Rabu , Desember 12 2018
Breaking News
Home / Aswaja / Nobar Senyap yang Ternyata Gaduh – Sebuah Analisa Pribadi

Nobar Senyap yang Ternyata Gaduh – Sebuah Analisa Pribadi

By : Aji Prasetyo

20140908Senyap_-_Joshua_OpenheimerDi Malang dan Batu, ada sekitar tujuh penyelenggara pemutaran film “The Look of Silence (Senyap)” yang serentak melangsungkan acaranya pada tanggal 10 Desember. Hanya tiga tempat yang tetap menjalankan pemutaran. Itu pun hanya Omah Munir Batu yang mampu menjalankan acaranya hingga tuntas. Baik pemutaran film maupun diskusinya.

Kampus Ma Chung yang mengalami intimidasi dari Polsek Dau dan ormas, terpaksa hanya bisa memutar film saja tanpa ada diskusi. Itu pun dengan negosiasi yang alot.
Warung Kelir mengalami represi yang paling parah (dan terekspos besar-besaran di media). Panitia diintimidasi pihak Kodim, ormas dan warga sekaligus. Pemutaran film dihentikan di menit kelimabelas dan diskusinya pun terpaksa berhenti di tengah jalan. Selain tiga tempat itu, pemutaran yang lain berhasil dihentikan sebelum dilaksanakan.

Dua hari kemudian, tepatnya tanggal 12 Desember, Komunitas kalimetro pun terpaksa membatalkan pemutaran film karena didatangi ormas. Akhirnya acara dilanjutkan dengan diskusi tentang HAM. Demikian massivnya gerakan penolakan terhadap film ini.
Perlu digarisbawahi, bahwa intelijen Polresta dan Korem yang sehari setelah insiden menemui salah satu penyelenggara untuk meminta copy film, ternyata belum tahu isi film ini. Bahkan mereka tidak menyangka kalau ini film berjenis dokumenter (mungkin dikiranya film fiksi sejarah ala Holywood, mengingat sutradaranya orang asing). Mereka hanya berasumsi bahwa konten film ini berisi ajakan untuk membangkitkan “komunisme gaya baru”.

Yang menarik adalah, bahwa hanya kota Malang saja (di Jawa Timur) yang mengalami berbagai pembubaran. Sedangkan kota-kota lain (Blitar, Surabaya, Kediri, dll) yang juga melakukan pemutaran film yang sama dan hari yang sama tidak mengalami gangguan, baik dari aparat maupun ormas. Ada apakah gerangan? Kenapa kebijakan aparat di kota ini berbeda dari aparat daerah lain. Aparat di Malang yang berlebihan, atau aparat di kota lain yang tidak tanggap dan lamban?

Maka mari kita simpulkan bahwa ini pasti bukan kebijakan dari pusat. Karena jika pencekalan ini adalah instruksi dari pusat, daerah manapun akan mengalami hal yang sama. Tidak pandang bulu, tidak pandang jenggot.

Saya akan membagi statement dari seorang oknum Korem yang menemui saya dua hari setelah insiden pembubaran. Bahwa menurutnya, tidak peduli film ini hanya menyoroti persoalan HAM, tetap saja berbahaya selama yang diangkat adalah kasus 65.


“Jika para keluarga eks PKI berhasil dapat pengakuan di ranah HAM, itu hanya langkah awal saja, Mas,” kata beliau ini. “Selanjutnya mereka akan berjuang untuk pembenaran ajaran komunisme!” lanjutnya.


Sebegitunya rasa waswas pihak militer terhadap isu 65. Sebegitunya prasangka buruk yang mereka pakai sebagai dasar segala tindakan represinya. Yang membuat saya kembali teringat paparan sejarah versi non-mainstream tentang situasi politik sebelum pecahnya tragedi 65.

Disebutkan bahwa militer Indonesia di masa itu cukup unik. Bahwa militer, terlebih lagi Angkatan Darat, memiliki fungsi ‘setara Partai Politik’. Mereka punya suara dalam kebijakan politik dan jaringan organisasinya sangat menggurita hingga ke akar rumput. Itulah kenapa ada Kodam, Kodim, Korem, hingga Koramil. Mereka berjaring mulai dari tingkat daerah, distrik, resort, hingga rayon/sektor. Mirip nian dengan Jaringan Kepolisian.

Nah, sebagai fungsi politik yang ‘setara parpol’ ini, rival terberat mereka hanya satu; PKI. Itulah kenapa saya bilang wajar jika oknum Korem ini mengatakan, “hanya ada dua kekuatan besar di negara ini sebelum tahun 65, yaitu PKI dan ABRI.” Kekuatan yang dimaksud di sini sudah barang tentu adalah kekuatan politik.

Kembali ke pertanyaan di awal, kenapa hanya Malang yang nobarnya mengalami pembubaran? Kenapa Kodim di sini lebih agresif daripada Kodim di daerah lain? Mungkinkah jawabannya ada di tanggal 15 Desember kemarin?
Karena tanggal itu adalah hari Ulang tahun Angkatan Darat, dan perayaan meriahnya akan diadakan di kota Malang, pusat konsentrasi militer di Jawa Timur. Bahkan Divisi II KOSTRAD bermarkas di kota ini. Sebagai persiapan perayaan ultah AD ini, beberapa hari ini kita bisa lihat berbagai tipe panser dan artileri berat dikumpulkan di lapangan Rampal, pusat kegiatan Yonif 512 dan jajarannya.

Dan lapangan itu berhadapan persis dengan Warung Kelir, salah satu penyelenggara nobar yang pembubarannya paling dramatis..

Dari sini kita bisa membaca apa yang sebenarnya tengah dirisaukan para aparat terutama AD. Namun tetap saja sangat disayangkan pihak kepolisian pun turut terprovokasi untuk ikut mencegah kegiatan ini, hanya dengan sentilan isu bahwa film ini bermuatan propaganda komunisme. Yang akhirnya mereka memainkan semua elemen ‘penggembira’. Mulai dari ormas hingga warga. Jika Camat, Lurah, ketua RW dan ketua RT langsung turun tangan ikut membubarkan acara, dan menurut pengakuan mereka instruksi ini datang dari Kapolres, betapa sistematisnya pelanggaran hak warga negara ini. Sampai melibatkan sesama warga negara, lho. Dan dahsyat nian jika semua itu hanya karena menuruti paranoid pihak TNI AD atas dugaan munculnya kembali rival lama mereka.

Persetan dengan Ideologi, itu menurut saya pribadi. Ini mutlak soal HAM. Pembantaian tanpa proses pengadilan, apapun dalih alasannya, tetaplah melanggar hukum. Hukum manapun itu.

Jika kita diajak untuk menganggap tragedi pembantaian massal 65 adalah ‘lumrah dalam dinamika politik’, maka bersiaplah bangsa ini mengulang peristiwa itu lagi. Entah kapan dan siapa korbannya kali ini.
Kan sudah kita anggap lumrah? Siap-siap saja, lah..

Malang, 16 Desember 2014
(Aji prasetyo adalah penulis, kartunis, komikus, musisi, anggota Gerakan GusDurian Muda kota Malang dan Direktur Lembaga Kajian Seni Budaya UNIRA)

Dilansir http://komikopini.com/nobar-senyap-yang-ternyata-gaduh/ 17 Desember 2014

Tentang sahabatgalileo

Lihat Juga

Mengungkap Tabir Saiful Mujani Sang Pengkhianat Intelektual

PMII Galileo – Banyak bahwa yang menyimpulkan pollster di Indonesia berperilaku khianat sudah menjadi pengetahuan publik. …

Cara Pemecahahan Terhadap Penurunan Elektabilitas Jokowi

PMII Galileo – Cara  untuk  meyakinkan dugaan atau hipotetis tentang tingkat keterpilihan Bakal Calon (Balon)/Calon dalam …

GERAKAN AKSI MENULIS

Tanggal 10 November, merupakan hari dimana sejarah tidak bisa di lupakan, hari dimana para pahlawan …

Biografi Agus Herlambang, Ketua Umum PB PMII Masa Khidmat 2017-2019

PMII Galileo – Akrab dipanggil dengan Mr. Agus atau Sahabat Agus, lengkapnya adalah Agus Mulyono Herlambang …

Biografi Septi Rahmawati, Ketua PB KOPRI 2017-2019

PMII Galileo – Septi Rahmawati akrab disapa Septi merupakan Putri ke empat  dari Lima bersaudara. Ayahanda …

Biografi Ahmad Hifni, Penulis Buku Menjadi Kader PMII

PMII Galileo –  Ahmad Hifni kelahiran di Jember, Jawa Timur pada tanggal 11 Agustus 1993. Ia …

Biografi Ibnu Taimiyyah

PMII Galileo – Syaikhul Islam Al Imam Abul Abbas namanya adalah Ahmad bin Abdul Halim Abdus …

Biografi Sahabat Mahbub Junaidi

PMII Galileo –  Mahbub Djunaidi sosok kelahiran Jakarta 27 juli 1933 ini memang begitu gemar …

Buletin Teropong Edisi September 2016

Karena dengan menulis, hidup kita terasa manis. Salam Jurnalistik..!! Puji Syukur, Alhamdulillah.. Buletin Teropong Episode …

Tahlil Rutin PMII Rayon Pencerahan Galileo – 08 September 2016

Tahlil merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh Organisasi PMII Rayon Pencerahan Galileo. Selain sebagai bentuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *