organisasi pergerakan mahasiswa islam Indonesia (PMII) cabang Yogyakarta tahun 2008-2009. Skripsi tidak diterbitkan. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Pelatihan Kader Dasar (PKD). (2014). PMII Rayon Pencerahan Galileo UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Modul Pelatihan Kader Dasar (PKD). (2014). PMII Rayon Pencerahan Galileo UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Muharram Ibnu. (2013). Pembentukan Kepribadian untuk aktualisasi (studi Tentang pelatihan kader dasar PMII rayon fakultas dakwah dan komunikasi UIN sunan kalijaga tahun 2012 sebagai bimbingan dan konseling kelompok). Skripsi tidak diterbitkan. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

*) Kader PMII Pencerahan Galileo, Kordinator Biro Pengembangan Wacana PMII Rayon Pencerahan Galileo 2013-2014

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

Kau Anggap Aku Ahlul Bid’ah. Kamu?

PMII Galileo – Berbicara masalah Bid’ah pasti sudah tidak asing lagi dibenak sahabat Galileo. Utamanya …

UIN Maliki Malang Bentuk Lembaga Riset dan Fatwa “Majma’ Al-buhuts wa Al-ifta” 

PMII Galileo – Universitas Islam Negeri Malang, sebagai salah satu Universitas dengan eksistensi yang cukup …

PMII RPG adakan Follow Up MAPABA 2017

PMII Galileo –  Mencetak Kader penerus merupakan kewajiban bagi organisasi kaderisasi seperti Pergerakan Mahasiswa Islam …

Sholawat Sumpah Pemuda “Zaman Now” Ala Gus Dur

PMII Galileo- Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, hampir seluruh kalangan pemuda merayakannya, tanpa terkecuali yang masih …

Pemuda Zaman Now Harus Peduli Lingkungan

PMII Galileo – Pemuda merupakan salah satu tonggak menuju kemerdekaan bangsa indonesia. Dan hari ini tepat …

Mengungkap Tabir Saiful Mujani Sang Pengkhianat Intelektual

PMII Galileo – Banyak bahwa yang menyimpulkan pollster di Indonesia berperilaku khianat sudah menjadi pengetahuan publik. …

Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

PMII Galileo – Cara  untuk  meyakinkan dugaan atau hipotetis tentang tingkat keterpilihan Bakal Calon (Balon)/Calon dalam …

GERAKAN AKSI MENULIS

Tanggal 10 November, merupakan hari dimana sejarah tidak bisa di lupakan, hari dimana para pahlawan …

Biografi Agus Herlambang, Ketua Umum PB PMII Masa Khidmat 2017-2019

PMII Galileo – Akrab dipanggil dengan Mr. Agus atau Sahabat Agus, lengkapnya adalah Agus Mulyono Herlambang …

Biografi Septi Rahmawati, Ketua PB KOPRI 2017-2019

PMII Galileo – Septi Rahmawati akrab disapa Septi merupakan Putri ke empat  dari Lima bersaudara. Ayahanda …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *